Saturday, March 16, 2013

Cerpen - Kamu dan Ketakutanku

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 08:02
Reaksi: 
Holaaa para pembaca setia blog gue. *emang ada?* -_-
Hehe, cukup lama juga ya gue nggak ngepost. Banyak kendala nih. Hahahahaha bohong nih Bani, padahal nggak pernah sibuk. Gue sekarang lagi sibuk-sibuknya nulis padahal, lagi produktif banget:-)
Tapi sayangnya buat lomba semua, jadi belum ada yang dimasukin ke blog.

Nah, buat yang satu ini gue bakalan ngepost cerpen. Cerpen ini sebenernya buat lomba, tapi berhubung gue udah kalah jadi kayaknya daripada mubazir gak ada yang baca gue post disini aja.
Okay, happy reading readers,

Check this out...





If you ever find yourself stuck in the middle of the sea, I'll sail the world to find you.
If you ever find yourself lost in the dark and you can't see, I'll be the light to guide you.
What we are called to help our friends in need

27 Januari 2010
“Aku, kamu, kita, pernah begitu hangat mengalahkan sinar mentari. Aku, kamu, kita, pernah tertawa lepas tanpa beban sama sekali. Aku, kamu, kita, pernah berharap menjadi kupu-kupu dan terbang bersama. Aku, kamu, kita, pernah menertawakan kebodohan yang telah aku ataupun kamu buat tanpa tersinggung. Dan aku selalu berjanji pada diriku sendiri untuk selalu menemanimu dalam keadaan apapun, karena kamu sahabatku.”

Aku terus memandang ke arah gerbang menunggu Ibuku menjemput. Ini tidak biasanya, aku sudah pulang sejak jam setengah dua tadi dan sampai sekarang-jam empat-Ibuku belum datang juga. Ponsel ditanganku terus kupandangi menunggu Ibu menelepon memberi kabar atau semacamnya. Ini salahku, karena aku lupa membeli pulsa, sedangkan uang saku yang aku bawa sudah habis. Sekarang aku jadi tidak bisa menghubungi Ibu.

Tiba-tiba ponsel ditanganku berbunyi, aku merasa lega. Tanpa melihat siapa peneleponnya aku langsung menjawab.

“Halo?” sapaku dengan sangat semangat.

“Wah, seneng banget nih kayaknya. Tumben, ada apa nih?” sahut suara ditelepon.

Aku menghela napas kecewa menyadari bukan Ibuku yang menelepon. Ini suara yang sudah saaaaangat aku kenali. Sahabatku, Resca. Tapi aku jadi mendapat ide dengan ini.

“Seneng darimananya Res? Gue kira tadi ini tuh nyokap. Ternyata lo. Kenapa nelpon? Pasti mau ngajak main. Tapi sekarang mendingan lo bantuin gue dulu deh.” cecarku dengan agak tidak sabar.

“Wes, wes, ngebut amat ngomongnya? Bantuin apa?” jawab sahabatku itu tanpa membantah.

“Telepon nyokap gue dong, tanya dimana, gue belum di jemput. Kalau dia emang nggak bisa jemput bilangin gue nanti naik angkot.” jawabku cepat.

“Oh, gitu doang? Oke deh. Jadi lo masih di sekolah?” Resca tampaknya setuju membantuku.

“Iya, cepet ya. Thank you Resca ganteng.” Kataku sambil tersenyum geli.

“Dasar, muji kalau ada maunya doang. Iya, iya. Wait ya, call you soon.” Jawab anak laki-laki yang terpaut setahun lebih tua dariku itu.

Aku memandang ponsel ditanganku, wallpaper yang aku pakai adalah foto berdua aku dan Resca. Memandang foto itu selalu bisa membuatku tersenyum. Resca, satu-satunya sahabat laki-laki yang aku punya. Aku ini pemalu, apalagi dengan laki-laki. Mungkin karena di rumah hanya ada Ayah sebagai figur seorang laki-laki, jadi aku sering kebingungan bagaimana harus bersikap di depan laki-laki. Tapi kalau Resca beda ceritanya, dia itu terlalu ramah.

Aku mengenal Resca di tempat les vocal. Gedung les tempat aku biasa latihan tidak hanya melatih vocal, tapi juga alat musik. Salah satu muridnya yang lain adalah Resca. Resca mengambil les bass. Dan pertama kali aku mengenalnya adalah di kantin saat break latihan. Waktu itu aku masih kelas 5 SD, dan Resca kelas 6.

Awalnya, aku curi-curi pandang ke arah Resca. Karena jujur saja aku akui Resca itu ganteng. Dan yaaa kebetulan aku juga sedang memasuki masa puber, awalnya aku pikir aku menyukai Resca. Tapi, aku hanya berani menatap dari jauh. Memperhatikan dia saat sedang break. Aku sering bersyukur jadwal lesku dan dia bersamaan. Resca memiliki tubuh yang jangkung, kulitnya putih, wajahnya seperti kebule-bulean. Aku senang memandanginya. Dan aku senang melihat senyumnya.

Sampai suatu saat Resca tiba-tiba menghampiriku. Dia duduk di depanku, dan memperkenalkan dirinya. Dia benar-benar orang percaya diri yang aku kenal. Dia berhasil membuat aku malu setengah mati karena dengan langsung dia mengatakan kalau dia selalu memperhatikan aku yang sering mencuri-curi pandang ke arahnya. Aku rasanya mau menangis saking malunya. Tapi ternyata di luar itu, Resca baik. Sangat baik malah. Dia selalu ada untukku selama empat tahun terakhir.

Ya, tanpa terasa waktu berjalan dan sekarang aku sudah duduk di kelas 9, sedangkan Resca kelas 10. Dan meskipun sering bertengkar karena hal sepele, kita masih bersahabat. Setiap pertengkaran yang kita berdua lalui pasti akan berakhir tertawa bersama.

Ahh, aku benar-benar merindukannya sekarang, sudah dua minggu terakhir kita tidak main bersama karena aku mulai sibuk untuk mempersiapkan ujian kelulusan SMP.

Drttt... Drttt... Drttt...

Getaran handphone di tanganku berhasil menyadarkanku dari lamunan beberapa tahun yang lalu.

Resca!

“Hai miss ulat, sudah kutelpon Ibu kau.” Kata Resca dengan suara dibuat-buat dengan logat batak. “Katanya dia udah sms lo, bilang nggak bisa jemput soalnya harus ke kantor bokap lo nganterin apa gitu. Emang nggak nyampe smsnya?” lanjut Resca.

Aku menghembuskan napas kesal, “Enggak, mungkin pending. Operator sering gitu nih. Ya udah thanks ya. Udah dulu, gue mau cari angkot.”

“Eittt, eittt, tunggu dulu.” Seru Resca.

“Apalagi?” Tanyaku mulai badmood.

“Gue jemput aja, oke? Wait, ten minutes.” Resca segera memutuskan sambungannya, sedangkan aku hanya bisa bengong memandangi layar handphone. Tapi juga senang karena setidaknya aku tidak perlu capek naik angkot.

Bukan mengantarku pulang, Resca malah membawaku ke restoran pasta favoritku. Aku ini penggila pasta, apalagi fusili dan spagetti. Letak restoran ini dengan rumahku cukup jauh. Dan Resca cukup gila karena membawaku ke tempat sejauh ini padahal dia masih dibawah umur dan belum memiliki SIM.

“Abis ini ke danau yuk.” Kata Resca sambil menggulung spagettinya dengan garpu.

“Ngapain? Udah malem tau.” Jawabku sambil memandang ke jendela yang menampakkan gelapnya langit.

“Bosen banget nih di rumah. Ayo lah, lagian kan besok Sabtu, pulang malem sekali-sekali engga apa-apa lah.” bujuk Resca.
“Tapi besok gue ada pendalaman materi di sekolah.” Aku masih berusaha menolak walaupun setengah hatiku ingin juga pergi ke danau bersama Resca. Danau itu tidak jauh dari rumah kami berdua, kalau pagi banyak kumbang, kalau malam banyak kunang-kunang. Ya, memang aku belum pernah kesana pada malam hari, tapi setidaknya itu yang Resca katakan padaku. Aku belum pernah melihat kunang-kunang, dan aku ingin sekali melihatnya, tapi kunang-kunang hanya bersinar saat gelap dan aku tidak suka gelap.

“Jam delapan kan kayak biasa? Janji deh, nanti pulangnya nggak lebih dari jam 9 malam. Gimana?”

“Tapi ini udah gelap, danau pasti gelap banget. Cuma ada satu lampu taman disana, itu juga cuma di samping kursi taman. Lo tau kan gue nggak suka gelap?”

“I won't give up you know? Gue bawa senter. Nih.” Resca mengacungkan handphonenya yang memiliki fitur senter sambil cengengesan.

“Cuma liat kunang-kunang terus pulang ya?” Aku akhirnya menyerah. Resca hanya membalas dengan sebuah senyum dan anggukan semangat.

Benar dugaanku, danau ini benar-benar sepi dan gelap. Resca memarkirkan motornya di pinggir trotoar pembatas jalan dan taman danau. Aku memegang ujung kaos Resca dengan erat. Tempat ini terlalu gelap dan aku benci gelap.

“Raya, lepasin baju gue dong. Melar nih kalau lo tarikin terus.” Resca mengeluh kesal.

“Ini gelap banget, gue takut. Pulang aja yuk.” Bujukku sambil menarik-narik bajunya seperti anak kecil.

Bukannya menanggapi bujukanku, dia malah mengeluarkan handphonenya dan memberikannya padaku,“Ini, pegang.”

Aku sedikit melonggarkan peganganku pada baju Resca, sambil masih tetap sedikit gemetar memegang handphonenya. Aku mengikutinya berjalan menuju pinggir danau, lalu dia duduk diatas rumput-rumput.

“Kalau jam segini kunang-kunangnya belum pada muncul.” katanya sambil melirik jam tangan hitam dilengannya yang menunjukkan pukul 7.

“Terus jam berapa?” Aku berharap sebentar lagi.

“10. Waktu itu sih gue liat jam segitu.”

“Malem banget!!! Ah, ya udah nggak jadi liat kunang-kunangnya, pulang aja!” Aku kesal merasa dipermainkan.

“Hhhh, dasar nggak sabaran. Ya udah, tunggu disini sebentar. Gue mau ambil sesuatu disana.” Kata Resca sambil menunjuk sebuah pohon besar 20 meter dari tempat kami duduk.

“Ikut... Takut Res...” Aku menahannya.

“Pengecut, ya udah deh ayo.”

Resca mengambil sebuah toples di bawah pohon itu. Toples berisi beberapa serangga. Aku mengarahkan senter handphone Resca ke serangga-serangga itu. Namun tiba-tiba senter itu mati. Sial! Baterai handphone Resca ternyata habis. Aku segera menutup mata dan memeluk lengan Resca saking ketakutannya.

“Res! Ayo pulang ih, ini gelap banget kan? Aduh, ayo ah, batere hp lo abis tuh.” kataku sambil tetap menutup mata.

“Iya lah gelap, orang lo tutup mata gitu. Buka mata makanya.” Resca membujukku.

“Engga mau, gelap.” Aku hampir menangis saat mengatakannya.

“Raya, ada beberapa hal yang cuma bisa dilihat saat gelap. Coba sekarang buka mata lo, gue janji nggak akan ada hal buruk yang terjadi sama lo.”

Aku perlahan-lahan membuka mataku. Dan ketika mataku terbuka aku mengerjapkannya berkali-kali. Aku melihat tangan Resca mengeluarkan cahaya. Ah, salah! Itu bukan tangan Resca, itu toples berisikan kunang-kunang!

“Liat, indah kan? Mereka nggak akan bercahaya kalau lo senterin kayak tadi gitu.” Resca memberikan toples itu padaku.

“Cahaya paling indah adalah cahaya yang muncul dari dalam kegelapan Ray. Cahaya yang memiliki caranya sendiri untuk bercahaya. Dan sebenarnya, dunia nggak pernah segelap yang lo takutin. Coba liat ke atas, langit lagi cerah banget. Ada bulan, bintangnya juga banyak. Mereka cuma bisa bercahaya kalau hari udah gelap kan?”

“Itu buat lo, simpen ya. Tapi janji, tidurnya nanti di kamar di gelapin. Kan ada kunang-kunang yang nemenin.” Resca tersenyum menatapku yang masih terpesona dengan toples bercahaya ini.
*****

You can count on me like one two three, I'll be there.
And I know when I need it I can count on you like four three two, and you'll be there.
Cause that's what friends are supposed to do.

9 Juni 2011
“Celotehan canda tawa yang kamu keluarkan selalu mencerahkan hariku. Keluh kesah yang kamu berikan selalu mengajariku tidak ada manusia yang sempurna. Ketakutan yang kamu utarakan membuatku menyadari kehidupan.”

“Raya! Ada di rumah nggak?! Gue kesana ya? Ada yang mau gue kenalin!” seru Resca semangat dari ujung telepon.

“Ada kok, ada. Siapa? Cewek apa cowok nih?” jawabku sambil mengunyah biskuit cokelat.

“Cewek, gebetan baru.” jawabnya sambil setengah berbisik.

Aku tertawa mendengar kalimatnya. Resca itu aneh, kalau orang lain mengenalkan calon pacarnya kepada ibu mereka, sedangkan dia mengenalkan calon pacarnya kepadaku untuk dinilai baik atau tidak. Tapi aku menghargai caranya. Setidaknya dia membuatku merasa bahwa aku orang yang dapat dipercaya dan diandalkan.

Setengah jam kemudian Resca sampai di rumahku. Dia naik motor satria birunya dengan seorang gadis kurus, tinggi, putih, berambut panjang lurus, hidungnya mancung. Replika seorang barbie.

Aku langsung tersenyum kepada mereka berdua saat membukakan pagar. Dari sekilas lihat saja aku sudah menyukai gadis ini. Wajahnya ramah, bersahabat. Tidak seperti gadis yang beberapa bulan lalu Resca bawa juga kepadaku, gadis sombong yang memandangku aneh.

“Ray, kenalin ini Andrea. Re, ini Raya.” Resca mengenalkanku dengan gadis itu.

Gadis itu langsung mengulurkan tangannya kepadaku sambil tersenyum manis, “Panggil aja Rea.” Aku menyambut uluran tangannya dan ikut tersenyum, “Raya.”

Lalu aku mempersilahkan mereka duduk, dan mengambil minuman dan cemilan untuk mereka.

Kami bertiga sempat mengobrol lama. Tidak terasa sudah tiga jam kami mengobrol. Karena hari sudah mulai gelap, Resca memutuskan pulang untuk mengantar Rea. Aku mengiringi mereka sampai ke depan pagar.

Rea mencium pipi kiri dan kananku lalu memelukku. “Seneng banget deh bisa kenalan sama kamu Raya, aku selalu pengen punya adek perempuan.”

Aku tersenyum senang lalu membalas memeluknya, “Iya Kak, aku juga seneng. Kapan-kapan main lagi ya.”

Mereka akhirnya pulang. Aku memeperhatikan motor Resca yang melaju di jalan sampai hilang dari pandangan di belokan pertama. Aku senang Resca menemukan gadis sebaik Kak Rea.

Setengah jam kemudian aku sedang mengetik di laptop saat tiba-tiba handphoneku berdering.

“Halo,” sapaku tanpa melihat siapa yang menelepon.

“Ray, gimana Rea baik nggak?” tanya Resca.

Aku menghela napas sejenak lalu menghentikan aktifitas mengetikku. Aku tau Resca sedang ingin serius membahas perasaannya. Aku mengutarakan semua yang aku rasakan pada gadis yang Resca bawa ke rumahku tadi sore. Dan membuat Resca akhirnya tertawa lega. Dia berencana mengutarakan perasaannya pada gadis itu secepatnya.
*****

10 Juni 2011
Hari ini Minggu, dan aku benar-benar bosan sampai mau mati rasanya. Aku menendang-nendang air di kakiku sambil memperhatikan ikan-ikan yang berenang di kolam ikan halamanku. Perutku melilit sejadi-jadinya. Moodku sedang sangat buruk hari ini. Aku butuh seorang penghibur segera!

Aku memencet tombol satu agak lama, lalu terdengar bunyi nada tunggu beberapa saat dan seseorang langsung mengangkatnya, “Halo, kenapa Ray?”

“Res, gue pendarahan!” Kataku cepat.

“Hah? Lo dimana? Trus enggak apa-apa?” Resca terdengar panik.

Aku mematikan sambungan. Lalu membiarkan handphoneku tergeletak disampingku.

Sepuluh menit kemudian Resca datang ke rumahku sambil berlari panik menghampiriku yang sedang duduk dipinggir kolam sambil mendengarkan ipod.

“Ray! Lo kenapa? Pendarahan mananya? Lo gimana sekarang? Apa yang sakit?” serbu Resca dengan serentetan pertanyaan panik.

“Enggak apa-apa kok. Emang gue kenapa?” Aku memandangnya dengan wajah tak bersalah.

Resca duduk di sampingku dan menatap lekat wajahku lalu menempelkan punggung tangannya di dahiku. “Tadi katanya pendarahan?” Resca menatapku bingung.

“Ohh, itu!” Aku tertawa tertahan. “Gue dapet doang kok. Maklum namanya lagi dapet gue bete, kita jalan yuk, main.” Lalu aku memandang wajah Resca yang terlihat lemas.

“Ya ampun kirain gue lo kenapa-kenapa. Gue sampe panik tau nggak.” Bahu Resca luruh ke tiang disebelahnya.

“Dan asal lo tau, gue tadi baru aja mau nembak Rea, dan nggak jadi gara-gara lo.” Resca memandang putus asa ke arah kolam ikan.

Aku menoleh kearahnya lalu meringis, “Hehe, sorry nggak tau.”

Resca mengedikkan bahunya lalu berkata, “Ya udah ayo main, mau kemana?”

Aku tersenyum lebar. Aku benar-benar beruntung memilikinya sebagai sahabat. Dia selalu ada untukku.
*****

You'll always have my shoulder when you cry.
I'll never let go, never say goodbye.

24 Mei 2012
“Kamu adalah pembunuh ketakutanku, dan pencipta ketakutan yang lain. Aku memilikimu sebagai sahabatku, jadi tidak ada lagi yang perlu aku takuti. Tapi kamu juga yang menciptakan ketakutan bahwa  mungkin waktu akan berlalu dan membawamu pergi jauh dariku.”

Aku menatap handphoneku, ini tidak biasanya. Sudah lima kali aku menelepon Resca, dan dia sama sekali tidak menjawabnya. Padahal aku hanya ingin menanyakan kelulusannya.

Hari ini pengumuman kelulusan SMA Resca. Aku ikut harap-harap cemas takut sahabatku yang satu itu tidak bahagia dengan hasil yang di dapatkannya. Makanya saat ini aku berusaha menghubunginya untuk menanyakan kabar ini. Kecemasanku berubah menjadi kepanikan saat aku memandang jam dinding ini sudah pukul lima sore, dan Resca masih tetap mengabaikan teleponku.

Aku bergegas mengenakan jaket dan mengambil kunci motor, hendak pergi ke rumah Resca, aku takut sesuatu terjadi padanya. Namun baru mau menyalakan motor, aku mendengar suara mesin motor Resca.

Aku segera melompat turun dari motor dan membukakan pagar.

Resca terlihat kacau setelah membuka helmnya, wajahnya kusut tanpa senyuman tidak seperti biasanya. Aku memandangnya was-was. Rasanya perih melihat sahabatku yang selalu ceria tiba-tiba berwajah murung seperti itu.

“Res, lo nggak apa-apa? Gimana hasil kelulusannya?” tanyaku hati-hati.

Resca menggeleng dan melewatiku masuk ke halaman rumahku lalu duduk di pinggir kolam ikan.

“Lo lulus kan?” tanyaku pelan yang dijawab dengan anggukan pelan dari Resca.

Aku menghembuskan napas lega. “Trus lo kenapa sedih gitu? Nilai lo kurang bagus? Ya udahlah nggak apa-apa. Yang penting lo lulus.” kataku menenangkan.

Resca hanya menggeleng lagi. Membuatku semakin bingung.

“Lo kenapa sih? Kalau ada masalah cerita dong.” kataku sambil memandangnya lekat.

“Ray, lima tahun ke depan kita nggak mungkin bisa kayak gini lagi.” Resca membuka suara pelan.

Aku hanya menatapnya bingung, menunggu dia mengatakan kalimat selanjutnya.

“Gue keterima di Massachusetts Institute Of Technology. Gue bakal tinggal di Boston sampe gue lulus. Minggu depan gue pergi.” Resca balas menatapku sambil menelan ludah.

Aku mundur sedikit, menegakkan kepalaku lalu berusaha perlahan-lahan mencerna kalimat Resca.

“Lo tetep jadi sahabat gue kan walaupun gue sejauh itu?” tanya Resca tanpa melepaskan tatapannya dariku.

Aku tidak tau sejak kapan airmata itu muncul, tapi tiba-tiba dia sudah menetes meluncur turun melewati pipi kiriku.

“Kenapa mendadak banget?”

“Sebenernya ini udah dari lama, gue ikut tesnya secara online sekitar enam bulan yang lalu. Ini keinginan orang tua gue. Gue sendiri nggak yakin gue bisa keterima. Tapi ternyata gue lolos. Gue keterima. Dan gue resmi mahasiswa Massachusetts setelah kelulusan tadi. Gue bukannya nggak mau kasih tau lo. Cuma gue rasa kayanya memalukan banget kalau gue harus kasih tau tes yang gue sendiri ragu ngejalaninnya. Gue malu kalau gue udah bilang ikut tes itu ternyata gue nggak lolos.” Terang Resca panjang lebar.

“Tapi kenyataannya lo lolos. Lo keterima. Dan lo tetep masih nggak kasih tau gue. Dan sekarang giliran lo udah mau pergi lo baru ngomong hal ini. Apa ini yang dinamain sahabat? Bukannya persahabatan itu hubungan tulus tanpa ada yang ditutup-tutupin?” Emosiku naik, air mata meluncur makin deras dari kedua mataku. Aku tidak tau yang mana yang membuatku menangis. Entah berita kepergian Resca, atau perasaan dibohongi selama enam bulan terakhir ini.

“Gue cuma nggak mau nyakitin lo. Tapi gue janji kita masih sahabatan setelah itu. Masih ada skype, twitter, facebook, email, lo masih boleh curhat sama gue. Lo masih boleh nelfon gue tengah malem kalau lo nggak bisa tidur. Walaupun mungkin satu hal yang udah nggak bisa gue lakuin, ngehapus air mata lo kayak sekarang.” Resca menyeka air mata dipipiku.

Aku menangis makin tersedu-sedu, dan dia, sahabatku, Resca, sekaligus laki-laki yang sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri itu memelukku erat, kali ini bukan kehangatan seperti biasa yang aku rasakan. Aku merasa jauh, dan dingin. Hampa sekali rasanya. Aku melepaskan pelukannya. Masuk ke dalam rumah, mengunci pintu dan meninggalkannya di luar yang masih termenung dengan kelakuanku. Aku hanya butuh waktu, satu-satunya sahabatku akan pergi jauh meninggalkanku. Dan aku hanya bisa menangis karena rasanya perasaan ini terlalu rumit.
*****

Hari ini tepat seminggu setelah Resca memberitahukan kepergiannya. Berarti hari ini adalah hari yang ditentukan untuknya untuk terbang ke Boston. Aku masih tidak membalas pesannya, ataupun mengangkat teleponnya. Aku tidak pernah mau keluar kamar saat dia berusaha menemuiku di rumah.

Tadi pagi Resca mengirim SMS perpisahan. Dan aku belum berani membukanya, aku terlalu lelah menangis. Dan aku yakin, membaca pesannya akan membuat aku menangis lagi. Biar nanti saja, saat aku sudah siap, saat aku sudah bisa menerima kenyataan bahwa sahabat terbaikku akan mulai menjalani kehidupannya tanpa aku berdiri disampingnya.

Tiba-tiba teleponku berdering. Sebuah panggilan masuk dari Mama Resca, Tante Cindy. Dengan ragu aku mengangkat telepon itu.

Suara seorang wanita sedang tersedu-sedu terdengar seberang telepon, perasaanku tiba-tiba berubah nyeri, “Raya, Resca...”

“Kenapa Tante? Resca udah take off ke Boston? Maaf ya aku nggak ikut nganter.”

“Resca kecelakaan.”

Deg! Tiba-tiba jantungku serasa berhenti berdetak. Sekujur tubuhku lemas. Aku jatuh merosot di tembok yang aku sandari. Aku menangis lagi.

Sekarang aku sudah berada di sebuah rumah sakit, aku lupa bagaimana aku bisa sampai disini. Seingatku, tadi saat aku jatuh, Ayahku melihatku dan mengambil handphone di tanganku.

Aku berjalan melalui lorang-lorong sepi berbau khas obat. Pikiranku kosong. Air mata terus meluncur deras dari kedua mataku. Lalu langkahku terhenti di depan sebuah ruangan bertuliskan ICU. Kedua orang tua Resca beserta kedua Kakaknya berada di depan ruangan itu. Aku melangkah melewati mereka yang memandangku, aku berhenti sejenak dan menoleh ke arah kakak perempuan Resca yang menangguk ke arahku sebelum aku memasuki ruangan itu.

Resca terbaring lemah disana. Dengan belasan selang dan kabel menempel dibadannya. Aku perlahan menghampirinya dan memegang tangannya. Dingin.

Tiba-tiba kakak perempuan Resca sudah berada di belakangku dan menepuk bahuku, “Taksi yang dia naiki remnya blong. Padahal dia hanya mau kembali lagi dari bandara menuju rumah kamu. Ada barang yang lupa dia berikan.” Kakak perempuannya itu memberikanku sebuah plastik berisi sticker dinding yang bisa menyala dikegelapan.

Aku memandangnya lemah lalu menggenggam tangan Resca, setetes airmataku jatuh, “Maafin gue, Res. Maafin gue egois. Gue, cuma terlalu sayang sama lo, dan takut kehilangan lo.”

Mata Resca yang tertutup meneteskan air, dia menangis. Lalu tiba-tiba alat pendeteksi jantung disebelahnya berbunyi nyaring dan garis naik turun yang tadinya ditampilkan kini berubah jadi garis lurus. Orang-orang berpakaian putih berbondong-bondong masuk, dan kemudian duniaku gelap.

Saat aku membuka mata, tanganku sudah ditempeli jarum infus dan kedua orang tuaku berdiri di sampingku. Aku berusaha mengingat apa yang terjadi. Kemudian mataku panas. Dan aku berharap, aku tidak ingat apa-apa lagi.

Aku teringat sesuatu, pesan Resca untukku. SMS yang belum sempat aku buka. Aku meminta handphoneku kepada Ibuku. Perlahan aku membuka kuncinya dan menampilkan pesan masuk itu.

From: Resca (0813xxxxxxxx)
Gue on the way ke rumah lo dari bandara. Gue nggak peduli ketinggalan pesawat. Yang penting ada yang harus gue kasih buat lo. Gue nggak peduli lo mau masih marah atau enggak. Yang penting gue mau ketemu lo buat yang terakhir kalinya. Yang harus lo tau, gue nggak pernah pergi dari lo, gue nggak akan pernah ngucapin selamat tinggal karena suatu saat kita akan ketemu lagi. So, see you later.

Aku hanya termenung, sepertinya air mataku sudah habis. Resca, dia bohong. Dia pergi benar-benar untuk selamanya.

Aku bangkit, dan melihat sebungkus plastik berisi sticker bulan dan bintang lalu membukanya dan menemukan sebuah surat pendek dari Resca.

“Jangan takut akan gelap, gelap meliindungi kita dari ketakutan yang tidak ingin kita lihat dan menunjukkan cahaya yang kita rindukan.”

Aku tersenyum getir, lalu menempel semua sticker itu di dinding kamarku dan berjalan menuju saklar untuk mematikan lampu.

Aku tersenyum sempurna. Kamarku, tidak akan pernah gelap lagi.

Aku menoleh ke arah jendela, menatap langit yang agak mendung namun menyisakan satu bintang. Aku percaya bintang itu yang akan menemaniku malam ini. Bintang itu, Resca sahabatku.

0 komentar:

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos