Sunday, May 19, 2013

Cerbung - Will It Be Us Part 18

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 04:14
Reaksi: 
Rio membanting handphonenya ke jok sebelah tempat duduknya. Ia mengumpat kesal dan menginjak pedal gas mobilnya lebih cepat demi melampiaskan kekecewaan, kemarahan, dan kesedihannya. Hingga akhirnya sampai di sekolah Rio turun dari mobilnya dan membanting keras pintu mobilnya hingga beberapa anak menoleh kearahnya.

Rio berjalan cepat menuju kantin. Disana ia membeli soda dingin untuk menyegarkan pikirannya dan menenangkan hatinya. Setelah agak lega, Rio berjalan lemah ke toilet, ia membasuh mukanya lalu menatap cermin di hadapannya. Semua memorinya bersama Anya terputar ulang, membuat sebuah film kenangan paling memilukan saat ini untuk ia ingat. Rio mencuci wajahnya lagi untuk menghilangkan pikiran tentang ia dan Anya di masa lalu. Lalu dia berjalan keluar dari kamar mandi menuju kelasnya. Rio sama sekali tidak bisa konsen menyerap pelajaran hari itu. Akhirnya sebelum istirahat kedua Rio memutuskan untuk pulang. Ia izin dengan staff sekolah karena merasa tidak enak badan, mereka mengizinkan Rio pulang karena badannya saat itu sangat dingin.

Rio mengemudikan mobilnya cepat, bukannya pulang ia malah menuju Niagara Falls. Disana sepi pada awal musim dingin seperti ini. Rio leluasa melakukan apapun sendirian disana. Ia hanya duduk merenung, melipat kakinya hingga ia merasa tubuhnya sangat kecil sekarang dan hilang karena tidak terlihat lagi di tempat sebesar ini.

“Taukah kamu kalau aku sangat mencintaimu? Pernahkah terpikir olehmu bahwa aku takut ada orang lain yang membawamu pergi dariku? Sadarkah kamu bahwa aku hanya takut? Takut akan kehilangan dirimu yang mencintaiku. Haruskah aku berteriak di hadapanmu demi membuatmu mengerti apa yang kurasakan saat ini? Bukankah kamu sudah tau perasaanku? Lalu harus seperti apa lagi? Apa kurang cukup pengorbananku selama ini? Apa tidak cukup cinta yang kuberikan selama ini? Apa ini karena jarak yang berusaha membuat kita jauh? Apa kamu sudah mulai lelah dan ingin menyerah? Ah, entahlah. Akupun lelah menjalani semuanya. Tapi untuk mencintaimu, takkan ada kata lelah dalam hidupku. Meskipun nanti pada akhirnya kau bukan milikku lagi, cintaku tetap milikmu. Biarkan butiran salju yang jatuh pertama kali di awal musim dingin ini yang menjadi saksinya, saksi atas segala kata hatiku.”
*****

Ini sudah 3 minggu lebih Anya dan Rio lost contact. Sama sekali tidak ada dari mereka berdua yang berusaha menghubungi duluan. Baik Anya maupun Rio masih sakit hati akan pertengkaran mereka yang lalu.

“Hubungin aja duluan Nya, dari pada dipikirin doang nggak akan selesai.” Kata Bang Eza mengagetkan Anya yang sedang melamun memandangi hujan di bulan Desember akhir ini.

“Aku nggak tau mau ngomong apa Bang,” jawab Anya lirih sambil tetap memandang hujan dari jendela.

“Ya minta maaf kalau kamu ngerasa salah. Kalau ngerasa udah cape sama semuanya dan ngerasa nggak ada yang bisa kamu perbaiki lagi dari hubungan Rio ya pilih aja sesuatu yang menurut kamu nggak akan kamu sesali nantinya.” Kata Bang Eza menasehati.

“Tapi Bang, aku masih sayang sama Rio.” Kata Anya pelan.

“Ya udah kalau gitu minta maaf aja.” Sahut Bang Eza.

“Tapi aku nggak mau kalau Rio mengekang aku begitu. Akhir-akhir ini kita emang sering berantem Bang.” Jawab Anya jujur.

“Hubungan kalian udah nggak sehat kalau begitu.” Kata Bang Eza.

“Terus aku harus gimana?” Anya menatap kakak laki-lakinya bingung.

“Abang nggak bisa nyuruh kamu misalnya putusin atau minta maaf. Semuanya tergantung dari kamu. Kalau kamu ngerasa masih kuat ngejalanin semuanya, masih bisa bertahan sama hubungan kalian ya terusin. Tapi kalau hubungan kalian malah bikin kamu tersiksa, ngelamun terus, nangis nggak jelas sebabnya, kamu pasti tau apa yang terbaik.” Kata Bang Eza menasehati.

Anya diam sejenak lalu bertanya lagi, “Rasanya putus dari orang yang kita sayang banget itu apa sih Bang? Abang pernah nggak ngalamin gini?”

“Pernah waktu SMP, masalahnya sama, karena kita jauh. Kita beda sekolah, dulu kan Abang belum boleh bawa motor, nggak kayak anak jaman sekarang. Makanya ketemunya rada susah buat ngatur waktunya. Ya akhirnya pisah deh. Rasanya sakit sih, tapi lama-lama juga bisa ilang.” Jawab Bang Eza.

“Yang hilang itu rasa sakitnya atau cintanya?” tanya Anya dengan wajah polos membuat Bang Eza tertegun sesaat, tidak menyangkan adiknya akan menanyakan yang itu.

“Sakitnya.” Jawab Bang Eza singkat.

“Terus cintanya?” tanya Anya.

“Selalu menguat setiap ketemu orang itu lagi.” Jawab Bang Eza jujur.

“Emang pernah ketemu?” tanya Anya penasaran.

“Pernah, karena nggak sengaja di toko buku, mall, atau restoran.” Jawab Bang Eza.

“Cinta pertama selalu dikenang Nya.” Lanjut Bang Eza.

“Berarti nanti kalau aku putus sama Rio yang akan selalu mengenang aku doang dong ya? Kan kalau Rio udah pernah punya pacar sebelum aku.” Kata Anya lirih.

“Cinta pertama itu bukan berarti orang pertama yang kamu pacarin Anya. Cinta pertama itu perasaan yang buat kamu menyukai seseorang tanpa sebab yang jelas, tanpa kamu ketahui alasannya, dan membuat kamu memikirkannya kapanpun. Cinta pertama bisa aja datang dari orang yang kesekian. Tapi nggak menutup kemungkinan juga cinta pertama itu orang pertama yang kamu pacarin.” Jawab Bang Eza panjang lebar.

“Udah, lepasin aja.” Kata Bang Eza memegang pundak Anya, Anya hanya membalas dengan helaan napas panjang.

“Kalau kamu mencintai sesuatu, biarkan dia pergi dan bebas tanpamu lagi disisinya, kalau dia kembali berarti dia memang untukmu, kalau tidak berarti memang kalian lebih baik untuk berjalan masing-masing.” Lanjut Bang Eza dengan tatapan bijak.

“Tapi, gimana kalau aku masih sayang banget?” tanya Anya ragu.

“Cinta itu berarti kebebasan Nya, kamu bebas mencintai siapapun sesuka hati kamu. Begitu juga orang lain. Jadi, meskipun nggak sama-sama lagi, kamu masih boleh mencintai dia. Cukup menjadikan rasa cinta itu sebagai pengingat bahwa kamu punya masa lalu yang bisa membuatmu berdiri seperti ini di masa depan.” Jawab Bang Eza meyakinkan.

“Kenangan sifatnya selalu lebih kuat dibanding apapun Nya, sejarah takkan pernah terhapus atau tergantikan dengan teori paling hebat manapun di dunia.” Lanjut Bang Eza.

Anya hanya diam merenungi setiap kalimat dari kakak laki-lakinya itu. Berusaha menentukan pilihan terbaik untuk dirinya dan Rio. Untuk cinta mereka. Anya membiarkan setetes air mata jatuh karena pilihan yang diambilnya. Tanpa menyekanya, Anya membiarkan air mata itu kering di pipinya. Membekas. Seperti cintanya untuk Rio.

Cause maybe in the future you’re gonna come back
You’re gonna come back
The only way to really know is to really let it go
Maybe you’re gonna come back to me
(Maybe – Inggrid Michaelson)
“Mungkin suatu saat nanti di masa depan kamu akan kembali padaku. Ya, kamu akan kembali. Tapi satu-satunya cara untuk mengetahui kamu akan kembali padaku atau tidak adalah dengan membiarkannya benar-benar pergi. Aku tau ini sulit. Aku tau ini tidaklah semudah teori yang disebutkan. Aku tau ini sama saja mempertaruhkan hati kita. Akupun tak mau menjadi seseorang yang mengucapkan selamat tinggal. Aku benci kata itu. Aku benci perpisahan. Aku benci akhir. Tapi harus bagaimana lagi? Inilah hidup yang kita jalani, bertemu dan berpisah. Mengawali dan mengakhiri. Mencintai dan menyakiti. Semua memiliki hitam dan putih. Biarkan saja semua yang kita lalui menjadi kenangan. Dalam cinta aku percaya, kamu akan kembali padaku suatu saat nanti karena kamu memang untukku.”
*****

Anya menggenggam erat handphone di tangannya. Hanya tinggal menekan satu tombol saja maka ia akan segera terhubung dengan Rio. Tapi entah kenapa hal yang paling mudah dan paling senang Anya lakukan biasanya itu kini terasa berat.

Anya menaruh lagi handphonenya, lalu mengambilnya lagi. Terus begitu hingga dia memutuskan untuk menunggu besok malam untuk menelfon Rio.

Tapi Anya berfikir itu terlalu lama. Akhirnya ia memberanikan diri menekan tombol hijau itu tepat di kontak Rio. Terdengar nada tunggu. Sekali, dua kali. Lalu...

“Halo,” sapa suara diseberang sana.

“Rio,” kata Anya pelan.

“Iya,” jawab suara itu sama lemahnya.

“Apa kabar?” tanya Anya mulai merasakan sesak di dadanya.

“Baik, kamu?” Rio balik bertanya.

“Nggak terlalu.” Jawab Anya.

“Kenapa? Kamu sakit?” tanya Rio dengan suara yang tidak sama seperti biasanya, tidak menimbulkan efek bersahabat atau menyenangkan seperti biasanya.

“Enggak.” Jawab Anya lirih.

“Ohh.” Jawab Rio singkat. Lalu ada hening panjang diantara mereka.

Lalu mereka memanggil lawan bicara masing-masing secara bersamaan.

“Kamu dulu aja,” kata Anya mempersilahkan.

“Nggak usah, kamu dulu aja.” Jawab Rio.

“Nggak, aku nggak penting kok.” Jawab Anya berbohong.

“Aku juga nggak penting.” Balas Rio.

“Udah, ngomong aja.” Kata Rio agak serak.

“Yo, kamu masih sayang sama aku nggak?” tanya Anya menambah sesak di dadanya.

Rio terdiam sesaat lalu menjawab pertanyaan itu, “Masih, kenapa?”

Anya diam, lalu bertanya, “Dan perasaan itu masih sama dengan 3 tahun yang lalu nggak?”

Kali ini Rio terdiam cukup lama , sampai akhirnya dia menjawab, “Nggak.”

“Karena rasa itu lebih kuat sekarang.” Lanjutnya lagi.

“Yo, kalau aku menyerah atas ini semua apa kamu akan benci aku?” tanya Anya lirih.

“Atas apa?” Rio pura-pura tidak mengerti, padahal di dalam hatinya ia tau Anya akan berkata kurang lebih sama seperti itu.

“Atas cinta kita.” Jawab Anya pelan.

Rio terdiam, tidak menjawab apapun. Hening diantara mereka.

“Enggak,” Rio membuka suara memecah keheningan.

“Kenapa?” tanya Anya serak, tangisnya hampir tumpah.

“Karena aku sayang kamu, sulit untuk membenci kamu setelah semua yang kita lewati.” Jawab Rio berusaha setenang mungkin.

“Maafin aku Yo,” setetes air mata Anya jatuh.

“Sudah aku maafkan sebelum kamu mengatakannya.” Jawab Rio lembut.

Anya menghela napas panjang berusaha tenang, “Kamu mau aku meluruskannya atau enggak?”

“Meluruskan apa?” tanya Rio dengan suara pelan.

“Apapun yang ada,” jawab Anya lirih.

“Entahlah,” jawab Rio menghela napas panjang.

“Yo, nggak selamanya cinta harus memiliki. Nggak selamanya cinta harus terus bersama Yo. Biarkan mereka terbang bebas, berkelana mencari pembenaran atas apa yang ada. Dan kalau jodoh, angin yang akan membawa kita kembali bersama. Cinta kita hanya butuh jalan masing-masing menuju jalan kedewasaan Yo. Biarkan mereka yang menentukan arah cerita hidup ini dan takdir kita.” Kata Anya menahan sesak.

“Aku nggak akan seprasah itu Nya.” Rio setengah berteriak.

“Ini bukan pasrah Yo, ini adalah pembelajaran untuk bagaimana menjadi dewasa. Dan hal ini adalah langkah awal dari itu.” Kata Anya masih berusaha tenang.

“Apakah kurang pengorbanan yang aku berikan selama ini sampai-sampai kamu mau menyerah atas ini semua?” Rio bertanya dengan nada pelan.

“Enggak, ini bukan masalah pengorbanan atau apa. Oke, aku salah tadi di awal, aku bukan mau menyerah akan cinta kita, aku hanya ingin yang terbaik untuknya. Untuk kita. Hadapi kenyataan Yo kalau cinta kita memang sulit untuk dipahami, dan cinta kita memang sulit untuk disatukan. Perbedaan yang ada di antara kita itu benar-benar sulit dihilangkan. Bahkan dengan cinta yang teramat besar pun perbedaan itu masih tetap ada menghalangi. Seperti yang kubilang tadi Yo, kalau jodoh pasti kita ketemu lagi.” Jawab Anya dengan napas sesak.

“Dan perlukah kita berpisah hanya untuk membuktikan pribahasa kuno itu?” tanya Rio tenang kali ini.

“Kita bukan mau membuktikan, kita mau...”

Kalimat Anya terhenti dengan kalimat Rio, “Mau belajar untuk sama-sama mendewasakan diri dengan tanpa adanya satu sama lain yang saling melengkapi. Ya, ya, aku ngerti.”

“Trus jadi mau kamu apa?” lanjut Rio bertanya lembut.

“Kita putus aja.” Anya berkata lirih.

“Apa nggak ada jalan yang lebih baik?” Rio masih berusaha bertahan.

“Aku rasa itu yang terbaik.” Jawab Anya dengan air mata yang terus mengucur.

“Lalu bagaimana dengan perasaanku yang masih mencintai kamu Nya?” tanya Rio memelas.

“Aku juga masih Yo,” jawab Anya dengan isakan pelan.

“Trus buat apa putus kalau kita masih sama-sama cinta?” Rio meninggikan suaranya.

“Karena cinta aja nggak cukup buat menuhin suatu hubungan, ada hal lain yang disebut kepercayaan, dan kejujuran. Kepercayaan diantara kita sudah luntur Yo, tergantikan oleh ketakutan-ketakutan nggak jelas dari rasa cemburu, walaupun aku nggak tau kejujuran diantara kita masih bersih atau tidak.” Jawab Anya sambil menenangkan suaranya.

“Bukankah cinta itu memang penuh rasa cemburu dan ketakutan?” Rio bersikukuh untuk bertahan.

“Ya, tapi bukan yang seperti itu. Bukan yang membuat kita saling menjauh satu sama lain.” Jawab Anya tenang. Rio menghela panjang napasnya. Diam, lalu hening diantara mereka.

“Makasih Yo buat 3 tahun terakhir ini. Makasih kamu udah ngajarin aku banyak hal. Tentang cinta, tentang hidup, tentang rasa sakit, tentang semuanya. Kamu buat hariku berwarna setiap harinya. Maaf kalau aku belum bisa menjadi yang terbaik untukmu.” Anya memecah keheningan tersebut.

“Kamu selalu jadi yang terbaik diantara yang paling baik.” Jawab Rio pelan.

“Bye, Yo.” Kata Anya tersendat.

“Bye,” Rio menjawab pelan.

“Izinin aku ngucapin ini buat yang terakhir kali ya?” tanya Anya meminta izin.

“Apa?” Rio menahan sesak yang membuat suaranya menyerak.

“Love you,” kata Anya lirih.

“Love you too,” jawab Rio lalu menutup telfonnya.

 Rio meringkuk di tempat tidurnya. Merasakan dinginnya udara disana dan dinginnya hatinya saat ini. Beku. Ia merasa akan mati beku sekarang juga. Ia tidak mampu lagi merasakan desiran darahnya maupun degup jantungnya. Ia merasa mati. Mati dalam kehampaan pekat ini. Mati dalam keterpurukan dalam karena pedih yang ia rasakan.

Tell me what to say, so you don’t leave me
(Try – Asher Book)

“Katakan padaku apa saja yang mampu membuatmu berubah pikiran dan tidak jadi meninggalkanku. Duniaku hanya terpaku padamu dan rasa sakit yang kau buat ini ketika kau pergi berlari, menjauh dari kehidupanku. Kini saatnya untuk kita menghadapi kenyataan, bahwa jalan yang kita pilih memang sudah berbeda. Dan dengan mengatakan perpisahan seperti tadi kamu sama saja memaksa kita berdua untuk saling berubah. Mungkin sepertinya aku belum siap. Tapi aku akan berjuang untuk cintaku. Mempertahankannya dengan segala yang kupunya. Membiarkanmu bebas menentukan pilihanmu dan membiarkanmu pergi bukan berarti aku menyerah, justru ini adalah awal dari perjuanganku mengorbankan segalanya demi kamu. Meski itu mengorbankan perasaanku yang terdalam.”
*****

Anya meringkuk di tempat tidurnya. Menelungkupkan kepala dan wajahnya yang penuh dengan air mata ke dalam lututnya. Ia merasa akan terbunuh karena kesepian yang datang dan mengusiknya saat ini. Menghancurkannya sendiri. Hanya dia yang bisa merasakan betapa sepi dan memilukan malam cerah yang cantik dengan bulan purnama dan bintang yang berpendar-pendar di sekelilingnya.

Lelah menangis Anya pun tertidur lelap, larut dalam mimpinya. Meninggalkan semua bebannya di dunia, karena alam bawah sadarnya jauh lebih baik dari kenyataan.

KRIIIIIIINNNNGGG!!!

Bunyi weker yang nyaring membangunkan Anya dari alam mimpinya. Membawa Anya kembali pada kenyataan. Bangun pagi kali ini sangat berbeda dari biasanya. Ini adalah bangun tidur dengan rasa paling menyakitkan yang pernah menyerang dadanya. Perih. Sulit untuknya mendeskripsikan dengan kata-kata rasa sakit saat terbangun dari tidurnya dan menyadari telah kehilangan seseorang yang sangat ia cintai.

Jejak-jejak air mata bekasnya menangis semalam masih membekas di wajahnya. Sisa tangis semalam membengkakkan kedua kantung mata Anya.

Dengan langkah gontai Anya mengambil handuknya dan mandi membasuh tubuhnya di bawah shower. Menangis lagi. Bukan hal yang baru untuk Anya. Rasanya air matanya takkan pernah habis jika mengingat laki-laki di mimpinya semalam itu.

Nathan menjemputnya seperti biasa pagi itu. Anya yang keluar rumah dengan muka kusut dan mata sembab membuat Nathan bertanya-tanya.

“Anya, kenapa? Hari pertama masuk sekolah setelah liburan semester plus tahun baru kok kayak gitu mukanya?” tanya Nathan.

Anya tidak menjawab malah menangis. Nathan turun dari motornya dan membelai lembut punggung Anya. 

“Kenapa lagi Nya?” tanya Nathan bingung.

“Gue putus,” jawab Anya disela-sela isak tangisnya.

Ada sedikit rasa senang dalam hati Nathan, namun ia cepat-cepat menepisnya. Lalu berkata, “Hah? Kok bisa? Kapan?” tanya Nathan.

“Kemaren,” jawab Anya, tangisnya makin menjadi-jadi.

Nathan mendekap kepala Anya ke dalam dadanya, lalu menenangkan gadis itu, “Udah, udah, mungkin ini yang terbaik.”

Anya berusaha berhenti menangis dan mengelap air matanya.

“Udah, yuk Than berangat. Nanti telat.” Katanya lirih.

Nathan menganggukkan kepalanya dan naik ke motor diikuti Anya. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, Anya benar-benar tidak berniat untuk membuka mulut sama sekali. Nathan memaklumi keadaan gadis itu jadi dia pun hanya ikut diam sepanjang perjalanan.

Sampai di sekolah, Cecil sudah ada di kelas, melihat Anya datang dengan mata sembab sontak Cecil bertanya cemas, “Anya kenapa?”

“Ssttt...!” Nathan memberi kode pada Cecil yang langsung menengok dan menanya pada Nathan dalam gerakan mulut tanpa suara. Nathan ikut menjawab dalam gerakan mulut tanpa suara yang langsung disambut dengan ekspresi kaget Cecil. Ia segera memeluk Anya lalu berkata, “Sabar sayang. Semua ini mungkin yang terbaik.” Anya menangis lagi dalam pelukan Cecil.
*****

 Libur musim dingin usai sudah. Waktunya kembali ke sekolah untuk Rio. Ia bersiap-siap pergi ke sekolah. Gelang kain warna hitam pemberian Anya dulu sudah tidak nampak bertengger lagi di pergelangan tangannya. Sekarang digantikan dengan jam Adidas hitam mengkilap. Rio menghabiskan sarapannya lalu mengemudikan mobilnya ke sekolah.

Selesai jam pelajaran Rio mendapat istirahat pertama, ia segera mencari teman-temannya. David, Clara, dan Gio.

Saat sampai di kantin yang pertama kali ia temukan adalah Clara. Bukan, bukan Clara versi gotik, tapi Clara versi manis dalam balutan dress biru muda selutut dan rambut dikuncir kuda dengan rapih. Rio tersenyum menatap gadis itu lalu menghampirinya.

“Jadi udah ngikutin saran gue nih?” kata Rio mengejutkan gadis itu.

“Ngagetin aja lo. Ya gue fikir saran lo ada benernya juga. Nggak ada salahnya dicoba.” Kata Clara sambil mengedikkan sebelah bahunya.

Rio tersenyum lalu bertanya, “Yang lain mana?”

“David ke toilet, Gio nggak tau deh, belum ketemu dari pagi.” Jawab Clara.

Rio mengambil Iphonenya lalu mengetik pesan singkat untuk Gio dan segera memasukkannya lagi ke saku celana jeansnya.

“Clar, gue putus.” Kata Rio tiba-tiba, mengejutkan Clara hingga ia tersedak es jeruknya.

“What? How could be?” Clara menunjukkan ekspresi terkejutnya.

“Ya dia yang minta.” Jawab Rio.

“Gara-gara gue itu Yo? Ya ampun maaf banget ya? Gue minta maaf deh sama dia biar kalian balikan lagi. Maafin gue Yo, maaf banget.” Kata Clara merasa bersalah.

“Bukan gara-gara itu kok.” Jawab Rio santai.

“Terus?” Clara memandang Rio penasaran.

“Jarak Clar. Jetlagged banget.” Kata Rio menggelengkan kepalanya sambil tersenyum pahit.

“Sabar ya Yo, kalau jodoh kalian pasti ketemu lagi.” Kata Clara menunjukkan simpatinya.

Rio terkejut dengan perubahan drastis Clara, bahkan sikapnya pun ikut berubah. Rio berfikir bahwa akhirnya gadis ini menemukan siapa dirinya sebenarnya, bukan gadis yang dalam balutan baju-baju hitam ala gotik kemarin, tetapi gadis anggun dalam balutan dress-dress manis inilah dirinya. Rio tersenyum senang, perubahan Clara sedikit menghibur dirinya pasca putus dari Anya.

“Rio!” Gio melambaikan tangan dari kejauhan saat melihat Rio, lalu menghampirinya.

“Hai, apa kabar?” Rio berpelukan ala lelaki.

“Baik, ini siapa?” ia memperhatikan gadis yang duduk di depan Rio yang sedang menunduk meminum es jeruknya. Gadis itu mendongak dan beberapa detik Gio terpaku melihatnya, lalu buru-buru berpura-pura biasa.

“Lo kenapa Clar? Diikutin sekolah kepribadian selama libur musim dingin?” tanya Gio heran.

“Nggak, pengen ganti gaya aja.” Jawab Clara berusaha menutupi groginya.

“Manis ya?” kata Rio bertanya ke Gio sambil melirik sedikit ke arah Clara. Membuat wajah gadis itu merona kemerahan.

“Biasa aja ah,” Gio pura-pura cuek.

“Ah, masa? Biasanya yang muna kayak gini yang paling terpesona nih.” Goda Rio.

“Apaan sih Yo?” Tiba-tiba Gio salah tingkah.

David datang diantara mereka dan ikut mengobrol bersama. Hari itu bersama teman-temannya Rio melupakan sejenak rasa sakit yang sedang ia rasakan. Menghilangkan sejenak kehampaan pekat yang ada dihatinya. Dan kembali kedunianya yang terang benderang meskipun mentarinya kini telah pergi.
*****

“Anya, jangan sedih gitu terus dong.” Bujuk Nathan saat berada di dufan bersama dengan Cecil, Randy, dan Kak Sean juga.

“Disini banyak kenangannya Than.” Jawab Anya pelan. Otaknya memutar ulang memorinya bersama Rio saat bermain di dufan. Membawanya kembali ke jurang kesedihan yang dalam. Membuatnya sulit untuk bangkit lagi.

“Aduh Anya, ayolah. Ini udah 5 bulan semenjak putus lo. Lo masa masih sedih aja sih?” Nathan masih mencoba membujuk.

“Dan setahun yang lalu gue kesini juga sama Rio.” Kata Anya sambil memandang lurus ke depan.

“Yah, salah pilih tempat berarti nih.” Kata Nathan sambil garuk-garuk kepala.

“Kita kesini mau have fun Nya, bukan mau ngingetin masa lalu lo sama Rio. Ayolah, jangan gitu.” Kata Nathan membujuk. Anya akhirnya tersenyum berusaha membuat Nathan senang, lalu ikut lagi bermain bersama mereka. Berusaha melupakan apa yang pernah ada disini setahun yang lalu bersama Rio. Berusaha menghilangkan segala tentang Rio.

Saat senja mereka berlima naik bianglala. Langit Ancol sore itu sangat indah. Matahari yang akan tenggelam terlihat jelas dari atas bianglala. Entah kenapa suasana ini mengingatkannya pada Rio. Ia dan Rio sama, sama-sama suka dengan senja. Karena senja selalu memiliki perpaduan warna yang indah. Sementara Cecil, Nathan, Randy, dan Kak Sean bercanda-canda dan tertawa, Anya hanya diam menikmati suasana di atas bianglala sore itu. Otaknya membentuk sebuah lamunan tentang Rio.

And in another life I would be your girl, we keep all our promises, be us against the world
And in another life I would make you stay so I don’t have to say you were the one that got away
(The One That Got Away – Katy Perry)

“Dimasa kehidupan yang lain aku akan menjadi kekasihmu, kita menjaga segala janji yang kita buat. Menjadi kita yang saling mencintai untuk menerjang derasnya arus kehidupan. Dan dimasa kehidupan lain itu aku akan membuatmu bertahan bersamaku, dan tak akan melepasmu apalagi membiarkanmu pergi. Agar aku tak perlu mengatakan padamu bahwa kamu adalah seorang yang telah pergi. Sayangnya aku hanya memiliki satu masa kehidupan, dan takkan ada masa kehidupan lainnya setauku. Semua yang kupunya tidak bisa membuatku membeli sebuah mesin waktu. Aku bahkan tidak bisa menggantimu dengan ribuan cincin. Aku seharusnya mengatakan padamu apa arti dirimu untukku. Karena sekarang aku harus membayar harganya. Yaitu dengan kehilanganmu.”
*****

Rio menyusuri jalan di tepian batas Niagara Falls. Mengingat-ingat kejadian beberapa bulan lalu atau hampir setahun lalu di tempat ini. Mengingat segala yang Anya katakan padanya dulu tentang air. Tentang tetes air yang tidak akan pernah sama.
Sesak, lagi-lagi ia merasakan sesak di dadanya. Mengingat gadis itu membuatnya sesak. Dia beda dari yang lainnya. Belum ada yang mampu menggantikan Anya di hati Rio saat ini. Hanya dia, dan akan selalu menjadi dia.

“Jangan bengong Yo, nanti kesambet.” Kata Clara membuyarkan lamunan Rio.

“Apaan sih Clar?” Rio terusik dengan kehadiran gadis itu.

“Kita berempat kesini kan mau nonton Niagara Falls firework party Yo, bukan mau ngegalau.” Ledek Clara.

“Lah siapa juga yang ngegalau?” Rio membantah.

“Ah gengsian deh lo.” Cibir Clara.

“Nggak galau kok,” jawab Rio.

“Masa? Terus ngapain ngeliatin air sampe serius banget gitu?” tanya Clara memojokkan Rio.

“Pengen liat aja sih.” Jawab Rio mulai merasa terpojok.

“Pasti Anya? Kalian pernah kesini kan waktu Anya nginep di rumah lo itu?” kata Clara.

“Hemm iya.” Jawab Rio sambil menghela napas panjang.

“Ikhlasin Yo, kalau udah ikhlas trus tau-tau jodoh, pasti dia balik deh. Percaya sama gue.” Kata Clara meyakinkan.

“Iya, iya, semua orang juga bilang gitu kok.” Jawab Rio.

“Tapi susah Clar, rasanya tuh kayak nggak mungkin gitu bisa hilangin perasaan sayang, dan perasaan sakit ini. Dua-duanya tuh udah melekat kuat, nggak mungkin ilang.” Kata Rio emosional.

“Kalau nggak mungkin hilang ya biarin aja, cukup sembunyiin. Gampang kan?” Clara mengedikkan bahunya.

“Nggak segampang itu lah Clar, ada yang harus tetap dirasa selama menyembunyikan itu juga. Udahlah, biarin gue nunggu dia, siapa tau beneran dia balik kayak yag lo sama orang-orang bilang.” Jawab Rio.

“Tapi move on itu sebenernya nggak ada salahnya loh Yo,” kata Clara mengingatkan.

“Iya nanti kalau udah siap.” Jawab Rio tidak terlalu serius.

Hening diantara mereka, Clara kembali ke tempat Gio dan David duduk, meninggalkan Rio sendirian.

Cause if one day you wake up and find that you’re missing me
And your heart start to wonder where on this earth I could be
Thinking maybe you’ll come back here to the place that we’d meet
Oh you see me waiting for you on the corner of the street, so I’m not moving, I’m not moving
(The Man Who Can’t Be Moved – The Script)

“Jika suatu saat kamu bangun dan menemukan dirimu tengah merindukanku, dan hatimu mulai berpikir dimana kira-kira aku berada di dunia ini. Aku fikir mungkin kamu akan kembali ke tempat dimana kita bertemu dulu. Dan kamu akan menemukanku disini, karena aku tidak berpindah, aku tidak pindah. Karena aku seseorang yang sulit untuk berpindah.”

3 komentar:

Indah Nur Amalia on June 8, 2013 at 2:41 AM said...

keren (y) (y) (y)
lanjut yah ..
jangan lama lama ngelanjutinnya udah penasaran banget soalnya .
#maksa :D

Indah Nur Amalia on June 8, 2013 at 2:48 AM said...

keren (y) (y) (y)
lanjut lanjut .. udah penasaran sama kelanjutannya gimana :)
tapi jangan lama lama yah ^_^ harus cepet di terusin
#maksa :D

Rabbani Haddawi on June 19, 2013 at 6:38 AM said...

Oke, tunggu aja ya

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos