Thursday, January 22, 2015

Roda 3 Warna

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 00:36
Reaksi: 
Suatu saat aku mengenal seorang gadis aneh. Dia cantik, baik, berbakat. Meskipun masih tetap ada bagian dari dirinya yang tidak sempurna karena dia juga seorang manusia, namun setidaknya hampir semua orang mencintai dirinya. Ya, hampir. Sayangnya tidak semua. Ada seorang laki-laki bodoh yang tidak tahu terima kasih telah dicintai olehnya. Bukannya membalas, dia malah mencampakkan gadis itu hingga terluka.


Gadis itu sahabatku. Dia yang menemaniku selama beberapa tahun terakhir. Dia gila, karena mampu mewarnai hari-hariku yang tanpa warna. Akan tetapi anehnya dia juga yang tetap menjaga kewarasanku dari dunia yang mulai menggila. Dia menyeimbangkan apa yang aku punya, hingga kemudian aku menyadari aku mencintainya. Sayangnya saat ini bukan aku yang dicintai olehnya.

“Lo masih cinta sama dia, ya?” Tanyaku suatu saat.

“Nggak, gue nggak mau.” Jawabnya sambil termenung.

But, you do?”

“Hmm…”

Gadis itu bergumam sambil kemudian menatap langit dan mengeratkan pelukan ke kakinya. Gestur seseorang yang menyembunyikan kesedihan dan kesepian. Rasanya ingin kupeluk saja tubuh mungil itu.

I do.

Tiba-tiba gadis itu melanjutkan kalimatnya. Saat menoleh aku dapat melihat seulas senyum di wajahnya. Senyum paling membahagiakan yang pernah kulihat, yang sayangnya bukan untukku.

“Tapi gue nggak suka dia udah nyakitin lo gini.” Kataku sambil memandang wajahnya yang sedari tadi aku pandangi tanpa bisa berpaling.

Gadis itu menoleh, lalu tertawa kecil kemudian berbicara.

“Tapi gue juga nggak bisa nyalahin dia, kan? Lo juga nggak bisa nyalahin dia.”

Gadis itu menghela nafas panjang lalu melanjutkan kalimatnya, “Jujur, gue benci dengan dia yang begitu mudah menyerah atas hubungan kami. Gue benci dengan dia yang nggak mau berjuang demi gue. Gue benci dengan dia yang udah nyakitin gue. Gue benci dengan dia yang udah buat gue nangis sampai rasanya nafas gue mau habis. Gue benci dengan dia yang udah ninggalin gue. Gue benci dengan dia yang nggak pernah ada di saat gue amat sangat butuh dia. Gue benci untuk apa yang telah dia lakukan hingga hubungan kami berakhir begini. Gue benci dengan caranya yang bisa membuat gue percaya dengan semua janji dan kalimatnya yang kemudian dengan seenaknya dia hancurkan. Gue benci dengan dia yang telah menghancurkan semua kebahagiaan yang sempat kami punya. Gue benci dengan dia yang sudah membuat gue mencintainya dengan sebegini dalam. Gue benci…”

Tiba-tiba kalimatnya terputus dengan sebuah isakan. Lagi, gadis itu menangis lagi. Setiap pembicaraan mengenai lelaki itu pasti selalu membuatnya menitikkan air mata. Aku benci melihat wanita menangis. Tapi aku juga tidak bisa apa-apa, dulu aku sempat menjadi seperti lelaki yang membuat sahabatku ini menangis. Persis.

Yang kurasa saat ini adalah aku ingin merengkuhnya ke dalam pelukanku, mencium ujung kepalanya dan membisikkan semuanya akan baik-baik saja sambil mengelus-elus punggungnya. Sayangnya ada jarak dalam persahabatan kami. Aku tidak mungkin bisa seperti itu. Alih-alih melakukan yang kuinginkan, aku hanya mengulurkan tanganku ke kepalanya dan mengelus lembut rambutnya yang terasa halus di jemariku.

“Katanya udah nggak akan nangisin dia lagi…” Aku berusaha menceriakan suasana dengan nada menggoda.

“Kalau dia cukup bodoh buat ninggalin lo, seenggaknya lo harus cukup pintar untuk ngelupain dia lah.” Tanganku masih mengelus lembut kepalanya, bahkan rasanya enggan untuk berpindah. Rasa tersengat hingga ke pembuluh nadi akibat menyentuhnya amat sangat adiktif.

Dia kemudian tertawa di sela-sela tangisannya. Kepalanya yang tadi ia benamkan di antara kedua kakinya yang ditekuk kini ditegakkan. Suara tawanya indah, sayangnya tawa itu bukan jenis yang mengajak untuk ikut tertawa juga, tapi jenis tawa yang justru membuat yang melihat semakin terenyuh. Gadis ini hanya berusaha tegar, berpura-pura utuh di tengah-tengah kerapuhannya. Karena yang kutahu, ini bukan pertama kalinya ia kecewa karena cinta. Dia tidak pernah membicarakan lukanya yang lama denganku, tapi aku tahu luka sebelum luka yang ini belum benar-benar sembuh juga.

Tapi inilah dia, si gadis yang memiliki hati sekokoh batu karang. Berkali-kali diterjang ombak kepedihan, gadis ini masih sanggup bertahan. Bahkan, masih sanggup membuat tawa yang dipalsukan.

“Nggak peduli seberapa besar rasa sakitnya, gue nggak akan pernah berusaha ngelupain apa yang pernah kami miliki. Even if I was drowning in grief. Gue lebih memilih mati dengan tetap berpegangan pada setiap kenangan yang pernah gue dan dia miliki. Setiap saat tangannya menggenggam tangan gue, mengelus pipi atau rambut gue. Setiap tawanya yang pernah gue dengar. Dan setiap butir kebahagiaan yang pernah kami miliki. I’d rather spend every moment in agony than erase the memories of him.” Gadis itu berbicara sambil memandang lurus, jauh entah kemana. Sepertinya hanya badannya yang ada di sini, hati dan pikirannya berada di tempat lain. Entah bagaimana kenyataan itu seakan melesakkan jantungku, sesak.

“Gue jadi nggak ngerti,” Aku berusaha berbicara sambil menutupi perubahan emosi yang tiba-tiba aku rasakan ini.

“Gue nggak ngerti sama lo yang nggak bisa nyalahin dia padahal lo benci sama semua yang sudah dia lakukan, dan pada saat yang bersamaan nggak mau ngelupain juga apa yang udah dia lakukan.” Sepertinya suaraku agak sedikit berkhianat, ada sedikit getar dalam beberapa kata yang aku ucapkan padanya. Aku hanya bisa berharap semoga dia tidak mendengar atau menyadarinya.

Dia menghembuskan nafas lelah, seakan baru saja berlari jauh entah dari mana. Kemudian dia menoleh menatapku, kedua bola mata cokelat tua miliknya menusuk tajam mataku. Tiba-tiba aku merasa takut. Aku takut dia mendengar dentuman keras yang keluar dari dalam dadaku. Kemudian bibir merah muda mungil miliknya membuka. Sepertinya dia akan membalas kalimatku sebelumnya.

I hate what he did wrong, it doesn’t make me hate himself or what he did right. Gue nggak benci dia, nggak akan. Gue kan nggak bisa menyalahkan seseorang karena nggak membalas cinta gue. Gue nggak akan marah sama seseorang yang gue inginkan hanya karena dia nggak menginginkan gue juga. Gue nggak akan menyebut dia bajingan hanya karena dia nggak menemukan apa yang dia cari dalam diri gue. It sucks, it hurts, tapi gue nggak bisa kan membenci dia karena menjadi manusia yang pada hakikatnya mencari kenyamanan dan kecocokan?”

Hening.

Kalimatnya meresap ke dalam hati dan pikiranku. Gadis ini memang selalu mampu memikatku dengan pemikirannya. Dia memiliki pemikiran yang tidak hanya pada satu sisi. Dia mampu membaca setiap sisi tanpa lebih membenarkan sisi yang dia miliki.

Kemudian tiba-tiba dia melanjutkan, “Dan suatu saat nanti, kalau gue harus berada di sisi dia dan gue melakukan hal yang sama persis yang dia lakukan ke-gue dengan orang lain. Gue harap orang lain itu ngerti juga sama kayak gue. Gue harap orang lain itu mengerti kalau beberapa orang memilih untuk tidak melukai perasaan orang lain dengan melukainya, tanpa sadar.”

Lanjutan kalimatnya menohokku.

Aku benci mengakuinya, tapi orang lain yang dia maksudkan adalah aku. Sayangnya dia belum tahu. Dan aku tidak ingin dia tahu. Tapi aku tidak tahan terus-terusan berpura-pura tidak merasakan sesuatu. Aku hanya bisa menatapnya tanpa berkata-kata dengan wajah sedih.

Sampai akhirnya dia menoleh, balas menatapku dan bertanya, “Kok sedih?”

Aku tersenyum kemudian menjawabnya pelan, “Karena lo ngobrol sama gue pakai kata, sedangkan gue ngomong sama lo pakai perasaan. Nggak adil.”

Dia terpaku sejenak memandangku. Kemudian dia tersenyum.

“Lo itu bagian dari masa lalu yang nggak ingin gue lupakan tapi akhirnya terlupakan. Lo itu perasaan yang nggak mau gue berhenti rasakan tapi akhirnya tergantikan. Gue bersyukur nggak pernah benci sama lo, makanya begitu lo datang lagi kita masih bisa temenan dan gue punya sahabat yang pengertian. Gue harap suatu saat nanti perasaan gue buat laki-laki itu juga akan tergantikan. Dan semoga kelak akan sama kayak perasaan buat lo yang sekarang gue rasakan. Sekedar teman, kan?”

Gadis itu bangkit kemudian menepuk-nepuk pantatnya yang kotor akibat duduk di rerumputan. Kemudian dia menjulurkan sebelah tangannya untuk membantuku bangkit. Aku yang masih sibuk mencari cara menutupi rasa sesak hanya bisa memandangnya bingung. Dia kemudian tertawa sambil berusaha berbicara.

“Dunia ini memang sudah benar-benar gila, ya? Kenapa juga cinta diciptakan berputar-putar seperti roda? Seandainya kita nggak pernah berpisah, mungkin gue nggak akan kenal dia. Mungkin sekarang perasaan buat lo juga masih ada. Mungkin dia memang benar-benar obatnya, hanya saja bukan luka yang dia hilangkan, tapi rasa.”

Gadis itu menarik tanganku dan membuatku bangkit. Dia masih tersenyum menatapku dan kembali berkata, “Cinta itu kebanyakan berakhir tidak bersama. Udahlah, kita lupakan saja rasa biar bisa terus bersama. Kalau begini lebih bahagia, kenapa harus mengatasnamakan cinta?”

Meskipun sebenarnya kurang setuju, tapi benar apa katanya, begini saja aku sudah bahagia. Mungkin cinta akan selalu berputar-putar seperti roda. Suatu saat perasaan itu ada, suatu saat tidak ada.

Tapi setahuku, perasaan yang kembali adalah perasaan yang tidak pernah pergi.

Ssstt, jangan biarkan gadis itu tahu rahasia kecil ini. Cukup hanya aku dan kalian yang sedang membaca cerita ini dalam hati.

0 komentar:

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos