Saturday, November 24, 2012

Cerbung - If This Was A Movie

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 04:12
Reaksi: 
Hai readers, memenuhi janji gue tadi siang nih. Gue bakalan post cerbung yang gue bikin.

Alhamdulillah yah, Bani lagi rajin banget bikin-bikin ginian. Bisa dilihat kan judulnya apa? Yup, nggak usah pake lama lagi, check this out----


 Part 1 – Perfect Guy

“Pak!!! Stop! Jangan ditutup dulu gerbangnya, please!” Seru seorang gadis sambil berlarian setelah turun dari angkot di depan sekolahnya.

“Nggak bisa, kamu sudah telat 15 menit lewat 10 detik. Sekolah hanya memberi dispensasi kepada murid yang telat 15 menit.” Jawab Pak Satpam dengan wajah tegas.

“Pak, please, hari ini aja. Saya belum pernah telat kan sebelumnya?” Gadis itu memasang muka memelas.

“Tetep nggak bisa. Sekali peraturan tetep peraturan. Lebih baik kamu pulang. Hari ini aja kan pulangnya?”
*****

“Hidup emang nggak pernah seindah film. Mungkin, kalo gue tinggal di dunia yang mirip sama kehidupan sinetron-sinetron yang episodenya nggak pernah abis, atau tinggal di dunia yang mirip sama kehidupan film yang tayang selama 2 jam di layar lebar, sekarang gue pasti nggak bakal yang namanya disuruh pulang gara-gara telat gini. Seengaknya, kalau di film romantis pasti bakal ada cowok ganteng yang nyelametin gue dari si satpam jahat yang nggak ngebiarin masuk tadi. Atau mungkin kalau di film action, gue bakal ngeloncatin pager sekolah dan masuk kelas kayak nggak ada apa-apa yang terjadi, atau bisa juga kalau filmnya melow gue nangis-nangis di depan pak satpam dan dia luluh akhirnya ngebiarin masuk. Sayangnya, hidup gue bukan film. Gue nggak tau hidup gue tergolong apa, yang gue tau hidup nggak sesimple film layar lebar dan nggak serumit sinetron.”

Drtt... Drttt... Maybe it’s true that I can’t live without you... Drtt... Drttt... Maybe two is better than one... Drtt... Drttt...

Dering handphone Rhea membuyarkan lamunannya. Ia mengambil handphonenya, lalu memutar bola matanya saat melihat siapa yang menelepon, dan mengangkatnya dengan enggan.

“Lo kemana sih?!” Kata si suara dalam telpon setengah membentak.

“DP.” Jawab Rhea singkat.

“Arggghh, bodoh banget sih?! Kenapa bisa sih? Lo lupa kalo hari ini kita harus kumpulin tugas presentasi Sosiologi?” kata suara di telpon masih membentak.

“Inget, tapi ya gimana lagi? Gue udah terlanjur DP, tadi pagi gue kesiangan jadi ditinggal kakak ya terpaksa gue naik angkot. Eh, taunya telat.” Jawab Rhea santai.

“Lo santai banget sih?! Nilai gue gimana?! Kalau nggak dikumpulin hari ini kita bisa di hukum!” Si suara di telepon masih kesal.

“Argon, lo tinggal bilang tugasnya ada di gue, dan guenya nggak masuk. Gampang kan?” kata Rhea sambil mengambil sebungkus kripik kesukaannya.

“Nggak segampang itu! Kalau nilai gue dikurangin gara-gara ini gimana?” Argon masih panik.

“Tinggal ngebagusin nilai tugas yang lain. Gampang kok. Lo kan the perfect one, pasti cuma buat ngebagusin nilai yang lain segampang ngedip kan bagi lo?”

“Lo tuh ya!” Sambungan telepon sepertinya ditutup oleh Argon, Rhea hanya mengedikkan bahu santai sambil menggigit kripik balado di tangannya.

“Oh iya, satu lagi yang ngebuktiin bahwa hidup ini nggak kayak film, cowok nyebelin kayak Argon yang sok perfect itu nggak seperfect apa itu perfect dalam artian yang benernya. Bingung kan? Yah, seenggaknya mungkin kalau ini sebuah film gue bakalan jatuh cinta sama anak itu dan kita jadian. Klise. Kenal-Saling nggak suka-musuhan-jatuh cinta-jadian. Tapi ini bukan film kan? Yang klise-klise peluangnya hampir nol buat jadi nyata di dunia yang hampir bikin muntah ini saking boseninnya.”

Rhea memandang keluar jendela kamarnya menatap langit yang mulai  menghitam karena akan turun hujan. Lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur.
*****

 “Rhea... Rhe, bangun Rhe.” Hera, wanita setengah baya berkulit putih dengan beberapa kerutan di dahinya itu berusaha mengguncangkan tubuh gadis berusia 16 tahun di depannya.

“Apaan sih Ma?” Rhea masih menutup matanya, menolak disuruh bangun.

“Itu ada temen kamu di depan. Kasian dia hujan-hujan dari sekolah kesini tuh mau ambil tugas katanya.” Hera berkata lembut.

“Hah?” Rhea segera bangkit dengan kaget lalu berlari keluar kamarnya dan menuruni tangga menuju ruang tamu.

“Mungkin ada sedikit kesamaan antara film dan kehidupan dunia nyata, ada orang yang mau berkorban demi sesuatu tanpa peduli apapun. Contohnya si Mr. Sok perfect itu. Dia rela berkorban hujan-hujanan kesini demi ketemu gue. Ralat, demi nilainya yang nggak boleh telat ditulis guru.”

“Ngapain?” tanya Rhea begitu berhadapan dengan lelaki yang kering dari ujung kaki sampai ujung rambut itu meskipun kata Mamanya hujan-hujanan datang kesana.

“Presentasi?” Jawab Argon datar tanpa ekspresi dengan pandangan tajam ke mata Rhea seakan mengancam ‘Gak usah sok lupa, atau lo gue bunuh’.

Rhea bergidik ngeri lalu berkata, “Okay, wait gue ambil.”

Laki-laki itu tidak menjawab apa-apa kemudian menyandarkan tubuhnya di sofa ruang tamu Rhea.

“Salah. Dia nggak berkorban apa-apa. Dengan mobil Audi R8100, yang gosipnya kata anak-anak, Audi dengan tipe paling mahal itu, kesini bukan berkorban, ini nggak beda jauh sama cabut kelas. Tuan Sempurna, ternyata lo nggak sesempurna itu kan?”

“Ma, katanya dia kehujanan, mana? Nggak basah gitu.” Kata Rhea saat bertemu Mamanya di lantai atas.

“Siapa bilang? Mama cuma bilang dia hujan-hujan dateng kesini kok.” Jawab Hera sambil menyeruput tehnya tanpa melepaskan pandangan dari katalog Furla miliknya.

Rhea hanya memutar bola matanya melihat Mamanya. Lalu masuk kamarnya dan mengambi flashdisk berbentuk kamera miliknya beserta laptop putihnya. Dan dengan santai dia berjalan ke bawah menuju ruang tamu.

“Ini, ada filmnya sesuai permintaan lo. Kalo gitu lo doang dong yang presentasi? Gue nggak dapet nilai gitu?” tanya Rhea sambil mencolokkan flashdisk ke laptopnya.

“Gue bakal jujur presentasi dengan semua efek-efek ini lo yang buatin, gue bagian yang ngasih materi dan jelasin.” Jawab Argon lagi-lagi tanpa ekspresi.

Rhea tidak menanggapi malah mulai mengutak-atik laptopnya dan membuka sebuah presentasi yang diawali dengan film, dengan serius Argon mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat ke laptop lalu menontonnya sambil sesekali mengerutkan kening.

“Windows movie maker?” kata Argon sambil melirik meremehkan.
Rhea diam tidak mengacuhkannya.

“Too much shit.” Kali ini Argon menutup matanya sambil menggeleng pelan.

“Apanya?” Rhea mulai terpancing kesal.

“The video, what else?” Argon menjawab datar.

“Kal ̶ ” Baru Rhea mau marah Argon malah mengambil alih laptop Rhea dan kemudian mencabut flashdisk itu.

 “But show must go on, I must collect the score. It’s my fault. I’m too much expecting to you.” Argon berjalan keluar menuju pintu depan meninggalkan Rhea yang terbengong menatapnya.

Rhea berlari mengejar Argon yang berjalan santai menghampiri mobil putihnya.

“Ar!” panggil Rhea dari balik pagar rumahnya.

Argon menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Rhea menunggu kalimat selanjutnya.

“If the video is shit, so what kind of person who collect the score with it?” Rhea tersenyum sambil bersedekap menatap Argon yang tampak kesal.

“Clever one, I guess. Everyone love life, and life is full of shit.” Jawab Argon datar lalu masuk ke mobilnya.

Rhea bengong menatap laki-laki paling datar yang pernah dia kenal sampai mobilnya menghilang dari pandangan. Rintik hujan yang kembali turun mengembalikan kesadarannya.

“Gue rasa dia bukan dari dunia ini. Mungkin dia salah satu tokoh film yang nyasar ke dunia nyata. Dia... Too good to be true. What? Dia good? Nggak. Gue rasa otak gue terganggu gara-gara orang sinting tadi. Tapi... I love it. I mean his words, not his abbility.”
*****

 “So, the score of shit is 9? Cool, the teacher even love shit.” Kata Rhea keesokan harinya di sekolah saat Argon mengembalikan flashdisknya sambil memberitahu nilai mereka.

“Score is just the other shit.” Balas Argon sambil lalu, meninggalkan Rhea menuju mejanya dan duduk disana sambil mengenakan headphonenya lagi.

Rhea hanya menggeleng pelan lalu menoleh kebelakang menuju meja anak laki-laki paling pintar di sekolahnya itu. Gadis itu sadar ada yang salah dari anak itu. Sesuatu yang... Berbeda.

Belum lama Rhea mengenalnya, mungkin 2 bulan. Ya, meskipun satu sekolah dari kelas 10, tapi mereka baru kenal saat memasuki tahun ajaran baru di kelas 11. Rhea tergolong gadis cantik di sekolahnya meskipun dengan otak pas-pasan. Tapi prestasi di luar akademiknya cukup membanggakan. Kemampuan IT-nya jauh diatas rata-rata. Semua warga sekolah sudah mengakui kehebatan Rhea. Dia terampil dalam memotret, mengambil gambar video, mengedit, mengatur letak foto, mengutak-atik laptop, dan komputer, bahkan sampai meretas sistem dengan keamanan yang lumayan sulit. Rhea belajar dari ayahnya yang seorang intel.

Sedangkan Argon, laki-laki yang sedang membaca buku tentang pengaruh perang Yunani terhadap kelangsungan dunia merupakan murid paling dikenal seantero sekolah. Kenapa? Dia satu-satunya yang datang ke sekolah menggunakan mobil sport paling mahal. Dia murid paling pintar dan dia satu-satunya murid yang selalu mengambil rapotnya sendiri tanpa di dampingi orang tua. Tidak ada yang tahu kenapa, tapi beberapa gosip beredar mengatakan kalau orang tua Argon merupakan pengusaha terkenal yang tinggal di luar negri dan Argon tinggal sendiri di Indonesia. Ada lagi yang mengatakan kalau kedua orang tua Argon sudah tidak ada. Tapi semuanya hanya sekedar gosip. Tidak ada yang bisa memastikan kebenarannya. Argon memang tidak pernah dekat dengan siapapun. Dia seorang yang sangat cuek dengan keadaan sekitarnya. Bahkan rasanya meragukan kalau dia hapal nama teman sekelasnya.

Padahal kenyataan yang ada, Argon merupakan idola banyak perempuan di sekolahnya. Wajahnya yang Indo itu bisa membuat perempuan manapun betah lama-lama memandang wajahnya. Dengan hidung mancung lancip, mata bulat besar, alis tebal, bibirnya semerah apel, dan kulit putih persis orang barat tapi tanpa bintik-bintik. Rambutnya agak gondrong untuk ukuran anak SMA, dan banyak yang iri karena dia seperti mendapat keistimewaan untuk membiarkan rambutnya panjang. Beberapa murid sering menyebutnya sebagai Aaron Johnson versi anak SMA. Namun julukan itu tidak pernah lebih dari sekedar bisik-bisik belaka. Sikap Argon yang dingin membuat semua murid enggan berurusan dengannya.

Tapi, beberapa hari yang lalu, Argon yang saat itu diberi keistimewaan oleh Bu Cece, guru Sosiologinya untuk memilih partnernya dalam mengerjakan tugas kelompok sebagai hadiah nilai ulangan tertinggi. Dengan mengejutkan dia memilih Rhea, gadis yang duduk 2 bangku serong di sampingnya. Membuat semua orang termasuk Rhea tercengang kaget. Karena Argon dan Rhea sebelumnya memang tidak pernah dekat, jangankan dekat, sekedar ngobrol saja mereka tidak pernah.

Tapi tiba-tiba hari itu Argon memilih Rhea untuk menjadi partnernya. Satu sekolah heboh membicarakan mereka. Kebanyakan karena iri Rhea bisa dekat dengan bintangnya sekolah. Dan sebagian lagi membuat gosip macam-macam yang aneh.

“Rhea, bisa tolong bicara di ruangan saya? Tolong panggil Argon juga, saya butuh bantuan kalian berdua.” Kata Bu Cece guru Sosiologi sekaligus wali kelasnya saat bertemu di koridor.

“Baik bu,” jawab Rhea lalu berjalan menuju kelas untuk memanggil Argon.

Suasana kelas agak ramai karena waktu itu sedang istirahat dan kelihatannya sudah banyak murid yang kembali dari kantin. Argon masih duduk tenang di kursinya membaca buku setebal novel Harry Potter itu. Rhea menghampirinya.

“Ar, dipanggil Bu Cece. Katanya ada yang mau diomongin.” Kata Rhea.

Argon diam membaca bukunya. Telinganya masih disumpal dengan headphone Adidasnya. Rhea menurunkan satu headphone di telinga Argon kemudian berteriak keras di telinganya, “Argon, Ibu Cece manggil kita berdua, katanya ada yang mau diomongin.”

Semua mata mengarah pada mereka berdua. Pandangan penuh penasaran tertuju kepada mereka. Argon dengan datar melepas headphonenya dan bangkit dari kursinya meninggalkan Rhea. Sedangkan Rhea hanya bisa menggeleng pelan kemudian melangkah keluar kelas berusaha mengabaikan pandangan teman-teman sekelasnya yang mengarah padanya.

0 komentar:

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos