Saturday, March 31, 2012

Cerbung - Will It Be Us Part 7

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 23:53
Reaksi: 
Helloooo, sesuai janji kemaren kan mau posting hari ini ya?

Nah, gue nepatin janji nih, gue mau posting sekarang. Agak maju ya dari jam janjinya? Ya biarinlah, intinya tetep aja, gue janjinya kan sekitar jam 2an. Nah ini udah setengah 2. Jadi nggak apa-apa ya. Yaudah yuk baca part hari ini.

Hope you'll enjoy...

Will It Be us Part 7


 Umm, Anya. Hello. Anya?” Anya tersadar dari lamunannya saat Rio melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Anya.

“Eh hehe iya. Kenapa?” jawab Anya agak canggung.

“Ngelamun ya? Ngelamunin apa?” tanya Rio lagi.

“Enggak, tiba-tiba memori yang dulu-dulu itu ke flashback aja.” Jawab Anya.

“Flashback ke yang mana ayo? Yang Doni nembak kamu ya? Atau Azraf kasih kamu bunga di depan anak-anak? Atau yang kamu nggak sengaja jatuh trus ditangkep Azraf? Atau yang mana nih?” goda Rio.

“Yang tragedi minuman dingin hari Selasa 15 Agustus.” Jawab Anya sambil mengulum senyumnya.

“Ah, yang itu. Awal pertama kali aku liat bidadari marah-marah. Tapi walaupun lagi marah tetep cantik ternyata.” Gumam Rio sambil menatap jauh membayangkan masa itu.

“Rio gombal mulu, males banget lebay.” Sahut Anya sambil tertawa tertahan. Rio hanya tersenyum dan keluar mobil, lalu membukakan pintu tempat duduk Anya dan mempersilahkannya jalan duluan.

Mereka melangkah masuk ke rumah bergaya Belanda itu, walaupun kelihatannya sudah cukup tua tapi masih terawat dan bersih. Ada beberapa orang anak 12 tahunan sedang menggunting-gunting kertas, sepertinya mereka sedang membuat prakarya, entah apa. Rio terlihat menghampiri mereka dan duduk diantara mereka. Dia mengajak ngobrol salah satu diantara mereka. Dan dalam waktu singkat Rio sudah bisa ikut tertawa bersama mereka. Entah apa yang mereka bicarakan. Yang jelas Anya tidak sesupel Rio yang bisa bersahabat dengan siapapun.

Anya hanya memperhatikan mereka dari jauh, terutama Rio yang terlihat paling menonjol diantara anak-anak itu. Kulitnya yang hitam manis dan rambutnya yang tumbuh lebat yang membedakan dengan anak-anak berkulit pucat dan berambut tipis seperti mereka itu.

“Anya! Sini.” Panggil Rio. Anya menghampiri mereka dan duduk di samping Rio.

“Ini namanya Kak Anya, dia pacar kakak. Cantik kan?” kata Rio memperkenalkan sedangkan Anya hanya tersenyum malu diperkenalkan seperti itu. Anak-anak panti itu kompak berkata, “Cieee...” dihadapan mereka.

“Ya udah kalian selesain aja ya tugasnya. Kakak mau ke dalem dulu. Adek-adek kalian mana? Kak Anya bawa banyak buku cerita loh, dia mau ngedongeng nanti. Kalian mau ikut dengerin?” tawar Rio.

“Mau kak mau.” Anak-anak itu menjawab antusias.

“Ya udah selesain dulu posternya, nanti kak Anya sama kak Rio kesini lagi, kita seru-seruan bareng. Temen-temen yang lainnya jangan lupa dipanggil ya.” Kata Rio diiringi dengan anggukan semangat mereka.

Rio menggandeng tangan Anya untuk mengikutinya masuk ke dalam. Anya berjalan di belakan Rio berusaha menyeimbangi langkah-langkah kaki panjang Rio. Disana Mama Rio sudah menyambut, mereka bertiga sempat mengobrol sebentar, lalu sepertinya Mama Rio sibuk, sebagai salah satu penyelenggara acara itu. Mama Rio meminta mereka untuk membantu mengajak bermain dan membuat acara untuk anak-anak pengidap kanker yang masih anak-anak, karena mereka pasti akan jenuh jika terus mengikuti penyuluhan untuk mengetahui lebih dalam tentang penyakit mereka. Sedangkan usia 13 keatas ikut dalam acara penyuluhan itu.

Rio mengambil gitar di mobilnya, sementara Anya mulai mengobrol canggung dengan anak-anak yang mengelilinginya. Ada sekitar 26 anak saat itu. Anya kagum dengan mereka, keadaan tidak merubah mereka, senyum mereka masih tetap terpasang disana walaupun didalam badan mereka kini digerogoti rasa sakit luar biasa.

“Sekarang dengerin Kak Anya ngedongeng gimana?” tanya Rio yang baru saja ikut duduk bersama setelah mengambil gitar tadi.

Anak-anak itu mengangguk cepat, sambil berteriak semangat meminta Anya untuk membacakan cerita. Akhirnya Anya menceritakan salah satu cerita favoritnya, Hansel dan Gretel. Anya terlihat sangat lancar menceritakan dari buku dan sedikit mengimprovisasinya, Rio hanya terus diam menatap Anya selama ia bercerita, otaknya pergi ke masa lalu saat dulu Anya pertama kali bercerita dengan ekspresif tentang kesehariannya.

Aku ingat bagaimana dulu bibir mungil kamu itu mengeluarkan ratusan kalimat tentang cerita seru kehidupanmu pertama kali kamu terbuka denganku. Saat itu aku baru tau kamu cerewet, selama yang aku perhatikan kamu selalu menjadi Anya si gadis pendiam misteriusku yang jutek. Tapi begitu dekat dan kenal denganmu aku sadar, kamu berbeda 180° dari itu. Kamu ekspresif, kamu mudah panik, kamu mudah terbaca, kamu manis, kamu lucu, dan kamu pemalu.

Dari awal aku tidak pernah murni hanya mencintaimu Nya, karena aku selalu ingin kamu juga mencintaiku seperti aku mencintaimu. Tapi, suatu saat aku sempat tersadar, itu adalah hakmu untuk mencintaiku juga atau tidak, sampai akhirnya kamu mengatakan padaku kalau kamu mencintaiku juga.

Aku bisa merasakan hangatnya mentari di dadaku yang berpacu cepat bersamaan dengan dinginnya salju digenggaman tanganku yang menahan gugup. Dan saat kusentuh jemari tanganmu untuk pertama kalinya, kamu seperti aliran listrik yang menjalari sekujur tubuhku, membuat rasa disetrum yang menyenangkan yang selalu ingin aku rasakan terus menerus.

Kamu tau kenapa aku selalu menganggapmu tulip? Kamu itu sama seperti tulip yang memiliki banyak warna yang indah. Kamu sulit ditemukan. Banyak yang menginginkanmu tapi hanya bisa memimpikan. Sama sepertiku dulu yang hanya bisa memimpikanmu untuk bisa berada sedekat ini denganmu seperti sekarang.

Aku masih bisa merasakan bagaimana hancurnya perasaanku saat melihatmu menangis dihadapanku untuk yang pertama kalinya karena Brenda. Dan untuk pertama kalinya aku merasa canggung dihadapan seorang wanita, tidak tau harus berbuat apa hingga kamu memelukku dan dengan canggung aku membelai halus kepalamu tanpa berkata sedikitpun karena terlalu menikmati desiran dalam darah dan nadiku serta gemuruh didadaku saat kamu menangis dipelukanku. Statusku yang hanya ‘sahabat’mu saat itu membuatku merasa sedikit sesak. Namun dengan detakan jantungku yang bertambah cepat terus, aku yakin aku menikmatinya. Dan aku yakin, kamu pasti bisa mendengarkannya. Mendengarkan detak jantungku saat kamu tersedu dalam dekapanku. Tapi disisi lain aku juga ikut menangis bersamamu. Aku benci wanita yang menangis, selalu mengingatkanku pada Mama yang sangat aku sayangi, dan kamu itu wanita kedua di dunia ini setelah Mama yang aku cintai. Aku sadar, perasaanku denganmu saat ini berbeda dengan perasaanku dengan mantan-mantanku yang lainnya. Karena kamu spesial.

Dan ingatkah kamu tentang hal kecil yang tidak sengaja kita buat? Tentang kesamaan tannggal lahir kita, kamu 18 September dan aku 18 Januari. Dan sadarkah, kita jadian di tanggal 18 November, 2 bulan setelah ulang tahunmu, dan 2 bulan sebelum ulang tahunku. Hal yang baru kita sadari saat ulang tahunku.

Kamu tau bagaimana rasanya setiap kali kamu menatap mataku? Aku seperti melayang-layang terbang diangkasa bersama ribuan merpati yang membawaku, dan jantungkuku seperti melompat-lompat. Dadaku selalu mau copot rasanya setiap kali kamu menatapku sambil tersenyum.

Maafkan aku yang tidak pernah bisa memperhatikanmu seperti kebanyakan laki-laki lain memperhatikan pacarnya. Maafkan aku yang katamu terlalu cuek. Tapi aku punya cara sendiri untuk menunjukkan rasa sayangku. Mungkin bukan ucapan selamat pagi yang selalu menyapamu di pagi hari. Atau bukan ucapan selamat malam yang akan mengantarmu tertidur. Dan mungkin bukan kata-kata I love you yang aku ucapkan setiap saat. Atau membaca perasaanmu setiap kali kamu mulai terdiam kesal saat aku tidak sepenuhnya mengerti keinginanmu. Tapi ketahuilah, aku selalu ingin tau semua tentangmu, aku akan selalu berusaha mendapatkan cara untuk mengetahui keinginanmu dan membuatmu bahagia, bagaimanapun caranya. Meskipun terkadang aku terlalu gengsi untuk menanyakan langsung kepadamu apa yang sebenarnya kamu inginkan. Tapi ketahuilah, hanya kamu yang bisa membuat tidurku tidak nyenyak karena diserang rasa rindu yang menyesakkan. Hanya kamu yang bisa membuat selera makanku hilang saat terjadi pertengkaran diantara kita. Hanya kamu yang bisa membuatku merasa lagu-lagu melancholis tidak lagi norak untuk di dengarkan, karena saat aku mengingatmu dan menginginkanmu, hanya lagu-lagu itu yang bisa memanifestasikan kamu dalam benakku.

Aku mencintaimu seperti kayu bakar mencintai api, yang tidak akan protes meskipun tubuhnya harus habis dikorbankan terbakar. Aku mencintaimu seperti awan mencintai hujan, yang tetap menurunkan mereka ke tanah meskipun mengorbankan ketiadaan mereka. Aku mencintaimu seperti bunga mencintai lebah, meskipun mereka tau sarinya akan terhisap habis oleh lebah. Semenjak aku sadar bahwa cintaku untukmu tidak bertepi aku mencintaimu tanpa syarat, siapapun dirimu, bagaimanapun, apapun, kapanpun akan tetap sama. Tetap kamu.

Rio tersadar dari lamunannya dan menghampiri Anya yang sekarang sedang bercanda bersama beberapa anak-anak kecil yang terlihat mengelitiki Anya. Sepertinya cerita Anya sudah selesai, buku yang Anya bawa sudah tersebar ke tangan anak-anak itu, kebanyakan diantara mereka sedang asyik membaca.

“Nggak nyangka kamu jago story telling. Ikut lomba harusnya.” Kata Rio menggoda.

“Apaan sih Yo?” kata Anya.

“Nyanyi deh, aku yang iringin pake gitar.” Kata Rio sambil mengepaskan senar gitarnya.

“Enggak ah, kamu aja. Suara kamu lebih bagus.” Jawab Anya.

“Ya udah duet.” Jawab Rio.

“Enggak deh, malu diliatin nanti.” Kata Anya sambil memandang sekeliling.

“Adek-adek kumpul yuk, kita dengerin Kak Anya katanya mau nyanyi nih.” Kata Rio agak keras, mereka langsung berkumpul di depan Anya dan Rio menunggu.

“Rio, ahh apaan sih.” Bisik Anya lalu mencubit pinggang Rio.

Rio tidak menggubrisnya, malah berkata, “Ayo dong Kak Anya mau nyanyi lagu apa?”

“Ya udah kalo Kak Anya bingung aku aja yang nentuin lagunya. Dengerin ya semuanya oke.” Kata Rio lalu mulai memetik senar gitarnya. Dan bernyanyi duluan sambil menatap Anya mengajaknya ikut bernyanyi juga. Anya luluh, ini lagu yang sangat ia sukai. Begitu juga Rio. Anya ikut bernyanyi saat bagiannya. Mereka berdua larut bersama dalam lagu ini.

 Do you hear me I’m talking to you
Across the water accros the deep blue ocean
Under the open sky
Oh my baby I’m trying

Boy I hear you in my dreams
I feel you whisper across the sea
Keep you with me in my heart
You make it easier when life gets hard

I’m lucky I’m in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home aagain

They don’t know how long it takes
Waiting for a love like this
Every time we say goodbye
I wish we had one more kiss
I’ll wait for you I promise you, I will

And so I’m sailing through the sea
To an island where we’ll meet
You’ll hear the music fill the air
I’ll put a flower in your hair

Through the breezes Through the trees
Move so pretty you’re all I see
As the world keeps spinning round
You hold me right here right now
(Lucky – Jason Mraz ft. Colbie Caillat)
*****

Acara hari itu selesai, waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, Anya dan Rio bersiap pulang. Mama Rio yang membawa mobil sendiri juga baru saja pulang. Tapi karena Anya tiba-tiba merasa ingin buang air kecil ia meminta Rio menunggu sebentar.

Toilet panti ada di belakang bangunan panti itu sendiri, terpisah dengan panti.

Akhirnya Anya selesai buang air kecil dan bergegas kembali ke mobil Rio, lalu tiba-tiba ia menabrak seorang laki-laki hingga terjatuh.

“Aww...” ringis Anya merasakan sakit di pantatnya.

“Ma....” kata laki-laki itu terpotong karena terkejut.

Anya mendongak menatap wajah anak laki-laki itu dan ikut terkejut, “Nathan? Loh lo ngapain disini?”

“Ehh, umm... Gue... Itu... Umm... Gue... Gue abis nganterin bunga. Iya, tadi ada kiriman bunga buat panti ini.” Jawabnya terbata.

“Oh gitu...” Anya mengangguk-angguk.

“Lo ngapain?” Nathan balik bertanya.

“Tadi kan disini ada acara amal, gue ikutan. Sekarang karena udah selesai gue mau pulang.” Jawab Anya lengkap dengan senyum yang membuat Nathan makin salah tingkah..

“Oh, gitu. Hehe.” Kata Nathan gugup.

“Ya udah gue duluan ya. Bye.” Kata Anya melambaikan tangan sambil tersenyum manis.

“Bye.” Jawab Nathan pelan tidak terdengar.

Anya berlalu pergi meninggalkan Nathan yang masih terus menatap punggung Anya dari kejauhan hingga tidak terlihat lagi. Dadanya berdegup kencang, sekujur tubuhnya terasa dingin, tangannya mengepal menahan sakit yang tiba-tiba menyerang kepalanya. Ia menutup hidungnya ketika merasakan ada yang mengalir keluar dari sana. Darah segar. Banyak sekali yang merembes keluar. Nathan berteriak lirih, “Tolong.” Lalu ambruk dari tempatnya berdiri dan semuanya gelap.
*****

Hari-hari Rio di Jakarta semakin sedikit. Waktunya bersama Anya juga sudah hampir habis. Hari ini sudah hari selasa, dan besok adalah hari kepergian Rio. Setelah terakhir Rio dan Anya jalan-jalan adalah hari Sabtu saat acara amal di panti rehabilitasi itu. Hari Minggu, dan Seninnya mereka hanya tinggal di rumah Anya, belajar untuk tes Anya hari Rabu, main PS, nonton DVD, atau main monopoli.

Saat Anya terbangun ada sebuah SMS masuk dari Rio.

From: Rio
Text: Buka pintu kamarmu deh, sekarang! Cepet!

Anya yang masih setengah sadar hanya mengerjap-ngerjapkan matanya dan melirik jam dinding Winnie The Poohnya yang menunjukkan pukul 5 dini hari. Anya berpikir kejutan apa lagi yang Rio berikan untuknya. Ia berjalan menuju pintu kamarnya dan tidak ada siapa-siapa disana, jangankan Rio, Mama, Papa, dan Bang Eza yang biasanya jam segini sudah mondar-mandir saja tidak ada. Lalu tiba-tiba kakinya menyentuh sesuatu. Sebuket mawar putih. Ada talinya disana, tidak ada surat atau penjelas apapun tentang untuk siapa dan dari siapa mawar itu. Anya hanya mengikuti tali itu hingga membawanya ke ruang keluarga, dan ada 1 buket mawar lagi disana, masih tidak ada pengirim dan ditujukan untuk siapa. Anya mengikuti untaian tali itu dan membawa kedua buket mawar itu bersamanya. Baru beberapa langkah ia menemukannya lagi. Terus begitu hingga ada 18 buket mawar di tangannya yang sekarang sudah sulit memegang semuanya.

Tapi tali itu belum berakhir, tali itu menyelip di bawah pintu depan rumah Anya. Ia membuka kunci pintu rumahnya dan membuka perlahan daun pintu itu dengan perasaan deg-degan. Ternyata tali itu berakhir dengan sebuah kotak kado berukuran sedang berwarna merah muda cantik, lengkap dengan pita-pita diatasnya. Anya memandang sekeliling, tidak ada siapa-siapa pikirnya. Ia membolak-balik kotak itu berharap menemukan nama ditujukan untuk siapa. Tapi akhirnya karena penasaran ia memberanikan diri membuka sendiri.

Ternyata isinya sebuah gaun cantik berwarna biru tua. Cantik sekali, terlihat elegan dengan manik-manik yang menghiasinya tapi tidak terlalu ramai. Modelnya yang selutut membuat manis gaun itu, gaun yang pas di tubuh Anya. Lalu tiba-tiba handphone di saku Anya bergetar. Anya melihat sebuah SMS masuk dari Rio lagi.

From: Rio
Text: Gimana? Suka? Pakai itu nanti malam, aku tunggu di taman air mancur favorit kita jam 7. Jangan hubungin aku dulu. Aku sibuk. See you later. Love you.

Anya tersenyum memandang handphonenya. Ini semua dari Rio. Dia memang selalu tau cara membuatnya penasaran. Anya membawa semuanya ke dalam kamarnya, lalu mencoba gaun itu. Ternyata pas, cantik sekali. Ia tidak sabar menunggu malam. Menanti kejutan selanjutnya yang akan segera ia dapatkan dari Rio.
*****

Yap part 7nya selesai. Tungguin aja part selanjutnya ya. Kayanya part selanjutnya bakalan gue post hari Selasa malem Rabu deh. Tapi nggak janji juga ya, takutnya sibuk belajar buat UTS, tapi pasti diusahain posting dalam waktu deket kok. Oke deh segini aja dulu. Makasih ya yang udah ngikutin ceritanya sampe sini.

See you next post! Bye

0 komentar:

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos