Friday, January 16, 2015

Laki-laki Tak Berpayung

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 01:27
Reaksi: 
Kamu datang seperti hujan. Tiba-tiba menetes menunjukkan akhir musim kemarau. Menghidupkan lagi bunga-bunga yang hampir mati kekeringan, dan aku yang hampir mati bersama risau.

Dalam hujan aku menemukanmu. Kamu berada di ujung jalan dengan terburu-buru. Bahkan kamu melupakan payungmu. Syukurlah, aku jadi bisa menawarkanmu payungku.

Kamu tahu? Aku suka sekali hujan. Karena menurutku, aku tidak lagi harus menangis sendirian.

Kamu tahu? Aku suka sekali hujan. Karena aku dan kamu bisa berlindung dalam satu payung bersamaan.

Hanya dalam hujan kita bisa dekat, terus bersama tanpa ada yang menghiraukan.

Kota yang sedang hujan ini menjadi tempat aku bisa menemukanmu. Tapi kota yang sedang hujan ini juga menjadi tempat yang membuatku kehilanganmu.

Kalau boleh jujur dan memohon, aku sangat ingin bersamamu. Tapi katamu, aku tidak bisa bersamamu. Karena kamu juga tidak bisa bersamaku.

Hujan. Lagi-lagi hujan.

Kali ini lebat. Hujan yang ini terlalu hebat. Dan entah bagaimana menimbulkan dingin dan pilu yang pekat.

Air tetesan hujannya mengalir bersamaan dengan air mataku. Bercampur menjadi padu. Tidak mempedulikan dari mana asal mereka dulu. Tidak seperti aku dan kamu, yang selalu saja berkaca pada sang masa lalu. Menjatuhkan alasan pada alibi tramaku, dan traumamu. Hingga akhirnya kita berdua juga jadi masa lalu.

Sungguh rasanya aku ingin kembali. Sayangnya aku tidak bisa kembali. Sekeras apapun mencobanya aku tidak bisa mengulangnya lagi.

Lagi, di kota ini aku berdiri di bawah payung sambil memandang ujung jalan. Menanti kamu yang mungkin saja datang lagi bersama hujan.

Aku masih sama seperti saat itu. Masih memiliki hati yang terus mencarimu.

0 komentar:

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos