Sunday, May 05, 2013

Cerpen - Kepingan Sesal

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 08:53
Reaksi: 
Hai, Bani balik lagi niiiih. Baik kan? Belum lama ngepost udah ngepost lagi. Iya dong. Demi readers apa yang engga *kedip2* *kelilipan*
Hemm, kali ini mau post cerpen lagi. Ya bisa diliat judulnya diatas. Dari judulnya aja udah galau ya? Ya Allah, sabar ya kalian menghadapi penulis yang kerjaannya bikin cerita sedih mulu. Semoga Allah selalu melindungi kalian dari kegalauan #doaserius #amin.
Yak, kali ini gue bikin cerpen yang agak beda menurut gue. Kebanyakan cerita yang gue bikin kan pake PoV 1 atau PoV 3 ya, itu karena gue masih suka bingung pake PoV 2 :| Nah, udah gitu bagi kalian yang merhatiin pasti paham deh, gue selalu ambil sudut pandang si cewek kalo bikin cerita. Mau ceritanya kayak apa, pasti narasi berbentuk 'aku' dan si akunya ini perempuan. Kenapa? Karena gue perempuan. Gue lebih ngerti perasaan perempuan kan dari pada laki-laki?
Nah, dicerita yang ini agak sedikit beda. Gue nyoba bikin pake PoV 1, ya, narasinya 'aku' tapi si aku ini cowok. Ini eksperimen pertama. Gue juga nggak tau ini kaum cowok bakal ngamuk apa engga kalau gue bikin karakter kayak dicerita ini-_- Ini cuma menerka-nerka loh ya. Jadi maafin gue kalau nggak sesuai sama kebanyakan cowok yg ada.
Ah, sudahlah kebanyakan ngomong nih. Baca dulu sanah, ada cerpen rasa ayam spesial tuh #salahfokus

Udah ah, banyak cincong nih si Bani.
Check this out---



Kepingan Sesal

Pernahkan kalian merasa sepi, sendiri, hampa dan rasanya sesuatu berharga yang pernah kalian punya tiba-tiba menghilang dan hasrat untuk mendapatkan hal itu kembali rasanya sudah hilang dan satu-satunya hal yang ingin kalian lakukan adalah menghilang?

Namun terkadang, kehidupan yang terlalu memuakkan ini jelas lebih baik dijalani daripada kematian yang aku sendiri tidak tau kebenarannya. Maksudku, kita nggak benar-benar tau kan kemana kita nantinya setelah mati. Surga, neraka, yang manapun, entahlah. Aku belum pernah bertemu seseorang yang sudah pernah pergi kesana lalu kembali lagi dan menceritakan pengalamannya padaku. Ya, belum pernah ada dan mungkin tidak pernah ada.

Tapi disini, di dimensi ini. Di dunia yang fana ini. Dunia yang sudah cukup memuakkan ini, aku masih bertahan pada sesuatu yang… entahlah, aku sendiri bingung akan apa yang sedang kupertahankan.

Aku telah berhenti menunggu sejak lama. Berhenti berharap sejak beberapa tahun kebelakang. Berhenti percaya entah sejak kapan. Berhenti memperhatikan sejak waktu yang tidak kuingat. Berhenti mengingat sejak saat yang sudah aku lupakan.

Aku ini ibarat mayat hidup. Bedanya aku tidak makan otak manusia, dan aku masih bisa bicara. Rasanya seperti aku terpenjara pada sesuatu yang menjagaku dari rasa sakit. Ya, semenjak aku menjadi “mayat hidup” rasa nyeri yang sering aku rasakan di dadaku itu berhenti muncul. Rasa sakit hati akibat sesuatu yang mereka sebut cinta.

Ya, ini masih sama. Masih cerita tentang cinta. Tidak jauh berbeda dengan yang kebanyakan orang ceritakan. Bedanya, aku merasakan sendiri pedihnya. Dan aku bermain-main dengan kepedihan itu bersama orang yang dulu berjalan bersisian denganku atas nama cinta.

Dan kini, saat cinta itu pergi—ya, aku tidak bilang dia meninggalkanku atau aku meninggalkannya, hanya saja cinta itu yang tiba-tiba pergi meninggalkan kami—aku dengannya tetap bertahan untuk berjalan bersisian, namun berubah sebagai seorang… sahabat. Klise. Namun satu-satunya hal itu yang bisa menjaga kami bersama. Aku—atau kami, entahlah—rasanya sudah cukup merasakan pedihnya kehilangan cinta yang datangnya dulu tiba-tiba itu. Aku tidak mampu mengambil resiko merasakan nyeri itu lagi akibat kehilangan dirinya juga. Tidak.

“Rain, tidak ada satupun yang acak di dunia ini. Semua hal berhubungan. Semuanya. Tidak ada kebetulan. Aku bertemu kamu dan mencintai kamu juga bukan kebetulan. Kita ditakdirkan untuk melakukannya,” Gadis dihadapanku ini menatapku bersungguh-sungguh, matanya sudah berkaca-kaca sejak tadi. Namun sepertinya dia masih sanksi menjatuhkannya di hadapanku.

“Sama seperti ketika kita mulai saling menjaga jarak, dan kehilangan komunikasi. Itu juga bukan kebetulan kan? Jadi beritahu aku, takdir apa yang digariskan untuk kita?” Aku menahan sesak di dalam dadaku.

Pembicaraan yang cukup alot ini memaksaku berdiri berhadapan dengan gadis ini selama lebih dari setengah jam. Saling berargumen tentang bertahan atau melepaskan. Ya, dia memang ingin bertahan dan aku memang ingin melepaskan. Namun bukan berarti aku bermaksud pergi darinya. Sungguh, aku tidak sanggup. Aku hanya lelah, lelah menyakitinya dan lelah bertahan untuknya. Jangan salahkan aku, salahkan cinta itu yang pergi tiba-tiba.

“Aku cuma ingin memberi kamu waktu untuk sendiri. Aku takut aku terlalu menginvasi seluruh waktumu. Dan aku saat itu juga ingin sendiri. Bukan maksudku untuk menjaga jarak dari kamu. Cuman… kadang, aku merasa jenuh, dan ingin mencari sesuatu yang baru. Tapi aku nggak pernah ingin kehilangan kamu.” Gadis di hadapanku ini menunduk, menghindari mataku saat dia meneteskan air matanya.

Aku bergeming di tempatku meskipun ada pergeseran sedikit di hatiku akibat kalimatnya barusan. Dia ingin sendiri, dia jenuh, dia ingin mencari sesuatu yang baru tanpa kehilanganku. Lihat kan? Cinta juga pergi meninggalkannya, bukan hanya aku. Bedanya, dia ingin bertahan tanpa menyadari betapa menyakitkannya hal itu ketika kita tau tidak ada lagi yang bisa dipertahankan. Cinta itu sudah pergi.

Aku bergerak maju, secara spontan menariknya ke dalam pelukanku. Membiarkan dia yang tingginya hanya sedadaku itu meledakkan tangisnya disana. Aku memeluknya erat. Enggan melepaskannya, takut kehilangannya, namun terlalu takut untuk mempertahankannya.

“Mentari, kita berhenti bertahan pada cinta yang sudah pergi bukan berarti akan saling kehilangan. Aku tetap disini. Akan selalu disini, menjagamu, menemani kamu saat kamu membutuhkan aku. Kita masih bisa bersama. Cuma ya… Dengan cara yang agak sedikit berbeda.” Aku berkata sambil menenggelamkan wajahku pada rambutnya yang akan selalu kurindukan keharumannya.

“Apa ini karena ada perempuan lain? Atau karena aku kurang sempurna? Jujur aja Rain, aku nggak akan marah…” Desaknya disela isakan tangisnya itu.

Aku menghela napas, menyadari gadis dihadapanku ini keras kepala. Dia tau kebenarannya tapi masih bersikeras untuk mencari alasan yang menurutnya akan lebih mudah diterima. Kenapa? Karena percayalah padaku, ketika pasanganmu mengatakan mereka memilih berpisah demi kebaikan kalian berdua atas nama cinta yang sudah pergi meninggalkan kalian berdua jauh lebih rumit dibanding dengan berpisah karena ada seseorang lain yang lebih sempurna.

Akan jauh lebih mudah melupakan seseorang yang meninggalkanmu sepihak, bukan dari dua pihak seperti keadaanku. Hanya saja, gadis dipelukanku ini terlalu takut untuk mengalami perubahan. Perubahan terhadap status yang akan segera kami tinggalkan.

“Kamu tau ini bukan karena itu. Kamu yang paling sempurna diantara yang lain. Aku berani sumpah kamu satu-satunya yang terbaik yang pernah aku miliki. Cuma ya, kamu ngerti kan, kamu jenuh, aku jenuh. Cinta pergi dari hati kita. Hubungan kita akhir-akhir ini jadi hambar. Aku sama seperti kamu yang takut kehilangan. Tapi, ini tentang menyelamatkan hati kita dari kepura-puraan. Mungkin kita emang masih saling sayang, tapi cinta itu… Dia berhenti secara terlalu tiba-tiba.” Aku berbisik diatas kepala gadis itu, masih memeluknya yang masih terisak dalam tangisannya.

“Mungkin ini cuma masalah waktu. Kamu tau kan? Jenuh sesaat. Kamu sama aku cuma butuh waktu buat nenangin diri, dan cinta itu juga sebenernya belum bener-bener pergi. Mungkin aja kita saat ini sama-sama lagi terlalu egois, dan buat cinta itu rasanya udah nggak ada lagi, padahal dia masih ada disana. Mungkin aja kita masih bisa ulang semuanya dari awal.” Mentari masih mencoba bertahan.

“Tapi kita akan saling melukai lagi. Saling curiga lagi. Kamu akan sakit hati lagi. Kita nggak bisa terus begini. Kalau memang cinta itu masih ada, berhenti mencintaiku. Aku tau itu lebih baik bagi kamu. Berhenti menyiksa diri, biarkan hal ini berlalu. Aku tau berat banget pasti setelah kita udah lama bersama. Kita saling menyayangi atas dasar nama cinta. Tapi saat cinta itu hilang entah kemana, apa yang harus kita lakukan? Sebaiknya kita berpisah untuk lebih bahagia Tar.” Aku kembali meyakininya dengan lembut. Berharap dia akan mengerti.

Mentari melepaskan pelukannya, lalu dia mendongak menatapku. Mata itu… Mata yang selalu kutatap selama dua tahun kebelakang, mata yang selalu membuatku terhipnotis kini redup kehilangan cahayanya. Wajah putihnya yang manis memerah karena menangis, kantung matanya penuh akibat airmata yang tidak habis dia keluarkan. Pipinya yang penuh dan menggemaskan dibasahi puluhan tetes airmata. Bibirnya yang kecil dan merah muda bergetar hebat.

“Maafin aku.” Katanya sambil berusaha menghentikan tangisannya.

Aku diam, sengaja menunggu dia melanjutkan kalimatnya.

“Aku ngerti, dan maafin aku. Kamu benar. Semuanya memang seharusnya disudahi. Untuk kebahagiaan kita. Kebahagiaanku, kebahagiaanmu.” Dia menatap mataku, masih dengan cara yang sama seperti dia menatapku dulu. Menyadari kenangan yang segera menyergapku seiring dengan tatapannya, aku memalingkan wajah. Mencegah airmata jatuh. Memfokuskan pada hal lain. Apapun selain dirinya. Aku laki-laki, setidaknya dia harus melihat bahwa aku tegar.

“Kita sahabatan kan sekarang?” Dia berusaha tertawa ringan, namun gagal, matanya masih memancarkan kesedihan.

Aku mengangguk. Lalu mengarahkan tanganku ke pipinya untuk menghapus airmatanya. Tapi dia menepis tanganku lalu menghapusnya sendiri.

Dia tersenyum menatapku. Sangat tulus. Terlalu tulus malah untuk ukuran seseorang yang aku paksa berhenti mencintai. Aku tau mulai saat itu hidupku tidak akan pernah sama lagi. Aku tau aku telah kehilangan satu-satunya perasaan yang pernah begitu nyata aku rasakan.

“Aku hari ini ada jadwal book signing. Kamu mau ikut?” Katanya sambil merogoh tas selempang kecilnya mencari bedak untuk menutupi wajahnya yang habis menangis.

“Aku anter aja, tapi abis itu aku langsung pulang ya? Nggak apa-apa kan?” Aku menatapnya yang sedang sibuk membubuhkan bedak di wajahnya dengan sangat tipis.

“Oke.” Katanya singkat.

Di dalam mobil menuju kafe tempatnya akan bertemu dengan para penggemar bukunya itu kami berdua hanya bisa terdiam. Hanya suara lagu dari tape yang mengisi keheningan. Aku terhanyut akan perasaan aneh yang aku sebut hampa. Sedangkan dia hanya diam menatap keluar jendela disebelah kirinya tanpa sekalipun menoleh kearahku.

Saat mobil sampai di depan kafe itu dia menegakkan tubuhnya, tidak turun dan hanya diam. Aku menatapnya penasaran. Aku menjadi semakin tidak nyaman dengan kebungkaman ini, jadi kuputuskan untuk mengakhirinya, “Nanti pulangnya kamu mau aku jemput?”

Dia diam, menunduk sambil memainkan tali tas cokelatnya. Kemudian dia menggeleng.

“Nggak usah. Aku naik taksi aja.” Jawabnya pelan.

Dia diam lagi dan masih belum turun. Aku tau ada sesuatu yang masih belum selesai baginya. Aku tau dia masih ingin mengatakan sesuatu. Jadi aku tetap menatapnya, lalu bertanya lembut, “Kenapa? Ada yang pengen kamu omongin?”

Dia kemudian balas menatapku, tersenyum dan menggeleng.

“Nggak, aku cuma mau bilang kalau kamu itu nggak akan terganti. Walaupun aku akan berusaha…” Dia menatapku yang agak terkejut, tidak mengira bahwa itu yang akan dikatakannya.

“Makasih ya,” dia mencium pipi kiriku lalu membuka pintu mobil dan turun.

Aku masih mematung jelas kaget dengan sikapnya. Bukan berarti dia tidak pernah menciumku, hanya saja, bukannya sudah jelas kalau kita sudah berakhir dari pacar menjadi sahabat? Seorang sahabat, laki-laki dan perempuan, tidak mencium pipi sahabatnya kan?

Dia sadar akan keterkejutanku. Sambil menahan pintu mobil dia melongok kedalam dan tertawa menatapku, “Kenapa? Itu untuk seorang sahabat kok. Sumpah, aku nggak bermaksud lebih. Maaf ya bikin kaget.”

Aku segera menetralkan reaksiku. Kemudian tersenyum menatapnya.

 “Iya, engga apa-apa. Aku pulang ya.” Aku menganggukkan wajah, dan dia menutup pintu mobil. Kemudian dia melambaikan tangannya dengan wajah dan senyum seceria biasanya. Hingga mustahil akan ada orang yang percaya bahwa gadis itu pernah menangis di dalam pelukanku selama setengah jam sebelumnya.

Itu kejadian beberapa tahun lalu. Kejadian dimana segala kehampaan itu dimulai. Kejadian dimana aku kehilangan segalanya. Aku berhenti melakukan banyak hal. Berhenti menunggu, berharap, memperhatikan, percaya, dan mengingat.

Karena kenyataannya. Aku dengannya tidak pernah bisa benar-benar menjadi sahabat. Tidak ada sahabat yang secanggung kami ketika harus bertemu. Tidak ada sahabat yang akan menatap mata sahabatnya dengan sebegitu bercahaya. Tidak akan ada. Persahabatan terlalu suci untuk hal itu.

Intinya adalah tahun-tahun yang aku lalui bersamanya berakhir begitu saja. Hanya karena kebodohanku yang terlalu takut untuk bertahan. Hanya karena takut untuk merasakan nyeri lagi di dadaku. Dan, aku bukan hanya kehilangan cinta diantara kami berdua, aku juga kehilangannya pada akhirnya.

Dia melangkah maju, bukan untuk meninggalkanku, tapi untuk menghampiri kebahagiaannya. Bagaimana dia bisa bahagia jika intinya dia masih terlalu sering berada dekatku? Bukan itu kan seharusnya? Sedangkan aku hanya bisa menatapnya dari belakang, memperhatikannya yang semakin hari selalu selangkah menjauhiku. Dia menemukan penggantiku. Dan aku masih berdiam diri dalam kehampaan yang kubuat sendiri tanpa bisa mencegahnya karena aku hanyalah sahabatnya. Sahabat yang tengah dijauhinya. Sahabat yang dulu dia pertahankan mati-matian cintanya. Sahabatnya yang sudah sangat bodoh menyia-nyiakannya dengan hanya menjadi ‘sahabat’.

Dan hal itu selalu terjadi, rasanya setiap aku mendengar suaranya dan mengatakan bahwa aku masih mencintainya, aku salah dulu. Namun semuanya sudah sangat terlambat. Aku terlalu terlambat.

Aku memang masih mencintainya. Seperti dulu, tidak pernah berubah. Bahkan sekarang saat aku menceritakan ini pada kalian semua. Bahkan mungkin sampai kalian baru mulai membacapun aku masih mencintainya.

Namun ada sesuatu dalam diriku yang enggan kembali padanya. Entahlah, dia baik, dia tidak pernah salah dimataku. Tapi tetap ada sesuatu yang menahanku. Hatiku mencintainya namun tidak bisa kembali dan mengulang semuanya. Ada yang berubah, aku mencintainya namun tidak bisa merasakan seperti dulu. Aku rusak. Bukan oleh dirinya, tapi karena perbuatanku sendiri.

Tapi aku tau aku masih bertahan. Dan aku rasa, aku bertahan pada cinta yang dulu aku anggap pergi. Cinta kami.

Tapi tolong jangan beritahukan dia. Dia sudah bahagia sekarang bersama laki-laki itu. Biarkan kalian menyimpan cerita ini hanya untukku. Untukku yang sedang memeluk kepingan penyesalanku.
***

Gimanaaaahhh??? Maksa gak?
Duh, maaf yah. Next story will be better, I promise.
Btw, sampe sini aja ah postnya.
See you next post;-)

0 komentar:

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos