Sunday, November 25, 2012

Cerbung - If This Was A Movie Part 2

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 00:10
Reaksi: 
Hai, gimana cerbung yang kemaren? Semoga nggak jelek-jelek amat ya reader.

Sekarang gue mau post part 2nya nih. Ayo disimak ya, yu check the post out-----

 
Part 2 – A Change
“My heart has never felt this way before, when I’m looking to your, I'm looking to your eyes.”
Beautiful Eyes – Taylor Swift
 
“Jadi, kalian mau kan?” Bu Cece menatap Argon dan Rhea penuh harap.

“Bu, tapi ̶ “ Rhea sengaja menggantung kalimatnya sambil melirik anak laki-laki di sebelahnya.

“ ̶ ibu nggak salah milihnya kita berdua? Kita bahkan nggak pernah komunikasi kecuali untuk tugas, Bu. Dan tugas kemarin adalah yang pertama. Dia cuma ngejelasin jalan materinya, dan konsep, trus saya yang wujudin dalam bentuk visual. Tapi, untuk project yang Ibu kasih, saya rasa akan butuh banyak komunikasi, sebuah project kayak gini nggak bisa selesai hanya dalam waktu 3 hari kayak presentasi kan, Bu?” Rhea berusaha menjelaskan dengan tenang, padahal ia sudah sangat gelisah harus berurusan dengan si tanpa ekspresi itu lagi.

“Kalian punya waktu 3 bulan kok. Bagus dong kalau begitu, kalian berdua bisa secara profesional memanfaatkan waktu berdua selalu untuk project ini. Dalam waktu 3 hari, kalian bisa mewujudkan sebuah presentasi kelas atas hanya dengan sedikit komunikasi seperti yang diakui Rhea. Berarti, kalian cocok untuk menjadi partner. Yang satu bisa mengerti yang lain, dan yang lain bisa mengimbangi yang satu. Saya jadi semakin optimis.” Bu Cece terlihat semakin semangat.

Rhea lemas mendengarnya, tapi dia masih belum mau untuk menyerah, “Lagi pula kita kekurangan orang untuk buat project ini Bu. Nggak mungkin kalau cuma berdua.”

“Oh itu gampang. Makanya sekarang Ibu kasih kalian berdua waktu 2 minggu untuk menyusun konsep, dan setelah itu Ibu bersama Bu Ana guru Bahasa Indonesia akan membantu kalian untuk mengadakan audisi perekrutan kru.” Jawab Bu Cece.

“Kalau kamu bagaimana Argon?” Bu Cece mengalihkan perhatiannya ke Argon yang dari tadi diam dengan tenang.

“Saya bersedia selama hal ini tidak membuat nilai saya menurun.” Jawab Argon tenang.

“Tentu saja tidak. Terima kasih Argon.” Kata Bu Cece tersenyum sambil mengangguk pada Argon. “Kalau kamu Rhea?” lanjutnya lagi.

“Baiklah bu, saya juga bersedia.” Katanya agak lemas.

“Kalau begitu saya rasa cukup itu saja. Nanti kalau kalian merasa ada yang harus dibicarakan dengan saya, silahkan saja datang kesini atau setelah pelajaran selesai di kelas juga boleh. Sekarang kalian boleh kembali ke kelas.” Kata Bu Cece lembut.

Argon dan Rhea mengangguk lalu pergi meninggalkan ruang guru menuju kelas mereka.

“Film? Perubahan? Durasi 15 menit? Nyusun konsep berdua? Sama dia? Cowok paling arogan yang pernah ada? Serius nih? Ya ampun, gue rasa bulan-bulan sial gue ada di depan mata.” Rhea menunduk sambil menggeleng-gelengkan kepalanya lemas berusaha menghilangkan fikiran buruk itu.

Rhea tidak mengerti apa yang ada di dalam fikiran guru Sosiologinya itu saat memilih untuk meminta Rhea dan Argon mengikuti kompetisi short movie nasional untuk mewakili sekolahnya. Jelas-jelas wali kelasnya itu juga tau kalau Argon dan Rhea tidak bisa dibilang dekat. Menyusun konsep bersama Argon ̶ berdua ̶ itu berarti kiamat. Kenapa? Argon adalah orang paling to the point yang pernah Rhea kenal. Dia juga sangat ambisius. Dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Rhea yakin Argon adalah orang yang sangat terobsesi menjadi yang nomor satu. Dia berhasil menyimpulkannya beberapa hari yang lalu seusai mengerjakan presentasi mereka berdua. Dan dia masih bisa mengingat alasan Argon memilihnya menjadi partner saat itu.

“Lo kenapa milih gue buat jadi partner lo?” Tanya Rhea sambil tetap fokus pada laptopnya.
Argon tetap membaca buku di genggamannya tanpa menoleh, dan dengan datar menjawab, “Karena lo yang paling seimbang dengan gue.”

Rhea menghentikan aktifitasnya sambil mengerutkan kening. Lalu dia menoleh ke arah laki-laki yang duduk di sebelahnya itu.

“Maksud lo?” Rhea masih belum mengerti.

“Lo bisa memvisualisasikan sesuatu dengan baik lewat tekhnologi, gue bisa membuat konsep yang bagus dengan otak gue. Ya meskipun sebenernya gue juga bisa mengoperasikan komputer dengan baik dan membuat presentasi ini sendiri dengan efek yang lebih canggih dari itu ̶ “ Argon membalik halaman bukunya lalu melanjutkan kalimatnya, “ ̶ tapi karena tugas ini tugas kelompok, gue nggak boleh kerja sendiri, gue tau konsekuensinya kalau gue kerja sendiri.”

“Konsekuensi? Apa?” Rhea mengerutkan keningnya bingung.

“Pengurangan nilai tentunya. Ini pelajaran sosiologi. Pelajaran yang menyangkut tentang sosialisasi, berarti berhubungan dengan team work kan? Sesuatu yang jelas banget gue rasa.” Kata Argon tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari buku dihadapannya.

“Jadi lo manfaatin gue? Ya udah kalau lo bisa ngerjain sendiri ngapain gue disini. Gue juga bisa nyari partner lain!” Rhea emosi setengah berteriak.

Ibu penjaga perpustakaan menoleh kearah Rhea dan memberikan kode untuk diam. Rhea menunduk malu lalu membereskan peralatannya di atas meja bersiap untuk pulang karena merasa sudah muak dengan anak laki-laki arogan di sebelahnya ini.

“Hhhh, Rhea, Rhea, masih belum ngerti juga ya? Gue nggak manfaatin. Kalau gue manfaatin lo, gue nggak akan ikut nyusun konsep juga kan? Anggep aja lah gue butuh lo sebagai pertahanan nilai gue kalau gue juga bisa melakukan team work dengan baik. Dan lo butuh gue karena gue pinter buat nambah nilai lo. Gimana? Simbiosis mutualisme. Lo untung, dan gue nggak rugi.” Argon berbicara pelan masih tanpa ekspresi.

Rhea berhenti merapihkan buku-bukunya dan memikirkan kalimat Argon tadi. Dia sadar Argon benar. Ini yang Argon dan dia butuhkan. Nilai. Secara tidak langsung, kalau Rhea menganggap Argon memanfaatkannya, dia juga saat itu sedang memanfaatkan Argon.

Rhea menghela napas sejenak dan kembali merapihkan bukunya ke dalam tas dan laptopnya lalu berkata, “Ya udah, hari ini sampe sini aja. Gue mau pulang. Gue lanjutin di rumah. Kalau menurut lo ada yang kurang, sms atau telfon aja.”

Rhea menyampirkan tasnya dan berjalan keluar perpustakaan. Argon mengikuti di belakangnya. Lalu mereka berpisah saat Rhea berjalan keluar gerbang sekolah menunggu angkutan umum dan Argon menuju tempat mobilnya diparkir.

Rhea memandang jam Levi’s Putihnya, jam 5.15 sore. Dia menghela napas. Sudah jam segini, angkot yang lewat juga mulai jarang. Langit di atasnya yang dari tadi sudah gelap karena mendung mulai menurunkan titik-titik hujan. Rhea masih tetap duduk di halte depan sekolahnya berharap ada angkutan umum yang lewat sebentar lagi.

Lalu Rhea melihat sebuah mobil Audi putih keluar dari dalam sekolahnya dan melaju melewatinya. Dan tiba-tiba mobil itu berhenti 10 meter dari halte tempatnya menunggu angkot.

Handphone Rhea bergetar disakunya. Nama Argon muncul di layarnya. Rhea mengangkatnya sambil tetap memperhatikan mobil Audi putih itu.

“Ayo gue anter lo pulang.” Kata Argon tanpa basa-basi.

Rhea hanya bisa mendecak pelan mendengar kalimat tanpa basa-basi dari anak laki-laki itu.

“Rumah gue di komplek Sakura, emang kita searah?” tanya Rhea tidak mau merepotkan.

“Nggak. Cepet naik, jangan buat gue berubah pikiran. Kalau nggak mau ya udah.” Kata Argon masih dengan datar.

“Umm, tapi bisa tolong mundur sedikit ke depan halte nggak Ar? Hujannya deres banget kalau harus lari ke mobil lo.” Kata Rhea yang disambut dengan nada terputus di handphonenya.

Mobil sport putih dua pintu itu mundur perlahan menuju tempatnya meneduh. Lalu Rhea berlari kecil keluar dari halte sambil melindungi kepalanya dengan tas dan masuk ke dalam mobil itu.

Rhea menutup pintu mobil dan mengusap lembut wajahnya yang agak basah. Lalu menoleh ke anak laki-laki yang masih dengan wajah tanpa ekspresinya memindahkan gigi mobil dan melajukannya.

Selama perjalanan keduanya hanya terdiam tanpa berbicara sepatah kata pun. Hanya alunan musik klasik dari tape mobil Argon yang terdengar. Rhea tau itu adalah simfoni Mozart meskipun dia tidak tau simfoni nomor berapa. Yang jelas Rhea tau adalah laki-laki di sampingnya ini memiliki selera musik tinggi.

“Dari sini kemana?” suara Argon memecah keheningan diantara mereka.

“Lurus trus nanti pertigaan pertama belok kanan. Rumah gue ada di sebelah kanan yang pager item.” Jawab Rhea.

Argon hanya terus menatap jalan tanpa menjawab. Tidak sampai 5 menit kemudian mereka sampai.

“Makasih ya. Maaf ngerepotin.” Kata Rhea sambil tersenyum tulus.

Argon hanya mengangguk tanpa ekspresi.

Rhea menghela napas melihat wajah Argon masih datar, dia turun dari mobil dan berlari ke dalam halaman rumah menghindari derasnya hujan. Dari teras rumahnya Rhea bisa melihat Argon dan mobilnya memutar balik lalu menghilang di belokan jalan.

Rhea sadar, Argon tidak seburuk yang dia pikirkan.
 *****

 Saat pulang sekolah Rhea menunggu angkot bersama beberapa temannya di halte. Mereka mengobrol sesuatu sambil tertawa-tertawa. Lalu tiba-tiba seorang temannya menanyakan sesuatu tentang Rhea dan Argon.

“Rhe, gue denger lo sama Argon lagi deket ya? Kenapa sih kalian? Kok lo jahat sih enggak cerita-cerita?” tanya Lisa, teman sebangkunya.

Teman-teman Rhea yang lain ikut mengangguk mengiyakan sambil memasang muka menunggu jawaban darinya.

“Hah? Deket gimana? Apa yang mau diceritain sih?” Rhea terlihat salah tingkah.

“Udah deh nggak usah nutup-nutupin gitu. Kita kan temen lo, masa sih kita cuma tau dari gosip-gosip aja? Kita kan mau tau yang sebenernya Rhe.” Kali ini Fifi yang berbicara.

“Jadi anak-anak gosipin gue?” Rhea terlihat shock.

“Ih Rhea jangan ngalihin pembicaraan deh ah.” Fifi gemas melihat tingkah Rhea.

“Oke, oke, gue bikin konferensi pers depan kalian nih ya. Gue sama Argon itu nggak ada apa-apa. Waktu itu yang tiba-tiba Argon milih gue jadi partnernya buat tugas Sosiologi itu karena dia mau tugasnya dapet nilai terbaik dengan kemampuan gue untuk memvisualisasikan, dan kemampuan dia yang otaknya encer itu. Udah nggak lebih.” Jelas Rhea panjang lebar.

“Ah tapi masa sih lo nggak suka sama dia? Dia kan ganteng, tajir, pinter. Cool abis Rhe.” Kata Lisa berbinar-binar.

“Lisa, dia itu arogan, sombong, gue nggak suka. Buat lo aja deh. Gue kan udah punya Prince Charming gue sendiri.” Balas Rhea sambil tersenyum membayangkan sesosok laki-laki.

“Rhea kapan move onnya ya? Dia lagi? Dia si kapten futsal?” kali ini Adara yang berbicara.

“Nggak tau Dar. Gue bodoh ya? Dia aja mungkin nggak tau gue itu ada apa enggak. Tapi gue malah terus-terusan berharap. Sama sesuatu yang nggak mungkin gue dapetin.” Kata Rhea sambil menghela napas.

“Rheaaa, nggak boleh gitu.” Fifi memeluk Rhea diikuti yang lainnya.

Tiba-tiba mereka dikagetkan dengan bunyi klakson mobil. Suara klakson yang tidak asing bagi Rhea. Mereka berempat melepaskan pelukan. Lalu sadar siapa yang berada di dalam mobil itu, semuanya langsung melirik Rhea. Rhea menghampiri mobil yang kaca penumpangnya turun sedikit demi sedikit itu. Hingga terlihat Argon di dalamnya.

“Kenapa?” tanya Rhea.

“Kita kerjain project dari Bu Cece sekarang, di rumah lo.” Kata Argon datar.

Rhea menghela napas sejenak sambil memejamkan mata, “Kenapa sih lo selalu membuat segala sesuatunya sebagai perintah, bukan ajakan? Nggak bisa ya minta pendapat gue dulu?”

“Terserah. Kalau nggak mau ya udah.” Kaca mobil disisi penumpang itu naik lagi perlahan.

Rhea menggeleng gemas lalu mengetuk kaca mobil itu. Kaca mobil itu turun lagi perlahan.

“Apa lagi?” tanya Argon tanpa ekspresi.

“Ya udah ayo kerjain sekarang.” Rhea berusaha menenangkan suaranya.

“Fi, Dar, Lis, gue duluan ya.” Kata Rhea lalu masuk ke dalam mobil Audi putih itu dan melambaikan tangan dari dalam mobil ke arah teman-temannya yang menatapnya bingung.

“Hati-hati ya Rhea!!! Kalau ada apa-apa telepon!” teriak Fifi saat mobil Argon menjauhi mereka.

Rhea hanya bisa menghela napas panjang di dalam mobil. Dia kembali harus menghadapi 30 menit paling panjang dalam hidupnya karena keheningan yang sangat mengulur waktu ini. Argon melirik Rhea yang sedang memandang keluar jendela mobil.

“Kita ke toko buku dulu.” Kalimat Argon memecah keheningan.

Rhea tersentak dari lamunannya, lalu melotot menatap Argon yang dengan santainya tetap mengemudikan mobilnya.

“Ngapain?” Rhea masih melotot menatap laki-laki di sampingnya ini.

“Beli buku.” Jawab Argon datar.

Rhea memutar bola matanya, “Gue juga tau kalau ke toko buku itu pasti buat beli buku. Maksud gue buku apa? Lo nggak minta persetujuan gue dulu gitu? Kenapa langsung ke toko buku? Emangnya gue udah pasti mau?”

“Lo itu kayak presiden ya, semua hal harus dibuat persetujuan dulu. Nggak praktis.” Gumam Argon datar.

Rhea hanya bisa melotot mendengar gumaman Argon. Lalu bersedekap dan membanting tubuhnya ke senderan jok mobil.

“Satu lagi yang ngebuktiin ini bukan film. Laki-laki disebelah gue ini  berorientasi sendiri tanpa mau menanggapi konflik dari gue, dan dia sendiri yang nentuin resolusi masalah ini. Arggghh, makin lama gue bisa gila kalau harus terus-terusan ngadepin si jalan tol ini. Jalan tol? Bahkan jalan tol aja nggak sedatar dia kayaknya.”

Mobil Audi putih itu berjalan masuk ke dalam parkiran sebuah mall. Lalu di basement mobil itu terhenti dan kedua penumpang di dalamnya turun. Tanpa kalimat apapun Argon berjalan di depan Rhea, membiarkan gadis itu berjalan sendiri sambil merutuk di belakangnya.

Saat memasuki toko buku mereka disambut dua orang penjaga yang wajahnya kelewat ramah sambil meneriakkan, “Selamat sore, selamat datang di toko buku kami.” Rhea yang sedang melamun sampai terlonjak kaget diteriaki seperti itu, sehingga dia jadi berlari cepat menyusul Argon yang ada di depannya dan berjalan tepat di sampingnya.

“Lo norak banget sih. Nggak pernah ke toko buku ya?” Lirik Argon tajam.

“Enak aja, lagian gue lagi ngelamun, mereka teriak begitu bikin kaget.” Jawab Rhea kesal.

Argon tidak menanggapi kalimat Rhea, tapi malah mengambil sebuah buku berjudul Referensi Membuat Short Film Untuk Pemula. Setelah membaca halaman belakang buku itu, dia mengambil sebuah buku lagi disebelah rak buku tempat dia menemukan buku tadi. Kali ini buku berjudul How To Make Short Film with 3 Popular Application, dan memperlakukan hal yang sama dengan buku tadi. Lalu dia berjalan menyusuri rak-rak buku sambil membawa kedua buku tadi di tangannya, sepertinya masih mencari buku lain lagi.

“Nyari buku apaan lagi sih?” Gerutu Rhea dari belakang Argon berusaha mengimbangi langkah panjang dari kaki laki-laki itu.

“Chicken Soup For The Soul.” Lalu tiba-tiba dia berhenti sehingga Rhea menabrak punggungnya. Argon mengambil sebuah graphic novel. Rhea terpaku pada buku di tangan Argon.

“Lo baca kayak ginian?” Rhea menatap Argon tidak percaya.

“Bukan buat gue.” Jawab Argon datar.

“Terus?” Rhea masih memandang Argon penasaran.

“Adek gue.” Jawabnya cepat.

Mata bulat Rhea melebar. Ia baru tau Argon memiliki Adik.

“Ohh, cewek?” tanya Rhea sambil berjalan di samping Argon yang melangkah menuju kasir.

“Cowok,” jawab Argon singkat.

“Umur berapa? Lo baik ya ternyata, ke toko buku nggak lupa buat beliin adek lo buku. Adek lo pasti beruntung punya kakak yang perhatian kayak lo.” Rhea tidak bisa menyembunyikan senyum kagum pada laki-laki yang dia sangka arogan disampingnya itu.

Argon hanya diam tidak menanggapi pertanyaan dan pujian Rhea lalu memberikan 2 lembar seratus ribuan ke kasir dan mengambil buku serta kembaliannya lalu berjalan keluar dari toko buku itu. Rhea berjalan di belakang Argon, memperhatikan laki-laki kurus setinggi 180 cm di depannya itu dengan pandangan penasaran.

“Dia bener-bener... Beda. Dia nggak seburuk kelihatannya ternyata.” Gumam Rhea dalam hati. 

Tiba-tiba Argon berbelok masuk ke dalam toko kue.

Rhea menyusulnya dengan langkah cepat.

“Cupcakenya 4, sama cake cappucino yang besar kayak biasa ya mbak.” Kata Argon pada si pelayan toko kue itu.

“Buat adek lo lagi Ar?” tanya Rhea.

“Iya.” Jawab Argon datar lalu mengambil kuenya setelah membayar.

“Dia ulang tahun hari ini?” tanya Rhea penasaran.

“Enggak. Dia suka cake, cake di rumah udah abis.” Jawab Argon.

“Nih.” Argon memberikan plastik berisi dus cupcake kepada Rhea.

“Hah?” Rhea merasakan tiba-tiba jantungnya berdegup keras.

“Bawain. Gue repot.” Kata Argon menjatuhkan khayalan Rhea.

Rhea hanya mampu mendesah kecil. Ia merasakan geli pada dirinya sendiri yang sudah dengan percaya dirinya menganggap itu untuknya.
*****

 Argon memarkirkan mobilnya tepat di depan pagar rumah Rhea. Lalu berjalan masuk ke dalam rumah di belakang Rhea. Rhea membuka pintu depan rumahnya dan masuk lalu berbalik menatap Argon.

“Tunggu sini dulu ya. Gue mau ganti baju.” Kata Rhea.

“Hmm, ini.” Argon memberikan kotak berisi cupcake pada Rhea.

“Apa? Bawain lagi?” Rhea tertawa renyah.

“Enggak, buat lo. Anggep aja permintaan maaf gue karena selama ini selalu membentuk kalimat perintah, bukan ajakan.” Kata Argon sambil menunnduk tanpa menatap Rhea.

Rhea terpana sesaat. Ia tidak yakin dengan pendengarannya. Lalu ia tersadar dan tertawa geli. “Iya, nggak usah di pikirin. Masih kaku aja sih? Ya udah, taro di meja aja cupcakenya, nanti kita makan bareng-bareng. Gue masuk dulu ya.”

Rhea menghentikan langkahnya di tangga lalu berbalik menatap Argon yang masih diam berdiri menatap Rhea, “Oh iya, mau minum apa?” tanya Rhea.

“Apa aja.” Jawab Argon datar yang disambut senyum Rhea. Lalu Argon duduk di sofa ruang tamu Rhea sambil bergumam pelan.

“Ada yang salah dengan lo, Rhea. Lo pengaruh buruk buat gue.” Gumamnya sambil memegang dadanya.
*****
“Rhe, kemaren gimana?” tanya Fifi saat Rhea baru saja sampai di sekolah.

“Apanya?” Rhea balik bertanya tanpa memperhatikan Fifi, dia malah sibuk mencari sesuatu dari dalam tasnya.

“Argon? Lo? Kalian berdua? Kemarin?” Fifi masih terus mencecar Rhea, meminta perhatian.

“Ohh, cuma ke mall, trus ke rumah gue ngerjain project dari Bu Cece.” Jawab Rhea santai sambil mengeluarkan buku tulis matematika dari dalam tasnya.

“Ke mall? Rhea!!! Kalian jalan berdua? Demi apa? Demi apa?” Fifi mulai heboh, melupakan isi kelas yang ada Argon yang mulai menatapnya heran.

Rhea merasa tidak enak, dia menoleh kebelakang dan melihat Argon sedang memandangnya tajam. Gadis itu bergidik ngeri lalu berbisik, “Fi, orangnya ngeliatin tuh. Kita ke toko buku kok, beli buku untuk referensi project dari Bu Cece itu.”

“Serius?” Fifi jadi ikut melirik ke arah Argon yang sekarang sudah mulai sibuk dengan Ipodnya dan memasang headphone. “Emang project apa sih? Kok elo sama Argon berdua doang?”

Rhea mulai menekuni buku tulisnya, mengerjakan soal-soal berisi angka yang kelihatan rumit, “Ada deh, udah ah sana gue mau ngerjain PR dulu. Jangan ganggu.”

Fifi memanyunkan bibirnya, merasa tidak puas dengan percakapannya dengan Rhea, lalu berkata, “Ya udah deh. Gue ke kantin ya baby. Bye.” Lalu ia keluar kelas sambil melambaikan tangannya.

Sementara itu Rhea masih berkutat dengan buku tulis matematikanya dan PR yang tidak sempat ia kerjakan karena keasyikan mengerjakan konsep dari Short Movienya.

Tiba-tiba sebuah tangan dengan jam Adidas hitam menyodorkan sebuah buku tulis matematika. Rhea tau dengan benar siapa pemilik jam hitam itu. Ia mendongakkan kepalanya.

“Ini, salin punya gue aja.” Kata Argon lalu kembali ke bangkunya tanpa menunggu respon dari Rhea.

Rhea tau Argon adalah anak paling pintar di kelasnya, bahkan di sekolahnya. Tapi, Rhea lebih tau lagi bahwa Argon bukan tipe orang yang mudah memberi contekkan kepada orang lain. Bahkan Argon sudah terkenal pelit akan contekkan. Tapi pagi ini dia berubah, bahkan tanpa diminta dia memberikan PRnya kepada Rhea yang masih bengong melihat perubahan Argon yang sangat drastis.

Saat tersadar dari lamunannya Rhea menoleh kebelakang tepat ke kursi Argon. Laki-laki itu sedang memandangnya, dengan refleks Rhea tersenyum kearahnya membuat laki-laki itu memalingkan wajah dari Rhea dan bangkit dari kursinya lalu pergi keluar kelas entah kemana. Melihat hal itu Rhea hanya bisa tersenyum geli.

“Sebenernya Argon imut juga.” Gumam Rhea dalam hati sambil tersenyum sendiri.

*****

Sampe segitu aja ya part 2nya. Gimana? Hmm...
Semoga memuaskan ya.
Part 3nya kalau sempet post malem bakalan gue post. Kalau nggak sempet tungguin besok sore ya ;;)

See you next post readers!

0 komentar:

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos