Monday, June 29, 2015

Hingga Nanti, Setelah Senja

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 12:40
Reaksi: 
Bolehkah jika aku ingin menua bersamamu nanti? Aku tidak akan peduli pada kulitmu yang mulai mengendur kemudian berkerut ataupun gigimu yang tanggal satu persatu hingga tidak ada lagi. Yang terpenting kamu akan selalu bangun di sisiku pada setiap pagi.  Mungkin hingga nanti kita berjalan dengan harus membungkuk karena punggung yang mulai terasa nyeri. Namun setidaknya masih ada kamu yang akan membantuku berdiri, aku juga akan membantumu berdiri. Mungkin hingga bahkan nanti ketika kita bangun di suatu pagi dan tidak sanggup lagi berjalan ataupun menggerakkan kedua kaki.  Aku akan dengan senang hati seharian meluangkan waktu hanya mengobrol, nonton tv, membaca surat kabar, atau sekadar duduk-duduk sambil minum teh atau kopi.
Aku tidak peduli untuk nanti yang keberapa kali, tapi biarkan aku setiap harinya jatuh cinta dan mencintaimu lagi.

Pada saatnya nanti kita akan menjadi lemah dan tidak lagi sekuat waktu muda. Setidaknya seluruh waktu yang kita miliki bisa dihabiskan hanya berdua, dan akan terasa lebih lama. Dan di setiap harinya kita tidak bisa berhenti tertawa karena kepikunan yang mulai membuat kamu pelupa hingga mencari kacamatamu yang bertengger di atas kepala. Atau, kita berdua bisa tertawa pada setiap cerita masa lalu kita. Yang anehnya tetap kita ingat meskipun kepikunan seharusnya membuat kita lupa. Pada pertemuan pertama, saat kamu menyatakan cinta, pertengkaran-pertengkaran yang di dasari atas kesalah pahaman, argumen-argumen tentang mempertahankan ego siapa yang benar, air mata dari drama cinta kita, kecerewatanku dan keras kepalamu, dan entahlah apalagi hingga tiba-tiba telah senja dan cerita-cerita lalu masih banyak tersisa. Tetapi kemudian nanti kita berdua akan tersenyum bahagia, karena ternyata setelah segalanya kita masih bersama.

Jadi, bolehkah aku memintamu menemaniku hingga mentari terbenam nanti setelah senja?

0 komentar:

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos