Friday, April 06, 2012

Cerbung - Will It Be Us Part 10

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 06:23
Reaksi: 
Hai, malam readers... Gimana kabarnya? Pada baik nggak? Semoga baik ya. Okay, hari ini mood gue lagi baguuuussss banget! Gatau kenapa pokoknya hari ini lumayan menyenangkan.

Oh iya, sesuai janji gue bakalan post part selanjutnya malem ini. Yaudah yuk nih baca....

Will It Be Us Part 10



Hari ini hari pertama Rio sekolah, jam setengah 7 pagi ia bangun lalu segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. 15 menit berlalu, dan sekarang Rio sedang membuka lemari pakaiannya. Ia memilih sebuah kaus abu-abu, celana jeans hitam, dan jaket abu-abu. Ia lalu memilih-milih sepatu yang cocok untuk ia kenakan hari ini di tumpukan sepatu barunya. Akhirnya ia menetapkan pilihannya pada sebuah Supra warna abu-abu dengan sedikit corak merah.

Rio mengambil headphone dan ipodnya lalu mengalungkan headphonenya di leher dan menaruh ipodnya disaku celana kanan. Ia turun ke bawah untuk sarapan. Disana sudah ada Mamanya yang sedang mengoleskan selai ke roti.

“Aduh, anak Mama makin ganteng ya.” Puji Mama Rio.

“Mama ngarang aja.” Jawab Rio asal lalu mengambil selembar roti dan mengoleskan selai kacang diatasnya.

“Hari ini aku dianter siapa Ma?” tanya Rio.

“Nggak dianter siapa-siapa, tuh kunci mobil kamu.” Jawab Mamanya sambil menggigit ujung roti isi selai strawberry.

Rio tersedak mendengarnya, ia buru-buru meminum susu yang ada di hadapannya.

“Tapi kan aku nggak tau jalan Ma? Trus, mobil aku? Mobil yang mana?” tanya Rio tidak mengerti.

“Ya udah abisin dulu makannya, ini kunci mobilnya. Baru abis itu susul Mama ke depan.” Jawab Mamanya lalu berlalu pergi.

Rio buru-buru menghabiskan roti dan susunya, lalu berlarian ke depan rumah. Disana Mamanya sedang berdiri menyandar pada sebuah mobil miata warna hitam mengkilap. Rio terkejut melihatnya dan menghampiri Mamanya.

“Yap, ini mobil kamu.” Kata Mamanya menjawab ekspresi tidak mengerti Rio.

“Tapi percuma Ma, aku nggak tau jalan.” Jawab Rio.

“Ya ampun Rio, ini abad ke20 sayang. Mobil ini udah dimodifikasi untuk kenyamanan dan keamanan kamu pokoknya, lengkap dengan GPS, stereo set, TV, bahkan ada wii di dalem.” Kata Mamanya.

“Ma, ini nggak terlalu berlebihan ya?” tanya Rio agak bingung.

“Enggak lah, lagian selama ini kamu jarang minta sesuatu sama Papa sama Mama. Lagipula mobil kayanya udah jadi salah satu benda wajib anak-anak seumur kamu disini. Udah gih sana pergi, nanti telat loh. GPSnya kata Papa baru di set jalan tercepat menuju sekolah kamu, kantor Papa, mall terdekat, dan jalan menuju pulang dari tempat-tempat itu. Kalau pengen ditambahin nanti bisa minta tolong Om Axcel kata Papa.” Jelas Mamanya.

“Ma, aku nggak tau nih cara ngungkapin terima kasihnya sama Mama sama Papa. Ini cool banget Ma.” Kata Rio.

“Cukup dengan belajar yang bener. Udah sana berangkat.” Kata Mamanya.

“Sip Ma, ya udah bye Ma.” Kata Rio menyalimi tangan Mamanya lalu masuk ke dalam miatanya.

“Kita orang Indonesia sayang, assallamualaikum dong.” Kata Mamanya.

“Oh iya, Assallamualaiku Mama.” Kata Rio tertawa renyah. Diiringi dengan tawa Mamanya juga yang menjawab, “Waallaikumsallam.”

Rio mengendarai mobil barunya dan GPSnya menyambut dengan suara seorang wanita yang meminta Rio memilih tempat yang akan ia tuju. Rio menyentuh layar GPS itu, memencet tulisan School pada touchscreen GPS itu.
GPS itu langsung memberikan Rio informasi dengan sangat detail tentang jalanan yang harus ia tempuh, tidak mungkin Rio akan menyasar kalau dengan bantuan alat secanggih ini, apalagi bahasanya sudah dibuat dengan Bahasa Indonesia. Rio tersenyum menikmati perjalanan pertamanya di Toronto pagi ini.

Ternyata jarak sekolah dengan rumahnya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 30 menit, padahal Rio membawa mobilnya dengan kecepatan hanya 60km/jam. Jalanan di Toronto tidak berbeda jauh dengan Jakarta, kanan dan kirinya dikelilingi gedung bertingkat. Rio beruntung rumahnya merupakan kompleks elite di negara itu, sehingga tidak perlu tinggal di antara gedung-gedung yang terlihat menyesakkan itu. Tapi memang Toronto jauh lebih indah dan teratur dibanding Jakarta, semua yang ada disana kelihatan rapih tanpa sedikitpun kesan kumuh.

Rio memarkirkan mobilnya di bawah sebuah pohon pinus, tidak begitu jauh dari gerbang. Banyak anak-anak yang memperhatikan mobilnya saat ia sedang memarkirkan mobilnya. Untuk pertama kali ia merasa deg-degan diperhatikan seperti itu, padahal sebelumnya dia juga sering diperlakukan seperti itu oleh kebanyakan orang yang melihatnya turun dari mobil mewah, mungkin karena tempat ini asing dan tidak ada satupun yang Rio kenal.

Rio berusaha mengalihkan perasaan gelisahnya dengan memakai headphonenya dan menyalakan lagu. Ia mengaca sebentar di kaca mobilnya, lalu turun. Banyak sekali yang memperhatikannya sekarang. Anak-anak yang baru turun dari bus sekolah dan beberapa yang sedang lewat, dan juga yang sedang duduk-duduk, beberapa perempuan terlihat agak histeris melihatnya.

Memang penampilan Rio hari itu benar-benar cool, dengan kaus abu-abu muda ditambah dengan jaket abu-abu tua, lalu celana jeans hitam, dan sepatu supra abu-abu di kakinya. Juga sebuah headphone jenis army yang bertengger di kepalanya dan kulitnya yang kecokelatan mulus, lehernya yang terlihat kokoh, wajahnya yang bersih, dan rambut hitam lebat mengkilapnya yang sekarang dibuat model spike. Benar-benar sempurna. Rio berjalan berusaha tidak menghiraukan tatapan mata kagum bule-bule itu, karena sejujurnya ia benar-benar salah tingkah saat ini.

Rio berjalan memasuki gedung sekolah mencari ruang administrasi, lalu tiba-tiba seorang perempuan berambut pirang setinggi hidungnya menghalanginya.

“Hi, where do you want to go?” kata perempuan itu centil di depan Rio.

“Administration room or Principal room maybe.” Jawab Rio santai mundur menjauhi gadis itu yang dirasanya terlalu dekat.

“You are new here? Oh common babe, I show you the way,” kata gadis itu centil lalu mengapit tangan Rio dan menggandengnya.

“So, where are you from? India? Umm, Malay? Pakistan? Turkey?” tanya gadis itu terus menempelkan tubuhnya pada Rio yang mulai agak risih.

“Indonesia.” Jawab Rio singkat.

“Cool, it’s beautiful country, right?” gadis itu makin centil.

“Umm, sometimes.” Jawab Rio lega akhirnya ia sampai di depan ruang administrasi, berarti gadis ini bisa melepaskan tangannya sekarang.

“Okay, umm...” Rio kebingungan menyebutkan nama gadis itu karena ia belum tau.

“Tracy,” potong gadis itu manja.

“Okay Tracy, I think you are really really sweet girl. Thank you. See you later.” Kata Rio melepaskan tangannya yang digelendoti kuntilanak bule itu.

“Wait, wait,” gadis itu menahan Rio.

“Yes, what?” tanya Rio mulai tidak sabar.

“I don’t know your name yet.” Tracy mengerling genit.

“Rio. I am Rio, 10th grade. Enough?” Rio mulai kehabisan kesabaran.

“Okay, take care baby. I wish we’ll have meet again in a same class.” Tracy melambai genit.

“I wish no.” Rio bergumam dalam hati. Gadis itu cantik, tubuh langsing, kulit putih, hidung mancung, mata cokelat, rambut pirang dengan ikal menggantung dibagian bawahnya sepinggang. Tapi entahlah, gadis itu benar-benar tidak menarik bagi Rio, tipe sama seperti Brenda, gampangan, bukan tipenya.

Rio masuk ke Administration room, dan kemudian ia mengisi kelas apa saja yang akan ia ikuti. Akhirnya Rio selesai, ia mengikuti kelas seni rupa, seni musik, bahasa inggris, matematika, fisika, kimia, biologi, sejarah, geografi, dan olah raga. Lalu jam karena ia menuliskan mengikuti Seni rupa pada jam pertama ini ia diantar ke kelas seni rupa oleh salah satu pegawai administration room.

Saat masuk kelas sepertinya sudah di mulai. Guru yang sedang mengajar mempersilahkannya masuk.

“Okay, how are you?” tanya guru wanita itu ramah.

“Fine.” Jawab Rio tersenyum memukau gadis-gadis di kelas itu yang kini ribut memperbincangkan dirinya.

“Introduce yourself please.” Kata guru itu.

“Hello, I am Aditya Rio Pratama, or you can call me Rio. I came from Jakarta, Indonesia.” Kata Rio memperkenalkan diri sambil memasukkan tangannya kedalam saku celana jeansnya. Lalu memandang gurunya.

“Enough? Okay you can take your drawing table, paint tools and the canvas at that lockers.” Kata guru itu menunjuk ke loker di pojok kelas.

“And you can have a seat at the empty chair. Okay, you can go now.” Lanjut gurunya mempersilahkan.

“Thank you,” jawab Rio dan mengikuti instruksi gurunya.

Rio berjalan mencari tempat duduk yang kosong, ada di sebelah seorang gadis berambut kecokelatan. Rio berjalan menuju sana dan duduk di sebelahnya.

“May I sit here?” tanya Rio sopan.

“Sure,” jawab gadis itu cuek.

Rio menoleh ke arah gadis itu, sepertinya hanya dia yang tidak sibuk mempeributkan dirinya. Cukup cantik, rambut cokelat mengkilap, dengan kulit yang tidak terlalu putih tapi tidak hitam juga, hidung mancung, mata hitam, gadis keturunan Dravida sepertinya.

“What?” gadis itu menoleh kearah Rio saat sadar ia diperhatikan.

“Umm, no. I’m Rio,” jawab Rio gugup.

“I know, you said that in front of the class. Everyone heard.” Jawab gadis itu santai.

Sikap cuek gadis ini entah kenapa mengingatkannya pada Anya saat baru pertama kenal dengannya, Rio akhirnya bertanya, “Umm okay, your name?”

“Sally,” jawabnya singkat tetap menekuni canvasnya menggambar sebuah sketsa pemandangan.

“Nice to know you, Sally.” Kata Rio.

“Yap,” Sally hanya menjawab singkat.

Rio akhirnya tenggelam dalam canvasnya, untuk pertemuan awal Ms. Michella membebaskan semua yang mengikuti kelasnya melukis bebas untuk mengetahui bakat masing-masing. Ia  melukiskan Anya dengan background taman airmancur tempat terakhir mereka berkencan. Baru separuh jadi Ms. Michella berjalan berkeliling dan ia sampai di tempat Rio.

“Wow, you have really good skill of art Rio. Keep it on.” Puji Ms. Michella.

“Thank you,” jawab Rio sambil tetap berkonsentrasi meneruskan lukisannya.

Sally menoleh ke kanvas milik Rio lalu bertanya, “That’s really or not?”

“Pardon me?” Rio tidak mengerti.

“The girl in your paint. Is she real?” tanya Sally.

“Yes, of course. Why?”

“Wow, she is really beautiful. Is she yours?” tanyanya lagi

“Yes, we have been loving each other since three years ago.” Jawab Rio tersenyum sambil tetap memandangi lukisannya.

“You are really really lucky man. You have a good skill, taste, parents, car, and the beautiful girl that love you so much. That’s really great.” Kata Sally.

“You know about my parents? My car? Are we have ever met before?” tanya Rio agak terkejut.

“Maybe you don’t see and know me, but I live in front of your house. When you came I was playing with my little sister.” Jawab Sally.

Rio tertawa, “Oh, good now I have a friend to go to school together.”

Sally tertawa juga, “I think no, I bring my own car.”

“Ah, but if you want to go with me I think you can show me fun place in Canada. Here is really strangers place for me, you know?” kata Rio memohon

“Okay, but maybe tomorrow, not now.” Jawab Sally.

“Really, really a big thanks for you Sally!” kata Rio.

Sementara itu beberapa anak terlihat iri dengan Sally yang kelihatan akrab dengan Rio. Sebenarnya Sally bukan anak populer, ia cenderung anak aneh, karen sering menyendiri dengan pensil dan scetch booknya. Sally sangat suka melukis.

Sekarang istirahat pertama, Rio memilih untuk duduk dibawah pohon di taman sekolah dibanding ke kantin. Ia belum lapar, lagi pula baru jam 10, dan setelah kelas berikutnya ia akan mendapatkan istirahat keduanya.

Rio membuka MacBooknya, sebelumnya ia sudah mengirim Anya SMS untuk stand by on Skype sekitar jam 9 Malam di Jakarta, karena jam 10 pagi adalah jam istirahat Rio.

Ketika baru selesai sign in ternyata Anya sudah ada. Ia langsung menyapa Anya senang.

“Anya, kangeeeenn!!!” kata Rio.

“Sama, aku juga,” jawab Anya tersenyum manis.

“Gimana tadi? Ketemu temen baru? Asyik nggak?” lanjut Anya bertanya.

“Temen baru ya banyak, yang deket belum ada. Paling baru sekedar say hi. Gimana ya Nya, dibilang asyik ya biasa aja, tapi dibilang nggak asyik nanti dianggap nggak mensyukuri.” Jawab Rio.

“Cewek sana cakep-cakep ya Yo?” tanya Anya bergurau.

“Lumayan.” Jawab Rio singkat sambil menyembunyikan senyum gelinya melihat perubahan ekspresi Anya yang langsung badmood.

“Trus udah ada yang kamu suka belum?” tanya Anya sambil memutar bola matanya.

“Maunya gimana?” tanya Rio menggoda.

“Ya nggak tau lah. Kamu yang ngerasain kenapa nanya ke aku?” jawab Anya agak kesal kali ini.

“Umm, cemburu tuh.” Kata Rio diiringi dengan tawa geli melihat Anya.

“Enggak,” jawab Anya ketus.

“Jujur.” Sahut Rio.

“Iya,” jawab Anya.

“Berarti nggak sayang,” gumam Rio.

“Hah?” Anya tidak mengerti.

“Cemburu kan tanda sayang Anya manisku...” kata Rio.

“Terus?” Anya hanya memandang tanpa ekspresi.

“Ya, kalau nggak cemburu berarti nggak sayang lah.” Jawab Rio justru agak kebingungan.

“Emang kamu nyaman kalau akunya cemburuan?” tanya Anya dengan alis terangkat sebelah.

“Ya, nggak over juga tapi cemburuannya maksudku.” Jawab Rio.

“Hhhh, bikin bingung nih kamu.” Anya menghela napas panjang.

“Bingung kenapa?” tanya Rio.

“Tadi minta dicemburuin, tapi katanya nggak nyaman juga dicemburuin. Trus maunya apa?” Anya menyahut gemas.

“Maunya disayang terus sama kamu,” jawab Rio sambil mengedipkan matanya genit.

“Ih, genit.” Anya tertawa.

Lalu tiba-tiba seorang perempuan duduk di sebelah Rio dan mendekap tangan Rio. Sambil berkata-kata genit, “Rio, kamu kok disini sih?” katanya dalam bahasa Inggris yang manja.

“Ahh, lepasin dong.” Jawab Rio dalam bahasa Inggris juga, terlihat agak panik karena Anya masih bisa melihatnya karena koneksi skype mereka belum terputus.

Lalu gadis itu tiba-tiba melihat kearah MacBook Rio dan bertanya dengan gayanya yang centil dan heboh itu dalam bahasa Inggris, “OMG, OMG, Rio kamu lagi video call? Sama siapa?”

Rio hanya menghela napas dan berusaha berbicara lagi dengan Anya.

“Jangan dimasukin hati Nya, bule gila nih. Kenal juga baru.” Jawab Rio menggeleng-gelengkan kepala. Sedangkan si gadis itu atau Tracy tidak mengerti dengan bahasa yang Rio pakai.

“Yakin? Selingkuhan bukan tuh?” tanya Anya menyelidik.

“Ngobrol sendiri deh nih, dengerin ya?” Rio menoleh ke arah Tracy yang masih kebingungan dengan percakapan Rio dan Anya.

“Dia pacarku di Indonesia, kamu mau kenalan sama dia nggak?” kata Rio dengan bahasa Inggris keras dengan penekanan pada kata pacarku.

Tracy tampak agak kesal setelah Rio berkata begitu, tapi dia tetap memperkenalkan dirinya kepada Anya.

“Aku Tracy Mc Allister. Senang berkenalan dengan kamu,” katanya dalam bahasa inggris sambil tersenyum licik.

“Aku Anya, pacarnya Rio, senang berkenalan dengan kamu juga.” Jawab Anya dalam bahasa inggris juga dengan senyum setengah hati.

“Jadi, sepertinya aku ganggu disini, okay, sampai ketemu nanti kalau gitu Rio. Bye.” Kata Tracy lalu bangkit dari duduk di tanah di samping Rio dan berlalu pergi.

“Jadi, baru sehari udah punya fans?” Anya terlihat jengkel.

“Banyak, tapi itu yang paling agresif.” Jawab Rio cuek.

Anya gemas dibuatnya, ia menunjukkan tangannya yang meremas udara mempraktekkan seperti ingin meremas Rio dalam genggaman tangannya karena kesal sambil berkata, “Ih, nggak peka banget sih!”

“Aku tau kok, kamu cemburu kan?” jawab Rio santai sambil menyender di pohon di belakangnya.

“Tau ah.” Jawab Anya ketus.

“Tapi serius, aku disini baru kenal beberapa orang, jangankan suka, tertarik aja enggak aku sama bule. Aku nggak suka mereka itu terlalu putih, terlalu mancung, terlalu kurus, terus kulitnya suka pada ada bintik-bintik hitam kaya flek gitu, trus rambutnya kaya nenek-nenek ubanan, trus matanya pada warna-warni jadi nggak keliatan alami, terus rata-rata pada nggak tau sopan santun.” Terang Rio panjang lebar.

“Yakin?” tanya Anya agak lega saat ini.

“Yap, cuma wanita Indonesia yang sempurna di mata aku. Dan itu cuma ada 2.” Jawab Rio tersenyum misterius membuat Anya penasaran.

“Siapa?”

“Kamu dan Mamaku.” Jawab Rio tersenyum memukau.

Anya sempat tertegun beberapa saat terpukau dengan ketampanan Rio, dia seketika merindukan bagaimana cara Rio membekukannya dengan hanya menatapnya secara langsung sambil memberikan senyuman semacam itu, seketika ia merindukan bagaimana cara Rio menggenggam tangannya, mendekap hangat tubuhnya, menyelipkan sejumput rambut Anya ke belakang telinga. Seketika Anya merindukan hangatnya jemari tangan Rio dalam genggamannya yang selalu membuat sensasi menyetrum dan perasaan hangat serta membuat jantung Anya selalu berdegup lebih cepat, membuat darah Anya berdesir hebat. Seketika Anya merindukan harum tubuh Rio yang selalu mengisi udara disekelilinhnya setiap kali berada di dekat Rio, merindukan aroma memabukkan dari tubuhnya yang sampai detik ini masih Anya ingat jelas detail harum kelembutannya yang juga menunjukkan keharuman dan kesegaran yang juga tidak meninggalkan kesan laki-laki pada dirinya. Kesempurnaan yang benar-benar membuat Anya benar-benar tergila-gila dan merasa tidak mungkin sanggup menjalani kehidupan tanpa laki-laki di dalam layar ini.

“Makasih,” kata Anya tulus sambil tersenyum ketika tersadar dari lamunannya.

“Buat?” tanya Rio.

“Mencintaiku seperti kamu mencintai Mama kamu.” Jawab Anya mantap, airmata sudah menggenang dimata kini, tapi ia tetap berusaha menjaganya untuk tidak jatuh mengingat pesan yang pernah Rio berikan padanya dulu.

“Tentu Nya, sama-sama. Kamu berhak dapetin itu karena kamu spesial.” Jawab Rio.

“Akankah selamanya?” gumam Anya diiringi ekspresi tidak mengerti dari Rio.

“Maksud kamu?”

“Nothing, kamu istirahat berapa lama? Udah stengah jam nih kita video call.” Kata Anya mengingatkan.

“Ini udah mau masuk sih Nya sebenernya.” Jawab Rio jujur.

“Ya udah gih sana masuk. Aku juga udah ngantuk nih.” Kata Anya berbohong.

“Oke deh, see you later sayang.” Kata Rio.

“See you later juga.” Jawab Anya melambaikan tangannya.

“Good night, have a nice dream.” Lanjut Rio lagi.

“Umm, aku bingung mau jawab apa. Selamat belajar dan sekolah aja deh kalau gitu.” Kata Anya tertawa kecil. Diiringin dengan tawa Rio juga.

Lalu koneksi terputus, Anya mematikan koneksinya. Ia menaruh laptopnya dan berbaring di atas tempat tidurnya menatap langit-langit kamarnya.
Ia mengambil Ipod di samping bantalnya dan memakai earphone dan menyalakan lagu dari list Ipod miliknya itu.

All those crazy things we did
Didn’t think about it just went with it
You’re always there, you’re everywhere
But right now I wish you were here
Damn, damn, damn, what I’d do to have you here?
Here, here, here, I wish you were here
Damn, damn, damn, what I’d do to have you near?
Near, near, near, I wish your were here...
(Wish You Were Here - Avril Lavigne)
 
“Aku ingat semuanya tentang kita. Hari ini aku merindukanmu. Rindu ini semakin pekat dari hari keharinya. Aku tidak mengerti dengan perasaanku. Semakin sering kita berbicara, justru semakin sering perasaan ini menyiksa ingin tetap mendengar suaramu. Dulu, kamu selalu ada disini menemaniku. Kamu ada dimanapun aku ada. Sekarang? Jangankan untuk selalu berada disisiku, untuk bertemu dan berpelukan erat seperti dulu lagi saja kita sudah tidak mampu. Dan, yah sungguh aku tidak tau bagaimana caranya menghilangkan monster rindu yang ada di dalam hatiku ini, yang sepertinya menjadi liar semenjak kamu pergi. Aku sungguh-sungguh tidak tau cara menghilangkannya, termasuk cara membawamu kesini disampingku untuk membantuku menjinakkan monster mengerikan di dalam hatiku ini. Ah, yah. Aku berharap. Hanya bisa berharap. Berharap kamu ada disini menemaniku, tidak terlalu jauh untuk mengelap airmataku yang kini sudah tumpah. Sungguh, aku membutuhkanmu disini, kuharap kaupun begitu.”
 *****

Gimana part ini? Seru? Puas? Umm, semoga iya ya. Oke deh segini dulu, besok lanjutin lagi ya maleman juga jam segini lah. Okay see you next post ya :) 

0 komentar:

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos