Monday, March 18, 2013

Cerpen - The Rest Of My Heart

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 11:16
Reaksi: 
Hai, selamat malam readers. Gue iseng jam segini nggak bisa tidur abis ngerjain tugas. Gue jadi gatel deh pengen ngepost. Ya udah, yuk diliat nih gue ada cerpen baru bener-bener fresh from the oven. Masih anget loooohhh, hehe baru jadi nih...

Oke, check this out





The Rest Of My Heart

Cinta. Bagiku cinta adalah saat aku tetap mempedulikannya sedangkan dia mengacuhkanku dan menganggapku tidak ada. Bagiku cinta adalah saat dia berusaha menjauhiku, dan aku tetap memperhatikannya dari jauh. Bagiku cinta adalah saat aku masih percaya suatu saat dia akan mencintaiku. Tapi yang paling penting bagiku, cinta adalah penantian tanpa batas dan syarat. Bagiku cinta adalah dia.

Tapi tidak baginya. Cinta baginya adalah kesempurnaan. Dan aku jauh dari mendekati sempurna. Baginya cinta berbatas. Layaknya cintanya yang berhenti saat sebuah tembok menghalangi, sebut saja tembok itu jenuh. Baginya cinta bersyarat. Layaknya cintanya yang menuntut kesempurnaanku. Baginya cinta bukanlah aku.

Aku sudah ribuan kali disebut bodoh. Berulang kali aku jatuh pada kesalahan yang sama. Aku mencintai orang yang tidak benar-benar mencintaiku. Salahku adalah aku cenderung menaruh perhatian pada pria yang notabenenya adalah cuek. Dia, berhasil merebut seluruh perhatian dan hatiku dengan kesegala tidak peduliannya.

Disini mulai kebodohanku. Dia juga dulu menyukaiku. Tidak sulit bagiku untuk mendapatkannya dan membuatnya menyatakan perasaan padaku. Meskipun caranya sama sekali bukan cara yang romantis yang selalu aku impikan seperti novel-novel yang aku baca. Tapi, karena itu dia, menolak tidak ada dalam kamusku.

Aku wanita, kadang aku sendiri tidak tau apa yang aku mau. Mood yang sering berubah cepat. Perasaan yang berganti-ganti. Ketidak puasan yang selalu tampak nyata. Tadi aku bilang aku cenderung menaruh perhatian pada pria cuek, tapi kesalahanku aku tidak suka tidak dipedulikan. Aku haus akan perhatian. Ya, lebih tepatnya perhatian dari orang yang cenderung kurang perhatian.

Air mata mewarnai hubunganku dengannya. Bayangkan, hampir delapan bulan bersama, setiap minggu setidaknya ada beberapa hari dimana dia tidak menghubungiku, bahkan tidak menjawab telepon dan smsku. Aku tau dia mudah bosan. Terkadang ada saatnya dia jenuh kepadaku, dan mulai menjauh. Bagaimana denganku? Menangis satu-satunya hal yang bisa aku lakukan. Aku tidak pernah tau, mencintai ternyata rasanya sesakit dan semelelahkan itu.

“Fan, kamu kenapa sih suka ngilang gitu? Kadang suka bikin aku takut…” kataku suatu saat ketika sedang berdua dengannya.

“Takut apa? Aku nggak pernah hilang, nggak hubungin kamu bukan berarti aku nggak ada. Aku sibuk, hidupku nggak cuma tentang kamu dan ngabarin kamu kan?” jawabnya santai dengan gayanya yang acuh-tidak acuh itu.

“Kalau aku minta 15 detik aja buat kamu sekedar ngucapin ‘I love you’ di sms saat sela-sela kesibukan kamu, tetep nggak bisa ya Fan? Seenggaknya aku nggak takut suatu saat akan kehilangan kamu beneran Fan…” jawabku sambil memandang kuku-kuku jariku.

“Harus ya cinta itu diumbar-umbar kayak gitu? Kamu nggak percaya kalau aku beneran cinta sama kamu? Kehilangan aku? Ngapain sih mikirin yang suatu saat nanti? Yang penting saat ini aku ada disini kan? Terus apalagi? Bisa nggak sih kamu nggak posesif kayak gitu, Lid?” Kalimat Fandy menghentikan keluhanku. Ya, mungkin aku terlalu posesif.

Bagiku, aku selalu memaafkannya saat dia tiba-tiba ‘menghilang’ tanpa kabar. Aku akan memberi waktu sebanyak apapun yang dia mau untuk sendiri jika sedang jenuh denganku. Membiarkannya memiliki waktu sebanyak mungkin untuk menenangkan diri, asal dia kembali padaku lagi. Aku hanya mencintainya. Hanya ingin berada disisinya. Tidak peduli betapa menyakitkan dan melelahkan hal itu. Aku hanya… terlalu mencintainya.

Tapi, lagi. Ya, dia membuat ulah lagi. Baginya mungkin tidak cukup air mata yang aku keluarkan setiap minggunya dalam kerinduan pekat yang menyergap setiap saat aku menunggunya. Sendirian. Tanpa dia. Kali ini dia mungkin sampai pada titik terjenuh dari semua kejenuhan yang pernah dia lalui. Dua minggu tanpa kabar, tanpa komunikasi. Lalu secara tiba-tiba dia marah denganku atas kesalahan yang tidak aku perbuat. Atas hal yang sepele. Atas masalah yang tidak perlu dipermasalahkan. Aku tau ini bukan tentang masalah itu dan aku. Ini tentang dia dan kejenuhannya.

“Maafin aku Fan, aku tau aku salah. Tapi apa harus karena masalah aku lupa pasang relationship sama kamu aja kita sampe putus? Itu cuma dunia maya kan? Nggak ada ngaruhnya sama perasaan aku. Aku tetep sayang banget sama kamu. Maafin aku, please.” Aku memohon-mohon padanya. Membuang jauh gengsiku sebagai wanita. Ini demi cinta yang harus aku perjuangkan.

“Udahlah Lid. Mungkin kita emang nggak cocok. Sampe disini aja semuanya. Aku capek juga. Sakit rasanya nggak dianggap lagi sama pacar sendiri sampe lupa pasang nama pacarnya. Di dunia maya aja bisa lupa, apalagi dunia nyata? Cinta nggak harus memiliki kan Lid?” Kalimat terakhirnya menohokku.

“Fan, aku masih sayang kamu. Aku gak mau pu—” Kalimatku terputus. Dia memutuskan sambungan teleponnya. Ya, bahkan saking jenuhnya dia tidak mau repot memutuskanku dengan bertatap muka langsung. Hanya dengan telepon. Dan rasanya ternyata menyakitkan.

Aku mencoba beberapa kali menghubunginya lagi, tapi tidak ada jawaban sampai hanya mesin yang menjawabnya. Aku tidak menyerah untuk terus meneleponnya sampai nomornya diluar jangkauan. Dia mematikan handphonenya. Ini pertanda aku harus berhenti. Aku mengalah, aku membiarkannya pergi. Tapi mengalah bukan berarti aku menyerah. Cintaku tetap menunggunya.

Mencintai tanpa pernah menunggu sama saja dengan kanvas tanpa gambar, buku tanpa tulisan. Kosong.
Aku menunggunya kembali padaku. Mengabaikan cinta lain yang datang silih berganti. Membiarkan kesepian datang dan mengajak bermain airmata lagi. Membiarkan tawa dan senyumku ditawan olehnya sampai dia kembali lagi. Aku tidak pernah lelah menunggunya kembali.

Sampai suatu saat dia kembali lagi.

“Lidya, kalau kita balikan gimana?” katanya seperti menggumam.

Aku yang sudah hampir dua bulan ini dekat dengannya lagi hanya tersenyum kecil sambil menatapnya dari samping. Ah, dia selalu tampak sempurna dan mengagumkan dilihat dari sisi manapun.

Dia menoleh ke arahku yang sedang menatapnya dengan senyum tolol itu.

“Aku masih sayang sama kamu.” Dia menatap mataku tajam. Ya, matanya seperti belati. Selalu berhasil merobek pertahanan hatiku dan menghunjamkannya tepat di pusatnya seperti saat pertama dia menatapku. Hal itu tidak pernah berubah.

Aku tersadar dari lamunanku, “Kamu lagi bercanda atau godain aku ya? Nggak lucu ah, Fan.” Jawabku dengan wajah bersemu. Mataku masih betah beradu dengan matanya.

“Aku serius.” Dia menjawab singkat sambil terus menatapku tajam.

Aku menyerah, aku rasanya akan meleleh dengan terus menatapnya. Aku membuang pandanganku ke danau di hadapanku sambil tertawa kecil.

“Ah, udah ah ngeledekinnya. Males nih, bercanda terus.” Kataku menutupi rasa grogi.

“Aku cuma butuh jawaban kamu masih sayang atau enggak sama aku. Tapi kalau kamu ngerasa nggak bisa jawab sekarang—“ Dia menggantung kalimatnya lalu memegang tangan kananku dan membelainya.

“—aku tunggu kamu sampai siap jawab. Nggak perlu hari ini.” Dia tersenyum lalu berhenti mengusap tanganku dan melingkarkannya di sekitar lututnya.

Aku tau bagaimana rasanya menunggu. Aku tau sakitnya menunggu. Aku tau lelahnya menunggu hal yang tidak pasti. Aku tau perihnya mengharapkan sesuatu. Karena itu, aku tidak mau menunda jawabanku untuknya. Aku menyayanginya, aku mencintainya, dan aku tidak ingin dia merasakan sakit yang pernah aku rasakan.

“Aku juga kok Fan.” Aku berkata pelan sambil menunduk menyembunyikan semburat merah yang keluar diwajahku saking senangnya.

“Juga apa?” Dia memintaku memperjelas sambil menelengkan kepalanya untuk melihat wajahku.

“Masih sayang kamu.” Jawabku makin menyembunyikan wajahku.

“Terus?” Dia masih menatap wajah yang berusaha kesembunyikan.

“Hmm, tadi kamu ngajak balikan kan?” Aku berusaha menyembunyikan kegugupan.

“Iya, terus kamu mau gak?” Fandy masih menatapku.

Aku tidak menjawab langsung, tapi aku menganggukkan kepalaku dua kali. Dia tersenyum, lalu mendekapku ke dalam pelukannya.

“Makasih,” bisiknya di telingaku.

Senyum dan bahagiaku, dia kembalikan bersama cinta yang selalu aku tunggu. Meskipun aku juga tau, airmata akan tetap setia mengalir selama cinta untuknya ini masih terlalu besar. Tapi bagiku, airmata yang keluar saat bersamanya dengan saat tidak bersamanya menjadi terasa lebih bermakna saat bersamanya. Setidaknya aku tau airmata yang ku keluarkan memang untuk orang yang hakikatnya adalah milikku.

Setidaknya kesempatan kedua yang kuberikan padanya tidak terlalu dia sia-siakan. Dia berubah. Dia lebih sering meluangkan waktunya untukku. Walaupun kadang, sifat moody-nya muncul tiba-tiba. Aku yang pada dasarnya dulu sudah pernah mengalaminya, menjadi lebih sabar menghadapinya.

Semua masih terasa baik-baik saja selama tujuh bulan awal. Sampai aku dengannya memasuki awal dunia kuliah. Dan kami berbeda universitas meskipun masih di kota yang sama. Padahal semasa SMA kelas aku dengannya selalu bersebelahan. Aku tidak pernah benar-benar kehilangannya, atau maksudku, jauh darinya.

Lagi, rasa takut itu muncul lagi. Ketakutan akan kehilangannya. Aku tau ini berlebihan. Hanya karena berbeda tempat belajar—padahal masih satu kota—aku takut dia akan meninggalkanku. Tapi, rumahku dengannya memang jauh. Meskipun aku sekolah dan kuliah di kota yang sama dengannya, aku tidak tinggal di kota itu juga seperti dia. Aku tinggal di kota sebelah. Lumayan jauh jarak rumahku dengannya.

“Fan, boleh nggak aku jujur?” tanyaku padanya saat sedang bersandar di pundaknya dan dia membelai lembut kepalaku.

“Kenapa sayang? Boleh lah.” Dia mengecup lembut ujung kepalaku.

“Aku takut suatu saat nanti kamu nemuin seseorang yang lebih baik dari aku terus ninggalin aku. Aku takut nggak bisa ketemu kamu tiap hari lagi kayak dulu. Apalagi tempat kuliah kita beda. Kamu nggak mungkin jemput aku dulu kan, rumahku jauh banget. Kalau aku kangen gimana Fan?” Aku membenamkan kepalaku di dadanya. Mendengarkan degup jantungnya dan merasakan kehangatan menjalari badanku. Tanganku refleks melingkar di pinggangnya.

“Tinggal bilang, nanti kita ketemu.” Jawabnya sambil melingkarkan tangan kirinya diseputar bahuku lalu mengelusnya lembut.

“Aku takut nanti nggak semudah itu.” Aku masih membenamkan kepalaku di dadanya.

Dia berhenti mengusap bahuku, lalu memegang kedua pundakku dan membuatku melepaskan pelukan darinya. Dia menyejajarkan wajahnya denganku lalu memandang mataku dalam tanpa berkata apapun. Aku diam juga menatapnya.

Lalu dia berbicara pelan dengan mata yang masih menatapku tajam, “Lidya, kita hidup untuk hari ini. Bukan besok ataupun kemarin. Syukuri apa yang ada saat ini. Pelajari apa yang pernah terjadi dulu. Dan biarkan besok, suatu hari nanti, lusa, atau apapun sejenisnya itu menjadi rahasia, kejutan untuk membuat kita lebih menghargai kehidupan.”

Dia. Ya, dia memang laki-laki yang selalu bisa membungkam semua keraguanku. Kalimatnya seringkali menenangkanku. Meskipun bukan jawaban yang kumau, dia selalu memberikan jawaban diplomatis, tanpa janji. Jadi kalau suatu saat aku berharap darinya, itu bukan salahnya, itu aku yang memang tidak pernah berhenti mengharapkannya.

Suatu hari nanti yang aku takutkan itu perlahan-lahan datang. Ketakutanku benar. Bertemu menjadi hal yang tidak lagi mudah dilakukan. Bertemu menjadi hal yang sangat sulit untuk diperjuangkan.

Jadwal kuliah yang padat, perbedaan jam mata kuliah, jarak, rasa lelah. Semua tercampur dengan rasa kangen yang terus-terusan meminta untuk dihilangkan.

“Fan, aku nggak enak badan banget. Kepalaku berat. Pusing banget. Mau nggak kamu jemput aku terus anter pulang?” kataku ditelepon sambil memijit-mijit kepalaku yang rasanya mau pecah itu.

“Kamu kenapa? Udah makan? Ya udah, iya nanti aku jemput jam satu ya. Kamu makan aja dulu, tunggu aku.” Dia menjawab sambil terdengar terburu-buru.

“Iya, makasih ya.” Aku tersenyum lalu mematikan telepon.

Aku mengikuti kalimatnya, dengan agak lemas aku berjalan ke cafeteria dan membeli bubur ayam dengan teh manis hangat untuk menghilangkan pusing dan mual ini. Tapi rasa mual menyergapku saat isi mangkok masih ada separuh lagi. Aku menyingkirkan mangkuk bubur itu dan meminum perlahan tehku. Jam 12 siang. Masih sejam lagi sampai dia menjemputku. Aku pergi ke klinik universitas dan merebahkan diriku disana sampai jam menunjukkan pukul 12.25 handphoneku bergetar. Telepon darinya.

“Kamu dimana?” Tanyanya segera setelah aku mengangkat teleponnya.
 
“Klinik kampus.” Jawabku lemas.

“Kamu masih bisa pulang sendiri nggak? Aku ada tugas yang bener-bener harus diselesain hari ini. Maaf banget. Dosenku killer banget, aku bisa ngulang satu semester lagi kalau sampai nggak ngerjain tugas ini.” Katanya buru-buru.

“Kira-kira sampai jam berapa?” Aku bertanya kecewa.

“Jam limaan. Aku nggak mungkin bisa anter kamu. Kamu pusing doang kan?” dia kembali memastikan keadaanku.

“Iya, ya udah nggak apa-apa aku pulang sendiri aja. Iya pusing doang kok.” Jawabku sangat kecewa tapi tetap menyembunyikannya.

Kebiasaanku selama ini adalah menyembunyikan kekecewaan dan kesedihanku darinya. Aku takut dia justru akan lelah jika aku terus-terusan mengutarakan semua kekecewaan dan kesedihanku. Aku takut dia pergi dan meninggalkanku.

Aku pulang naik bus dengan keringat dingin membasahi dahiku. Ketika di bus untungnya ayahku menjawab teleponku dan mengatakan dia bisa mengantarku pulang dan ayah izin meninggalkan kantornya. Aku akhirnya turun di halte tidak jauh dari kantor ayahku dan dia membawaku pulang naik mobil.

Sampai di rumah aku meminum obat dan tidur. Lalu dering handphone membangunkanku. Salah satu sahabatku semasa SMA ternyata. Aku mengangkatnya lemas.

“Iya, kenapa Zor?” sapaku.

“Lid, gue boleh pinjem pacar lo nggak? Gue mau minta anterin pulang sama dia. Gue harus cepet-cepet pulang banget nih. Urgent. Tadi gue udah sms dia. Tapi gue nggak enak sama lo jadi minta izin lo dulu, boleh nggak nih?” kata Zora.

“Emang kata dia apa Zor?” aku melirik jam yang masih menunjukkan pukul dua siang lalu menahan napas menunggu jawaban sahabatku itu.

“Dia bisa, dia malah udah on the way kesini.” Jawab Zora jujur.

Aku merasakan ada yang mencelos di dadaku saat mendengarnya. Tiba-tiba perih.

“Oh, ya udah nggak apa-apa kali. Lo kayak apa aja deh sama gue. Nggak bilang juga nggak apa-apa tau.” Balasku menutupi rasa sakit yang sangat menusuk itu.

“Gue nggak mau dianggep macem-macem aja Lid, takut salah paham. Ya udah thanks ya.” Katanya sambil tertawa kecil.

“Iya, eh by the way nggak usah bilang ya sama Fandy lo pake minta izin gue dulu. Nggak enak Zor. Kayaknya gue overprotektif banget.” Kataku berusaha menyembunyikan alas an sebenarnya.

“Iya, iya sip. Eh suara lo kenapa lemes banget? Sakit?” Zora bertanya perhatian.

“Engga, Cuma pusing doang kecapean. Ya udah Zor, gue mau tidur lagi nih.”

“Oh iya, maaf ganggu. Thank you ya, sayangku Lidya.”

Aku mematikan sambungan telepon dan mulai menangis. Kekecewaan yang aku rasakan terlalu dalam untuk diungkapkan. Terlalu menyakitkan untuk aku nyatakan. Dia bahkan merelakanku pulang sendirian saat sakit demi supaya dia tidak bertemu denganku karena jenuhnya kurasa.

Aku tidak pernah membahas masalah Zora dan alasannya untuk tidak mengantarku pulang saat itu. Aku berusaha melupakannya dan bertingkah seolah-olah tidak tau kejadian itu. Aku terlalu pintar untuk membohongi diriku sendiri. Aku selalu berhasil menyembunyikan sakit dan kecewaku darinya.

Hari itu ulang tahunku yang ke 19. Aku dengannya pergi ke bioskop, lalu makan. Dan dia memberikan hadiah ulang tahun berupa boneka Teddy Bear besar. Dan bagiku, itu ulang tahun terindah yang aku alami.

Beberapa hari kemudian aku mendapat tugas untuk membuat laporan tentang kondisi psikologi anak-anak panti asuhan. Aku berusaha menghubungi dia. Meminta tolong untuk mengantarku.

“Fan, lagi sibuk?” tanyaku basa-basi.

“Kenapa?” Dia menjawab singkat.

“Bisa anter aku ke panti asuhan nggak besok? Aku ada tugas.” Tanyaku hati-hati.

“Kamu apa-apa minta dianter, aku tuh sibuk tau nggak. Emang yang punya tugas kamu doang? Aku juga. Ngerti kek.” Fandy menjawab sinis.

Saat itu juga aku mau menangis rasanya, tapi aku berusaha menahan air mata yang sudah mengembang di kelopak mataku.

“Iya Fan, maaf. Ya udah iya gapapa.” Aku mematikan sambungan telepon.

Ya, dia laki-laki yang faktanya menghapuskan keraguanku juga laki-laki yang sama yang menciptakan banyak keraguan dan ketakutan lain. Aku berusaha memberi waktu untuknya untuk sendiri. Aku tau dia sedang jenuh, makanya hal itu yang dia katakana padaku. Dan dia kembali tidak menghubungiku selama beberapa minggu.

Seminggu… Dua minggu… Tiga minggu…

Aku cemas. Bayang-bayang hal yang terjadi setahun yang lalu tiba-tiba terbersit. Aku takut hal itu terulang lagi. Ya Tuhan, sungguh, hal itu adalah hal terakhir yang ingin aku rasakan di dunia ini. Aku takut sakit hati lagi. Aku takut sendiri lagi.

Benar dugaanku. Hal ini terulang lagi. Tapi kali ini dia melepaskanku dengan cara yang sama sekali tidak menyalahkanku.

“Mungkin kamu emang terlalu sempurna buat aku. Dan aku nggak cukup sempurna buat kamu.” Kalimat terakhirnya padaku.

Bagaimana bisa dia mengatakan kalau dia tidak cukup sempurna untukku? Aku merasa dia adalah yang paling sempurna. Aku yang justru tidak sempurna. Ya, tapi aku menganggap kalimatnya sebagai kalimat terbalik yang memiliki arti sebaliknya.

“Ya udah, makasih ya buat dua tahun terakhir ini.” Aku tidak berusaha menahan tangisanku, aku membiarkannya ikut keluar bersama dengan setiap kata yang aku ucapkan. Entah kenapa hatiku mengatakan ini adalah perpisahan terakhir.

Aku resmi putus dengannya. Aku menjalani kehidupanku sendiri lagi tanpa dia disisiku. Aku pikir setelah kedua kalinya putus darinya rasa rindu dan sakit ini tidak akan sebesar dulu. Tapi ternyata masih sama, bahkan lebih lagi.

Aku berusaha membuka hati untuk orang lain. Tapi percuma, aku gagal. Aku selalu membandingkannya dengan dia pada akhirnya. Sampai akhirnya aku memilih untuk berhenti. Aku memilih untuk membiarkan hatiku bebas memilih.

Saat waktunya tepat hatiku akan terbuka dengan sendirinya untuk orang yang tepat juga. Mungkin nanti, tidak sekarang. Ya, sekarang mungkin masih waktuku untuk menunggunya. Aku mengikuti kalimatnya, aku menerima apa yang aku miliki saat ini dan menjadikan pelajaran hal yang pernah aku alami dan membiarkan esok hariku datang sendiri.

Kalau memang aku ditakdirkan untuk bersamanya, dia akan kembali, bersamaku, tanpa perlu aku memohon-mohon menjatuhkan harga diri. Jika dia memang bukan untukku, seseorang yang lebih baik suatu saat akan datang padaku dan menghapuskan semua luka yang ada.

Ya, masa depanku, kejutanku, aku hanya menunggu. Entah kamu atau siapapun.

Tapi untuk saat ini, biarkan hatiku beristirahat sejenak. Menunggumu dalam diam, mencintaimu tanpa ketahuan, memperhatikanmu dikejauhan, mendoakanmu di setiap malam adalah istirahat terindahku. Jadi, biarkan aku hidup bersamanya, untuk sesaat lagi, sampai penyembuh luka itu datang untukku.

0 komentar:

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos