Tuesday, April 28, 2015

Jangan Biarkan Aku Pergi

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 22:12
Reaksi: 
Pagi ini aku terbangun dengan rasa rindu yang amat sangat menyesakkan dada. Rindu kepada caranya yang seakan-akan membuatku selalu merasa istimewa. Kemudian beberapa pikiran acak menghantamku dan sang isi kepala. Aku ingin selamanya diperlakukan seperti itu olehnya, merasa istimewa, menjalani hubungan yang baru seumur jagung ini dengan berlama-lama.


Tapi kemudian pikiran-pikiran yang berasal dari ketakutan itu datang.

Satu alasan besar mengapa sebuah hubungan tidak bisa berjalan dengan baik dalam waktu yang lama hingga akhirnya harus berakhir  adalah karena pada satu titik, salah satu dari kedua orang yang berpasangan itu—atau keduanya—berhenti saling berusaha. Sebelum salah satunya mendeklarasikan perasaan kepada salah satu lainnya, sebelum ada klaim yang jelas tentang kepemilikan antara satu sama lain, mereka akan melakukan apapun untuk membuat orang yang mereka inginkan bahagia. Segalanya.

Mereka akan mengejar, menjadi penggoda handal, menjadi sangat menarik, menjadi apapun meski itu sesuatu yang bukan dirinya. Pesan-pesan ucapan selamat pagi ataupun malam secara gencar dikirimkan meski sang fajar belum membuka mata dan sang rembulan hanya bisa memperhatikan perilaku para anak cucu adam sambil tertawa.

Kalimat-kalimat picisan dalam ribuan pesan singkat yang tidak hentinya saling berbalas menjadi hal biasa. Kalimat manis penuh godaan dan perhatian serta bualan seakan-akan menjadi suatu kewajiban yang tidak bisa dihentikan setiap harinya. Hal ini hanya semata-mata untuk tetap menciptakan lengkungan indah yang terukir dari bibir seseorang yang diinginkannya.

Tapi suatu saat klaim itu berhasil direbut dari sang idamannya, semua hal tadi seakan-akan perlahan memudar kemudian hilang tanpa terasa.

Pesan picisan romantis yang tadinya bisa sepanjang lima halaman terus berkurang kepadatannya menjadi empat, kemudian tiga, tidak lama menjadi dua, hingga tersisa satu dan hilang menjadi nol selamanya. Panggilan telepon rutin yang awalnya tidak perlu alasan untuk dilakukan kecuali mendengar suara sang idaman dan mengobati rindu di dada berubah menjadi ‘tidak ada yang perlu dibicarakan dengannya’ dan dibiarkan begitu saja.

Semua kata sayang berubah menjadi pertengkaran harian yang seakan-akan membuat sulit untuk mempercayai kalau kedua orang itu saling menyayangi tadinya.

Hanya karena sang idaman sudah berada di tangan, bukan berarti pengejaran juga otomatis dihentikan. Sang idaman tetap sang idaman, mereka tidak berhak mendapatkan sesuatu yang kurang dari apa yang kamu usahakan meskipun hati, jiwa, raga, dan pikirannya telah kamu menangkan.

Karena kadang, beberapa hati memang terlalu lemah untuk bertahan sendirian dan butuh bantuan untuk dipertahankan.

Pertahankan aku ketika aku berusaha pergi darimu.

Pertahankan aku ketika bahkan aku tidak berusaha pergi darimu dan masih tetap mencintaimu.

0 komentar:

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos