Tuesday, April 17, 2012

Cerbung - Will It Be Us Part 14

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 19:38
Reaksi: 
Maaf ya baru bisa ngepost sekarang. Kemaren mau ngepost pas malem tapi server busy terus, jadi nggak bisa connect ke internet. Ya udah sekarang gue post deh ya kalau gitu biar nggak penasaran sama part selanjutnya yuk nih baca....
Will It Be Us Part 14



Sudah 2 bulan sejak kepindahan Rio ke Kanada, Anya menatap melalui jendela yang kini mengalir beberapa tetes air hujan. Jakarta diguyur hujan deras beberapa hari ini. Anya menatap jalan sambil tersenyum sendiri, teringat akan sesuatu.

Hujan selalu menjadi hal favorit untukku, aku masih ingat dulu karena hujan yang menahanku untuk pulang yang membuatmu pada akhirnya menyatakan perasaanmu padaku.
Aku ingat bagaimana dulu kamu melindungiku dari butiran air hujan dengan jaketmu, takut aku sakit. Aku ingat bagaimana dulu kamu memilih untuk kehujanan dan meminjamkan aku jas hujan milikmu.

Aku ingat bagaimana dulu hujan menahan kita di satu sudut sekolah berdua, dan kamu menyanyikanku sebuah lagu yang paling indah. Ciptaanmu sendiri. Dan untukku katamu.
Aku belum lupa saat hujan hampir membuatku jatuh terpeleset di jalan dan kamu dengan sigap menangkap tubuhku. Payung yang terlepas dari tanganku membuat kita basah kuyup hari itu. Dan lagi-lagi kamu meminjamkanku jaketmu karena seragamku yang basah terlalu tipis.

Dan aku masih ingat saat kamu berusaha melukis dengan diriku sebagai objek langsungnya di halaman belakang rumahmu, dan aku yang sudah letih karena tidak boleh bergerak mulai jenuh. Dan tiba-tiba hujan deras datang dengan cepat dan kamu panik menyelamatkan lukisanmu yang sudah terlanjur basah. Kamu ingat kamu marah padaku saat itu? Karena aku tertawa melihat kamu yang panik setengah mati. Itu pertama kali aku melihat orang setenangmu berubah menjadi panik.

Kamu juga pasti ingat saat acara Farewell party sekolah kita, waktu itu hujan. Aku dan kamu duduk bersisian di balkon aula villa menatap malam hari di puncak yang sedang hujan deras itu. Aku tau banyak orang-orang di dalam yang sedang merayakan pesta kelulusan kita, tapi bagiku hanya ada aku dan kamu malam itu. Dibawah atap dengan siraman air hujan, kamu mengatakan padaku kamu mencintaiku. Aku juga, aku sangat mencintaimu. Dan tidak akan pernah berubah sampai kapanpun.

Aku merindukanmu, merindukan bagaimana caramu memperlakukanku istimewa. Aku merindukan kamu yang senang memelukku secara tiba-tiba dari belakang, aku merindukan desah napasmu saat kamu berbicara tidak jauh dari wajahku. Aku merindukan aroma tubuhmu yang unik, memabukkan, dan menyegarkan. Aku merindukan tatapan matamu yang bisa mengirimkanku rasa seperti disetrum jutaan volt listrik dan tetap hidup. Aku merindukan segala yang ada pada dirimu. Dan besok, aku harap rindu itu terselesaikan saat akhirnya aku bertemu denganmu. Ya, besok. Aku tidak sabar bertemu denganmu. Sampai bertemu nanti Rio.

“Nya, udah siap semua belum?” tanya Bang Eza membuyarkan lamunan Anya.

“Udah kok.” Jawab Anya.

“Yakin nggak ada yang ketinggalan lagi?” tanya Bang Eza berusaha meyakinkan.

“Iya, udah tinggal pergi aja besok.” Jawab Anya.

“Ya udah, tidur kalau gitu. Jangan sampai kesiangan besok kita take off yang jam 10 pagi. Pergi dari sini jam 7.” Kata Bang Eza mengingatkan.

“Sip,” jawab Anya lalu melangkah ke tempat tidurnya segera berbaring dan menarik selimut hingga ke dadanya dibantu Bang Eza.

“Good night,” Bang Eza mengelus lembut kepala Anya lalu keluar dan menutup pintu.
*****

From: Anya
Text: Bandara Soetta pukul 10.15, aku belum berangkat karena pesawat delay setengah jam. Hmm, bete nih. Tapi tetep deg-degannya nggak mau ilang. Ya namanya juga penerbangan perdana ya? Tapi pengen cepet-cepet juga, biar cepet ketemu kamu. Nanti aku suruh Pak Pilotnya ngebut deh ya biar cepet sampe. See you sayang ;)

Rio tersenyum membaca sms Anya. Dia benar-benar tidak sabar menunggu kedatangan pacarnya ini. Mungkin Anya baru sampai 1 setengah hari lagi. Rio lalu melanjutkan tidurnya karena ia tetap harus sekolah dan besok masih jumat.

Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, Rio bangun dari tidurnya dan menuju ke ruang makan. Sudah ada Papa, Mama, dan Bi Inah disana.

“Ayo sayang sarapan dulu,” kata Mama sambil menyendokkan nasi ke piring Rio.

“Anya udah berangkat Yo?” tanya Mama lagi.

“Udah Ma, jam stengah sebelasan di Indo dia berangkat.” Jawab Rio sambil mengucek-ngucek matanya.

“Ohh, berarti sekitar Sabtu siang mungkin sampenya.” Kata Mamanya mengangguk-anggukan kepala.

“Kamu yang jemput atau suruh anak buah Papa?” tanya Papanya.

“Aku aja. Tapi aku nggak pake mobilku ya? Soalnya kan Anya berdua sama kakaknya, mobilku kan cuma buat 2 penumpang.” Jelas Rio sambil menyendokkan nasi ke mulutnya.

“Iya, pakai aja yang mana kamu mau, terserah.” Kata Papa sambil mengunyah.

“Mama ikut jemput ah, kangen sama Anya.” kata Mamanya Rio semangat.

Rio hanya menganggukkan kepalanya sambil terus melahap makanan di hadapannya. Lalu menyelesaikan makannya dengan cepat dan kembali ke kamarnya untuk segera mandi dan pergi sekolah.
*****


Pearson Airport, Toronto, Kanada. Rio menunggu Anya di pintu keluar penerbangan domestik. Matanya beredar mencari gadis mungil itu. Lalu ia lihat Anya menenteng sebuah koper dengan Bang Eza di sebelahnya yang juga menenteng sebuah koper.

Anya terlihat cantik hari itu, ia mengenakan celana jeans pendek dengan kaus hitam dan sweater merah. Rio berteriak memanggil Anya dan Bang Eza.

“Anya! Bang Eza!”

Anya dan kakak laki-lakinya menoleh keasal suara tersebut lalu tersenyum dan menghampirinya.

Anya setengah berlari menghampiri Rio, walaupun dengan susah payah sambil menerobos diantara orang-orang yang ada. Akhirnya ia sampai tepat di hadapan Rio yang tersenyum penuh dihadapan Anya.

“Kamu tambah tinggi kayanya,” ledek Rio.

“Dan kamu tambah putih kayanya,” Anya tidak bisa menahan senyum menatap Rio yang sangat dia rindukan.

“Nggak mau peluk aku nih?” Rio melebarkan kedua tangannya. Segera Anya menghambur ke dalam pelukan Rio dan memeluknya erat, Rio balas memeluk Anya juga.

“Selamat datang di Kanada,” bisik Rio lembut.

Anya melepaskan pelukannya dan memungut kopernya yang terjatuh saat ia memeluk Rio tadi.

“Apa kabar Bang?” Rio memeluk kakak pacarnya itu bersahabat.

“Baik Yo,” balas Bang Eza sambil menyambut pelukan Rio.

“Kita ke Coffee Shop di depan dulu ya? Mama ada disana nunggu kita.” Kata Rio lalu mengambil koper yang Anya bawa dan membawanya.

“Mama kamu ikut?” tanya Anya.

“Ikut, kangen sama kamu katanya.” Jawab Rio tidak bisa berhenti tersenyum.

“Aku juga kangen, apalagi sama anaknya.” Anya membiarkan tangan Rio melingkar ke pinggangnya.

Mama Rio duduk di kursi dekat pintu masuk, Anya langsung melepaskan tangan Rio dan berlari kecil ke arah Mama Rio.

“Tante, kangen deh.” Kata Anya sambil memeluk Mama Rio.

“Iya sayang, sama tante juga kangen.” Jawab Mama Rio membalas pelukan Anya.

“Oh iya, ini kakak aku Eza tante. Bang, ini Mamanya Rio.” Kata Anya memperkenalkan keduanya.

“Eza tante,” kata Bang Eza sambil menyalimi tangan Mama Rio.

“Oh, ini toh. Rio suka cerita tentang kamu loh, katanya kamu baik banget, dia suka iri sama Anya pengen punya kakak laki-laki kaya kamu juga katanya.” Kata Mama Rio lembut.

“Ambil aja Yo kalau mau,” kata Anya bercanda tapi dengan wajah serius. Diiringi dengan gelak tawa mereka.

Mereka langsung pulang karena ingin memberikan Anya dan Kakaknya waktu untuk istirahat dulu setelah perjalanan panjang. Akhirnya mereka sampai di rumah baru Rio di Kanada.

“Ini kamar Bang Eza,” kata Rio mempersilahkan Bang Eza masuk ke kamarnya yang tepat berada di sebelah kamar Rio.

“Thanks Yo,” kata Bang Eza lalu masuk ke kamarnya.

“Kamar mandi di dalem Bang, terus handuk peralatan mandi udah disana semua. Kalau butuh apa-apa bilang aja ya.” Kata Rio lalu menutup pintu kamar Bang Eza dan menghampiri Anya. Anya berjalan mengekor dibelakang Rio.

“Kalau yang ini kamar kamu.” Kata Rio lalu mempersilahkan Anya masuk ke kamar di sebelah kamar Bang Eza. Anya masuk ke kamarnya lalu berjalan ke arah jendela diikuti Rio di belakangnya.

“Gimana? Suka sama kamarnya?” tanya Rio sambil memeluk Anya dari belakang.

“Suka,” Anya tersenyum menatap jalan di bawah.

“Ya udah, mungkin kamu mau mandi atau istirahat dulu. Aku kasih waktu sendiri deh. Kamarku ada di sebelah kamarnya Bang Eza ya Nya.” Kata Rio lalu mencium pipi Anya dan meninggalkannya sendiri.

Anya mengambil kopernya yang tadi Rio letakkan dekat lemari. Lalu ia mengeluarkan baju-bajunya, dan semua perlengkapannya mulai dari lotion, bedak, parfum, deodorant, lipgloss, sampai sabun pencuci mukanya.

Lalu Anya merapihkan baju yang ia bawa dan memasukkannya ke dalam lemari yang tersedia. Ia menaruh satu persatu ke dalam, dan setelah selesai Anya berjalan masuk ke kamar mandi yang juga ada di kamarnya.

Selesai mandi Anya berjalan ke kamar kakaknya. Ternyata Bang Eza tidak ada disana, jadi Anya mencoba ke kamar Rio. Dan ternyata kakaknya dan Rio sedang asyik berdua bermain WII.

“Oh bagus, aku nggak diajak.” Kata Anya sambil besender di pintu.

“Eh Anya, udah mandi ya? Sini yuk ikutan.” Kata Rio lalu menghampiri Anya dan menggandengnya untuk duduk di sebelahnya.

“Nonton aja yuk Bang? Kasian Anya kan nggak bisa main ginian.” Kata Rio sambil meledek Anya.

“Ah, Anya ganggu aja sih. Ya udah lah. Lo ada film apaan aja?” kata Bang Eza menyudahi permainannya.

“Banyak, horror, action, comedy. Paling banyak sih horror.” Jawab Rio.

“Ya udah horror.” Kata Bang Eza.

“Nggak!” kata Anya setengah berteriak.

“Lah kenapa?” tanya Bang Eza.

“Anya kan penakut Bang.” Rio terkekeh geli melihat Anya yang melotot ke kakak laki-lakinya itu.

“Udah biarin, horror aja Yo nggak apa-apa.” Kata Bang Eza lagi.

“Oke deh, sip Bang.” Jawab Rio lalu menyalakan seprangkat set home theaternya. Anya hanya mendesah kesal dan mengalah ikut menonton bersama mereka.

Film dimulai, Rio duduk disamping Anya sambil menyelinapkan tangannya kebelakang tubuh Anya dan mendekap tubuh Anya. Beberapa kali adegan sadis muncul di film itu dan Anya memeluk Rio yang tertawa kecil setiap kali Anya berteriak dan memeluknya erat. Ini benar-benar masa yang paling Rio rindukan. Berada di samping Anya.

“Nya?” kata Rio menatap Anya yang sedang serius menonton film itu.

“Ya?” jawab Anya mendongak menatap Rio.

“Enggak.” Kata Rio lalu menghadap ke layar lagi melanjutkan film yang ia tonton.

“Yo, kenapa ih? Jangan bikin penasaran.” Kata Anya penasaran.

“Enggak, aku seneng aja ada kamu di sebelah aku. Aku kangen banget loh sama kamu. Udah lama nggak kaya gini sama kamu.” Jawab Rio sambil tetap mengarahkan pandangannya ke film yang sedang ditontonnya.

“Aku juga seneng.” Jawab Anya merapatkan tubuhnya kedalam dekapan Rio.

Hari itu mereka nonton dan main bertiga sampai jam 12 malam lalu tidur ke kamar masing-masing. Esok paginya Anya bangun jam 6 dan segera mandi lalu ia melihat Bi Inah sedang beres-beres di dapur.

“Bi, lagi ngapain?” tanya Anya.

“Siapin sarapan buat semuanya Mba.” Jawab Bi Inah.

“Aku bantuin ya?” tanya Anya.

“Nggak usah biar Bibi aja.” Jawab Bi Inah.

“Nggak apa-apa udah.” Lalu Anya mengambil beberapa piring dan menyiapkan roti-roti dan yang lainnya.

Mama Rio datang dan melihat Anya sedang menyiapkan sarapan dengan Bi Inah, “Loh udah bangun sayang? Rajin banget. Tidurnya semalem gimana? Nyenyak?” tanya Mama Rio.

“Nyenyak tante.” Jawab Anya sambil tersenyum lalu melanjutkan menyiapkan sarapan.

“Bagus deh, udah biar Bi Inah aja. Mendingan kamu bangunin Rio sekarang gih.” Suruh Mama Rio lembut.

“Umm, oke deh tan.” Anya beranjak dari tempatnya dan pergi naik ke atas menuju kamar Rio.

Ia membuka kamar yang tidak dikunci itu. Dan Rio masih terlelap disana dengan selimut yang sudah tersingkap kemana-mana. Anya menghampiri tempat tidur Rio.

“Sayang.” Panggil Anya sambil mengguncang lembut tubuh Rio.

Rio hanya mengerang tanpa membuka matanya.

“Bangun, udah pagi.” Anya mengusap-usap lembut kepala Rio.

“Jam berapa?” tanya Rio tanpa membuka matanya.

“Jam 7.” Jawab Anya tetap mengelus lembut kepala Rio.

“Ahh, ntar aja.” Jawab Rio lalu malah memeluk Anya dan tetap tertidur.

Anya melepaskan pelukan Rio dan mencubit pipinya gemas, ”Ayo ah, bangun. Katanya hari ini mau ngajakin aku jalan?”

“Hmm,” Rio membuka matanya dan mengerjap-ngerjapkan pandangannya yang agak kabur.

Lalu ia bangkit dan duduk di tempat tidurnya. Anya memperhatikan Rio yang baru saja bangun tidur. Alami. Tetap ganteng meskipun dengan mata sayu baru bangun tidur dan rambut berantakan. Tapi tidak bisa dibohongi, Rio tetap memukau bagaimanapun kelihatannya.

Rio merentangkan tubuhnya dan menelengkan kepalanya ke kanan dan kiri lalu menatap Anya yang sedang melamun menatapnya, “Heh, baru pertama kali ngeliat orang ganteng bangun tidur ya?” ledek Rio.

“Ih, apaan sih PD banget.” Jawab Anya dengan wajah bersemu merah.

“Cieee, mukanya merah tuh cieee.” Goda Rio.

“Rio! Apaan sih ah?” Anya makin salah tingkah.

“Hehe, selamat pagi Anya.” kata Rio lalu memeluk tubuh Anya.

“Selamat pagi juga Rio sayang. Turun yuk, sarapan.” Ajak Anya.

“Yuk.” Rio bangkit dari tempat tidurnya dan menggandeng tangan Anya.

“Aku bangunin Abang dulu.” Kata Anya begitu di depan kamar kakak laki-lakinya.

Mereka sarapan bersama pagi itu. Lengkap dengan Mama, dan Papa Rio.

Selesai sarapan, Rio dan Eza yang belum mandi segera mandi dan bersiap-siap pergi ke jantung kota Toronto untuk makan, jalan-jalan dan belanja.

Hari itu mereka habiskan bertiga untuk berjalan-jalan. Hingga akhirnya pada pukul 9 malam mereka kembali ke rumah Rio dan beristirahat. Lagi pula keesokan harinya Rio masih harus sekolah.

Selama 5 hari terakhir sekolah untuk musim semi ini Rio mulai malas-malasan sekolah karena ada Anya di rumahnya yang membuatnya ingin cepat pulang. Akhirnya Sabtu awal September datang, ini liburan musim gugur pertama Rio di Kanada.

Rio sudah merencanakan akan mengajak Anya ke air terjun niagara yang sangat terkenal. Tidak lupa juga bersama Bang Eza tentunya. Dari rumahnya menuju sana kira-kira bisa di tempuh dengan waktu 1 setengah jam perjalanan darat menggunakan mobil.

Mereka sampai Niagara Falls yang benar-benar indah dengan pemandangannya, dan air yang menyiprat karena angin yang cukup kencang saat itu menyejukkan udara. Anya dan Rio duduk di bebatuan tidak jauh dari air terjun. Sedangkan Bang Eza sibuk memotret keindahan yang terhampar dihadapannya.

“Nya?” panggil Rio lalu menoleh ke arah gadis yang sedang memandangi takjub pemandangan dihadapannya itu.

“Hmm?” Anya bergumam sedikit menjawab panggilan Rio.

“Kamu seneng?” tanya Rio.

“Apa?” tanya Anya tidak mendengar suara Rio yang kalah dengan suara air terjun.

“Kamu seneng nggak ada disini?” Rio agak berteriak kali ini.

Anya menganggukkan kepalanya dengan mata berbinar. Lalu hening diantara mereka.

“Rio,” panggil Anya memecah keheningan.

“Iya kenapa?” tanya Rio.

“Kamu mau tau nggak perasaanku sama kamu?” tanya Anya.

“Mau, apa?” Rio balik bertanya.

“Kalau kamu ambil setetes air di air terjun itu, terus buang lagi kesana. Dan cari setetes air yang sama ketika kamu ambil lalu buang tadi. Dan hasilnya apakah akan kamu temukan setetes air yang sama?” tanya Anya.

“Mustahil Nya.” Jawab Rio dengan pandangan tidak mengerti.

Anya tersenyum penuh arti lalu memandang jauh kearah air terjun dan berkata, “Jawabannya sama seperti perasaanku terhadapmu, saat aku mencintaimu kemudian aku harus terpaksa berhenti melakukannya karena kehilanganmu maka akan mustahil bagiku untuk menemukan seseorang untuk dicintai lagi sepertimu.”

Rio menatap Anya lama, lalu beranalogi untuk membalas kalimat Anya, “Tapi kamu bisa mengambil setetes air lagi kapanpun kamu mau, dan menjaganya dengan cara yang berbeda agar tidak kehilangannya lagi seperti setetes air sebelumnya.”

“Tetapi rasanya tidak akan pernah sama lagi.” Jawab Anya sambil menatap lurus.

“Siapa bilang? Cinta dan air itu memiliki sifat yang sama, walaupun berbeda wujud. Air merupakan benda konkret yang bisa kamu sentuh dan rasakan, sedangkan cinta hanya bisa kamu rasakan tanpa bisa menyentuhnya. Tapi sifat dari kedua hal itu sama. Mereka sama-sama menyegarkan. Air menyegarkan dengan membasahi kerongkongan yang haus akan cairan, dan cinta menyegarkan jiwa yang haus akan kasih sayang.” Rio menghela napas sejenak. Kemudian melanjutkan kata-katanya.

“Dan walaupun rasanya tidak sama lagi, setetes air yang kamu ambil setelah setetes air yang kamu hilangkan pasti juga dapat menyegarkanmu yang memang membutuhkannya.”

Anya hanya diam menatap Rio kehilangan kata-katanya. Kemudian hening lagi diantara mereka.

“Dan aku percaya, cinta selalu indah. Selalu memiliki rasa sendiri pada setiap orang berbeda. Dan masing-masing rasa itu yang menciptakan seni mencintai dan dicintai. Karena dengan kombinasi rasa itu hidup terasa lebih bermakna.” Lanjut Rio lagi memecah keheningan.

Anya menghela napas dalam dan menghirup dalam-dalam udara yang ada di sekelilingnya. Berusaha setenang mungkin walaupun perasaannya kali ini gelisah. Sesak menyelimutinya karena makna kalimat Rio yang menyiratkan mereka tetap bisa menemukan kebahagiaan walaupun tidak lagi bersama.

Lalu Anya mencoba memberanikan diri membuka mulut dan berbicara setenang mungkin, “Lalu kalau semua cinta itu tujuannya sama untuk menyegarkan jiwa yang haus akan kasih sayang apakah mungkin kamu telah menemukan cinta yang lain yang mampu menyegarkan jiwamu yang haus akan kasih sayang selama jauh dariku?”

Rio diam sejenak menatap Anya, kemudian mulai membuka mulutnya, “Harus kujawab apa pertanyaan yang kamu sendiri sudah mengetahui jawabannya?”

Anya mengedikkan bahunya lalu berkata, “Terkadang cinta lebih indah saat diucapkan meskipun diketahui dengan jelas.”

“Kalau begitu jawabannya aku rela kehausan kasih sayang selama apapun demi menunggu kamu menyirami jiwaku lagi dengan cintamu itu.” Jawab Rio tulus.

“Kamu yakin sanggup?” tanya Anya lagi.

“Harus seberapa yakin aku menjawab agar membuat kamu percaya kalau aku lebih tangguh dari apa yang kamu bayangkan?” Rio balik bertanya.

“Cukup dengan tetap menjadi Rio yang aku kenal. Dan semuanya akan aku terima dengan kepercayaan penuh.” Jawab Anya tersenyum manis menatap dalam mata Rio.
Hari itu berakhir indah, jemari Rio yang menjalin erat jemari mungil Anya. Memberikannya perlindungan dari segala yang akan datang. Anya kali ini percaya, cinta memang memiliki hakikat menyegarkan jiwa-jiwa yang haus kasih sayang seperti kata Rio. Dan Rio menyadari bahwa dari sekian banyak rasa cinta yang ada, dia adalah favorit Anya.

Hold me close don’t ever let me go
More than words
Is all I ever need that you to show
Then you wouldn’t have to say
That you love me
Cause I’d already know
(More Than Words – Westlife)

“Cukup dekap aku ke dalam pelukanmu dan jangan pernah lepaskan apalagi membiarkanku pergi. Mencintaimu tidak pernah bisa aku deskripsikan melalui kata-kata atau puisi cinta. Bagiku tidak pernah cukup untuk meluapkan perasaanku padamu. Yang aku butuhkan adalah pembuktian. Dan kamu ataupun aku sama-sama tidak perlu lagi mengatakan atau berteriak satu sama lain bahwa kita saling mencintai. Karena jauh di dalam hati kita tersirat makna dari cinta itu sendiri. Yang mampu kau tunjukkan kepadaku, dan yang pernah aku berikan kepadamu. Semuanya lebih dari sekedar kata-kata untuk menggambarkan perasaan kita. Karena hati tak bersuara, biarkan ia tetap diam dan mengirimkan pesan tersirat dari setiap perbuatan yang berdasarkan olehnya. Yang membuatku yakin bahwa cinta memang lebih dari sekedar kata.”
*****

Selesai sudah part 14nya. Masih mau tau kelanjutannya kan? Tetep setia cek timeline blog gue ya :)
Thanks ya yang udah ngikutin sampai sini. See you next post readers ;)

0 komentar:

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos