Saturday, March 16, 2013

Cerbung - Will It Be Us Part 16

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 08:27
Reaksi: 
Halo readers yang terhormat, haha gue balik lagi nih.

Inget sama cerbung Will it be us gak? Yang ngikutin blog gue dari awal pasti inget doooong. Nah, ini gue mau post lanjutannya. Agak ngaret ya? Hehe, ya maklum namanya juga Indonesia. Hahahaha, malu-maluin emang anak bangsa satu ini. Udah, nggak pake lama lagi. Cek di bawah ini ya... Hope you'll enjoy.




Will It Be Us Part 16



Setelah menempuh perjalanan yang menyita waktu hampir 2 hari Anya sampai di rumahnya. Ia segera membanting tubuhnya di kasur empuk kesayangannya itu dan memejamkan mata. Hari ini Selasa, Anya terpaksa izin sekolah yang sebenarnya sudah masuk sejak hari Senin kemarin karena ia masih dalam perjalanan. Dan sepertinya besok ia harus sudah mulai menjalani rutinitasnya lagi untuk pergi sekolah.
Teringat akan tugas-tugasnya selama liburan yang sama sekali belum tersentuh Anya menjadi panik, ia segera mengambil handphonenya dan mencari sebuah nama dikontak list lalu menekan tombol dial. Terdengar nada tunggu disana. Lalu akhirnya sang pemilik nomor itu mengangkatnya.

“Nathan!” seru Anya lega.

“Kenapa Nya? Gue lagi belajar nih.” Jawab Nathan setengah berbisik.

“Oh iya lupa hari ini lo masuk. Gue baru pulang nih dan belum ngerjain tugas selama liburan sama sekali. Please bantuin!” Anya setengah merengek.

“Iya ya udah nanti pulang sekolah gue ke rumah lo. Tapi udah dulu ya, bisa digorok Bu Yatmi nih gue telfonan jam pelajarannya dia. Oke, bye.” Jawab Nathan lalu segera mematikan sambungan telfonnya.

“Yah mati...” Anya memandang handphonenya kesal. Tapi dalam hati ada sedikit lega karena setidaknya Nathan sudah berjanji akan ke rumahnya untuk membantu mengerjakan tugasnya.

Setelah menunggu 2 jam, akhirnya Nathan datang tepat jam 3 sore setelah pulang sekolah.

“Akhirnya dateng juga. Than ya ampun ini PR banyak banget gue nggak kebayang nih.” Kata Anya frustasi.

“Yee, siapa suruh liburan Prnya nggak dibawa juga buat dikerjain.” Balas Nathan.

“Liburan bawa PR? Yakali bukannya refreshing malah bikin butek otak.” Anya mencibir kesal.

“Oleh-oleh mana?” Nathan menengadahkan tangannya di hadapan Anya.

“Yaelah slow. Gue udah siapin kok. Buat lo, Randy, sama Cecil. Yang penting bantuin dulu.” Jawab Anya ringan.

“Sip, nanti malem abis magrib katanya Cecil mau nyusul kesini juga. Pulang les langsung. Kalau Randy jam 5an katanya abis dia ekskul Taekwondo.” Nathan memberi tau.

“Oh ya udah kalau gitu bagiin oleh-olehnya nanti kalau udah pada dateng.” Anya menatap Nathan sambil tersenyum simpul membuat Nathan salah tingkah dan gerogi.

“Engg, ya udah lo mau minta bantuin PR yang mana?” tanya Nathan berusaha menutupi geroginya.

“Pertama matematika! Lo kan jago. Please ini logaritma bener-bener bikin pusing.” Anya menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.

“Ya udah, gue kerjain aja. Matematika kan besok dikumpulinnya, kalau ngajarin dulu waktunya nggak bakal sempet buat lo ngejar buat yang lain. Mana bukunya?” kata Nathan sambil merogoh ke dalam tasnya mencari tempat pensil dan melirik sedikit ke arah Anya.

Hanya keheningan yang menemani mereka berdua saat mengerjakan tugas. Nathan sibuk berkonsentrasi dengan tugas matematika Anya dan Anya sibuk mengetik tugas Bahasa Indonesia di laptopnya. Beberapa kali Nathan melirik mencuri-curi pandang ke arah Anya, hingga akhirnya Anya sadar diperhatikan.

“Kenapa sih?” tanya Anya.

“Nggak.” Jawab Nathan terbata karena malu ketahuan memperhatikan Anya.

“Udah selesai?” tanya Anya lagi.

“Udah nih.” Jawab Nathan sambil menyodorkan buku tulis yang kini sudah dipenuhi angka yang rumit.

“Pusing, udah tutup aja ah.” Kata Anya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat bukunya lalu menutup buku itu. Nathan hanya tersenyum gemas melihat tingkah Anya. Tapi dengan segera ia menyembunyikan senyum itu.

Tiba-tiba terdengar suara deru mesin motor yang memasuki pekarangan rumah Anya. Ternyata Randy. Sama dengan Nathan ia masih dalam balutan seragam putih abu-abunya.

Setelah memarkirkan motornya ia segera menghampiri Anya dan Nathan lalu mengambil gelas yang disediakan untuk Nathan dan meminumnya sampai habis.

“Nya, masih aus.” Katanya dengan wajah memelas.

Anya tersenyum geli melihatnya lalu mengambilkan minum untuk Randy dan Nathan dalam teko, dan gelas baru untuk Randy.

“Asyik nih berduaan sama Anya.” kata Randy menggoda Nathan saat Anya meninggalkan mereka berdua.

“Apaan sih?” Wajah Nathan langsung bersemu merah.

“Udah tembak.” Goda Randy lagi.

“Nggak ah,” jawab Nathan singkat.

“Kenapa? Takut ditolak? Cupu lo.” Cibir Randy.

“Bukan gitu, kalau ditolak mah pasti. Kan dia masih punya pacar. Lupa lo? Dia ke Kanada aja kan tinggal di rumah pacarnya.” Kata Nathan menghela napas panjang.

“Iya sih, yaelah LDR itu susah udah slow aja, ntar juga putus lu dapet. Lu kan ganteng, pinter lagi Than. Kurang apa coba?” Randy memberi semangat untuk Nathan.

“Tapi kayanya gue bukan levelnya Anya deh, jauh banget sama cowoknya gue. Tau nggak kalau cowoknya Anya yang sekarang itu mantannya Cecil juga?” kata Nathan pesimis.

“Wah jago dong? Kaya gimana sih emangnya cowonya Anya itu?” tanya Randy penasaran.

“Nggak tau gue juga, belum pernah dikasih liat fotonya sama Anya. Yang gue tau namanya Rio” jawab Nathan sambil menatap jauh.

“Ohh,” Randy mengangguk-angguk dan tidak berbicara lanjut karena Anya sudah datang membawa baki dengan es jeruk dingin.

“Makasih Nya, ngerepotin.” Kata Nathan tersenyum manis. Sedetik Anya merasa ada yang aneh pada dirinya, namun perasaan itu segera hilang dengan cepat seiring dengan menghilangnya senyuman itu juga.

“Nggak kok.” Jawab Anya.

“Eh, mana oleh-oleh?” tanya Randy.

“Ntar aja kasihinnya kalau Cecil udah dateng juga. Tenang aja udah gue siapin kok.” Jawab Anya lalu duduk di kursinya tadi.

“Sip, lo disana nginep di rumah pacar Nya?” tanya Randy lagi.

“Iya, di Toronto.” Jawab Anya lalu memberikan detail daerahnya.

“Pacar lo bule? Kenal dimana?” tanya Randy penasaran.

“Bukan kok, orang sini juga. Lulus SMP kemarin dia ikut pindah sama orang tuanya kesana, nih ada fotonya, mau liat?” tanya Anya menawari handphonenya.

Randy mengambil handphone itu dan melihat wallpaper Anya yang merupakan foto berdua dengan Rio.

“Kurang jelas Nya, nggak ada yang lain?” tanya Randy sambil tetap memperhatikan layar handphone Anya.

“Ada, buka galery aja.” Jawab Anya lalu fokus dengan laptopnya lagi.

Randy mengecek satu persatu foto Anya dengan Rio yang jumlahnya sangat banyak. Ia menunjukkan juga pada Nathan, saat ada foto Rio yang sedang sendiri dan paling jelas.

“Gue kaya pernah ketemu orang ini deh,” bisik Nathan ke Randy.

“Serius?” Randy balas berbisik.

“Iya, tapi gue lupa dimana dan kapan. Tapi wajahnya kaya familiar gitu.” Jawab Nathan tetap berbisik.

“Inget-inget coba.” Bisik Randy.

“Ntar deh kalau inget gue kasih tau lo.” Jawab Nathan pelan.

“Ngomongin apaan sih?” tanya Anya menyadari Randy dan Nathan berbisik-bisik.

“Enggak, ini pacar lo ganteng Nya.” Jawab Randy diiringi dengan bahak tawa Anya.

“Lo masih normal kan Ran?” tanya Anya masih dengan tawa yang jelas.

“Ya iyalah, ya gue kan jujur emang pacar lo ganteng kok.” Jawab Randy.

“Tapi kok tingginya kayanya nggak sinkron ya sama lo?” lanjut Randy lagi.

“Dia emang ketinggian, nggak tau makannya apa, dan gue juga emang kependekan, ya jadinya gitu deh.” Jawab Anya santai.

“Emang lo segimananya?” tanya Randy memancing.

“Sedadanya.” Jawab Anya menerka-nerka.

“Gila, kaya Bapak sama anak itu sih. Mending sama Nathan, cuma seleher bedanya.” Kata Randy yang lalu meringis kesakitan karena kakinya diinjak Nathan saat mengatakan itu. Anya hanya tersenyum geli melihat tingkah mereka berdua.

Akhirnya sekitar jam setengah 7 Cecil datang juga membawakan mereka martabak diantar pacarnya Kak Sean. Lalu ikut mengobrol tertawa-tawa bercanda.

“Kabar Rio gimana Nya?” tanya Cecil ditengah-tengah obrolan mereka.

“Baik kok, oh iya dia titip salam buat lo Cil.” Jawab Anya.

“Ohh, salam balik ya Nya.” Kata Cecil tersenyum.

“Iya, sip.” Anya ikut tersenyum mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Oh iya, gue punya oleh-oleh buat kalian nih. Tunggu ya.” Kata Anya lalu masuk ke dalam kamarnya dan kembali membawa kantong plastik besar.

“Ini buat Cecil,” Anya menyerahkan sweater merah bertuliskan I Love Toronto dan sebuah bantal kecil dengan motif bendera Kanada.

“Ini buat Nathan, Randy, sama Kak Sean,” Anya menyerahkan 3 buah sweater hitam dengan tulisan sama dengan punya Cecil dan 3  gantungan kunci bendera Kanada.

Mereka mengucapkan terima kasih pada Anya dan kembali bercanda-canda lagi hingga akhirnya jam 9 malam mereka pulang. Anya senang sekali hari itu, tugasnya sudah selesai semua dengan bantuan teman-temannya. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang dan menelfon Rio. Setelah setengah jam mengobrol di telepon akhirnya ia terlelap kecapaian.
 *****

“Randy!” seru Nathan setengah berteriak saat menelfon Randy.

“Kenapa Than?” tanya Randy dengan suara serak karena terbangun dari tidurnya.

“Gue inget kapan ketemu cowok itu!” jawab Nathan antusias.

“Ya ampun jam setengah 12 malem lo nelfon gue cuma buat ngomong gini aja? Nggak bisa besok apa?” tanya Randy agak kesal.

“Nggak bisa Ran, gue kepikiran ini dari tadi sampe nggak bisa tidur, jadi mendingan gue kasih tau sekarang dari pada gue nggak tidur sampe besok.” Jawab Nathan masih antusias.

“Ya udah, dimana?” tanya Randy sambil menguap.

“Waktu ambil folmulir di sekolah kita, dia nabrak gue di kamar mandi trus beberapa map gue ada yang jatoh. Orangnya tinggi banget sumpah! Ganteng, keren, wangi banget pula. Iya waktu itu dia bilang lagi nganterin pacarnya daftar, tapi waktu itu gue nggak tau kalau dia pacarnya Anya.” terang Nathan panjang lebar.

“Serius? Kok sinetron banget sih?” tanya Randy antusias, kantuknya sudah hilang gara-gara tertarik sekarang.

“Iya, dia bener-bener cowok yang bisa bikin cewek klepek-klepek cuma dengan dilirik aja. Orangnya waktu itu baik lagi.” Nathan mengingat-ingat kejadian dimana ia dan Rio mendapat insiden kecil.

“Kok lo bisa bilang dia baik?” tanya Randy.

“Ya kan waktu itu map gue yang jatoh itu basah, dia mau ganti foto kopiin kan berarti orangnya bertanggung jawab, jadi kesimpulannya dia baik.” Terang Nathan.

“Ohh, gitu.” Jawab Randy menguap, kini rasa kantuknya kembali menyergap.

“Iya Ran, gue baru aja inget deh. Nggak nyangka juga sih.” Kata Nathan lagi.

“Terserah deh, udah ah gue ngantuk nih.” Kata Randy sambil menguap lagi.

“Ohh oke deh, sorry Ran.” Nathan memutuskan sambungan telfonnya dan merebahkan kepalanya di bantal. Menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya akan Anya terbang melayang menembus langit-langit rumahnya menuju bintang-bintang dilangit untuk digantungkan setinggi-tingginya.

“Aku datang saat kau sudah ada yang memiliki. Salahku yang terlambat menyadari pendar cantikmu. Mungkinkah aku bisa membuatmu mencintaiku juga seperti kamu mencintainya? Mungkinkah terjadi kisah cinta yang selalu aku impikan? Adakah kesempatan untukku merasakan cinta yang selama ini aku dambakan? Mencintaimu adalah sebuah keindahan, tapi hanya menjadi semu semata saat aku menyadari cintaku tidak mungkin terbalas. Haruskah aku berubah menjadi malaikat agar bisa menyainginya dan membuatmu menyadari perasaanku lalu membalasnya? Tuhan, inikah bagian dari karma kehidupanku? Atau hanya kerikil kecil yang mencoba menghadang? Yah, cinta memang hal paling rumit bagiku.”

Sealiran darah tiba-tiba merembes keluar dari hidung Nathan, ia segera bangkit dan mengambil tisu yang ada di meja kecil di samping tempat tidurnya. Lalu ia menahan nafasnya dari hidung selama 3 menit untuk menghentikan aliran darah itu. Setengah dari isi kotak tisu itu terpakai untuk menghapus darah tadi. Nathan berusaha tenang, saat mimisannya berhenti ia mencoba untuk tidur dan percuma, ia tetap terjaga hingga pagi.

Saat masuk sekolah Nathan lebih pucat dari biasanya. Bibirnya putih seperti mayat. Randy yang pertama melihatnya turun dari motor.

“Than, lo nggak apa-apa?” tanya Randy menghampiri Nathan yang baru memarkirkan motornya.

“Enggak, emang kenapa?” tanya Nathan pura-pura tidak mengerti.

“Lo pucet banget Than, lo sakit? Pulang aja kali, ntar gue yang bilang sama wali kelas.” Kata Randy agak cemas.

“Enggak apa-apa, gue cuma kurang tidur soalnya semalem gue bener-bener nggak bisa tidur. Baru tidur sejam udah jam 5 ya terpaksa bangun terus mandi berangkat sekolah deh.” Jawab Nathan berbohong.

“Bener nih? Ya udah yuk ke kelas.” Ajak Randy. Nathan mengikuti disebelahnya berjalan ke arah ruang kelas mereka yang berada di lantai 1.

Nathan melewati bangku Anya yang menatapnya cemas.

“Than lo kenapa?” tanya Anya agak panik.

“Nggak kenapa-kenapa.” Jawab Nathan berusaha santai.

“Lo pucet banget tau. Sakit?” tanya Anya lalu menempelkan punggung tangannya di dahi Nathan. Randy batuk-batuk kecil melihatnya.

“Enggak kok,” jawab Nathan lalu menepiskan tangan Anya.

“Tapi lo dingin banget, tangan lo apalagi.” Kata Anya masih khawatir.

“Pulang aja gih.” Bujuk Anya.

“Nggak usah udah. Gue cuma belum sarapan, ya belum sarapan.” Kata Nathan berbohong lagi.

“Oh, ya udah nih makan bekel gue aja nih. Nyokap masakin scootel tadi pagi. Nih.” Kata Anya menyodorkan kotak bekalnya.

“Nggak usah Nya.” Jawab Nathan sungkan.

“Ih nggak apa-apa, ini makan aja nggak usah pake nggak enak segala lagi.” Kata Anya lagi.

“Seriusan deh nggak usah.” Nathan mendorong bekal itu menjauh.

“Nggak mau tau, bodo amat makan, atau gue marah dan nggak mau kenal lagi sama lo.” Kata Anya setengah mengancam.

“Udah, makan aja Than. Enak tuh. Apa mau gue aja yang makan?” goda Randy.

“Ohh, atau maunya disuapin sama Anya?” Randy lanjut menggoda Nathan.

“Iya, apa mau gue suapin. Ya udah sini.” Anya hendak mengambil kotak bekalnya lagi tapi Nathan keburu mengambilnya duluan.

“Nggak, iya gue makan sendiri aja.” Katanya lalu membuka kotak bekal itu dan memakannya perlahan. Ia sama sekali tidak memiliki selera untuk makan padahal scootel itu rasanya benar-benar enak. Hanya setengahnya saja Nathan memakannya. Sisanya lalu Randy yang memakannya.

Nathan mengeluarkan beberapa bungkus obat dalam kantung berwarna biru transparan itu. Lalu meminumnya satu persatu, ada jenis 5 obat yang kesemuanya adalah tablet dan kapsul.

“Obat lo banyak banget Than. Lo sakit apa emangnya?” tanya Anya penasaran.

“Migrain.” Jawab Nathan asal.

“Emangnya migrain obatnya sebanyak itu ya?” tanya Anya menyelidik.

“Emm, iya.” Jawab Nathan lalu memasukkan lagi bungkusan obat itu ke dalam tasnya. Anya hanya mengangguk-anggukan kepalanya pura-pura percaya padahal dalam hatinya ia penasaran setengah mati.

Bel pulang berbunyi akhirnya, Anya hendak pulang tapi Nathan memanggilnya dari belakang.

“Anya!”

Anya menoleh, lalu bertanya, “Kenapa?”

“Gue anter pulang ya?” tawar Nathan.

“Ngerepotin nggak?” tanya Anya.

“Enggak kok.” Jawab Nathan sambil tersenyum manis, wajahnya sekarang sudah tidak terlalu pucat lagi, sepertinya sudah tidak sakit seperti tadi.

“Oke deh.” Jawab Anya lalu mengikuti Nathan yang berjalan ke arah tempat parkir motor. Lalu Nathan mengantar pulang Anya dengan motornya.

“Makasih ya Than,” kata Anya dengan seulas senyum saat sampai di depan rumahnya.

“Yep, sama-sama.” Jawab Nathan ikut tersenyum.

“Besok pergi sekolah sama siapa Nya?” lanjut Nathan bertanya.

“Sendiri, kenapa?” Anya balik bertanya.

“Umm, mau bareng? Sekalian lewat.” Ajak Nathan.

“Boleh kalau nggak ngerepotin.” Anya mengangguk setuju.

“Oke, besok jam 6 ya.” Nathan tersenyum sumringah, wajah pucat tadi pagi sudah berubah menjadi semburat-semburat merah di wajahnya sekarang.

“Oke sip.” Anya mengacungkan jempolnya.

“Pulang dulu ya Nya.” Nathan pamit lalu melaju pergi dengan sepeda motornya.
*****

“Rio,” panggil Sally. Rio menoleh.

“Boleh pulang bareng nggak? Mobilku masuk bengkel nih.” Kata Sally dengan bahasa Inggris yang penuh dengan aksen Amerikanya.

“Boleh, kenapa enggak?” Rio menjawabnya dengan bahasa Inggris juga sambil tersenyum.

Mereka berdua jalan berdua beriringan. Beberapa kali Sally dan Rio terlihat tertawa bersama, kelihatan akrab sekali. Mereka tidak langsung pulang ke rumah tapi jalan-jalan dulu makan es krim dan ke toko buku. Menjelang sore baru mereka sampai rumah.

Keesokan harinya Clara tiba-tiba mengajak Rio mengobrol berdua.

“Lo ada hubungan khusus sama Sally?” tanya Clara menyelidik.

“Hah? Hubungan apa?” Rio tidak mengerti.

“Ya hubungan semacem TTM atau apalah gitu.” Jawab Clara.

“Jangan gila lo, gue udah punya pacar.” Rio agak kaget dengan tuduhan Clara.

“Jangan bohong, kemaren gue liat lo jalan sama dia.” Balas Clara sengit.

“Jalan doang masalah banget ya?” Rio memutar bola matanya kesal.

“Jujur sama gue, lo suka kan sama Sally?” Clara makin mendesak Rio sengit.

“Clar, okay gue tau lo nggak suka sama Sally karena Gio suka sama dia bukannya sama lo. Tapi please, jangan bawa-bawa gue masuk ke masalah kalian. Gue nggak ngerti apa-apa disini.” Rio berusaha berkata tenang.

“Justru itu kalau lo jadian sama Sally nggak akan ada penghalang lagi buat gue!” Clara berkata terus terang.

“Cewek freak lo! Lo jadiin gue alat doang? Iblis tau gak lo.” Rio emosi kali ini.

“Heh, gue ngomong gini juga berdasarkan apa yang gue liat ya! Lo keliatan banget kok suka sama Sally, dan lo nggak bisa bohong kalau lo bilang sama David lo kagum sama Sally kan?” Clara makin sengit mendesak Rio.

“Lo selalu ngejudge orang tanpa tau yang sebenernya. Lo tuh sok tau banget tau nggak? Kalau gue kagum emangnya berarti gue cinta dan suka sama dia? Enggak Clar, enggak. Terserah lo deh mau ngomong gimana. Orang yang nggak pernah ngerasain cinta kaya lo NGGAK AKAN PERNAH NGERTI.” Rio berlalu pergi meninggalkan Clara yang mengumpat kesal.
*****

Ada sebuah notifikasi email masuk di handphone Anya saat ia sedang belajar di sekolah. Segera Anya membuka email tanpa judul dari darkangel66 itu. Berisi sebuah file foto-foto ternyata. Anya menunggu handphonenya selesai mendownload semua gambar itu lalu mengeceknya.

Ia terkejut, beberapa foto Rio sedang menyuapi Sally es krim ada di file itu, lalu saat Sally merangkul Rio di toko buku. Sesak, benar-benar sesak yang Anya rasakan sekarang, ia bingung harus melakukan apa. Sepanjang hari di sekolah ia hanya diam tanpa mau berkata sedikitpun kecuali guru yang memintanya.

Ia pulang diantar Nathan, sepanjang perjalanan Anya hanya diam. Nathan juga sama sekali tidak berani bertanya apapun pada Anya.

Baru ketika sampai di rumahnya Anya berkata-kata.

“Makasih Than,” kata Anya datar saat turun dari motor.

“Iya Nya, sama-sama.” Jawab Nathan.

Nathan tidak segera pulang, ia hanya terus menatap Anya yang sedang menunduk. Akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya.

“Lo dari tadi kenapa sih Nya?”

Anya tidak menjawab, ia justru tiba-tiba menangis dan menelungkupkan kedua tangannya di wajahnya yang sedang menunduk. Nathan turun dari motornya dan menghampiri Anya. Ia bingung harus bagaimana. Nathan membelai lembut punggung Anya berusaha menenangkannya.

“Anya, kok malah nangis sih? Kenapa? Cerita aja Nya sama gue, mungkin gue bisa bantu. Udah Nya, udah.” Nathan masih terus membelai lembut punggung Anya. Lalu Anya menghambur memeluk Nathan yang ada di sampingnya. Nathan yang tidak tau apa-apa hanya bergeming kaget dengan sikap Anya. Ada perasaan senang saat Anya memeluknya secara tiba-tiba, tapi juga bingung dengan tingkah gadis itu. Ia membalas memeluk Anya canggung sambil membelai lembut kepalanya.

“Gue nggak pernah ngerasa sesakit hati ini Than sebelumnya...” Anya berkata lirih dengan sesenggukkan akibat tangisannya.

“Ya, lo kenapa? Apa masalahnya? Kenapa Nya, kenapa? Cerita sama gue.” Nathan makin merasa nyaman dipeluk gadis itu.

Anya melepaskan pelukannya dan meredakan tangisnya lalu menyeka air mata yang keluar deras. “Rio...” Anya berkata lirih sambil menunduk.

“Kenapa Rio? Ada masalah sama Rio?” tanya Nathan penasaran.

Bukannya menjawab Anya kembali menangis dan menangkupkan lagi tangannya ke wajah. Nathan akhirnya membimbing Anya duduk di kursi halaman rumahnya.

“Tenangin dulu Nya, ini gue ada minum.” Nathan memberikan sebotol air mineral dari dalam tasnya.

“Makasih,” Anya menenggak minuman itu sedikit lalu diam menatap jauh.

Nathan juga hanya diam sambil memperhatikan Anya yang masih terlihat mengeluarkan airmata walaupun sudah tidak dengan isakan.

Spontan Nathan mengarahkan tangannya ke pipi Anya, menghapus beberapa tetes air mata disana. Anya yang terlihat agak terkejut menoleh menatap Nathan, begitu juga Nathan, ia agak terkejut dengan sikapnya sendiri.

“Maaf Nya, gue suka nggak tega liat perempuan nangis. Ya kan lo tau, kakak gue cewek, ade gue cewek, nyokap gue juga udah pasti cewek. Dan bokap gue udah nggak ada, jadi cuma gue yang jagain mereka. Nah, kalau liat cewek nangis tuh rasanya kayak liat mereka yang nangis. Nggak tega sumpah.” Terang Nathan sambil menatap Anya berharap Anya akan berhenti meneteskan air mata.

Anya tersenyum membalas tatapan Nathan lalu menyeka air matanya dan memegang lembut tangan Nathan. Sambil berkata, “Makasih ya.”

Nathan hanya tersenyum dan meremas lembut tangan Anya yang mengenggam tangannya.

“Sama-sama, jadi lo mau cerita nggak nih tentang masalah lo? Mungkin gue bisa sedikit bantu, ya syukur-syukur kalau bisa ngasih advice. Kalau nggak bisa ya mungkin cukup bisa bikin lo lega dengan ngungkapin semuanya.” Kata Nathan menawarkan.

Anya melepaskan tangannya dari tangan Nathan, menghela napas lalu menatap jauh ke depan, menembus langit.

“Rio itu cinta pertama gue Than.” Kata Anya membuka suara. Nathan hanya diam, menunggu kalimat selanjutnya.

“Selama hampir 3 tahun pacaran gue belum pernah ngerasain yang namanya dia ngeduain gue atau apalah. Dia setia, setia banget. Dia selalu ada di deket gue, dan kecil kemungkinan buat dia selingkuh, karena semua keseharian dia gue tau gimana, dan hampir separuh waktunya adalah bersama gue. Gue percaya sama dia. Percaya banget. Tapi, ada saatnya gue juga bisa cemburu kalau dipancing kaya gini Than. Gue, gue...” Anya tidak mampu menyelesaikan lagi kalimatnya karena rasa sesak di dadanya yang membuat air mata itu tumpah lagi. Nathan sedikit mengerti apa yang tengah dihadapi Anya saat ini, ia mendekatkan posisi duduknya dengan Anya lalu merangkul Anya dan menenangkannya lagi.

“Semua masalah bisa diselesaikan Nya, jangan terburu-buru ambil kesimpulan. Positif thinking aja.” Kata Nathan sambil membelai lembut punggung Anya. Anya menangis tersedu di dalam rangkulan Nathan, ia bersender pada dada kurus laki-laki itu. Rasanya memang berbeda saat berada dalam dekapan Nathan dibanding dekapan Rio.

Anya bisa merasakan rasa menyejukkan yang menenangkan ketika berada seperti saat ini bersama Nathan, sedangkan jika bersama Rio ia merasakan kehangatan yang menjalari seluruh tubuhnya yang juga bisa membuat nyaman ditambah dengan rasa seperti disengat listrik melalui sentuhan kulit Rio yang mengenai kulitnya. Berbeda, mereka berdua mengalirkan rasa yang berbeda pada Anya, membuat Anya menyadari spekulasinya tentang setetes air di air terjun niagara adalah benar. Tapi ia cukup menikmati saat bersama dengan Nathan seperti saat ini. Ada sedikit perasaan takut dalam hatinya bahwa yang ia lakukan saat ini salah, karena ia sama saja mengkhianati Rio. Tapi sebagian hatinya lagi berfikir kalau Rio juga bisa melakukan hal yang membuat hati Anya sakit kenapa Anya tidak bisa melakukannya juga seperti Rio. Ia makin menenggelamkan kepalanya dalam dada Nathan, menghirup napas panjang dan merasakan aroma tubuh Nathan yang sederhana, bukan parfum mahal seperti milik Rio. Melainkan campuran bau keringat dan sabun cuci yang sangat harum yang melekat dipakaiannya yang meskipun sudah dipakai sejak pagi tetap terjaga keharumannya. Dan Anya sadar, kesederhanaan Nathan yang membuatnya nyaman berada di dekatnya.

Anya berhenti menangis dan membenarkan duduknya lalu mulai berkata lagi, “Ada orang yang ngirimin gue fotonya Rio lagi sama cewek disana Than. Fotonya itu ada yang Rio lagi nyuapin cewek itu sama ada juga yang si cewek itu lagi ngerangkul Rio kayak di toko buku gitu.”

Nathan terdiam sejenak lalu bertanya, “Siapa yang ngirim?”

“Nggak tau, namanya darkangel66, gue dikirimin via email.” Jawab Anya.

“Lo kenal cewek yang lagi sama Rio itu atau enggak?” tanya Nathan lagi.

“Cuma pernah ketemu sekali waktu gue ngerayain ulang tahun disana. Nah, cewek itu diundang, namanya Sally. Dia orang asli sana. Trus, cuma ngobrol sedikit doang, dia agak pendiem. Paling si Bang Eza aja tuh yang ngegodain dia melulu gara-gara dia cantik banget.” Terang Anya panjang lebar.

“Waktu lo lagi sama dia itu ada Rio nggak?” tanya Nathan menyelidik.

“Ada, kenapa?” Anya balik bertanya.

“Sikapnya Rio gimana?” Nathan kembali bertanya juga.

“Biasa aja sih, nggak ada yang beda.” Jawab Anya mengingat-ingat kejadian malam itu.

“Ya udah, coba konfirmasi dulu sama Rio. Siapa tau salah paham. Atau ada yang mau ngehancurin hubungan kalian.” Nathan mencoba berfikir jernih.

“Ya, mungkin.” Anya mengalihkan pandangannya dari Nathan lalu memandang jauh.

“Masih sedih nggak Nya?” tanya Nathan.

“Masih, tapi ya udah sedikit lega lah.” Jawab Anya sambil tersenyum.

“Makasih ya,” lanjutnya lagi.

“Iya, sama-sama.” Jawab Nathan.

“Kalau gitu gue pulang sekarang ya? Kasian ibu takutnya nggak ada yang bantuin.” Lanjut Nathan pamit, lalu berdiri dari kursi tempatnya dan Anya duduk.

“Iya, hati-hati ya. Salam buat Ibu Than.” Kata Anya.

“Iya, sip.” Nathan lalu berjalan menuju motornya lalu memakai helmnya dan mengendarai motornya melaju pulang.

Anya masuk ke kamarnya dengan langkah gontai. Ia bingung harus bagaimana. Ia masih terlalu sakit hati untuk menghubungi Rio duluan. Akhirnya ia memutuskan untuk tidak menghubungi Rio dulu, biar Rio yang menghubunginya. Ia berpikir siapa tau Rio sudah mengetahui hal tersebut.

Sekitar pukul 9 malam akhirnya Rio menghubungi Anya. Awalnya ia mengirim sebuah SMS tapi tidak biasanya Anya tidak membalas. Akhirnya ia memutuskan untuk menelfon gadis itu.

“Hai,” sapa Rio ketika telfonnya akhirnya diangkat.

“Iya,” jawab Anya singkat.

“Kok SMS aku nggak dibales, kenapa?” tanya Nathan.

“Nggak ada pulsa.” Jawab Anya berbohong.

“Ohh, nggak mau skype?” tanya Rio.

“Laptopku rusak.” Anya berbohong lagi.

“Ohh, oke deh nggak apa-apa.” Rio menghela napas panjang agak bingung dengan sikap dingin Anya.

“Kamu lagi apa Nya?” tanya Rio memancing Anya yang biasanya manja padanya baik saat bertemu langsung atau ditelfon seperti saat ini.

“Tiduran.” Jawab Anya singkat dengan nada datar.

“Kamu kenapa sih Nya?” tanya Rio cemas.

“Bad mood aja.” Jawab Anya ketus.

“Kenapa?” tanya Rio bingung.

“Nggak tau deh.” Anya menjawab malas.

“Kamu lagi kesel sama aku? Kenapa? Gara-gara apa? Udah hampir sebulan loh semenjak kepulangan kamu dari sini, dan aku nggak tau nih salahku apa.” Kata Rio jujur.

“Kamu kenal sama darkangel66 nggak?” tanya Anya serius.

“Siapa itu? Enggak tau aku.” Jawab Rio jujur.

“Aku juga nggak tau, itu username email dia, dia ngirimin aku foto-foto kamu di Kanada.” Kata Anya datar.

“Foto apa?” Rio mulai sadar ada yang tidak beres dengan ini.

“Aku kirim ke ym kamu. Tunggu.” Anya mengutak-atik hanphonenya dan setelah selesai ia kembali meletakkan handphonenya di telinga.

“Udah aku kirim.” Kata Anya.

“Belum sampe, sabar ya.” Kata Rio berusaha santai.

3 file foto masuk ke ym Rio, ia membuka satu persatu dengan kaget, fotonya bersama Sally ternyata.

“Itu nggak kayak yang kamu fikir Nya, aku cuma makan es krim sama Sally waktu pulang sekolah trus nemenin dia beli buku.” Kata Rio dengan berusaha tenang.

“Trus perlu ya makan es krimnya sampe suap-suapan gitu? Trus si Sally ngerangkul kamu biasa aja tuh perlu ya?” Gertak Anya.

“Please deh Nya, itu aku nganggep dia cuma temen, nggak lebih. Aku sayang sama kamu Nya.” Kata Rio berusaha membela diri.

“Temen kaya gitu Yo?” Anya membalas sinis.

“Demi Tuhan, aku nggak berusaha buat nganggep itu lebih atau gimana Nya. Kamu jangan terprovokasi sama orang yang ngirim foto itu. Aku yakin orang itu tuh pengen liat kita hancur Nya, please jangan.” Rio berusaha membuat Anya yakin.

“Aku nggak tau Yo, aku... aku sakit liat itu semua, sakit banget.” Anya menahan diri untuk menangis.

“Maafin aku Nya, maafin. Aku nggak tau harus bilang apa lagi. Aku janji nggak akan pernah deket sama perempuan manapun lagi kalau itu buat kamu sakit hati.” Rio menyesal. Anya diam bingung harus mengatakan apa.

“Gimana Nya caranya biar kamu maafin aku?” tanya Rio.

“Kasih aku waktu untuk sendiri dulu Yo, sebulan aja. Sampe anniversary kita yang ke 3 tahun nanti. Aku butuh waktu untuk membenarkan semuanya lagi, menata perasaanku Yo.” Kata Anya lirih.

“Tapi itu lama banget Nya...” Rio membayangkan sebulan tanpa suara Anya.

“Enggak, kamu harus sabar Yo kalau beneran kamu sayang sama aku.” Anya berusaha meyakinkan.

“Okelah kalau itu yang kamu mau aku terima,” Rio akhirnya pasrah.

“Oke, bye.” Anya mematikan sambungan telfonnya dan menjatuhkan dirinya ke ranjang.

Can we fall one more time? Stop the tape and rewind
And if you walk away I know I’ll fade, cause there is nobody else
It’s gotta be you, only you
(Gotta Be You – One Direction)

“Aku bisa merasakan kekecewaanmu. Karena aku seorang bodoh yang membuatmu kecewa dengan hatimu. Aku menghancurkannya menjadi kepingan kepingan yang rusak. Dan aku tau tidak ada seorangpun yang mampu menerima maaf dari kesalahan seperti ini, hanya yang berjiwa besar yang mampu. Tapi aku disini memintamu untuk satu kesempatan lagi. Bisakah kita mengulang untuk satu kali lagi? Hentikan waktu dan kembali. Dan jika kamu pergi aku tau aku akan hilang arah, karena tidak ada orang lain. Hatiku benar-benar untukmu, hanya kamu. Aku bersumpah, aku akan selalu berada disisimu, takkan ada pertengkaran, takkan ada tangisan. Selamanya akan kujaga kamu dalam hatiku.”
 *****

Gimana? Udah pada lupa jalan ceritanya ya? Ya udah baca ulang lagi deh....
Hehe, masih mau baca part selanjutnya kan? Tungguin aja ya...
See you! 

0 komentar:

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos