Tuesday, August 25, 2015

Bukan Cinderella

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 10:12
Reaksi: 
Aku manusia, yang terkodratkan menjadi wanita. Kasih sayang dan perhatian, menjadi kebutuhan utama. Dan cerita cinta yang ditanamkan padaku adalah tentang bagaimana pangeran mencari dan memperjuangkan Cinderella. Bukan bagaimana ibu menghalau cemas di saat tengah malam ayah belum juga pulang dari bekerja.

Yang aku tahu selama ini, cinta adalah tentang mawar merah berbuket indah. Bukan tentang pelukan hangat seusai pertengkaran hebat yang membakar amarah.

Dulu aku pikir, cinta adalah tentang berciuman di bawah hujan, bukan tentang merelakan jas hujan yang hanya satu itu aku pakai agar tidak kebasahan.

Yang aku inginkan dari cinta adalah berparagraf-paragraf penjelasan lewat pesan tentang hal-hal picisan ala novel roman. Bukan pembicaraan konyol yang kita berdua selalu tertawakan.

Aku ingin cerita yang sempurna, tapi yang aku punya cerita kita.

Cerita tentang kenyamanan di dalam banyak hal sepele yang mungkin bahkan tidak aku sadari sampai aku menulis kalimat ini.

Cerita tentang kita yang blak-blakan mengutarakan keinginan untuk buang air dalam bahasa sehari-hari tanpa malu. Atau tentang kedatangan tanpa pemberitahuan terlebih dulu. Tentang kamu yang melihat wajah tanpa riasan apapun khas baru bangun tidurku.

Tidak seperti Cinderella, cerita kita tidak diawali dengan kalimat ‘Pada suatu hari’ dan juga tidak berakhir dengan ‘Mereka hidup bahagia selama-lamanya’ karena kita tidak lahir dari sebuah buku cerita.

Kita adalah tentang sarkasme dan kejujuran yang menyakitkan namun menyelamatkan.

Referensi terbanyak dalam kita adalah air mata dari tawa dan air mata dari duka. Tidak ada kesamaan dengan cerita manapun yang akan pernah kamu baca.

Cinta yang aku temukan adalah keheningan yang menyenangkan. Memang bukan pujian dari seorang pangeran.

Cinta adalah tentang bagaimana aku mengatakan, “Kamu idiot.” Tapi mataku berkhianat karena terpesona pada kedua galaksi di bola mata cokelatmu hingga terus menatap lekat.

Aku benci mengakuinya, tapi tidak ada yang benar saat kita bersama. Semua hal terasa lebih rumit dari biasanya. Bahkan rasanya sangat mudah marah pada hal kecil saja. Mungkin cerita kita cerita terburuk yang pernah ada.

Dan ada seulas senyum yang tidak sengaja aku lakukan setelah berpikir demikian. Aku rasa, aku harus berterima kasih pada Tuhan. Karena entah bagaimana, hubungan penuh kekurangan ini masih tetap terus berjalan.

Mungkin satu hal yang sama dari cerita kita dan Cinderella adalah tentang keajaiban. Meskipun tidak ada Ibu peri dan pangeran, kita berjalan dengan keajaiban Tuhan.

Di samping banyak kekurangan dan kesulitan ini, aku bertahan.

0 komentar:

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos