Tuesday, April 03, 2012

Cerbung - Will It Be Us Part 8

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 05:05
Reaksi: 
Helloooooo, I'm back. Yap, seperti biasa setelah rutinitas harian yang bikin capek akhirnya gue ada waktu juga buat ngepost. Yaaaa biasalah guru seneng banget ngeliat murid muntah-muntah ngerjain soal. Eh gue lagi seneng nih. Tau nggak kenapa? Mau tau? Ah kepo deh kalian.

Oke stop, gue mulai random gara-gara kesenengan. Oke berhubung gue seneng hari ini, part kali ini gue panjangin dikit. Baikkan gue? Iya lah.

Yaudah, gausah pake basa-basi lagi nih baca aja, selamat menikmati hohohoho
Will It Be Us Part 8




Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, Anya sudah mandi dan siap-siap ingin pergi ke toko bunga biasa ia tempat membeli bunga dan perlengkapan berkebunnya, hari ini ia mau membeli pupuk organik yang persediaan di gudang tinggal sedikit. Anya mengeluarkan motor maticnya. Lalu pergi mengendarai menuju toko itu.

“Selamat pagi Anya.” Sapa Ibu pemilik toko itu ramah ketika Anya masuk ke dalam tokonya.

“Pagi Bu,” sapa Anya lembut.

“Mau beli bunga lagi?” tanya Ibu itu.

“Enggak, aku baru dapet banyak bunga tadi pagi, sekarang aku mau beli pupuk sama pestisida organik aja Bu.” Jawab Anya sambil memandang sekeliling mencari sesuatu.

“Oke, tunggu ya Ibu ambil.” Kata Ibu pemilik toko itu.

 “Nathan kemana Bu? Tumben nggak keliatan? Padahal aku kemarin ketemu sama dia.” Tanya Anya saat si Ibu pemilik toko itu memberikannya beberapa plastik pestisida.

Wajah si Ibu itu langsung terlihat agak sedih saat Anya bertanya, “Ada di dalem. Lagi sakit Nya. Emang kamu kemarin ketemu dimana?”

“Pasti Nathan kecapean ya Bu karena rajin banget bantuin Ibu, aku salut sama dia. Ketemu di panti rehabilitasi kanker Bu.” Jawab Anya diiringi dengan ekspresi terkejut yang tidak terbaca oleh Ibu pemilik toko itu.

“Kok kamu ada disana? Kamu sakit?” tanya Ibu itu hati-hati.

“Enggak kok Bu, kemarin disana ada acara penyuluhan kanker gitu kan, aku ikut ngebantuin.” Jawab Anya sambil tertawa kecil.

“Trus pas mau pulang ketemu Nathan deh, katanya abis nganterin bunga pesenan panti itu.” Lanjut Anya ringan.

Ibu itu hanya diam dan mengemasi belanjaan Anya. Lalu keluar dari topik pembicaraan mereka tentang Nathan, seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan.

“Ini semuanya jadi 50 ribu.” Kata Ibu itu tersenyum lembut.

“Ini Bu uangnya. Makasih ya Bu.” Jawab Anya manis sambil menyerahkan selembar uang 50 ribuan.

“Iya, sama-sama ya.” Balas Ibu itu.

“Aku pulang ya Bu, titip salam buat Nathan. Semoga cepet sembuh ya.” Kata Anya lalu melambaikan tangan dan keluar dari toko itu membawa 3 kantong plastik besar di tangannya.

Hari itu Anya habiskan waktunya dengan berkebun merawat semua tanaman mawar dan anggreknya. Kemudian ia melanjutkan membuat sebuah album foto kenangan bersama Rio di sebuah buku harian bermotif hati warna ungu miliknya.
*****

Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore, Anya sudah siap dan terlihat cantik sore itu. Setelah kumandang adzan magrib ia segera menunaikan solat dan kembali merapikan dirinya. Anya menyisir lembut rambutnya yang terurai sepunggung. Ia memakai bedak bayi dan menaburkannya di wajahnya dan meratakannya hingga tidak terlalu terlihat ia memakai bedak karena wajah Anya memang putih. Lalu ia mengoleskan lipgloss rasa strawberry ke bibirnya sehingga sekarang bibirnya terlihat bersih dan tidak kering. Anya menatap dirinya dari atas sampai bawah di cermin itu lalu tersenyum puas.

“Bang, anterin ke taman air mancur dong.” Kata Anya meminta.

“Mau ngapain? Kok lu rapih banget Nya?” tanya Bang Eza.

“Mau ketemu Rio, nggak tau dia kayanya mau ngasih kejutan last timenya di Jakarta nih Bang.” Jawab Anya.

“Lah tumben itu anak nggak jemput.” Kata Bang Eza heran.

“Yaelah bang, namanya juga surprise, nanti kalo dia jemput kan nggak jadi surprise.” Balas Anya.

“Tunggu deh, last time di Jakarta? Emang dia mau kemana Nya?” tanya Bang Eza.

“Pindah ke Kanada Abaaaaang. Kemana aja sih ih?” jawab Anya kesal.

“Lah, lu nggak ngasih tau ya mana gua tau. Emangnya gua kepoin si Rio mulu apa? Ya udah ayo naek motor aja.” Kata Bang Eza lalu hendak mengambil motor.

“Bang! Tega ih! Ini siap-siapnya udah dari jam 4 Abang tega ngehancurin persiapan aku. Ya Allah Bang, ini tadi ke salon dulu loh rambutnya.” Kata Anya mengiba.

“Yah, ya udah naik mobil. Bawel lu anak kecil.” Hardik Bang Eza kesal.

“Abang emang baiiiikkk banget.” Kata Anya lalu memeluk tubuh kakak laki-lakinya itu.

“Buset deh, lepasin ah. Lu wangi banget kaya kuntilanak.” Kata Bang Eza berusaha melepaskan pelukan Anya dan hanya diiringi dengan tawa cekikikan khas Anya.
*****

Anya sampai di taman tempat yang Rio katakan padanya tadi pagi di SMS. Jantungnya berdegup kencang. Sekarang ia sendirian. Bang Eza sudah pulang karena masih harus mengerjakan tugasnya. Ia memandang sekeliling mencari Rio. Tapi hanya ada dirinya sendiri di tengah kesunyian malam di taman yang sepi hari itu.
Anya memandang jam tangan silvernya, sudah menunjukkan pukul 7 lewat 5 menit. Rio bukan tipe cowok yang suka ngaret, ia yakin Rio sudah menunggunya di sudut lain taman.
Anya berjalan sendiri menyusuri jalan setapak yang dikelilingi dengan semak-semak. Ia mengedarkan pandangannya berusaha terus mencari Rio. Kemudian ia sampai di depan undakan tangga yang akan membawanya ke kolam air mancur. Ia menaiki satu demi satu undakan tangga itu. Dan ketika hampir sampai di tangga teratas suara ledakan kembang api terdengar jelas. Dan di hadapannya kini ada belasan kembang api yang memeriahkan langit malam di taman itu.

Dan Rio muncul di belakangnya sambil bertanya, “Bagus kan?” Mengagetkan Anya yang masih terpukau dengan kembang api di langit malam itu.

Anya hanya mengangguk tanpa sanggup berkata-kata.

“Sekarang coba liat ke kolamnya.” Kata Rio sambil menunjuk kolam yang berada tidak jauh dari mereka.

Anya melihat ke bawah dan tersenyum bahagia melihat kolam yang dihiasi lilin yang bertuliskan, “I Love You”. Saking terpukau dengan kembang api Anya sampai tidak menyadari ada lilin-lilin itu di kolam air mancur.

Ia menoleh ke arah Rio yang sekarang sedang menatapnya. Anya jinjit mencium pipinya dan berkata, “Terima kasih. Kamu selalu tau cara mengejutkanku.”

Rio hanya tersenyum dan menggandeng Anya turun ke bawah, dipinggir kolam sudah ada sebuah meja putih lengkap dengan dua kursi berwarna senada. Rio mempersilahkan Anya duduk di salah satu kursi itu. Dan ia juga duduk di salah satunya.

Belum lama mereka duduk, terdengar sayup-sayup suara alunan piano klasik yang memainkan sebuah lagu, Anya memandang sekeliling mencari asal suara itu.

“Nggak usah dicari. Itu cuma pemanis suasana malam ini.” Kata Rio lembut.
Anya tersenyum malu ketahuan memandang sekeliling.

Rio bangun dari tempat duduknya dan mengajak Anya dansa.

“Bisa dansa?” tanya Rio.

“Sedikit.” Jawab Anya sambil menyambut uluran tangan Rio.
Anya meletakkan kedua tangannya di pinggang Rio dan begitu juga Rio yang meletakkan kedua tangannya di pinggang Anya. Mereka terlarut dalam suasana romantis yang ada. Rio hanya terus menatap Anya, dan Anya juga terus menatap Rio dalam keheningan. Tidak ada kata-kata diantara mereka tapi susana sudah cukup membuat satu sama lain diantara mereka mengerti apa yang tersirat di dalam hati mereka. Rio menunduk, bibirnya mendekat ke bibir Anya. Dan Anya menutup matanya saat merasakan bibir Rio menempel di bibirnya. Dan tanpa terasa saat sedang berciuman air mata Anya menetes. Ia menangis. Rio yang merasakan asin di bibirnya karena air mata Anya yang mengalir turun akhirnya melepaskan pagutan bibir mereka dan menatap Anya yang sedang menangis dengan wajah bingung.

“Kenapa Nya? Aku kira kamu bahagia. Kenapa nangis?” tanya Rio.

“Jangan tinggalin aku.” Kata Anya tersedu.

Rio memeluk Anya dan membelai lembut kepalanya, serta mencium ujung kepala Anya, ia mengusap-usap punggung Anya berusaha menenangkannya. Mereka berpelukan dalam diam, hanya suara musik piano yang masih terdengar dan suara tangisan tertahan Anya yang mengisi suara malam itu.

Rio melepaskan pelukannya saat tangisan Anya sudah reda, ia menatap mata Anya dalam lalu berkata, “Aku pergi bukan untuk meninggalkanmu, tapi untuk kembali lagi padamu.”

“Jangan takut kehilanganku, karena kamu tidak akan merasakannya, aku akan selalu disini. Tepat disini. Di hati kamu.” Lanjut Rio sambil menunjuk dada Anya.

Anya memeluk Rio lagi, rasanya ia tidak ingin melepaskannya. Rasanya ia mau tetap seperti ini, hidup dalam pelukan Rio. Hanya dengan ini ia bahagia, hanya dengan ini ia merasa sempurna, hanya dengan ini ia merasa esok masih ada. Tapi Anya sadar, kata-kata Rio benar. Yang sesungguhnya terpenting adalah Rio yang hidup di hatinya. Bukan Rio ada disisinya saat ini atau tidak. Cinta tidak membutuhkan fisik, cinta ada di dalam hati. Pelukan, ciuman, kecupan, sentuhan, hanya pemanis dari cinta itu sendiri. Yang sebenarnya paling diinginkan adalah rasa damai dengan hanya mencintai seseorang yang juga mencintainya seperti sekarang ini. Seperti ia yang mencintai Rio.
Rio menuntun Anya duduk, lalu ikut duduk juga di kursi putih itu. Kemudian Rio menepuk tangannya tiga kali, munculah 2 orang pelayan wanita membawa nampan berisi sepiring steak dan segelas jus jeruk. Mereka menyajikannya di hadapan Anya dan Rio.

“Kamu terlalu berlebihan deh Yo ngasih ini semua.” Kata Anya memandang meja dihadapannya yang sekarang terisi dengan dua piring steak mahal dan dua gelas jus jeruk.

“Yang mana?” tanya Rio mengulum senyumnya.

“Semuanya, kembang api tadi, lilin-lilin di kolam itu, pemain piano dan pianonya yang ngiringin kita dari tadi, pelayan-pelayan itu, makanan ini, semuanya. Kamu ngabisin banyak uang dan waktu pasti cuma untuk ngasih surprise ke aku doang. Oh iya hampir lupa satu lagi, gaun ini juga. Aku kan bisa pakai gaun-gaun aku yang ada di rumah. Aku tau ini mahal. Ya okelah kamu punya banyak uang dan bisa beli ini semua. Tapi kan Yo, di luar sana banyak orang yang masih kelaparan, kenapa uangnya nggak di sumbangin aja buat mereka?” celoteh Anya.

“Pertama kembang api tadi karena selama pacaran kita belum pernah main kembang api berdua, kedua lilin-lilin di kolam itu murah aku juga ngerangkai sendiri dibantu Mama sama Bi Inah, ketiga pemain piano itu Mamaku dan pianonya yang ada di rumah jadi cuma dibawa doang kesini,  keempat pelayan-pelayan itu emang pelayan di restoran punyaku yang sengaja malam ini aku pindah tugaskan kesini, makanan ini yang biasa disajikan di restoranku jadi aku nggak keluar biaya untuk itu, dan gaun itu aku nggak sengaja liat waktu nemenin mama belanja dan tiba-tiba inget kamu jadi aku beliin, dan aku pikir karena aku nggak mungkin make lebih baik aku kasih kamu. Dan terakhir, urusan orang kelaparan dan segala macemnya, oke pulang dari sini aku bagiin makanan untuk orang-orang susah.” Jawab Rio lengkap dan hanya disambut gelengan kepala Anya yang speechless kalah kata-kata dengan Rio.

“Pemain pianonya Mama kamu? Kenapa nggak ikut gabung sama kita sih? Durhaka kamu.” Kata Anya.

“Mama nggak mau ganggu acara kita katanya. Aku telfon ya.” Jawab Rio sambil menelfon Mamanya.

“Ma, ini Anya mau ngomong.” Kata Rio menyerahkan Iphonenya ke Anya.

“Tante, tante dimana? Kok nggak ikut gabung sama kita?”

“Di suatu tempat yang tersembunyi tapi nggak jauh dari kalian pastinya. Enggak ah, Tante nggak mau ganggu. Malam ini full untuk kamu dan Rio sayang. Tante cukup iringin kalian pakai musik aja ya. Bye Anya sayang.” Jawab Mama Rio dari seberang telfon. Kemudian sambungan terputus.

“Denger sendiri kan? Mama yang minta.” Kata Rio.

“Makan dulu yuk nanti keburu dingin.” Lanjut Rio.

Anya hanya menurut dan mulai memotong steaknya dan makan. Setengah jam kemudian mereka selesai. Dua pelayan wanita itu masuk lagi kali ini membawa sebuah papan yang terbungkus kertas sampul warna cokelat. Mereka memberikannya pada Rio dan mengambil piring-piring dan gelas yang sudah kosong.

Rio menyerahkan papan itu kepada Anya, dan dibalas dengan tatapan bingung dari Anya.

“Buka aja.” Kata Rio.

Anya merobek kertas pembungkus papan itu. Ternyata sebuah kanvas dengan sebuah lukisan seorang gadis, kanvas itu terbingkai cantik dengan frame berwarna hitam mengkilap. Dan gadis di lukisan itu adalah Anya. Anya terpukau dengan pemberian Rio.

“Kamu suka?” tanya Rio.

“Suka banget. Kamu bikin sendiri?” Anya balik bertanya.

“Iya, maaf kalau nggak sebagus buatan profesional.” Kata Rio merendah.

“Ini bener-bener bagus kok Yo, udah cocok jadi profesional.” Kata Anya memuji.

“Satu lagi, aku punya ini buat kamu.” Rio merogoh saku dalam jasnya dan mengambil sebuah kotak lalu membukanya dihadapan Anya yang membuat Anya lagi-lagi tidak mampu berkata-kata.

“Aku pakein ya?” kata Rio lalu bangkit dan berjalan menuju belakang kursi Anya dan memakaikan kalung berinisial RA ke lehernya. Rio duduk lagi dan kali ini memakaikan gelangnya di tangan kanan Anya.

“Seenggaknya kamu jadi inget aku terus kalau kaya gini.” Kata Rio.

“Tapi ini... Ah, aku nggak tau Yo cara terima kasihnya sama kamu.” Kata Anya menatap gelang di tangan kanannya.

“Cukup dengan pakai itu setiap hari, jangan dilepas, apalagi hilang.” Balas Rio tersenyum memukau.

“Nggak akan.” Jawab Anya.

“Oh iya aku juga punya sesuatu buat kamu. Hampir aja lupa.” Lanjut Anya sambil merogoh kedalam tas yang ia bawa. Lalu ia mengeluarkan sesuatu yang dibungkus dengan kertas kado bermotif boneka. Ia menyerahkannya ke Rio.

“Boleh aku buka?” Tanya Rio.

“Boleh.” Jawab Anya tersenyum manis.

Rio membuka hati-hati pembungkusnya dan mengeluarkan pelan-pelan sebuah buku dari dalamnya.

“Itu buku harian aku, dari jamannya kita baru kenal sampai terakhir yang kita berdua lakuin kemaren. Lengkap sama fotonya juga. Itu bukan asli buku harianku sih. Tapi semua cerita dibuku harianku tentang kamu udah aku salin semua ke situ. Nggak ada yang aku kurangin atau tambahin. Itu pure tentang kita. Ada foto-fotonya juga. Tapi ternyata masih banyak halaman yang kosong. Padahal disitu udah aku isi lebih dari 100 halaman. Mungkin bukunya yang terlalu tebel. Kamu bisa lanjutin isi cerita kamu dibuku itu setelah kamu tinggal disana nanti.” Jelas Anya panjang lebar.

“Peristiwa malam ini ada nggak?” tanya Rio.

“Enggak lah.” Jawab Anya.

“Ya udah tulis sekarang. Bawa pulpen kan?” tanya Rio.

“Oke.” Jawab Anya lalu mengambil buku itu dan menulis tentang kejadian hari ini di buku itu. Sementara itu Rio meninggalkan Anya sendiri yang asyik menulis. Lalu tidak lama kemudian ia kembali dan duduk lagi di kursinya menunggu Anya menyelesaikan tulisannya.

“Finish!” kata Anya tersenyum senang.

“Nih, sekalian tempelin. Ini lemnya.” Kata Rio menyerahkan beberapa lembar foto dan sebotol lem.

“Loh, ini kapan fotonya? Dari tadi ada yang fotoin?” kata Anya terkejut.

“Iya, buat kenang-kenangan aku.” Jawab Rio santai.

“Dan aku nggak dikasih gitu?” tanya Anya.

“Nanti aku kirim via email. Udah cepet.” Kata Rio.

“Nih udah,” kata Anya menyerahkan buku itu ke tangan Rio.

Rio tersenyum puas melihatnya.

“Udah jam 9 Nya, pulang yuk. Nanti kamu dicariin Mama Papa lagi.” Kata Rio mengajak Anya pulang.

“Yuk.” Jawab Anya menyambut uluran tangan Rio.

Mereka pulang hari itu. Mengakhiri malam terakhir Rio di Jakarta dengan sangat manis. Satu malam yang tidak akan Anya lupakan. Hari Selasa, 30 Juni.

You know I’ll be your life, your voice
Your reason to be
My love, my heart is breathing for this moment
In time I’ll find the words to say
Before you leave me today
(Moments – One Direction)

“Kamu membuatku menyadari beberapa hal malam ini. Kamu menganggapku sebagai alasan untuk tetap tinggal di kehidupan yang menyakitkan ini. Aku beruntung bisa bernafas hari ini untuk merasakan luapan cintamu untukku. Hati dan cintaku hidup dan bernafas untuk kenangan-kenangan itu. Dan saat ini aku menemukan kata yang pantas aku ucapkan untukmu sebelum kamu pergi meninggalkanku. Aku mencintaimu. Tidak peduli apa yang akan menghadang, tidak peduli seberat apapun menjalani hubungan ini denganmu. Tidak peduli bagaimana waktu dan jarak berusaha memisahkan kita. Sekarang dengan yakin aku mengatakan, AKU MENCINTAIMU. Tanpa keraguan, tanpa ketakutan. Karena mencintaimu adalah salah satu anugrah terindah dalam hidupku.”
*****

Hari ini Rabu, tanggal 1 Juli. Anya terbangun dari mimpinya, dan tiba-tiba merasakan sesak yang memenuhi dadanya. Sesak yang membuat napasnya serasa akan berhenti saat itu juga. Tanpa terasa ia menitikkan air mata. Hari ini hari keberangkatan Rio, dan kecil kemungkinannya untuk bisa bertemu dengannya untuk terakhir kali di bandara sekedar mengucapkan ‘Selamat tinggal’.

Ia menoleh ke arah jam dindingnya, baru jam 3 pagi. Anya bangkit dari tempat tidurnya dan duduk di meja belajarnya yang menghadap ke jendela. Disana ia melihat sebuah bulan purnama, bulat dan sangat indah sekali, menerangi malam yang gelap, sunyi, dan dingin itu. Anya mencoba memanfaatkan waktunya dengan belajar untuk test nanti. Tapi fikirannya tidak bisa lepas dari memikirkan Rio.

“Mungkin kamu lagi terlelap sekarang Yo. Aku nggak pernah ngerasa sekangen ini sama kamu sebelumnya kayanya. Padahal belum sampai 9 jam yang lalu kita ketemu ya? Tapi entahlah, hatiku seperti tiba-tiba tidak bisa berhenti memanggil namamu. Kamu tau bagaimana rasanya saat ini? Hampa. Sepi. Ya beginilah kenyataan hidupku kalau nggak ada kamu. Itu salah satu alasan kenapa aku selalu butuh kamu disisiku. Seandainya kamu lagi bermimpi apa itu aku yang ada di mimpimu Yo? Apa mimpimu cukup bahagia untuk membuatmu tersenyum? Atau justru terlalu menyakitkan untuk kamu ingat ketika terbangun? Aku harap aku selalu menjadi mimpi indah di setiap malammu. Dan seandainya mimpimu tidak indah, aku berharap menjadi satu-satunya alasan yang membuatnya tetap teringat dengan indah.”

Lamunan Anya terhenti saat ponselnya berbunyi. Ia lihat sebuah SMS masuk dari Rio.
 
From: Rio
Text: Kamu lagi tidur ya? Aku egois banget ya SMS kamu malem2 gini. Padahal kalau kamu bangun nanti pasti test kamu besok keganggu. Tapi entah kenapa aku pengen sms kamu sekarang. Aku belum tidur sejak tadi pulang. Aku nggak bisa tidur. Aku kangen kamu. Sejujurnya aku berharap banget denger suara kamu supaya perasaan aku bisa tenang. Entah kenapa aku gelisah dari tadi. Tapi Nya, kalau ternyata kamu baru cek sms aku pas pagi kamu udah bangun juga nggak apa-apa kok. Love you lek.

Anya tersenyum memandang ponselnya, lalu menekan tombol 1, Rio sudah menjadi voice dial di handphonenya. Terdengar sekali bunyi tut yang panjang, lalu Rio mengangkat telfon dari Anya.

“Halo.” Kata Rio dari seberang telfon.

“Hai,” balas Anya.

“Kamu ngapain nelfon pagi-pagi buta gini?” Tanya Rio.

“Katanya kangen? Kebetulan aku juga.” Jawab Anya.

“Yah, maaf ya gara-gara aku iseng kirim SMS pagi-pagi buta gini pasti kamu jadi kebangun deh.” Kata Rio menyesal.

“Enggak kok, aku emang udah bangun setengah jam sebelum kamu kirim SMS itu.” Jawab Anya.

“Loh, ngapain?” tanya Rio heran.

“Belajar.” Jawab Anya berbohong.

“Kok rajin?” ledek Rio.

“Ya iyalah, emangnya kamu?” balas Anya.

“Skype yuk Nya.” Ajak Rio.

“Sok, belum sampe Kanada aja udah skype-skypean.” Cibir Anya.

“Ayo, aku kangen berat nih. Please,” kata Rio memohon.

“Ya udah yuk. Aku nyalain laptop dulu.” Jawab Anya lalu membuka laptopnya.

“Oke, telfonnya jangan dimatiin dulu sampe kita bener-bener connect di skype ya?” kata Rio.

“Iya, bawel.” Balas Anya singkat.

“Nya, lama amat si nyalain laptop doang?” tanya Rio tidak sabar.

“Udah nyala jelek, ini lagi nunggu server connect ke internet.” Jawab Anya.

“Lola, sama kaya yang punya.” Ledek Rio lagi.

“Oh gitu? Ya udah nggak jadi skypenya, tidur aja ah.” Kata Anya pura-pura ngambek.

“Eh, lek lek jangan ngambek dong. Bercandaaaaa....” Kata Rio panik.

“Yep, online tuh.” Jawab Anya.

“Nya, kok suara kamu jadi dua gini?” tanya Rio dengan wajah polos.

“Eh dodol, iyalah, ini ngomong via telfon juga, skypenya juga nyala.” Jawab Anya gemas.

“Oh iya, ya udah telfonnya matiin aja Nya.” Kata Rio.

“Okay,” kata Anya lalu menekan tombol merah diponselnya.

“Nya, kok rambutnya rapih?” tanya Rio polos.

“Emangnya kenapa?” kata Anya balik bertanya.

“Kan harusnya kalau abis bangun tidur berantakan kaya waktu aku dateng tiba-tiba itu.” Jawab Rio menahan tawa.

“Au ah, betein kamu mah.” Kata Anya kesal.

“Jangan ngambek ya lek? Damai aja kita damai.” Kata Rio sambil mengacungkan jari kelingkingnya di depan laptop.

“Ogah.” Jawab Anya cemberut.

“Yah, ngambek mulu kaya bociiiilll.” Ledek Rio.

“Tapi suka kan?” kata Anya.

“Banget!” jawab Rio diiringi tawa.

“Nya, nyanyi dong.” Lanjut Rio.

“Mau aku nyanyi apa?” tanya Anya.

“Semua Tentangmunya Peterpan.” Jawab Rio.

“Mau full atau reffnya aja?” tanya Anya lagi.

“Full,” jawab Rio tersenyum manis.

Anya mengambil napas sejenak dan mulai bernyanyi.

Waktu terasa semakin berlalu tinggalkan cerita tentang kita
Akan tiada lagi kini tawamu tuk hapuskan semua sepi dihati
Ada cerita tentang aku dan dia dan kita bersama saat dulu kala
Ada cerita tentang masa yang indah saat kita berduka saat kita tertawa

Anya diam sebentar mengambil napas lalu lanjut menyanyi sambil memperhatikan Rio yang sekarang sedang bersandar dengan wajah mengantuk.

Teringat disaat kita tertawa bersama ceritakan semua tentang kita
Ada cerita tentang aku dan dia dan kita bersama saat dulu kala
Ada cerita tentang masa yang indah saat kita berduka saat kita tertawa

Rio sekarang sudah menutup matanya tertidur, Anya tersenyum lembut sambil berkata, “Nice dream sayang.” Lalu mencium dua jarinya dan menempelkan jarinya ke layar laptop. Anya keluar dari browsernya dan mematikan laptopnya kemudian mengambil buku untuk ia pelajari.
*****

“Bang, ayo dong. Nggak bisa lebih cepet lagi apa bawa mobilnya?” kata Anya tidak sabar di dalam mobil.

“Ya ampun Nya, ini udah kenceng banget. Sabar kenapa sih?” jawab Bang Eza kesal.

Anya tidak henti-hentinya menatap jalan dan jam tangannya panik. Sekarang suka pukul 10.30 dan dia belum juga sampai di bandara. Tadi Anya mulai test jam 06.30 pagi. Lalu ia berusaha dengan cepat mengerjakan semua soal yang ada, 30 soal Matematika, 30 soal Bahasa Indonesia, 30 Soal Bahasa Inggris, 30 soal IPA, dan 30 soal IPS.

Anya berhasil mengerjakan semuanya dengan baik, ia tidak mengalami kesulitan sama sekali. Sekitar pukul 09.00 Anya sudah selesai dan yakin dengan semua jawabannya. Ia bergegas keluar kelas dan menghampiri Bang Eza yang menunggu dari pagi. Tapi karena kondisi jalan Jakarta yang memang selalu macet, Anya sampai detik ini belum juga sampai ke bandara.

Akhirnya jam menunjukkan pukul 10.50. Ia harap Rio belum masuk ke pesawat. Anya berlari kencang mencari Rio, dan ia melihat Rio sedang berjalan dibelakang Papa dan Mamanya menuju check in room. Ia berteriak memanggil nama Rio dan berlari kencang menghampiri Rio.

 Petugas penjaga pintu melarangnya untuk mendekat, Rio lalu keluar sebentar dan meminta izin kepada para petugas untuk mengobrol dengan Anya.
Anya menghambur ke dalam pelukan Rio.

“Yo, jangan lupain aku.” Lagi-lagi Anya menangis dalam pelukan Rio.

“Nggak akan, nggak akan pernah.” Jawab Rio mencium ujung kepala Anya.

Anya melepaskan pelukannya lalu tertawa kecil dan menghapus air matanya.

“Kamu tau nggak, aku bela-belain ngebut ngerjain test tadi cuma demi ngucapin selamat tinggal buat kamu.” Kata Anya tertawa kecil.

Rio tersenyum lalu mengacak-acak rambut Anya, “Harusnya kamu nggak ngelakuin hal bodoh kaya gitu. Masa depan kamu sama ucapan selamat tinggal bodoh buat aku jelas lebih penting masa depan kamu.”

“Kalau gitu aku tepat untuk milih buru-buru dateng kesini.” Kata Anya tersenyum lembut.

“Loh kok gitu?” tanya Rio.

“Kan kamu masa depan aku.” Anya tertawa kecil disambut dengan tangan Rio yang mengacak-acak rambutnya lagi.

“Jago ngegombal nih sekarang.”

“Nya, aku harus pergi sekarang. Pesawatnya udah mau take off.” Lanjut Rio.

Anya mengangguk, “Take care disana ya Yo, sampai jumpa.” Lalu mencium pipi Rio lembut.

“Pasti, katanya mau ucapin selamat tinggal? Kok jadi sampai jumpa?” Rio tertawa kecil.

“Karena aku yakin, nggak lama lagi kita bisa ketemu lagi.” Jawab Anya yakin.

Rio tersenyum, mengangguk lembut dan mencium kening Anya lalu berkata, “Sampai jumpa juga kalau gitu. Take care sayang. Jangan gampang nangis lagi ya.”

Anya mengangguk, lalu Bang Eza datang menghampiri mereka berdua.

“Yo, cepet balik ya. Kasian adek gua.” Kata Bang Eza merangkul pundak Anya.

“Iya Bang, pasti gue balik buat Anya. Jagain ya Bang selama gua nggak ada.” Jawab Rio sambil memasukkan tangannya kedalam saku celana jeansnya.

“Sip, take care Yo.” Kata Bang Eza lagi.

“Iya Bang makasih.” Jawab Rio.

“Oke pesawatnya udah mau take off, see you.” Kata Rio sambil berlalu masuk melewati alat pendeteksi keamanan dan penjaga.

Anya masih terus menatap punggungnya hingga Rio tidak terlihat lagi. Lalu Bang Eza mengajaknya pulang, “Ayo Nya udah, kalau jodoh dia pasti balik kok. Udah nggak usah sedih.”

Anya memeluk tubuh kakak laki-lakinya itu dan menangis lagi. Bang Eza hanya mengusap-usap punggungnya menenangkan Anya. Akhirnya Anya menuruti Bang Eza dan ikut melangkah menuju mobil.

Di dalam mobil Anya hanya diam mendengarkan radio yang saat ini memainkan sebuah lagu yang justru semakin mengingatkannya dengan Rio.

Now we’re back to the beginning
It just a feeling and no one knows yet
But just because they can’t feel it too
Doesn’t mean that you have to forget

Let your memories grow stronger and stronger
‘Til they’re before your eyes
You’ll come back when it’s over
No need to say good bye...
(The call – Regina Spektor)

“Aku sudah berusaha melepasmu dengan penuh keikhlasan. Sungguh aku benar-benar merelakannya. Tapi entah kenapa rasa sakit ini tetap datang padaku. Rasanya seperti ia akan terus hidup disana selama kamu tidak ada disisiku. Baru sebentar saja kamu meninggalkanku rasa rindu ini sudah lahir kembali. Mengajakku untuk jatuh dan berteman dengan keterpurukan. Tapi aku sadar, ini baru awal. Aku tidak mau kalah dengan keadaan, aku masih punya kekuatan untuk bertahan. Kepergianmu ini baru awal dari semuanya, masih ada banyak rahasia lagi kedepannya yang tidak aku ketahui. Mungkin hanya kita yang bisa merasakan rasa sakit ini. Hanya kita yang bisa merasakan luapan rindu ini. Dan mungkin mereka mengatakan ini berlebihan karena mereka tidak merasakannya, tapi bukan berarti mereka tidak merasakannya juga lalu kamu harus melupakan rasa ini. Biarkan kenanganmu tumbuh menguat dari hari keharinya tentang kita hingga mereka lebih dari cukup kuat untuk membawa kita bersatu kembali. Aku yakin kamu akan kembali saat semuanya tepat. Tidak perlu untuk mengatakan selamat tinggal. Karena kamu pasti kembali."
*****


Gimana? Puas nggak? Udah rada panjangan. kalo di Ms. Word pake font 12 commicsans udah ngabisin 15 halaman nih. Ah yaudah deh, karena kepanjangan cukup sampe situ aja part kali ini. Part selanjutnya gue post Kamis malem Jumat ya. Thanks for reading my readeeeerrrsss. Kalau mau kasih kritik, atau saran boleh kirim ke twitter gue di @rabbaniRHI atau di facebook Rabbani Haddawi II, via email dan ym juga boleh kok, rabbanihaddawi@yahoo.com.

See you next post, babaaayyy....

0 komentar:

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos