Saturday, May 23, 2015

HOME - PART 3

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 04:52
Reaksi: 
Bagian pertama sudah ditulis oleh @falenpratama di falenpratama.wordpress.com. Bagian kedua ditulis oleh @NikmalAbdul di nikmall.blogspot.com
source: pinterest


 “I know we loved each other, but distance can do strange thing to people and before I was willing to tell you about it, I wanted to be certain that it would last.”
(Nights in Rodanthe — Nicholas Sparks)

Novel karya salah satu penulis idolaku itu kututup ketika aku mendengar suara klakson mobil yang berasal dari luar rumah. Dengan sedikit melongokkan kepala ke jendela kamarku yang berada di lantai dua, aku bisa melihat sebuah taksi sudah menungguku.

Segera aku bangkit dari sofa kamarku dan menyambar tas selempang yang berada di atas tempat tidur kemudian memasukkan novel yang tadi aku baca. Saat akan membuka pintu kamar, handphone yang berada di saku kanan celana jeansku berdering.


“Halo, aku udah di depan nih.” Suara yang kukenali sebagai milik Derry terdengar menyapa dari ujung telepon sesaat setelah kuangkat panggilan darinya.

“Iya, ini aku baru mau keluar kamar. Tunggu ya, sayang.” Jawabku sambil menutup pintu kamar lalu berlari kecil menuruni tangga untuk bergegas keluar.

Setelah menutup pagar, kepala Derry menyembul dari kaca belakang taksi berwarna biru itu sambil memberikan senyuman terbaiknya untukku.

Gila, lelaki ini gila. Bagaimana bisa ia tersenyum sebegitu bahagia saat akan meninggalkan aku dalam waktu yang akan cukup lama? Sedangkan aku masih harus berusaha berdamai dengan kenyataan bahwa ini pilihannya, ini kemauannya, dan kemungkinan ini salah satu yang akan membantunya menggapai cita-citanya.

“Langsung ke Stasiun Senen aja ya, pak.” Katanya ketika aku sudah berada di dalam taksi dan duduk tepat di sampingnya.

“Kok mata kamu sembab?” Derry memiringkan kepalanya ke sebelah kiri untuk melihat lebih jelas wajahku.

Aku menoleh ke kaca jendela di sebelah kiriku untuk sebisa mungkin menyembunyikan jejak yang ditinggalkan air mata padaku semalam dari Derry.

“Nggak apa-apa, Der.”

Derry menggapai tanganku sambil berkata, “Masih takut kalau aku bakalan selingkuh karena jauh dari kamu, Vin?”

Bukan itu, Derry. Tanpa perlu menghadirkan jarak, perselingkuhan bisa saja dilakukan. Yang aku takutkan adalah jarak dan waktu yang akan menghadirkan rindu. Kerinduan yang harus dilalui dengan mengarungi jarak serta waktu dan harus kutunggu dalam keheningan hampa yang tanpa adanya kamu. Ingin aku mengatakan itu padamu Der, tapi kesungguhan kamu dalam mengejar cita-citamu benar-benar merobohkan segala dinding keegoisanku yang berisi ketakutan-ketakutan ala perpisahan.

“Bukan itu, Der. Aku semalam emang nangis karena kita mau pisah, tapi bukan karena takut kamu bakal selingkuh. Aku senang akhirnya kamu bisa dapetin apa yang selama ini kamu mau, dan aku terharu kamu sebegitu berjuangnya dalam mengejar cita-cita kamu. Aku juga iri sama cita-cita yang kamu perjuangkan sebegitu kuatnya. Aku harap, aku juga akan kamu perjuangkan sekuat itu, Der.”

“Vin…” Derry menarikku ke dalam pelukannya.

Kali ini aku tidak akan menangis lagi. Tidak, untuk cita-cita Derry.

Taksi yang kami tumpangi sampai di stasiun yang ramai dengan hiruk-pikuk khas waktu siang. Tidak seperti biasanya aku bisa merasakan aroma kesedihan akibat ada yang ditinggalkan, dan aroma bahagia karena ada yang pulang dan datang.

Seiring dengan berjalannya kereta Derry yang kemudian terus menjauh hingga menghilang dari pandangan, kukatakan pada diriku bahwa aku merelakan hal ini terjadi demi keinginan Derry. Meskipun aku sudah bisa mulai merasakan keheningan dari hampa dan rindu di tengah-tengah kerumunan manusia berisi kesedihan dan kebahagiaan.

Cerita selanjutnya akan ditulis oleh @ErinaaErin di eonern.tumblr.com. Cerita ini diikutsertakan dalam #MenulisBerantai #TimPacaran dalam festival #LoveCycle yang diselenggarakan oleh @GagasMedia.


0 komentar:

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos