Friday, May 09, 2014

Cerbung - Will It Be Us Part 22

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 00:04
Reaksi: 
“Rio,” Panggil Mama Rio dari lantai bawah sambil bergegas naik ke lantai dua menuju kamar Rio.

“Mama, akhirnya dateng juga.” Kata Rio saat Mamanya memasuki kamarnya.

“Katanya secepatnya kemarin pas di telfon, taunya 3 hari baru sampe.” Lanjut Rio dengan seulas senyum lemah.

Mama Rio memeluk Rio erat sambil menangis.

“Kenapa Ma? Kok Mama nangis gini?” Rio berusaha tenang.

“Yo, kamu nggak serius kan dengan ucapan kamu di telfon waktu itu?” Mama Rio menatap dalam mata Rio.

“Aku akan selalu serius Ma,” jawab Rio tegas.

“Yo, tapi kamu...”

“Apa Ma? Aku udah yakin 100% kok.” Jawab Rio memotonng perkataan Mamanya.

“Bukan itu, kamu masih muda sayang. Masih banyak yang harus kamu raih. Kenapa kamu memilih jalan ini?” Mama Rio menatap pemuda dihadapannya ini dengan berkaca-kaca.

“Karena aku yakin ini jalan terbaik yang akan pernah aku putuskan.” Jawab Rio yakin.

“Jangan melukai diri kamu sendiri hanya demi cinta Yo, terkadang cinta itu bukan yang terbaik.” Kata Mama Rio berusaha menjelaskan.

“Aku tidak melukai diriku sendiri kok Ma, aku justru membantu diriku sendiri untuk mendapatkan kepuasan rohani dengan keikhlasan menjalani ini semua.”

“Tapi Mama nggak akan mengizinkan Yo, kamu anak Mama satu-satunya!” Mama Rio sedikit agak emosi kali ini, bulir-bulir air mata di pelupuk matanya sudah jatuh ke pipi.

Rio menghapus air mata di pipi Mamanya itu lalu berkata, “Ma, aku akan tetap jadi anak Mama kan kalaupun aku melakukannya? Mama nggak akan kehilangan aku kan?”

Rio menatap Mamanya untuk meyakinkan bahwa ia benar.

“Tolong jangan paksa Mama Yo.” Kata Mama Rio sedikit terisak kali ini.

“Nggak Ma, aku nggak akan paksa Mama. Aku cuma minta keikhlasan dan dukungan dari Mama. Sudah, itu aja.” Jawab Rio sambil mengenggam erat tangan Mamanya.

“Kamu sudah 18 tahun Yo, sekuat apapun Mama ngelarang, Mama tau pasti kamu akan tetap melakukannya. Baik, Mama akan coba mengikhlaskan. Lakukan apa yang menurutmu baik Yo, Mama disini selalu mendukung kamu. Bagaimanapun kamu, cinta Mama akan selalu sama.” Balas Mama Rio dengan pandangan nanar.

“Makasih Ma,” Rio mencium tangan Mamanya lalu memeluk erat perempuan yang sudah berkepala empat itu.
 *****

“Ma, aku takut.” Anya meremas erat tangan Mamanya di ruang sterilisasi sebelum operasi.

“Takut kenapa sayang?” tanya Mama Anya sambil membelai lembut rambut putrinya.

“Aku takut operasinya nggak berhasil.” Jawab Anya lugu.

“Nggak ada yang perlu di takutin. Berdoa ya, Tuhan pasti tau yang terbaik untuk kita.” Mama Anya berusaha menyemangati.

Anya mengangguk lalu memanggil Nathan pelan, “Than,”

“Iya Nya,” Nathan menyahut pelan juga.

“Aku nggak sabar liat senyum kamu lagi.” Jawab Anya dengan seulas senyum tulus yang membuat Nathan tersenyum juga.

“Makanya janji sama aku kamu akan baik-baik aja ya selama operasi nanti?” bisik Nathan di telinga Anya.

“Iya, aku janji.” Jawab Anya pelan.

Seorang dokter dan beberapa pendampingnya menghampiri Anya dan keluarganya, lalu setelah berbasa-basi sedikit mereka mendorong tempat tidur Anya memasuki ruangan yang penuh dengan cahaya dan terdapat banyak dokter disana. Anya dikelilingi setidaknya 20 orang yang akan melaksanakan proses operasi ini.

Seorang laki-laki yang paling tua diantara semuanya mencoba mengajak Anya mengobrol. Sepertinya dia adalah si dokter pemimpin operasi kali ini.

“Anya, semuanya baik-baik saja kan?” kata dokter itu memastikan. Anya mengangguk lemah. Agak gugup dengan operasi pertamanya kali ini.

“Tahan sedikit ya, relaks.” kata dokter itu diiringi dengan rasa sakit ditusuk sesuatu yang tajam di bagian lengannya. Lalu Anya tidak mendengar apa-apa lagi. Ia tertidur.

Operasi berjalan dengan baik. Anya tidak hanya berada sendiri di ruangan itu. Ada seseorang lain yang juga kondisinya tidak beda jauh dengan dirinya dan dalam penanganan para ahli medis juga. Dia adalah seseorang yang mendonorkan matanya untuk Anya.

Setelah 2 jam berlalu, akhirnya Anya di dorong keluar dari ruangan operasi itu. Anya masih belum sadarkan diri. Sampai setengah jam kemudian Anya baru sadarkan diri.

“Ma,” kata Anya lemah karena masih dalam pengaruh obat bius.

“Iya sayang, ini Mama.” Jawab Mama Anya lembut.

“Udah selesai Ma?” tanya Anya lemah.

“Sudah sayang, sudah. Tinggal tunggu sampai besok perban di mata kamu udah boleh dibuka, dan kita akan lihat hasilnya sayang.” Jawab Mama Anya.

“Aku nggak sabar.” Kata Anya serak.

“Iya, Mama juga.” Mama Anya membelai lembut rambut putrinya itu.

“Nathan mana Ma?” tanya Anya.

“Dia liat kondisi pendonor mata buatmu Nya,” jawab Mama Anya jujur.

“Memang pendonor itu siapa sih Ma? Kok dia baik banget?” Anya bertanya polos.

Mama Anya terdiam sesaat memilih kata yang tepat untuk dia ucapkan.

“Ya, yang jelas dia adalah seseorang yang berhati emas. Kamu beruntung memiliki mata darinya. Jaga ya Nya, jangan buat orang itu kecewa.”

Anya hanya mengangguk lemah tanpa membalas kata-kata Mamanya. Kepalanya masih berat, badannya rasanya pegal sekali, ia merasa masih mengantuk. Ia tertidur lagi akhirnya.
*****

 Anya membuka matanya dan ia berada di sebuah padang rumput dikelilingi dengan semak-semak dan bunga lili liar cantik sekarang. Tempat itu mirip seperti tempat yang pernah Nathan tunjukkan padanya. Anya menatap langitnya yang cerah. Matahari di tempat ini sangat bersahabat. Tidak panas, hangat. Membuat Anya betah ingin berlama-lama terus bermandikan sinar matahari yang membuat kulitnya terlihat berkerlap-kerlip karena pendar cahaya emas yang matahari di tempat itu turunkan. Angin yang ada bersemilir pelan seiring dengan hembusan napas Anya, mengibas-ngibas rambut gadis itu pelan. Anya menari-nari berputar-putar di sekitar tempatnya berdiri merasakan keindahan yang ada dan memuaskan dirinya bahwa ia bisa melihat semuanya, tidak lagi gelap.

Tiba-tiba Anya tersadar, ia tidak sendirian di tempat ini. Ada seorang laki-laki bertubuh jangkung dengan pakaian putih polos yang bercahaya sedang memandang Anya. Anya menyipitkan pandangannya dan menyadari itu adalah Rio. Dengan langkah pelan Anya mendekati Rio yang tersenyum kepadanya namun diam di tempat.

“Apa kabar Yo?” tanya Anya ketika sampai beberapa senti di depan Rio.

“Selalu baik, bagaimana denganmu?” Rio mengelus lembut pipi Anya.

“Setidaknya saat ini aku merasa lebih baik. Tapi lebih sering tidak.” Kata Anya sambil memegang tangan Rio yang menempel di pipinya. Merasakan kehangatan yang biasa ia rasakan dan getaran yang aneh yang menjalari tubuhnya.

“Kenapa?” Wajah dan tatapan Rio untuk gadis itu berubah sedih.

“Hidupku terus memburuk semenjak tidak adanya kamu. Dan puncaknya adalah sekarang. Aku buta.” Kata Anya lirih.

“Tapi kamu bisa melihatku sekarang.” Kata Rio sedih.

“Aku pun tidak mengerti, tempat ini seperti memberikanku kekuatan magis untuk bisa kembali melihat indahnya langit, dan terangnya mentari.” Jawab Anya sambil menengadahkan kepalanya menghadap langit.

“Hidupku biasanya gelap, tidak seperti ini.” Lanjut Anya sambil menatap dalam-dalam mata Rio.

“Kalau begitu simpan ini untukmu.” Rio memberikan sesuatu yang berpendar-pendar di tangannya untuk Anya.

“Apa ini?” tanya Anya bingung sambil menatap kedua telapak tangannya yang dihiasi pendar dari batu yang Rio berikan.

“Itu bintang yang aku petikkan untukmu. Biarkan mereka terangi hari-harimu seperti dulu lagi. Aku ikhlas.” Kata Rio sambil tersenyum tulus. Anya hanya bisa diam sambil memandang bingung bergantian antara Rio dan bintang itu.

“Aku harus pergi. Aku sudah berjanji untuk tidak mengganggumu lagi. Itu hadiah terakhirku untukmu. Semoga cukup untuk bisa selalu membuatmu tersenyum. Selamat tinggal Anya.” kata Rio sambil melambaikan tangannya. Dan secara perlahan dirinya memudar sendiri seperti ditelan kabut putih yang sangat pekat.

Anya berusaha memanggil-manggil nama Rio dan memintanya kembali dan jangan pergi. Namun Rio telah hilang dari pandangan Anya.

“Rio!” Anya terlonjak kaget bangun dari tidurnya sambil meneriaki nama seseorang dari masa lalunya.

“Anya, kenapa? Kamu ngingau ya?” kata Nathan lembut.

Napas Anya tersenggal-senggal, dadanya tiba-tiba sakit dan perih sekali. Rasa itu lagi-lagi menghampiri Anya. Rasa yang tak pernah mau Anyakecap lagi. Namun terlanjur, mimpinya telah membuatnya terpaksa membuka luka lama itu lagi.

Anya memeluk Nathan yang berada di samping tempat tidurnya sambil menangis.

“Ini minum dulu.” Nathan menyodorkan segelas air putih ke depan bibir Anya, lalu gadis itu meminumnya dalam beberapa tegukkan hingga menyisakan setengah.

“Kamu kenapa?” tanya Nathan lembut ketika Anya mulai tenang.

“Aku mimpi buruk.” Jawab Anya.

“Mimpi apa? Cerita sama aku.” Kata Nathan menawarkan.

Anya menceritakan secara detail mimpinya kepada Nathan. Berharap laki-laki itu bisa menenangkannya dengan nasihat bijaknya yang biasa ia berikan. Tapi kali ini Nathan hanya bisa diam. Sampai Anya merasa tidak enak dan menyangka Nathan cemburu dan sakit hati dengan cerita mimpinya tadi.

“Kamu marah Than?” tanya Anya pelan.

Nathan menoleh menatap Anya yang terbaring di kasur rumah sakit itu lalu menjawab pelan, “Nggak Nya, udah kamu nggak usah terlalu mikirin mimpi kamu itu. Paling cuma bunga tidur. Kan biasa kayak gitu.”

Anya mengangguk dan menurut, tidak mau memperpanjang obrolan yang sudah menimbulkan rasa risih diantara mereka berdua.

Tidak lama kemudian seorang dokter dan dua orang suster serta kedua orang tua Anya dan kakak laki-laki Anya masuk ke ruang rawat Anya.

“Anya, bagaimana? Baik-baik saja?” sapa dokter laki-laki paruh baya itu lembut.

“Baik dok,” jawab Anya dengan seulas senyum.

“Sudah siap untuk merasakan terangnya dunia lagi?” tanya dokter itu semangat.

Anya mengangguk lemah, jantungnya berdegup kencang.

“Oke sabar ya. Dokter buka dulu perban di sekeliling mata kamu.”  Lanjut Dokter itu sambil menyiapkan gunting di tangannya, bersiap-siap untuk melepas ikatan di kepala Anya.

“Jangan buka kelopak matamu sebelum dokter suruh ya.” Kata dokter yang dijawab anggukan dari Anya.

“Oke sekarang buka perlahan.” Kata dokter itu menyuruh Anya membuka matanya.

Anya membuka sedikit matanya, masih gelap. Lalu ia membuka lagi sedikit dengan perlahan dan mulai ada cahaya yang ia lihat walaupun pandangannya kabur. Hingga akhirnya Anya berhasil membuka matanya semuanya dan melihat bahwa tempatnya sekarang berada sangat terang. Alhasil dia pusing dan kembali menutup matanya. Kemudian membukanya lagi perlahan. Dan mengerjap-ngerjapkan pandangannya untuk memfokuskan pandangannya yang agak kabur.

“Pusing dok.” Kata Anya lirih.

“Memang awalnya seperti itu. Nanti juga setelah sejam atau dua jam pusingnya hilang. Mata kamu merasa perih, sakit atau ada yang mengganjal tidak?” tanya dokter itu sambil membuka kelopak mata Anya dan melihatnya.

“Nggak dok, cuma ini agak berdenyut-denyut aja rasanya dikantung mata ini.” Jawab Anya sambil menunjuk bagian bawah matanya.

“Ah itu wajar karena perasaan pusing kamu tadi makanya seperti itu.Oke semua baik-baik saja ya, bagus kalau gitu. Kamu boleh pulang hari ini tapi dengan catatan kamu harus kontrol lagi kesini minggu depan.” Kata dokter itu mengingatkan.

Anya hanya mengangguk senang dan menatap wajah Mama, Papa, Bang Eza, lalu Nathan secara bergantian sambil tersenyum.
*****

“Apa?” tanya Nathan saat Anya menatapnya terus di teras rumah.

“Nggak, kangen aja udah lama nggak liat wajah kamu.” Jawab Anya sambil mengulum senyum.

Nathan ikut tersenyum malu agak salah tingkah.

“Akhirnya kamu bisa kangen juga ya sama aku.” Kata Nathan sambil tersenyum dengan mata yang menerawang jauh.

Anya mengernyitkan dahinya lalu berkata, “Wajar kan kalau kangen sama pacar sendiri?”

Nathan menoleh lalu menatap Anya lama. “Tentu saja wajar, kangen itu kan buah cinta. Berarti setidaknya aku tau kamu itu sudah bisa mencintai aku.” Jawab Nathan tersenyum lembut.

Anya menghela napas sambil mengalihkan pandangannya dari Nathan menuju pohon bunga mawar yang tumbuh subur di halaman rumahnya.

“Seharusnya itu kan yang aku lakukan dari dulu? Yang seharusnya aku lakukan sejak setahun 7 bulan yang lalu, tapi sayangnya aku terlambat.” Balas Anya.

“Kamu belum terlambat, dan nggak akan pernah terlambat, karena aku akan selalu mencintai kamu sampai kapanpun. Pintu hatiku selalu terbuka untukmu, cinta ini nggak akan pernah mati Nya.” Kata Nathan sambil mengambil telapak tangan Anya dari pangkuan gadis itu lalu meremasnya lembut menunjukkan kesungguhan dari kalimatnya barusan.

Anya tersenyum bahagia menatap mata Nathan dalam. Mata dengan sumber keteduhan yang selalu menghanyutkannya dalam kedamaian. Kenyamanan yang dia berikan dari kesederhanaannya dan semua cinta dari Nathan yang membuat Anya merasa sempurna.

“Kamu tau apa yang paling aku rindukan darimu?” tanya Anya sambil menatap kosong wajah Nathan.

“Apa?” Nathan balik bertanya.

“Keteduhan dari matamu yang selalu menenangkanku. Seperti danau sebagai pusat relaksasi terbaik di dunia. Menyejukkan saat memandang mata yang selalu memandangku lembut, penuh kasih sayang, dan menyertakan kehormatan.” Jawab Anya dengan wajah serius yang membuat Nathan tersenyum lagi.

Take me with you I will never let you go
I will love you now and for last forever
(Take Me With You – Secondhand Serenade)

“Katakan padaku semua hal yang tidak pernah kamu katakan tapi selalu aku harapkan untuk diucapkan. Keluarkan, bicaralah. Katakan bahwa benih yang kutanam itu kini sudah tumbuh. Biarkan aku menjadi orang pertama yang mengetahuinya. Aku janji tidak akan menggodamu atau mengejekmu. Aku akan menjaga yang kamu rasakan. Tapi aku pun butuh bantuanmu. Tidak akan sulit, cukup taruh aku dalam mimpimu, dalam hatimu, dan aku akan menaruhmu dalam hati dan mimpiku juga. Dan katakan padaku segalanya yang ada dihatimu dan aku berjanji dalam setiap hembusan nafasku, aku akan selalu berada disisimu. Biarkan aku bersamamu, aku tidak akan pernah melepasmu. Aku akan mencintaimu sekarang untuk yang terakhir dan selamanya.”
*****

Sudah sebulan semenjak hari operasi itu berlangsung. Mata yang di donorkan oleh seseorang misterius yang sangat baik hati yang tidak Anya ketahui namanya itu bekerja dengan baik. Tidak ada keluhan apa lagi sampai sesuatu yang fatal terjadi. Anya bersyukur Tuhan masih memberinya kesempatan untuk melihat indahnya dunia, terangnya matahari dan indahnya gemerlap bulan dan bintang di malam hari.

Tidak hanya kondisi matanya yang terus mengalamai perkembangan baik, perasaannya untuk Nathan pun kian harinya makin mengalami perkembangan pesat. Sekarang Anya yakin dia mencintai laki-laki berkulit pucat itu walaupun terkadang dia masih merindu dan memimpikan sosok Rio.

Tapi dengan kehadiran Nathan, semua yang membuat Anya mengingat Rio dan bersedih lagi jadi berkurang. Dia bersyukur memiliki Nathan. Sangat bersyukur. Karena akhirnya dia menyadari bahwa cinta itu masih ada, bukan hanya bisa diciptakan untuk Rio. Tapi untuk seseorang lain yang juga mencintainya dengan tulus yang selalu siap menangkapnya saat terjatuh agar tidak terluka.

Hari ini Anya memutuskan untuk main ke rumah Nathan dan membawakannya kue yang baru saja selesai Anya buat. Anya diantar Bang Eza naik motor menuju rumah Nathan.

Disana sepi, toko bunga milik keluarga Nathan tutup. Anya melangkahkan kakinya turun dari motor dan berjalan menuju jalan kecil di samping toko itu yang mengantar Anya menuju rumah sederhana milik keluarga Nathan. Anya memencet bel sekali, tapi tidak aja jawaban. Kedua kali, masih belum ada jawaban juga. Dan untuk ketiga kali hasilnya sama saja, tidak ada jawaban. Tapi sayup-sayup Anya bisa mendengar suara TV dari dalam. Jadi dia memutuskan untuk coba membuka pintunya berharap tidak terkunci. Dan benar, pintu itu dengan mudah terbuka.

“Assallamualaikum,” kata Anya keras, berharap mendapat jawaban sambil terus melangkah masuk ke dalam. Tapi tidak ada siapapun yang menjawabnya.

“Permisi,” Anya mengeraskan suaranya lagi dan tetap tidak mendapatkan jawaban. Sampai akhirnya ia tiba di ruang keluarga rumah Nathan. Dan benar, TV menyala. Persis seperti suara yang sayup-sayup terdengar.

Anya melangkah dengan jantung yang berdegup kencang melihat siapa yang sedang menonton TV itu. Ia menghampiri sofa yang membelakanginya dengan perasaan tidak enak. Tapi dari rambutnya ia bisa memastikan kalau itu Nathan. Anya mendekat lalu berputar menuju depan sofa itu dan terkejut melihat Nathan.

“Than, kamu kenapa? Than! Nathan!” kata Anya panik melihat Nathan memegang beberapa lembar tisu penuh darah di tangannya, dan beberapa tisu penuh darah lainnya yang berada di atas meja. Serta hidungnya yang belepotan darah segar yang sepertinya sudah berhenti keluar tapi membuat Nathan dalam keadaan tidak sadarkan diri.

Anya panik berlari keluar berharap kakak laki-lakinya masih ada di depan. Dan untungnya Bang Eza masih berada di depan toko bunga Nathan sedang membeli ketoprak yang biasa mangkal di depan toko Nathan itu. Dengan panik Anya menghampiri kakaknya.

“Bang, tolongin Bang, Nathan nggak sadar. Dia berdarah-darah.” Kata Anya panik disambut dengan ekspresi panik dan kaget juga dari kakak Anya itu. Lalu mengikuti Anya yang berlari masuk ke dalam rumah Nathan.

Nathan masih tergeletak di sofa dengan mata terpejam dan tidak sadarkan diri. Bang Eza memegang urat nadi Nathan. “Lemah, nadinya lemah. Nya cepet cari taksi di depan. Sambil minta tolong orang buat bantu angkat Nathan.” Kata Bang Eza memerintah.

Anya menurut dan berlari ke depan mencari pertolongan. Si penjual ketoprak yang biasa mangkal segera masuk ditemani beberapa pembeli laki-laki. Anya tetap di depan jalan menunggu ada taksi yang lewat lalu memberhentikannya. Tidak lama kemudian serombongan orang-orang yang tadi masuk ke rumah Nathan keluar membawa tubuh yang tidak sadarkan diri itu.

Anya masuk duluan ke taksi itu dan Nathan dibaringkan di jok belakang kursi dengan kepala dalam pangkuan paha Anya. Dan Bang Eza membawa motornya mengikuti taksi yang berisi Anya dan Nathan itu menuju rumah sakit terdekat.

“Than, sadar Than,” kata Anya sambil mengguncang-guncang tubuh Nathan yang sekarang sudah berada di tempat tidur trolli yang sedang berjalan menuju ruang ICU. Di depan ruang ICU, Anya dan Bang Eza dihalau masuk oleh beberapa suster.

Anya menangis takut dan khawatir dengan Nathan. Ia benar-benar bingung dengan yang sebenarnya terjadi. Dan ketakutan menyergapnya, ketakutan akan kehilangan Nathan yang tiba-tiba muncul begitu saja. Anya berdoa agar tidak terjadi sesuatu yang buruk dengan Nathan.

Bang Eza menenangkan Anya dan berusaha memberinya semangat agar gadis itu tegar.

“Udah Nya, berdoa semoga nggak ada apa-apa sama Nathan.” Kata Bang Eza.

“Lebih baik kamu telepon ibunya Nathan. Kasih tau kalau Nathan masuk rumah sakit.” Lanjut Bang Eza bijak.

Anya menurut dan mengambil handphone dari tas kecil yang ia bawa lalu mencari kontak Ibu Nathan di daftar nomor teleponnya. Setelah beberapa kali terdengar bunyi tut yang panjang seorang wanita yang tidak lain adalah Ibunya Nathan mengangkat telepon dari Anya.

Anya segera menceritakan apa yang terjadi pada Nathan dan memberitahukan lokasinya berada sekarang kemudian mematikan sambungan telepon itu.

Tidak lama seorang dokter keluar dari ruang ICU.

“Bisa saya bicara dengan orang tua dari Nathan?” kata dokter itu serius pada Anya dan Bang Eza yang saling bertukar pandangan.

“Ibunya sedang dalam perjalanan kesini dok. Ada apa?” tanya Bang Eza sopan.

“Maaf saya tidak bisa memberitahu kalau itu bukan orang tuanya. Kalau begitu tolong sampaikan pada suster nanti kalau Ibunya sudah datang agar saya bisa memberitahu keadaan Nathan.” Jawab dokter itu tegas.

“Baik dok, kami boleh masuk?” kali ini Anya yang bertanya.

“Silahkan, tapi dia belum sadar. Jangan terlalu membicarakan yang membuatnya sedih, itu mempengaruhinya. Buat dia mengingat hal-hal indah agar dia cepat sadar.” Jawab dokter itu memberitahu.

“Terima kasih dok.” Kata Anya dan Bang Eza bersamaan. Lalu keduanya melangkah masuk ke dalam ruangan yang sangat terang dan terdapat banyak peralatan medis itu. Bau menyengat obat khas rumah sakit segera menusuk hidung Anya.

Di tengah-tengah ruangan itu terbaring Nathan diatas sebuah tempat tidur dan dalam balutan selimut warna hijau. Di tangannya telah tersambung selang infus dan sebuah selang oksigen bertengger di hidungnya. Di sebelahnya terdapat alat pendeteksi detak jantung yang menggambarkan degup yang lemah dari jantung Nathan.

Setetes air mata jatuh dari mata Anya melihat Nathan berada seperti itu. Ia melangkahkan kakinya yang sudah sangat lemas menuju tempat tidur itu.

“Than,” bisik Anya lembut di telinga Nathan.

“Kamu kenapa?” tanya Anya berbisik sambil menahan isak tangis.

“Aku sayang sama kamu Than, sadar dong. Aku kangen sama mata kamu. Buka Than mata kamu.” Lanjut Anya lagi masih berbisik.

“Kamu inget nggak? Kata kamu, kamu akan selalu menjaga aku. Kalau kamunya nggak sadar kayak gini gimana mau jagain aku Than?” Anya berbisik dalam tangisannya di telinga Nathan.

“Kamu tau kan kalau aku sekarang benar-benar mencintai kamu? Untuk itu, cepat sadar dan aku berjanji cinta itu akan lebih kuat lagi.” Anya masih terus berbisik pada Nathan yang hanya terbujur kaku.

“Kamu nggak akan ninggalin aku kan?” Anya membelai rambut Nathan yang masih menutup matanya sambil menatap lama wajah laki-laki yang belum lama bisa membuatnya belajar untuk mencintai. Dengan lembut Anya mencium kening laki-laki itu. Setetes air mata Anya jatuh di wajah Nathan. Tangan Anya yang sedang menggenggam tangan Nathan merasakan seperti di remas. Ternyata Nathan memberikan respon dengan meremas tangannya walaupun ia masih belum sadar.

Anya tersenyum pahit merasakan remasan tangan itu. Ia berharap lebih. Menginginkan Nathan bangun dan mengatakan bahwa dia baik-baik saja dan Anya tidak perlu khawatir karena dia tidak akan pernah meninggalkannya. Tapi hanya sebuah remasan tangan lemah yang Anya dapatkan.

Tiba-tiba tiga orang wanita masuk ke ruangan Nathan. Mereka adalah Ibu, Kakak, dan Adik Nathan yang sudah Anya kenal baik selama ini.

Anya yang masih menangis dipeluk oleh Ibu Nathan.

“Sudah Nya, sabar.” Kata Ibunya Nathan.

Anya tersedu-sedu dalam tangisannya. Kembali merasakan ketakutan yang sempat menyergapnya tadi tentang kehilangan Nathan.

“Tan, Nathan itu sebenernya kenapa?” tanya Anya masih dalam tangisannya.

“Dia sakit Nya,” jawab Ibu Nathan menggantungkan kalimatnya sambil menoleh kearah anak laki-lakinya yang sedang terbaring tidak berdaya.

“Sakit apa tante?” Tanya Anya masih belum puas dengan jawaban tadi.

“Ada tumor di hidungnya, hal itu yang selalu menyebabkan Nathan mimisan.” Jawab Ibu Nathan diiringi dengan setetes air mata yang jatuh dari matanya.

Anya seperti disambar petir mendengar jawaban itu. Lututnya terasa lemas sekali, badannya bergetar hebat, kepalanya terasa dilanda pusing yang sangat berlebihan. Anya jatuh terduduk ke lantai dengan pandangan kosong yang mulai dikaburkan dengan jejak-jejak air mata. Bang Eza yang dari tadi hanya diam segera menghampiri Anya dan membantunya bangkit sambil menguatkannya. Lalu Bang Eza, Ibu Nathan, dan kedua saudara perempuan Nathan membantunya duduk di kursi di ruangan itu.

“Sejak kapan tante?” tanya Anya lemah.

“Sejak 3 tahun yang lalu. Tepatnya ketika Nathan kelas 3 SMP.” Jawab Ibu Nathan lirih.

“Dan kenapa Nathan nggak pernah ngasih tau aku?” Anya mulai dikaburkan lagi pandangannya oleh tetesan-tetesan air mata.

“Karena dia terlalu menyayangi kamu.” Jawab Ibunya Nathan sambil membelai punggung Anya berusaha menguatkan.

“Nathan itu sangat-sangat mencintai kamu Nya. Dia tidak pernah mau menyakiti kamu dengan cara apapun. Dan menurutnya memberitaukan kamu tentang hal ini, tentang penyakitnya, hanya akan menyakiti kamu. Nathan tidak menyukai kamu menangis, dia senang melihatmu tersenyum katanya. Dia juga tidak mau dikasihani sampai nanti akhir dari hidupnya karena ia bukan pengemis katanya. Nathan tidak mau membuat banyak orang disekitarnya menangis karena apa yang di deritanya. Ia hanya ingin semuanya suatu saat nanti akan mengenangnya sebagai Nathan yang membawa kebahagiaan, bukan kesedihan.” Lanjut Ibunya Nathan panjang lebar.

Anya kembali tenggelam dalam tangisannya karena ia menyadari bahwa selama ini dia sudah lebih dari cukup jahat dengan belajar mencintai Nathan separuh-separuh padahal pria itu sudah sangat mencintainya dengan setulus hati.

Will you stay awake for me? I don’t wanna miss anything
I don’t wanna miss anything
I will share the air I breathe, I’ll give you my heart and a strenght
I just don’t wanna miss anything
(Awake – Secondhand Serenade)

“Aku mencoba dengan keras agar tidak terguncang mendengar ini semua, mencoba untuk tegar mendengar kenyataan yang tengah kamu hadapi. Aku berusaha menahan air mata ini untuk jatuh. Tapi percuma. Air mata itu terlalu kuat dan menjebol pertahananku. Aku benar-benar takut kehilanganmu. Akankah kamu bertahan dan sadar untukku? Aku hanya tidak ingin kehilangan apapun. Terutama kehilangan kamu dan cintamu yang kini sudah mulai tumbuh di hatiku. Aku akan membagi udara yang bisa kugunakan untuk bernafas jika itu bisa membuatmu sadar dan bertahan untukku. Aku akan berikan seluruh hati dan kekuatanku untukmu melalui ini semua. Aku hanya tidak ingin kehilangan apapun. Kamu merubahku, kamu menunjukkan padaku bagaimana seharusnya hidup. Dan karenanyalah aku mengerti bahwa kamu adalah bagian dari cara untukku hidup. Sadar, dan bertahanlah untukku.”
*****

Segitu dulu ya part 22-nya. Secepatnya kelanjutan bakalan langsung di post. Maaf ya agak lama dari yang dijanjikan, hehe.
Semoga puas sama part yang ini.
Buat yang mau protes, atau mau ngasih feedback boleh kok hubungin ke rabbanirhi@yahoo.com atau ke twitter @rabbaniRHI 
Dan buat yang udah sering ngirim email ngasih feedback dan nanya kapan dilanjutinnya, thanks a lot to all of you!
Bye readers, see you next post!

0 komentar:

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos