Sunday, April 15, 2012

Cerbung - Will It Be Us Part 13

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 23:10
Reaksi: 
Hellooooww readers, I'm back. Yap hari ini gue mau post selanjutnya cerbung yang kemaren. Alhamdulillah yang ini rada panjangan dari yang kemaren karena mood gue lagi bagus banget. Yaudah yuk nggak usah pake lama lagi. Let's enjoy the ride.....

Will It Be Us Part 13



Anya mengambil handphonenya yang digeletakkan begitu saja di atas meja belajar, lalu mulai mengaktifkannya. Langsung saja puluhan pesan suara, dan sms dari Rio muncul ketika handphonenya sudah menyala.

Anya meringis kasihan karena telah berbuat seperti itu dengan Rio.

Dengan cepat ia mengetik sesuatu di handphonenya dan menaruhnya lagi, lalu berbaring menatap langit-langit kamarnya.

From: Anya
Text: Aku maafin, maaf udah buat kamu panik. Love you.

Rio tersenyum lega melihat sms dari Anya, lalu dengan segera ia mengetikkan sebuah balasan untuk Anya.

From: Rio’s Canada Number
Text: Love you too, aku telfon kamu nanti pas jam istirahat ya, stengah jam lagi.

Anya tersenyum simpul ketika menerima balasan dari Rio dan meletakkan handphonenya lagi di atas meja belajar. Menunggu Rio untuk segera menelfonnya.

Setengah jam berlalu, handphone Anya berdering. Tampil nama Rio lengkap dengan fotonya di handphone Anya. Dengan segera Anya mengangkatnya.

“Hallo,” kata Anya dengan suara agak berat.

“Hai, kangen deh,” jawab Rio lembut.

“Hemm, masa sih?” Anya menggoda Rio.

“Serius, seharian nggak ada komunikasi sama kamu rasanya hidup aku sepi banget. Nggak berwarna.” Jawab Rio sungguh-sungguh.

“Kan ada temen disana yang bisa membuat suasana lebih berwarna, dan lupa segalanya.” Cibir Anya.

“Nyaaaa, itu sumpah aku nggak bermaksud lupain kamu atau gimana. Sumpah itu karena handphonenya ada di tas, dan aku main di studio bareng sama temen-temen ngeband. Kan kamu tau sendiri aku kalau udah main musik bisa sampe lupa waktu.” Kata Rio menjelaskan.

“Iya, iya aku ngerti. Aku udah nggak marah kok. Itu tadi pagi aku cuma kesel aja abisnya kamu aku tungguin dari jam 3 pagi nggak muncul-muncul.” Jawab Anya lembut.

“Iya, maaf ya sayang. Aku janji nggak akan kaya gitu lagi.” Janji Rio.

“Iya, iya aku ngerti. Lagi nggak sama temen-temen istirahatnya?” tanya Anya.

“Enggak, nggak tau mereka pada kemana. Aku sendirian nih.” Jawab Rio.

“Kasihaaann,” ledek Anya.

“Temenin dong,” goda Rio.

“Ini udah di telfon.” Jawab Anya polos.

“Maunya disini, disamping aku kaya biasa dulu.” Kata Rio lembut.

“Hemm, aku aja nggak tau kapan kira-kira dibolehin kesana.” Anya menghela napas panjang.

“Loh, bukannya kamu lebaran nanti mau liburan disini?” Rio bertanya bingung.

“Hah? Kata siapa?” Anya kaget.

“Emang Mama kamu nggak bilang? Mama aku udah nelfon Mama kamu kan?” tnya Rio.

“Waktu itu sih udah, tapi Mama nggak ngomong apa-apa ke aku.” Jawab Anya bingung.

“Hemm, padahal kata Mama aku, nanti kamu lebaran tuh liburan disini  sama Bang Eza, tadinya Mama aku ngajak kamu sekeluarga. Tapi, Mama kamu bilang kasian Eyang kamu yang di Bandung kalau nggak ditemenin pas lebaran, jadi cuma kamu sama Bang Eza aja yang kesini. Mama sama Papa kamu mau lebaran di Jakarta sama sodara-sodara katanya.” Jelas Rio.

“Demi apa?” Anya memekik kaget.

“Demi Tuhan Mamaku bilang gitu,” jawab Rio serius.

Anya berteriak girang lalu loncat-loncat di atas kasurnya.

“Rio! Aku nggak sabar lebaran!” kata Anya menggebu-gebu.

“Yee, puasa aja belom.” Rio tertawa renyah.

“Can’t wait to see you nih sayang,” kata Anya semangat.

“Can’t wait to see you too sayang.” Jawab Rio.

“Nanti kalau kamu kesini aku janji bakalan ajak kamu jalan-jalan kemanapun kamu mau.” Lanjut Rio semangat.

“Aku nggak mau kemana-mana, cuma mau ada disisi kamu aja cukup.” Jawab Anya sambil membayangkan pertemuannya dengan Rio nanti.

“Ah, bisa aja. Nya, aku udah mau masuk nih. Udah dulu ya, sambung lagi nanti pas jam 7 malam disini lah, berarti kira-kira jam 6 lah disana. Biar kamu bangunnya nggak usah terlalu pagi juga. Sekarang kamu tidur ya.” Kata Rio.

“Oke deh sip,” Anya menjawab mantap.

“Love you,” kata Rio lagi.

“Love you too,” balas Anya lalu mematikan sambungan telfon.
*****


Anya berjalan diantara rak-rak berisi tas. Hari ini ia ditemani Bang Eza untuk membeli semua keperluan sekolahnya. Dan sekarang Anya sedang sibuk berkeliling mencari tas baru, sedangkan Bang Eza terlihat sedang sibuk sendiri di tengah-tengah rak buku-buku materi kedokteran membolak-balik sebuah buku ditangannya.

Anya terus berjalan sendiri memilih tas yang cocok. Lalu tiba-tiba saat berjalan mundur ia menabrak seseorang.

“Maaf,” Anya berbalik lalu terkejut.

“Nathan?” lanjutnya lagi.

“Hemm, ya hehe. Hai Nya.” Jawab Nathan kikuk.

“Lagi ngapain disini?” tanya Anya.

“Beli tas, emm lo?” kata Nathan balik bertanya.

“Beli tas juga,” jawab Anya sambil menatap Nathan dari atas sampai bawah. Melihat gayanya yang sangat sederhana, beda dengan Rio. Tapi entah apa, ia justru teringat Rio saat melihat Nathan.

Nathan yang sadar diperhatikan oleh Anya semakin salah tingkah, lalu berbasa-basi, “Lo keterima di Tunas Harapan ya? Congrats Nya.” Lalu mengulurkan tangannya.

“Makasih, lo juga kan?” jawab Anya sambil menyambut uluran tangan Nathan dan menatap matanya. Seketika Anya sempat merasakan ada getaran aneh saat menatap mata Nathan, bukan seperti yang ia rasakan saat ia menatap Rio. Perasaan yang ini lebih sederhana dan mudah untuk dijelaskan, berbeda dengan perasaan yang ada saat menatap mata Rio, perasaan yang tidak terdeskripsikan karena terlalu menyengat dan rumit untuk dijelaskan. Sedangkan pandangan yang ia temukan di mata Nathan adalah teduh, dan nyaman yang membuatnya ingin berlama-lama menatap mata itu.

“Iya, sama-sama. Hehe, satu sekolah ya kita?” Nathan semakin kikuk apalagi Anya masih terus menatap matanya.

“Yap, asik ya, setelah kepisah 3 tahun selama SMP kita balik 1 sekolah lagi kaya waktu jaman SD deh. Nathan yang jail, sekarang masih nggak? Kangen dijailin sama lo deh.” Anya tertawa ringan.

“Sekarang udah gede sih udah enggak Nya. Ya ampun buruk sangka aja deh.” Balas Nathan ikut tertawa.

“Iya sih, keliatan. Lo kayanya pendiem sekarang. Tapi masih asyik kaya dulu dong?” Lanjut Anya lagi.

“Masih kok masih,” Nathan mengangguk-anggukan kepalanya semangat.

“Nya, kayanya gue harus duluan deh, kasian ibu jaga toko sendirian. Takutnya banyak pelanggan. Sampai ketemu lagi ya,” kata Nathan melambaikan tangannya lalu berjalan menuju kasir menjauhi Anya yang tersenyum dan mengangguk ikut melambai membalas lambaian tangan Nathan.

Akhirnya Anya menetapkan pilihannya pada sebuah tas gendong bergambar Tazmania berwarna cokelat lalu berjalan menuju Bang Eza yang masih asyik melihat-lihat buku.

“Udah nih Bang. Bagus nggak tasnya?” tanya Anya saat menghampiri kakaknya itu.
Bang Eza hanya melirik sedikit lalu kembali menekuni buku yang sedang dipegangnya, “Bagus.” Jawab Bang Eza singkat.

“Terlalu kaya anak kecil nggak?” tanya Anya lagi.

Bang Eza meletakkan buku yang ia pegang kembali ke tempat raknya, lalu mengambil tas yang ada di tangan Anya memperhatikannya sambil memberi komentar, “Nggak kok, emang lagi jaman kan anak-anak cewek SMA pake tas gambar kartun gini?”

“Kok Abang tau?” tanya Anya menyelidik.

“Gebetan abang anak kelas 2 SMA.” Jawab Bang Eza singkat.

“What? Siapa? Anak SMA mana?” kata Anya kaget.

“Anak Tunas, ntar juga kalau udah masuk sana kamu tau yang mana.” Jawab Bang Eza santai.

“Sekarang baru mau naik kelas 2 atau kelas 2 naik kelas 3?” tanya Anya.

“Kelas 2 naik kelas 3.” Jawab Bang Eza lagi singkat.

“Oh good, kalau itu cewek lebay pasti aku dijadiin sasaran ditanya-tanya tentang Abang mulu deh nanti.” Prediksi Anya.

“Sok tau nih anak kecil.” Kata Bang Eza sambil mengacak-acak rambut Anya.

“Udah gede ih! Udah kelas 1 SMA tau.” Jawab Anya sambil memeletkan lidahnya.”
*****

Rio membaringkan tubuhnya di atas kasur sepulang sekolah. Hari ini cukup melelahkan. Ia baru saja lari keliling lapangan sebanyak 5 kali tadi saat pelajaran olahraga. Rasanya kaki-kakinya seperti mau copot. Rio berusaha memejamkan matanya agar tertidur, tapi ia tidak mengantuk, hanya merasa lelah.

Akhirnya Rio memutuskan untuk membaca buku. Ia sempat bingung dengan buku yang akan ia baca. Lalu ia teringat akan sesuatu. Buku harian milik Anya yang belum sempat ia baca hingga hari ini.

Ia mengambil buku tebal dengan motif polkadot warna hitam dan abu-abu itu. Lalu membuka asal salah satu halamannya dan mulai membacanya dalam hati.

Selasa, 21 Oktober

Dear diary, hari ini ada yang harus kamu tau. Kamu ingat Rio? Rio yang selalu aku ceritakan beberapa saat terakhir ini karena sikapnya yang cenderung agak membingungkan buatku. Tadi di sekolah secara tiba-tiba dia duduk disampingku dan memintaku mengajarinya matematika. Kebetulan kami satu ruangan saat UTS kemarin. Saat itu aku mengajarinya sebisaku. Aku tau dia tidak memperhatikanku, dia malah memandangi wajahku yang membuatku malu. Membuatku merasa agak canggung. Tapi saat akhirnya ulangan matematika Rio duduk dibangkunya. Saat aku sudah selesai aku menoleh ke tempat duduk Rio yang ternyata sedang memperhatikanku. Dia tersenyum kepadaku, lalu menekuni kertas miliknya, aku fikir dia sedang mengerjakan lagi soal ulangannya.
Aku tetap memperhatikannya, entah kenapa akhir-akhir ini aku senang sekali melihatnya, memperhatikannya, menatapnya, mengetahui dia juga menatapku dari kejauhan. Lalu tiba-tiba dia mengangkat kertas buram untuk coret-coretan miliknya yang bertuliskan “Terima kasih Anya, gue lancar ngerjainnya” tepat di dadanya. Cukup jelas untuk bisa kubaca tulisan itu. Saat aku kembali ke wajahnya dia sudah memasang senyum terbaik miliknya untukku. Aku terbang, sungguh aku mengakuinya mulai saat ini. Dia tidak pernah keluar dari fikiranku. Aku bukan hanya menyukai Rio, aku mencintainya, aku menyayanginya, dan aku harap aku bisa untuk berada disisinya. Ahh, tapi mungkinkah mimpi seorang gadis sepertiku bisa menggapai Rio yang jauh di atas levelku? Entahlah, masa depan adalah rahasia yang rumit untukku.

Rio tersenyum setelah  membacanya, fikirannya kembali kemasa dimana ia berusaha menarik perhatian Anya. Salah satunya dengan cara itu. Ia ingat, bagaimana dulu ia tidak memperhatikan apa yang Anya ajarkan, yang ingin Rio sebenarnya dapatkan hanyalah duduk disamping Anya. Dan sejujurnya ia sudah bisa dengan Matematika itu karena sebelumnya ia sudah privat. Rio masih ingat jelas wajah Anya yang langsung bersemu merah saat ia menunjukkan tulisan itu, dan segera memalingkan wajahnya saat menatap Rio yang tersenyum padanya.

Rio merindukan ekspresi malu wajah Anya yang selalu membuatnya kelihatan tambah manis. Rio memejamkan matanya membayangkan Anya, dan akhirnya ia terlelap bersama dengan bayang-bayang Anya yang mengikutinya hingga ke dalam mimpi.
*****


Hari ini Sabtu 11 Juli, hari pertama pembukaan MOS. Anya sudah berdiri di gerbang depan sekolah barunya, siap melangkah masuk memulai hari-hari barunya di Sekolah Menengah Atas ini. Anya masih mengenakan pakaian putih-biru miliknya, karena sekolah memang belum memperkenankan murid barunya mengenakan seragam SMA sebelum selesai masa MOS.

Anya mencari-cari beberapa teman yang ia kenal dan ikut bergabung bersama mereka lalu mengobrol. Hingga akhirnya upacara pembukaan pun dimulai. Setelah sambutan dari kepala sekolah dan bidang kesiswaan, mulai dibacakan pembagian kelas. Anya ternyata masuk di kelas X-4.

Ia melangkah menuju kelasnya, tampaknya tidak ada satupun teman SMPnya yang masuk ke kelas ini juga, ia sendirian. Anya mencari bangku yang masih kosong. Lalu ia melihat Nathan duduk di kursi baris ketiga bersama dengan seorang anak laki-laki. Anya menghampirinya.

“Di sini masih kosong?” tanya Anya menunjuk kursi di depan Nathan yang membuat Nathan yang sedang mengobrol bersama temannya sontak menoleh.

“Anya?” Nathan berubah gugup.

“Iya, kosong kok.” Lanjutnya.

“Oke,” lalu Anya duduk di kursi itu dan menghadap ke belakang, ke arah kursi Nathan.

“Nggak nyangka sekelas.” Kata Anya sambil tersenyum manis menatap Nathan.

“Hehe, iya. Kebetulan banget ya?” kata Nathan grogi.

“Oh iya, Nya ini kenalin Randy, dia satu SMP sama gue dulu.” Lanjut Nathan memperkenalkan anak laki-laki di sebelahnya.

“Ran, ini Anya temen gue dari SD.” Lanjut Nathan lagi sambil agak takut kali ini.

“Randy,” kata Randy menjulurkan tangannya ke Anya sambil tersenyum penuh arti dan disambut dengan uluran tangan Anya.

“Jadi ini yang lo sering ceritain ke gue. Manis banget. Pantes lo tergila-gila ampe segitunya.” Bisik Randy ditelinga Nathan dan Nathan hanya menginjak kaki Randy, yang disambut dengan tatapan bingung Anya.

“Kalian kenapa?” tanya Anya.

“Enggak, ini katanya si Randy sakit perut mau ke toilet.” Jawab Nathan asal.

“Ohh,” Anya tersenyum geli melihat tingkah mereka berdua.

Tidak lama kemudian datang seorang gadis menghampiri meja di sebelah Anya, lalu bertanya, “Ini kosong?”

Anya menoleh kearah gadis itu dan sempat terpana beberapa saat karena gadis itu benar-benar memukau. Cantik, putih, tinggi, hidung mancung, blaster sepertinya. Lalu Anya dengan segera tersadar dari lamunannya dan menganggukkan kepalanya cepat. Sepertinya Randy juga terpana melihat gadis itu, hanya Nathan yang terlihat tenang tidak terpengaruh.

Anya memperhatikan gadis yang tengah duduk di sampingnya sambil sibuk memainkan blackberrynya itu. Rasanya wajah gadis itu seperti familiar dalam ingatan Anya. Ia seperti pernah melihatnya namun ia lupa kapan dan dimana.

Gadis itu menyita perhatian Anya, yang terus memperhatikannya dari atas sampai bawah. Kulitnya putih seperti boneka porselen, alisnya rapih membingkai atas matanya, matanya kecokelatan, hidungnya tinggi menjulang, dagunya panjang dan rambutnya yang berwarna cokelat mengkilap lurus sebagian dan sebagian lainnya melingkar indah membentuk ikal gantung yang indah.

Gadis itu sadar diperhatikan dan menoleh ke arah Anya lalu tersenyum. Anya yang sadar ketahuan memperhatikan gadis itu ikut tersenyum malu.

“Cecil, lo siapa?” kata gadis itu menjulurkan tangannya.

Seketika tubuh Anya membeku, ia ingat siapa gadis ini. Ia benar-benar ingat siapa gadis ini sekarang. Ia mantan Rio, tepatnya pacar pertama Rio dulu waktu SD. Pantas wajahnya terasa familiar, karena Anya memang pernah melihat fotonya di buku tahunan Rio. Dan Rio juga pernah sedikit menceritakan tentang gadis ini dulu. Anya benar-benar terkejut gadis ini bisa sampai sebangku dengannya sekarang. Jangankan membayangkan, terpikir pun tidak. Anya tiba-tiba merasa minder. Mantan pacar Rio ternyata benar-benar cantik dan idaman laki-laki, beda jauh dengan Anya yang sama sekali tidak ada keturunan bule seperti gadis yang duduk di sebelahnya ini. Ternyata gadis ini jauh lebih cantik aslinya dibanding saat dilihat di foto.

“Umm, hello?” gadis itu menatap Anya yang tidak menyambut uluran tangannya tapi justru malah bengong.

“Kalo gue Randy,” kata Randy justru mendahului Anya menyambut uluran tangan Cecil.

Gadis itu tertawa kecil melihat sikap Randy, lalu berkata, “Oke, salam kenal Randy.”

“Dan ini Nathan, kalau yang imut ini Anya.” lanjut Randy. Cecil hanya tersenyum menatap Anya dan Nathan bergantian.

“Nathan,” kata Nathan mengulurkan tangannya dan disambut uluran tangan Cecil.

Anya baru tersadar dari lamunannya, “Maaf, Anya.” kata Anya terbata sambil mengulurkan tangannya ke gadis yang masih tersenyum ramah kepadanya itu.

“Iya enggak apa-apa, kok lo kaya kaget gitu ngeliat gue. Kenapa?” tanya gadis itu tetap tersenyum.

“Sdnya dulu di Al-Hakim bukan?” Anya justru balik bertanya.

“Iya, kok tau? Kita pernah satu SD?” gadis itu menatap Anya bingung.

“Enggak kok, hehe nggak pernah.” Jawab Anya tertawa canggung.

“Loh, terus tau dari mana?” tanya gadis itu masih penasaran.

“Mantannya Rio ya?” Anya balik bertanya.

“Aditya Rio Pratama?” gadis itu menyipitkan matanya bingung.

“Iya.” Lanjut Cecil.

“Tapi itu dulu waktu masih kelas 5 SD, cinta monyet. Haha, orangnya juga udah enggak tau kemana. Kenal Rio?” tanya Cecil kemudian.

“Hehe, kenal.” Jawab Anya smbil menggaruk belakang lehernya yang tidak terasa gatal.

“Pacarnya ya?” gadis itu tersenyum menggoda Anya.

“Emm, iya.” Anya tersenyum malu.

“Ih nggak nyangka loh dunia sempit.” Kata gadis itu tertawa renyah.

“Rio gimana sekarang kabarnya? Sekolah dimana dia sekarang?” tanya Cecil.

“Baik kok, dia pindah tinggal di Kanada sekarang.” Jawab Anya.

“LDR dong?” kata gadis itu spontan.

“Iya, hehe.” Jawab Anya.

Akhirnya mereka mengobrol banyak tentang Rio saat itu. Dari situ Anya tau kalau Cecil ternyata orangnya baik sekali, benar-benar diluar dugaannya. Dulu waktu melihat fotonya ia fikir gadis secantik Cecil pastilah orang yang sombong. Ternyata Cecil jauh dari itu, dia ramah, supel, sederhana, dan dari cara bicaranya bisa terlihat kalau Cecil cerdas. Ternyata Cecil juga sekarang sudah punya seorang pacar yang masuk di SMA Tunas Harapan juga tapi sekarang sudah kelas XI. Mereka akrab sekali mengobrol berbagai macam hal, Cecil orangnya benar-benar bisa mencairkan suasana. Sampai akhirnya anak OSIS pembina kelas mereka pun masuk mereka masih mencuri-curi kesempatan untuk mengobrol beberapa kali. Mulai saat itu Anya bersahabat dengan Cecil. Oh iya, tidak lupa dengan Randy dan Nathan juga.
*****

Sekitar pukul 11 Anya sudah pulang, hari itu ia cuma mendapat pengarahan dari OSIS untuk barang-barang yang harus dibawa selama MOS, dan mempelajari tata tertib sekolah yang baru.

Sampai di rumah Anya bergegas menyalakan laptopnya dan sign in via skype. Sudah ada Rio yang menunggu disana.

“Yo, maaf aku baru pulang.” Ringis Anya.

“Iya, enggak apa-apa. Aku juga daritadi lagi main game kok.” Jawab Rio.

“Kamu nggak ngantuk?” tanya Anya yang menyadari sekarang pukul 12 malam disana.

“Kan biasa kalau malem minggu aku begadang sayang.” Jawab Rio masih terlihat segar.

“Oh, gitu.” Anya mengangguk-anggukkan kepalanya kecil.

“Gimana pembukaan MOSnya tadi?” tanya Rio.

“Biasa.” Jawab Anya datar.

“Emm, ada yang ganteng nggak?” goda Rio.

“Banyak sih, tapi nggak ada yang menarik.” Jawab Anya tanpa ekspresi.

“Alah, masa sih?” Rio menggoda Anya.

“Serius, eh aku udah punya sahabat dong di SMA, cewe cantik, baik, pinter pula. Kamu pasti kaget kalau tau siapa orangnya.” Kata Anya semangat.

“Emangnya siapa?” tanya Rio.

“Cecil. Cecillia Anantha Jasmine.” Jawab Anya mantap, berharap Rio terkejut atau semacamnya.

Tapi Rio hanya menunjukkan ekspresi datar lalu berkata, “Oh dia, bagus deh, emang baik sih orangnya.”

“Kok nggak kaget Yo?” tanya Anya polos.

Rio tertawa geli kali ini, “Loh emang kamu ngarepin aku kaget ya Nya kamu sahabatan sama mantan aku?”

“Ya kan kamu gimana gitu harusnya begitu tau aku deket sama mantan kamu.” Kata Anya.

“Gimana?” tanya Rio menahan tawa.

“Nggak tau ah, kamu kok santai banget pas aku ngomongin Cecil?” tanya Anya.

“Ya dia kan cuma crush sesaat aja Nya waktu jaman SD, setelah lulus komunikasi juga udah enggak. Jadi ya dia aku anggap sama kaya temen SD yang lain. Aku aja udah lupa dia wajahnya gimana, dan kalau kamu nggak ngomong tentang dia mungkin aku bener-bener nggak akan ingat lagi tentang dia Nya.” Jawab Rio jujur.

“Secantik itu cuma crush sesaat Yo? Sesempurna Cecil kamu bilang kamu bisa lupain dia?” Anya menatap layar dengan serius.

“Ya, emm dia nggak sesempurna itu juga.” Kali Ini Rio merasa akan ada sesuatu yang tidak beres.

“Dia emang sempurna Yo. Jauh sama aku. Aku sih ibarat debu yang nempel di berlian kalau deket dia. Aku nggak bisa bayangin deh, Cecil yang secantik dan sesempurna itu aja kamu bilang crush sesaat doang. Gimana aku yang nggak ada apa-apanya? Dibilang apa nanti aku sama kamu?” Anya menatap serius.

“Loh Nya? Kok jadi gini sih?” Rio menatap bingung.

“Gini apanya? Emang bener kan?” Gertak Anya.

“Kamu kenapa sih selalu nggak percaya diri sama apa yang kamu punya? Kenapa sih kamu nggak pernah bersyukur atas apa yang udah Tuhan kasih sama kamu? Kenapa sih kamu nggak pernah bisa berhenti membandingkan diri kamu sama orang lain? Enggak ada satupun manusia yang sempurna di dunia ini Nya. Aku bilang Cecil itu crush sesaat karena memang itu kenyataannya. Perasaanku buat Cecil dulu sama perasaanku buat kamu sekarang itu beda jauh. Dulu aku suka sama Cecil karena pandanganku yang sama kaya kamu. Pandangan dangkal, karena Cecil cantik, dia sempurna dimataku dulu. Tapi itu semua berubah semenjak aku kenal kamu, kamu bisa menunjukkan kesempurnaan kamu dengan hakikat kamu sebagai seorang manusia dengan menampilkan semua kesederhanaan kamu. Yang selalu buat aku nyaman kalau ada di dekat kamu. Tapi kenapa sih kamu nggak percaya? Kenapa kamu nggak bisa anggap diri kamu spesial  aku menganggap kamu spesial?” Rio berbicara panjang lebar.

Anya diam, tertohok dengan apa yang Rio katakan. Matanya mulai dikaburkan oleh airmata. Anya terharu dengan apa yang Rio katakan, belum pernah ada laki-laki yang mencintainya seperti Rio. Belum, baru Rio dan hanya akan ada Rio sampai kapanpun.

“Jangan nangis Nya, kamu udah janji sama aku nggak akan nangis kalau aku nggak ada disisi kamu.” Kata Rio menatap Anya dari layar MacBooknya.

“Aku nangis karena bahagia Yo, bahagia dicintai sama orang kaya kamu. Aku nggak tau sanggup membalasnya atau enggak.” Jawab Anya tersedu.

“Aku nggak butuh pembalasan, cintaku sama kamu nggak bertepi, tanpa syarat. Dengan melihat kamu bahagia dan merasa dicintai juga udah cukup buatku.”

“Semua yang ada pada kamu itu adalah kehidupanku Nya, matamu, wajahmu, tawamu, sedihmu, suaramu. Ahh, semuanya pokoknya Nya.” Lanjut Rio dengan senyum tulus, yang dibalas dengan senyum juga oleh Anya.

Lalu tiba-tiba Rio mengambil gitarnya dan menyanyi.

Your voice was the soundtrack of my summer
Do you know you unlike any other?
You always be my thunder I’ve said
Your eyes are the brightest of all the colours
I don’t wanna ever love another
You always be my thunder
So bring me on the rain, and listen to the thunder...
(Thunder – Boys Like Girls)

“Matamu saat tertawa itu ibarat matahari musim panas yang cerah, matamu saat sedih itu ibarat badai di musim hujan, matamu saat marah itu ibarat angin yang menggugurkan daun-daun pada musim gugur, dan matamu saat tersenyum lembut itu ibarat pelangi saat musim semi. Suaramu bagaikan simfoni indah pengiring cerita kehidupanku. Dan wajahmu selalu menjadi bayang-bayang indah yang menemani langkahku. Warna yang matamu pancarkan selalu menjadi yang paling terang diantara semua warna yang ada. Aku tidak mungkin mencintai keindahan lain padahal yang paling indah sudah menjadi milikku. Kamu akan selalu menjadi cintaku, satu-satunya dan tak akan pernah terganti. Jadi, cukup percaya padaku dan kau akan mengerti dan merasakannya.”
  *****

Yap, udah cukup segitu dulu ya. Kalau besok sempet, besok gue post lagi part selanjutnya.
Oke thank you for reading, see you next post :) 

0 komentar:

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos