Sunday, April 08, 2012

Cerbung - Will It Be Us Part 11

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 06:03
Reaksi: 
Hai, maaf ya gue nggak ngepost sesuai janji. Kemarin ada sedikit kejadian nggak terduga. Hehe, maaf ya... Yaudah, kalo gitu gue ngepost sekarang aja ya. Oke nggak usah pake lama, ini baca aja yuk di bawah nih. 

Hope you'll enjoy ya....
  
Will It Be Us Part 11



Sementara itu Rio masuk ke kelas selanjutnya, kali ini pelajaran Fisika. Ternyata ada 3 orang anak lain yang sama berasal dari Indonesia juga seperti dia. 1 orang perempuan, dan 2 orang laki-laki.

Si anak perempuan ini sama seperti Rio yang terpaksa ikut pindah karena pekerjaan orang tuanya, bedanya dia merupakan anak kedubes Indonesia di Kanada, bukan anak pengusaha seperti Rio. Gadis ini bernama Clara, bertubuh proporsional, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek, sekitar 160 cm. Kulitnya kuning langsat sama seperti Anya. Wajahnya khas sekali orang sunda, manis, gigi kanannya ada yang gingsul, menambah manis wajahnya, tapi Clara merupakan gadis yang agak tomboy. Contohnya seperti gaya berpakaiannya kali ini yang mengikuti trend gothic-emo. Ia langsung akrab dengan Rio begitu berkenalan dan memiliki selera musik yang sama.

Sedangkan 2 anak laki-laki yang dari Indonesia juga salah satunya adalah David, dia dari keluarga berada di Indonesia, dia dipindahkan ke Kanada untuk merehabilitasinya dari ketergantungannya akan narkoba. Ya, David adalah pecandu berat sejak kelas 1 SMP semenjak kedua orang tuanya bercerai. Namun akhirnya kedua orang tuanya mengetahui apa yang terjadi pada David saat dia OD dan terpaksa harus masuk rumah sakit. Orang tuanya kembali rujuk tidak lama setelah itu dan menyadari kesalahan mereka. Akhirnya mereka sekeluarga memutuskan untuk memulai kehidupan baru di Kanada, karena Ayahnya David baru saja diterima sebagai music director disebuah industri musik besar disana. Dan mereka pindah sekeluarga sekaligus untuk mengobati ketergantungan David.

Dan salah satu anak laki-laki lainnya adalah Gio. Dia ini anak hasil beasiswa karena berhasil memenangkan lomba karya tulis ilmiah internasional yang bertemakan budaya negara waktu itu. Gio tidak pintar di segala bidang, ia hebat dalam hal menulis, menceritakan, dan fotografi. Hal itu yang membawanya menuju Abbey International School of Canada ini.
Sebelum Rio masuk ke Abbey, Clara, David, dan Gio sudah bersahabat. Mereka mengaku persahabatan mereka terjalin karena hanya dengan berkumpul bersama mereka bisa merasa tetap tinggal di Indonesia dan tidak terlalu merasa kesepian, kalau Clara dan David memang mengaku tidak mahir berbahasa Inggris makanya mereka sulit mencari teman baru. Sedangkan Gio, dia punya banyak teman juga selain mereka, tapi menurutnya hanya Clara dan David yang bisa paling mengerti dia. Mungkin karena berasal dari kebudayaan yang sama.

Dari situ Rio merasa beruntung sekali, akhirnya ia bisa menemukan komunitasnya sendiri disana. Akhirnya ia mulai dekat dengan mereka, terutama mereka punya selera musik yang sama. Dan pada jam pulang sekolah Rio mengajak teman-temannya untuk ikut main ke rumahnya.

Jam pelajaran terakhir selesai, Rio menunggu Clara, David, dan Gio di gerbang depan sekolah. Lalu muncul Gio.

“Hi Yo, udah lama?” tanya Gio.

“Nggak, baru kok. Clara sama David mana?” kata Rio balik bertanya.

“Nggak tau, kalau nggak salah jam terakhir itu mereka ada di kelas Geografi deh.” Kata Gio sambil memperhatikan satu persatu murid yang lewat, mencari Clara dan David.

“Tuh mereka!” kata Gio menunjuk ke arah Clara dan David yang melambai ke arah mereka.

“Sorry guys lama, Mrs. Fiennes emang suka banyak bacot.” Kata David kasar.

“Umm, iya nggak apa-apa. Oh iya, trus kalian ke rumah gue pada bawa mobil?” tanya Rio sambil berjalan ke parkiran bersama mereka.

“Gue sih bawa. Lo bareng juga bisa.” Kata David.

“Gue bawa mobil sendiri juga, tapi cuma buat dua penumpang. Umm, ya ini mobil gue.” Kata Rio menyender ke mobilnya diiringi dengan wajah kagum dari ketiga teman barunya itu.

“Gila, ini Miata keluaran baru kan? Anjir masih mulus banget.” Kata David kagum.

“Umm, ya nyokap ngasih buat hadiah masuk SMA kayanya.” Jawab Rio asal.
“Nyokap lo baik banget, tukeran yuk.” Kata Clara asal. Dan Rio hanya menanggapi dengan tertawa.

“Ya udah, kan lo bawa mobil juga, Clara sama lo ya. Gue sama Gio, gimana?” tanya Rio.

“Sip.” Jawab Clara dan David hampir bersamaan.

Mereka akhirnya melaju ke arah rumah Rio. Sebelum pergi Rio menyalakan GPSnya untuk menunjukkan jalan terlebih dulu.

“GPS? Lo pulang ke rumah aja perlu GPS?” Gio tertawa geli.

“Gue baru 4 hari disini, dan ini hari pertama gue keluar rumah di Kanada.” Jawab Rio santai.

“Nyokap lo nggak takut lo ilang?” ledek Gio.

“Yaelah udah gede Gi.” Jawab Rio.

“Maksud gue mobilnya deh.” Lanjut Gio dengan tawa panjang.

Rio hanya geleng-geleng melihatnya.

Akhirnya mereka sampai di rumah Rio, kompleks perumahan yang terjaga sangat ketat. Lagi, Rio membuat teman-temannya kagum dengan ukuran rumahnya yang besar.

“Gue kira ini biasa aja, kayanya si Putri kedubes punya yang lebih deh.” Kata Rio asal.

“Sok tau, gue tinggal di rumah dinas tau. Dan nggak segede ini rumahnya.” Jawab Clara kesal.

Rio hanya tertawa meringis melihat wajah Clara yang langsung berubah kesal. Kemudian Rio mempersilahkan mereka masuk.

“Ma, Rio pulang.” Panggil Rio, lalu Mamanya datang menghampiri.

“Udah pulang sayang? Nggak nyasar kan? GPS kamu berfungsi baik kan? Gimana hari pertamanya di sekolah?” Mamanya memberondong Rio pertanyaan.

“Umm baik, Ma ini ada temen-temen baru aku, mereka semua asal Indo juga Ma. Ini Clara, David, Gio.” Kata Rio memperkenalkan.

Mama Rio agak bergidik takut melihat penampilan Clara dan David yang agak nyentrik itu. Lalu menarik Rio menuju tempat yang agak jauh dari teman-temannya.

“Rio, Mama kasih kamu kebebasan disini bukan berarti kamu bisa temenan seenaknya ya sama yang dandanannya kaya gitu.” Kata Mamanya agak marah.

“Loh, emang kenapa Ma dandanan mereka?” tanya Rio pura-pura tidak mengerti.

“Itu yang cewek antingnya dikuping banyak banget! Di lidah ada, di hidung ada, bajunya minim, udelnya kemana-mana, ditindik pula! Yang cowok juga nggak beda jauh dari itu!” Mamanya menjelaskan dengan tidak sabar.

“Ya itu kan style mereka, yang penting aku nggak ikutan.” Jawab Rio santai

“Tapi lama-lama kalau kamu bergaulnya sama yang begitu terus ya bisa terkontaminasi Rio!” kata Mamanya tidak sabar.

“Gio enggak,” jawabnya sambil menoleh ke arah teman-temannya yang sedang duduk di ruang tamu.

“Tenang aja Ma, aku bukan anak labil yang suka bertingkah macem-macemin gaya aku cuma buat dapet perhatian. Aku udah cukup banyak dapet perhatian kok. Mama percaya kan sama aku?” lanjut Rio membuat hati Mamanya luluh.

“Ya udahlah terserah kamu, Bi Inah nggak masak banyak karena nggak tau temen-temen kamu mau dateng, jadi kamu delivery pizza aja. Minumannya ada banyak soda di kulkas. Inget, gak boleh ada rokok!” Kata Mama Rio mengancam.

“Siap Komandan! Mengerti!” Rio berlagak seperti prajurit yang baru saja mendapat amanat dari komandannya dan memberi hormat.

“Eh, kamar gue di atas. Yuk, ke atas aja.” Rio mengajak teman-temannya.

“Nyokap lo nggak suka ya sama gaya gue Yo?” tanya Clara begitu mereka menaiki tangga.

“Hah? Biasa aja kok.” Jawab Rio bohong.

“Jujur aja, banyak kok orang tua yang nggak suka gaya gue. Termasuk bokap nyokap gue sendiri.” Lanjut Clara.

“Ya, tenang aja kali. Nyokap gue orangnya pengertian kok selama lo nggak ngerubah gue jadi kaya lo sama David.” Jawab Rio setengah tertawa yang diiringi dengan tawa David dan Clara juga.

“Tenang aja, kita nggak pernah berusaha ngerubah gaya orang kok. Kita cinta perbedaan. Ya nggak Vid?” Clara mencari persetujuan.

“Yap bener banget.” Jawab David.

“Kalo nggak percaya tanya Gio, mana pernah sih kita ngajakin dia ngerokok kalo dia nggak minta?” lanjut David.

“Ya karena gue punya asma.” Jawab Gio cepat.

“Nah karena itu kita ngehargain lo. Nggak pernah kan kita ngerokok di depan lo?” lanjut David diiringi dengan anggukan kepala Gio.

“Kalau lo juga nggak suka kita ngerokok di kamar lo juga kita nggak akan ngerokok Yo.” Kata Clara meyakinkan.

“Sebenernya bukan gue yang nggak suka. Nyokap gue.” Jawab Rio tertawa.

“Sama aja!” kata Clara ikut tertawa.

“Yap, ini kamar gue.” Kata Rio begitu mereka sampai di kamarnya dan membukakan pintu untuk mereka.

“Cool.” Kata David.

“Yo, gue kebelet!” kata Gio meringis.

“Itu kamar mandi.” Jawab Rio sambil menunjuk pintu kaca di kamarnya. Dan Gio langsung beranjak menuju kamar mandi.

“Ini siapa?” tanya Clara menunjuk foto Rio berdua dengan seorang gadis.

“Pacar lo?” lanjut Clara menoleh ke arah Rio.

“Yap,” jawab Rio singkat.

“Imut banget. Buat gue aja.” Kata David asal.

“Enak aja!” kata Rio tertawa kecil diiringi dengan tatapan tajam Clara yang melirik ke arah David.

“Clara buat lo deh.” Lanjut David lagi sambil tertawa meledek.

“Lo kira gue barang dituker-tuker?” Clara memberengut.

“Tinggal di Indonesia?” tanya Clara kembali ke topik pembicaraan.

“Iya,” jawab Rio diiringi dengan desahan nafas panjang.

“LDR dong?” tanya Clara lagi.

“Ya gitu lah.” Jawab Rio berat.

“Tahan?” kali ini David yang bertanya.

“Semoga.” Jawab Rio ragu.

“Lo keliatan tipe cowok playboy, nggak mungkin bertahan kayanya.” Kata Clara blak-blakan.

“Nggak juga.” Jawab Rio kurang setuju.

“Nggak juga gimana? Nih, bayangin aja ya. Lo tinggal di Toronto, kota terbesar di Kanada. Sekolah di sekolah paling bagus di Kanada, tinggal di kompleks perumahan termewah di Toronto, mobil lo keren, style lo cool, muka lo nggak jauh sama Aaron Johnson. Cuma lo lebih item aja dikit, tapi jadi keliatan eksotis sih. Jangan dikira gue nggak tau ya begitu mobil lo masuk halaman parkir berapa banyak mata yang merhatiin. Dan jangan fikir gue nggak denger berapa banyak cewek yang teriak histeris waktu lo lewat depan mereka. Dan jangan fikir gue nggak liat seberapa tergila-gilanya si Tracy si cewek murahan yang menurut cowok-cowok di sekolah paling cantik dan seksi itu tergila-gila sama lo. Yakin lo bisa bertahan dengan godaan sebanyak itu?” kata Clara panjang lebar sambil menyender di pundak David.

“Ya, gue nggak sedangkal itu.” Jawab Rio agak bingung.

“Itu nggak dangkal, emang banyak godaan buat lo.” Kata Clara.

“Tapi gue cinta sama Anya, dan ya nggak ada yang bisa gantiin.” Jawab Rio setengah yakin.

“Oh ya? Bahkan dengan free sex sekalipun? Gue denger-denger Tracy itu banyak muasin mantan-mantannya yang ada Kapten tim futball, kapten basket, kapten baseball. Yakin nggak tertarik?” kata Clara dengan pandangan meremehkan.

“Jangan fikir gue pacaran cuma buat menuhin nafsu ya. Perasaan gue sama Anya tuh tulus. Nggak sebanding sama yang kaya gitu.” Jawab Rio dengan perasaan agak bimbang kali ini.

“Dan apakah si cewek imut bernama Anya itu juga begitu sama lo?” tanya Clara menghancurkan keyakinan Rio.

“Gue yakin iya. Pasti. Ya kita cuma lagi dalam proses pendewasaan oleh waktu aja. Nanti juga kalau udah waktunya buat balik, kita bakalan bersatu lagi kok.” Jawab Rio berusaha meyakinkan Clara tapi lebih terlihat seperti meyakinkan dirinya sendiri.

“Dan kapan waktunya itu?” Clara masih terus memojokkan Rio.

“Suatu saat, ya pasti nanti suatu saat,” kata Rio dengan keraguan yang terbaca jelas di kata-katanya.

Clara tersenyum menang, “Lo harusnya lebih realistis sama hidup lo. Jangan terlalu percaya cinta.” Sambil menggenggam tangan David yang kini sudah melingkar dipinggangnya.
Rio terdiam mendengarnya, lalu menjawab dengan pertanyaan, “Lo sendiri emang nggak percaya cinta?”

“Enggak.” Jawab Clara singkat sambil tetap bermesraan dengan David di depan Rio.

“Trus sama David itu apa?” tanya Rio tidak mengerti.

“Gue nggak tau, kita nggak pacaran.” Jawab Clara lagi, lalu menoleh ke arah Rio yang kelihatan semakin bingung.

“Gila, perek banget.” Rio setengah bergumam.

Sedangkan Clara yang mendengarnya hanya tersenyum tanpa sedikitpun merasa tersinggung, “Thank you, but I’m not. Seenggaknya gue masih virgin.” Kata Clara lalu mendorong David menjauh darinya.

“Yakin?” kali ini Rio yang berusaha memojokkan.

“Gue bisa nggak dianggep anak kalau sampe MBA sama ortu gue.” Jawab Clara.

“Udah cukup kakak gue aja yang begitu.” Lanjutnya lagi.

Kali ini Rio terdiam, menyadari ada alasan mengapa Clara seperti ini sekarang, ini bukan sepenuhnya salahnya. Mungkin ia berubah menjadi seorang anak yang nyentrik dan mencolok karena tekanan dari kedua orang tuanya.

“Setiap orang punya sisi gelap kehidupan Yo.” David ikut berbincang.

“Ya, dan sisi gelap itu yang membuat sisi yang lainnya lebih terang. Lo nggak akan tau yang namanya terang kalau belum pernah ketemu gelap.” Clara menambahkan.

“Trus gue belum tau terang gitu berarti? Karena gue belum pernah make narkoba kaya David, dan gue belum pernah jadi korban penekanan orang tua karena kakaknya hamil gara-gara sex bebas. Haruskah gue nemuin sisi terang gue dengan cara kaya gitu dulu? Kaya kalian?” Rio memutar bola matanya dihadapan mereka.

“Nggak, kita juga nggak bilang kalau kita udah nemuin sisi terang.” Jawab David.

“Ya, kita lagi ngejalanin hidup. Berusaha cari sisi terang itu, karena seenggaknya kita udah pernah ngelaluin sisi gelap.” Lanjut Clara.

“Bahkan seorang yang keliatan baik dan menyenangkan kaya Gio pun pernah ketemu sisi gelapnya.” Kata David.

“Oh ya?” Rio menaikkan sebelah alisnya.

“Setau gue dia dulu pernah hidup di jalanan waktu kecil. Sekitar umur 4-5 tahun. Orang tuanya meninggal karena kecelakaan, akhirnya dia di rawat di panti asuhan, trus dia di adopsi sama bapak-bapak gitu yang ternyata anggota perdagangan anak. Gio berhasil kabur dan akhirnya dia hidup di jalanan gitu diurus bareng sama preman. Katanya sih biarpun preman, tapi yang ngurusin dia itu baik, walaupun dia disuruh ngamen, uangnya buat makan sehari-hari, trus sebagian ditabung buat mulangin Gio ke panti asalnya. Akhirnya setelah setahun uang itu terkumpul juga, dia dianter ke panti itu sama si preman dan si bapak-bapak anggota komplotan penjual anak itu ketangkep dan masuk penjara. Usia 8 tahun Gio akhirnya diadopsi lagi, kali ini sama keluarga sederhana tapi baik. Pasangan yang udah nikah 15 tahun tapi belum punya anak. Mereka sayang banget sama Gio, 2 tahun setelah Gio diadopsi, mereka dapet anak mereka sendiri, ya tapi tetep mereka sayang sama Gio. Akhirnya tapi Gio dapet beasiswa kesini dan mutusin untuk ambil aja, dan kedua orang tua angkatnya sangat setuju. Disini juga Gio dapet orang tua angkat lagi. Emang udah prosedurnya anak-anak beasiswa di Kanada dapet orang tua dan kehidupan yang layak.” Terang Clara panjang lebar..

“Lo tau banyak tentang Gio kayanya?” Rio mengangguk-angguk meresapi cerita tersebut.
Wajah Clara memerah, “Hah? Enggak. Itu karena dia pernah cerita sama gue aja.”

“Lo suka sama Gio?” tanya Rio tanpa basa-basi.

David terlihat menunduk dengan tangan yang mengepal di lantai saat Rio bertanya langsung seperti itu pada Clara. Sedangkan Clara terlihat gelagapan dengan pertanyaan Rio.

“Nggak kok. Mana mungkin gue suka sama anak kaya dia. Nggak mungkin lah.” Clara berusaha menutupi ekspresi malunya.

“Dia bohong Yo, dia suka banget.” Jawab David.

“Lah, terus lo gimana Vid?” tanya Rio kali ini benar-benar bingung dengan yang terjadi antara mereka bertiga.

“Gue udah nembak Clara berkali-kali tapi nggak dijawab, dan Clara udah curhat sama gue sambil nangis ribuan kali saat Gio nggak peka sama sekali tentang perasaannya.” Jawab David ketus, sedangkan Clara mulai agak risih dengan pembicaraan kali ini dan bangkit dari tempat duduknya lalu melangkah ke balkon kamar Rio.

“Jadi sebenernya Gio tau atau enggak perasaannya Clara?” tanya Rio masih belum mengerti.

“Tau, tapi pura-pura nggak tau.” Jawab David.

“Kenapa?” Rio makin tertarik.

“Karena dia suka sama cewek itu.” Jawab Clara tiba-tiba dari balkon sambil menunjuk ke bawah, ke arah seorang gadis yang baru saja Rio kenal tadi pagi.

Rio menghampiri Clara ingin melihat gadis yang dimaksud, ternyata dia Sally, temannya di kelas seni tadi pagi.

“Sally?” Rio menyebutkan nama itu dengan bingung dan menoleh ke arah Clara.

“Jadi lo udah kenal?” tanya Clara ketus.

“Kebetulan kenal di kelas seni rupa tadi pagi.” Jawab Rio.

“Ya, dia Sally. The silence and misterious girl yang bikin Gio tergila-gila sama dia.” Clara menatap ke arah gadis yang sedang duduk di halaman rumahnya sambil memegang kertas itu dengan pandangan iri.

Rio berbalik masuk ke kamarnya, dan kemudian tidak lama setelah itu Gio kembali dari kamar mandi. Dan ikut makan bersama Rio dan David yang sedang menyantap pizza yang sudah di pesan, sedangkan Clara tetap berdiri di pinggir balkon.

Rio menghampiri Clara, memberikannya sepotong pizza untuk dimakan.
 
“Udah nih makan, lo ngeliatin apaan sih?” kata Rio memberikan pizza itu.

“Nothing.” Jawab Clara sambil mengedikkan bahunya.

“Sally ya?” tanya Rio menatap ke arah gadis yang masih duduk di bawah pohon itu. Clara hanya mengedikkan bahunya sambil mengunyah pizza dimulutnya.

“Udah lah, kalo Gio emang sukanya sama cewe itu mau diapain lagi. Masih ada David kan? Lagian kayanya David bener-bener jatuh cinta sama lo tuh.” Kata Rio berusaha menghibur.

“Lo nggak ngerti rasanya jadi gue, makanya bisa seenak itu ngomongnya.” Kata Clara ketus.

“Bukannya gitu Clar, tapi buat apa sih ngejar-ngejar orang yang kenyataannya udah nunjukkin banget kalau nggak suka sama kita? Udah lah, let it flow aja. Hidup ini terlalu indah kalau cuma dipakai buat berandai-andai tentang memeluk satu orang yang nggak mungkin lo tangkap.” Kata Rio beranalogi.

“Hemm yeah, right.” Kata Clara menatap jauh.

“Dan sadar nggak, kata-kata itu juga cocok sama kondisi lo sekarang. Buat apa hidup dengan berandai-andai untuk memeluk seseorang yang nggak mungkin lo tangkap? Seseorang yang jauh disana, yang lo bahkan nggak tau dia lagi ngapain, sama siapa, mikirin lo juga apa enggak kaya lo mikirin dia.” Lanjut Clara menembak tepat saluran nafas Rio dengan kata-kata tersebut sehingga menimbulkan sesak.

“Jangan sok tau tentang Anya kalau lo nggak tau apa-apa.” Rio meletakkan telunjuknya tepat di depan wajah Clara dengan geram.

“Fine. Dan jangan campurin hidup gue kalau lo nggak tau apa-apa.” Kali ini Clara menjinjit sehingga wajahnya setara dengan wajah Rio sambil mencondongkan badannya sehingga kini ia bisa merasakan aliran napas Rio yang menyepat di wajahnya.

Rio berbalik badan, meninggalkan Clara sendiri di balkon. Baginya tidak ada gunanya memperdebatkan masalah dengan seseorang seperti Clara. Kelihatannya dia adalah tipe orang yang tidak pernah ingin disalahkan. Clara akan terus membantah dan memojokkan lawan bicaranya agar menyerah. Keras kepala. Begitu menurut Rio.

Clara kemudian ikut masuk juga. Mengambil soda dan duduk di sebelah David.

“Welcome to USA, sorry kalau cara ngomong gue terlalu blak-blakan. Sorry kalau nggak sesuai sama cara hidup lo dulu. But, lo yang harus nyesuaiin diri. Ini USA, bukan Indonesia. Jadi lebih baik nggak usah tersinggung.” Kata Clara santai.

“Well, lo nggak ngambek kaya cewek-cewek cengeng di tv-tv itu kan?” lanjut Clara meledek.

“Enggak lah, rese lo.” Rio tertawa sambil menjitak kepala Clara. Clara meringis dan kemudian hening.

“Kalian suka ngeband? Bisa main alat musik?” tanya Rio memecah keheningan diantara mereka.

“Gue bisa main drum.” Jawab Clara.

“Gue bisa bass, gitar, drum,” David ikut menjawab.

“Cool, kalo lo Gi?” mereka bertiga menoleh kearah Gio.

“Piano, keyboard, gitar, biola, saxophone.” Jawab Gio sambil menyenderkan tubuhnya ke tempat tidur Rio.

“Good, kita bisa bikin band kalau gitu.” Kata Rio tersenyum penuh arti.

“Mau main dimana?” tanya Gio bingung.

“Disini.” Jawab Rio singkat.

“Lo punya studio sendiri? Oh, God thanks akhirnya engkau kasih kita satu spesies keren di kelompok ini.” Kata Clara setengah bergurau.

“Yap, ada di kamar ini kok.” Rio tertawa kecil.

“Hello, Rio. Gue udah 3 jam disini loh. Dan gue cuma liat ada 3 pintu. 1 pintu yang bisa diakses langsung ketangga, 2 pintu kamar mandi, 3 pintu lemari pakaian yang mustahil kalau itu adalah studio. Nggak mungkin kan lo punya secret room?” Gio berusaha berfikir logis.

“Nggak ada yang mustahil di dunia ini.” Jawab Rio lalu mendorong tembok di belakangnya.

“Yuk, masuk.” Lanjut Rio mempersilahkan ketiga temannya masuk ke studio band miliknya. Sedangkan mereka hanya menurut dengan tatapan tidak percaya.

“Abis ini apalagi? Disneyland di halaman belakang rumah? Lo bener-bener penuh kejutan tau nggak.” Kata Clara senang langsung menuju drum set dan mulai memainkannya.

“So, gue bisa main gitar. Dulu gue sempet jadi vokalis. Kalian terserah mau mainin apa.” Rio mengambil gitar hitam yang berdiri rapih di tempatnya.

Gio mengambil gitar juga, lalu David mengambil bass. Hari itu mereka habiskan di studio musik milik Rio. Sekitar jam 9 malam mereka pulang. Rio sampai lupa menghubungi Anya hari itu.

Baru saat semua teman-temannya pulang ia mengecek handphonenya yang terdapat 5 sms dari Anya, 3 email dari Anya, 2 mention dari Anya. Rio buru-buru mengambil telfon rumahnya dan menelfon Anya panik.

Sekali ia menghubungi Anya tidak diangkat, kedua kali, ketiga kali, keempat kali, sampai akhirnya yang kelima kali Anya mengangkat dengan suara malas.

“Sayang, maaf aku lupa. Tadi ada temen dateng ke rumah. Maaf banget aku keasyikan main.”

“Oh, hemm udah punya temen toh. Cepet ya.” Jawab Anya kesal.

“Iya orang-orang Indonesia juga loh, trus tadi aku ngeband sama mereka. Lupa banget Nya mau hubungin kamu. Maaf ya.” Rio terus meminta maaf.

“Gak apa-apa. Hidup kamu kan bukan cuma aku. Lagi pula kamu punya kehidupan baru yang lebih asyik dijalanin kan daripada kehidupan lama kamu seperti aku?” kali ini suara Anya terdengar agak dalam.

“Hah? Kok kamu ngomong gitu sih?” Rio pura-pura tidak mengerti.

“Nggak usah sok nggak ngerti Yo! Kamu yang paling ngerti apa yang lagi kita hadapin saat ini. Kamu tau nggak! Aku udah bangun dari jam 3 pagi cuma buat nungguin telfon kamu, nungguin kamu online skype, nungguin janji kamu yang katanya pengen hubungin aku setiap pulang sekolah walaupun itu berarti aku harus bangun sedini itu. Aku nggak peduli harus bangun jam berapa, tidur jam berapa, selama bisa komunikasi sama kamu aku bakalan lakuin. Tapi kamu bikin aku kecewa Yo, kecewa banget. Katanya jarak nggak akan bisa bikin kamu lupain aku. Tapi apa? Baru segitu aja aku udah dilupain kan?” Anya mencurahkan semua yang ada dihatinya dengan setengah berteriak.

“Nya, aku...”

“Apa? Nggak ada yang perlu dijelasin. Cukup. Aku ngantuk. Capek nungguin kamu dari pagi.” Anya memotong kata-kata Rio dan langsung ada bunyi nut panjang di handphone Rio. Sambungan terputus, Anya mematikan telfonnya. Ia benar-benar marah dengan Rio saat ini. Rio menatap lama layar handphonenya. Seketika rindunya kepada Anya menguat, membuat dadanya sesak dan pandangan matanya dikaburkan oleh airmata. Rio menyesal, sangat menyesal kali ini.

Ia mengambil ipodnya dan memasang headphone di kepalanya, lalu teringat akan buku harian yang Anya berikan padanya. Ia mengambil buku itu dan memeluknya erat seakan dengan memeluk buku itu kegundahannya akan hilang. Tapi Rio sadar, rasa sakit ini akan menetap untuk beberapa saat. Menemaninya menjalani hari-hari tanpa Anya.

Miles and miles passed by
And I’m alone
My eyes feel like they’re bleeding
But I’m just crying
Is this what I ask for?
Is this what I ask for?
I hate my self when I’m away from you
I swear I’m sorry
Please don’t hate me too
(Distance – Secondhand Serenade)

“Aku tau jarak telah memisahkan kita ribuan mil, dan waktu memisahkan kita berjam-jam. Aku tau mereka tak lagi mengizinkan kita menatap bulan, bintang, dan matahari pada saat yang sama. Saat ini aku benar-benar kecewa akan diriku sendiri yang tidak mampu melawan waktu untuk tetap mengingatmu. Mataku terasa seperti berdarah memikirkan kesalahan bodoh yang telah aku lakukan, padahal nyatanya aku hanya menangis. Ini yang selalu aku tanyakan padamu dulu, ini yang selalu aku ragukan sejak dulu. Apakah kita sanggup menjalaninya? Aku belum lelah, tapi aku yakin aku akan. Aku benci keadaan ini. Aku benci diriku saat harus jauh darimu. Aku bersumpah, aku minta maaf. Tolong jangan ikut membenciku juga. Aku hanya butuh waktu, untuk kembali pulang padamu suatu saat nanti, saat mereka menyerah memisahkan kita. Karena aku yakin, aku tercipta untukmu.”
*****

Oke sampe situ dulu yak part kali ini. Semoga puas dengan part yang ini. Part selanjutnya gue nggak tau kapan bisa ngepost, tapi doain secepetnya aja deh ya. Oke segini dulu, gue harus belajar, karena besok UTS Pkn, yap, see you next post readers. Bye... 

0 komentar:

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos