Saturday, September 28, 2013

Cerbung - Will It Be Us Part 19

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 13:29
Reaksi: 
Hilang
Cahaya berpendar yang selalu memesonaku menghilang
Ditelan awan kelabu gelap
Karena sang bintang tak lagi mampu menemaninya bercahaya
Malamku gelap tanpa pendarnya
Aku sendiri mendongak menatap langit menantinya muncul
Namun sampai detik ini ia tak tampak juga
Aku merindukannya yang dulu
Yang selalu memendarkan cahaya keemasan penerang malam-malamku yang gelap
Jika hanya sang bintang yang mampu mengembalikan pendarnya
Aku rela jika harus melihat mereka berdampingan lagi
Meski menyayat hatiku

Anya mengernyitkan keningnya membaca puisi dalam surat yang ia temukan di laci mejanya pagi itu. Sama seperti beberapa bulan lalu. Anya menunjukkannya pada Nathan lagi, Nathan hanya mengedikkan bahunya. Anya makin penasaran dengan sosok yang ada dibalik dua puisi manis itu.
*****


Setelah kenaikan kelas X, Anya harus berpisah dengan Cecil, Nathan, dan Randy. Mereka memasuki kelas yang berbeda. Anya, dan Nathan berhasil masuk jurusan IPA tapi tidak sekelas, sedangkan Cecil dan Randy masuk kelas IPS dan juga sama-sama tidak sekelas.

Meskipun begitu mereka berempat masih sering main dan kumpul bareng untuk mengobrol dan bercanda. Apalagi Anya dan Cecil yang sudah lengket banget dan tidak bisa dipisahkan. Setiap jam istirahat mereka kumpul berempat di kantin. Nathan juga masih selalu mengantar jemput Anya ke sekolah.

Taukah kamu bahwa aku selalu merindukan senyumanmu?
Sadarkah kamu bahwa kamulah yang aku pikirkan terakhir kali sebelum tidur
Dan kamu selalu membuka pagiku dengan ingatan tentang senyuman indahmu

Lagi, Anya menemukan sebuah surat dengan puisi tanpa nama pengirimnya seperti beberapa kali yang lalu.
Anya hanya tersenyum lalu mengantongi amplop kecil dengan warna pink yang mirip seperti sebelum-sebelumnya.

Saat jam istirahat Anya menghampiri teman-temannya yang sudah duluan berada di kantin.

“Hai,” sapa Anya pada tiga sahabatnya itu.

Mereka bertiga membalas sapaan Anya bersamaan. Lalu Nathan menggeser duduknya memberikan tempat untuk Anya duduki.

“Eh, tau gak?” kata Anya antusias.

“Apa?” mereka bertiga bertanya penasaran.

“Gue dapet surat lagi nih, puisi lagi. Tapi masih belum ada nama pengirimnya juga.” Kata Anya memberi tau sambil mengeluarkan amplop pink kecil dari sakunya.

“Hah? Coba sini liat.” Kata Cecil tertarik untuk melihat isinya. Sedangkan Nathan dan Randy terlihat biasa saja, justru saling berpandangan.

“Anya, gue nggak tau siapa orang ini. Tapi yang jelas dia pasti sayang banget sama lo, dan kayaknya lo nggak akan nyesel kalau sampe jadian sama orang ini. Dia sweet banget.” Lanjut Cecil setelah membaca isi surat itu.

“Yah, gimana mau jadian. Tau orangnya aja enggak.” Jawab Anya sambil geleng-geleng kepala.

“Umm, gimana ya? Iya juga sih.” Cecil menggumam bingung. “Eh, lo berdua bantuin mikir dong!” lanjut Cecil kepada Nathan dan Randy yang diam saja tanpa ikut tertarik.

“Hah? Iya, apaan ya? Umm, iya Nya orang itu pasti romantis.” Kata Nathan kaget dibentak Cecil.

“Nah, trus gimana biar Anya kenal sama orang yang suka ngirimin ini?” tanya Cecil sambil mengangkat amplop itu di depan mata Nathan.

“Secara gitu kan Anya single dan dalam rangka move on, siapa tau cowok ini bisa bikin Anya move on beneran.” Lanjut Cecil sambil memajukan duduknya lalu mencolek dagu Anya.

“Ya paling cuma bisa nunggu aja sampe cowok itu berani ngaku sama Anya.” jawab Randy sambil menatap Nathan yang duduk di depannya.

“Yah nunggu kayak gitu kelamaan. Kalau cowok itu akhirnya ngaku, kalau ternyata dia terlalu pemalu dan nggak ngaku-ngaku gimana hayo?” Cecil menyangkal pendapat Randy.

“Ya berarti cowok itu nggak serius sayang sama Anya. Kalau sayang nggak mungkin ngerelain perasaannya cuma karena malu.” Sanggah Randy lalu melempar tatapan penuh arti kepada Nathan yang sedang mengaduk-ngaduk jus jeruknya.

“Iya sih, bener juga. Ya udah Nya, sabar aja.” Kata Cecil akhirnya setuju.

“Eh, tapi bentar deh, gue belum denger pendapatnya Nathan. Lo mungkin punya ide bagus Than?” lanjut Cecil menoleh ke arah Nathan.

“Sama aja kayak Randy.” Jawab Nathan singkat.

“Tumben nggak kreatif, lo kan paling pinter diantara kita berempat.” Kata Cecil memancing Nathan untuk berpartisipasi.

“Gue kan belum perah pacaran, jadi nggak tau.” Jawab Nathan kalem.

“Belajar mulu sih ya, beda orang pinter mah.” Cecil menggeleng-gelengkan kepalanya. Nathan tidak menjawab hanya menyedot lagi jus jeruknya yang masih tersisa separuh itu sampai habis.

Bel masuk menyudahi percakapan mereka. Lalu mereka pergi ke kelas masing-masing dan berpisah di tangga lantai 2.
 *****

 “Nya, mau nemenin gue dulu nggak?” tanya Nathan saat akan pulang sekolah.

“Kemana?” tanya Anya penasaran.

“Ke taman.” Jawab Nathan.

“Mau ngapain emangnya disana?” Anya mengernyitkan dahinya bingung.

“Ada yang mau gue omongin. Dan cuma bisa disana, bukan disini.” Jawab Nathan gelisah.

Akhirnya Anya menurut dan naik ke motor Nathan mengikuti kemauan laki-laki itu.

Mereka sampai di taman yang Nathan maksud. Taman yang berada tidak jauh dari rumah Rio dulu. Taman yang menjadi tempat terakhir kenangan Anya dan Rio ketika masih bersama di Indonesia. Taman yang menjadi saksi beratnya cinta Anya untuk Rio. Taman yang menjadi bukti bahwa dahulu, rasa cinta itu pernah ada dan mengisi seluruh taman ini hingga taman ini terasa penuh dengan luapan rasa cinta dari Rio untuk Anya. Anya tak pernah tau apa rasa cinta itu masih ada atau tidak, yang ia tau setiap malam sebelum tidurnya, ia masih sempat menitikkan air mata karena terperangkap dalam kepekatan rindu yang menyayat hati. Ia tidak tau apa yang Rio saat ini rasakan, bahkan ia tidak pernah tau apa laki-laki itu sudah memiliki penggantinya atau belum setelah tiga perempat tahun mereka putus. Hanya sedikit yang Anya ketahui tentang Rio sekarang, hanya lewat twitter, itu pun sedikit. Selebihnya, mereka tidak pernah lagi berkomunikasi melalui skype, sms, ataupun telfon. Hanya sekali Anya mendapat sms dari Rio, yaitu ketika ulang tahunnya kemarin. Hanya ucapan selamat, tidak lebih. Dan Anya membalas dengan mengucapkan terima kasih, tapi setelah itu si pemberi ucapan itu tidak membalas lagi. Setetes air mata jatuh di mata Anya teringat betapa ia merindukan laki-laki itu. Tapi ia buru-buru menghapusnya sebelum Nathan melihatnya.

Nathan berjalan menuju kursi panjang taman yang terletak di atas sebuah tanah yang membukit di sekeliling air mancur. Anya mengekor di belakangnya lalu ikut duduk bersama Nathan di kursi panjang itu.

Anya diam, memandang air mancur yang agak jauh di bawahnya, mengingat lilin-lilin yang terangkai membentuk 3 kata yang paling Anya rindukan dari Rio. Bedanya kali ini rangkaian itu tidak ada, dan di sekeliling banyak orang yang sedang bermain atau duduk-duduk bersantai.
Ia sama sekali tidak berniat membuka percakapan. Bahkan rasanya ia pun terlalu malas membuka mulutnya jika Nathan mengajaknya berbicara. Ia terlalu terlarut pada suasana taman ini.

“Anya,” kata Nathan membuka percakapan. Anya hanya menoleh menatap Nathan tanpa menjawabnya.

“Gue mau ngomong.” Lanjut Nathan pelan. Anya masih diam tidak menjawab sambil tetap menatap Nathan dan mengernyitkan dahinya pertanda ia menunggu kalimat selanjutnya.

“Tapi please jangan marah.” Nathan menghela napas panjang. Anya makin bingung dan mengangguk untuk meyakinkan Nathan.

“Tapi gue takut kalau ngomong kayak gini kita nggak bisa temenan kayak dulu lagi. Takut lo malah jadi benci gue.” Nathan berkata tergesa-gesa karena gelisah.

Anya menatap Nathan tidak mengerti lalu berkata, “Emang ada apa sih? Kok sampe takut gue jadi benci sama lo? Kalau ada yang lo sembunyiin dan itu nggak ngenakin buat gue bilang aja, nggak apa-apa kok. Gue pasti bisa maafin lo, lo temen gue yang paling baik selama ini Than, nggak mungkin gue bisa benci sama lo.”
Nathan menghela napas panjang, lalu mengatur napasnya agar sedikit lebih tenang. Kemudian tiba-tiba ia berkata, “Gue suka sama lo.”

Anya mengernyitkan dahinya sambil menatap Nathan bingung, ia hanya diam bingung harus menjawab apa pernyataan dari sahabatnya itu. Jadi ia hanya menunggu kalimat Nathan yang selanjutnya.

“Gue tau ini tuh agak gimana gitu, karena gue udah ada di friend zone buat list lo kan? Tapi serius deh, gue sayang banget sama lo. Gue beneran suka sama lo Nya.” Lanjut Nathan lalu menggenggam tangan Anya.

“Dari kapan?” tanya Anya dengan santai.

“Inget nggak gue pernah cerita kalau gue pernah sekali suka sama cewek, tapi nggak berani nembak trus akhirnya cewek itu keburu jadian sama cowok lain? Itu lo Nya maksud gue. Gue mulai suka sama lo pas kita kelas 7. Setiap kali lo ke toko gue, gue nggak pernah bisa berenti curi-curi pandang ke arah lo.” Jawab Nathan menghela napas sambil mengingat-ingat kejadian dulu.

“Trus?” Anya menaikkan sebelah alisnya.

“Gue juga orang yang selama ini sebenernya ngirimin puisi-puisi itu.” Jawab Nathan sambil menunduk. Anya menatap lama Nathan yang sedang menunduk itu, lalu tetap menatapnya saat Nathan menoleh ke arahnya. Mereka bertatap-tatapan lama.

“Udah gitu doang?” tanya Anya memecah keheningan diantara mereka berdua.

“Ya sebenernya sih gue pengen tau perasaan lo sama gue itu gimana Nya?” kata Nathan menatap Anya sambil meremas tangan gadis itu.

Anya sempat tertegun beberapa saat. Ia bingung harus menjawab apa pertanyaan itu. Ia melepaskan pegangan tangan Nathan dan duduk lurus menatap ke depan dengan pandangan jauh. Sepertinya jiwanya pergi jauh ke tempat lain meninggalkan raganya di taman itu. Tapi, Anya hanya sedang berpikir keras. Ia pun sebenarnya tidak tau apa yang ia rasakan terhadap Nathan. Satu yang ia tau, dia sangat menyayangi Nathan, dia nyaman berada di dekatnya, dia takut kehilangan Nathan, akan tetapi ia tidak pernah tau rasa sayang jenis apa yang ada di hatinya untuk Nathan ini. Dia tidak tau apa sayang di hatinya ini sama seperti rasa sayangnya untuk Rio dulu.

“Gue nggak tau perasaan gue sama lo gimana,” jawab Anya sambil menelan ludah. Nathan menatap Anya 
merasa agak kecewa.

“Tapi yang jelas gue nyaman ada di deket lo, gue takut kehilangan lo, gue pengen ada di deket lo terus karena ada sesuatu dari cara lo, atau sesuatu dari bahasa tubuh lo yang bisa nenangin gue. Gue nggak tau itu apa, tapi rasa itu selalu bisa bikin gue damai. Gue sayang sama lo Than, tapi gue nggak tau perasaan itu lebih condong ke arah mana, entah karena lo sahabat gue atau lebih dari itu.” Lanjut Anya lalu menoleh ke arah Nathan.

Nathan terdiam, berusaha mencari kata yang tepat untuk membalas kalimat Anya.

“Apa lo nggak pengen tau rasa itu lebih atau enggak?” tanya Nathan menatap Anya lekat-lekat. Anya diam lalu membuang pandangannya dari Nathan. Berpikir jawaban yang terbaik agar tidak ia sesali suatu saat nanti, akhirnya dia hanya mengangguk kaku.

“Kenapa kita nggak jadian aja? Supaya lo sendiri tau perasaan lo gimana. Kalau akhirnya lo ngerasa perasaan itu nggak lebih karena gue sahabat lo, ya udah, kita bisa ulang semuanya dari awal lagi.” Usul Nathan agak mengagetkan Anya, membuat Anya menoleh menatapnya dengan pandangan kaget.

“Tapi kalau nggak mau juga nggak apa-apa.” Lanjut Nathan karena panik, takut salah berkata-kata setelah melihat ekspresi kaget Anya. Anya tidak menjawab lama, hanya diam, melamun. Akhirnya merasa berada dalam kondisi canggung seperti itu, Nathan memutuskan untuk mengajak Anya pulang. Anya menurut, dan Nathan mengantarnya pulang. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam tanpa mengatakan sedikit katapun. Hingga mereka tiba di depan rumah Anya.

“Than, nggak ada salahnya dicoba.” Kata Anya saat turun dari motor.

Nathan membuka helmnya, lalu bertanya untuk mempertegas perkataan Anya yang ia sendiri sudah mengetahui maksudnya, “Maksudnya?”

“Nggak ada salahnya gue coba mulai belajar mencintai orang lain. Dan gue rasa, lo orang yang tepat.” Jawab Anya dengan senyuman di bibirnya.

Nathan tertegun menatap Anya lalu senyumnya mengembang dan ia mengambil tangan kanan Anya lalu mengenggamnya erat sambil berkata, “Makasih, aku janji akan sabar mengajari kamu untuk mencintaiku, sampai kamu bisa melakukannya sendiri tanpa perlu aku ajari lagi.”

Anya membalas senyum Nathan dan meremas tangan yang mengenggam erat tangannya itu sambil berkata, “Aku masuk ya, sampe ketemu besok.” Lalu berjalan melewati pagar rumahnya meninggalkan Nathan yang masih tersenyum senang di depan rumah Anya.

“Ini mimpi? Benarkah aku telah benar-benar menjadi pilihan hatinya? Benarkah itu aku yang beruntung mendapatkannya? Tuhan, terima kasih. Kau berikan anugrah terindah dalam hidupku sebelum aku mati.”

Nathan melajukan sepeda motornya menuju rumahnya dengan hati berbunga-bunga dan senyum yang tak pernah bisa ia hilangkan dari wajahnya.
*****

 “Cie, yang jadian mah beda deh. Congrats ya, longlast deh kalian berdua.” Kata Cecil memberikan selamat kepada dua sahabatnya itu saat mereka kumpul di kantin seperti biasa.

“Traktirannya mana nih?” tagih Randy kepada Anya dan Nathan yang kemudian saling bertukar pandang.

“Nanti ya pulang sekolah, traktir nonton aja gimana?” tawar Nathan.

“Boleh banget!” Cecil dan Randy menjawab bersamaan.

“Tapi nggak usah ajak Kak Sean ah, berempat aja.” Kata Anya tertawa kecil.

“Iya, iya.” Jawab Cecil menurut.

Selalu seperti biasa mereka saling bercanda dan saling bercerita hal-hal lucu. Nathan lebih ceria dari biasanya sekarang. Ia banyak menimpali cerita-cerita temannya dengan komentar yang lucu. Bel masuk kelas yang akhirnya selalu membuat mereka menghentikan candaan mereka lagi. Nathan mengantar Anya ke kelasnya, lalu baru dia melangkah menuju kelasnya sendiri.

“Nonton apa nih?” tanya Nathan saat di depan loket bioskop.

“Terserah,” jawab Anya dan diikuti kedikkan bahu Cecil dan Randy.

Akhirnya mereka memilih menonton film bergenre horror, dengan Daniel Radcliffe sebagai pemeran utamanya. Woman In Black. Awalnya Anya takut untuk memilih film itu, tapi karena kebetulan aktor tampan idolanya dari kecil yaitu Daniel Radcliffe yang berperan sebagai pemeran utama, Anya memberanikan diri.

“Nya,” panggil Nathan ketika Anya sedang serius menonton. Anya hanya menjawab dengan gumaman lalu menoleh ke arah Nathan yang sedang menatapnya.

“Aku boleh tanya?” tanya Nathan pelan.

“Boleh,” jawab Anya dengan wajah penasaran.

“Tapi jangan tersinggung.” Kata Nathan hati-hati.

“Iya, emangnya mau nanya apa sayang?” Anya bertanya penasaran.

“Kamu masih ada perasaan sama mantan kamu itu nggak sih? Abis kadang kamu masih kayak suka sedih 
gitu.” Tanya Nathan pelan.

Anya diam tidak menjawab, lalu menegakkan duduknya. Ia menatap lurus ke depan, bukan melihat layar, tapi jauh menembus layar bioskop.

“Aku nggak tau,” jawab Anya sambil menghela napas kecil.

“Kenapa?” tanya Nathan agak kecewa.

“Tiga tahun bukan waktu yang singkat untuk melupakan semuanya Than, butuh proses yang panjang. Aku harap kamu bisa ngerti.” Jawab Anya.

“Dan aku juga berharap kamu bisa merubah itu dengan sabar menghadapi dan mencintai aku.” Lanjut Anya lalu menoleh menatap Nathan yang sedang memandangnya.

Nathan diam, mencari kalimat untuk ia ucapkan tanpa menyakiti perasaan Anya, “Aku akan berusaha. Hingga akhir dari napasku aku janji akan berusaha.”

Tiba-tiba sesuatu keluar dari hidung Nathan, Anya yang melihatnya. Namun karena kondisi bioskop yang gelap ia tidak bisa memastikan apa itu. Lalu ia mengambil tisu dari dalam tasnya dan mengelap hidup Nathan yang sama sekali tidak sadar ada cairan yang keluar perlahan dari hidungnya. Anya baru menyadari itu adalah darah saat melihat tisunya menjadi berubah warna tidak lagi putih. Dengan panik ia bertanya pada Nathan dalam suara pelan, “Kamu kenapa?”

“Enggak apa-apa, aku ke toilet dulu.” Jawab Nathan lalu bangkit dari kursinya dan keluar dari studio itu. Randy dan Cecil hanya menatap bingung, sedangkan Anya berusaha menyusulnya.

Anya berada di luar toilet menunggu Nathan keluar. Ia mondar-mandir karena cemas dengan keadaan laki-laki itu. Ini pertama kalinya ia melihat seseorang mimisan.

“Nathan kamu nggak apa-apa?” tanya Anya begitu Nathan keluar dari toilet.

“Nggak apa-apa kok.” Jawabnya tenang. Terlihat di baju seragamnya ada sedikit noda bekas darah.

“Yakin?” tanya Anya menyentuh dahi laki-laki itu untuk memastikan ia tidak apa-apa. Dan Anya merasakan dahi Nathan benar-benar dingin.

“Kamu dingin banget. Pulang aja deh. Motor kamu biar aku aja yang bawa, kamu bareng sama Randy, aku bareng Cecil. Kita anterin kamu pulang.” Kata Anya mengatur.

“Enggak usah, aku udah biasa kayak gitu. Beneran nggak apa-apa. Ya udah ayo pulang, tapi aku masih bisa bawa motor sendiri kok. Istirahat sebentar juga aku sembuh.” Kata Nathan tidak ingin membuat Anya makin khawatir.

“Tapi aku nggak mau ambil resiko kamu kenapa-kenapa Than.” Jawab Anya dengan wajah serius.

“Beneran nggak apa-apa, lagian rumah kamu sama rumah aku kan deket Nya,” kata Nathan berusaha meyakinkan. Akhirnya Anya percaya walaupun masih khawatir, dan mereka pulang. Selama di jalan memang Nathan tidak menunjukkan gejala-gejala membahayakan. Akhirnya ketika sampai rumah Anya melambaikan tangannya dan membiarkan Nathan pulang dengan motornya. 10 menit kemudian ia menelefonnya untuk memastikan Nathan baik-baik saja.

“Halo,” sapa suara Nathan berat.

“Kamu udah sampe rumah?” tanya Anya perhatian.

“Udah kok, dari tadi malah.” Jawab Nathan dengan suara riang.

“Syukur deh, kamu masih pusing?” tanya Anya tidak enak.

“Sedikit,” jawab Nathan jujur.

“Emang kamu biasa ya mimisan kayak gitu?” tanya Anya ragu.

“Iya,” jawab Nathan singkat.

“Udah cek ke dokter?” tanya Anya.

“Udah.” Nathan menjawab singkat lagi.

“Katanya apa?” jantung Anya berdegup keras saat bertanya seperti ini.

“Enggak apa-apa.” Jawab Nathan berbohong.

“Aku tau kamu bohong, kamu sakit apa sih Than sebenernya?” tanya Anya penasaran.

“Sehat-sehat aja kok.” Nathan berusaha membela dirinya.

 “Trus itu suka mimisan kenapa?” tanya Anya memancing.

“Udah dari sananya kali Nya,” jawab Nathan asal.

“Ah, ya udahlah kalau nggak mau ngasih tau nggak apa-apa.” Anya mendesah kesal.

“Bukannya gitu tau,” Nathan berusaha menyangkal.

“Terus? Oh iya, kamu mimisan gitu bukan gara-gara aku ngomong tadi kan?” tanya Anya khawatir.

“Ngomong apa?” tanya Nathan lupa.

“Yang mantan itu loh,” jawab Anya mengingatkan.


“Oh, bukanlah. Masa gara-gara itu doang.” Jawab Nathan.

“Syukur deh, ya udah kamu istirahat ya, jangan lupa makan sayang.”

“Iya, makasih ya sayang.” Jawab Nathan, Lalu mematikan handphonenya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur menghadap langit-langit kamarnya, kemudian ia terlelap.
 *****

Anya menatap keluar jendela kamarnya yang sedang basah oleh terpaan hujan yang sangat deras. Entah kenapa hujan selalu membawanya kembali ke masa lalu, dan memaksanya untuk mengingat lagi apa yang pernah ada dulu. Padahal ini sudah berlalu cukup lama sejak kejadian itu, sudah lebih dari setahun. Hubungannya dengan Nathan juga sudah menginjak 7 bulan.

“Salahkah aku karena masih mencintaimu?”

Setetes air mata jatuh saat Anya melamun. Bayangan tentang masa lalunya menyergapnya dalam kegalauan yang pekat. Membuatnya sulit untuk bernafas karena sesak yang ditimbulkan oleh kepekatan itu. Ia berusaha membawa dirinya keluar dari segala kegundahan yang tengah dirasakannya. Berusaha tidak menyesali pilihannya dulu untuk berpisah dari orang itu. Berusaha untuk meyakinkan hatinya bahwa orang di masa lalu itu telah lebih bahagia tanpa dirinya sekarang.

Rindu. Itu yang Anya rasakan. Rasa yang membunuhnya perlahan seperti racun dalam rokok. Persis seperti racun itu, Anya hanya bisa menghirupnya dalam-dalam sambil menikmati rasa sesak yang ditimbulkan olehnya. Ia berjuang untuk tidak tersedu lagi seperti biasa. Berusaha untuk bersikap tenang. Namun, kehilangan komunikasi selama hampir setahun membuat Anya benar-benar merindukan sosok yang selalu berada disisinya itu dulu. Hampa, itu yang Anya rasakan sekarang. Hambar, menjalani hubungan dengan seseorang yang ia sendiri belum mengetahuinya ia mencintai orang itu atau tidak. Yang bahkan ia belum pernah merindukan orang itu seperti ia merindukan kekasihnya dimasa lalu.

Sedikit perasaan berdosa terbit di hati Anya, predikat pelampiasan terpampang jelas pada bayang-bayang pacarnya saat ini. Tapi bukan itu maksudnya memacari laki-laki itu. Tapi karena ia memang berusaha ingin mencintai laki-laki itu seperti laki-laki itu mencintainya. Semata-mata untuk membalas semua kebaikannya selama ini.

Ringtone If I were a boy dari Beyonce membuyarkan lamunan Anya, ia mengangkat telfon tersebut.

“Halo,” sapa Anya dengan suara agak serak.

“Halo, sayang lagi apa?” balas suara itu riang.

“Duduk aja, kenapa Than?” tanya Anya datar.

“Aku kangen, boleh kesana?” tanya Nathan.

“Baru kemaren ketemu di sekolah udah kangen lagi aja. Ya udah kesini aja, tapi kan lagi hujan.” Jawab Anya berusaha terdengar baik.

“Ya nanti kalau hujannya sudah berhenti lah,” balas Nathan.

“Oke deh,” kata Anya singkat.

“Sip, see you later.” Kata Nathan.

Klik! Anya hanya langsung mematikan sambungan telfon itu tanpa menjawab kalimat terakhir Nathan. Entah kenapa ia justru berharap Rio yang tadi menelfonnya, benar-benar berharap. Tapi Anya buru-buru berusaha menghapus perasaan itu.

Sejam kemudian hujan berhenti, meninggalkan jejak basah pada rumput, pohon, dedaunan yang mengeluarkan aroma yang sangat khas. Aroma yang sangat menyegarkan, selalu menjadi favorit Anya sehabis hujan. Anya menarik napasnya dalam-dalam berusaha menghirup wangi segar yang ditinggalkan hujan itu. Baginya aroma ini memiliki perelaksasi yang membawa ketenangan tersendiri.

Suara deru motor terdengar jelas ditelinga Anya, motor Nathan. Anya mendesah napas kecil, kesendirian yang sedang ia nikmati akan terganggu oleh kehadiran pria itu, yang tidak lain adalah pacarnya sendiri.

“Hai,” sapa Nathan sambil tersenyum.

Anya tidak menjawab, hanya tersenyum sambil mengangguk. Lalu Nathan duduk di kursi di sebelah Anya.

“Nya, mukanya kok bete gitu?” tanya Nathan polos.

“Nggak ah, biasa aja.” Jawab Anya berbohong.

“Yakin? Kok kayak gimana gitu mukanya pas aku dateng.” Kata Nathan meyakinkan.

“Gimana?” tanya Anya tanpa menatap Nathan.

“Dingin,” jawab Nathan seadanya.

“Mungkin faktor habis hujan.” Jawab Anya asal yang membuat Nathan meringis geli.

“Kamu bisa aja sih ngelawaknya?”

“Emang lucu?” tanya Anya jutek.

“Lucu, lucu banget. Apapun yang ada di kamu pokoknya aku akan bilang lucu.” Jawab Nathan sambil tersenyum.

“Oh ya?” Anya menjengit.

“Kenapa sih? Jutek banget.” Nathan makin menyadari sikap aneh Anya.

“Enggak,” jawab Anya cuek.

 “Bad mood?” tanya Nathan sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Anya.

“Sedikit.” Jawab Anya.

“Gara-gara aku?” tanya Nathan agak cemas.

“Bukan.” jawab Anya sambil mendesah kecil.

“Trus apa dong?” tanya Nathan masih penasaran.

“Bukan apa-apa. Main ular tangga yuk.” Ajak Anya untuk mencairkan suasana.

“Ayuk,” jawab Nathan semangat.

Anya berjalan menuju ruang keluarga diikuti Nathan yang Anya suruh menunggu disana, lalu mengambil board games di kamarnya. Suasana sedikit cair saat mereka bermain berdua. Tapi sebenarnya tidak bagi Anya, dia justru semakin merindukan sosok orang lain yang sangat ia rindukan dan nantikan, tetapi mustahil baginya untuk bisa menggapai orang itu karena mereka sudah terlalu jauh sekarang.

“12! Aku jalan lagi ya?” Nathan mengambil dadu itu dan mengocoknya di tangannya.

“Yes! 4. Finish! Game over, you lost.” Lanjut Nathan saat meluncurkan pionnya sambil tersenyum penuh kemenangan pada Anya.

“Yah, aku cuma ngalah aja buat kamu, biar kamu seneng.” Kata Anya dengan ekspresi cuek.

“Emm masa? Emang nyatanya aku lebih jago dari kamu tau, wee.” Kata Nathan sambil menjulurkan lidahnya keluar.

Anya hanya tertawa meringis melihatnya. Kemudian ia diam. Ingat bagaimana dulu permainan ini selalu menjadi favorit Anya saat bersama Rio.

“Benar, rasanya mencintai orang lain setelahmu memang tidak akan pernah sama rasanya. Aku berusaha membuatnya indah seperti denganmu dulu. Namun usahaku sia-sia, tetap menyiksa bagiku. Aku justru teringat bagaimana dulu kita bermain board games ini. Dan sekarang, aku merindukanmu.”

“Yah, 7. Turun deh, jalan tuh Nya.” Kata Rio sambil memberikan kedua dadu itu pada Anya.

Anya mengocok dadu itu lalu membuangnya di atas board games. “Yes, 5. I’m done. Sorry Rio, you’re loser.” Kata Anya sambil membalikkan jempolnya kebawah di hadapan Rio.

“Yee enak aja, itu aku ngalah doang tau sama kamu biar kamu seneng. Kan kalau kamu seneng aku ikutan seneng juga.” Kata Rio sambil tersenyum menggoda.

“Ih, gombal banget.” Kata Anya sambil tertawa.

“Tapi suka kan?” Rio mencolek dagu Anya menggoda.

“Apaan sih Rio ih enggak banget.” Kata Anya diiringi tawa mereka berdua.

Anya tersenyum kecil teringat masa yang sudah sangat lama itu. Mengetahui waktu tidak dapat ia putar dan kembalikan Anya merasakan ada yang perih di dadanya, seperti diiris. Tapi dengan cepat ia berusaha mengabaikan rasa itu dan duduk menyender pada bahu Nathan yang kini setengah mendekapnya.

“Nya, kamu tau nggak?” tanya Nathan sambil menoleh ke arah Anya yang sedang sibuk memainkan kukunya.

“Enggak, apa?” jawab Anya cepat.

“Aku sayang banget sama kamu.” Jawab Nathan lembut.

Anya terdiam, tidak mampu membalas pernyataan yang ia tau sangat diperlukan kalimat pembalasannya. Anya hanya mendesah kecil lalu berkata, “Nggak usah pake banget, biasa aja cukup. Segala sesuatu yang berlebihan tuh nggak baik.”

Nathan menaikkan sebelah alisnya menunduk ke arah gadis yang sedang menyender di bahunya tanpa menatapnya sedikitpun. Ia terhalang dengan rambut Anya untuk melihat ekspresinya saat mengatakan hal itu.

“Tapi itu yang aku rasakan.” Jawab Nathan pelan.

“Kalau begitu kurangi,” jawab Anya santai.

Nathan tertegun dengan jawaban yang semudah itu Anya ucapkan. “Kenapa?” tanya Nathan lirih.

“Nggak kenapa-kenapa, kan aku udah bilang, segala sesuatu yang berlebihan itu nggak baik.” Jawab Anya mengulang perkataannya.

“Aku rasa bukan itu. Apa karena kamu nggak merasakan sama seperti yang aku rasakan?” tanya Nathan menahan sesak.

Anya menegakkan tubuhnya, bangkit dari bahu Nathan lalu mengedikkan bahunya tanpa menjawab.

“Aku nggak perlu pembalasan Nya, kamu mau sayang juga atau enggak sama aku, perasaan itu nggak akan berubah. Aku tetep sayang kamu. Tapi aku janji, kalau kamu mau kasih aku kesempatan aku akan membuat kamu merasakan hal yang sama juga.” Jelas Nathan panjang lebar.

“Maafin aku,” kata Anya sambil menatap dalam mata Nathan.

“Untuk?” tanya Nathan tidak mengerti.

“Untuk aku yang belum bisa membalas perasaan kamu.” Jawab Anya lalu memandang lurus dengan tatapan jauh.

“Nggak perlu minta maaf karena itu bukan sebuah kesalahan. Cinta memang nggak bisa dipaksakan kan? Biarin aja dia mengalir sendiri. Walaupun nantinya mungkin ketika kamu mencintaiku, aku bukan sepenuhnya orang yang kamu cintai itu nggak akan jadi masalah buatku.” Balas Nathan tulus.

“Jangan terlalu baik sama aku.” Kata Anya dengan pandangan yang mulai agak kabur karena air mata yang sudah memenuhi kelopak matanya.

“Kenapa?” Nathan menatap Anya bingung.

“Karena aku nggak pantes dapetinnya.” Tangisan Anya kini meledak, ia segera melipat lututnya dan menyembunyikan wajahnya di dalam sana. Sejujurnya ia tidak tau bagian mana yang lebih membuatnya menangis. Nathan yang kelewat tulus mencintainya atau Rio yang saat ini sangat ia rindukan sedang menari-nari dalam hatinya. Baginya kedua hal itu sama. Sama-sama menimbulkan sesak.

Sedangkan Nathan hanya memeluk Anya sambil mengelus lembut kepala gadis itu. Berusaha menenangkannya, “Cup, cup, kok nangis? Nggak ada yang perlu ditangisin Nya.”

Tangisan Anya justru semakin menjadi-jadi. Nathan akhirnya hanya memilih diam sambil tetap mengelus lebut kepala gadis itu dalam dekapannya untuk menenangkan.

Cause when I’m with him I am thinking of you, thinking of you
What would you do if you are the one who was spending the night?
I wish that I was looking into your eyes
(Thinking Of You – Katy Perry)

“Saat aku bersamanya aku justru memikirkan kamu. Aku tau ini salah, ini seharusnya tidak terjadi. Tapi inilah kenyataan yang ada bahwa kamu yang ada di hatiku dan bukan dia. Setidaknya untuk saat ini. Meskipun aku tidak pernah tau kedepannya. Apa mungkin masih kamu, atau dia, atau orang lain. Tapi untuk saat ini orangnya adalah kamu. Dan kira-kira apa yang akan kamu lakukan jika sebenarnya selama ini kamu adalah satu-satunya yang menghabiskan malamku dengan segala bayang-bayang tentang dirimu? Kamu satu-satunya yang aku rindukan, saat ini, kemarin, kemarinnya lagi, dan kapanpun itu. Aku harap aku sedang menatap matamu saat ini untuk menghapus segala kegelisahan dan kerinduan yang secara perlahan membunuhku.”

5 komentar:

Rizki Pradana on October 3, 2013 at 5:48 AM said...

wuaaah cerbungnya udah sampai 19,,panjang bangeet...bisa jadi novel nih :))
aku juga baru belajar nulis,,tapi levelnya masih cerpen :))
keep writing ya mbak :))

salam EPICENTRUM
wait for visit :))

Indah Nur Amalia on October 21, 2013 at 5:16 AM said...

Alhamdulillah di lanjut juga ^^
aku kira bakalan berhenti di part 18 :o
masalahnya si Anya sama Rio kan belum bersatu :D
mereka di pertemukan dong, Rio'nya kan kasihan.
di lanjut cepetan yaaa, ini udah keren banget ;)

Rabbani Haddawi on December 21, 2013 at 10:13 PM said...

Ini emang awalnya novel mas:) tapi udah di tolak penerbit. Jadi daripada mubazir ya saya post disini:)
iya mas pasti. makasih ya:)
wah baru belajar nulis aja blognya udah ratusan ribu visitornya, saya harus belajar banyak nih:-)

Rabbani Haddawi on December 21, 2013 at 10:14 PM said...

Iya, ditunggu aja ya... :-)
Thank you for keep reading loh:-)

Evi Nurcahyanti on February 22, 2014 at 6:49 PM said...

lanjut lagiii!! huaa sediiiih:'')

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos