Tuesday, December 31, 2013

Cerbung - Will It Be Us Part 21

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 07:37
Reaksi: 
Hai, apa kabar reader?
Baik kan pastinya?
Nggak kerasa kita udah sampe di penghujung tahun 2013 nih... Kira-kira resolusi 2013 readers udah terlaksana dengan baik belum? Kalau yang udah semoga di 2014 bisa mempertahankan atau bahkan meningkatkan ya! Yang belum semoga resolusinya terlaksana di 2014. Yang penting jangan pernah berhenti untuk berharap, bermimpi, lalu mengejar impian.
Halah ini Bani lagi kenapa sih sok bijak gini-_-.

2013 tinggal nyisa itungan jam lagi nih di daerah WIB. Yang di daerah WIT malah udah tahun baruan. Kebetulan gue masih di daerah WIB jadi gue bisa ngepost dulu nih sebelum ngumpul lagi sama sodara-sodara yang lain.

Oke, kalian masih inget cerbung gue kan yang nggak kerasa udah mau 2 tahun. Hehe. Maaf ya kalian gue gantungin lama banget:( Makanya nih gue ngepost lagi lanjutannya... Kali ini yang part ke 21 ya? Kayanya tinggal 2 part lagi deh menuju penghujung cerita. Huhu:( sedih gak? Jangan sedih ya:)

Ah udah deh kebanyakan ngomongnya. By the way sebelum kalian baca cerbung ini gue mau ngucapin
HAPPY NEW YEAR!!! WELCOME 2014, WE PUT SO MUCH WISHES ON YOU. PLEASE BE BETTER!
Wkwk nggak nyantai ya. Btw makasih ya buat kalian para readers yang mau baca cerita2 di blog gue ini selama beberapa tahun terakhir. Yang mau nyediain waktunya buat baca. Ahh... Makasih pokoknya.

Oke, here it is, check this---



Cerbung - Will It Be Us Part 21

“Anya! Kita lulus Nya! Kita lulus!” kata Nathan setengah berteriak saking gembiranya saat menemui Anya yang sedang duduk sendirian di balkon kamarnya.

“Kamu tau? Nem kamu ada di rata-rata 9!” lanjut Nathan antusias.

Anya hanya diam tidak menjawab apapun. Semenjak kecelakaan itu Anya memang cenderung lebih banyak diam dan melamun. Ia hanya menghabiskan waktunya duduk di balkon kamarnya merasakan angin meniup lembut kulitnya sambil mendengarkan musik. Sesekali Anya terlihat meneteskan air mata tanpa alasan yang jelas. Tanpa suara ia menangis.

Semuanya telah mencoba membuat Anya kembali ceria seperti dulu lagi. Mulai dari Papa dan Mamanya, Kakaknya, Nathan pacarnya, Cecil dan Randy sahabatnya, beberapa teman sekolahnya yang datang menjenguk, bahkan pembantunya.

Namun tetap senyum indah milik Anya yang dulu selalu menghiasi wajahnya musnah. Hilang bersama penglihatannya yang rusak sebulan lalu.

Nathan hanya terus bersabar menghadapi perubahan sikap Anya yang drastis. Dari hari ke hari dia merawat gadis itu dengan telaten. Menyuapinya makan, membacakannya cerita, membuatkannya puisi-puisi indah, menyanyi untuknya, bermain gitar, bahkan sampai mengguntingkan kukunya.

Semua Nathan lakukan demi membuktikan pada Anya bahwa ia memang benar-benar mencintai gadis itu karena hatinya, bukan kesempurnaan fisiknya.

“Kamu kok kayak nggak seneng gitu sih Nya?” Nathan membelai lembut rambut Anya.

“Buat apa seneng? Nggak ada artinya buatku. Mau nilai ujianku 100 semua juga udah nggak berguna. Universitas mana yang mau nerima mahasiswa buta? Lagi pula aku nggak bisa baca sekarang.” Jawab Anya sinis.

“Kok gitu sih Nya ngomongnya? Masa cuma gini aja kamu nyerah? Kan kamu bisa belajar baca pakai huruf braille.” Kata Nathan lembut.

“Kamu fikir gampang? Aku harus mulai semuanya dari nol lagi. Itu sulit Than, sulit!” Anya berteriak karena emosi.

“Anya sayang, aku akan selalu ada disisi kamu, bantu kamu untuk memulai semuanya lagi. Aku akan bantu hal sulit itu untuk menjadi mudah dengan kita pelajari berdua.” Jawab Nathan lembut, menenangkan Anya yang mulai menangis lagi.

“Aku benci keadaan aku Than, benci.” Ratap Anya lirih disela-sela tangisannya.

“Jangan, aku yakin ini demi kebaikan kamu.” Nathan berusaha mengingatkan, Anya hanya mengangguk dalam dekapan Nathan yang sedikit menenangkannya. Walaupun ia masih menangis dan sesenggukan, tapi perasaannya jauh lebih baik sekarang. Sudah agak berkurang kesedihan, kemarahan, dan kekecewaannya. Itu semua karena Nathan yang selalu sabar berada disisinya.
*****
                                                                                          
“Apa kabar Jakarta? Tiga tahun berlalu dan belum banyak perubahan yang kamu berikan. Kemacetan, kebisingan, keramaian. Hmm, kecuali gadis yang aku titipkan dulu mungkin. Entah sekarang dia dimana. Yang jelas aku merindukannya. Selamat bertemu kembali Jakarta. Akhirnya aku pulang.” Rio bergumam senang dalam hatinya, seulas senyum terpancar dari bibirnya.

Hari ini Rio baru saja sampai Jakarta. Setelah mempertimbangkan semuanya dengan kedua orang tuanya akhirnya Rio dibolehkan tinggal di Jakarta untuk melanjutkan kuliahnya. Rio akan tinggal di rumahnya yang lama ditemani oleh Budenya agar tidak kesepian. Di bandara Budenya itu menjemputnya bersama supir.

“Bude Lin, apa kabar?” Rio salim lalu mencium pipi kiri dan pipi kanan kakak perempuan kandung Papanya itu.

“Baik Rio, kamu makin ganteng aja nih. Putihan lagi. Wah, pasti banyak yang naksir dong?” kata Bude Lin menggoda.

“Ah Bude bisa aja nih,” jawab Rio malu-malu.

“Nggak bawa pacar Yo dari sana? Pasti bule cantik ya pacarmu?” Bude Lin kembali menggoda.

“Ah nggak punya pacar Bude, aku sibuk sekolah disana.” Jawab Rio.

“Walah, masa seganteng kamu nggak punya pacar?” Bude Lin menggandeng tangan Rio berjalan menuju mobilnya yang sudah ditunggui supir untuk mengantar mereka pulang.

“Iya, mungkin nggak ada yang mau.” Jawab Rio asal.

“Nggak ada yang mau atau kamu terlalu pemilih?” Bude Lin mengangkat sebelah alisnya. Rio hanya tertawa tidak menjawab. Lalu mereka masuk mobil dan mengobrol banyak tentang kehidupan Rio disana selama beberapa tahun terakhir.
*****

“Anya, udah dua bulan kamu di rumah terus kayak gini, nggak bosen?” tanya Nathan sambil menelusuri rambut lembut Anya dengan jarinya.

“Buat apa bosen? Kalau aku pergi ke tempat lain juga rasanya akan sama. Gelap. Aku tetap nggak bisa liat apapun.” Jawab Anya sinis.

“Sayang, nggak gitu juga lah. Seenggaknya kamu bisa ngerasain udara segar.” Nathan berusaha meluruskan.

“Di balkon kamarku cukup.” Jawab Anya ketus.

“Tapi aku pengen banget ajak kamu ke suatu tempat.”  Ajak Nathan.

“Kemana? Tanah kosong yang ditumbuhi ilalang itu lagi? Atau ke atas bukit? Nggak.” Anya tetap bersikukuh berpegang pada pendiriannya.

“Bukan. Ayo lah Nya, aku janji kamu nggak akan capek kok. Kan kamu aku boncengin di motor.” Rayu Nathan.

Anya diam sambil tetap dengan ekspresi tidak setuju.

“Lagi pula kamu udah lama nggak naik motor sama aku, nggak kangen apa?” lanjut Nathan.
Akhirnya Anya luluh, ia menarik napasnya dalam lalu berkata, “Oke, dengan satu syarat.”

“Apa itu?” tanya Nathan penasaran.

“Jangan ngebut!” kata Anya serius.

Nathan hanya tersenyum geli menatap Anya lalu berkata, “Siap tuan putri!”

Untuk pertama kalinya Anya keluar kamar setelah dua bulan kecelakaan itu. Mamanya yang sedang berada di ruang keluarga terkejut senang dengan perkembangan Anya.

“Mau kemana sayang?” tanya Mama Anya.
Anya diam tidak menjawab, hanya mengedikkan bahunya.

“Aku mau ajak Anya jalan-jalan tante. Boleh kan?” Nathan memegangi Anya yang berdiri di sebelahnya.
“Boleh dong pastinya. Ya udah pulangnya jangan terlalu malam ya Than.” Kata Mama Anya tersenyum senang.

“Iya tante. Pamit ya,” Nathan menyalami tangan Mama Anya.

Mama Anya mencium kedua pipi anak gadisnya itu dan membiarkannya pergi bersama Nathan sambil berkata, “Take care sayang.”

Mereka sampai di tempat tujuan mereka. Nathan menyetandarkan motornya lalu buru-buru membantu Anya turun. Ia memapah Anya berjalan di sebelah kanan, sedangkan tangan kiri Anya memegang tongkat untuk membantunya merasakan apa ada benda di depannya atau tidak.

“Kita dimana sih?” tanya Anya saat Nathan menyuruhnya untuk duduk di sebuah kursi.

Nathan tersenyum, ia diam sejenak lalu menjawab pertanyaan Anya. “Ini tempat yang menjadi saksi kalau kamu pernah bilang mau jadi pacarku.”

Anya diam. Dia tidak membalas jawaban Nathan. Justru terlihat sedih dari raut wajahnya. Ternyata bukan kenangan bersama Nathan yang disebutkan yang dia ingat, dia malah memikirkan orang lain. Ia sadar sekarang dia sedang bersama Nathan, dan di tempat ini dulu mereka pertama jadian. Tapi, ada sesuatu yang lebih mengingatkan Anya akan tempat ini. Rio. Laki-laki itu sempat menyulap tempat ini menjadi surga selama beberapa saat sebelum kepergiannya. Di tempat ini Rio memasangkan kalung dan gelang yang bahkan sampai saat ini masih Anya pakai.

Rio, sebuah nama yang tidak bisa ia lupakan. Selalu terkenang. Entah sampai kapan ia merindukan si pemilik nama itu. Ia berharap bisa bertemu dengannya dan mendengar suaranya lagi. Baginya itu cukup. Tapi dengan tiba-tiba Anya menepis bayangan itu. Meyakinkan dirinya bahwa Rio tidak akan pernah mungkin kembali. Karena sekarang dia memiliki Nathan. Lagi pula, kalau Rio mengetahui keadaan Anya seperti saat ini, Anya yakin Rio akan menyesal pernah mencintai dirinya. Untuk menghilangkan perasaan tidak enak dihatinya saat memikirkan Rio, akhirnya Anya berusaha bertanya pada Nathan.

“Deskripsikan suasana taman ini sekarang padaku. Sehingga aku bisa melihatnya juga sama sepertimu.” Pinta Anya lembut.

“Umm, oke. Kita sekarang lagi duduk di kursi taman panjang tempat dimana dulu aku nembak kamu. Tempatnya sama kayak dulu, di bawah pohon, di depan kolam air mancur. Nggak jauh dari kita ada ibu-ibu yang lagi dorong kursi bayinya. Trus ada beberapa anak yang lagi main petak jongkok di deket kolam. Di pinggir kolam ada seorang laki-laki dan perempuan yang kayaknya lagi pacaran juga. Hmm terus di seberang kolam sana ada beberapa orang cowok sama cewek seumuran kita lagi ketawa-ketawa. Di deket mereka ada ayunan, disana ada dua orang anak kecil perempuan lagi main. Udah itu aja.” Kata Nathan setelah merasa cukup mendeskripsikan keadaan sekitar setelah mengedarkan pandangannya.
Anya tersenyum, “Langitnya bagaimana?” kata Anya lanjut bertanya.

“Langitnya biru, cerah. Ada sedikit awan yang bergumpalan disana. Ada satu awan yang mirip gajah.” Jawab Nathan sambil menatap langit.

“Pasti indah, seandainya aku bisa memandangnya juga.” Kata Anya dengan helaan napas pendek.

Nathan mendekap tubuh Anya dari samping mengelilingi pinggangnya. Sedangkan Anya bersender pada bahu laki-laki itu.

“Makasih ya Than,” kata Anya tulus.

“Untuk apa?” tanya Nathan sambil mengelus lembut pipi Anya.

“Untuk kamu yang sudah sabar merawat dan menjagaku.” Jawab Anya sambil memberikan senyuman terbaiknya yang sempat hilang selama beberapa bulan ini.

“Tenang aja, itu tugasku.” Nathan membalas kata-kata Anya sambil mempererat dekapannya.

Mereka berdua menikmati sore itu dengan saling mengobrol satu sama lain. Menjalin kenangan yang akan sulit untuk dilupakan bagi Anya. Karena mulai saat ini dia sadar, Nathan juga salah satu cintanya. Dia sadar, Nathan adalah yang terbaik.
*****

Rio baru saja selesai merapihkan barang-barang di kamarnya. Karena merasa lapar Rio memutuskan untuk makan di angkringan favoritnya dulu. Lokasinya tidak jauh dari rumahnya. Dia mengendarai mobil yang sudah disediakan Papanya menuju warung angkringan itu.

Selesai makan Rio teringat dengan Anya. Awalnya ia ingin mengunjungi gadis itu ke rumahnya. Namun dia mengurungkan niatnya karena takut mengganggu karena tidak mengabari dulu. Jadi Rio justru memberhentikan mobilnya di taman air mancur tempat terakhir di Jakarta dia dan Anya bersama sebelum Rio pindah ke Kanada.

Rio turun dari BMW hitam mengkilatnya. Menarik napas dalam-dalam lalu berjalan di jalan setapak bersemen yang dikelilingi semak-semak teratur. Ia melangkahkan kakinya terus menuju kolam air mancur. Namun, belum sampai sana saat ia sedang memandang sekeliling ia menangkap sesosok gadis dalam balutan terusan warna hijau motif daun dan cardigan putih dengan wajah yang sangat familiar baginya. Rio tertegun memandang gadis itu beberapa saat. Kerinduan dalam dirinya menyeruak sampai kepermukaan. Memaksanya untuk mendekati gadis itu, tapi alam sadarnya menahannya karena gadis itu saat ini dalam pandangan Rio sedang bersender pada bahu seorang laki-laki putih pucat. Keduanya sama-sama sedang saling tersenyum dengan pembicaraan mereka walaupun tidak saling menatap. Laki-laki itu melingkarkan lengannya diseputar pinggang gadis itu yang membuat dada Rio makin merasa sesak.

Sebenarnya pemandangan ini benar-benar sangat menyiksa bagi Rio. Tapi karena dia masih penasaran dengan sosok laki-laki itu, dia tetap menunggu sambil memperhatikan mereka dari tempat yang aman dan tidak terlihat.

Sampai akhirnya setelah sejam lebih mereka bersama, mereka berdua bangkit dari kursinya. Diawali laki-laki itu duluan yang bangkit. Lalu dia membantu gadis itu yang tidak lain adalah Anya untuk bangkit juga dan memakaikan tongkat besi warna putih di tangan kiri Anya. Lalu laki-laki itu menuntun Anya berjalan bersamanya.

Rio kaget setengah mati. Anya memakai tongkat dan dituntun seperti orang buta. Rio berpikir ini pasti mimpi. Anya sempurna, dan tidak mungkin dia seperti itu. Pasti ada kesalahan.

Hal itu membuat Rio penasaran setengah mati. Akhirnya dia mengikuti mereka sampai mereka tiba di rumah Anya. Laki-laki itu hanya memarkirkan motornya di luar rumah Anya, bisa dipastikan ia akan segera pulang. Dari jarak yang aman Rio membuntuti laki-laki itu dengan mobilnya.

Lalu sampai akhirnya mereka tiba di sebuah toko bunga yang sudah tutup karena sudah sore. Toko bunga yang pernah Anya dan Rio kunjungi waktu mereka pulang mendaftar SMA Anya. Rio ingat siapa laki-laki itu. Dia Nathan. Seseorang yang kata Anya dulu adalah sahabatnya, yang Rio yakini sekarang mereka lebih dari itu setelah melihat adegan di taman tadi.

Rio keluar dari mobilnya menuju jalan kecil disamping toko bunga itu mengikuti Nathan. Sampai akhirnya ia tiba di sebuah rumah yang tertutupi banyak pohon rimbun dan ditutupi toko bunga di depannya. Sebelum Nathan masuk ke rumahnya, Rio memanggil Nathan dengan suara tenang, “Hei.”

Nathan menoleh dan mengernyitkan dahinya bingung. Lalu Rio berjalan mendekati Nathan yang berdiri di dekat pintu rumahnya.

“Rio?” Nathan menunjukkan ekspresi kaget saat melihat siapa yang ada dihadapannya saat ini.

“Lo masih inget gue?” tanya Rio basa-basi.

“Masih lah, nggak mungkin lupa.” Jawab Nathan terbata.

“Boleh ngobrol sebentar?” tanya Rio sopan.

“Boleh kok. Di dalem aja ya, sambil duduk. Nggak enak masa ada tamu dibiarin diluar gini.” Kata Nathan tersenyum ramah. Rio hanya menganggukkan kepalanya dan balas tersenyum juga.

“Duduk disini dulu ya. Gue ambil minum sebentar.” Kata Nathan mempersilahkan Rio duduk.

“Nggak usah, jangan repot-repot.” Rio berusaha mencegah tapi Nathan tetap berlalu meninggalkannya pergi ke dapur membuatkan secangkir teh untuk Rio lalu tidak begitu lama kembali lagi membawa teh panas itu.

“Ini minum dulu.” Kata Nathan sambil menaruh gelas itu di hadapan Rio.

Rio mengambil gelas itu dan menyeruputnya pelan lalu menaruhnya lagi.

“Kapan baliknya dari Kanada Yo?” tanya Nathan akrab seperti sudah kenal lama.

“Baru juga 4 hari yang lalu.” Jawab Rio singkat.

“Ohh, mau lanjutin kuliah disini ya?” tanya Nathan basa-basi.

“Iya, nggak betah kelamaan disana. Enakan disini.” Jawab Rio sambil mengetuk-ngetuk ujung meja tamu Nathan. Ada hening yang panjang diantara mereka.

“Gue sebenernya mau tanya sesuatu Than.” Kata Rio memecah keheningan.

“Tentang Anya?” tebak Nathan tepat.

“Kalian sudah pacaran berapa lama? Maaf, tapi gue cuma pengen tau aja.” Tanya Rio agak canggung.

“Hampir 2 tahun.” Jawab Nathan singkat.

“Ohh, langgeng ya.” Balas Rio tanpa menatap Nathan saat mengatakan itu. Kemudian sunyi lagi.

“Lo tau nggak kenapa gue bisa sampe ke rumah lo?” tanya Rio basa-basi.

“Enggak, emang kenapa?” tanya Nathan penasaran, karena sejujurnya itu pertanyaan yang ia sembunyikan dari tadi.

“Ini gara-gara gue liat lo sama Anya di taman air mancur tadi. Dan gue akhirnya ngikutin kalian karena liat ada keanehan sama Anya...” jawab Rio jujur.

Nathan diam menatap Rio, menunggu laki-laki yang tidak lain adalah rivalnya selama ini meneruskan berbicara.

Rio menghela napas panjang karena Nathan hanya diam, lalu ia melanjutkan berbicara, “Gue kebetulan tadi abis makan. Trus kepengen nyari udara seger, nah gue akhirnya mampir dulu di taman itu. Dan nggak sengaja gue liat kalian berdua. Awalnya gue biasa aja, tapi pas liat Anya kayak kesulitan jalan, dan pakai tongkat segala, trus pandangannya nggak jelas gue jadi heran.”

Kali ini gantian Nathan yang menghela napas, “Emang lo belum tau?” tanya Nathan dengan pandangan sedih.

“Gue bener-bener baru balik ke Jakarta, dan gue selama ini sibuk nggak pernah ada komunikasi sama Anya. Paling sama Bang Eza, itu pun terakhir kali sekitar 3 bulan yang lalu.” Jawab Rio jujur.

“Ini semua gara-gara gue,” kata Nathan dengan pandangan menerawang sedih.

Rio diam menatap laki-laki pucat di hadapannya itu, siap mendengarkan dengan baik.

“Seandainya dua bulan yang lalu gue nggak sakit dan gue bisa nganterin dia beli dress buat prom night, pasti keadaannya nggak akan begini sekarang.” Nathan mulai menyalahkan dirinya sendiri.

“Emang ada apa di dua bulan yang lalu?” Rio merasakan dadanya mulai berdegup cepat sekarang.

“Dia ketabrak mobil. Sempet nggak sadar sehari. Dan begitu sadar dia harus menerima kenyataan bahwa penglihatannya nggak berfungsi lagi karena kerusakan di retina matanya.” Jawab Nathan sambil menangkupkan telapak tangannya ke wajahnya.

Rio tertegun, untuk beberapa saat ia merasa pusing. Tapi dengan cepat ia segera mengumpulkan kesadaran kembali.

“Anya buta?” bisik Rio pelan.

“Ya,” jawab Nathan.

“Lalu?” Rio bertanya bingung, ingin mendapatkan informasi lebih.

“Apa lagi? Hanya itu yang gue tau.” Jawab Nathan.

“Kebutaannya permanen atau nggak?” Rio bertanya tegas.
Nathan terlihat berpikir sejenak, lalu menjawab, “Nggak, dia masih ada kemungkinan balik normal kalau ada donor mata yang cocok. Tapi sampai saat ini pihak rumah sakit belum bisa menemukannya.”
Rio terdiam. Berpikir keras akan sesuatu yang bisa dilakukannya untuk setidaknya bisa membuat Anya bahagia. Tidak seperti ini.

“Tapi bukankah banyak orang yang meninggal setiap detiknya? Apa benar-benar diantara orang-orang itu nggak ada yang matanya cocok sama Anya? Apa nggak ada?” Rio terlihat agak emosi saat mengatakannya karena menahan sesak di dadanya.

“Belum ada Yo, bukan nggak ada.” Jawab Nathan menenangkan.

“Than, lo harusnya sebagai pacarnya berusaha cari cara terbaik buat Anya dong! Jangan tenang-tenang begitu aja! Lo tega liat dia begitu terus? Kalau Anya bisa sembuh lebih cepat ngapain nungguin lama-lama?! Kita harus cari pendonor mata secepatnya.” Rio setengah berteriak kali ini.

“Maaf Yo. Tapi itu di luar batas kemampuan gue.” Jawab Nathan apa adanya.

“Kemampuan apa? Berapa biaya yang perlu dibayar? Lo cukup bilang dan semuanya gue janji akan selesai. Yang penting adalah Anya mendapatkan yang terbaik.” Rio makin menggebu-gebu melampiaskan sesaknya.

“Bukan hanya itu, tapi sulit untuk menemukan mata yang bagus untuk di donorin Yo. Mau dibayar berapa juga jaman sekarang jarang yang mau jual matanya. Mungkin kalu ginjal, atau rahim masih banyak. Tapi ini mata. Susah Yo.” Nathan berusaha tenang walaupun gelisah dengan sikap Rio.

“Keluarga Anya sudah berusaha mencari semaksimal mungkin, bahkan orang tua Anya rela memasang iklan di koran untuk donor mata Anya dengan imbalan uang bagi si pendonor, tapi tetap hasilnya nihil. Nggak ada yang bisa.” Lanjut Nathan.

Rio terdiam kali ini. Menunduk memandangi sepatu convers biru tuanya. Ada penyesalan bahwa saat Anya sedang membutuhkan seseorang seperti ini bukan dirinya yang berada disamping gadis itu. Ada penyesalan bahwa seharusnya dia bisa menjaga gadis itu. Perasaan kasihan. Kecewa. Marah pada dirinya sendiri. Ia terus mengumpat untuk dirinya sendiri dalam hatinya. Membuat suasana hening antara Rio dan Nathan.

“Maafin gue nggak bisa jaga dia Yo.” Kata Nathan tiba-tiba.

Rio menoleh, menatap bingung sesaat pada laki-laki itu lalu bertanya, “Kenapa sama gue minta maafnya?”

“Karena gue tau, lo orang yang paling sayang sama Anya.” Nathan menjawab cepat, membuat Rio membuang muka karena jawaban Nathan sepenuhnya benar.

“Dan untuk beberapa saat ini tolong biarin gue menebus semua kesalahan gue sama Anya. Biarin gue yang jaga dia. Karena ini semua adalah karena gue.” Lanjut Nathan tegas.

Rio menoleh kemudian menatap Nathan tajam, lalu ia membalas berkata, “Kalau gitu biarin gue kasih satu pengorbanan terakhir atas sayang gue buat Anya sebelum lo menjaga dia sepenuhnya. Setelah itu gue janji gue nggak akan pernah ganggu kalian.”

Nathan menatap Rio tidak mengerti, sedangkan Rio hanya tersenyum penuh arti. Setelah itu Rio pamit pulang dan mengendarai mobilnya sendiri menuju rumahnya.

Penyesalan datang bertubi-tubi dalam benak Rio. Membuatnya terus menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang menimpa Anya. Membuatnya membenci dirinya sendiri yang telah membiarkan Anya pergi dan bersama yang lain. Membenci dirinya sendiri karena dia tau bukan orang lain yang bisa mencintai Anya sebesar dan sekuat ini. Dia tau bahwa cintanya sudah terlalu kuat dan besar untuk dibandingkan dengan cinta lelaki manapun.

Rio mengambil handphonenya, lalu menelfon seseorang dengan seulas senyum yang tidak terbaca maksudnya.

“Halo Ma, ada yang harus aku bicarain.” Kata Rio lembut dengan senyum yang makin mengembang saat menelfon sambil menyetir mobilnya.

Will he love you like I love you? Will he tell you everyday? Will he make you feel like you’re invincible with every word he’ll say? Can you promise me if this was right don’t throw it all away?
Will he do all this things like I used to?
(Like We Used To – A rocket to the moon)


“Akankan dia mencintaimu seperti aku mencintaimu? Akankah dia menceritakan semua tentangmu setiap hari, setiap detik, setiap waktu pada setiap orang dan disetiap kesempatan? Akankan dia membuatmu tidak kasat mata dengan semua yang dia katakan? Maukah kamu berjanji padaku  jika ini semua benar jangan membiarkan aku pergi? Karena sesungguhnya aku yang sangat mencintaimu. Bukan dia. Akankah dia berkorban seperti aku mengorbankan diriku untukmu? Seharusnya kamu menungguku kembali, bukan memilihnya. Karena, akankah dia melakukan apa yang akan aku lakukan nanti untuk membuktikan kesungguhan hatiku. Kamu akan sadar suatu saat nanti betapa aku sesungguhnya yang terbaik.”

***

Segitu dulu ya.
Dikit banget ya? Maaf yaa udah keburu mau pergantian tahun nih. Nanti gue post lagi lanjutannya kok! Ditunggu aja yaaaa
See you next post readers!

1 komentar:

Evi Nurcahyanti on February 22, 2014 at 7:00 PM said...

lanjut lagi donggg seruuu!!

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos