Saturday, July 28, 2012

Cerpen - Hujan

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 23:42
Reaksi: 
Titik-titik air yang terjatuh dari langit, menimbulkan bau basah campuran antara tanah dan rerumputan serta batang kayu dan daun. Selama enam bulan aku harus terbiasa menghadapi musim ini. Tinggal di negara tropis mengharuskanku menerima kenyataan ini. Kamu tau kan aku tidak suka hujan? Karena hujan sering kali membuat rencanaku batal. Dan kamu sering kali tertawa setiap kali mendengar alasanku untuk membenci cuaca itu. Karena kamu tidak tau rasanya menjadiku.

“Dit, lo dimana sih? Gue cariin dari tadi nggak ada.” Kataku kesal di telepon.

“Gue di perpus, lagi nyari buku buat tugas karya ilmiah. Wait, Re. Sebentar kok.” Jawab Adit tenang.

“Ah, lumutan gue disini. Gue samper lo aja deh. Jangan kemana-mana.” Kataku lagi lalu mematikan sambungan telepon dan berjalan menyusuri koridor sekolah menuju perpustakaan untuk menemui si sahabatku satu itu. Sahabat? Ah, entah kenapa kata itu justru membuat hatiku perih akhir-akhir ini.

Bukan, ini bukan karena Adit mengkhianati aku sebagai sahabatnya. Ini tentang perasaan aneh yang selalu muncul setiap aku bersamanya atau tidak bersamanya. Ini tentang sesuatu yang membuatku mengharap lebih. Aku tau ini namanya jatuh cinta. Tapi kenapa harus dengan Adit? Sahabatku sendiri sejak kelas 2 SMP?

Jadi ini bukan salahnya kan? Ah, kecuali kalau membuat jatuh cinta sahabat sendiri bisa dimasukkan ke kategori ‘mengkhianati’ mungkin saja memang salahnya.

Aku sendiri tidak tau apa yang membuatku begitu gila hingga bisa jatuh cinta dengan sahabat yang sudah menemaniku 3 tahun terakhir ini. Apa sih yang spesial dari dia? Tidak ada. Yah, kecuali kenyataan kalau dia ganteng, hitam manis, tinggi, mancung, mirip Aaron Johnson, berotak Einstein, seimut Greyson Chance, dan seberambisi Osama Bin Laden si pemimpin Al-Qaeda itu. Oke, aku tau ini jauh lebih dari spesial. Dan TIDAK ADA yang aku lebih-lebihkan karena dia memang sespesial itu.

Aku sendiri bingung kenapa sampai sekarang dia belum pernah punya pacar. Walaupun belum pernah cerita tentang ketertarikannya dengan lawan jenis tapi dia cukup banyak disukai perempuan. Semenjak aku kenal dengannya kira-kira sudah 5 perempuan yang menyatakan perasaannya. Dan ironisnya tidak pernah ada satupun dari mereka yang diterima olehnya. Aku sendiri selama tiga tahun terakhir hanya pernah 4 kali di tembak dan 3 kali pacaran. Tiba-tiba muncul gagasan yang menjijikkan diotakku tentang sahabatku itu. Apa mungkin kalau selama ini dia tidak menyukai perempuan? Aku menggigil geli, lalu segera menyingkirkan pikiran itu.

Ah, itu dia. Di tengah perpustakaan sibuk dengan laptop dan sebuah ensiklopedia dan headphone berwarna putih dengan gambar sebuah bintang bertengger di kepalanya. Serius sekali. Aku tersenyum. Dia selalu lebih mengagumkan saat sedang serius seperti itu.

Aku duduk di sebelahnya memperhatikan setiap lekukan wajahnya. Rambutnya yang tebal berwarna kecokelatan tua, alisnya yang tebal, matanya yang besar seperti pingpong, hidung mancung lancip, bibirnya yang pink terlihat penuh, dagunya yang panjang. Ah, cukup. Lagi-lagi ini muncul. Semacam ada butterfly in my stomach, kalau Indonesianya tuh apa ya. Ah gitu lah pokoknya.

Dia masih sibuk, serius dengan makalah karya ilmiahnya. Dan aku juga sibuk. Sibuk menikmati keindahan Tuhan yang satu ini.

“Mau sampe kapan lo ngeliatin gue sambil senyum-senyum gitu?” katanya sambil tetap terpaku pada laptopnya tanpa menoleh sedikitpun kearahku, tapi cukup untuk menyadarkanku dari lamunan itu.

Wajahku bersemu merah karenanya.

“Lagian lo serius banget. Muka lo lucu kalo lagi serius gitu.” Jawabku sambil tertawa kecil.

“Lucu atau ganteng?” Dia masih tetap serius menghadap laptopnya mengetik seuatu yang aku sendiri tidak tau apa saat mengatakan itu.

“Ih, PD banget sih.” Jawabku sambil menunjukkan raut wajah sangsi. Tapi hatiku sebenarnya ingin berteriak IYA padanya.

“Dit, pulang yuk. Kan lo udah janji mau nemenin beli kue sama bunga buat ngerayain ulang tahun nyokap gue. Nanti ke sorean Dit. Takut kalau kemaleman ke tempatnya nyokap. Gue kangen banget sama dia.” Kataku memohon.

“Ya udah deh. Tunggu sebentar ya. Gue mau ke Bu Dela dulu minjem ini.” Katanya sambil mengacungkan ensiklopedia tentang dunia astronomi yang sangat tebal itu ke arahku lalu berlalu pergi.

Iseng, aku melihat laptop milik Adit yang masih menyala itu. Aku membaca judul makalah yang sedang di tulisnya.The Lightest Big One Who’s Dying. Sumpah, aku penasaran dan tidak mengerti maksud judul makalah ini.

Adit kembali menghampiriku dan menepuk pundakku lembut.

“Re, tolong matiin laptopnya dong.” Katanya sambil memasukkan buku-buku lainnya ke dalam tasnya.

Aku mengangguk dan menuruti permintaan Adit.

“Lo bikin makalah apaan sih Dit?” tanyaku saat berjalan disampingnya menuju parkiran motor.

“Itu makalah astronomi, buat lomba Karya Tulis Ilmiah Internasional 2012, Re.” Jawab Adit sambil memainkan handphone touchscreennya.

“Hebat, disuruh dari sekolah?” Tanyaku kagum.

“Enggak, gue ikut atas kemauan sendiri. Tapi ya pake persetujuan sekolah sih.” Jawab Adit cuek.

“Wah, kalau menang hadiahnya pasti gede. Bagi-bagi ya!” Kataku antusias.

“Hadiahnya beasiswa masuk Universitasnya Nasa Re, bukan uang.” Jawab Adit sambil mengeluarkan kunci motor dari kantong celana abu-abunya.

“Yah,” kataku kecewa.

“Tapi tenang aja. Sebagai sahabat gue nggak akan lupa traktir lo kok kalau sampe menang.” Jawab Adit menghibur.

Aku hanya bisa berpura-pura memekik senang menutupi perih atas kata ‘sahabat’ yang dia katakan tadi.

Dia memakai helm putih full facenya, lalu naik ke motor ninja putihnya. Aku mengikuti dan duduk di belakangnya.

“Dit, lo suka astronomi?” tanyaku saat Adit mengendarai motornya menuju toko kue langgananku.

“Iya, seru abisnya Re. Nanti kalau udah lulus kuliah gue pengen banget jadi astronot. Gue mau ambil batu bulan dua, satu buat nembak orang yang gue sayang banget. Trus sisanya buat dijadiin mas kawin buat nikah sama dia.” Katanya setengah bercanda.
Aku tertawa, lebih tepatnya tawa yang dipaksakan. Tiba-tiba saja jantungku lupa cara untuk berdetak saat Adit mengatakan itu. Ini pertama kalinya Adit membahas tentang hal yang menyinggung cinta.

“Emang udah ada Dit calonnya?” kataku berusaha menimpali.

“Udah Re, dari dulu. Gimana sih? Katanya sahabat gue, tapi kok nggak tau?” jawab Adit mantap.

Aku lupa bagaimana caranya bernapas saat Adit bicara seperti itu, hingga rasanya sesak sekali mendengarnya.

“Emang siapa?” Aku masih berusaha terdengar normal.

“Ada deh.” Jawab Adit sok misterius.

“Pelit nih. Katanya sahabat?” Aku berusaha menutupi suaraku yang agak bergetar saat mengatakannya.

Adit tidak menjawab. Ia menghentikan motornya di depan toko kue langgananku. Aku turun dari motornya.

“Re,” Dia memanggilku.

Aku hanya menoleh menatap Adit yang sudah melepaskan helmnya, menunggu dia melanjutkan kalimatnya. Dia hanya menatapku lama tanpa berkata apa-apa. Jantungku berdegup cepat karenanya. Ini beberapa detik paling mendebarkan.

“Jangan lama-lama.” Katanya saat akhirnya membuka mulut.

Aku menghela napas. Sepertinya saat tadi bertatapan dengan Adit aku lupa bernapas. Aku pikir dia akan membicarakan sesuatu yang lain. Yang lain? Tepatnya yang lain apakah itu? Ah, aku berusaha menyingkirkan perasaan berharap itu.

Setelah mendapatkan Tiramisu cake kecil lengkap dengan lilin berangka 43, aku keluar toko itu menghampiri Adit yang masih setia menunggu di motornya sambil memainkan handphone touchscreennya.

“Udah?” tanya Adit tanpa menatapku.

“Udah, beli bunga Lili dulu ya Dit. Mama kan suka banget sama bunga itu.”

Dia hanya mengangguk dan memasang helmnya lagi. Aku naik ke atas motornya.

“Tau nggak mitos tentang Lili putih Dit?” kataku saat sedang memilih-milih bunga untuk kubawakan pada Mama.

“Apaan?” tanya Adit serius, siap mendengarkan sepenuh hati. Dia memang si haus informasi.

“Katanya Lili itu bunga yang dibawa dari bulan sama Dewi siapa gitu namanya gue lupa. Nah terus di tanem di bumi deh.” Jawabku sambil tetap memilih Lili yang bagus.

Adit tertawa keras.

“Kok ketawa?” aku cemberut menatap Adit.

“Lucu aja. Itu kata siapa?” tanya Adit masih berusaha menahan tawa gelinya.

“Kata nyokap gue dulu.” Jawabku tetap menatapnya. Aku sadar mataku sudah penuh dengan air mata, walaupun belum jatuh. Karena dengan menatap Adit aku harus menenggak dan hal itu menghalau air mataku untuk jatuh.

Wajah Adit berubah tenang. Tawanya yang tadi menghiasi wajahnya berganti dengan wajah penuh kelembutan. Matanya menatap mataku dalam.

“Maaf, gue nggak tau.” Katanya.

“Tapi Re, di bulan itu nggak ada tumbuhan. Jangankan Lili puth yang seindah ini. Rumput liarpun nggak ada disana. Disana cuma ada batu.” Lanjutnya masih menatapku lembut.

“Ya, who’s know Dit? Namanya juga mitos. Ya udah, gue bayar dulu. Udah mendung banget tuh di luar.” Kataku berusaha meninggalkan Adit agar tidak melihat mataku yang mulai mengeluarkan cairan asin ini setetes.

Aku berjalan meninggalkan Adit menuju kasir meminta Lili ini dibuket dan membayarnya. Adit sudah menunggu di atas motornya saat aku keluar toko bunga itu.

Aku naik ke motornya tanpa kata-kata. Aditpun begitu, ia langsung menjalankan motornya untuk mengantarku ke tempat Mama tanpa perlu diinstruksi. Dia sama hapalnya denganku untuk menuju tempat Mama. Karena selama ini selalu Adit yang menemaniku menemui Mama.

Di tengah perjalanan tiba-tiba hujan deras turun. Adit menghentikan motornya di sebuah warung gubuk pinggir jalan yang tutup. Sekeliling kami hanya pepohonan tanpa rumah-rumah. Memang jalan menuju tempat Mama itu sangat sepi.

“Ah, kenapa pake hujan sih?!” kataku kesal sambil duduk di bale warung itu.

“Jangan gitu, hujan itu rezeki tau. Harus disyukuri.” Balas Adit tenang.

“Tapi ya Dit, kalau hujannya kelamaan nanti gue nggak bisa ketemu Mama. Nanti kemaleman.” Jawabku masih kesal.

“Ya udah besok kan masih bisa. Besok gue anter lagi kok.” Dia masih berusaha menenangkanku.

“Lo tau nggak Dit, gue benci banget sama hujan.” Kataku sambil termenung.

“Kenapa?” tanyanya sambil menatapku.

Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. Seberkas memori mengingatkanku dan meremas kasar hatiku. Sesak. Tapi aku berusaha menepisnya. Menangis dihadapan Adit bukan sebuah keadaan yang menyenangkan.

“Soalnya katanya hujan itu air mata para bidadari di khayangan. Nah, kalau hujan berarti bidadarinya lagi pada sedih, padahal bidadari itu kan sodara-sodara gue dit.” Jawabku tanpa ekspresi.

Dia tertawa. Menghilangkan perasaan sakit di dada yang tadi aku rasakan. Mencerahkan hatiku yang tadi sudah ikut terbawa mendung oleh suasana ini.

“Kenapa sih lo nggak bisa ngasih jawaban yang logis sekali-sekali?” Dia masih tertawa saat mengatakan itu.

Aku tersenyum menatapnya.

“Kita kan beda Dit, gue lebih suka mengkhayal dibanding mikirin sebab segala sesuatunya. Itu alesan kenapa lo masuk IPA dan gue masuk IPS. Gue lebih suka bebas, nggak terkekang sama teori.” Jawabku sambil menatapnya.

“Gue rasa lo cocok jadi penulis.” Adit membalas tatapanku dengan pandangan yang sulit aku artikan.

“One day.” Jawabku sambil mengedikkan bahu.
*****

 Tapi aku juga rasanya perlu berterima kasih pada hujan. Karenanya, dulu aku jadi terjebak berdua bersamamu. Aku jadi punya lebih banyak waktu bersamamu. Dan aku jadi mengetahui kalau kamu ternyata berbeda dari apa yang selama ini aku tau.

“Hujannya kenapa nggak berenti-berenti sih?” gerutuku gusar.

“Yah, paling juga stengah jam lagi Re.” Jawabnya santai.

“Duduk sini aja, nggak usah uring-uringan gitu. Kalau kemaleman juga bokap lo pasti ngerti kok. Lagian kan perginya sama gue.” Lanjutnya lagi.

Aku menurut, lalu duduk di sebelahnya. Dingin mulai agak menusuk kulit ariku. Aku yang tidak mengenakan jaket dan hanya mengenakan seragam putih dan rok abu-abu panjangku mulai merasa agak kedinginan.

 Dia melepaskan jaketnya, lalu menutupi tubuhku dengan jaket itu.

“Makanya kalau dibilangin ke sekolah pake jaket itu nurut Re.” Katanya acuh tak acuh.

Wajahku memerah. Aku sangat-sangat tersanjung diperlakukan seperti ini.

“Makasih Dit.” Kataku sambil tersenyum kearahnya. Dan dia hanya membalas dengan menyunggingkan sedikit bibirnya tanpa menatapku. Lalu hening.

“Lo kenapa mau jadi astronot sih Dit?” tanyaku memecah keheningan canggung diantara kami.

“Ini semua gara-gara sebuah buku cerita yang gue baca waktu kecil Re.” Jawabnya pelan, tapi aku masih bisa mendengarnya.

Aku diam menunggu dia melanjutkan ceritanya.

“Dulu waktu kelas 3 SD gue pernah baca cerita yang katanya kalau kita ambil batu bulan, kita bisa berkomunikasi sama orang yang kita sayang walaupun dia udah meninggal. Waktu itu gue nggak tau kalau gue anak angkat. Gue nggak tau kalau bokap nyokap gue yang asli itu udah meninggal. Tapi nggak lama setelah itu, saat baca biodata diri gue di rapot gue baru sadar. Disana tertulis anak angkat. Ya, gue sedih. Tapi orang tua gue akhirnya cerita sama gue tentang siapa gue sebenernya. Walaupun mereka nggak cerita siapa orang tua gue. Nah, semenjak itu gue pengen banget ketemu orang tua kandung gue. Dan gue inget akan cerita itu Re. Gue jadi pengen pergi ke bulan, gue pengen jadi astronot.”

Aku memang mengetahui bahwa Adit adalah anak angkat. Dia telah memberitahuku sejak awal pertemanan kami. Tapi cerita tentang hal ini baru pertama kali aku dengar darinya.

“Gue baru tau loh kalau seorang Adit yang sangat logis bisa percaya sama karya fiksi kayak gitu juga.” Kataku sambil tersenyum tulus menatapnya.

“Ya itu kan alesan waktu kecilnya, kalau alesan pas udah gedenya ya karena seru bertualang ke luar angkasa gitu. Gue pengen banget nginjekin kaki di bulan yang indah itu. Dan kebetulan gue excited banget sama segala sesuatu tentang luar angkasa.” Jawab Adit.

“Gue juga suka cerita tentang luar angkasa.” Timpalku.

Adit diam menungguku untuk melanjutkan.

“Dulu nyokap gue sering cerita sama gue sebelum tidur, tentang Dewi Venus yang jatuh cinta sama Dewa Mars. Atau Dewa Neptunus yang melamar Dewi Saturnus trus ngasih bukt cintanya dengan ngasih cincinnya. Jadi sekarang yang punya cincin Saturnus. Atau tentang Dewi Bulan yang cinta banget sama Dewa Bumi tapi nggak pernah kesampean. Atau tentang bintang jatuh yang katanya itu kibaran rambut dari Dewi Venus yang lagi jalan-jalan keliling angkasa. Atau...” Aku berhenti sambil menelan ludah, merasakan pahitnya ceritaku sendiri. Aku berusaha keras untuk menahan air mata namun dia terlalu kuat hingga melesat turun dari mata kananku membasahi pipi.

Adit memelukku, membiarkanku menangis dalam pelukannya. Aku tersedu sambil menahan sakit yang semakin menjadi-jadi saat mengingat-ingat segala sesuatu tentang masa kecilku.

“Gue benci Papa Dit.” Bisikku pelan di depan dadanya.

“Ssttt, nggak boleh gitu Re. Dia juga pasti ngerasain apa yang lo rasain Re.” Adit makin mengeratkan pelukannya dan mengelus lembut punggungku. Selama beberapa saat hanya tangisanku dan suara hujan yang terdengar.

Aku berhenti menangis, Adit melonggarkan pelukannya dan melepaskanku. Rasa nyaman dalam pelukannya ikut menghilang.

“Makasih Dit.” Kataku sambil menyeka air mataku.

“Anytime.” Jawabnya sambil ikut mengelap airmata di pipiku. Sentuhan tangannya memberikan sensasi seperti disetrum, aku bergetar merasakannya.

“Dit, kuenya kita makan aja yuk. Mama pasti ngerti kok. Nyalain dulu ya lilinnya.” Kataku sambil mengeluarkan kotak kue itu dan memasangkan lilin di atasnya lalu menyalakannya dengan korek yang aku beli tadi juga.

“Make a wish buat nyokap gue ya Dit, trus nanti kita tiup lilinnya bareng-bareng.” Kataku saat lilin itu sudah menyala.

Aku memanjatkan permohonan dalam hati sambil memejamkan mata. Saat membuka mata, Adit sedang menatapku dengan pandangan yang selalu takut aku salah artikan. Lalu kami meniup lilin itu bersama-sama.

Aku mengambil sendok dan mengambil kue itu lalu menyuapinya ke Adit.

“Suapan pertama buat orang yang paling spesial.” Kataku sambil tersenyum.

“Spesial?” Adit menyipitkan matanya menatapku membuat salah tingkah.

“Eh, umm. Maksudnya iya, lo kan sahabat gue jadi ya gitu.” Jawabku panik.

“Oh, oke.” Adit lalu mengambil suapan itu dengan mulutnya dan aku bersyukur karena dia tidak bertanya lebih lanjut.

Kami makan kue itu tanpa berkata apa-apa. Aku menyuap untuk diriku sendiri lalu menyuapi Adit juga. Romantis. Seandainya Adit bukan sahabatku mungkin aku akan mengatakan bahwa ini kejadian yang sangat romantis.
*****

Aku tidak suka hujan. Kenapa? Karena hujan selalu merusak kesenanganku. Terlebih lagi saat kesenangan itu adalah saat bersamamu.

“Rere, gue udah di depan rumah lo nih. Jadi liat supermoon kan?” Tanya Adit saat aku mengangkat teleponnya.

“Ya, tunggu gue keluar.” Jawabku lalu memutuskan sambungan teleponnya.

Adit membawa mobilnya hari itu. Karena katanya sulit untuk membawa teropongnya kalau 
harus naik motor.

Aku naik ke mobilnya, menyapa Adit hanya untuk sekedar basa-basi.

“Ke sekolah nggak mau bawa mobil, giliran liat supermoon bawa mobil.” Kataku sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Kan liat supermoon cuma beberapa tahun sekali, nggak setiap hari kayak ke sekolah.” Jawab Adit lalu menyalakan mesin mobilnya dan membawaku pergi ke bukit yang sudah dia rencanakan.

Sepanjang perjalanan dia hanya diam memperhatikan jalan. Aku sadar dia sesekali melirik ke arahku.

Kami sampai di bukit yang di rencanakan. Mobilnya ia parkir di bawah, dekat pohon. Lumayan jauh juga untuk naik ke atas puncak bukit itu. Mungkin sekita 500meter. Bukit ini mulus tanpa pohon, hanya dialasi dengan rumput yang terawat dengan baik. Aku tau ini salah satu tanah milik orang tua angkat Adit.

Adit sibuk sendiri memasang alat-alat untuk mengamati supermoon-nya.

“Udah, gue aja. Lo duduk aja.” Katanya saat aku berusaha membantu.

“Nggak apa-apa Dit.” Jawabku ingin tetap membantu.

“Mendingan lo setting kamera lo tuh buat fotoin Super Moonnya nanti.” Katanya tetap tidak mau dibantu.

Aku menurut dan mulai menyetting kameraku. Lalu memoto supermoon dilangit. Aku bingung, padahal supermoon bisa dilihat cukup dengan mata telanjang. Tapi si raja-penggila-astronomi ini sepertinya tidak puas kalau hanya melihatnya dengan mata biasa.

Aku duduk beralaskan rumput sambil tetap memotret pemandangan di atasku. Lalu setelah menyelesaikan tugasnya Adit duduk di sebelahku.

“Tau nggak, bulan itu setiap tahunnya menjauh beberapa inchi dari bumi.” Kata Adit sambil menatap langit sambil tersenyum.

“Itu, liat deh ada Betelgeuse di sebelah bulan. Itu bintang yang gue jadiin objek buat bikin makalah.” Lanjutnya lagi.

Aku menyipitkan mata bingung. “Kok lo tau itu Betelgeuse? Emangnya antara satu bintang dengan bintang lain ada bedanya?”

“Soalnya Betelgeuse itu selalu ada di ketinggian 80° dan disebelah bulan, dan dia selalu muncul pas malem-malem di bulan Januari ini.” Jawabnya mantap.

“Dari mana lo tau kalau itu 80°?” Aku masih kebingungan.

“Coba kepelin tangan lo sejajar sama mata. Satu kepalan tangan itu sama aja 6°, jadi 80 dibagi 6 itu sama aja kaya 13 kali kepelan tangan lo.” Jawabnya sambil mempraktekan. Aku terkagum-kagum akan si Einstein di sebelahku ini. Seandainya kamu tau, aku mencintaimu.

“Lo tau nggak, katanya Betelgeuse itu bintang yang terlalu terang. Karena hal itu makanya dia bakalan cepet mati. Bintang yang terlalu terang akan cepat kehabisan bahan bakarnya dan berhenti bersinar, atau meledak. Nah, betelgeuse itu sama kaya gitu. Si paling terang yang sekarat.” Katanya lagi menambah kekagumanku

Adit terlihat sibuk mengamati bulan dan bintang dengan teropongnya sambil mencatat-catat sesuatu di buku tulis. Entah apa, mungkin sesuatu yang berhubungan dengan riset karya ilmiahnya. Aku hanya duduk mengamatinya melakukan hobinya yang unik itu.

Kemudian dia berbalik ke arahku dan duduk lagi di sampingku. Aku menguap saat dia duduk di sebelahku, lalu aku menyenderkan kepalaku di bahunya.

“Lo ngantuk ya? Pulang deh yuk. Udah malem.” Katanya sambil melirik kearah jam tangan Adidasnya.

“Belum kok, nanti aja Dit. Gue masih pengen disini.” Jawabku enggan.

“Tapi udah setengah 12 Re.” Kata Adit mengingatkan.

“Nggak apa-apa. Lagian di rumah cuma ada Bibi. Papa belum pulang dari Bangkok.” Jawabku.

Adit diam tidak menanggapi kalimat terakhirku. Lalu hanya kesunyian yang menemani kami.

“Re, lo kenapa nggak pernah pacaran lagi?” tanya Adit tiba-tiba, mengagetkanku.

“Nggak apa-apa Dit. Belum nemu orang yang pas lagi aja.” Jawabku dengan degup yang bertambah cepat.

“Emang yang pas itu kayak gimana Re?” Adit bertanya tanpa menatapku. Aku memperhatikan ekspresinya dari samping, berusaha mencari tau maksud pertanyaannya.

“Yang kayak Farel? Atau Daren? Atau Thomas? Ah, iya nggak perlu dijawab juga gue udah tau kok. Yang agak bad boy gitu kan? Soalnya kata lo seru pacaran sama cowok yang kayak gitu, nggak ngebosenin.” Adit menjawab pertanyaannya sendiri saat aku terdiam tidak menjawab lalu membalas tatapanku.

“Kemungkinan buat gue nggak ada kan ya?” Pertanyaan ini seperti bisikan, pelan sekali dia mengatakannya namun aku bisa mendengarnya dan cukup bisa membuat jantungku berdegup 5 kali lebih cepat.

Baru aku mau bertanya maksudnya, tiba-tiba hujan turun. Adit panik mengambil alat-alat pengamat bintangnya. Dan aku ikut membantunya, lalu kami berusaha meneduh dibawah pohon terdekat karena mobil Adit terparkir terlalu jauh untuk dijangkau.

“Apa gue bilang? Hujan itu selalu bikin kesel deh.” Aku cemberut menatap hujan.

“Kenapa? Gue aja suka hujan kok.” Jawabnya cuek.

“Gue enggak. Hujan itu cuaca paling suram.” Balasku sambil menggerutu.

“Hujan kan enak, cuacanya dingin, trus udah gitu kalau hujan tuh bisa tidur sepuasnya. Atau enggak minum cokelat panas sambil nonton TV pas hujan.” Katanya sambil tersenyum.

“Ya kalau kayak gitu sih enak. Tapi kalau lagi kayak gini? Apa yang harus disukain?” Aku masih menggerutu kesal.

“Gue suka kok.” Jawabnya tanpa ekspresi.

“Suka ngeliat gue ngegerutu terus gini?” Aku memutar bola mataku.

“Bukan, tapi suka kejebak bareng sama lo. Jadinya ada alesan buat lebih lama ada di deket lo.” Jawab Adit membuat aku lupa bernapas.

“Gombal deh dit.” Aku berusaha tertawa normal tanpa grogi, tapi suaraku mengkhianatiku.

“Serius. Gue suka sama lo tau.” Kata Adit sambil menatap lurus ke depan tanpa menatapku dengan wajah innocentnya yang biasa. Membuatku makin bingung.

“Suka?” Aku berkata pelan.

“Iya, lo mau nggak jadi pacar gue?” tanya Adit masih dengan wajah innocentnya yang enggan menatapku yang hanya sebahunya ini.

Jantungki berdegup keras sekali. Aku berusaha menenangkan diriku sendiri, lalu tertawa. “Ah, lo bercanda aja sih.”

Adit akhirnya menoleh kearahku dan menatap dalam mataku.

“Gue serius.” Balasnya dengan sungguh-sungguh. Terbukti dengan kilatan dimatanya.

Aku merinding mendengarnya, jantungku rasanya mau copot saking senangnya. Kakiku lemas ditatap seperti itu olehnya. Aku harap dia tidak mendengar dentuman di dadaku yang sangat keras ini.

Aku tertawa lagi berusaha mencairkan suasana tatap-menatap yang mulai agak canggung ini.

“Adit, adit. Nembak cewek nggak bisa romantis dikit apa Dit?” kataku sambil tertawa.

Dia tidak ikut tertawa bersamaku, justru meletakkan teropongnya di tanah dan berlutut di hadapanku. Lalu menggapai tanganku dengan kedua tangannya.

“Renata Resdiana, gue Aditya Ferdinan minta lo buat jadi pacar gue. Karena gue udah cinta, sayang, suka sama lo sejak pertama kali kita ketemu. Rasanya udah cukup buat mendem perasaan ini sendiri selama tuga tahun. Gue nggak tau cara nembak cewek yang romantis itu kayak apa, tapi yang gue tau gue punya cukup cinta buat bikin lo lebih bahagia nggak hanya dengan yang romantis-romantis aja. Lo mau jadi pacar gue?”

Aku diam, berdiri mematung sambil menatap kebawah. Kemata sahabatku. Bingung. Aku tidak tau harus menjawab apa. Aku masih bangun kan? Oh ya, benar aku masih bangun. Rembesan air hujan yang sedikit-sedikit jatuh dari dedaunan pohon diatasku yang membuktikannya.

“Re?” Adit meremas tanganku meminta jawabannya segera.
Aku akhirnya mengangguk. Tersenyum ke arahnya yang dibalas senyum juga. Dia bangkit dan memelukku erat.

“Jadi kita pacaran?” tanyanya saat melepaskanku dari pelukannya.

“Maunya gimana?” Aku tidak bisa berhenti tersenyum.

“Iya,” Dia merangkulku erat lalu mengacak-acak rambutku.

Hujan berhenti. Aku dan Adit berjalan beriringan menuju mobilnya. Dia mengantarku pulang. Benarkah sahabatku sekarang sudah merangkap menjadi pacarku? Ini masih terasa seperti mimpi.
*****

Aku benci hujan. Karena hujan membuatmu sakit. Aku dan kamu sama-sama tidak suka akan penyakit. Walaupun kamu mungkin menyukai hujan, tapi lihat, dia sekarang membuatmu sakit. Apa kataku? Hujan itu menyusahkan.

“Dit, mau aku potongin apelnya?” tanyaku sambil menyodorkan sebuah apel merah.

“Boleh.” Jawabnya lemah.

“Makanya, aku bilang apa. Kalau lagi hujan itu neduh aja, nggak usah ngelanjutin bawa motor. Jadi sakit gini kan?” Kataku sambil memotong apel itu.

“Abisnya kalau aku nggak buru-buru nanti kamu kelamaan sendiriannya di tempat Mama kamu.” Jawabnya sambil mengunyah apel yang aku suapi.

“Aku kan udah bilang, kalau hujan jangan pernah di terobos. Aku nggak suka! Untung cuma sakit gini. Coba kalau kamu sampe kecelakaan atau apa. Kamu tega ninggalin aku?” Aku menatap Adit serius.

“Iya sayang, maaf.” Adit tersenyum membalas tatapanku. Melumerkan rasa marah yang tadi sudah terbentuk dihatiku.

“Lain kali jangan gitu ya. Kamu nggak mau nambahin rasa benciku sama hujan kan?” Aku melembutkan pandanganku.

“Re, yang terjadi sama kamu itu bukan salah hujan. Itu udah takdir Re.” Balas Adit sambil berusaha menyadarkanku.

“Tapi hujan penyebab takdir itu terjadi. Jadi wajar kalau aku menyalahkan hujan.” Jawabku ketus.

“Berarti kamu sama aja menyalahkan Tuhan. Re, nggak semua orang yang pergi ninggalin kamu itu nggak berada disisi kamu. Sebenernya tuh kita sama mereka cuma dipisahin sebentar, nanti kalau udah waktunya kita bakal bersatu lagi kok. Itu udah takdir.” Adit menasehatiku dengan pandangan paling meneduhkan yang pernah aku tau.

Aku diam tidak menjawab, sambil terus menyuapi Adit dengan apel di tanganku yang sedang kupotong-potong.

“Kadang aku malah mikir kalau hujan itu cuaca terbaik. Tanpa hujan mungkin aku nggak akan pernah bisa nyatain perasaan ke kamu kayak waktu itu.” Lanjutnya.

Aku tersenyum mengingat kejadian dua bulan lalu. Saat supermoon tepatnya.

“Jadi kamu nggak punya alesan lagi untuk membenci hujan kan Re?” Adit menatapku sambil tersenyum manis membuatku tidak tahan untuk tidak menjawab tidak.
*****

Apa kamu yakin tidak ingin membenci hujan? Benarkah? Apakah setelah kejadian ini kamu masih menyukai hujan Dit? Tidakkah kamu lihat sekarang hujan memisahkan kita? Sama seperti dia memisahkan antara aku dan Mamaku.

“Happy birthday sayang.” Kata Adit ketika aku mengangkat telepon darinya. Ini baru jam 12 malam.

“Ya ampun, makasih ya.” Aku menjawab dengan suara serak khas bangun tidur.

“Iya, sama-sama. Mau pesen kado apa nih? Besok aku bawain.” Kata Adit menggodaku.

“Kamu aja deh dibungkus trus dipitain. Cukup kok.”

“Jadi pocong dong?” Adit tertawa ringan.

“Adit! Ngomongnya jangan sembarangan ah.” Aku menggerutu kesal.

“Iya, maaf. Besok aku ke rumah kamunya siang ya. Aku ada yang harus di urus dulu.” Kata Adit.

“Oke, see you Dit.” Kataku sambil tersenyum.

“See you.” Adit menjawab lalu memutuskan sambungan teleponnya.

Ya. Hari ini ulang tahunku. Aku menunggu Adit berdiri di depan pintu rumahku membawakan kejutan untukku. Aku tidak sabar dipeluknya. Aku tidak sabar melihat senyumannya. Aku tidak sabar bertemu dengannya. Rasanya menuju siang itu lama sekali. Aku tidak bisa tidur hingga paginya.

Dan saat siang Adit masih belum datang juga. Tapi sebuah telepon mampu membuat lututku lemas dan terjatuh di lantai.

Aku tidak tau apa yang ada di pikiranku saat mendengar kabar itu. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan saat mengetahuinya. Aku benci mendengarnya. Ini bukan yang pertama kali. Kenapa hal ini selalu terjadi padaku?

Saat orang tua angkat Adit meneleponku. Memberitahu bahwa Adit kecelakaan di jalan tol saat hendak pulang dari kantor kedutaan besar Amerika yang menyelenggarakan lomba karya tulis ilmiah. Tentang Adit yang akan segera pergi ke rumahku untuk memberitahukan berita bahagia ini namun digagalkan hujan. Adit pergi bersama sopir. Ban mobil mereka mengalami selip saat hujan deras di jalan tol. Mobil itu terlempar ke kiri dan sisi kiri yang terdapat Adit terhantam dengan sebuah truk pasir.

Aku tidak tau harus seperti apa saat orang tua Adit mengatakan bahwa Adit sudah tidak ada. Aku tidak tau harus bagaimana menanggapi kalimat mereka selain mengatakan bahwa mereka berbohong. Ya! Mereka pasti bohong, ya mereka sedang dengan kejamnya membohongiku. Aku akan segera mendapat kejutan dan Adit muncul sambil membawa kado dan mengatakan bahwa kabar itu adalah bagian dari skenario mereka untuk mengerjaiku di hari ulang tahun.

Ya, Adit pasti bercanda. Jadi aku segera bangkit dan memakai sepatuku dan segera memberhentikan taksi yang lewat di depan rumah untuk menjemput kejutanku. Ya, Adit dan keluarganya hanya sedang berusaha membuatku terkesan di hari ulang tahunku. Ya, itu pasti. Adit tidak mungkin pergi meninggalkanku kan? Tadi pagi dia sudah berjanji akan merayakan ulang tahunku bersama kan?

Aku sampai di rumah sakit yang diberitahukan oleh orang tua angkat Adit.

Aku berjalan cepat mencari orang tua Adit. Aku melihatnya. Aku melihat Mama dan Papa Adit sedang menangis di depan... Tunggu, benarkah itu ruang jenazah? Ah, pasti ini masih bagian dari skenario. Air mata sudah meluncur deras sejak tadi dari kedua mataku. Meskipun aku berusaha terus berpikiran positif tapi sesuatu entah apa membuat dadaku nyeri.

Mama dan Papa kamu sedang menangisi apa Dit? Kok Mama kamu memelukku sambil menangis histeris? Aku saja hanya mengeluarkan airmata tanpa bersuara, dan aku juga tidak tau kenapa. Kamu belum pergi kan Dit?

Mama kamu menuntunku menuju ke dalam ruangan yang bertuliskan ruang jenazah itu. Lalu berhenti di samping jasad laki-laki yang mirip sekali denganmu. Dit, itu kamu? Dengan wajah bengkak terkena benturan? Bibir kamu berdarah? Kepala kamu? Kamu Dit... Itu kamu?

Tiba-tiba seluruh duniaku terasa berputar. Lalu gelap.

Aku sadar dan melihat Papa dan Mama kamu serta Papaku mengelilingiku. Kamu tau Dit? Aku berteriak kencang memanggil namamu loh, sampai orang-orang di rumah sakit memperhatikan aku. Aku tidak peduli. Sungguh, Dit aku tidak peduli. Karena aku yakin mereka juga tidak peduli dengan apa yang aku rasakan. Dengan perasaan sakit ini Dit. Dit, bangun!! Bangun dan katakan padaku kamu baik-baik saja. Katakan bahwa kamu masih akan ada disini untuk menemaniku.

Ayo, Dit!!! Kamu tega? Oh, ya kamu tega melakukan ini? Dit, taukah kamu apa yang aku rasakan? Perih Dit. Bukan, ini bukan karen kamu. Ini karena cinta kita Dit. Kamu tidak sanggup lagi menemani aku disetiap waktuku, Dit. Katamu dulu kamu mau mengambil batu bulan untuk diberikan kepada perempuan yang kamu sayangi kan Dit? Mana Dit? Kenapa aku nggak dapet? Apa ini artinya kamu nggak sayang aku Dit?

Kamu ternyata benar-benar sudah pergi ya Dit? Kamu pergi menciptakan lubang dihatiku yang tidak mungkin tertambal dengan baik. Akan selalu ada celah untuk membuka lubang itu lagi Dit. Kamu pergi membawa cintaku, hatiku, harapanku. Kenapa harus secepat ini? Bahkan kamu belum menemaniku merayakan anniversary pertama kita Dit.

Makam kamu sekarang bersebelahan dengan makam Mamaku. Tempat yang selalu kita kunjungi. Tempat yang tidak pernah aku sangka akan menjadi tempat peristirahatan terakhirmu juga. Dan kecelakaan yang hampir sama dengan yang Mamaku alami. Karena hujan. Ya, aku pantas membenci hujan. Karena dia sudah membawa pergi dua orang yang sangat aku cintai. Pertama Mama, sekarang kamu. Hujan adalah petaka bagiku Dit.

“Re, ini kado yang sudah Adit siapkan buat kamu. Ini, tante rasa Adit ingin kamu menyimpannya.” Mamamu memberikan sebuah kotak besar yang katanya darimu Dit. Ah, kamu lihat tidak Dit? Meskipun dia orang tua angkatmu, tapi kantung matanya membengkak, terlihat jelas bahwa beliau terus menangis karena kepergianmu. Kenapa kamu pergi begitu cepat?

Sampai di rumah, aku membuka kado darimu. Isinya sebuah boneka berbentuk bulan, sebuah bohlam yang diisi dengan air, sebuah buku makalah, dan sebuah surat.
Aku membuka surat yang wanginya persis seperti parfum Adit.

Happy sweet 17 sayang. Semoga diumur kamu yang ke 17 ini kamu bisa makin dewasa dan menjadi Rere-ku yang lebih baik lagi.
Re, aku nggak tau harus buat puisi romantis macem apa. Kamu tau kan aku nggak seberbakat kamu dalam bidang sastra. Tapi kalau kamu minta aku untuk menjelaskan sistem tata surya, dengan senang hati aku akan menjelaskannya. Tapi berhubung aku sayang sama kamu, aku akan coba buatin puisi yang berkaitan sama astronomi pastinya.

Kamu adalah Merkuriusku, si paling hangat dari semua yang ada. Kamu adalah Venusku, si paling cantik dari semuanya. Kamu adalah Bumiku, karena kamu tempat aku tinggal dan hidup. Kamu adalah Marsku, si merah merona yang sangat manis. Kamu adalah Jupiterku, karena cinta terbesar ada padamu. Kamu adalah Saturnusku, karena cincinku suatu saat akan melingkar dijari manismu. Kamu adalah Uranusku, yang mengorbit paling lama di sistem hatiku. Kamu adalah Neptunusku, yang meskipun suatu saat kamu jauh sama seperti neptunus, aku akan tetap mencintaimu. Kamu adalah bintang jatuhku, karena padamu kutitipkan banyak harapan. Kamu adalah bulanku, karena kamu menerangi malamku. Kamu adalah bintangku, karena kamu memperindah hidupku. Kamu adalah matahariku, karena kamu sumber kehidupanku.

Kamu juga hujanku Re, kamu yang menyirami hatiku saat kekeringan, kamu yang menyejukkanku, kamu yang membuat cinta dihatiku tetap tumbuh. Kamu sama seperti hujan Re. Aku tau kamu membenci hujan. Tapi tidak bisakah kamu berhenti melakukannya untukku? Hujan sama seperti panas, salju, atau musim gugur.

Re, kepergian seseorang tidak bisa dijadikan alasan untuk membenci sesuatu. Aku tau kamu sedih atas kepergian Mamamu. Tapi bukankah itu hanya sementara? Suatu saat kamu bisa bertemu lagi dengannya. Saat takdir sudah kembali menyatukan kalian. Cukup percaya saja bahwa Tuhan memiliki rahasia sendiri, dan dia akan memberi kita keindahan pada waktunya.

Atas nama hujan yang kamu benci aku bersumpah, aku akan ada disisimu sampai akhir. Sebagai apapun itu. Entah seperti dulu, sebagai sahabat, atau sebagai pacar seperti saat ini atau mungkin hanya sebagai kenangan yang akan mengisi hatimu. Aku mencintaimu, sejak kemarin, hari ini, besok, dan selamanya.
Regards,
Adit

Lebih dari belasan tetes air mata yang terjatuh saat aku membaca surat dari kamu Dit. Aku merindukanmu. Merindukan tawamu, senyummu, harummu, obrolan cerdasmu, pandanganmu, sentuhanmu. Aku merindukan semuanya.

Seharusnya kamu masih disini Dit, menerima beasiswa hasil kemenanganmu atas makalah itu. Seharusnya kamu akan mengambil batu bulan untukku.

Bagaimana bisa aku tidak membenci hujan Dit, kalau setiap kali aku melihat hujan maka air mataku turun secara deras tanpa bisa dikomando untuk berhenti. Seharusnya kamu tau, hujan memang menyusahkan dan memilukan. Ia pantas dibenci.

Tapi, seperti katamu. Kamu akan selalu berada disisiku. Ya, sebagai kenanganku. Luka paling indah dalam hidupku. Lubang yang tidak akan hilang.

Aku akan berusaha tidak membenci hujan. Karena setidaknya meskipun ia membawamu pergi, hujan juga pernah menahanmu untukku.

0 komentar:

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos