Tuesday, April 22, 2014

Cerpen - Never Again

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 21:19
Reaksi: 
Okay, I guess I'm back.
Apa kabar readers? Cukup lama ya sejak terakhir ngepost. Iya, Bani baru selesai UN dengan soal bertaraf Internasional. Wohoooo, keren banget ya angkatan gueeee. Sekarang sih lagi tinggal nunggu pengumuman kelulusan dan penerimaan SNMPTN Undangan. Which is, gue naro sastra indonesia UI di pilihan pertama. Doain keterima ya plis:(

Oh iya, sekarang gue mau ngepost cerpen, ini khusus sebenernya buat Pak @edi_akhiles CEO dari penerbit @divapress01 yang punya acara keren bgt namanya @KampusFiksi. Gue dulu pernah lolos kampus fiksi angkatan pertama. Karena ada kendala dan bencana nggak terduga gue kehilangan kesempatan ngikutin acara itu. Dari pihak divapress juga ternyata sempet nelepon ngehubungin beberapa kali waktu itu tapi berhubung hp gue rusak, gue nggak tau jadinya. Gue belum sempet minta maaf sama penerbit divapress dan Pak Edi. Sebenernya bagi gue acara ini penting banget, tapi dengan bodohnya gue kehilangan kesempatan gue.

Untuk itu, saya minta maaf yang sebesar-besarnya Pak Edi udah nyia-nyiain kesempatan pertama, tapi kalau misalnya nanti saya dapet golden tiket buat ikut kampus fiksi ini, saya bakal berusaha sebaik mungkin supaya nggak ketinggalan kesempatan ini lagi. Dan ini dia cerpennya masih fresh. Selamat membaca...

Never Again


I can’t be tough
I can’t be strong
But with you
It’s not like that at all

Aku pernah mencintai seseorang dengan sangat, sangat, sangat besar. Sampai aku lupa untuk mencintai diriku sendiri. Aku pernah begitu tulus menyayangi seseorang, sampai aku tidak yakin bahwa aku menginginkan hal lain selain menyayanginya. Aku pernah dilumpuhkan oleh cinta, aku tidak bisa melihat, mendengar, berbicara, menulis, berjalan, kecuali untuk atau tentang dirinya.

“Kemana sih? Astaga, susah banget dihubunginnya.” Aku menggumam pada diriku sendiri dengan tangan menggenggam handphone yang ditempelkan ke telinga.

“Angkat dong.” Aku mendecakkan lidah kesal. Anzo, orang yang dari tadi berusaha kuhubungi—pacarku—itu tetap tidak mengangkat teleponku. Tidak juga membalas SMS, Whatsapp, Line, WeChat, YM.

Aku menurunkan handphoneku dan menatapnya sambil membuka YM, kemudian memilih BUZZ!!! Tepat di kontak Anzo. Tetap tidak ada balasan. Aku membuka Whatsapp, Last Seen tertulis pada 07:18. Sekarang jam 15:26, artinya dia belum membaca chatku. Aku buka Line, tulisan read belum muncul disana. Begitu juga saat aku buka WeChat.

Seandainya Anzo menggunakan BBM, aku akan dengan senang hati mengirimkannya PING!!! attack. Sayangnya handphonenya itu memakai Windows Phone Operation System. Jadi aku tidak bisa melakukannya. Bukan, aku bukan posesif. Hanya saja kadang aku terlalu mengkhawatirkan Anzo. Walaupun sebenarnya tidak ada yang harus dikhawatirkan darinya. Dia jago bela diri, dia juga sudah 17 tahun lebih, tidak mungkin ada seseorang yang akan menculiknya untuk dijual sebagai perdagangan anak. Pertama, Anzo sudah terlalu tua untuk dibawa ke perdagangan anak, dan kedua Anzo makannya banyak, kasihan para penculik itu.

Tapi, bukan hal seperti itu yang aku khawatirkan. Ini lebih ke khawatir pada perasaanku sendiri. Masalahnya, dulu aku dan Anzo pernah putus gara-gara lost contact. Lucu ya? Padahal kami satu sekolah. Ya, tapi aku tau itu dulu karena Anzo sedang bosan denganku dan tidak menghubungi selama dua minggu lebih, dan aku gengsi untuk menghubunginya duluan, lalu aku membiarkannya tidak menghubungiku, dan ya… kalian tau pasti akhirnya kan? Tapi, empat bulan setelah putus kami balikan. Anzo yang memintanya.
Handphone di tanganku bergetar.

From: Anzo
Serius nih sayang? 36 misscall, 12 sms, 72 whatsapp, 15 ym, 43 line, 26 wechat? Kenapa? Sorry, baru balik gak bawa hp

Aku mendesah lega sekaligus kesal. Baru aku mau mengetikkan balasan. Pesan lain dari Anzo masuk. Line, WeChat, Whatsapp, dan YM.  Isi semua pesan itu sama, ‘I love you’. Sudah hanya itu.

Aku menggeram kesal. Kemudian menekan tombol speed dial dan menempelkan handphoneku ke telinga. Tidak lama kemudian si pemilik nomor itu mengangkatnya, “Kenapa sayaaaang?”

Aku yang baru saja mau marah merasa luluh sejenak mendengar suaranya. Tapi aku sudah bertekad untuk marah, dan aku tidak akan melupakannya.

“Aku ngehubungin kamu dari jam 8 tau nggak?! Kemana aja sih?!” bentakku kesal.

“Aku futsal sayang.” Jawabnya lembut.

“Masa futsal 8 jam?!” Aku masih meninggikan suaraku.

“Yah, aku futsal dari jam 8, trus selesai jam 10 aku nongkrong sampe makan siang sama temen-temenku, abis itu aku ke warnet main game online.” Jawabnya santai.

Aku memutar bola mataku kesal. Lagi-lagi aku dinomor sekiankan oleh sekian banyak hal-hal itu. Ini sudah seriiiiing sekali terjadi.

“Gitu aja terus! Terus emangnya nggak bisa ya abis main futsal hubungin aku dulu sebentar, biar aku nggak khawatir gini! Terus kamu ke warnet ngapain coba? Di rumah laptop ada, komputer ada, modem ada, mau ngapain lagi sih? Terus kalo di warnet nggak bisa buka twitter sebentar trus bales DM aku emangnya?” Aku masih mencecarnya dengan banyak pertanyaan.

“Iya, maaf, maaf. Aku tau aku salah. Tapi, hpku ketinggalan jadi aku nggak tau kalo kamu ngehubungin aku. Yah, kadang-kadang main di warnet sama temen-temen kan laen aja gitu rasanya sama di rumah. Namanya juga aku ke warnet mau main game online, ngapain juga aku buka twitter? Ya udah maaf deh, nanti nggak gitu lagi. Jangan ngambek ya sayang.” Jawabnya masih dengan suara tenang, tidak mempedulikan semua bentakanku tadi.

“Tau ah! Kamu dari dulu juga ngomongnya gitu terus! Bosen aku dengernya!” Bentakku lagi dengan kesal, kemudian aku mematikan sambungan telepon dan membanting hpku ke atas kasur.

Cowok. Biasa deh. Udah ninggalin berjam-jam tanpa kabar, dan mereka seperti tidak memiliki penyesalan sama sekali. Lihat saja dari caranya yang meminta maaf dengan sangat-sangat-sangat mudah.

Shit. Aku bahkan sampai lupa. Aku berusaha menghubunginya dari tadi hanya untuk memberitahunya besok aku akan menjalani operasi usus buntu. And guess what? Saking lamanya dia nggak bisa dihubungi aku sampai lupa untuk memberitahunya. Dan sekarang aku tidak mungkin memberitahunya karena tadi aku ngambek, atau setidaknya pura-pura. Aku tidak pernah benar-benar marah atau kesal padanya. Aku tidak bisa. Dia terlalu… Oh, damn, not again. Cukup ya memuji dia dari tadi.
****


There’s a girl who gave a shit
Behind this wall
You just walk through it

Here it is I am. Rumah sakit. Satu hal yang paling-paling-paling aku benci. Kenapa? Bau obat, membosankan, banyak ketakutan, banyak kesedihan, banyak kabar buruk. Kadang rasanya memuakkan melihat para pekerja rumah sakit yang berlalu lalang. Mereka semua berpakaian putih, atau dalam kasus ruang operasi adalah hijau.

Putih? Oh, itu warna paling membosankan yang pernah ada. Mereka sebenarnya mengerti atau tidak kalau mereka bekerja di rumah sakit, yang kemungkinan besar akan ada korban kecelakaan berlumuran darah yang datang, dan baju mereka akan kotor kalau terkena noda sedikitpun kan? Putih, ya, terlalu putih itu tidak baik. Karena putih terlalu mudah ternodai. Dan, hijau? Aku selalu merasa seperti melihat muntah, atau hal-hal menjijikan semacamnya setiap melihat warna itu.

Ah, ya. Dokter sudah menyuruhku bersiap. Aku harus mengganti baju dengan kain hijau itu. Dan, sekarang, dalam hitungan beberapa menit lagi aku akan segera menjalankan operasi ini. Orang tuaku berkali-kali memberiku semangat, oh ya, tidak hanya mereka berdua, ada adik perempuanku—Sassy—yang hanya terus-terusan menakutiku, kakak laki-lakiku—Roy—dan temannya, Fred—mantanku sebelum Anzo. Yah, mungkin agak aneh kenapa dia disini. Tapi Fred itu sahabat Roy, kedua orangtuaku sudah menganggapnya keluarga, dan ya… Setelah putus kami berdua masih baik-baik saja, dan dia jadi kakakku sekarang. Atau setidaknya aku menganggapnya begitu.

“Mana cowok lo yang katanya mirip Dylan O’Brien itu?” Roy meledekku yang sedang terbaring nervous menunggu suster yang akan mendorong tempat tidurku ke dalam ruang operasi.

“Harus ya dibahas sekarang kak?” Aku memutar bola mataku kesal.

“Relaks. Gue cuma bingung aja, dua tahun pacaran, dan sekarang pacarnya mau dioperasi kok malah nggak ditemenin. Is he the most famous singer or what? Se-busy itu kah dia?”

Just shut your mouth up. I don’t tell him. Nope, but he is the most busy gamer. Puas lo kak?” Aku memelototinya. Roy menahan tawanya, begitu juga dengan Fred yang kulihat berusaha keras untuk tidak tersenyum geli.

Really? Kenapa nggak lo kasih tau? Segitu sayangnya ya sampe takut bikin khawatir? Oh little girl, how sweet you are…” Roy lagi-lagi meledekku dengan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menyipitkan matanya.

I will kill you after this, jerk.” Aku menggeram kesal.

Ledekan Roy berhenti sampai disitu, dan kemarahanku pun menguap seketika saat suster datang mendorong ranjangku memasuki ruangan yang sangat dipenuhi cahaya itu. Yah, setelah basa-basi para dokter dan asistennya itu memasangkan sesuatu mirip alat pemberi oksigen yang menutupi mulut dan hidungku, bedanya alat ini tidak tersambung dengan selang, tapi ada balon diujungnya. Mereka menginstruksikanku untuk meniup balon itu hingga besar. Sebelum balon itu besar, aku sudah tidak tau apa-apa lagi.

“Hey, udah sadar?”

Aku merasa kepalaku berat sekali dan badanku lemas. Oh ya, ada sedikit nyeri dibagian perutku. Aku berusaha bangun untuk mencari tahu dimana aku. Tiba-tiba saja aku merasa panik dan seperti melupakan banyak hal.

“Hey, hey, jangan bangun dulu. Relaks. Ini aku, Fred, oke?”

Fred menenangkanku dan kembali menuntunku berbaring.

“Mama, Papa, Roy, sama Sassy kemana?” tanyaku linglung, masih sangat lemas.

“Om sama tante lagi di ruangan dokter, Roy nganter Sassy bimbel. Aku disini nungguin kamu sadar, yang by the way udah 40 menit berlalu semenjak kamu keluar dari ruang operasi tadi.” Fred menjelaskan tanpa sekalipun berhenti tersenyum.

Yang by the way senyum itu juga yang membuatku tergila-gila padanya tiga tahun yang lalu dan setia padanya selama hampir sebelas bulan, sebelum akhirnya Anzo datang, dan ya… Dia mengalihkan segalanya. Tanpa sebab. Rasanya seperti saat bersama Anzo, perasaan untuk Fred bukanlah sesuatu hal yang besar, atau menakjubkan. Seperti… Poof! Hilang begitu saja.

Bukan, ini bukan karena Anzo lebih tampan atau bagaimana. Hey, Fred itu jauh-jauh-jauh berkali lipat tampannya dari Anzo. Fred itu blasteran bangsawan Inggris, yang faktanya dia masih saudaraan dengan Lady Diana. Sebutkan semua aktor paling tampan saat ini dan mereka masih tidak ada apa-apanya dibanding Fred. Fred memiliki semua yang diidamkan perempuan. Yah, bagiku hanya untuk diidamkan. Bukan untuk dimiliki. Entahlah, aku tidak pernah merasa terlalu nyaman dengannya. Mungkin karena dia terlalu sempurna sampai terasa tidak terlalu nyata.

Sedangkan Anzo… Ya, hanya Anzo. Kulitnya sawo matang asli Indonesia, wajahnya pribumi walaupun hidungnya mancung, lancip, dan bagus tidak mirip seperti orang Indonesia kebanyakan. Tapi… ya dia hanya Anzo kalau dibandingkan dengan Fred. Tapi dia memiliki sesuatu yang tidak Fred miliki. Aku sendiri tidak tau apa tepatnya itu, yang jelas itu adalah hal yang membuatku selalu bertahan bersamanya.

Are you okay? Are you need something?” Fred membuyarkan lamunanku.

“Umm… Mama nitipin handphone nggak?” Aku bertanya pelan. Pertama karena masih lemas karena obat bius, kedua karena gugup berada berdua saja dengan Fred.

“Oh, iya, nih.” Katanya memberikan handphone yang dikeluarkan dari sakunya.

It’s vibrate every two minutes, I guess.” Katanya tetap tersenyum menawan.

Aku hanya tersenyum sambil menerima handphoneku kemudian membukanya. Aku pikir pasti Anzo ingin meminta maaf dan dia mengirimkan banyak pesan. Atau mungkin berusaha menelepon terus.

Tapi aku harus kecewa saat membukanya. Hanya ada dua SMS, memang sih dari Anzo dua-duanya, tapi… Aku berharap lebih tadinya. Aku lupa, handphoneku memiliki repeat notification yang akan terus bergetar sampai pesan yang masuk terbaca.

Dan pesan pertama adalah…

From: Anzo
Sayang…

Aku mendesah kecil, sedikit kecewa. Aku membuka pesan kedua, berharap kekecewaanku sedikit terobati. Mungkin Anzo akhirnya mengetahui aku operasi, dan dia merasa menyesal dan ingin segera datang kesini.

From: Anzo
Rhi? Where are you? I miss you so.
Masih ngambek? Udahan dong… Kan aku udah minta maaf.
Sayang kamu banget Rhiannon.

Ah, ya seharusnya aku tidak seberharap itu. Mana mungkin sih Anzo bisa peka?

“Kenapa? Kok bete gitu?” Fred memandangku perhatian. Oh God, seandainya aku belum mengenal Anzo, mungkin sekarang aku masih tergila-gila dengan tatapan itu.

“Enggak.” Jawabku singkat.

Tiba-tiba saja aku merasa ingin buang angin. Tentu saja tidak di depan Fred. Aku berpikir untuk ke kamar mandi.

“Umm, Fred. Gue mau ke kamar mandi.” Aku berusaha bangkit dari tempat tidur.

“Oh, sini aku bantu.” Dia membantuku berdiri dan memapahku sampai di depan pintu kamar mandi dan membiarkanku masuk sendiri.

Aku buang angin di dalam dan kemudian buang air kecil. Begitu keluar, Fred masih berdiri di depan pintu kamar mandi dan dia memapahku lagi menuju tempat tidur.

Kemudian, serombongan orang membuka pintu. Aku yang masih dalam rangkulan Fred menoleh untuk melihat siapa yang datang. Oh, teman-teman sekelasku. Mereka semua berhenti di depan pintu dan memandang kami berdua agak kikuk. Kemudian tiba-tiba aku sadar, dan ikut kikuk juga.

Mereka tentu mengetahui aku ini pacar Anzo, dan mereka JUGA MENGETAHUI kalau Fred itu mantanku. Karena kebetulan dia satu sekolah denganku dulu, hanya saja dia dua angkatan diatas. Jadi, sekarang Fred sudah lulus, ya, sama seperti Roy.

Tapi Fred sepertinya tidak terpengaruh, dia hanya tersenyum pada mereka semua sambil lanjut memapahku ke tempat tidur dan kemudian, oh my god, dia menggendongku menaiki tempat tidur.

“Masuk, kok pada diem di depan pintu?” Fred menyapa mereka ramah seperti tidak ada yang salah dengan perilakunya barusan.

Mereka semua tersenyum canggung kemudian masuk menghampiri ranjangku.

“Nemenin Rhia kak?” Dhea sahabatku bertanya bingung.

“Iya, tadi Mama Papanya minta tolong.” Jawab Fred santai.

Aku tau itu jawaban yang sangat salah. Dhea hanya tersenyum dipaksakan menanggapinya, kemudian menatapku meminta penjelasan. Aku hanya mengangkat bahu. Sementara itu, aku bisa melihat yang lain berbisik-bisik. Ya, kemungkinan besar aku dan Fred akan jadi trending topic beberapa hari kedepan.

“Rhia beruntung banget ya, operasi ditemeninnya sama kakak. Udah baik, perhatian, ganteng lagi.” Stacia, ah ya, queen of drama yang sejak dulu mengidolakan Fred, dan aku tau dibelakangku dia membenciku, tapi dia berusaha bersikap manis. Lebih tepatnya sikap itu ditunjukkan untuk Fred.

Mereka datang untuk sekedar menjengukku dan mengobrol sebentar. Kemudian mengucapkan  get well soon dan pulang. Syukurlah. Aku sedang ingin sendiri.

Aku meminta Fred untuk pergi. Dia awalnya menolak. Tapi setelah aku memohon, dia akhirnya keluar dan menurutiku. Aku ingin sendiri. Lebih tepatnya aku senang sendiri.

Tidak lama kemudian Dhea meneleponku. Dia hanya meminta penjelasan mengapa Fred yang menemaniku, bukan Anzo. Yah, aku menceritakan semuanya padanya. Dan Dhea marah. Bukan padaku, tapi pada Anzo. Katanya, dia tidak akan segan-segan menampar Anzo agar membuatnya sadar dan lebih peka sedikit padaku. Dia bilang akan menceritakan semuanya pada Anzo dan memarahinya. Aku baru mau melarangnya sampai tiba-tiba handphoneku mati. Baterainya habis.

Aku tidak tau dimana Mama menyimpan charger. Jadi aku hanya bisa mendesah frustasi sambil memandangi handphoneku sampai akhirnya aku terlelap.

“Your boyfriend can’t stop calling me and ask about you.” Kata Roy ketika aku bangun tidur. Sudah pagi rupanya. Lama sekali aku tidur.

“Lo itu bukan bule. Berenti ngomong Inggris!” kataku muak.

“But my girlfriend it is! Oh, also my best friend, or should I call him your ex?” Roy selalu menang kalau bertengkar denganku, jadi lebih baik aku membahas hal lain.

“Anzo ngomong apa aja?” kataku mengalihkan pembicaraan.

“Nggak banyak. Gue bohong tadi. Dia cuma nelepon sekali karena handphone lo katanya nggak bisa dihubungin. Dia nanya lo gimana keadaannya, trus mau kesini.” Kata Roy menghentikan kalimatnya lalu memandang jam tangannya.

“Setengah jam yang lalu dia bilang bakal sampe kesini 30 menit lagi, berarti dia bakalan sampe disini sekitar… Umm—“ Roy diam sambil memandangi jamnya.

“Sekarang.” Kata Roy pelan sambil tersenyum.

Kemudian pintu terbuka dan Anzo masuk membawakanku sebuket bunga.

Dia berjalan menghampiri ranjangku. Wajahnya tanpa senyuman sedikitpun.

Okay, I should go, I guess.” Roy bangkit dari kursinya.

“Jagain ya.” Kata Roy sambil menepuk bahu Anzo sebelum dia pergi.

Anzo hanya menjawab dengan anggukan kecil. Sementara matanya yang tajam tidak berhenti menatapku.

Aku berusaha tersenyum membalas tatapannya.

“Hai.” Sapaku.

“Kenapa nggak bilang?” Anzo menatapku dengan pandangan yang sulit terbaca, wajahnya tanpa ekspresi.

“Aku udah berusaha kemarin lusa. Tapi kamu… Sibuk.” Jawabku apa adanya.

“Tapi akhirnya aku bisa dihubungin kan? Kenapa nggak ngomong saat itu?” Anzo masih menatapku tajam.

“Aku udah keburu lupa…” kataku jujur.

Dia tersenyum, “Lupa ya? Ngasih tau aku lupa, kalau ngasih tau mantan nggak lupa ya?”

Aku menelan ludah berat. Aku tau kemana pembicaraan ini akan mengarah.

“Itu nggak kayak yang kamu kira, Zo.” Akhirnya aku bisa membaca raut di wajah Anzo, kecewa.

“Nggak kayak yang aku kira, tapi persis kayak yang orang-orang liat ya? Rangkul-rangkulan, digendong. Romantis.” Anzo menggeleng pelan.

“Kamu denger dari  siapa sih Zo? Dhea? Atau anak-anak lain?” Aku merasa sesak tiba-tiba.

“Nggak penting dari siapa. Yang penting adalah kenapa. Kenapa dia? Kenapa bukan aku Rhi?” Anzo menatap dalam mataku.

Tatapan penuh luka, kecewa, cemburu, cinta. Tatapan yang membuat airmata meluncur turun dari mataku dengan segera. Entah kenapa hatiku sakit sekali melihat tatapannya yang seperti itu untuk pertama kalinya.

“Aku emang nggak peka Rhi, nggak perhatian, jarang denger kamu, jarang ada buat kamu, aku tau aku cuek. Aku sadar. Tapi bukan berarti harus dia kan Rhi yang ada buat kamu? Walaupun aku kayak yang aku sebutin tadi, kalau kamu minta aku untuk ada, aku bakalan ada Rhi. Aku emang nggak peka, makanya aku butuh kamu buat cerita. Mungkin aku nggak setiap saat nyariin kamu, smsin kamu, teleponin kamu, perhatiin kamu. Mungkin aku selalu terlihat santai setiap kali sesuatu terjadi, tapi percaya sama aku, saat sesuatu itu tentang kamu, aku akan bener-bener kepikiran. Mungkin aku emang nggak pernah bisa nunjukin Rhi. But my love isn’t just a word. My love for you is bigger than the world.” Anzo untuk pertama kalinya berbicara serius sekali tentang perasaanya. Selama ini, Anzo adalah orang paling tertutup tentang apa yang dia rasakan.

“Awalnya, aku kira ini cuma another drama yang Stacia bikin-bikin. Setelah denger dari anak-anak lain… Yah, ternyata memang itu yang terjadi.” Lanjutnya sambil menghembuskan napas kemudian tersenyum masam.

“Aku…” Aku berusaha menjelaskan, tapi Anzo menaruh telunjuknya dibibirku.

“Ssstt…” Dia kemudian membelai lembut kepalaku.

All I wanna see is your smile. Aku nggak marah. Cepet sembuh ya.” Anzo bangkit dari kursinya kemudian berjalan menuju pintu.

Di depan pintu dia berhenti sambil memegang gagangnya tanpa menarik dan membukanya.

“Kalau bahagia kamu ada di dia, kenapa mesti dipaksain dicari sama aku? Aku rela nggak sama kamu asal kamu bahagia. Aku pulang, Rhi. Bye.” Anzo sedikitpun tidak menoleh kearahku saat mengatakannya.

“Zo,” kataku lirih. Sayangnya aku tidak cukup kuat untuk mengejarnya dan menahannya untuk tetap disini, dan tidak membiarkannya pergi.

Aku ingin berlari untuk menggapainya dan memeluknya kemudian menangis di dadanya dan mengatakan bahwa aku mencintainya. Aku tidak pernah mencari kebahagiaanku bersamanya, aku SELALU menemukan kebahagiaan pada dirinya. Hanya dengan bersamanya dan mengetahui bahwa dia masih milikku, aku bahagia.

And I remember all those crazy things you said
You left them right there through my head
You’re always there, you’re everywhere
But right now I wish you were here

Crap. That song is going to kill me. Kenapa tiba-tiba lirik lagu itu muncul diotakku? Dan kenapa semua hal yang terjadi selama dua tahun belakangan ini otomatis rewind dengan sendirinya? Ini seperti menonton sebuah film yang akhirnya adalah sad ending, dan lagu itu backsoundnya.
Ya Tuhan… Saat sedang seperti ini, kenapa ingatan tentang obrolan aku bersama Anzo justru teringat dengan jelas…

Komentar-komentar konyol Anzo mengenai film-film drama picisan, pernyataan tidak masuk akalnya mengenai hal-hal absurd yang selalu dia alami, seluruh kalimatnya yang seringkali membuat aku tertawa, tanpa sedikitpun dia berusaha untuk membuat lelucon. Dia konyol, dia tidak masuk akal. He has something that always make me laugh, make me smile. He brighten my day without trying or even knowing.

All those crazy things we did
Didn’t think about it just went with it
You’re always there, you’re everywhere
But right now I wish you were here

Hal-hal bodoh yang dulu pernah aku dan Anzo lakukan, rasanya jauh lebih berharga saat kembali teringat. Duduk di pinggir jalan, menghitung angkot yang lewat. Berbaring menatap langit  dan menebak bentuk awan. Menyapa setiap orang tidak dikenal dijalan saat naik motor. Lomba siapa-kuat-menatap-paling-lama. Kode dua telunjuk di atas kepala setiap kali bertemu di sekolah. Sampai mencuri-curi pandang ketika kegiatan upacara di sekolah. Semuanya terlalu sayang untuk dibiarkan berlalu begitu saja.

Damn, damn, damn
What I’d do to make you here, here
Oh I wish you were here

 Oh, really goddamn fucking shit. Kenapa semua ini begitu lebih mudah dibayangkan dan dipikirkan saat dia sudah pergi? Kenapa tadi saat dia masih ada disini kata-kata itu seperti menguap dan hilang begitu saja? Seandainya dia ada disini, aku ingin semua hal yang ada diotakku ini terbaca olehnya. Akan jauh lebih mudah jika dia bisa membaca pikiranku. Perasaan ini terlalu rumit, terlalu absurd, terlalu… Entahlah. Sulit. Seandainya dia masih disini, ya, seandainya.

No, I don’t wanna let go
I just wanna let you know that I never wanna let go
No, I don’t wanna let go
I just wanna let you know that I never wanna let go

Harusnya aku menahannya. Harusnya aku tidak membiarkannya pergi. Harusnya aku mengatakan semuanya padanya. Harusnya aku membiarkannya mengetahui betapa bahagianya aku bersamanya. Seharusnya dia tahu. Seharusnya dia mendengar. Seharusnya dia masih disini. Seharusnya semuanya tidak berakhir seperti ini.

Aku menyingkap selimut di kakiku, kemudian aku mencabut botol infus digantungannya dan membawanya lari bersamaku. Aku mungkin lemah untuk mengejarnya, tapi bukan berarti aku tidak mampu. Aku mungkin tidak memiliki kekuatan untuk menahannya pergi, tapi bukan berarti aku tidak bisa mencoba.

Kakiku yang tidak beralaskan apapun bergerak cepat mencari lelaki setinggi 180cm yang memakai hoodie biru dongker dan celana jeans serta sepatu nike hitam. Aku tau ini terlambat. Setidaknya aku mau mencoba. Mencoba mempertahankannya. Dan mengatakan bahwa aku tidak akan membiarkannya pergi lagi, tidak kali ini. Semoga dia belum terlalu jauh untuk aku gapai.
 *****

Gimana? Lumayan nggak?
By the way makasih untuk sempet membaca yaaa.
Oh iya buat cerbung Will It Be Us lanjutannya bakal di post hari Jumat. Sumpah deh, janji hehe. Makasih juga ya buat semua yang udah ngirim email nanyain kelanjutan cerbung. Udah dibales semua kan? Oke deh, see you next post readers.

0 komentar:

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos