Monday, November 26, 2012

Cerbung - If This Was A Movie Part 3

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 04:17
Reaksi: 
I'm back readers.


Sesuai dengan janji yang kemarin, gue bakalan posting lanjutan cerbung gue. Yap, walaupun agak ngaret dikit, kemaren janjinya ngepost sore tapi taunya ini udah cukup malem.


Hehe, maaf ya. Baru pulang sekolah, dan baru selsai mandi, makan, dll nih. Yaudah, nggak usah nunggu lama lagi.


Just check this out----



 Part 3 – Competition
“Somebody can’t breathe without you, it’s lonely. Somebody hopes that some day you will see. That somebody’s me”
Somebody’s Me – Enrique Iglesias

“Tolong bawa semua buku ini ke meja saya ya Rhea.” Kata Bu Rosa guru matematikanya sambil memasukkan peralatan mengajarnya ke dalam tasnya lalu keluar dari kelas.

Rhea mengambil buku tugas milik semua teman sekelasnya dan membawanya menuju ruang guru. Dari kelasnya menuju ruang guru, dia bisa melewati koridor, tapi akan membuat dia harus berjalan lebih jauh. Jalan terdekat adalah dengan menyebrangi lapangan.

Kebetulan cuaca hari itu bersahabat, tidak hujan, dan tidak panas. Sejuk. Nyaman baginya untuk melewati lapangan.

Lapangan sekolahnya sendiri merupakan gabungan dari 4 lapangan. Lapangan futsal, lapangan basket, lapangan voli, dan lapangan bulu tangkis.

Saat di depan lapangan Rhea bisa melihat sekelompok anak yang sedang bermain futsal. Rhea berhenti sejenak, menatap salah satu pemain bertubuh jangkung dengan rambut berjambul. Kemudian dia menunduk dan menghela napas. Seberapa seringpun gadis itu mengamati laki-laki itu, dia tidak akan pernah menyadari keberadaannya. Dan Rhea terlalu takut untuk memperkenalkan diri.

Rhea mengambil napas dalam dan memantapkan dirinya untuk berjalan menyebrangi lapangan. Sendiri. Meskipun tidak akan melewati lapangan futsal, tapi setidaknya dia akan melewati sebelah lapangan futsal. Yang mungkin, harapan Rhea, laki-laki itu akan melihatnya.

Rhea berjalan sambil menatap lurus ke depan. Matanya sama sekali tidak berani melirik kearah kanan yang merupakan lapangan futsal. Lalu tiba-tiba seseorang meneriakkan sesuatu, entah untuk siapa, tapi Rhea terlalu gugup untuk menoleh.

“Awas!!!”

Rhea terjatuh sambil meringis menahan sakit pada kakinya yang tiba-tiba saja dihantam bola pada kaki kanannya. Buku-buku dalam genggamannya terlepas dan jatuh berserakan.

Anak-anak yang sedang bermain futsal itu menghampiri Rhea yang masih meringis kesakitan sambil memegang kakinya.

“Lo nggak apa-apa?” Salah seorang anak menanyakan keadaannya.

“Nggak, keseleo aja. Aduh.” Jawab Rhea sambil memijit pergelangan kakinya.

“Neo, parah lo. Lo kan tadi yang nendang, anterin ke UKS gih.” Seorang laki-laki berwajah oriental berkata sambil membantu Rhea bangkit. Sedangkan beberapa anak laki-laki yang lain membantu membereskan buku yang berserakan.

Rhea tersentak. Neo? Apa pendengarannya benar? Yang menendang tadi Neo? Neo yang akan mengantarnya ke UKS? Neo yang itu? Neo yang kapten futsal? Rhea mendadak merasakan tubuhnya dingin.

Seorang laki-laki yang dari tadi diam saja menatap Rhea merasa bersalah. Lalu dia berkata, “Maaf ya, gue anter lo ke UKS ya?” Neo berdiri di hadapan Rhea yang masih bertumpu pada anak laki-laki berwajah oriental itu.

Rhea merasakan wajahnya memanas, “Nggak usah, gue bisa sendiri kok.”

Rhea melepaskan pegangan laki-laki berwajah oriental itu. Lalu berusaha berjalan sendiri karena gugup. Namun karena kakinya yang masih terlalu sakit untuk digunakan seperti biasa, ia malah terjatuh lagi.

Neo jongkok di sebelahnya dengan wajah khawatir, “Gue anter aja ya. Kaki lo sakit pasti.”

Lalu tanpa menunggu jawaban dari Rhea, dia menggendongnya hingga membuat Rhea lupa bagaimana caranya bernapas. Keringat dingin meluncur pelan dari dahinya. Jarak antara wajahnya dan wajah si kapten futsal itu hanya berjarak kurang dari 20 senti. Dia hanya bisa diam dengan gugup. Laki-laki itu ternyata makin bertambah kegantengannya dari jarak sedekat ini. Rhea berusaha mengatur napasnya yang semakin memburu karena desakan dari jantungnya yang berdegup semakin cepat.

Laki-laki yang menggendongnya ini mengenakan celana panjang abu-abu dan atasannya hanya mengenakan dalaman kaus oblong warna putih, bau khas seorang laki-laki menguar dari tubuhnya yang berkeringat karena main futsal. Bau campuran antara parfum dan keringat yang membuat Rhea makin sulit mengendalikan detak jantungnya sendiri.

Mereka sampai di ruang UKS, yang ternyata penjaganya sedang tidak ada. Neo membaringkan Rhea diatas salah satu ranjang yang ada.

“Neo, bukunya gue taro meja nih ya.” Kata seorang temannya yang berwajah oriental untuk membawakan buku-buku yang tadi dibawa Rhea.

“Gue masuk kelas duluan Yo,” lanjutnya lagi.

“Iya,” Jawab Neo sambil melepaskan sepatu dan kaus kaki Rhea dengan hati-hati.

“Eh, eh, udah nggak usah. Gue bisa sendiri kok.” Rhea berkata gugup, melarang Neo melepaskan sepatu dan kaus kakinya.

“Enggak apa-apa.” Neo tetap melepaskan sepatu dan kaus kaki Rhea. Lalu ia melihat pergelangan kaki kanan Rhea yang membiru.

“Memar. Tunggu ya, gue cari minyak pijit.” Neo berjalan menuju salah satu rak P3K.

Rhea hanya bisa duduk dengan menahan sakit, gugup sekaligus rasa senangnya yang meluap-luap.

Neo akhirnya menemukan barang yang dicarinya dan menghampiri Rhea lagi yang sedang memijit-mijit kakinya sendiri.

“Eh, jangan dipijit sendiri, nanti salah urat loh. Sini gue aja. Gue gini-gini jago mijit loh.” Kata Neo sambil menarik kursi untuk duduk di samping ranjang yang diduduki Rhea. Lalu dia mengambil kaki Rhea dan meletakkan di atas pahanya sambil memijitnya pelan.

Rhea menelan ludah akibat perlakuan Neo. Gadis ini sudah meleleh hingga tidak bisa lagi merasakan tubuhnya. Dia merasa ingin terbang, dan berteriak pada seluruh dunia tentang apa yang baru saja dialaminya ini. Kemudian ia meringis kecil merasakan sakit pada memarnya yang dipijit terlalu keras oleh Neo.

“Maaf. Sakit ya?” tanya Neo sambil menatap Rhea.

“Eng... Enggak. Enggak kok.” Jawab Rhea gugup.

“Oh iya, gue Neo. Kelas 11 IPA 1. Lo siapa?” kata Neo sambil tetap memijat pergelangan kaki Rhea.

“Rhea. Kelas 11 IPS 5.” Jawab Rhea pelan, berusaha terlihat tidak gugup.

“Ohh, Rhea yang hacker itu ya?” Neo tersenyum menatap Rhea.

Deg! Jantung Rhea tiba-tiba seperti terasa berhenti berdetak saat Neo mengatakan itu. Rasanya mustahil baginya untuk dikenal oleh Neo, tapi ternyata dia mengenalnya.

“Gue sering denger kalau lo jago banget IT-nya, tapi baru tau sekarang ternyata orangnya nggak kayak yang gue pikirin.” Kata Neo lagi dengan senyum mautnya.

“Lo pikirin? Emang gimana?” Rhea berusaha menutupi kegugupannya.

“Kirain gue, yang namanya hacker, trus cewek itu pasti pake kacamata tebel, kemana-mana bawa buku, geek abis deh pokoknya. Tapi, ternyata lo enggak gitu. Jauh dari itu malah.” Jawab Neo dengan senyum menggoda.

“Gimana?” jantung Rhea berdegup semakin kencang.

“Manis banget.” Jawab Neo sambil menatap langsung ke dalam mata Rhea. Membuat gadis itu makin salah tingkah. Neo hanya tertawa melihat wajah Rhea yang langsung merona kemerahan.

“Udah, coba gerakin kaki lo.” Kata Neo melepaskan genggamannya dari kaki Rhea.

Rhea memutar pergelangan kakinya yang sedikit terasa lebih baik walaupun masih sedikit nyeri.

“Gimana? Masih sakit?” tanya Neo.

“Enggak, udah mendingan. Makasih ya.” Rhea tersenyum canggung.

“Sama-sama. Bukunya mau dibawa kemana? Biar gue aja yang bawain.” Kata Neo mengambil buku yang tadi Rhea bawa.

“Nggak usah, gue bisa sendiri kok.” Rhea mencegah Neo.

“Lo apa-apa bilang bisa sendiri melulu ya. Gue tau kok lo itu mandiri. Tapi berhubung kaki lo masih pincang biar gue aja yang bawain. Biar gue tebak, matematika, meja Bu Rosa ya?” Neo membuka salah satu halaman buku-buku itu.

Rhea mengangguk sambil tersenyum kagum.

“Oke, lo istirahat aja disini, nanti gue balik lagi.” Kata Neo lalu membuka pintu UKS.

“Neo,” panggil Rhea.

Neo menoleh, menunggu Rhea melanjutkan kalimatnya.

“Makasih ya, tapi gue udah bisa jalan kok. Gue balik ke kelas ya?” Rhea tersenyum menatap Neo yang sedang mengganjal pintu dengan sikunya.

Neo membalas senyuman Rhea lalu berkata, “Oke, hati-hati ya.”

Rhea mengangguk lalu turun dari ranjang tempat ia duduk dan berjalan pelan, dengan sebelah kaki yang masih pincang.

Dengan masih menahan sedikit nyeri, dia berjalan menuju kelasnya. Tersenyum, teringat akan kejadian beberapa menit lalu. Teringat senyuman yang selama ini hanya bisa dia lihat dari jauh, tadi bisa dia lihat dalam jarak beberapa senti saja.

Saat sampai di kelasnya, semua anak yang sedang mengobrol memandangnya dengan tatapan aneh. 

Merasa bingung, Rhea segera menghampiri teman-temannya yang sedang duduk bertiga. Rhea langsung disambut tatapan meminta penjelasan dari ketiga temannya itu.

“Apa sih?” Rhea bingung.

“Ceritain cepet!” Lisa memandang Rhea dengan pandangan menanti penjelasan.

“Kalian udah tau? Dari mana...? Kok bisa?” Rhea memandang ketiga temannya dengan bingung.

“Kapan sih Neo pernah berhenti di gosipin? Cepet, gimana?” Adara mulai tidak sabar.

Rhea menghela napas, lalu mulai menceritakan keseluruhan kejadian yang dia alami tadi kepada ketiga temannya itu. Dengan tidak berhenti tersenyum Rhea mengulang semua kejadian tadi dikepalanya. Teman-temannya mendengarkan dengan serius sampai terpana memandang Rhea hingga cerita selesai.

“Rhe, tau nggak. Sweet abis!” Seru Lisa semangat.

Rhea hanya bisa mengangguk sambil tersenyum.

“Tapi sadar nggak sih, kejadiannya tuh beruntun banget. Argon deket sama lo, dan Neo yang juga tau-tau deket sama lo.” Ujar Adara sambil mengunyah snack di mulutnya.

“Apa hubungannya?” Rhea mengerutkan dahi bingung.

“Iya, mereka berdua deket sama lo pada saat yang hampir bersamaan. Dua cowok paling keren di sekolah. Dua cowok paling populer. Dan akhir-akhir ini lo jadi ikutan populer juga. Trus, nggak tau kenapa ya, gue tuh sering ngerasa kalau Argon sama Neo itu mirip.” Jawab Adara sambil membayangkan wajah kedua laki-laki yang dia bicarakan.

“Mirip dari mananya? Jelas gantengan Argon!” seru Lisa pelan, takut terdengar oleh si pemilik nama.

“Gantengan Neo lah!” Fifi membela Neo.

“Stop, stop. Kenapa jadi kalian yang berantem?” Rhea melerai kedua temannya itu.

Lalu melanjutkan kalimatnya, “Kalau gue sama Argon itu bisa deket karena tugas. Kalau sama Neo kayaknya takdir deh.” Rhea tertawa geli saat teman-temannya menjitaknya karena kata-katanya.

“Tapi, coba jujur Rhe sama kita. Lo sukanya sama Argon atau sama Neo?” Lisa memandang Rhea dengan serius.

“Argon itu aslinya baik, tapi terlalu cuek. Jadi keliatan arogan. Neo itu... More than words.” Rhea tertawa lagi.

“Yee, serius, jadi Neo?” tanya Lisa.

Belum sempat Rhea menjawab, guru Ekonomi masuk ke kelasnya membuat semua anak yang tadinya mengobrol berkelompok, kembali ke tempatnya masing-masing.

Tiba-tiba pertanyaan Lisa terngiang lagi di kepala Rhea, “Lo sukanya sama Argon atau sama Neo?” Membuat Rhea berfikir sekali lagi. Baginya, Argon adalah orang yang baru di kenalnya. Sedangkan Neo adalah seseorang yang sudah dia kagumi sejak awal MOS dulu. Jadi baginya, Neo lebih lama ia kenal dibanding Argon.

Awal Rhea bisa mengenal Neo adalah saat MOS, dan dia melihat laki-laki itu sedang duduk sendiri di bawah sebuah pohon akasia. Hari itu sudah sangat sore. Sudah hampir semua murid pulang. Rhea yang dikerjai habis-habisan oleh seniornya terpaksa harus pulang telat setelah disuruh membersihkan toilet perempuan, hanya karena dia tidak hapal mars sekolahnya.

Awalnya Rhea tidak begitu mempedulikan anak laki-laki yang duduk sendiri itu. Dia berjalan melewati anak laki-laki berseragam putih-biru itu menuju kantin untuk membeli minum. Sepintas dia menoleh untuk melihat anak itu. Seorang anak laki-laki berwajah timur tengah. Dengan kulit cokelat. Sepertinya anak itu sedang mencoret-coret kertas ditangannya.

Rhea berjalan menjauh dan sampai ke kantin, lalu membeli minum. Tanpa menunggu menghabiskan minumnya, Rhea berjalan kembali keluar kantin membawa sebotol minuman penambah ion dingin. Melewati pohon tempat dia melihat anak laki-laki tadi. Tapi saat melewati pohon itu, anak laki-laki itu sudah tidak ada. Hanya terdapat sebuah kertas yang sudah lecek karena di remas.

Rhea yang penasaran mengambil kertas itu dan melihat sebuah sketsa dari pensil bergambar seorang wanita berusia paruh baya. Sisi kanan dari rambut wanita itu terlihat luntur oleh setetes air. Dada Rhea merasa terenyuh, dia merasakan aura kerinduan yang kuat dari sketsa itu. Rhea bangkit dan melipat rapih kertas itu lalu memasukkan ke dalam kantong bajunya.

Kemudian Rhea berjalan keluar gerbang sekolah dan menunggu angkot untuk pulang di halte. Tidak lama kemudian sebuah ninja hitam keluar dari gerbang sekolah melewati halte tempat Rhea menunggu angkutan umum. Dari jaket yang dipakai, Rhea bisa tau kalau itu adalah anak laki-laki yang tadi menggambar dibawah pohon akasia. Dia tersenyum lembut pada dirinya sendiri merasakan hangat pada dadanya dan mengeluarkan selembar kertas tadi dan memperhatikannya sekali lagi.

Rhea jatuh cinta pada goresan tangan Neo.

Sedangkan Argon, Rhea mengenalnya semenjak masuk kelas 11. Argon adalah murid pindahan dari IPA yang pindah ke jalur IPS. Padahal dia adalah murid terpintar di sekolah. Dan saat ditanya oleh wali kelasnya tentang alasan Argon pindah jalur, dengan datar dia menjawab di antara teman sekelasnya, “Karena saya ingin masuk IPS.” Lalu semua murid terpana dan bengong menatap Argon tidak percaya. Argon hanya memandang lurus kedepan tanpa memperhatikan siapapun.

Rhea yang saat itu ikut mendengarnya hanya bisa berdecak kecil. Baginya, Argon adalah anak laki-laki yang arogan. Dia selalu dengan sempurna membuat banyak orang terpana dengan kalimat-kalimatnya yang tanpa basa-basi dan tanpa berandai-andai itu.

Argon tidak pernah terlihat mempunyai teman. Walaupun banyak perempuan yang menyukainya dan diantara banyak perempuan itu sudah banyak yang menyatakan perasaan padanya, dan Argon selalu dengan santai menolak mereka dengan kalimat yang selalu tanpa basa-basi seperti kesehariannya. Dan semua korbannya itu biasanya menangis, tapi Argon selalu tanpa rasa bersalah meninggalkan gadis-gadis itu dan menjauh tanpa meminta maaf, atau berusaha menenangkan. Tapi meskipun begitu, tetap saja gadis yang menyukainya tidak pernah habis.

Rhea sendiri takut akan kenyataan bahwa Argon saat ini dekat dengannya. Dia sadar, dia mudah jatuh cinta. Dan Rhea menyadari bahwa Argon tidak seburuk apa yang dia lihat. Akhir-akhir ini rasanya Rhea merasa perlu untuk sekedar menoleh kebelakang memandang Argon, atau sekedar tersenyum padanya. Padahal sebelumnya ia tidak akan mau melakukan hal seperti itu. Rhea takut untuk jatuh cinta pada seseorang yang kemungkinannya besar akan menyakiti hatinya.

Rhea menoleh kebelakang, menuju kursi Argon yang ternyata sedang memperhatikannya. Tanpa dia sadari wajahnya memerah. Argon tidak memalingkan pandangannya seperti sebelumnya. Kali ini dia menatap Rhea lama, dengan pandangan matanya yang tajam sampai gadis itu kembali menghadap ke depan lagi.
*****

Bel pulang baru saja berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar kelas. Rhea masih merapihkan bukunya. Lalu berjalan masih dengan kaki pincang karena terkena bola tadi pagi. Argon berdiri di depan pintu kelas, memperhatikan Rhea yang tersenyum ke arahnya.

“Hari ini mau ̶ “ kalimat Argon terhenti saat menyadari Rhea tidak tersenyum ke arahnya melainkan laki-laki di belakangnya saat berjalan melewatinya.

“Kenapa?” tanya Rhea lembut pada laki-laki yang mengenakan jaket kulit hitam di depannya.

“Mau pulang bareng nggak? Kaki lo masih sakit kan?” kata Neo sambil menunduk menatap Rhea yang hanya sebahunya itu.

Lalu Neo mengalihkan pandangannya ke arah Argon yang berada tepat di belakang Rhea. “Oh, lo pulang bareng dia ya? Ya udah maaf deh gue nggak tau.” Lanjut Neo sambil menyunggingkan bibirnya sedikit sambil terus menatap Argon tajam.

Rhea yang kebingungan menoleh kebelakang dan melihat Argon menatap Neo dengan pandangan tajam juga. Rhea lalu berkata, “Kita hari ini ngerjain project lagi Ar?”

“Enggak jadi. Lo pulang aja sama dia.” Jawab Argon tanpa mengalihkan pandangannya dari Neo.

“Oh bagus, yuk Rhea.” Neo merangkul Rhea lembut dan menggiringnya berjalan menjauhi Argon. Lalu setelah berjalan beberapa meter, Neo berbalik dan berkata kepada Argon. “Salam buat nyokap lo.” Lalu berbalik lagi dan menuntun Rhea berjalan. Rhea sendiri bingung dengan kejadian yang ada. Dia hanya bisa bertanya-tanya dalam hatinya.
*****

Rhea sampai di depan rumahnya, ia turun dari atas motor ninja hitam yang dikendarai Neo.

“Mau mampir dulu?” tanya Rhea berbasa-basi.

“Ngerepotin nggak?” Neo balik bertanya.

Rhea menggeleng sambil tersenyum. Rasanya setiap dekat laki-laki ini dia tidak bisa berhenti untuk membuat bibirnya melengkung. Ia selalu ingin tersenyum tanpa alasan. Dan, karena Neo.

Neo turun dari motornya dan berjalan dibelakang Rhea. Ia duduk di sofa ruang tamu setelah dipersilahkan duduk. Sementara Rhea naik ke lantai dua untuk ganti baju di kamarnya setelah menyuruh pembantunya membuatkan minum untuk Neo.

Di lantai dua, Mamanya sedang menonton Grey’s Anatomy di salah satu channel TV berlangganan.

“Rhea baru pulang?” sapa Hera lembut.

“Iya, Ma.” Jawab Rhea lalu menghampiri Mamanya dan mencium tangan Mamanya.

“Sama temen yang kemarin lagi?” tanya Hera sambil mengusap lembut pipi putrinya.

“Bukan Ma. Sama gebetan aku.” Jawab Rhea asal sambil tertawa lalu meninggalkan Mamanya dan masuk ke dalam kamarnya.

Beberapa menit kemudian, seusai mengganti baju, Rhea turun menuju ruang tamu rumahnya. 

Ternyata, Hera sudah ada disana bersama dengan Neo. Jantung Rhea berdegup kencang. Tiba-tiba ia jadi merasa bersalah sudah berbicara sembarangan tadi.

Melihat Rhea datang, Hera bangkit dari sofanya, “Nah, itu Rhea udah selesai ganti baju. Tante tinggal ya, Neo.” Hera berjalan meninggalkan Neo dan putrinya berdua di ruang tamu.

Rhea duduk di sofa di depan Neo. Dia diam, bingung harus berbicara apa. Neo juga diam, hanya memandangi Rhea yang menjadi semakin salah tingkah.

“Nyokap lo baik ya.” Kata Neo sambil menyeruput teh yang disediakan.

“Hah? Iya, tapi kadang-kadang suka nyebelin juga kok kalo lagi kepo. Maklumlah ibu-ibu.” Rhea memainkan ujung bajunya untuk menutupi kegugupannya.

“Enak ya ada yang ngepoin, gue iri deh.” Gumam Neo.

“Iri? Buat apa? Kan lo yang ngepoin juga banyak. Cewek-cewek satu sekolah misalnya?” canda Rhea.

Neo terdiam menatap Rhea, membuat gadis itu makin salah tingkah.

“Termasuk lo ya?” Neo tidak bisa menahan senyumnya.

Rhea yang tidak siap diberikan pertanyaan semacam itu langsung salah tingkah dan wajahnya memerah. Tawa Neo jadi meledak karenanya.

“Lo jadi makin lucu deh kalau salah tingkah gitu.” Katanya sambil merapihkan rambutnya yang tidak berantakan sama sekali.

Rhea hanya bisa tersipu, lalu berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka.

“Lo kenal Argon ya? Eh, bukan maksudnya deket sama Argon ya?” Rhea memandang Neo serius.

“Kenal. Dia ̶ “ Neo menggantung kalimatnya sejenak sambil berpikir “ ̶ temen lama.”

“Satu SD?” Rhea masih penasaran.

“Bukan.” Jawab Neo singkat. Mendadak wajahnya berubah murung semenjak membahas Argon. Rhea menjadi merasa tidak enak. Dia takut ada yang salah diantara mereka. Dan Rhea tidak mau terlibat.

Rhea mencari topik lain dan mulai mengobrol dengan Neo. Mereka tertawa-tawa sampai lupa kalau diluar sudah mulai gelap.

Tadinya Rhea mau memberikan lagi sketsa milik Neo. Tapi dia takut Neo akan menganggapnya gadis aneh karena mengambil kertas yang sudah dia buang. Bahkan sampai setahun lebih. Jadi, dia mengurungkn niat itu dan menunggu nanti saat yang tepat. Rhea melihat jam dan mengingatkan Neo, kalau sudah sangat sore.

“Neo, ini udah hampir maghrib. Nggak takut kesorean?” tanya Rhea.

“Oh iya. Keasyikan ngobrol sama lo jadi gini nih. Ya udah, gue pulang deh.” Kata Neo sambil memakai jaket kulitnya.

“Maaf ya, bukannya ngusir loh. Tapi nanti kalau lo sampe dicariin nyokap lo gimana kan?” kata Rhea setengah bercanda.

Neo bangkit dari sofa dan menggendong tasnya. Lalu berjalan keluar diikuti Rhea. Kemudian dia berbalik dan membalas kalimat Rhea, “Gue udah nggak punya nyokap Rhea.”

Rhea tersentak, dan merasa tidak enak. “Neo, maaf. Gue nggak tau.” Rhea menyesali kalimatnya.

Neo hanya tersenyum santai, lalu memegang kedua pundak Rhea, “Enggak apa-apa. Gue juga kan emang belum bilang. Nggak usah nggak enak gitu.” Sebelah tangan Neo mengelus lembut pipi Rhea, membuat gadis itu mematung di tempatnya tanpa bisa berkutik.

Neo lalu melepaskan tangannya dan berjalan menuju motornya. Meninggalkan Rhea yang masih mematung karena perlakuannya. Dari luar pagar Rhea, Neo tersenyum sambil melambaikan tangan sebelum memakai helmnya dan pergi dengan motornya.

Setelah kesadarannya kembali dia segera masuk kedalam rumah, dan menutup pintu depan. Rhea tidak bisa berhenti tersenyum. Dia mengelus pipi kirinya yang tadi dielus lembut oleh tangan kanan Neo. Tapi, saat asyik melamun dering handphonenya menghancurkan semua.

“Gue on the way rumah lo. Ada konsep baru yang penting, gue dapet dari internet.” Kata suara di telepon sesaat setelah Rhea mengangkatnya, atau lebih tepatnya Argon.

“Oh, ya udah.” Jawab Rhea singkat.

“Neo udah pulang?” Argon bertanya cepat.

“Udah, kenapa?” Rhea balik bertanya.

“Enggak.” Jawab Argon lalu mematikan teleponnya. Membuat Rhea kesal.

“Ih, ini orang udah nelepon awalnya nggak pake salam. Udahnya langsung dimatiin. Dasar manusia nyebelin. Balik lagi nih orang kayak dulu. Amit-amit deh.” Gerutu Rhea kesal sambil memandangi LCD handphonenya.
*****

Nah, gimana? Panjang loh part yang ini, semoga memuaskan ya.
See you next part readers ;;)

0 komentar:

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos