Wednesday, April 06, 2016

Aku dan Dua Pilihanmu

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 15:41
Reaksi: 
Katakan padaku alasanmu masih bertahan denganku.

Aku berikan dua pilihan, kamu coba tentukan.

Yang pertama, kamu masih mau bertahan karena menurutmu, dari sekian banyak wanita yang kemungkinan masih bisa kamu dapatkan aku yang paling sesuai dan kamu tidak ingin bersama dengan mereka-mereka yang bisa saja menjadi kemungkinan-kemungkinan lain setelahku, pada akhirnya kamu hanya ingin aku.


Atau yang kedua, kamu lebih memilih bertahan denganku karena hal itu adalah hal yang paling mudah dibanding harus memilih pergi dan memulai semuanya dari awal lagi, karena jika kamu ingin dengan wanita lain kamu harus berusaha lagi, sedangkan bersamaku, kamu tahu tanpa perlu mengusahakan apa-apa aku akan tetap selalu berada di sisimu.

Kadang, aku merasa kamu menjadikanku pilihan yang kedua.

Bukan sekali atau dua kali aku kecewa. Pada kenyataan, pada kita. Pada penolakan, pada keterabaian, pada rasa.

Kadang, aku merasa ini semua salahku karena menjadi terlalu mudah.

Karena jika seandainya dulu aku membiarkanmu terus berlari dan mengejar aku, mungkin kamu masih akan setengah mati tergila-gila padaku. Kamu masih akan selalu merindukanku setiap hari sambil mati-matian mengusahakan aku. Mungkin kamu masih akan selalu hadir menyapa dalam pesan di setiap pagiku. Atau mungkin kamu juga masih akan selalu berharap mimpi indah pada setiap tidur malamku. Mungkin kamu masih akan selalu berharap untuk boleh sekedar singgah dan mengobrol bersama di rumahku. Mungkin kamu masih akan selalu memohon untuk bisa pergi berdua bersamaku. Entah akan ada berapa ratus mungkin lagi yang akan aku sampaikan jika diurutkan satu persatu untukmu.

Kalau kamu sudah membaca sampai di sini, tolong jangan hakimi aku dengan persepsi bahwa aku tidak pernah puas ataupun bersyukur. Tolong jangan hakimi dan mengatakan bahwa kamu merasa tidak pernah bisa menjadi apa yang aku mau. Tolong jangan hakimi ini sebagai hal lainnya untuk menyalahkan apalagi menyudutkanmu. Ini semua bukan tentang itu.

Maafkan aku yang berharap untuk bahagia, untuk ingin merasa dicinta, didamba.

Karena setelah semua penolakanmu pada aku yang hanya ingin ditunjukkan olehmu pada dunia, setelah semua usaha yang berhenti kamu lakukan berkala, setelah semua kekecewaanku yang tak lagi jadi yang utama, aku masih tetap mencintaimu dengan sama, bahkan lebih setiap harinya.

Salahkah aku menangis karena merasa kamu bertahan untuk pilihan yang kedua, sedangkan aku menaruh alasan bertahan denganmu untuk yang pertama?

Untuk kamu, yang paling aku inginkan satu-satunya, bahkan ketika kamu lupa bahwa aku di sini selalu berharap untuk bisa selalu bersama.

0 komentar:

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos