Saturday, December 21, 2013

Cerbung - Will It Be Us Part 20

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 22:47
Reaksi: 
Hai, hello selamat hari ibu semuanya!!!
Maaf ya setelah sekian lama bani baru sempet ngepost di blog lagi.
No, no, wait. Bukan baru sempet, tapi baru hilang kemalasannya. Hehehehhe.....

But, ngeliat visitor yang menanjak beberapa bulan ini. Dan ngeliat reader Will It Be Us yang udah lebih dari 500 orang *yeay! give applause for it* gue jadi semangat buat ngepost lagi.

Oke, ini lanjutannya nih. Masih ada mungkin sekitar 3 part lagi kali ya abis ini baru deh selesai cerbungnya. Wkwkwk ini mungkin cerbung terpanjang sepanjang masa nih.
Alah, kebanyakan ngomong deh, ban.
Yaudah nih, check this out--



Will It Be Us Part 20

“Mau rasa apa Nya?” tanya Nathan saat membelikan Anya es krim.

“Apa aja, terserah kamu.”  Jawab Anya.

“Strawberry satu, cokelat satu ya mas.” Kata Nathan pada si penjual es krim.

“Nih,” kata Nathan menyerahkan es krim untuk Anya.

“Makasih.” Kata Anya lalu menjilati es krim cone rasa strawberry itu.

“Habis ini aku mau ajakin kamu ke suatu tempat.” Kata Nathan dengan senyum mengembang.

“Kemana?” tanya Anya.

“Ada deh, rahasia dong. Makanya abisin es krimnya dulu, abis itu kita kesana.” Jawab Nathan semangat. Anya hanya mengangguk menurut lalu memakan es krimnya lagi.

Setelah menghabiskan es krim, Nathan dan Anya berjalan menuju motor Nathan yang di parkir tidak jauh dari tempat mereka membeli es krim. Lalu mereka berboncengan menuju tempat yang dikatakan Nathan.

Mereka sampai di sebuah tanah kosong luas yang ditumbuhi banyak ilalang yang sudah menjulang tinggi. Nathan menuntun Anya berjalan melewati ilalang yang tingginya melebihi mereka. Lalu, akhirnya mereka sampai di tengah-tengah tempat itu yang kosong tidak di tumbuhi ilalang. Ada banyak bunga lili liar disana. Cantik, putih.

Anya tersenyum kecil memandang pemandangan disekitarnya, lalu duduk di atas rumput sambil menekuk lututnya.

Nathan berjalan menghampiri salah satu lili yang ada untuk memetiknya.

“Ini, happy first anniversary ya Nya. Nggak kerasa udah setahun.” Nathan menyerahkan sebuah lili putih liar pada Anya.

“Makasih, happy anniversary juga Nathan. Iya, nggak kerasa ya.” kata Anya sambil tersenyum manis.

“Sama-sama, aku suka bunga lili.” Kata Nathan sambil memandang bunga di tangan Anya.

“Kenapa?” tanya Anya tertarik.

“Lili itu bunga yang tangguh. Bunga ini bisa tumbuh liar di tempat seperti ini tanpa ada seorangpun yang merawatnya, tapi dia tetap bisa tumbuh indah dan mengeluarkan keanggunan dan kecantikan meskipun harus berjuang sendirian. Lili itu simbol keagungan dari sebuah ketangguhan dan ketabahan.” Jawab Nathan
Anya menatap Nathan kagum lalu bertanya, “Kamu tau banyak ya tentang itu?”

“Kan aku tukang bunga.” Nathan menjawab sambil tertawa sendiri.

“Tapi kan nggak semua tukang bunga tau arti dari bunga-bunga yang mereka jual.” Balas Anya.

“Ya, aku tau cuma karena pernah baca aja di google.” Kata Nathan merendah.

Anya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menggosok-gosokkan dagunya dengan kelopak bunga lili yang terasa lembut itu. Lalu kesunyian yang ada menemani mereka.

“Kamu suka tempat ini nggak?” tanya Nathan menghapus kesunyian.

“Hmm, suka.” Jawab Anya sambil tersenyum.

“Tapi ini belum seberapa loh, kalau sore mau ke malem langit disini bagus banget. Trus suka banyak kunang-kunang.” Kata Nathan menatap wajah Anya.

“Oh ya? Seumur hidup aku belum pernah liat kunang-kunang.” Kata Anya jujur.

“Kalau begitu kamu harus liat sore ini,” Nathan mengangguk mantap.

“Kamu akan sangat merindukan kunang-kunang dan akan terus berharap bisa melihatnya lagi kalau udah ngeliat sekali.” Lanjut Nathan lagi.

“Emang kenapa?” Anya menatap bingung.

“Mereka indah, mereka itu membawa ketenangan. Cahaya mereka seperti candu untukku. Sama seperti kamu yang membuatku kecanduan untuk terus mencintaimu.” Nathan menjawab sambil meraih tangan Anya yang ada di sebelahnya lalu menggenggamnya erat. Anya hanya tersenyum mendengarnya tanpa menjawab.

“Menurut kamu definisi dari kata cinta itu apa sih Nya?” tanya Nathan mencoba membangun percakapan baru.

“Hmm, definisi cinta?” Anya terlihat berpikir sejenak sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal.

“Cinta itu rasa yang pertama dan terakhir untuk merangkum sebuah kerinduan.” Lanjut Anya dengan mantap.

“Kerinduan?” Nathan menatap mata Anya dalam.

“Lalu apa kamu pernah merindukanku?” Lanjut Nathan bertanya.

“Sejauh ini kamu belum pernah meninggalkan aku. Kamu selalu berada disisiku. Rasa rindu itu selalu berhasil kamu bunuh dengan baik.” Jawab Anya membuang pandangannya dari Nathan.

Nathan terdiam sejenak lalu bertanya serius, “Lalu apakah artinya aku harus pergi jauh dulu dari kamu agar kamu bisa merindukanku dan merangkum itu semua menjadi cinta?”

Anya tertegun, ia tidak siap dengan pertanyaan yang satu ini. Pertanyaan ini benar-benar berada di luar jangkauannya untuk di jawab.

“Kamu tau? Bahkan saat kamu berada disisiku, aku masih saja merindukanmu.” Lanjut Nathan membiarkan Anya diam tidak menjawab pertanyaannya.

“Aku nggak bermaksud gitu, tapi...” Anya berhenti, bingung merangkum apa yang ia rasakan menjadi kalimat yang benar dan mudah dimengerti karena sejujurnya ia juga tidak mengerti.

“Tapi kamu hanya belum bisa merasakan rindu itu kan?” Nathan tersenyum simpul memandang Anya yang menatapnya penuh rasa bersalah.

“Nggak, aku hanya...” Anya kembali tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.

“Nggak apa-apa kok Nya. Rasa itu aku yakin akan tumbuh. Anggap saja aku sedang menanam pohon, aku kan harus menunggu beberapa saat untuk melihatnya tumbuh, nggak bisa sekejap pohon itu muncul kan? Aku cukup sabar kok untuk menantinya, lagi pula aku senang berkebun.” Nathan tertawa dengan candaannya, diikuti Anya yang tertawa juga.

Setelah tawa itu reda, mereka diam ditemani dengan derikan jangkrik sore itu. Anya menyenderkan kepalanya pada bahu Nathan.

“Aku cuma nggak tau cara mendeskripsikan perasaanku sama kamu Than.” Kata Anya menghela napas panjang. Nathan hanya diam menunggu Anya melanjutkan kalimatnya.

“Setiap kali yang aku rasakan saat bersama kamu adalah tenang, damai, relaks. Aku seperti bisa melepaskan semua bebanku. Aku nyaman karena berada di dekatmu membuatku merasa bebas. Aku seperti sebuah bulu yang akan terbang kalau tertiup angin, ringan. Tapi, ada perasaan lain yang juga menggangguku...” Anya menggantung kalimatnya.

“Perasaan untuk Rio.” Nathan melanjutkan kalimat Anya dengan tatapan tanpa ekspresi yang sulit terbaca.

“Aku hanya belum bisa menghapusnya karena dia memberikan terlalu banyak hal untuk diingat. Aku, aku hanya belum bisa menghapusnya karena dia... Hmm, karena dia...” Anya kebingungan mengakhiri kalimatnya yang keburu dilanjutkan oleh Nathan.

“Karena dia satu-satunya yang paling kamu rindukan.”

Anya diam, tertohok dengan kalimat Nathan yang dia akui sepenuhnya benar.

“Jelaskan padaku, bagaimana kamu mendeskripsikan perasaanmu untuk Rio?” Nathan bertanya tanpa menatap Anya.

Anya terperangah kaget lalu menatap Nathan yang sedang menatap ke depan tanpa menatap Anya.

“Jawab Nya,” lanjut Nathan lembut.

“Perasaan itu juga sulit untuk aku deskripsikan.” Jawab Anya terbata.

“Kalau begitu jelaskan saja apa yang kamu rasakan ketika bersamanya, seperti tadi kamu menjelaskan bagaimana rasanya ketika berada di dekatku.” Kata Nathan cepat.

“Aku nyaman juga berada di dekatnya, senyaman ketika aku berada di dekatmu. Caranya menomor satukanku selalu bisa membuat jantungku berdegup kencang. Caranya menatapku selalu bisa membius dan memberikan kehangatan yang  paling aku rindukan. Caranya tersenyum kepadaku selalu bisa melelehkan darahku yang membuatnya mengalir 5 kali lebih cepat. Caranya menyentuh kulitku selalu bisa mengalirkan rasa geli seperti disetrum yang membuatku selalu merindukannya. Dia penuh dengan kejutan, misteri yang sulit terbaca untukku. Bukan hawa sejuk ketenangan yang kudapatkan darinya seperti saat bersamamu, tapi sesuatu yang hangat, memabukkan, dan membuatku kecanduan.” Jelas Anya panjang lebar, lalu menarik napas panjang untuk melanjutkan kalimat berikutnya.

“Kalian seperti dua sisi yang selalu bertolak belakang. Sampai kapanpun akan tetap berbeda. Caramu memperlakukanku dengan caranya. Kalian ibarat Yin dan Yang, simbol dari dua sisi yang berbeda. Kamu sisi putih dan Rio sisi hitamnya. Kenapa? Karena kamu terlalu putih untukku cintai, aku takut mengotori keputihanmu itu dengan rasa sakit. Dan Rio, dia terlalu gelap dan samar-samar untuk aku baca perasaannya.”

“Lalu kalau aku dan Rio berbeda, kenapa kamu tidak bisa mencintaiku?” tanya Nathan serius, membuat Anya menatapnya bingung.

“Maksudku, katamu aku berbeda darinya. Caraku memperlakukanmu dengan caranya berbeda. Tentunya hal itu memungkinkanmu untuk melupakannya kan? Bukan malah semakin mengingatnya. Aku tidak mau dicintai seperti kamu mencintai Rio. Karena kamu bilang aku berbeda darinya, aku mau dicintai dengan cara yang berbeda juga. Dengan kamu yang mencintai aku sebagai Nathan, bukan Rio.” Lanjut Nathan sambil mengelus lembut kepala Anya yang sedang bersender di bahunya.

Anya termenung mendengar kata-kata Nathan. Meresapinya dalam-dalam sehingga otaknya bisa mencerna dengan baik dan membuat sugesti yang baik untuk dirinya. Kedua lengannya membentuk lingkaran mengelilingi pinggang Nathan. Untuk pertama kalinya ia memeluk pacarnya yang sudah menemaninya selama setahun ini.

“Maafin aku,” bisik Anya tepat di telinga Nathan.

“Nggak ada yang perlu dimaafin, karena kamu nggak salah.” Jawab Nathan ikut-ikutan berbisik juga.

“Terima kasih untuk telah menumbuhkan cinta itu sore ini.” Kata Anya sambil mengeratkan pelukannya pada Nathan yang diam tidak membalas pelukan gadis itu. Dengan lembut Anya mencium pipi Nathan.

“Aku sayang kamu,” kata Anya dengan lancar dan tanpa beban untuk pertama kalinya, yang sangat tulus dari dalam hatinya.

Nathan mengalungkan tangan kirinyanya ke seputar pundak Anya dan mendekapnya erat sambil berkata, “Aku sayang kamu juga.”

Lalu hening. Berdua mereka menikmati senja itu dengan menatap langit ditemani suara jangkrik dan cahaya-cahaya kecil yang berterbangan disekeliling mereka. Kunang-kunang.

I know right now that’s not the way you feel, but one day you will
(One Day You Will - Lady Antebellum)
“Mungkin saat ini kamu belum merasakan apa yang aku rasakan. Mungkin kamu masih belum menyadari rasa yang sedang aku berikan. Tapi aku percaya, suatu saat kamu akan. Akan mulai menyadari bahwa aku sangat mencintaimu, dan perasaanmu aku yakin juga akan segera tumbuh beriringan dengan kesadaran itu. Aku mengetahui bahwa cinta sama seperti air, mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang rendah. Untuk itu, cintaku harus selalu lebih tinggi darimu agar bisa mengalir ke hatimu dan terdapat cinta juga disana.”
*****

“Nya yang bener dong, masa soal kayak gini aja kamu nggak bisa?” kata Nathan gemas.

“Aku buta kalau biologi.” Kata Anya meringis.

“Bukan buta, kamu cuma nggak mau baca, udah itu aja intinya titik.” Tatap Nathan tajam.

“Lagian siapa suruh sih itu orang-orang pada ngasih nama-namanya di sana susah banget? Porifera, Colenterata, Arachnida, Platyhelmentis lah, atau apalah itu yang lain aku nggak hafal.” Keluh Anya kesal.

“Makanya berusaha, baca novelnya Emily Bronte yang hampir 1000 halaman aja kamu sanggup, masa buku biologi yang nggak nyampe 300 halaman ini kamu nggak bisa?” Nathan menatap Anya geli.

“Aku udah berusaha, aku baca, dan ujung-ujungnya aku lupa. Jadi kalau gitu buat apa aku baca coba? Kalau Emily Bronte ceritanya kan gampang dicerna. Nggak kayak pelajaran biologi yang bahasanya bikin mata keriting.” Jawab Anya menggeleng-gelengkan kepalanya frustasi.

Nathan hanya tertawa sambil mengacak-acak rambut Anya, lalu mulai mengajari gadis itu tentang beberapa hal dari buku mereka. Anya mendengarkan dengan menaruh perhatian penuh pada Nathan. Ya, pada Nathan, bukan pada penjelasan Nathan. Untuk pertama kalinya ia merasa merindukan sekali wajah itu. Degup jantungnya bertambah cepat beberapa kali dari biasanya. Matanya yang sendu tapi menenangkan, hidungnya yang mancung, tulang pipi yang agak menonjol, bibirnya yang merah merekah membentuk panah cupid, kulitnya yang sangat putih, lebih putih dari Anya. Tapi sebenarnya lebih cocok disebut pucat. Rambutnya hitam lemas agak tipis, jatuh dikeningnya hampir mengenai alis. Mungkin tidak setampan Rio, tapi dia memiliki sesuatu yang membuatnya kelihatan setara dengan Rio. Matanya, matanya yang kecokelatan indah, menarik bagi Anya. Senyumnya yang selalu ikhlas ia berikan juga menjadikan sebuah kelebihan lain. Senyuman yang membuat siapapun melihatnya jadi ingin tersenyum juga.

“Jadi alat gerak yang ada di cacing planaria itu apa namanya Anya?” Nathan mengagetkan Anya yang sedang asyik melamun menatap dirinya.

“Hah? Kaki ya? Apa sih, lupa.” Jawab Anya sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Makanya kalau aku ngejelasin di dengerin, konsentrasi, jangan mikirin yang macem-macem. Apa lagi ngelamun.” Kata Nathan sambil membolak-balik halaman buku biologi itu.

“Ngelamunin apa sih?” lanjut Nathan bertanya sambil mengangkat kepalanya menatap Anya.

“Kamu.” Jawab Anya singkat.

“Aku?” Nathan memandang Anya tidak mengerti.

“Iya, kamu manis kalau lagi ngejelasin gitu.” Kata Anya sambil mengulum senyum.

“Yah, meleleh deh nih.” Nathan menjawab sambil tertawa diikuti dengan Anya yang tertawa juga.

“Udah ah, jangan bercanda terus. Belajar lagi. Inget, Senin kita udah UN.” Kata Nathan mengingatkan.

“Siap kapten mengerti!” Anya menegapkan bahunya dan menaruh tangannya di jidat menunjukkan sikap hormat seperti tentara. Nathan hanya tersenyum memandangnya lalu kembali menjelaskan beberapa materi pada Anya.
*****

“Gimana? Siap ujian hari ini?” Nathan bertanya sambil menyunggingkan senyum di atas motornya kepada Anya saat menjemput gadis itu untuk pergi sekolah.

“80 % aku siap.” Jawab Anya sambil menarik napas panjang, lalu tertawa gugup saat membuangnya.

“Kok cuma segitu?” tanya Nathan dengan agak kecewa.

“Ya, segitu juga udah bagus kok. Udah yuk berangkat, nanti telat malah nggak boleh ikut ujian kita.” Kata Anya lalu naik ke jok belakang motor Nathan.

“Pegangan,” kata Nathan sebelum menarik gasnya.

Anya menurut dengan memegang ujung seragam Nathan dari belakang.

“Kira-kira kamu mau masuk mana Than setelah lulus nanti?” tanya Anya pada Nathan saat di motor.

“Nggak tau, liat nanti aja.” Jawab Nathan sambil tetap mengendarai motornya.

“Kok gitu? Emang rencananya mau ambil fakultas apa?” tanya Anya lagi.

“Nggak tau juga, bingung.” Jawab Nathan santai.

“Hmm, kamu kepinteran sih ya? Jadi gitu deh, terlalu banyak pilihan sampai susah menentukan.” Kata Anya setengah bergumam.

“Kamu sendiri mau nerusin kemana?” tanya Nathan.

“Pengennya sih UI, literature inggris.” Jawab Anya mantap.

“Keren. Jadi penulis dong?” tanya Nathan sambil tetap fokus pada jalanan.

“Yap, mimpiku dari dulu.” Kata Anya lalu tersenyum pedih mengingat cita-citanya dulu adalah salah satu yang sering Rio kolaborasikan bersama bakat gambarnya. Rio sering membuatkannya komik dari cerita yang Anya sendiri buat. Tapi dengan cepat ia menghapus bayangan itu.

“Aku kira kamu mau jadi dokter kayak kakak kamu.” Kata Nathan pada Anya.

“Nggak, aku nggak tertarik sama biologi.” Jawab Anya terus terang.

“Hmm, nggak tertarik atau nggak ngerti?” goda Nathan.

“Dua-duanya sama!” jawab Anya lalu tertawa diikuti tawa Nathan.
 *****

Ujian selesai, Anya bersyukur bisa melaluinya dengan lancar tanpa kendala. Begitu juga Nathan. Walaupun pengumuman kelulusan masih belum mereka ketahui tapi setidaknya mereka bisa santai sejenak saat ini. Apalagi, dua minggu setelahnya sekolah mereka mengadakan prom night. Acara yang biasa diadakan setelah seminggu atau dua minggu ujian disana. Dan karena kebetulan prom night adalah besok, Anya menelfon Nathan untuk meminta agar menemaninya pergi membeli gaun untuk dikenakan nanti.

“Nathan.” Sapa Anya riang.

“Iya, kenapa Nya?” tanya Nathan dengan suara lemas.

“Kamu sakit ya?” tanya Anya khawatir.

“Cuma nggak enak badan aja kok. Kenapa?” Nathan balik bertanya.

“Ohh, beneran nggak kenapa-kenapa kan tapi?” Anya berusaha memastikan.

“Enggak, beneran deh. Kamu kenapa nelfon?” Nathan meyakinkan Anya lalu bertanya.

“Tadinya aku mau minta temenin beli dress buat prom night besok, aku nggak tau kalau kamu sakit. Tapi, ya udah deh nggak apa-apa. Aku bisa beli sendiri kok.” Terang Anya.

“Ohh gitu, ya udah maaf ya Nya. Seandainya aku nggak sakit pasti aku anter deh. Masalahnya sekarang kepalaku berat banget.” Kata Nathan merasa agak tidak enak.

“Iya, aku ngerti sayang. Ya udah kamu istirahat aja ya, tidur gih.” Suruh Anya lembut.

“Iya, iya. Bye. Love you.” Kata Nathan.

“Love you too,” jawab Anya.

Nathan mematikan sambungan telfonnya dan kembali berbaring di kasurnya. Pusing di kepalanya makin menjadi-jadi. Nathan bangkit lagi lalu duduk di pinggir tempat tidurnya memegangi kepalanya yang semakin terasa berat. Setetes darah jatuh dari hidungnya. Lagi-lagi mimisan itu menderanya.

Nathan mengambil beberapa lembar tisu di meja damping tempat tidurnya lalu mulai menahan napasnya untuk menghentikan aliran darah itu. Yang akhirnya setelah 3 menit lebih darah itu berhenti. Ia kembali merebahkan badannya di atas kasur kemudian tertidur.
*****

“Ma, aku ke mall ya.” Kata Anya meminta izin pada Mamanya yang sedang menonton TV.

“Mau ngapain sayang? Sama siapa?” tanya Mamanya lembut.

“Beli dress buat prom night besok. Sendirian. Nathan nggak bisa nganter soalnya lagi sakit.” Jawab Anya jujur.

“Sakit apa? Kok kamu nggak nemenin Nathan?” Mama Anya terlihat khawatir.

“Sakit biasa kok. Katanya cuma nggak enak badan.” Jawab Anya mengatakan persis seperti apa yang Nathan katakan tadi.

“Ohh gitu. Ya sudah sana, tapi hati-hati ya. Jangan pulang terlalu sore loh.” Mama Anya mengingatkan.

“Sip Ma, tenang aja.” Anya salim lalu melangkah keluar rumah. Berjalan menuju depan jalan raya untuk menunggu taksi.

Sejam menempuh perjalanan akhirnya Anya sampai di mall tersebut. Setelah membayar taksi dia melangkah masuk ke dalam dan menuju butik tempatnya berlangganan.

“Eh, Anya. Udah lama banget nggak kesini.” Sapa seorang wanita ramah yang jaraknya mungkin sekitar 8 tahun lebih tua dari Anya.

“Iya Kak, abisnya sekarang udah jarang pergi ke acara yang butuh pakai gaun nih.” Jawab Anya sambil tersenyum.

“Udah berapa tahun kamu nggak kesini?” Wanita itu mencoba mengingat-ingat.

“3 tahun.” Jawab Anya sambil tertawa meringis.

“Ckck, dasar ya. Lama banget loh itu.” Wanita itu menggelengkan kepalanya. Anya hanya kembali meringis sambil menggaruk belakang lehernya.

“Kesini sendiri?” tanya wanita itu.

“Iya Kak,” jawab Anya menganggukkan kepalanya.

“Rio kemana emangnya?” tanya wanita itu lagi.

“Udah putus lama banget Kak. Udah dua tahun lebih.” Jawab Anya sambil tersenyum pedih.

“Loh, kenapa sayang?” Wanita itu menatap Anya simpati.

“Long distance, susah Kak.” Jawab Anya singkat.

“Aku tau, aku juga pernah ngalamin hal yang sama. Tapi kalian berdua itu bener-bener keliatan cocok. Entah kenapa aku malah sedih denger kalian berdua putus.” Kata wanita itu tulus.

“Jangan sedih dong Kak Weni, nanti aku sedih lagi.” Balas Anya dengan tawa renyah.

Wanita itu tersenyum mendengar jawaban Anya, lalu bertanya, “Kamu mau cari dress apa nih?”

“Nggak tau Kak, bingung. Bantu pilihin ya, buat acara prom night nih.” Jawab Anya bingung.

“Oke, kayaknya aku tau.” Jawab Kak Weni lalu berjalan menuju tempat beberapaa dress digantung. Anya mengekor di belakangnya.

Sambil memilihkan dress yang tepat untuk Anya, Kak Weni bertanya lagi, “Trus sekarang pacar kamu siapa Nya?”

“Ada lah, temen sekolah. Udah setahun lebih aku.” Jawab Anya jujur.

“Kok nggak diajak kesini?” tanya Kak Weni lagi.

“Dia lagi sakit Kak, nggak enak badan katanya.” Jawab Anya.

“Oalah, semoga cepet sembuh ya.” Kata Kak Weni perhatian. Anya hanya mengangguk dan tersenyum.

Akhirnya pilihannya jatuh pada sebuah dress mini warna abu-abu dengan bahan sutera. Modelnya elegan dan tidak terlalu ramai. Anya mencoba dress itu, lalu mematut dirinya di depan cermin.

Setelah membayar Anya tidak langsung pulang, malah mengobrol dulu dengan Kak Wina penjaga toko itu. Mereka sampai lupa waktu. Lalu akhirnya ketika Anya melirik jam tangannya, sudah pukul 4 sore. Anya ingat pesan Mamanya tadi untuk pulang tidak terlalu sore. Jadi ia bergegas pulang.

Saat keluar mall, Anya harus menyebrangi jalan dulu untuk menunggu taksi arah pulang. Dengan tergesa ia berjalan menuju zebra cross, dan akhirnya menyebrang. Tapi, tiba-tiba ada sebuah mobil yang melaju kencang dari kanan Anya menyambar dirinya. Anya terjatuh bersimbah darah dan ia tidak sadarkan diri. Mobil yang tadi menabrak Anya berhenti dan bertanggung jawab membawanya ke rumah sakit.
*****

“Ma, Mama dimana Ma?” Anya berteriak lirih saat tersadar.

“Ini Mama sayang, ini Mama.” Kata Mama Anya dengan suara serak habis menangis.

“Ma, kenapa semuanya gelap Ma? Ma, aku dimana? Ma, gelap Ma.” Anya menangis tidak bisa melihat apapun.

“Sabar sayang, sabar. Ini mungkin cobaan buat kamu. Dan teguran untuk Mama. Sabar sayang.” Mama Anya menenangkan sambil menangis.

“Ma, aku kenapa Ma? Mama! Aku kenapa?” Anya berteriak-teriak sambil menangis histeris. Mama Anya tidak menjawab karena tidak kuasa menahan tangisnya.

“Anya, kamu harus kuat. Bersyukur kamu masih bisa selamat dari kecelakaan itu Nya.” Suara Bang Eza berusaha menenangkan Anya.

“Aku nggak bisa ngeliat Bang, aku kenapa? Bang Eza jawab aku, aku kenapa?” Anya masih berteriak-teriak histeris.

“Kamu mengalami kebutaan karena kecelakaan kemarin.” Jawab Bang Eza pelan.

Anya berteriak histeris. Menangis. Meronta-ronta. Dalam hatinya tersimpan kekecewaan yang sangat dalam. Ia hancur. Kehilangan semua harapannya. Semua mimpinya kini ia sadari tidak mungkin lagi bisa indah. Mulai saat ini ia tidak bisa lagi menikmati cahaya bulan dan bintang yang menyirami malam yang dingin. Mulai saat ini ia tidak lagi bisa menatap indahnya matahari pagi. Mulai saat ini ia sadar ia tidak bisa lagi memandangi hujan menunggu reda dan muncul pelangi untuk dikagumi. Ia sadar mulai saat ini ia tidak akan pernah bisa lagi melakukan hobi favoritnya yaitu membaca. Mulai saat ini ia sadar, ia tidak akan pernah bisa lagi menatap wajah Mama, Papa, Bang Eza, Nathan, Cecil, Randy, dan terutama yang paling ia rindukan yaitu, Rio. Ia tau semuanya tidak akan pernah sama lagi.

Bang Eza memeluk Anya erat. Berusaha menenangkan adik kesayangannya. Menjaganya tetap berada di tempat tidurnya agar tidak jatuh karena meronta-ronta.

“Nya, semuanya akan baik-baik aja. Aku janji, semuanya akan berjalan dengan sebagaimana mestinya. Dan kamu nggak perlu khawatir Nya, ada Abang disini yang akan selalu jaga kamu.” Kata Bang Eza lembut. Anya hanya tersedu dalam tangisannya. Matanya yang masih di perban menghalau jatuhnya air mata.

“Banyak yang sayang sama kamu, banyak Nya. Kamu nggak perlu takut, saat kamu sulit melihat karena gelap. Kami semua, orang yang sayang sama kamu akan dengan setia membantumu memahami apa yang ada tanpa perlu melihat.” Lanjut Bang Eza lagi.

“Dan Abang janji Nya, kebutaan kamu nggak akan bersifat permanen. Saat ada mata yang cocok untuk kamu, kita akan operasi cangkok mata, dan kamu akan bisa melihat lagi. Abang janji.” Bang Eza memeluk Anya makin erat karena tangisan gadis itu bukan berhenti malah semakin menjadi-jadi.

“Kenapa aku harus selamat Bang? Kenapa? Kenapa aku nggak mati aja? Kenapa aku malah dibiarin hidup dengan kecacatan gini Bang? Kenapa Tuhan nggak adil sama aku? Apa salahku?” Anya menangis kencang sambil meratapi nasibnya.

“Ini takdir Nya. Kamu harusnya bersyukur masih diberikan kesempatan hidup. Mata bukan segala-galanya Nya. Yang terpentin itu hati kamu.” Jawab Bang Eza bijak.

Anya tidak menjawab karena kembali menangis kencang meratapi kisahnya saat ini. Marah pada Tuhan dan dirinya sendiri. Malu kepada orang-orang yang mengenalnya dan nanti mereka melihatnya seperti ini. Buta.
Anya bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana kecewanya Nathan saat mengetahui ia kini kehilangan penglihatannya. Apakah dia akan siap menerima seorang gadis cacat yang baru saja kehilangan mimpinya? Anya terus terbayang-bayang oleh rasa takut akan keadaannya sekarang. Akan kenyataan yang harus ia hadapi.
*****

“Nya,” Nathan menyentuh pelan bahu gadis itu dari belakang yang sedang duduk menghadap jendela rumah sakit. Anya diam tidak menjawab.

“Maafin aku,” lanjut Nathan dengan sedikit terisak.

Anya masih terus diam, tidak menjawab apapun.

“Ini semua salahku Nya.” Nathan mulai menyalahkan dirinya.

“Seharusnya kamu nggak akan kayak gini kalau aku bisa jaga kamu. Seharusnya kamu nggak akan sampai seperti ini kalau hari itu aku bisa anter kamu. Kalau kamu mau marah, marah aja Nya sama aku. Jangan sama Tuhan, apa lagi marah sama diri kamu sendiri. Hukum saja aku Nya, hukum.” Nathan kehilangan kendalinya atas tangisan yang berusaha ia tahan.

“Kamu nggak salah.” Akhirnya Anya membuka suara meskipun pelan.

“Tapi seandainya aja hari itu aku...”

Anya mendesis, memotong kalimat Nathan, “Ssssttt, jangan buat penyesalanku tambah besar. Aku yang salah.”

“Bukan, itu aku.” Bantah Nathan cepat sambil berlutut dihadapan Anya yang sedang duduk kemudian menggenggam erat tangannya.

“Bukan, kamu nggak ada disana saat kejadian. Jadi kamu nggak bisa disalahkan. Yang sepenuhnya salah adalah aku. Sepertinya Tuhan membenciku.” Kata Anya dengan seulas senyum pedih.

“Kamu nggak boleh ngomong gitu Anya, nggak boleh.” Nathan berusaha mengingatkan.

“Tapi begini keadaannya sekarang.” Jawab Anya ketus.

“Nya, masih ada aku. Aku janji dunia kamu nggak akan selalu gelap meskipun kamu sulit untuk bisa melihat cahaya lagi. Aku janji aku akan meneranginya Nya, bahkan membuatnya berwarna.” Bujuk Nathan lembut.

“Bagaimana bisa duniaku terang padahal bintang yang selalu kutatap dan ku mimpi-mimpikan untuk kugapai sudah tidak bisa lagi aku lihat? Aku hancur Than, harapanku musnah, mimpiku pupus, aku tidak akan pernah bisa menjadi penulis sekarang. Lihat? Lihat mata aku pakai mata kamu sekarang! Apa ada cahaya lagi disana? Apa masih ada pendar yang bernama kehidupan disana? Ada? Apa ada? Nggak Than! Hidupku sudah berakhir.” Anya menunjuk matanya yang kosong dan hampa tidak lagi menunjukkan pergerakan bahwa mata itu masih berfungsi.

Nathan hanya tertunduk menangis di pangkuan Anya, setetes demi tetes air matanya jatuh membasahi tangan Anya.

“Untuk apa kamu nangis? Karena malu memiliki pacar buta seperti aku atau apa? Atau karena kamu sudah mulai merasa menyesal memilihku sebagai pacar karena ternyata sekarang aku tidak sesempurna dulu?” Anya mulai berkata kasar.

“Bukan Nya, bukan. Aku nggak akan pernah malu dengan seperti apapun keadaan kamu. Kamu selalu sempurna di mataku. Apa lagi untuk penyesalan, rasa itu 100% tidak akan pernah ada karena aku mencintai kamu dari mata hati kamu, bukan mata yang sekarang tidak bisa lagi membantumu melihat wajahku.” Jawab Nathan lembut, berusaha sabar menghadapi Anya.

“Aku janji, akan menjaga dan mencintaimu sampai napasku habis dan tidak dapat berhembus lagi.” Lanjut Nathan mantap mengatakan janjinya.

Anya diam tidak menjawab apapun. Rasa di dadanya sudah cukup sesak. Kalau ia berbicara maka air matanya bisa dipastikan akan terjatuh dan ia akan menangis lagi. Dan ia merasa sudah cukup menangis selama ini. Dan setiap menangis atau mengeluarkan air mata justru membuat mata Anya bertambah perih.

“Aku sayang kamu Nya,” Nathan membelai lembut wajah Anya lalu mencium keningnya. Anya tetap diam tidak merespon apapun.

Wake me up inside, call my name and save me from the dark
Bid my blood to run before I come undown, save me from the nothing I’ve become
(Bring Me To Life – Evanescence)

“Aku hancur, aku hilang, aku mati. Jika dapat kamu melihatnya, jiwaku telah kosong. Mata adalah pintu dari semua jiwa-jiwa. Jika mata itu tidak bisa lagi memancarkan sinarnya apakah aku masih bisa disebut hidup? Ya, aku kehilangan hidupku. Atau mungkin jiwaku hanya tertidur jauh di kedalaman diriku, tolong bangunkan, sebut namaku dan selamatkan aku dari kegelapan ini. Buat aku kembali merasa hidup sebelum aku terjatuh semakin dalam. Selamatkan aku dari kehampaan yang datang membunuhku.”
*****

 Yak, jadi gimana nih?
Memuaskan apa jadi ngebosenin ceritanya?
Ya udah semua tergantung sama kalian aja deh pokoknya.
Tapi gue amat sangat menghargai feedback/kritikan dari kalian. Sumpah gue bakalan baca bahkan bakal gue bales kalau ada yang mau kasih kritikan.
Nah, kalau mau ngirim kritik boleh ke twitter atau line gue langsung juga boleh. Username line sama twitter gue sama, @rabbaniRHI
Atau kalau mau ke email juga boleh di rabbanihaddawi@yahoo.com atau di rabbanirhi@yahoo.com
Yang cuma mau sekedar curhat juga boleh. Siapa tau ceritanya bakal jadi inspirasi gue buat bikin cerita kan? Hehehe....
Oke deh sekian dulu deh ya, readers yang udah amat sangat baik mau meluangkan waktunya buat baca cerita-cerita amatir di blog gue ini.
See you next post!

0 komentar:

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos