Thursday, April 05, 2012

Cerbung - Will It Be Us Part 9

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 06:52
Reaksi: 
Selamat malam readers, agak kemaleman nih ya kayanya gue ngepostnya. Maaf ya, dari tadi ada trouble sama connectionnya.; Ya maklum lah, gue pake provider murah, yang penting, hemat :)

Yaudah nepatin janji yg kemaren gue bakalan ngepost part selanjutnya malem ini. Okay, take your seat, and enjoy the ride.

Check it out!

Will It Be Us Part 9



“Selamat tinggal Jakarta, 15 tahun hidup dan tumbuh disini ternyata benar-benar mampu membuatku mencintai semua yang ada padamu. Kemacetanmu, keramaianmu, kebisinganmu, panasmu, kejahatanmu, dan cinta yang kamu berikan untukku. Sampai jumpa lagi Jakarta, aku titip Anya. Jangan biarkan dia menangis ya selama aku nggak ada. Aku takut ada orang lain yang menghapus airmatanya. Aku takut kehilangan cintanya. Aku sudah lebih dari terbiasa hidup dengan cintanya disetiap harinya. Rasanya sulit untuk membiasakan diri lagi hidup tanpa cintanya itu. Suatu saat aku akan kembali kesini, ketempat dimana aku pertama kali membuka mataku dan merasakan indahnya dunia. Ya, suatu saat.”

“Rio, mau minum?” tanya Mama Rio membuyarkan lamunan Rio saat salah seorang Pramugari datang membawakan trolly berisi makanan dan minuman.

“Coffee mah.” Jawab Rio singkat lalu memasang headphonenya.

Mama Rio memberikan segelas kopi untuk Rio, segelas untuk Papa Rio, dan mengambil segelas teh untuk dirinya sendiri.

Rio hanya terus melamun memikirkan Anya sambil mendengarkan lagu di Ipodnya dan menyeruput kopi hangatnya.

Ia menaruh kopinya dipinggir tempat duduk dan bukannya hilang rasa ngantuknya justru ia malah mengantuk karena lelah memikirkan Anya, dan dia baru tidur 2 jam sejak kemarin. Ia pun terlelap di kursinya. Jiwanya berkelana di alam mimpi indahnya bersama Anya.
*****

Rio sampai di Pearson airport Toronto, Kanada. Ia segera mengemasi barang-barangnya dan mengikuti kedua orang tuanya. Ternyata sudah ada anak buah Papanya yang menjemput disana. Ia naik sebuah Alphard yang menjemputnya dan akan segera mengantarkannya ke rumah barunya.

Akhirnya Rio sampai di rumah barunya, rumah ini sedikit lebih besar dibanding rumahnya di Jakarta. Sama seperti kamarnya di Jakarta, kamar Rio berada di lantai 2. Bi Inah yang ikut bersama mereka membawakan masuk barang bawaan Rio.

Rio memandang kamar barunya. Lebih luas. Kamar itu menghadap ke arah jalan dan sebuah rumah lain di depannya. Cukup bagus. Tapi ada rasa kurang nyaman bagi Rio, rumahnya kali ini lebih terbuka, pagar samping kanan kiri dan belakangnya hanya berupa semak-semak rimbun, sedangkan depan rumahnya tidak berpagar sama sekali. Modelnya yang terlalu terbuka membuat Rio risih. Ia tidak terbiasa terlalu terlihat seperti ini. Tapi ya mau bagaimana lagi.

Kamar itu sudah terisi penuh dengan barang-barang baru seperti tempat tidur, meja belajar, seperangkat home theater, dan sebuah lemari baju. Bau cat masih sangat tercium jelas oleh Rio.

Lalu ia melangkahkan kakinya ke kamar mandinya. Dan wow, ini benar-benar jauh lebih luas dari kamar mandinya dulu, bahkan kamar mandi Papa Mamanya waktu di Indonesia. Kamar mandi dengan gaya modern. Begitu masuk disebelah kanan ada cermin dengan wastafel dibawahnya. Kemudian masuk sedikit ada sebuah shower yang tertutupi tirai bening, tidak jauh dari shower ada closet, dan dipojok ruangan dekat jendela yang dilengkapi dengan kaca film terdapat sebuah bak Jacuzzi. Jadi kalau Rio sedang berendam di bak Jacuzzi ia bisa bebas memandang keluar tanpa kelihatan dari luar. Rio tidak percaya orang tuanya memberikan fasilitas semewah ini.

Rio keluar dari kamar mandinya. Ia bersender di tembok disamping tempat tidurnya, lalu tiba-tiba hampir terjatuh. Hei, ada sebuah ruangan rahasia disana. Rio berjalan masuk ke tembok yang sekarang terbuka itu. Ternyata ruangan studio musik, lengkap dengan satu set alat band dan juga ada alat composser disana. Kali ini Rio kegirangan, dari dulu ia selalu meminta yang seperti ini pada orang tuanya. Dan sekarang semuanya terkabul. Bahkan Papanya lebih dari tau apa yang Rio inginkan, misalnya seperti ruangan tersembunyi ini. Rio segera mencoba seperangkat set alat musiknya yang baru. Keren. Ini benar-benar di luar dugaannya. Seandainya Anya melihatnya. Ah, Anya! Rio hampir lupa menghubungi gadis itu.

Rio segera menghambur keluar dan turun ke lantai satu, mencari Mamanya.

“Ma, Mama dimana sih? Ma?” Panggil Rio.

“Mamanya di atas Mas di kamarnya, ada apa? Mau Bibi bantu?” tanya Bi Inah.

“Bi, telfon dimana?” tanya Rio terburu-buru.

“Loh, kan di kamarnya Mas Rio juga ada. Coba liat dulu Mas.” Jawab Bi Inah.

“Oh, ya udah. Thanks Bi.” Jawab Rio lalu berlarian menaiki tangga menuju kamarnya.
Rio menemukan telfon di atas meja belajarnya. Ia segera menekan nomor handphone Anya yang tidak pernah ia lupakan.

Terdengar bunyi tersambung beberapa kali, agak lama juga Anya mengangkatnya.

Lalu terdengar suara seperti Anya baru saja bangun tidur.

“Hallooo...” kata Anya setengah sadar.

“Hallo, Anya?” panggil Rio.

“Rio?!” pekik Anya senang, ia segera melonjak dari tidurnya menyadari Rio yang menelfonnya.

“Ya, ampun udah sampe Yo? Kok nomornya aneh gini ya Yo?” celoteh Anya senang.

“Hehe, iya aku baru sampe nih. Tau nggak nya, perjalanan 16 jam itu bikin capeeee banget. Ini nomor rumah Nya, nomor Hp aku belum beli. Nanti mungkin minta temenin bawahannya Papa.” Kata Rio menjelaskan.

“Disana enak Yo?” tanya Anya.

“Lumayan, Nya. Lagi musim panas nih disini. Agak gerah juga lumayan. Tapi ada yang harus kamu tau. Kamar baruku hebat banget! Serius aku jadi pengen ajak kamu kesini.” Kata Rio semangat.

“Oh, ya? Selamat ya sayang. Ah, kesana? Serius pengen banget!” jawab Anya.

“Eh Nya, by the way sekarang di Jakarta jam berapa? Suara kamu kaya baru bangun tidur.” Tanya Rio polos.

“Jam 3 pagi. Disana jam berapa?” tanya Anya.

“Oh God, disini jam 4 sore Nya. Ya udah kamu lanjutin tidur aja deh, maaf aku ganggu sayang.”

Eh, enggak apa-apa Yo, aku masih pengen ngobrol sama kamu. Lagian aku udah nggak ngantuk lagi.” Kata Anya.

“Serius?” tanya Rio lalu membuka MacBooknya. Rumahnya sudah tersedia jaringan hotspot ternyata. Bagus, hubungannya dengan Anya akan lancar kalau gitu.

“Iya, eh ceritain dong kamar baru kamu sekarang kaya gimana?” tanya Anya.
Rio menceritakan kamarnya yang sekarang sesuai dengan keadaannya.

“Gila Yo, dari cerita kamu, aku bisa bayangin kamu bakalan jadi anak rumahan yang nggak betah kemana-mana karena saking nyamannya di rumah.” Kata Anya.

“Hahaha, iya nih kayanya gitu. Ini aku mau kirimin kamu email foto-foto kamar aku, dan studio musiknya ya. Bagian rumah yang lainnya nyusul.” Kata Rio.

“Sip, sip. Udah bisa internetan toh?” tanya Anya.

“Udah, di rumah udah ada hotspotnya.” Jawab Rio.

“Nya, cek gih. Udah aku kirim.” Kata Rio.

“Oke, oke wait.” Jawab Anya lalu mengambil laptopnya dan sign in ke yahoo. Ada satu email masuk dari Rio. Isinya ada sekitar 14 foto sudut-sudut kamar Rio. Anya berdecak kagum dengan foto-foto itu. Ia senang sekali Rio mendapatkan yang terbaik.

“Halo? Anya? Still there sayang?” tanya Rio.

“Iya, iya. Halo. Yo, Demi apapun itu kamar kamu surga banget.” Puji Anya.

“Hehe, kapan-kapan main kesini yah.”

“Iya Yo, pengennya mah gitu.” Balas Anya lirih.

“Aku yakin kamu bakalan kesini kok.” Jawab Rio optimis.

“Anya, udah dulu ya. Aku lupa belum masuk-masukin baju ke lemari. Hehe, nanti kalau udah selesai aku telfon kamu lagi oke?” lanjut Rio.

“Oke, I’ll be waiting Rio.” Jawab Anya.

“Love you,” kata Rio.

“Love you too.” Balas Anya lalu memutuskan sambungan telfonnya.

Anya menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur, mengkhayal seandainya Papa dan Mamanya mengizinkannya liburan ke rumah baru Rio pasti asyik. Tapi ia tidak yakin mereka setuju. Anya menghela napas, lalu memainkan laptopnya. Berharap Rio menelfonnya lagi.

Sementara itu Rio sedang sibuk memasukkan baju-baju lamanya ke dalam lemari. Meskipun ternyata lemari pakaiannya, atau lebih tepat disebut kamar pakaiannya karena lemari itu besar sekali, sudah terisi dengan baju-baju baru dan sepatu-sepatu baru. Rio merapihkan baju-bajunya.

Selesai merapihkan baju Rio merapihkan buku-bukunya ke dalam rak yang tersedia. Lalu ia juga memajang foto-fotonya bersama Anya di tembok-tembok kamarnya, di meja belajarnya, di atas kedua speaker home theaternya, dan beberapa ia taruh di studio musiknya. Akhirnya ia selesai merapihkan semua barang bawaannya. Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Rio menelfon Anya lagi.

Kali ini Anya tidak mengangkat, Rio berfikir mungkin Anya sedang solat subuh, kan sekarang disana pasti sekitar jam 5. Rio mencoba lagi menelfonnya 10 menit kemudian, dan akhirnya Anya mengangkatnya.

“Anya, kenapa nggak diangkat tadi?” tanya Rio.

“Lagi sholat sayang.” Jawab Anya.

“Ohh gitu.” Kata Rio.

“Udah selesai beresin kamarnya?” tanya Anya.

“Udah, kamar aku penuh sama foto kita berdua nih, hehe.” Kata Rio.

“Keren dong?” tanya Anya.

“Yap,” jawab Rio.

Anya dan Rio tidak berhenti mengobrol di telfon sampai akhirnya setelah dua jam berlalu Rio dipanggil untuk makan.

“Mas Rio,” panggil Bi Inah sambil mengetuk pintu.

“Iya Bi, kenapa?” tanya Rio masih dengan telfon yang tersambung dengan Anya.

“Itu dipanggil  Mama sama Papa Mas, katanya makan malam.” Kata Bi Inah dari balik pintu.

“Oh, iya Bi makasih. Bilang bentar lagi aku turun.” Jawab Rio.

“Iya mas.” Bi Inah segera turun lagi.

“Nya, udah dulu. Aku dipanggil makan malam nih sayang. Bye. Nanti kutelfon lagi, muaacchh.” Kata Rio lalu memutuskan sambungan telfon dan keluar dari kamarnya, turun menuju ruang makan.

“Ayo sini Yo makan dulu.” Kata Mama yang sudah menunggu di meja makan.

“Iya, Ma.” Rio ikut duduk bersama Mama dan Papanya.

“Gimana Yo, kamar baru kamu? Suka?” tanya Papanya saat sedang makan.

“Suka Pa, suka banget. Papa keren banget. Itu Papa yang desain?” tanya Rio.

“Iya, dibantu sama Om Axcel. Semoga kamar baru kamu ini bisa mengobati kangen kamu sama Jakarta ya, terutama Anya. Ya kan Yo?” tanya Papanya.

“Yah, Papa. Kalau kangen sama Anya mah nggak ada obatnya selain ketemu langsung.” Jawab Rio.

“Ya kalau gitu suruh lah Anya kapan-kapan nanti liburan kesini. Nginep disini. Kan banyak kamar kosong.” Kata Papanya.

“Emangnya boleh Pa?” tanya Rio.

“Boleh aja asal Anya diizinin sama kedua orang tuanya. Iya nggak Ma?” kata Papa Rio sambil melirik Mamanya.

“Iya dong, Mama seneng banget malah kalau Anya ada disini, kan bisa nemenin Mama ngegosip.” Jawab Mama Rio.

“Gimana kalau liburan lebaran nanti? Kan sekitar 2 bulan lagi tuh. Lagian kata Mama kita nggak pulang kan? Soalnya sekolahku nggak libur dan kerjaan Papa juga nggak libur.” Tanya Rio.

“Nah, iya ide bagus. Nanti Mama ngomong sama Mamanya Anya juga. Seru kan kalau sekeluarga Anya kita undang kesini?” Mamanya Rio tertawa senang.

Rio bahagia sekali, kedua orang tuanya sangat pengertian sekali dengannya, benar-benar menyayangi dirinya. Rio beruntung memiliki orang tua seperti mereka.
*****

“Anya tumben jam segini udah bangun?” Goda Papanya saat melihat Anya sudah duduk di meja makan untuk sarapan.

“Udah dong Pa, udah dari jam 3 pagi malah.” Jawab Anya.

“Walah, ngapain?” tanya Papanya.

“Telfonan sama Rio.” Jawab Anya senang.

“Rio udah sampe?” tanya Papanya.

“Udah Pa. Tau nggak? Kamarnya Rio keren banget, nih liat deh.” Kata Anya menunjukkan foto-foto kamar Rio dari handphonenya. Mama Anya juga ikut-ikutan melihat foto-foto itu.

“Wah ini sih sebesar ruang keluarga kita ya? Hebat.” Kata Papa Anya berdecak kagum.

“Iya Pa, keren. Ini baru kamarnya doang. Rio janji nanti abis makan malam dia mau kirimin foto-foto rumahnya yang lainnya.” Celoteh Anya riang.

“Foto apaan?” tanya Bang Eza yang baru bangun dan ikutan nimbrung.

“Foto kamarnya Rio Bang. Keren deh, nih liat. Yakin sebagai cowok lo langsung iri nggak ketolongan.” Kata Anya memberikan handphonenya.

“Anjrit, ini kamarnya surga banget. Ada ruangan rahasia yg ternyata studio musik. Wah Nya, kapan-kapan kita harus main kesana Nya.” Kata Bang Eza antusias.

“Ye, tapi nih si Mama sama Papa emangnya ngebolehin?” cibir Anya.

“Kalau Papa sih boleh kalau nggak ngerepotin orang tuanya Rio.” Jawab Papa Anya sambil tetap membaca koran.

“Serius Pa?” tanya Anya dan Eza hampir bersamaan.

“Iya,” jawab Papanya.

“Ya kalau Mama sih ikut Papa deh.” Kata Mama Anya.

Anya memeluk senang kedua orang tuanya lalu bertanya, “Aku kan nggak punya passport, trus transport nanti kesana Papa sama Mama serius mau bayarin?”

“Iya, Papa fikir nggak ada salahnya kalau kamu sama Abangmu berdua nyoba jalan-jalan ke luar negri. Buat pengalaman.” Kata Papa Anya santai.

“Papa baik banget emang.” Kata Anya lalu mencium pipi Papanya itu.

“Dari dulu.” Jawab Papanya.

Anya tertawa kecil. Lalu tiba-tiba handphonenya berbunyi lagi, dan ternyata dari Rio lagi. Anya mengangkatnya lagi dan mereka terus mengobrol di telfon sampai jam di rumah Rio menunjukkan pukul 11 malam. Rio mulai mengantuk dan akhirnya mereka menyudahi pembicaraan seru saat itu. Rio tertidur lelap di kamar barunya.
*****

“Kriiiing...” Telfon di rumah Anya berbunyi.

Anya yang kebetulan duduk di dekat telfon segera mengangkatnya.

“Halo.” Sapa Anya.

“Halo, Anya ya?” kata suara  disebrang.

“Iya, ini siapa?” tanya Anya.

“Ini Tante Sera sayang.” Kata suara di seberang itu yang ternyata Mamanya Rio.

“Tante? Apa kabar? Sehat kan Tan? Tumben nelfon ke rumah, pasti kangen Anya deh. Hehe,” kata Anya agak narsis.

“Iya sayang Tante baik. Iya nih Tante kangen banget sama kamu. Tapi sekarang Tante mau ngomong sama Mama kamu boleh?” tanya Mama Rio.

“Oh boleh Tante, tunggu ya aku panggilin.” Jawab Anya.

Anya memanggil Mamanya dan memberikan gagang telfon itu dan memberi tahukan bahwa itu dari Mama Rio. Mama Anya segera mengambil telfon ditangan Anya dan mulai mengobrol dengan Mamanya Rio. Anya tidak tau pasti apa yang mereka bicarakan, tapi ia tau itu tentangnya dan Rio. Lalu akhirnya Mamanya selesai bertelefonan ria dan menutup telfon itu.

“Kenapa Ma?” tanya Anya penasaran.

“Enggak, mau tauuu aja.” Jawab Mamanya meledek.

“Ih, Mama mah. Ah, kasih tau Ma.” Kata Anya memelas.

“Umm nggak ah, nanti aja.” Kata Mamanya sok misterius.

“Ah, jahat.” Anya memanyunkan bibirnya.

Mamanya hanya mencium pipi Anya dan berlalu ke dapur melanjutkan masaknya yang tertunda.
*****

Rio mendesah bosan di atas tempat tidurnya, ini sudah hari ketiga ia di Kanada, dan besok hari pertamanya masuk sekolah. Tiba-tiba kerinduannya akan Anya muncul lagi. Ia melirik jam wekernya di meja samping spring bednya. Jam 1. “Hhhh, Anya baru mulai tidur jam segini.”  Fikir Rio, karena perbedaan waktu 13 jam dengan jakarta saat pagi Rio sedang bangun dan siap beraktivitas Anya justru baru selesai menjalani aktivitasnya dan tidur. Tapi karena masih liburan, mereka tetap bisa ngobrol via skype setiap hari. Biasanya dari pukul 03.00 WIB-11.00 WIB. Karena Rio mulai mengantuk dan butuh istirahat juga. Lalu kalau sudah bangun jam 8 pagi waktu Toronto, Rio biasanya online lagi dan skype dengan Anya sampai jam 11. Lalu gantian Anya yang harus tidur. Rio tidak pernah mau membuat Anya tidur terlalu larut, ia takut Anya sakit.

Dan tapi besok hari pertamanya masuk sekolah, malam ini berarti ia tidak bisa tidur selarut biasanya, atau ia akan telat sampai di sekolah barunya. Rio tidak akan membiarkan itu terjadi. Mungkin malam nanti obrolannya dan Anya akan sedikit berkurang malam ini. Padahal di Jakarta masuk sekolah masih seminggu lagi.

Rio bingung bagaimana kalau nanti Anya sudah sekolah dan dia juga. Pasti kan sama-sama sibuk, lalu bagaimana caranya untuk tetap menjaga komunikasi? Rio pusing memikirkan itu semua, ia masuk ke studio musiknya main gitar. Disana ia memainkan sebuah lagu yang entah kenapa mirip dengan situasinya saat ini.

What time is it where you are?
I miss you more than anything
Back at home you feel so far
Waiting for the phone to ring

It’s gettin lonely livin upside down
I don’t even wanna be in this town
Tryin’ to figure out the time zones making me crazy
You say good morning when it’s midnight
Going out of my head alone this bed
I wake up to your sunset
It’s driving me mad
I miss you so bad
And my heart heart heart is so jetlagged
Heart heart heart is so jetlagged
So jetlagged

I’ve been keeping busy all the time
Just try to keep you off my mind
Tryin’ to figure out the timezones making me crazy
I miss you so bad
I wanna share your horizon
And see the same sunrising
Turn the hour hand back to when you were holding me
(Jet Lag – Simple Plan ft. Nathasya Beddingfield)

“Aku kangen banget sama kamu deh. Biasanya kan ada kamu yang nemenin aku setiap saat. Aku kangen gimana cara kamu bicara, cara kamu senyum, ketawa, ngambek, marah, kesel, bete, bahkan nangis. Aku kangen cara kamu menatapku langsung. Aku kangen dicubit kamu, aku kangen pelukan kamu, aku kangen dicium kamu, aku kangen saat kamu senderan dipundak aku. Aku kangen aroma tubuh kamu, rambut kamu, desah napas kamu. Hhhh, ternyata waktu kejam ya? Masa disini aku lagi seger-segernya kamu malah harus tidur? Kita udah kepisah jarak, kepisah waktu pula. Sekarang nggak bisa lagi aku sama kamu ngeliat bulan dan bintang yang sama, tapi bulan dan bintang yang kamu liat tuh bekas aku liat 13 jam sebelumnya loh. Kita pasti kuat kok jalanin ini semua. Ini belum seberapa, baru awal. Aku siap menemani kamu melawan waktu sampai ia nyerah. Ah, iya suatu saat kita bisa kaya dulu lagi. Suatu saat.”
*****


Okay semoga puas yaaaaa sama cerita gue malem ini. Terima kasih untuk tetap membaca. Next part gue post besok malem yaa :)

See you  
 

0 komentar:

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos