Sunday, March 31, 2013

Cerpen - Love, Dream, and Magic

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 08:41
Reaksi: 
Hell-o readers. Apa kabar? Sudah cukup lumayan lama ini blog nggak diurus ya? Hampir dua minggu. Maklum sibuk. Hahahahahaha. Emangnya kalian? Kerjaannya mantengin blog gue doang, pasti jomblo. Huft, Kasian. Hahahahahahaha. Nah, untuk menemani kalian para jomblo kesepian yang butuh kehangatan cinta, nih baca cerita gue aja. Tentang cinta kok. Tapi agak berbau-bau sihir gitu, agak semacam semi science-fiction gitu deh. Hahahaha, ini percobaan pertama loh bikin cerita kayak gini. Hope you'll enjoy it aja deh readers.

So, just check this out---


Love, Dream, and Magic

“Ayo cepat, jangan sampai lengah. Magic eaters tidak akan pernah memberimu waktu.” Kata sesosok laki-laki tampan dengan wajah dan tubuh sempurna sambil terus berlari di hadapanku.

“Dearen, aku lelah, memangnya tidak bisa kita istirahat dulu sebentar?” kataku memohon pada sosok sempurna yang aku sebut Dearen itu.

“Magic eaters tidak pernah lelah, kau tau?” Dia berhenti berlari bersamaan denganku yang jatuh terduduk di tanah sebuah padang rumput yang luasnya tidak terukur itu.

“Kita harus terus berlatih kalau tidak ingin mati, Oriza.” Laki-laki itu membungkuk menatapku yang masih terengah-engah.

“Aku tau, aku tau. Tapi biarkan aku mengumpulakan energi lagi barang lima menit apa salahnya?” Aku menjawabnya sambil memegangi dadaku.

“Baiklah.” Dia duduk di sebelahku. Lalu tiba-tiba di hadapanku tersedia segelas air jeruk.

“Jus?” Dia mengambilnya untukku dan menyodorkan dengan senyuman yang tidak mungkin membuatku menolak.

Aku tersenyum dan mengambilnya lalu menghabiskannya hanya dalam beberapa teguk.

“Terima kasih.” Kataku sambil menepuk tanganku tiga kali lalu sebuah  handuk kecil berwarna putih muncul di genggaman tanganku. Aku mengelap peluh yang keluar dari dahi laki-laki dihadapanku itu. Dia diam menatapku sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku hingga berjarak beberapa senti diantara kami.

Aku membiarkan degup jantungku mengeras. Dia meraih daguku, membuatku memejamkan mata. Lalu dia membelai pipiku dan berkata, “Ayo, latihan lagi. Kamu pikir Magic eaters akan diam saja?”

Aku mengerang malu karena merasa dia akan menciumku, “Err, Dearen. Tidak bisa kita selesaikan dulu yang barusan?”

Dia tertawa, wajahnya makin mempesona. “Tidak. Ayo, cepat.”

Aku mendengus kesal, “Dearen, harus sampai kapan kita latihan? Ini sudah bulan ketiga. Dan kamu selalu menghindariku. Kamu pacarku atau guru sihirku sih? Asal mengingatkan saja ya, dulu aku penyihir terbaik yang lulus dari akademi sihir, yang berarti kamu itu dibawahku.”

Dia malah tertawa, tidak tersinggung dengan kalimatku, “Oriza, tentu aku ingat. Tapi tidak bisakah kamu ingat juga siapa yang menyelamatkanmu dari Magic eaters di jurang kegelapan tiga bulan lalu?”

Aku memberengut, ya memang dia yang menyelamatkanku dengan sihirnya. Aku bisa saja sudah mati saat itu jika dia tidak tiba-tiba datang dan membantuku. Membuat Magic eaters lumpuh sejenak hingga akhirnya kami berdua bisa kabur.

“Oriza, kumohon. Ini semua demi kamu. Aku tidak mau suatu saat Magic eaters menemukan kita dan kita berdua mati. Setidaknya, kamu harus selamat.”

Dearen menatapku dengan penuh kesungguhan dan kesedihan hingga membuatku luluh dan bangkit mengikutinya. “Kalau aku selamat, maka kamu pun harus begitu.”

Dearen mengangguk lalu mengulurkan tangannya.

“Dengar, sekarang kita mulai mencoba mengeluarkan white dust. Magic eaters benci itu. White dust yang baik adalah yang bisa bercahaya dan terlihat berkelap-kelip. White dust hanya bisa dilakukan oleh penyihir yang memiliki hati yang tulus. Kamu harus mengupayakannya.”

Aku mengangguk mendengar penjelasannya.

“Dearen, berarti kamu memiliki hati yang tulus? Kamu dulu menyelamatkanku dengan white dust kan?”

Dearen menggeleng pelan. “Bukan, bahkan sampai saat ini aku tidak bisa melakukannya. Aku hanya mengeluarkan wrinkle smoke. Ilmu sihir kuno, mirip seperti white dust, namun tidak sekuat itu.”

Aku mengangguk mengerti. Baiklah, aku akan mencobanya. Mencoba melihat apakah aku cukup memiliki hati yang tulus.

“Pertama, pusatkan pikiranmu pada sesuatu yang sangat kamu cintai, lalu berusaha untuk tidak mengharapkan apapun dari hal itu. Hanya berusaha pikirkan bahwa kamu mencintai hal itu. Terus berusaha. Sampai kamu merasa hatimu dipenuhi rasa bahagia, tubuhmu akan merasa seringan kapas, dan saat itu white dust akan siap kamu keluarkan.  Mengerti?”

Aku mengangguk lalu memejamkan mata mengikuti instruksi Dearen. Lalu hingga tiba-tiba aku merasa tubuhku serasa ringan dan… tanganku mengeluarkan butiran-butiran kecil berwarna putih namun berkilauan. Mirip seperti serpihan kaca yang terbang. Namun lebih indah lagi.

“Dearen, aku berhasil. Aku berhasil!” Aku berteriak kegirangan.

“Terus lanjutkan Oriza, jangan sampai perhatianmu terbagi.” Dearen menyemangatiku.

Aku kembali memusatkan pikiranku pada sesuatu yang sangat kucintai. Lalu sekelebat bayangan memenuhi otakku. Magic eaters! Aku kelimpungan membagi perhatianku. Lalu semuanya gelap.
***

Aku bangun dengan napas terengah-engah dan peluh membasahi sekujur tubuhku. Aku menatap jam dinding bergambar tazmania yang masih menunjukkan pukul dua pagi. Lalu aku memandang sekeliling, dan mengenali aku berada di kamarku. Aku melompat turun dari tempat tidur dan melihat keluar, ke jendela. Sepi. Tidak ada apapun.

Aku berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Ini ketiga kalinya aku bermimpi aneh bersama dengan penyihir tampan bernama Dearen itu. Semua mimpi yang aku alami seperti potongan-potongan dari sebuah film yang diputar secara bertahap dari mimpi ke mimpi. Aku rasa ini tidak wajar. Hal ini berlangsung semenjak tiga hari lalu, bertepatan dengan ulang tahunku yang ke 17 tahun.

Masalahnya adalah aku seperti merasa pernah mengalami mimpi-mimpi itu tapi tidak tau kapan aku mengalaminya. Aneh kan? Dan aku seperti merasa mengenal laki-laki bernama Dearen yang memanggilku dengan Oriza itu. Benar sih namaku Oriza. Lebih tepatnya Orizalatifa. Tapi tidak ada satupun orang yang senang memanggilku seperti itu. Semua orang yang kukenal lebih senang memanggilku Ifa. Karena memang namaku Ifa.

Dan, anehnya lagi, sejak kapan aku bisa ilmu sihir dan melakukan hal-hal konyol yang hanya aku ketahui lewat film-film fiksi sejenis Harry Potter dan sebagainya? Itu konyol. Sungguh. Aku bahkan sudah berhenti menonton Harry Potter sejak film terakhirnya keluar sekitar, lima tahun yang lalu. Ya, benar!

Tiba-tiba kepalaku berdenyut-denyut. Aku jatuh terduduk sambil berusaha menggapai teralis jendela, mencoba mencari kekuatan. Semua adegan di dalam mimpiku berputar cepat seperti ketika aku menekan tombol rewind saat menonton sebuah film.

Napasku kembali memburu. Tapi aku buru-buru mengambil obat penenang di meja kecil disebelahku lalu menenggaknya. Kemudian aku merasa semuanya menjadi lebih baik. Aku terjaga hingga pagi hari dan pergi sekolah dengan kantung mata besar, khas kurang tidur.
***


“Dearen, lihat. Glow bludger hasil buatan tanganku berubah warna!” Aku memekik kegirangan sambil memutar-mutar tanganku seperti mengaduk adonan di udara.

“Aku menyuruhmu menguatkan teknik sharp feather Oriza, bukan bermain-main dengan Glow bludger. Berhentilah bersikap kekanak-kanakan.” Dearen menegurku sambil tetap dalam posisi meditasi dan matanya menutup.

“Kenapa kamu ini serius sekali. Ayolah. Glow bludger buatanku indah sekali loh. Ini hadiah untuk ulang tahunmu yang ke 17 Dearen, ayolah, lihat. Kita rayakan ulang tahunmu dulu ya?” Aku masih memutar-mutar tanganku di udara.

“Aku tidak mau membuang waktuku dengan hal seperti itu. Kalau kamu memang benar-benar mau merayakan ulang tahunku, rayakan nanti setelah kita menang melawan Magic eaters.” Dearen tetap tidak membuka matanya.

Segumpal cahaya indah berpendar-pendar yang sedang berganti-ganti warna ditanganku itu pun tiba-tiba menghilang. Aku menurunkan tanganku dan mendesah putus asa. “Kamu yakin kita akan menang?”

Kali ini Dearen berhenti bermeditasi dan membuka matanya lalu meraih tanganku dan menatap dalam mataku. “Kita akan melalui semuanya dengan baik-baik saja. Tenanglah. Aku jamin.”

“Aku tidak sekuat yang kamu pikir Dearen. Kamu ingat terakhir kali aku mencoba mengeluarkan white dust yang bisa mengalahkan Magic eaters aku malah pingsan dengan bodohnya. Padahal aku belum benar-benar menghadapinya.” Aku menunduk menahan tangis.

“Itu karena dia berhasil menguasai pikiran kita sejak terakhir kali kita melawannya. Kamu akan semakin membiarkannya merasuki pikiranmu kalau kamu terus-terusan berpikir negative. Magic eaters masuk ke dalam pikiranmu melalui hal itu, Oriza.” Dearen mengelus pipiku menenangkan.

“Tidak ada yang perlu dipikirkan, ada aku disini yang akan menemanimu melalui semuanya, berhenti berpikir negative, oke?” Dearen menangkup wajahku dengan kedua tangannya.

Aku mengangguk. Dearen benar-benar menguatkanku. Aku tidak salah mencintainya.

“Ayo, kita mulai teknik sharp feather. Ini untuk menguatkan white dust milikmu dan menghalau pikiranmu dari kendali Magic eaters.” Dearen kembali keposisinya.

Aku ikut menyilangkan kakiku di depannya, lalu mulai menarik napas panjang dan memejamkan mataku dan memfokuskan diriku atas semua hal indah yang ada di dunia ini.

Kunang-kunang, bintang, pelangi, bunga lotus, bunga tulip, bunga lavender, kupu-kupu, glow bludger buatanku, white dust, Dearen, masa-masa bersama Dearen… Dan tiba-tiba sekelebat bayangan Magic eaters datang lagi. Aku menjadi begitu kecil kemudian pria bertudung itu menggenggam badanku di dalam kepalan tangannya. Membuatku meronta-ronta. Badanku merasa sakit seperti di remas. Lalu Magic eaters mendekatkanku ke wajahnya. Lalu di balik tudung itu muncul kepala tanpa wajah. Hanya sebuah mulut yang menganga lebar dan siap memasukkan aku ke dalamnya. Aku meronta makin kuat berusaha melepaskan diri. Namun lalu Magic eaters menjatuhkanku kedalam kerongkongannya. Aku jatuh secara cepat kedalam jurang gelap yang seperti tak berujung.

Aku berteriak ketakutan. Lalu seberkas cahaya muncul seiring dengan suara seorang wanita, “Fa! Ifa! Lo kenapa? Lo nggak apa-apa?”

Aku terbangun. Napasku terengah-engah lagi dan badanku lagi-lagi dipenuhi keringat yang luar biasa derasnya padahal kamarku memakai AC. Lagi-lagi potongan mimpi itu. Aku mengatur napasku yang masih tersenggal-senggal. Perempuan di sebelahku memegangi pundakku sambil menatapku khawatir.

“Lo nggak apa-apa?” katanya sambil menyodorkanku segelas air putih.

Aku mengambil gelas itu dan menghabiskannya dalam sekali teguk. “Gue mimpi buruk.” Jawabku masih terbayang-bayang mimpi yang terasa sangat nyata itu.

 “Kenapa?” Perempuan disebelahku itu menatapku khawatir.

Aku menggeleng cepat, lalu bertanya, “Lo pernah nggak ngalamin yang namanya mimpi berkelanjutan. Jadi lo mimpi, setiap hari mimpi lo beda, tapi kaya saling berhubungan. Kayak nonton episode-episode dari film gitu.”

Perempuan yang sebenarnya sahabat yang sedang menginap di rumahku itu menatapku bingung. “Belum sih Fa, tapi kayanya jangan sampe deh. Gue bakal pengen tidur terus pasti supaya cepet tau endingnya.”

“Emang lo mimpi apa deh?” Asha menatapku penasaran.

Aku menceritakan semua tentang mimpiku secara mendetail kepada sahabatku itu. Termasuk tentang Dearen, penyihir tampan yang selalu membuat dadaku menghangat dan merasa perih pada saat yang bersamaan. Seperti rasa rindu yang teramat kuat.

Saat ceritaku selesai, Asha tertawa terbahak-bahak.

“Gue pikir lo sukanya sama Iron Man, Transformers, atau segala film robot-robotan yang lain Fa. Ternyata lo kecanduan Harry Potter, Twillight, sama Percy Jackson juga ya?”

“Sha, gue serius. Gue nggak ngarang. Sejak kapan sih gue bisa ngarang? Lo inget kan bakat gue ngegambar, bukan ngarang!” Aku berpikir untuk menunjukkan bukti-bukti mimpiku kepada Asha.

Selama ini aku tidak bisa mengeluarkan potongan-potongan gambar yang terus berkelebatan di kepalaku hingga aku terus-terusan menggambar semuanya—termasuk Dearen.

Aku mengambil sketchbook lalu menunjukkan semuanya. Semua gambar yang telah aku buat dua minggu terakhir. Selama mimpi-mimpi itu terus-terusan mendatangi malamku.

Asha mengerutkan keningnya melihat satu persatu gambar di dalam sketchbook milikku. Dia terus membalik satu persatu halaman itu dengan serius.

“Fa, lo emang nggak bakat ngarang.” Asha berkata tanpa mengalihkan pandangan dari scetchbookku.

Aku tersenyum lega, berpikir Asha mempercayaiku. “Benar, kan?”

“Ya, karena lo berbakat jadi komikus. Gambar-gambar ini bakal laku keras kalau lo jadiin komik dan lo kolaborasiin sama cerita lo tadi. Dan, oh liat, cowok ini. Siapa namanya? Dearen? Dia, oh God, mirip Lucas Piazon! Versi lebih ganteng!” Asha menatap gambar laki-laki dengan jaket tebal dan celana panjang serta kaus dan syal yang melingkar diseputar lehernya.

“Sha, please. Gue serius. Gue juga ngerasa kayak pernah ngalamin mimpi itu sendiri. Entah kapan. Tapi… Itu terasa nyata.” Aku mencoba menarik perhatian Asha.

“Udahlah Fa, nggak usah terlalu dipikirin. Gue juga pernah kok ngalamin mimpi yang terasa nyata banget. Itu cuma dejavu. Percaya sama gue.” Asha menenangkanku.

“Tapi… Gimana kalau hal itu emang beneran nyata?” Aku berusaha berkelit lagi.

“Engga mungkin. Kalian bicara bahasa apa di mimpi itu?” Asha menatapku.

Aku berpikir keras. Berusaha mencari jawaban, kemudian tersadar. Dearen tidak pernah menggunakan bahasa Indonesia saat berbicara denganku. Bahasa lain, aku tidak tau bahasa apa, namun aku mengerti. Inggris? Bukan, aku cukup mahir berbahasa Inggris, bahasa yang Dearen ucapkan jelas bukan bahasa itu. Latin? Ah, tidak. Jepang? Tidak mungkin, bukan. Aku menyerah. Bahasa itu tidak ada di dalam otakku. Tapi aku hapal setiap percakapan kami dalam bahasa Indonesia. Aku mengerti. Sungguh. Ah, aku pasti sudah gila. Mungkin Asha benar. Mimpi itu sama sekali tidak nyata. Mungkin hanya sekedar mimpi yang bisa membuatku terkenal dengan menjual ceritanya sebagai komik.

“Iya, mungkin emang ngga nyata Sha. Cuma khayalan gue. Gue bahkan nggak yakin gue waktu itu ngomong bahasa apa.”

Asha mengangguk setuju. Lalu aku melirik jam dinding di kamarku lagi. Jam setengah tiga pagi. Berarti aku terbangun jam dua tadi. Selalu seperti biasanya. Ya, mungkin kebetulan saja. Aku dan Asha memutuskan untuk tidur lagi. Entah kenapa aku kepikiran kalimat Asha. Gue bakal pengen tidur terus pasti supaya cepet tau endingnya.” Ya, aku ingin mengetahui akhir mimpi-mimpiku. Bagaimana nasib Dearen dan Oriza yang sepertinya diperankan olehku?
***

Entah kenapa malam ini aku benar-benar gelisah. Aku tidak bisa tidur dan tidak mengetahui apa sebabnya. Seperti ada sesuatu. Aku takut. Tapi aku ingin cepat tidur. Ini malam ke delapan belas semenjak aku pertama kali mendapat mimpi-mimpi itu. Aku ingin tidur lagi dan kembali bermimpi. Entah kenapa mala mini aku begitu merindukan sosok Dearen di dalam mimpi. Aku tidak bisa berhenti memikirkannya seharian. Aku berusaha berkali-kali memejamkan mataku namun gagal. Aku melirik jam dindingku. Sudah jam 11 malam. Biasanya aku sudah tidur sejak dua jam lalu. Aku memang terbiasa tertidur awal.

Aku bangkit dari tempat tidur lalu menghampiri jendela kamar. Menyibak tirai yang menutupinya lalu menatap langit yang dipenuhi banyak bintang. Malam ini sangat cerah. Lalu tiba-tiba sebuah bintang jatuh melesat cepat. Spontan aku mengucapkan permohonan.

“Aku harap aku bisa bertemu Dearen, aku sangat merindukannya.” Entah kenapa aku tiba-tiba memohon hal itu. Ini diluar kendali pikiranku. Aku menggeleng kuat. Aku pasti sudah gila, merindukan sosok yang tidak pernah benar-benar ada.

Aku melangkahkan kakiku kembali ke tempat tidur. Tiba-tiba saja aku merasa mmengantuk. Aku kembali ke tempat tidurku, lalu beberapa detik kemudian aku sudah terlelap.
***


“Oriza!!! Cepat! Magic eaters tidak akan bisa menggapai kita dibawah cahaya matahari.” Dearen teriak menyemangatiku untuk terus berlari menuju titik cahaya matahari turun menembus pepohonan rimbun yang menutupi seisi hutan membentuk tirai cerah keemasan.

Aku terus berlari sambil menggenggam erat jemari Dearen seakan takut kehilangannya.

“Dearen!” Aku berteriak panik saat tiba-tiba saja Dearen terjatuh dan akar sebuah pohon menariknya.
Aku tetap memegang erat jemari Dearen yang berusaha keras meronta-ronta melepaskan diri dari jeratan akar yang kuketahui pasti dikendalikan oleh Magic eaters. Magic eaters berjalan ke arah kami semakin mendekat.

Aku mau menangis saking takutnya. Magic eaters makin dekat. Dia akhirnya berjarak hanya beberapa meter diantara kami. Dia melayang mengelilingi kami dengan jubbah hitam dan tudung yang menutupi wajahnya. Aku menelan ludah takut.

“Lari Oriza, tinggalkan aku disini. Selamatkan diri.” Dearen berusaha melepaskan genggaman tanganku.

“Tidak. Aku tidak akan meninggalkan kamu. Kita menghadapi ini bersama-sama. Kalau selamat kita harus sama-sama selamat juga. Tapi kalau kamu tidak selamat, maka begitu juga aku.” Suaraku tercekat.
Dearen menggeleng kuat. “Tidak. Lebih baik ada salah satu dari kita yang selamat. Kamu punya kesempatan. Cepat lari.”

“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA,” suara tawa menggelegar Magic eaters terdengar membahana memenuhi sekitarku.

“Para White Magical lemah! Memilih menjadi  Magic keeper dibanding Magic eaters akan menjadi penyesalan dalam hidup kalian. Lihat, kalian bahkan tidak bisa melawanku! Pecundang!” Magic eaters itu berkata dengan suara serak menyeramkannya.

“Setidaknya kami masih memiliki jiwa, tidak sepertimu!” Dearen membantah kalimat Magic eaters itu.

“HAHAHAHAHAHAHA!” Dia tertawa lagi.

“Aku memiliki banyak jiwa bocah ingusan. Aku bahkan bisa memiliki jiwa manapun yang kumau, termasuk jiwamu dan pacarmu yang menyedihkan itu!” Dia membentak aku dan Dearen.

Tapi kemudian kalimatnya seperti menguatkan Dearen. Wajah Dearen berubah optimis. “Dengar, kami Magic Keeper memang hanya memiliki satu jiwa. Tapi hal itu yang membuat kami merasa hidup. Kami memiliki sesuatu untuk dijaga. Bukan untuk dicuri. Kami memiliki sesuatu untuk disyukuri, bukan untuk diacuhkan dan mencari yang lain. Kami memiliki jiwa untuk mencintai dan dicintai. Bukan untuk selamanya hidup sendiri. Bukan dia yang menyedihkan, tetapi kamu! Kamu yang menyedihkan! Makhluk kotor tanpa cinta dan jiwa!” Dearen membentak dengan suara lantang.

“Cukup! Coba kita lihat, apa cinta bisa menyelamatkanmu dari hal ini!” Magic eaters itu mengangkat sebelah tangannya dan mengirimkan abu hitam pekat kearah Dearen yang kemudian melilit dadanya. Dearen terlihat kesakitan dengan hal yang terjadi padanya.

“Dearen!” Airmataku menetes. Aku menangis ketakutan sambil tetap menggenggam tangan Dearen.

“Pergi dari sini Oriza. Aku mencintaimu, dan akan tetap selalu mencintaimu meskipun kamu meninggalkanku.” Dearen terbatuk-batuk mengeluarkan darah saat mengatakannya.

Hatiku teriris. Airmata turun makin deras. Tidak. Dearen tidak boleh merasakan itu.

Aku melepaskan genggaman tangan Dearen lalu bangkit dan berbalik menghadap Magic eaters. Ak memejamkan mataku perlahan dan menarik napas panjang lalu memikirkan segala sesuatu yang indah. Dan aku hanya bisa menemukan satu yang indah. Melihat Dearen bahagia. Melihat dia tertawa dan tersenyum. Mencintainya.

Aku tersenyum lalu mengangkat kedua tanganku mengarah ke Magic eaters dihadapanku. “Ya, cinta bisa menyelamatkan kami!” Aku berteriak seiring dengan keluarnya deburan butir-butir keemasan berkilauan yang menerpa sekujur tubuh Magic eaters dan menyerangnya seperti sekawanan tawon. Aku terus-terusan membayangkan Dearen dan membayangkan betapa aku merindukannya dan mencintainya hingga airmata dengan deras membasahi wajahku. Aku merasa tubuhku seringan kapas dan merasa melayang.

Lalu aku membuka mataku, melihat Dearen terbaring di tanah tanpa diselimuti asap hitam lagi. Dan Magic eaters masih dikelilingi dengan white dust milikku. Aku kembali berkonsentrasi penuh membayangkan seluruh cinta yang kumiliki. Lalu tiba-tiba terdengar teriakan panjang dengan suara serak menyeramkan yang diiringi dengan meleburnya Magic eaters kedalam butiran-butiran putih berkilauan yang mengelilinginya. Aku menang. Kami menang. Aku dan Dearen selamat!

Aku berlari menghampiri Dearen yang terbaring lemah di tanah.

“Dearen. Bertahan. Aku ada disini. Untukmu. Kita berhasil melaluinya. Kamu selamat. Kita selamat.” Aku menangis sambil memeluk Dearen.

“Oriza, terima kasih sudah menyelamatkanku. Ini waktunya mengucapkan selamat tinggal.” Dearen berkata lemah.

“Kenapa? Tapi… Aku kira semuanya sudah selesai. Kita akan bahagia benar kan?” Aku kebingungan.

“Ya, kita akan bahagia. Seperti yang legenda janjikan. Kita akan bahagia sebagai manusia. Kita akan meninggalkan dunia sihir dan pergi ke bumi sebagai orang yang berbeda dan saling tidak mengenal. Kita akan saling melupakan, dan tidak ingat pernah tinggal di dunia ini.” Dearen berkata tersenggal-senggal dipangkuanku.

“Tapi… Kenapa? Aku pikir, maksud dari cinta yang tulus adalah cinta yang akan abadi. Kenapa? Kenapa harus terpisah? Kenapa kita harus saling melupakan?” Aku menangis kesal sekaligus kecewa.

“Karena begitu lah cinta. Saat kamu pikir cintamu sempurna dan akan berakhir abadi, cinta akan pergi. Memaksa untuk saling melupakan untuk mencari jalan agar bisa kembali mengingat dan datang lagi. Melupakan berarti mengingat, Oriza, dan pergi, berarti kembali.” Dearen berusaha meyakinkanku.

“Tapi aku tidak ingin melupakan semua ini. Semua hal yang aku alami bersamamu adalah hal terindah dan paling tidak ingin aku lupakan. Aku mohon, jangan biarkan aku melupakan hal ini.” Aku memohon sambil terus menangis dan menatap Dearen di pangkuanku.

“Tidak akan. Kamu tidak akan melupakan ini. Aku sudah mempelajari sebuah sihir kuno, yang membuatku kehilangan hampir setengah kemampuan sihirku. Kamu akan memimpikan semua kejadian yang kita alami ketika kamu genap berusia 17 tahun sebagai manusia.” Dearen agak tersenggal-senggal saat mengatakannya seperti kehabisan napas.

“Tapi bagaimana aku tau kalau apa yang aku alami adalah nyata? Bagaimana aku bisa tau kalau kamu benar-benar ada? Apa kita akan bertemu lagi? Apa saat menjadi manusia kamu akan tetap mencintaiku? Apa kita akan kembali bersama lagi?” aku meminta penjelasan untuk menghapus keraguanku.

“Kamu akan mengetahuinya saat bangun dan menemukan sebuah tulip merah di samping bantalmu. Itu bukti bahwa mimpimu nyata. Aku memang benar-benar ada. Tapi sayangnya nanti hanya kamu yang bisa mengingat kehidupan kita sebelumnya. Tidak denganku. Tapi tidak begitu dengan cinta. Tidak hanya kamu yang akan masih merasakan cinta itu. Aku pun akan masih merasakannya juga. Karena cinta tidak akan terhapuskan oleh waktu. Tenang saja. Suatu saat nanti saat kita sudah menjadi manusia, aku akan menemukan cara untuk menemukanmu. Aku berjanji, kita akan bersama lagi.” Dearen menjelaskan panjang lebar. Membuat aku menangis makin tersedu-sedu.

Bagaimana bisa hanya aku saja yang mengingat kenangan kita dan dia melupakan dengan begitu mudahnya? Bagaimana bisa dia merasakan cinta itu juga kalau dia sendiri tidak ingat apa saja yang sudah kami lalui? Bagaimana dia bisa menemukan dan kembali padaku kalau ternyata dia benar-benar tidak mengingatku?

Tiba-tiba, cahaya keemasan menyelimuti tubuh Dearen. Kelap-kelip kecil seperti kunang-kunang menutupi tubuhnya. Dearen terangkat dari pangkuanku dan melayang.

“Oriza, percayalah. Meskipun nanti kamu berubah nama, aku tetap akan mengingatmu dan mencintaimu. Tunggu aku kembali. Sampai jumpa lagi.” Dearen menghilang seiring dengan kalimatnya yang selesai dia ucapkan.

Lalu aku melihat tanganku dan sekujur tubuhku yang tiba-tiba dikelilingi dengan kelap-kelip kecil berpendar keemasan seperti kunang-kunang itu juga menyelimutiku. Aku tersenyum getir lalu semakin lama semakin silau dan…

Aku terbangun. Masih terengah-engah dan dengan peluh yang lagi-lagi membanjiri tubuhku. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Tulip! Aku segera bangun dan mencari-cari tulip yang katanya aka nada di samping bantalku. Tapi tidak ada. Aku mengangkat bantalku berharap tulip itu disana tertutup bantal. Tetapi tidak ada.

Aku menghembuskan napas kecewa. Ternyata tidak nyata. Lagipula bagaimana bisa ada tulip nyasar di kamarku? Memangnya kamarku ini ada di Negara kincir angina tempat asal bunga itu?

Sambil mendengus keras aku membanting tubuhku ke atas bantal dan menatap langit-langit. Aku menoleh kearah kanan hendak melihat jam dindingku. Dan… Astaga! Tulip merah! Tidak mungkin.

Aku bangun dan menatap tulip merah yang tadi tidak ada di samping bantalku itu dengan perasaan ngeri sekaligus senang. Tapi perasaan senangku mengalahkan segalanya. Jadi… Semuanya nyata. Dearen?
***


Pagi ini aku bangun dengan wajah dan tubuh yang segar sekali seakan baru saja terlahir kembali. Semalam setelah aku mendapat tulip itu, aku tertidur lelap sekali tanpa mimpi. Itu tidur paling nikmat yang pernah aku rasakan.

“Fa, tumben cerah banget. Ada apa nih?” Sapa Asha saat bertemu denganku di kelas.

“Enggak. Semalem tidur gue nyenyak aja.” Aku tertawa kecil.

“Gara-gara mimpinya indah ya sama Dearen?” Asha menggodaku.

“Iya.” Jawabku sambil tersenyum simpul.

“Yee, dasar.” Asha meninju lenganku.

“Gue yakin Dearen nyata Sha, gue bakal nunggu dia nemuin gue di dunia manusia ini.” Aku berkata serius pada Asha yang disambut dengan tawa geli.

Aku memberengut kesal, lalu Asha menghentikan kalimatnya dan berkata, “Eh, masa katanya ada anak baru pindahan dari luar negri, ganteng banget.”

“Yah, elo mah, lagi ngomongin apa malah ngomongin apa.” Aku mendecak kesal.

“Ya siapa tau lo jadi bisa lupain Dearen setelah liat si anak baru. Kata anak-anak orangnya tinggi, ganteng, putih, mancung, matanya tajem. Euh, tipe lo banget deh. Apalagi kan dikelas ini yang kosong Cuma disebelah lo doang. Pasti dia duduk di sebelah lo.” Asha mengedipkan sebelah matanya kepadaku.

Aku baru hendak mau membantah saat bel berbunyi dan wali kelasku masuk ke kelas bersama seorang laki-laki bertubuh tinggi, kurus, wajahnya…

Aku menoleh ke arah Asha yang menatapku dengan pandangan kaget bercampur takut. Aku menahan napas lalu kembali menatap laki-laki itu yang ternyata sedang menatapku juga.

Lalu guru kami berkata, “Introduce yourself, please.”

“I’m Lawliett. I came from London. It’s my first time live in Indonesia. I’m sorry for not speak Indonesia well. Tolong bantuannya.” Kata anak laki-laki itu dingin, membuatku menahan napas.

“Ya, kami akan dengan senang hati membantumu Lawliett. Well, Lawliett is your nick name. So, what is your full name?”

“Lawliett Dearen, sir.” Jawabnya masih dingin.

Aku merasa tubuhku mematung. Aku sadar Asha sedang menatapku dengan pandangan takut meskipun aku diam mematung menatap si bule anak baru itu, yang menurut mimpiku adalah belahan jiwaku yang sempat terpisah selama 17 tahun hitungan manusia.

Mataku masih terus mengawasinya saat wali kelasku menyuruhnya duduk disebelahku dan dia berjalan ke kursiku sambil menatapku bingung karena aku tidak berhenti menatapnya, bahkan sampai dia sampai disebelah kursiku dan bertanya, “Are you okay?”

Kepalaku terasa berputar hebat. Kemudian semuanya gelap. Ah, Dearen pasti menganggapku aneh. Pertemuan pertama saja aku sudah bertingkah di depan Dearen. Bagaimana dia bisa mencintai perempuan aneh sepertiku? Oh, lebih tepatnya di depan Lawliett. 

Akankah Lawliett mencintaiku sebagai Ifa seperti dulu Dearen mencintaiku sebagai Oriza? Ah, lihat nanti saja. Penasaran? Nanti kapan-kapan kuceritakan kalian kisah anehku yang lainnya!

0 komentar:

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos