Thursday, April 19, 2012

Cerbung - Will It Be Us Part 15

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 06:18
Reaksi: 
Hai, gutten nacht. Gue mau posting part lanjutan cerbung yang akhir-akhir ini meramaikan blog gue. Hehe..... Yaudah yuk, enjoy the ride.....
Will It Be Us Part 15



Ini sudah minggu kedua Anya menginap di rumah Rio. Dan besok adalah ulang tahunnya. Rio mengajaknya ke sebuah butik gaun khusus wanita.

“Kita ngapain kesini Yo?” tanya Anya bingung saat turun dari miata hitam mengkilap milik Rio.

“Beli gaun buat kamu.” Jawab Rio santai.

“Buat apa?” tanya Anya sambil mengekor Rio yang berjalan masuk ke butik mewah itu.

“Ngerayain ulang tahun kamu besok lah.” Jawab Rio.

“Hah? Ngapain pake gaun segala? Paling kan cuma ada kamu, Mama sama Papa kamu, Bang Eza, trus Bi Inah udah.” Anya bingung sendiri.

“Yee, siapa bilang?” Rio berjalan diantara gaun-gaun di butik itu.

“Emang mau ngundang siapa?” tanya Anya penasaran.

“Temen-temen aku.” Jawab Rio singkat.

“Hah?” Anya menjengit kaget.

“Cuma beberapa orang kok. Cuma Clara, David, Gio, sama Sally tetangga depan.” Jawab Rio.

“Dan harus ya aku pake gaun yang mahal-mahal ini cuma buat ngerayain pesta sederhana gini aja?” Anya menatap Rio yang tidak mempedulikannya.

“Harus.” Jawab Rio singkat.

Akhirnya pilihan Anya jatuh pada sebuah gaun putih sederhana selutut yang Rio juga menyukainya. Setelah membayar mereka pergi ke kedai es krim dan makan disana. Saat menjelang sore baru mereka pulang.

Anya tertidur cepat malam itu, jam 9 malam ia sudah mengantuk dan menutup matanya saat bersender di bahu Rio di balkon kamar Rio. Rio yang memindahkan Anya ke tempat tidurnya karena tidak tega untuk membangunkan gadis itu.

Pukul 12 malam tepat Anya dikagetkan dengan bunyi wekernya yang tiba-tiba berdering. Ia bangkit dan terjatuh karena kakinya tersandung pita keemasan yang menjulur panjang. Penasaran dengan pita itu ia mengikutinya.

Ada sebuah kartu tidak jauh dari tempat tidurnya tepat terikat di pita itu. Anya mengambilnya lalu membaca dalam hati.

Permohonan yang selalu aku panjatkan adalah melihat sang pembaca surat ini untuk selalu tersenyum.

Tanpa ia sadari bibirnya melengkung membentuk seulas senyum kecil dan berjalan lagi mengikuti arah pita dan menemukan surat lagi dan membacanya.

Setelah berhasil membuatnya tersenyum aku ingin membuatnya tersenyum lagi, maka aku panjatkan doa kepada Tuhan untuk membuatnya tersenyum lagi.

Lagi-lagi Anya tersenyum tipis dan berjalan lagi lalu menemuka surat lagi.

Setiap saat dia tersenyum rasanya bunga-bunga musim semi tumbuh dan bermekaran meskipun ia ditakdirkan lahir saat musim gugur.

Anya melangkah lagi dan mengambil surat selanjutnya.

Ia bagaikan peri yang melintas dengan banyaknya bunga bermekaran di tubuhnya, mempercantik dirinya.

Anya mengambil lagi surat selanjutnya di depannya.

Hari ini bunga itu bertambah 1. Genap sudah 15 bunga yang ada pada dirinya. Masing-masing bunganya memancarkan keindahan tersendiri.

Anya mulai mengerti sekarang. Pita itu berakhir di depan pintu bening halaman belakang Rio. Ia membukanya perlahan dan menemukan sebuah surat terakhir di depan pintu itu.

Selamat ulang tahun peri kecilku, 15 kuntum bunga melambangkan umurmu. Keindahannya melambangkan kedewasaanmu. Dan cantikmu terpancar dari dalamnya. Tetap menjadi peri kecilku, dan aku akan setia menjadi sayap untuk membantumu terbang kelangit ketujuh.

Lalu tiba-tiba kolam renang dihadapan Anya berubah menjadi sangat terang.

Pohon Oak di sisi kanan dan kirinya memancarkan cahaya dari lampu yang membentuk tulisan HAPPY BIRTHDAY. Dan Rio ada di tengah-tengah antara pohon itu sambil memegang sebuah gitar dan berjalan melalui sisi kolam renang menghampiri Anya sambil menyanyikan lagu untuknya.

When I see your face, there’s not a thing that I would change
Cause you’re amazing, just the way you are
And when you smile, the whole world stop and stare for a while
Cause girl you’re amazing just the way you are

Anya hanya diam terpaku di tempatnya berdiri. Ia benar-benar tersanjung dengan apa yang Rio lakukan. Kemudian Rio berlutut di hadapannya dan memberikannya sebuah kotak kado. Anya mengambilnya lalu membukanya atas perintah Rio.

Sebuah kotak musik dengan seorang balerina di atasnya. Anya tersenyum senang lalu memeluk Rio yang sekarang sudah bangkit di hadapannya.

“Terima kasih, kamu selalu mau berepot-repot untukku.” Kata Anya.

“Nggak apa-apa. Semua terbayarkan sama senyum manis kamu.” Balas Rio lembut.

“Selamat ulang tahun.” Bisik Rio lagi lembut.

“Makasih,” Anya tersenyum bahagia.

“Ya udah tidur lagi gih, aku juga ngantuk belum tidur dari tadi buat nyiapin ucapan ulang tahun kamu sebagai orang pertama. Beneran pertama kan aku?” Rio menunduk menatap Anya dan Anya menjawabnya dengan anggukan.

Rio dan Anya beriringan naik ke tangga dan masuk ke kamar mereka masing-masing.

Esok paginya Anya bangun agak siang, jam 7. Ia segera mandi lalu berpakaian rapih. Terlihat semua orang di rumah sudah sibuk hari itu. Mempersiapkan pesta ulang tahun sekaligus malam farewell party untuk Anya karena besok ia sudah harus pulang ke Jakarta.

Dekorasi sederhana, hanya menempelkan beberapa balon, pita-pita dan beberapa penghias lainnya. Anya ingin membantu tapi Rio melarangnya.

Akhirnya malam hampir tiba. Pesta dimulai jam 7, sekarang sudah pukul 5. Anya mandi agak lama, kemudian berpakaian dengan gaun yang Rio belikan kemarin. Ia juga menata rambutnya menjadi sanggul ke atas dengan sebuah tongkat penyangga rambut. Menyisakan beberapa helai rambut tipis di sisi kanan dan kirinya serta poni di keningnya.

Anya mematut dirinya di cermin mengoleskan tipis bedak bayinya lalu memulaskan lipgloss warna pink dengan glitter-glitter yang membuat bibirnya kelihatan segar kemudian membiarkan sisanya terlihat alami tanpa make up.

Puas dengan wajahnya ia mengenakan kalung pemberian Rio yang kini melingkar indah di lehernya, lalu gelang yang juga ia dapatkan pada malam dan orang yang sama. Anya memutar dirinya di depan meja rias di kamarnya itu. Lalu tersenyum puas.

Sekarang ia siap turun ke bawah menyambut para tamu yang sepertinya sudah datang.

Ia berjalan perlahan di tangga matanya mencari Rio, lalu saat menemukannya, Rio tengah menatap Anya terpukau, beberapa pasang mata juga menatapnya kagum. Beberapa orang yang tidak ia kenal memandangnya terpukau. Anya segera menghampiri Rio yang dikelilingi orang-orang yang tidak ia kenal itu.

Rio menarik lembut lengan Anya saat hampir sampai di dekatnya dan merangkulnya mesra lalu berkata, “Ini Anya, yang sering gue ceritain itu.”

Anya tersipu dengan kata-kata Rio jadi dia hanya tersenyum malu.

“Anya, ini Clara.” Kata Rio memperkenalkan, lalu Clara yang tampil beda malam itu, dengan gaun seperti milik para vampir di film Van Helsing mengulurkan tangannya dan disambut dengan uluran tangan Anya.

Begitu juga dengan David dan Gio yang Rio perkenalkan dengan Anya. Mereka segera berusaha mengakrabkan diri.

Bang Eza juga ada disana ikut mengobrol bersama mereka. Mereka tertawa-tawa mengobrol tentang hal-hal lucu. Kemudian seorang gadis berjalan mendekati mereka. Dan Bang Eza yang pertama kali menyadari.

“Gila, itu cewek siapa cantik banget?” katanya sambil  memandang terpukau ke arah gadis yang kini berjalan ke arahnya.

Rio, Anya, Clara Gio, dan David menoleh hampir bersamaan untuk melihat siapa yang dimaksud.

Gadis itu mengenakan gaun malam berwarna hijau tua selutut dengan model kemben. Tubuhnya yang tinggi, langsing, dan kulitnya yang kecokelatan membuatnya kelihatan memukau. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan rambut melingkar ikal dibagian bawahnya hingga sebatas punggung.

“Hai, maaf aku telat. Pasti kamu pacarnya Rio itu ya?” kata gadis itu dalam bahasa Inggris dengan logat Amerika sambil tersenyum ramah ke arah Anya.
Anya hanya menganggukkan kepalanya sambil membalas senyum gadis itu.

“Anya, Bang Eza, ini Sally.” Kata Rio memperkenalkan gadis cantik dalam balutan gaun hijau tua itu.

“Eza, orang Indonesia juga?” Bang Eza menjulurkan tangannya dengan wajah cool di hadapan gadis itu. Tapi gadis itu hanya menyipitkan matanya sambil menaikkan bahu dan menoleh ke arah Rio saat menjabat tangan Eza dan tidak mengerti bahasa yang digunakannya.

“Nggak Bang, bukan. Dia asli sini. Dia nggak ngerti bahasa kita,” kata Rio menjelaskan. Bang Eza hanya mengangguk-angguk kepalanya.

Malam itu pesta berlangsung meriah, walaupun hanya beberapa orang yang ada, tapi tidak mengurangi kemeriahan dan keseruan pesta itu. Pukul 10 malam pesta berakhir. Satu persatu dari mereka pulang. Rio dan Anya duduk berdua di pinggir kolam renang sambil mencelupkan setengah kaki mereka.

“Liat bintang itu nggak?” tanya Rio sambil menunjuk langit.

“Yang mana? Ada banyak bintang disana.” Jawab Anya ikut menengadah menatap langit.

“Yang agak redup disamping bintang yang paling terang itu,” jawab Rio sambil tetap menatap langit.

“Ya, aku liat. Kenapa?” Jawab Anya.

“Aku merasa seperti bintang itu.” Jawab Rio menimbulkan penasaran dihati Anya.

“Kenapa?” tanya Anya.

“Entahlah, aku hanya merasa takut menjadi seperti bintang itu mungkin maksudku.” Jawab Rio mengoreksi jawaban awalnya.

“Kenapa takut?” Anya semakin tidak mengerti.

“Ya takut, takut suatu saat cahayaku pun akan meredup seperti bintang itu di matamu padahal bintang itu sangat terang, tapi karena jauh ia jadi meredup. Kalah binarnya dengan bintang yang berada di sebelahnya karena bintang itu lebih dekat padahal belum tentu bintang itu lebih terang. Segala sesuatu yang lebih dekat pasti akan lebih mudah untuk dilihat dibanding yang jauh.” Kata Rio penuh analogi.

“Lalu apa yang kamu takuti?” Anya masih berusaha menerka maksud Rio.

“Meredupnya cahayaku dihatimu, karena cahaya orang lain yang lebih sering berada di dekatmu dibanding aku yang membuatmu melupakanku.” Jawab Rio sambil menunduk menatap air yang mulai terasa dingin.

“Seperti itu kah kamu memandangku?” tanya Anya sambil menoleh memandang Rio.

“Seperti apa?” Rio balik bertanya.

“Dangkal.” Jawab Anya singkat.

 “Bukan begitu, itu nggak dangkal. Itu realita Nya.” Balas Rio.

“Realita apanya? Realita bahwa semua manusia sedangkal itu?” Anya memandang Rio sinis.
 
“Bukan, tapi realita bahwa apa yang dekat akan lebih mudah dilihat dan dijangkau daripada yang jauh.” Jawab Rio santai.

“Itu realita buat seorang pecundang. Bukan buatku.” Anya membalas ketus.

“Ya aku hanya berusaha berpandangan realistis kok. Kalau kamu nggak suka ya nggak apa-apa.” Rio berusaha mencairkan lagi suasana tegang diantara mereka.

“Kamu kenapa sih?” tanya Anya.

“Apanya yang kenapa?” Rio balik bertanya.

“Nggak taulah.” Jawab Anya tidak berniat melanjutkan percakapan mereka.

Rio hanya menatap Anya yang sedang menatap air di kakinya lama. Ia hanya diam dengan sejuta pertanyaan diotaknya.

“Tidur yuk Nya, udah malem.” Kata Rio sambil melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Anya hanya mengangguk dan bangkit kemudian diikuti Rio dan mereka berpisah menuju kamar masing-masing.
*****

Sebentar lagi pukul 1 siang, waktunya Anya naik ke pesawatnya yang akan segera take off. Ia bangkit dari kursinya hendak mengikuti kakaknya yang sudah berjalan duluan. Namun kemudian ia menoleh lagi ke arah Rio yang masih memandanginya dan akhirnya justru berbalik arah menuju Rio. Lalu memeluknya lama, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Rio dan berusaha menyimpannya di otaknya untuk selamanya seakan-akan itu pertemuannya yang terakhir dengan Rio. Setetes air mata jatuh, namun ia segera menahan yang lainnya untuk jatuh.

“2 minggu disini masih belum bisa nuntasin kangen aku sama kamu.” Bisik Anya.

“Aku juga,” Rio memeluk Anya lebih erat.

“Sampai jumpa,” bisik Anya lembut, kali ini ia tidak mampu lagi menahan air matanya.

“Sampai jumpa juga, take care ya Nya.” Balas Rio lalu melepaskan pelukannya dan menghapus lembut air mata di pipi Anya.

Anya tersenyum lalu memeluk Rio sekali lagi dan melangkah melewati metal detector, menuju pesawatnya. Langkahnya kali ini lebih berat dari sebelumnya. Dengan langkah gontai ia berusaha menyusul kakak laki-lakinya yang sudah berjalan duluan.

Rio berbalik dan menuju tempat mobilnya di parkir saat Anya sudah tidak terlihat lagi dari pandangannya. Kemudian di mobilnya ia hanya menyalakan mesin mobilnya dan duduk bersandar di jok empuknya tanpa menginjakkan gas pergi dari tempatnya. Masih bisa ia rasakan harumnya aroma tubuh Anya yang tertinggal di dalam mobilnya. Segera saja lamunannya tentang gadis itu mengembara. Setelah agak lama Rio diam melamun, akhirnya ia menginjak pedal gasnya dan melaju pulang.

When you’re gone the pieces of my heart are missing you
When you’re gone the face I came to know is missing too
When you’re gone all the words I need to hear
To always get me through the day
And make it okay, I miss you

“Ketika kamu pergi, segera saja bagian-bagian dari hatiku merindukanmu. Wajahmu yang selalu mengisi hari-hariku dikala sedih ataupun senang, saat hujan ataupun panas, saat marah ataupun kesal adalah bagian yang paling aku rindukan. Aku  butuh mendengar segala kata-kata darimu untuk selalu membantuku menjalani hari-hari tanpamu disisiku, dan membuat segalanya berjalan tetap dengan baik, tanpa perlu menangis lagi atau gelisah lagi dikala sendiri memikirkanmu yang kutau berada jauh dari sisiku. Bukan air mata yang terjatuh yang kusesali. Tidak. Tidak pernah ada penyesalan atas segala perbuatanku yang didasarkan olehmu. Termasuk menangis, dan merindu.”
*****


Anya bersandar pada kursinya, tenggelam dalam lamunannya tentang semua yang telah ia lalui bersama Rio 2 minggu terakhir ini. Saat akhirnya kini ia harus sadar, hubungan yang sebenarnya tengah ia hadapi adalah hubungan jarak jauh bersama Rio. Bukan hubungan yang seperti 2 minggu belakangan. Anya berusaha tegar meskipun artinya ia harus menahan rindu lagi selama beberapa waktu untuk bisa bertemu lagi dengan Rio. Ia tidak tau kapan pastinya. Yang jelas bukan dalam waktu dekat, karena orang tua Rio terlalu sibuk mengurusi bisnisnya disana.

“Lagi-lagi waktu memisahkan kita. Hanya karena 2 minggu yang kita punya untuk bersama telah habis, kita kembali terpisah oleh jarak, waktu dan segala penghalang dari Long Distance Relationship ini. Pertemuan denganmu bukannya memberikanku kebebasan dari rasa rindu yang menyayat ini tapi justru membuatnya semakin sadis menyiksaku. Perih saat harus mengatakan sampai jumpa lagi padamu seperti pertama kali kamu meninggalkanku. Aku benar-benar merasakan pedihnya sekarang. Baru aku menikmati indahnya hari yang terlewati bersamamu, hal itu sudah segera direbut paksa dariku oleh waktu yang telah habis. Tapi tetap, beberapa hari kemarin adalah salah satu dari sekian banyak kisahku denganmu yang takkan pernah aku lupakan.”
*****
 

3 komentar:

indah nur amalia on March 16, 2013 at 1:18 AM said...

ini udah ending belum ???
aku boleh copy paste gak ??? Ceritanya keren banget :D

Rabbani Haddawi on March 16, 2013 at 7:50 AM said...
This comment has been removed by the author.
Rabbani Haddawi on March 16, 2013 at 7:51 AM said...

Belum :) Ada sekitar 15 part lagi. Silahkan, boleh kok :)

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos