Monday, March 18, 2013

Cerbung - Will It Be Us Part 17

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 20:57
Reaksi: 
 Rio mencari Clara dengan emosi, ia tau ini semua pasti ulahnya. Clara tidak ditemukan dimanapun. Rio justru bertemu David.

“Mana Clara?” tanya Rio masih emosi.

“Nggak masuk kayanya, kenapa?” tanya David bingung dengan Rio yang tiba-tiba marah-marah.

“Lo tau username email yang pake nama darkangel66? Itu Clara kan?” kata Rio dengan suara tinggi. David hanya mengerutkan keningnya bingung.

“Itu punya gue, kenapa?” tanya David tidak mengerti.


“Sialan lo,” Rio mengumpat kesal lalu menonjok David berkali-kali. David yang tidak tau apa-apa mendorong Rio menjauh, tapi karena Rio masih memukulinya akhirnya ia membalas dan terjadilah perkelahian antara mereka yang di tonton banyak murid. Mereka berhenti saat seorang penjaga sekolah datang melerai.

“Lo kan yang ngirim foto-foto itu ke cewek gue? Mau lo apa sih?” Rio berteriak kesal ke arah David saat dipegangi penjaga sekolah.

“Ngirim apaan? Gue aja nggak tau apa-apa. Gila lo.” David berusaha membela diri.

“Nggak ngaku lagi!” Rio meronta-ronta dalam pegangan si penjaga sekolah berusaha memukul David lagi.
Akhirnya mereka dibawa ke ruang kepala sekolah untuk ditindak lanjuti. Orang tua Rio dan David dipanggil. Mereka di skors seminggu karena membuat onar sekolah.

David berusaha menghampiri Rio yang akan naik ke mobilnya.

“Yo, maksud lo apaan sih? Demi Tuhan gue nggak ngerti. Ini semua pasti salah paham.” David berusaha meluruskan.

“Ini,” Rio menunjukkan foto-foto yang Anya kirimkan.

“Ada yang ngirimin foto-foto ini ke Anya dengan username email darkangel66. Dan lo ngaku kalau itu lo.” Rio agak tenang kali ini.

“Tapi gue nggak tau apa-apa sumpah Demi Tuhan.” David bersumpah.

“Ada orang yang tau password lo selain elo mungkin?” tanya Rio menyelidik.

 “Ada,” jawab David teringat seseorang.

“Siapa?” tanya Rio.

“Clara,” jawab David singkat. Mereka berdua tau sekarang siapa biang kerok masalah ini.

Rio meminta maaf pada  David, lalu mengemudi mobilnya dengan cepat menuju rumah Clara.

Rio memencet bel beberapa kali dengan tidak sabar, lalu keluar seorang pembantu rumah tanggan berkulit hitam dengan seragam pembantu. Rio mengatakan bahwa ia temannya Clara dan ingin bertemu Clara. Wanita negro itu mempersilahkannya masuk dan menunggu di ruang tamu.

Clara keluar, menghampiri Rio. Rio sempat tidak mengenali gadis yang keluar mengenakan terusan warna putih selutut itu adalah Clara. Semua anting-anting di telinga, hidung, pelipis mata maupun bibirnya yang biasa menghiasi tidak ada. Rambutnya yang biasa terurai panjang begitu saja diikat kebelakang dengan pita. Hanya kukunya saja yang masih terlihat dikutek hitam.

Rio terpana melihat Clara yang lain. Sampai tidak menyadari bahwa Clara sudah duduk di depannya.

“Nggak usah terpukau gitu ngeliat gue. Gue kalau di rumah ya gini. Bisa digorok gue kalau pake baju-baju gue biasa buat ke sekolah.” Kata Clara cuek.

“Lo mau ngapain kesini?” lanjut Clara.

Rio tersadar dari lamunannya, lalu berkata, “Gue...” Baru mau marah sayup-sayup terdengar suara memanggil Clara. Lalu muncul seorang wanita tua di atas kursi roda, wanita yang sakit-sakitan kelihatannya. Clara menghampiri wanita tua itu.

“Nenek kok keluar kamar? Kan nenek lagi sakit, yuk masuk lagi tiduran aja. Clara cuma sebentar kok.” Kata Clara pada wanita tua itu.

“Nenek mau ketemu temen kamu, kata Searen laki-laki ganteng. Pacar kamu ya?” Wanita tua itu bertanya sambil batuk-batuk.

“Bukan Nek, itu Rio, temen baru aku. Dia baru disini, dari Indonesia nek sama kayak kita.” Jawab Clara sabar.

“Oh ya? Kalau gitu nenek mau ngobrol.” Kata Neneknya meminta didorong menuju kursi di dekat Rio.

 Clara dengan sabar menuruti keinginan Neneknya, walaupun ia sebenarnya segan.

“Kok temen kamu nggak dikasih minum? Bikin minum dulu sana sayang.” Kata Neneknya menyuruh Clara.

“Iya nek, bentar ya Yo.” Clara melangkah menuju dapur.

“Kamu dari Indonesia juga?” tanya Nenek Clara ramah.

“Iya Nek, dari Jakarta, baru aja 4 bulan disini.” Jawab Rio.

“Wah, saudara sekampung halaman. Kamu pacarnya Clara?” tanya Nenek Clara blak-blakan.

“Bukan Nek, saya temennya.” Jawab Rio jujur.

“Ohh Nenek kirain pacar. Abisnya selama ini Clara nggak pernah bawa temen kesini, pacar apalagi. Dia agak tertutup kalau Nenek tanya soal sekolahnya. Padahal Clara cantik, tapi Nenek bingung kenapa belum punya pacar juga. Clara gimana kalau di sekolah?”

Rio terdiam, memilih kata yang pas untuk dikatakan, “Clara juga cenderung tertutup di sekolah Nek. Tapi, agak keras kepala.”

“Iya, memang anak itu keras, dia kalau sudah mau sesuatu, apapun caranya akan ia lakukan demi mendapatkan hal itu. Kasihan tapi dia, disini dia agak tertekan, kedua orang tuanya sangat berharap dari Clara, dia selalu ditekan untuk menjadi yang terbaik. Tapi dia hebat, dia selalu bisa menyembunyikan air matanya. Tapi walaupun keras kepala begitu Clara itu anak baik, dia tulus kalau sudah menyayangi seseorang. Contohnya Nenek nih, lagi sakit seperti ini cuma Clara yang urus. Nenek agak demam sedikit aja Clara sampai bela-belain tidak masuk sekolah. Dia yang ngerawat Nenek dari pagi.” Kata Nenek Clara panjang lebar.

Rio terdiam, seketika niatnya untuk memaki-maki Clara musnah. Ia merasa iba sekaligus kagum dengan gadis itu. Rio sadar gadis itu hanya butuh kasih sayang dari orang yang dia sayang juga, yaitu Gio, tapi caranya salah untuk mendapatkannya. Clara lalu muncul membawakan nampan berisi secangkir teh.

“Makasih.” Kata Rio saat Clara menaruh cangkir itu di depannya.

“Nenek masuk dulu yuk, kelamaan duduk nanti sakit lagi. Kata dokter tadi pagi kan Nenek harus banyak tidur.” Bujuk Clara.

“Ya sudah Nenek tidur.” Neneknya akhirnya mengalah.

Setelah mengantar Neneknya ke kamar Clara kembali menghampiri Rio.

“Jadi kenapa lo kesini?” tanya Clara.

“Kalau lo sayang sama seseorang, dan pengen orang itu sayang juga sama lo, bukan kayak gini caranya Clar. Bukan dengan ngehancurin hubungan gue sama Anya dan buat Sally deket sama gue supaya lo punya kesempatan. Cara lo 100% salah.” Kata Rio datar.

“Jadi lo udah tau? Kok lo nggak marah? Gue pikir lo mau maki-maki gue sekarang.” Kata Clara sinis.

“Gue ngerti alesan lo untuk berbuat seperti itu. Gue nggak dangkal kayak lo. Gue masih bisa mikir logis untuk maafin lo. Gue nggak kekanak-kanak kayak lo ngirim-ngirim foto itu.” Balas Rio ikut sinis.

“Trus mau lo apa?” tanya Clara ketus.”

“Gue nggak mau apa-apa. Gue cuma pengen kasih tau, kalau cowok macem Gio itu respectnya sama cewek feminim kaya Sally, bukan kayak lo yang punya kepribadian ganda, di rumah beda, di sekolah beda.” Jawab Rio menusuk tepat saluran pernapasan Clara hingga ia merasa sesak.

“Lo nggak ngerasain rasanya jadi gue makanya ngomong bisa seenaknya gitu!” Clara setengah berteriak sambil mengepalkan tangannya kuat.

“Nggak kreatif banget sih? Dulu juga waktu di rumah gue lo ngomongnya gini.” Balas Rio menyunggingkan bibirnya, tersenyum licik.

“Terserah lo!” kata Clara kesal.

“Gue tau, Clara yang asli itu lo yang sekarang ini. Yang pake dress, yang rambutnya terkuncir rapih, yang manis. Bukan Clara anak gotik yang nyeremin kayak biasa lo pergi ke sekolah. Gue tau, kegotikan lo itu merupakan gertakan atas tekanan dari kedua orang tua lo kan? Udahlah Clar, nggak ada orang tua yang pengen liat anaknya menderita. Mereka kayak gitu cuma karena takut lo salah jalan kayak kakak lo.” Rio agak melembutkan kalimatnya kali ini.

“Nggak usah sok tau, lo nggak akan ngerti kalau ada di posisi gue.” Jawab Clara kali ini tidak mampu menahan bulir-bulir air matanya yang mengalir keluar karena sesak di dadanya tertohok kalimat Rio.

“Justru karena gue nggak ada di posisi lo makanya gue ngerti, dan ngasih tau lo, supaya lo ikutan ngerti juga.” Rio tersenyum menang. Clara hanya diam menangkupkan tangannya di wajah untuk menghalangi Rio melihat air matanya yang jatuh.

“Gue bukannya mau ngehakimin lo atau gimana, gue cuma kasian aja sama temen gue kalau dia nggak bisa dapetin apa yang dia mau. Percaya sama gue, Gio bakalan suka sama lo yang kayak gini.” Kata Rio sambil berdiri.

“Gue pulang ya, sorry ganggu.” Rio berlalu pergi meninggalkan Clara yang masih menangis.
*****


“Gimana Nya masalahnya sama Rio? Udah selesai?” tanya Nathan ketika di jalan menuju sekolah.

“Ya gitulah, sekarang lagi semacam rehat dulu Than sama Rio. Nanti pas 18 November, baru deh berhubungan lagi.” Jawab Anya apa adanya.

“Loh, emang kenapa?” tanya Nathan.

“Ya nenangin diri aja dulu.” Jawab Anya.

“Kok nenangin diri lama banget Nya?” tanya Nathan memancing.

“Sebenernya lebih ke biar kita berdua tau sejauh mana perasaan ini. Kalau ternyata dengan kita berdua nggak komunikasi dan semuanya malah berjalan lebih baik, mungkin hubungan ini harusnya diakhiri.” Jawab Anya.

“Nggak sayang udah 3 tahun gitu?” tanya Nathan sambil tetap mengemudikan motornya.

“Ya kalau ditanya gitu sih pasti jawabannya sayang banget. Udah 3 tahun malah berakhir gitu aja. Tapi mau diapain lagi kalau udah sama-sama nggak cocok?” Anya berusaha tegar berkata seperti itu, padahal ia menahan sesak yang teramat sangat menyiksa di dalam hatinya.

“Sabar ya Nya, gue nggak tau mau ngasih advice apa. Gue belum pernah pacaran sih.” Kata Nathan tertawa kecil.

“Serius?” tanya Anya tidak percaya.

“Iya, Nya.” Jawab Nathan.

“Tapi kalau suka sama cewek pernah kan?” tanya Anya menggoda.

“Pernah Nya, dulu waktu SMP kelas 1 mulai suka gitu, itu pertama kali jatuh cinta Nya, tapi gue nggak berani ngungkapin keburu udah punya pacar deh tuh cewek.” Jawab Nathan berusaha memancing Anya untuk peka.

“Yah, elo sih pake acara nggak berani ngungkapin segala, jadi keburu diambil orang deh tuh. Tapi nggak apa-apa Than, cewek bukan dia doang, masih banyak cewek lain yang lebih dari dia. Semangat!” kata Anya menggebu-gebu.

“Tapi nggak ada yang bisa ngelebihin rasa sayang gue ke cewek itu Nya, ahh sayangnya udah sama sekali nggak ada kesempatan nih.” Kata Nathan masih berusaha memancing Anya.

“Uhh, so sweet banget sih. Ya udah, keep fight buat cewek itu Than! Masih banyak kesempatan selama janur kuning belum melengkung, iya nggak?” Anya memberi semangat. Nathan hanya tersenyum, senyum kecewa akan sikap Anya.

Jam istirahat pertama, Nathan tidak ikut Anya dan Cecil ke kantin, ia memilih di kelas bersama dengan Randy yang sibuk mengerjakan PR.

“Ran, salah nggak kalau gue ngarepin banget Anya putus sama pacarnya?” tanya Nathan sambil tetap memainkan handphonenya.

“Enggak lah, wajar kali.” Jawab Randy sambil tetap sibuk menulis.

“Ohh, tapi takut juga.” Kata Nathan lagi.

“Takut apaan?” tanya Randy tetap menyalin PR Nathan.

“Takut kalau Anya putus sama pacarnya trus dia trauma nggak mau pacaran lagi. Abisnya kayaknya dia sayang banget sama si Rio Rio itu.” Jawab Nathan polos.

“Yaelah Than, nggak ada yang selebay itu deh kayaknya biarpun dia sayang banget sama cowoknya.” Jawab Randy gemas.

“Lah, ada sih.” Balas Nathan membela diri.

“Siapa?” tanya Randy.

“Nyokap gue, buktinya dia nggak mau nikah lagi setelah ditinggal pergi bokap gue.” Jawab Nathan.

“Yah Than, itu sih beda lagi kalau udah nikah.” Jawab Randy sambil tertawa kecil. Nathan ikut tertawa bersama Randy.
*****


Sudah 2 minggu Anya dan Rio sama sekali tidak berkomunikasi. Anya hanya menahan air matanya untuk tidak terjatuh lagi karena rasa rindu yang sangat pekat ini. Ia berusaha menahan perasaan untuk segera menghubungi Rio, ia hanya mendengarkan musik yang biasa mereka dengarkan berdua sebagai lagu favorit. Sambil memandangi lukisan dirinya yang Rio berikan dimalam terakhir Rio ada di Jakarta.

Anya menghela napasnya, lalu mengambil diary dan menuliskan seluruh isi dihatinya.

Seandainya waktu dapat kuputar, aku akan mengembalikan saat-saat dimana Rio masih berada disisiku. Aku akan menikmati setiap detik yang terlewati bersamanya tanpa berusaha mempercepat apalagi melewati bagian-bagian sedihnya. Semua kisah sedihku bersamanya selalu bisa tetap kukecap manis walaupun sebenarnya itu pahit. Cinta kadang sulit kumengerti, aku mencintai Rio, aku menyayanginya, aku takut kehilangannya, tapi aku juga tidak mau tersakiti olehnya. Aku mengatakan aku butuh waktu untuk tanpanya, padahal aku sangat membutuhkannya. Aku memang munafik, tapi apa yang harus kulakukan? Inilah aku, Anya sebagai manusia biasa, dengan segala kekurangannya. Dan betapa beruntungnya aku memiliki Rio sebagai pelengkap kekuranganku, tapi karena kebodohanku, aku tidak bisa mendengarkan suaranya saat ini. Saat ku benar-benar butuh.
*****


Rio mengambil diary pemberian Anya itu, lalu membuka asal halamannya. Ia sampai dihalaman 54.

Rabu, 21 Mei
Aku sakit, dan ini sudah hari ketiga aku tidak masuk sekolah. Aku benar-benar tidak bisa merasakan masih memiliki tulang saking lemasnya. Panas tubuhku mencapai 40° celcius. Aku benar-benar pusing. Rio juga sudah datang sejak hari Senin setiap pulang sekolah. Ia selalu membawakan bunga untuk ditaruh di vas di kamarku. Tadi juga dia datang, lalu menyuapiku makan. Aku saat sedang tidak sakit saja susah makan, apalagi saat sakit. Aku ingat caranya membujukku agar mau makan, ia benar-benar humoris, untuk beberapa saat aku selalu melupakan rasa sakit itu ketika bersamanya. Aku beruntung memilikinya.

Rio teringat kejadian yang berlangsung lebih dari setahun yang lalu itu. Saat itu Anya sakit, ia selalu datang untuk menjenguk Anya ke rumahnya.

“Udah ah Yo, mulutku pait, nggak enak.” Kata Anya menolak sendok yang disodorkan Rio ke depan mulut Anya.

“Baru juga berapa suap Nya, ayo dong lagi ah. Ntar nggak sembuh-sembuh.” Kata Rio membujuk.

“Nggak mau.” Anya menggeleng-geleng manja.

“Lima suap lagi deh,” kata Rio masih membujuk.

“Tiga.” Tawar Anya.

“Sepuluh,” kata Rio.

“Yee, nawarnya begitu masa, nggak cocok jadi pedagang kamu ah.” Kata Anya tertawa gemas.

“Ya makanya aku mau jadi seniman aja.” Jawab Rio santai.

“Emang kenapa?” tanya Anya.

“Biar bisa mengapresiasikan cintaku untukmu dalam bentuk karya seni yang indah dan memiliki nilai yang tinggi dalam segi artistik.” Kata Rio dengan wajah sungguh-sungguh. Anya tertawa dibuatnya. Ia jadi melupakan rasa sakitnya dan berhasil menghabiskan buburnya semangkok penuh.

Rio tersenyum mengingat kejadian itu. Matanya menoleh menatap figura besar berisi fotonya bersama Anya disebuah studio foto. Anya terlihat sangat cantik dalam balutan terusan warna merah muda itu. Rambutnya tergerai indah sepunggung, dihiasi dengan jepitan pita warna senada dengan baju terusannya. Senyuman manis yang Anya tampilkan saat berada dalam dekapan Rio di foto itu membuat Rio makin merindukannya. Namun ia sadar, kesalahannya yang membuat Anya jauh.

“Sungguh, aku merindukanmu. Dalam kehampaan tanpa dirimu kini hatiku hanya bisa menangis sepi. Otakku terus berusaha memanifestasikan bayanganmu untuk berada disini. Tapi itupun tidak cukup, aku malah makin merindukanmu. Tolong beritahu aku rahasiamu untuk bertahan melawan rindu ini, agar akupun kuat menjalaninya. Rasanya aku tidak sanggup bila harus menunggu lagi. Aku hampir lelah, aku ingin dirimu. Aku benar-benar ingin dirimu. Tolong maafkan aku dan beri satu kesempatan lagi.”
*****

 
Anya barus saja sampai di sekolah, tiba-tiba ia menemukan sebuah amplop kecil berwarna pink di laci mejanya saat hendak menaruh bekalnya di kolong meja tersebut. Waktu itu masih sangat pagi, baru dia dan seorang anak perempuan yang ada, dan Nathan yang sampai sekolah bersamanya karena mereka berdua pergi bareng. Anya menoleh ke bangku Nathan lalu bertanya, “Than ini kira-kira apa ya?” tanya Anya.

“Amplop.” Jawab Nathan dengan ekspresi datar.

“Ihh, bukan itu maksudnya, tapi isinya apa, wangi banget loh. Serem deh.” Kata Anya.

“Kok serem?” tanya Nathan bingung.

“Iya, serem. Bau bunga gitu, kalau tau-tau ini dari setan penunggu kelas ini gimana? Hiii kan nakutin tau.” Jawab Anya polos.

“Mana ada setan bisa romantis ngirimin amplop pink wangi gitu?” Nathan tersenyum geli. Anya hanya diam tidak membalas ledekan Nathan, ia malah memandangi amplop itu.

“Buka aja kali Nya kalau penasaran. Setau gue belum pernah ada tuh orang yang mati gara-gara baca surat.” Kata Nathan meyakinkan.

“Tapi takut...” kata Anya pelan.

“Takut apaan? Udah jelas tulisannya untuk Anya gitu tuh di amplopnya.” Kata Nathan lagi.

Anya akhirnya membuka perlahan amplop itu, ternyata sebuah puisi yang ditulis dalam tinta biru.

Sang Rembulan
Cahaya keemasan yang ia pancarkan
Berpendar-pendar memukauku
Ia buatku tak henti memandangnya
Mengagumi sosoknya dalam balutan cahaya indah
Namun sang rembulan memiliki sang bintang
Yang selalu menemaninya
Apa dayaku menggapainya?
Biarkan aku menjadi bumi saja yang mengagumi cahayanya
Memandangnya dengan penuh kasih sayang
Walaupun sang bintang masih berdiri di sampingnya

Anya tersenyum kecil membaca puisi tersebut. Indah, dan menyentuh bagi Anya. Ia memperlihatkan puisi itu pada Nathan, “Than baca deh.”

Nathan membaca sejenak lalu berkata menggoda Anya, “Wah cie punya penggemar nih.”

“Ha? Apaan sih? Paling juga orang iseng.” Kata Anya malu-malu.

“Nggak ada Nya orang iseng yang sampe niat begini bikinnya.” Kata Nathan mempertahankan kalimatnya.

“Hmm, mungkin salah kirim.” Anya masih terus mengelak.

“Itu di amplop beneran Anya kok tulisannya.” Kata Nathan menunjuk amplop pink yang dipegang Anya.

“Hmm, nggak taulah.” Anya akhirnya menyerah.

“Kira-kira dari siapa ya Than?” lanjut Anya bertanya.

“Nggak tau Nya, menurut lo yang selama ini suka sama lo siapa?” Nathan memancing.

“Nggak tau.” Jawab Anya polos.

“Ah nggak peka sih,” kata Nathan setengah bercanda padahal ia serius mengatakan itu.

“Bukannya gitu, kan gue nganggepnya semua cowok itu temen biasa aja. Jadi ya gue mana tau ada yang suka sama gue atau enggak, kan mereka nggak pernah ada yang bilang langsung sama gue.” Kata Anya berusaha membela diri.

“Ya dia malu kali mau bilang langsung, makanya pake surat dulu.” Kata Nathan mengedikkan bahunya.

“Mungkin.” Anya ikut mengedikkan bahunya lalu kembali ke posisi duduknya yang benar.
*****


Hari ini tanggal 18 November, tepat jam 12 malam waktu Indonesia Rio mengirimkan Anya sebuah SMS.

From: Rio  Canada’s Number
Text: Happy 3th Anniversary sayang. Semoga nggak ada lagi pertengkaran karena salah paham kayak kemaren ya. Keep your heart, and I will keep mine. Udahan kan nenangin dirinya? Please, kangen banget nih. Kalau kamu bangun pas baca sms ini, kita skype jam 3 waktu Jakarta ya? Kalau nggak bangun dan baru ngecek paginya, cukup bales aja sms aku, nanti aku yang telfon.

Anya terbangun dari tidurnya karena suara berisik dari samping bantalnya. Ia kira sudah pagi dan alarmnya berbunyi, ternyata Rio. Anya langsung melonjak dari tidurnya dan membaca sms itu. Lalu tersenyum kecil dan mengatur alarm dihpnya menjadi jam 3. Ia kembali tidur dengan senyum yang tak bisa ia hilangkan.

Jam 3 pagi hp Anya berbunyi lagi, kali ini alarm. Ia segera bangun lalu mencuci mukanya di kamar mandi. Ketika kembali ke kamarnya ia mengambil laptop yang selalu ia letakkan di atas meja belajar. Anya menyalakan laptopnya dan menunggu hingga ia sign in otomatis di skype.

Rio sudah ada disana.

“Hai,” sapa Rio ramah.

“Hai juga,” jawab Anya dengan suara agak serak khas bangun tidur.

“Aku kira kamu nggak akan online,” kata Rio tidak bisa menyembunyikan senyum senang diwajahnya.

“Aku terlalu kangen untuk nggak skype sama kamu, kangen liat wajah kamu.” Jawab Anya sambil mengulet. Rio tersenyum melihatnya.

“Oh iya, happy anniversary juga ya sayang, nggak kerasa udah 3 tahun. Aku makin sayang sama kamu. Aku bener-bener nggak tau gimana caranya harus berhenti melakukannya.” Lanjut Anya dengan senyum mengembang.

“Makasih. Jangan pernah berhenti Nya, karena aku pun nggak akan berhenti.” Jawab Rio dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya.

Mereka mengobrol hingga jam 5 pagi, bercanda, tertawa, salinge meledek dan macam-macam. Pagi itu menjadi lebih indah dari biasanya bagi Anya, dan senja yang indah bagi Rio.

“Nya, liat kan belakang aku? Matahari mau tenggelam.” Kata Rio menunjukkan pemandangan dari balkon kamarnya.

Anya tersenyum, lalu pindah tempat ke balkon kamarnya dan menunjukkan Rio sunyi dan gelapnya pagi itu, matahari belum muncul.

“Ini di rumah masih kayak malem, liat kan?” kata Anya menunjuk langit di belakangnya.

“Saat aku terbangun kamu tertidur, dan saat aku tertidur kamu terbangun. Perbedaan yang mencolok banget ya?” kata Anya dengan sedikit sedih.

“Tapi itu nggak akan jadi penghalang untukku tetap mencintai kamu, kamu juga kan?” Rio menatap Anya dari layar MacBooknya.

“Aku...” Anya diam, ragu akan menjawab apa. Rio pun tidak bertanya, hanya menunggu Anya melanjutkan kalimatnya.

“Aku juga,” lanjut Anya ragu.

“Tanpa keraguan.” Lanjut Anya lagi. Kali ini sangat mantap mengatakannya, membuat Rio tersenyum.

“Udah jam 5 Yo, aku harus mandi trus berangkat sekolah. Udah dulu ya, bye.” Kata Anya melambaikan tangannya.

“Bye,” jawab Rio ikut melambaikan tangannya. Lalu koneksi putus.
*****


Di sekolah saat pelajaran geografi Rio merasa sangat bosan, ia memutuskan untuk menanyakan tentang Anya pada sahabatnya Doni.

Rio mengirimkan sebuah sms untuk Doni.

From: Rio
Text: Don, apa kabar? Gimana Jakarta? Masih panas kayak biasa ya?

Doni membaca sms masuk itu dan segera membalasnya.

From: Doni
Text: Baik Yo, iya nih masih gini-gini aja panasnya. Lo gimana? Lagi musim apa disana?

Rio membaca sms itu dan segera membalasnya lagi.

From: Rio
Text: Baru aja masuk musim dingin, disini lagi dingin-dinginnya nih. Salju sih belum turun, tapi kayaknya akan segera. Oh iya, gue mau nanya-nanya nih, boleh nggak?

Doni segera membalas penasaran.

From: Doni
Text: Boleh lah, mau nanya apaan emangnya? Kalau nanya kapan nenek lo lahir, sumpah gue nggak tau.

Rio tersenyum geli membaca balasan sms Doni, lalu membalasnya dengan cepat.

From: Rio
Text: Nggak, mau nanya aja Anya gimana kalau di sekolah? Deket sama siapa dia?

Doni seketika tidak mood untuk membalas sms Rio tapi ia masih menghargai Rio jadi membalasnya.

From: Doni
Text: Anya sih ya biasa aja kayak dulu waktu SMP, dia suka berempat sama cewek satu namanya Cecil, cowok yang dua gue nggak kenal. Tapi emangnya lo masih ya sama Anya Yo? Sorry nih nanya gitu, nggak maksud loh.

Rio tertegun membaca sms Doni, lalu membalasnya lagi.

From: Rio
Text: Emang kenapa Don?

Doni membalas agak lama.

From: Doni
Text: Abisnya Anya deket banget sama ada tuh satu cowok, gue lupa namanya siapa. Pergi bareng, pulang juga. Gue kira itu pacar barunya. Emangnya lo masih atau enggak sih?

Rio merasakan ada yang menghantam ulu hatinya, karena mendadak ia merasakan sesak.

From: Rio
 Text: Kayak gimana orangnya?

Doni membalas.

From: Doni
 Text: Setinggi gue, putih atau bisa dibilang agak pucet, kurus, lumayan sih tampangnya, manis kalau kata temen-temen cewek gue.

Rio makin merasa gelisah, ia lalu mengirim balasan untuk Doni dengan cepat.

From: Rio
 Text: Mulai sekarang lo mata-matain mereka, foto kalau lo ngerasa gue perlu tau. Kirim ke email gue. Tolong ya Don.

Doni membaca sekilas lalu mengirimkan balasan singkat

From: Doni
Text: Sip.

Rio merasa gelisah, sangat gelisah. Ia tiba-tiba merasakan ada yang tidak beres meskipun tidak tau apa itu. Tapi dia yakin itu karena tau Anya sedang dekat dengan orang lain. Selama ini Anya hanya dekat dengan satu orang cowok, dan itu adalah dirinya. Selebihnya paling hanya kakak laki-lakinya. Rio tiba-tiba menjadi paranoid bahwa ia akan kehilangan Anya. Namun Rio segera menepis bayangan gelap itu.
*****


Anya berjalan bersama Nathan menuju tempat parkir untuk pulang bersama, tanpa mereka sadari ada seseorang yang mengikuti mereka sejak di sekolah.

Hari itu Anya berniat untuk membeli buku ke toko buku di mall dekat sekolahnya. Nathan ikut mengantar. Disana ia mencari novel yang selama ini ia cari tapi selalu kehabisan stoknya. Setelah sekian lama menginginkan novel itu akhirnya ia mendapatkannya novel dengan judul The Five People You’ll Meet In Haven karangan Mitch Albom.

Setelah membayar Nathan dan Anya hendak pulang. Namun ketika melewati toko aksesoris wanita Anya tertarik untuk melihat-lihat. Nathan hanya mengikutinya saja.

“Ini bagus nggak?” tanya Anya sambil menunjukkan sebuah kunciran warna biru muda.

“Bagus,” jawab Nathan tersenyum.

“Umm, yang mana lagi ya?” Anya menggumam kecil sambil melihat deretan aksesori di depannya yang tersedia untuk ia pilih.

“Yang ini aja Nya,” kata Nathan lalu mengambil sebuah jepitan pita berwarna ungu dengan glitter-glitter.

Lalu ia memakaikan di rambut Anya, “Manis jadi keliatannya.” Kata Nathan sambil tersenyum lembut.

Wajah Anya memerah seketika diperlakukan seperti itu. Tiba-tiba Anya merasakan ada yang aneh dengan perasaannya tapi ia buru-buru menepis perasaan itu.

“Ohh ini ya? Iya nih bagus.” Jawab Anya menyembunyikan salah tingkahnya.

Setelah dari toko aksesoris Nathan bertanya pada Anya, “Capek nggak?”

“Lumayan,” jawab Anya.

“Tunggu sini sebentar ya Nya, duduk aja dulu.” Kata Nathan menyuruh Anya duduk di sebuah bangku panjang di lobby mall itu.

“Loh, lo emangnya mau kemana?” tanya Anya bingung.

“Sebentar.” Jawab Nathan.

Anya hanya menurut dan duduk diam, lalu tidak lama kemudian Nathan datang membawakannya minuman dingin.

“Pasti haus kan? Ini nih minum.” Kata Nathan menyodorkan minuman itu.

“Makasih,” kata Anya seraya mengambil minum itu.

Nathan duduk di sebelahnya dan ikut minum juga, setelah minum mereka berdua habis, baru mereka pulang.
*****


 Sebuah notifikasi email baru yang masuk muncul di layar iphone milik Rio. Ia mengeceknya lalu benar-benar terkejut dengan isinya. 9 foto Anya dan seorang laki-laki yang wajahnya seperti pernah Rio lihat. Tapi ia sedikit lupa dimana. Rio berfikir keras dan akhirnya ingat siapa dia.

“Astaga, ini kan cowok yang waktu itu gue tabrak di kamar mandi itu. Siapa namanya, gue lupa.” Gumam Rio pada dirinya sendiri.

“Ah, iya! Nathan!” Rio teringat kejadian hari itu yang membuatnya mengenali laki-laki dalam foto ini.

Rio segera menelefon Doni.

“Halo, kenapa Yo?” Doni segera mengangkat.

“Itu foto dapet dari mana Don?” tanya Rio serius.

“Foto sendiri, gue ngikutin mereka ke mall.” Jawab Doni.

“Yo, lo mau tau yang sebenernya nggak tentang cowok itu?” lanjut Doni menawarkan Rio.

“Apa?” tanya Rio dengan degup jantungnya yang tambah cepat.

“Gue tadi pagi di sekolah denger kalau Nathan itu suka sama Anya. Gue nggak tau mereka itu jadian atau enggak, soalnya ada yang bilang mereka pacaran, ada yang bilang enggak. Gue jadi nggak yakin Yo. Akhirnya gue ikutin mereka sampe mall itu, trus iya mereka emang rada romantis sih, tapi...” Doni menggantung kalimatnya.

“Tapi apa Don?” Rio sudah benar-benar menahan sesak saat ini.

“Tapi karena posisi gue agak jauh dari mereka jadi nggak kedengeran apa yang mereka omongin.” Jawab Doni meneruskan kalimatnya.

“Seromantis apa mereka Don?” tanya Rio berusaha biasa.

“Ya seperti yang di foto itu aja, selebihnya nggak ada lagi. Kalau jalan mereka nggak pegangan tangan.” Jawab Doni seadanya.

“Lo nggak berusaha tanya sama Anya Yo?” lanjut Doni bertanya.

“Gue harus tanya apa?” Rio bingung menjawab pertanyaan Doni dan malah balik bertanya.

“Ya tanya dia deket sama siapa aja, trus siapa tau Anya jawab jujur.” Jawab Doni.

“Tapi selama ini aja dia nggak pernah ceritain ke gue tentang cowok itu, dia cuma cerita tentang Cecil. Dia bahkan nggak ngomong kalau pergi dan pulang bareng sama si Nathan itu.” Kata Rio emosi.

“Lo kenal sama dia?” tanya Doni agak kaget.

“Waktu kalian pendaftaran ambil folmulir itu kan gue nganter Anya, nah ketemu dia di toilet trus jadi kenal gara-gara ada accident kecil gitu.” Jawab Rio.

“Ohh gitu, ya udah Yo mending lo konfirmasi dulu sama Anya.” kata Doni menyarankan.

“Iya Don, thanks ya infonya. Udah dulu, gue mau mandi mau sekolah nih. Bye.” Kata Rio menyudahi percakapan mereka. Lalu memutuskan sambungan telfonnya dengan Doni.
*****


Selesai mandi Rio segera berpakaian dan sarapan. Sambil mengendarai mobilnya ia mencari nama Anya di kontak handphonenya lalu segera menelefonnya.

“Halo,” sapa Anya di seberang sana.

“Halo Nya,” balas Rio lemah. Tiba-tiba ia takut akan ada yang salah setelah ini.

“Kenapa Yo? Tumben banget. Kamu nggak sekolah?” tanya Anya.

“Ini lagi di jalan. Ada sesuatu yang harus kita omongin Nya, penting.” Kata Rio sambil menelan ludah.

“Apa?” Anya bertanya penasaran.

“Ini tentang kamu.” Jawab Rio. Anya hanya diam tidak menjawab, ia menunggu Rio melanjutkan kalimat selanjutnya.

“Kamu disana deket sama siapa aja?” Rio bertanya langsung.

“Banyak,” jawab Anya singkat.

“Dan yang paling deket siapa?” Rio berusaha menyelidik.

“Cecil,” jawab Anya bingung.

“Kenapa sih?” lanjutnya heran.

“Trus Nathan itu siapa?” Rio berusaha terdengar biasa saat mengatakan nama itu.

“Temen sekelas aku juga.” Jawab Anya polos.

“Deket?” Rio masih menyelidik.

“Ya, gitu deh. Deket. Kenapa sih?” Anya mulai merasa risih diinterogasi seperti ini.

“Kamu pergi dan pulang bareng dia?” tanya Rio mulai agak curiga.

“Iya.” Jawab Anya singkat, tapi mulai agak takut.

“Kok kamu nggak pernah ngomong sama aku?” tanya Rio kecewa.

“Ngomong apa?” Anya pura-pura tidak mengerti.

“Tentang dia, tentang kalian.” Jawab Rio menghela napas sejenak lalu meneruskan kalimatnya.

“Kenapa kamu kayak nyembunyiin ini dari aku sih?” Rio bertanya lirih.

Anya diam sejenak lalu menjawab, “Emangnya harus?”

Rio seperti ditusuk tombak tepat pada saluran pernapasannya, ia merasakan sesak sekali saat Anya menjawab seperti itu.

“Trus emang kamu nganggep aku apa selama ini Nya? Kok kamu jadi kayak ngeremehin aku gini?” kata Rio kecewa.

“Aku nggak ngerasa ngeremehin kamu kok.” Anya berusaha membela diri.

“Dengan kamu nggak ngasih tau kalau kamu deket sama dia itu udah nunjukkin kalau kamu ngeremehin aku Nya. Kamu nggak ngehargain aku sebagai pacar kamu namanya!” Rio meninggikan suaranya.

“Loh, kenapa kamu posesif banget gini tiba-tiba?” Anya berusaha tenang menimpali kalimat Rio.

“Aku bukan posesif Nya! Aku cuma memperjuangkan perasaan aku yang kamu mainin.” Jawab Rio kesal.

“Aku nggak mainin perasaan kamu!” Anya setengah berteriak kali ini.

“Kamu mainin namanya kalau buat aku gelisah kayak gini!” Rio menjawab kesal.

“Kamu kenapa sih? Nathan cuma anter aku pulang-pergi aja segitunya. Kamu nggak ngasih tau aku kalau Sally bareng kamu aku nggak kaya gini.” Anya mengorek lagi kesalahan lalu Rio.

“Itu cuma sekali, dan itu juga karena mobil Sally masuk bengkel. Tapi kamu apa? Kamu setiap hari Nya, setiap hari.” Kata Rio menekan kalimatnya diakhir.

“Trus mau kamu apa?” Anya merendahkan suaranya yang tadi sudah meninggi dan berusaha tenang lagi.

“Jangan pulang atau pergi sama dia lagi.” Jawab Rio singkat.

“Hah? Kenapa? Dia cuma temen kok, kenapa mesti nggak boleh? Apa hak kamu ngelarang-larang aku?” Anya kembali kesal dengan jawaban Rio.

“Nya, aku ini pacar kamu!” bentak Rio marah.

“Ahh, terserah kamu. Kamu nggak mikir apa aku capek? Aku capek sekolah banyak tugas, pulang sore terus, banyak kegiatan. Masih untung ada Nathan yang mau nganter-nganter aku. Keluarga aku tuh nggak kayak keluarga kamu yang semuanya punya, kamu bisa dianter jemput supir atau bawa mobil sendiri, tapi aku? Aku enggak Yo. Kamu egois tau nggak!” Anya berteriak kesal sambil menangis lalu mengakhiri sambungan telfonnya dengan Rio.

I lose my self in all these fight, I lose my sense of wrong and right
I cry, I cry, I’m shaking from the pain that’s in my head
I just want to crawl into my bed and throw away the life I led
But I won’t let it die
(It’s Not Over – Secondhand Serenade)

“Aku kehilangan diriku atas segala pertengkaran ini, aku kehilangan rasa atas yang mana yang benar dan mana yang salah. Jika bisa menangis, aku akan menangis. Tapi air mataku tak cukup menggambarkan kekecewaanku. Aku terguncang atas rasa sakit hati dikepalaku ini. Aku hanya ingin menggulung tubuhku hingga ia menjadi kecil dan tidak terlihat di tempat tidur dan membuang kehidupan yang aku jalani ini. Tapi aku tidak mau membiarkannya mati. Aku tidak rela pergi meninggalkan dunia, dan meninggalkannya. Meninggalkan orang-orang yang kucintai. Aku hanya ingin membuang sebagian kecilnya saja, membuang bagian hidupku yang ini, yang mengharuskanku berkata kasar padamu. Tapi sadarkah kam? Aku begini karena aku mencintaimu.”

0 komentar:

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos