Saturday, March 31, 2012

Cerbung - Will It Be Us Part 6

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 05:43
Reaksi: 
Hai, balik lagi nih. Sekarang mau ngelanjutin cerbungnya lagi. Semoga tetep suka bacanya ya walaupun gue nggak tau ini menurut kalian seru atau enggak.

Yaudah gak usah pake lama, check dibawah ini aja nih. Selamat membaca.

Will It Be Us Part 6



“Ke tempat rehabilitasi kanker. Mama aku ada disana, tadinya mau ngajak aku, tapi karena akunya tadi pagi masih tidur jadi nggak jadi deh. Trus tapi tadi Mama nelfon, katanya kalau mau nyusul nggak apa-apa, malah katanya kamu disuruh ikut juga.”

“Ada acara apa emangnya Yo?” tanya Anya lagi.

“Acara amal gitu, mamaku termasuk salah satu donaturnya. Kesana yuk, disana kita bisa ngehibur anak-anak kecil pengidap kanker loh Nya. Trus juga ada penyuluhan tentang kanker. Mau kan?” Tawar Rio.

“Ya udah yuk, seru tuh. Aku siap-siap dulu ya!” kata Anya semangat. Rio hanya mengangguk dan tersenyum.
Beberapa saat kemudian Anya sudah memakai terusan selutut berwarna putih cantik, lengkap dengan sebuah bandana putih yang menghiasi kepalanya. Tangannya terlihat sedang merapikan beberapa buku cerita dalam dekapannya.

“Cantik banget.” Kata Rio terpukau begitu melihat Anya.

“Aku? Kemana aja sih baru sadar aku cantik?” kata Anya tertawa sambil menghitung buku dalam genggamannya.

“Ya ampun khilaf.” Jawab Rio menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Maafkan hamba Ya Tuhan.” Lanjut Rio lagi. Anya hanya memanyunkan bibirnya sedikit lalu berkata, “Muna.”
Rio tertawa lalu bertanya bingung dengan buku cerita yang sangat banyak yang Anya bawa, “Itu buku buat apa?”

“Buat aku sumbangin kesana. Pasti mereka seneng deh.” Jawab Anya tersenyum senang.
Rio mengambil buku-buku itu lalu melihat-lihat judul-judul bukunya, rata-rata keseluruhannya adalah buku cerita Barbie, cerita rakyat Eropa, dan ada sekitar 3 buku merupakan novel anak tentang imajinasi.

“Ya ampun, pantes aja anak zaman sekarang lebih bangga ngomong bahasa Inggris, dari kecil disodorinnya beginian. Pantes kamu lagu Didi Kempot nggak ada yang hapal tapi lagu Secondhand fasih banget, bacanya dari kecil beginian sih.” Cibir Rio.

“Kaya kamu hapal aja lagunya Didi Kempot. Mendingan aku, dari pada kamu, bacanya komik terus.” Balas Anya tidak mau kalah.

“Komik is the best.” Jawab Rio mantap.
Anya memasukkan semua buku itu kedalam tas jinjing warna pink miliknya. Lalu saat mereka bangkit dari kursi, Bang Eza yang merupakan Kakak Anya masuk ke dalam setelah lari pagi. Rio menyapanya akrab.

“Eh, Bang Eza. Apa kabar bang?” tanya Rio.

“Baik, dari tadi Yo? Wah kebetulan nih ada elu. Ayo tanding PS, gua baru beli game baru.” Kata Bang Eza semangat.

“Abang mah kebiasaan kalo Rio kesini diajak main terus. Aku mau jalan tau. Jangan rese ah.” Hardik Anya kesal.

“Jalan mulu nih anak, pacaran terus.” Balas Bang Eza.

“Kapan-kapan deh bang. Atur waktu aja, sekarang mau ada acara soalnya bang. Bang Eza kalo mau ikut juga boleh.” Jawab Rio.

“Acara apaan emangnya?” tanya Bang Eza pada mereka berdua.

“Acara amal bang, di panti rehabilitasi kanker. Abang ikut aja bang, sekalian nambah ilmu buat materi kuliah kedokteran Bang Eza.” Ajak Rio lagi.

Kakak Anya satu-satunya ini memang mahasiswa kedokteran semester 2 di UI. Ia yang selalu Anya jadikan contoh selama ini karena kepintarannya. Kakak laki-lakinya ini juga baik, ganteng pula. Nggak jarang kalau lagi jalan bareng sama Bang Eza di mall suka banyak cewek cakep ngelirik iri ke Anya. Kalau udah gitu Anya suka sengaja gelendotan sama Bang Eza. Dan sampe mobil biasanya Bang Eza suka ngomel gara-gara Anya gelendotan terus dia jadi susah ngeceng cewek cakep di mall, kalau udah gitu Anya cuma bisa ketawa cekikikan. Tapi satu hal yang Anya nggak suka dari Bang Eza, Playboy abis. Padahal kalau dibandingin Rio sih masih manisan Rio, gantengan Rio, tinggian Rio. Tapi, putihan Bang Eza sih, trus Bang Eza itu cool abis, kece lah pokoknya. Tapi tetep aja menurut Anya Bang Eza itu terlalu ‘sok cakep’ walaupun kenyataan emang cakep.

“Yah, enggak deh. Gua pusing Yo belajar mulu. Hari ini kan Sabtu, gua mau malem mingguan sama cewek gua aja deh Yo.” Jawab Bang Eza santai.

“Abang udah punya cewek baru lagi? Ya ampun Bang, belum nyampe seminggu putus. Trus kok Anya nggak dikenalin?” Kata Anya kaget.

“Baru aja jadian kemaren Nya. Ntar deh gua kenalin, udah sana kalo mau pada pergi gih. Ntar biar Mama sama Papa gue yang bilangin.” Kata Bang Eza.

“Yaudah Bang, pamit ya.” Kata Rio lalu salim dilanjutkan Anya.

“Jangan malem-malem pulangnya.” Bang Eza mengingatkan.

“Sip Bang.” Jawab Rio dan Anya kompak.

“Jagain adek gua ya Yo, kalau bandel buang aja ke jurang, nggak apa-apa.” Kata Bang Eza bercanda tapi dengan muka serius.

Rio hanya tertawa mendengarnya sementara Anya cemberut mendengar kata-kata kakak laki-lakinya itu lalu mencubitnya dan Bang Eza teriak-teriak minta ampun kesakitan. Rio tersenyum meihat kelakuan mereka berdua, membuatnya iri seandainya ia juga memiliki seorang saudara seperti mereka.
*****

Anya dan Rio pergi bersama motor kenangan mereka selama 3 tahun terakhir, tapi ternyata Rio justru pulang ke rumahnya dan mengganti motor yang ia bawa dengan mobilnya. Anya terlihat sedikit kecewa, tapi ia mengerti, perjalanan yang akan ditempuh lumayan jauh, ribet juga kalau harus naik motor.

Mereka melanjutkan perjalanan, dalam mobil mereka tidak banyak mengobrol. Anya hanya diam menatap jalan sedangkan Rio bingung harus memulai bicara apa. Hanya suara tape dari mobilnya yang terdengar mengisi kesunyian.

“Yo,” kata Anya memecah kesunyian.

“Iya?” tanya Rio.

“Kita ini sebenernya ngelakuin hal yang bener nggak sih?” tanya Anya disambut dengan wajah bingung Rio lalu balik bertanya, “Emang apa yang kita lakuin?”

“Ya semuanya Yo. Pacaran, saling mencintai, mengikat janji. Kita kan baru 15 tahun.” Jawab Anya lirih.

“Apa yang salah sama itu semua?” tanya Rio lagi.

“Aku ngerasa, hubungan kita jauh banget. Nggak kaya anak-anak kebanyakan.” Jawab Anya sambil menatap ke jendela mobil.

“Kamu nggak nyaman dengan itu?” tanya Rio lagi.

“Bukan gitu maksudku. Tapi kadang aku suka takut. Apa yang aku lakuin ini bener?” jawab Anya menahan napas.

“Emang kita ngelakuin apa?” Rio hanya terus bertanya tanpa ekspresi.

“Tadi kan udah aku jelasin.” Kata Anya menoleh ke arah Rio.

“Trus, ada yang salah dengan pacaran, saling mencintai, mengikat janji, dan umur kita itu?” cecar Rio lembut.

“Terlalu dewasa untuk usia kita.” Jawab Anya.

“Berarti cuma orang dewasa aja yang boleh punya cinta? Berarti aku nggak boleh dong cinta sama mama papaku, mengikat janji sama orang tuaku tentang aku yang akan berusaha jadi orang sukses, aku belum cukup dewasa dong untuk ngelakuin itu? Kalau gitu buat apa aku nurutin mereka ikut pindah hanya karena cinta dan ikatan janji aku. Itu kan terlalu dewasa untukku ya?” kata Rio dengan ekspresi yang sulit terbaca.

“Bukan itu Yo.” Kata Anya lirih.

“Trus apa?” tanya Rio sabar.

“Ini tentang cinta kita yang masih terlalu muda. Sadar nggak sih, anak seumuran kita itu masih suka main-main? Tapi kita apa? Udah serius banget ngejalaninnya, kaya kita bakalan beneran jadi pasangan aja suatu saat nanti, padahal kenyataannya belum tentu kaya gitu. Aku sadar Yo, takdir kita berbeda. Entah kenapa waktu aja yang nggak sengaja nemuin kita di jam dan tempat yang sama, trus kebetulan kita sama-sama suka, dan kita pacaran. Tapi setelah aku pikir-pikir, kamu sama aku itu punya ribuan perbedaan yang nggak akan pernah bisa sama Yo. Dan kita...” kalimat Anya terpotong dengan kata-kata yang tiba-tiba keluar dari mulut Rio, “Jadi kamu mau kita putus?”

“Enggak gitu Yo.” Jawab Anya gelagapan.

“Iya, tapi setelah sebelas atau dua belas kalimat berikutnya.” Balas Rio sinis.

“Yo, aku cuma nggak mau suatu saat kamu nyesel sama keadaan ini, keadaan kita. Padahal kamu punya banyak peluang mungkin di hadapan kamu yang bisa kamu ambil kalau kamu nggak stuck di aku aja. Aku nggak mau kamu nyesel.”

“Siapa yang sebenernya akan nyesel? Kamu atau aku? Siapa sebenernya yang punya banyak peluang? Kamu atau aku?” tanya Rio dengan nada agak tinggi.

“Rio... Aku cuma mau menghadapi kenyataan yang aku punya. Aku capek bersembunyi dibalik kepura-puraan.” Jawab Anya pelan, hampir tidak terdengar.

“Jadi selama ini kamu pura-pura sayang sama aku gitu?” tanya Rio menahan sesak.

“Yo, untuk hal yang satu itu aku nggak pernah bohong, aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu. Sejak kemarin Yo, untuk hari ini, hingga besok, dan kapanpun itu aku yakin perasaan ini nggak akan pernah terganti ataupun berubah.” Jawab Anya mantap.

“Terus kalau perasaan itu nggak akan berubah kenapa kamu ngomong gitu dari tadi?” tanya Rio.

“Aku cuma takut kamu nyesel suatu saat nanti. Aku takut suatu saat nanti aku jadi seseorang yang akan kamu sesali pernah kenal, pernah kamu cintai. Aku takut suatu saat perasaan kamu untukku berubah jadi benci. Aku lebih baik nggak pernah sama sekali kamu kenal dibanding jadi orang yang akan kamu sesali pernah kamu cintai.” Jawab Anya tersenggal-senggal menahan sesak di dadanya.

Mobil mereka sampai di sebuah rumah besar bergaya arsitektur jaman belanda, mereka sampai di panti rehabilitasi itu. Tapi baik Anya maupun Rio, mereka sama-sama enggan untuk keluar dari mobil. Rio hanya memarkirkan mobilnya dibawah pohon lalu menghadap ke Anya dan menggenggam kedua tangannya sambil menatap dalam kedua bola mata Anya.

“Mencintai kamu itu seperti bernafas Nya, aku tidak akan pernah berhenti melakukannya selama aku masih hidup. Tapi suatu saat aku berhenti melakukannya aku tidak akan menyesalinya. Walaupun aku tau, dengan berhenti bernapas aku mati. Sama seperti mencintai kamu, saat aku berhenti melakukannya aku tidak akan menyesalinya meski itu membuat hatiku mati.” Kata Rio menatap dalam mata Anya.

“Dan seandainya suatu saat bukan kamu yang akan menemaniku saat aku di depan pelaminan nanti, seandainya bukan kamu yang aku pakaikan cincin nanti. Dan bukan kamu yang mengikat janji suci denganku nanti. Aku tidak akan menyesalinya. Aku masih bisa terus menyayangi kamu nanti, sebagai sahabatku, kenanganku, Anya peri kecilku. Dan ketika rambutku mulai memutih, kamu akan tetap menemaniku, walaupun bukan sebagai pendamping hidupku setidaknya kamu hidup disini sebagai kenanganku.” Lanjut Rio sambil menunjuk ke dadanya.

Anya tidak mampu lagi menahan tangisnya kali ini, meledak semua yang ia rasa sesak selama ini di depan Rio. Rio mendekap erat tubuh Anya dalam pelukannya. Menyembunyikan setetes airmata yang tidak sengaja terjatuh juga dari matanya tapi dengan cepat Rio menghapusnya. Rio masih terus memeluk Anya sambil berusaha menenangkannya.

“Aku sayang kamu Nya, nggak ada lagi yang perlu dipertanyain, nggak ada lagi yang perlu dikhawatirin.” Bisik Rio lembut.

Anya menghapus airmatanya dan melepas pelukan Rio. Lalu diam menatap Rio dan semua memori yang ada di kepalanya terputar ulang.

Aku ingat bagaimana kita pertama kali bertemu. Waktu itu kamu laki-laki paling menyebalkan yang pernah aku temui. Semuanya karena insiden kecil yang berakhir manis seperti ini. Hanya sebuah minuman jeruk dingin yang tinggal satu-satunya yang kita perebutkan sehabis senam pagi hari selasa itu. Kamu tidak mau mengalah, aku pun tidak sudi mengalah pada seorang laki-laki sepertimu dulu.

Lucunya sang ibu pemilik kantin justru mengambil minuman itu dan memberikan kita sama-sama segelas air putih dingin, dan kita sama-sama malu karena tindakan bodoh yang kita lakukan. Ah, sudah lama sekali masa itu. 3 tahun yang lalu. Bulan Agustus, tanggal 15.

Semenjak saat itu, aku sering memperhatikanmu. Bukan karena aku menyukai wajahmu yang aku akui sangat manis itu, tapi karena aku benci caramu membuatku dipermalukan sebelumnya, walaupun aku sadar pasti bukan hanya aku yang malu saat itu, tapi kamu juga.

Kebencianku bertambah saat kita sama-sama telat sampai di sekolah dan kamu membuatku terjatuh dan seragam rok putihku kotor. Aku sadar itu bukan salahmu, waktu itu kita sama-sama terburu-buru hingga tidak sadar kalau saling bertubrukan, walaupun saat itu aku tau celanamu juga kotor karena terjatuh. Lagi-lagi kita bertengkar saat itu sampai seorang satpam datang melerai. Kita masuk ruang BP dan mendapat nasehat panjang dari guru konseling. Kamu yang membuatku merasakan untuk pertama kalinya dipanggil ke ruangan ‘anak-anak bermasalah’ itu.

Setelah hari itu kamu mengirimiku sebuah ucapan minta maaf di SMS. Yang terakhir ku ketahui kamu meminta nomorku dari wali kelasku. Tindakan berani yang paling bodoh, karena semenjak saat itu wali kelasku menganggap kamu menyukaiku. Aku menampilkan sikap jijik dan tidak suka pada dirimu, tapi aku sadar dalam hatiku tidak seperti itu, aku mengagumimu jauh dari apa yang aku tau. Kamu mencuri hatiku sejak pertama insiden soda dingin itu.

Dan semuanya berubah saat UTS pertama kelas 7. Kita satu ruangan. Namamu yang berawalan A di kelas 7.3 dan namaku yang berawalan R di kelas 7.2 membuat kita tergabung dalam 1 ruangan. Aditya Rio Pratama dan aku Revana Anya Putri. ARP dan RAP. Lagi-lagi kebetulan inisial nama yang mirip.

Hari itu aku ingat bagaimana kamu tiba-tiba menghampiriku yang sedang duduk sendiri belajar matematika dibangkuku di ruang ujian. Lalu kamu bertanya padaku beberapa rumus dan memintaku mengajarimu. Aku tau saat itu kamu tidak memperhatikan yang aku ajari, aku tau kamu justru memperhatikan wajahku saat itu. Wajahku merah merona saat kamu ketahuan menatap wajahku yang sedang menjelaskan. Dan sikapmu yang terlihat biasa saja justru membuatku makin malu.

Saat aku selesai mengerjakan UTS matematika milikku dan saat itu belum bel, aku menoleh ke arah tempat dudukmu yang berjarak 3 meja serong kebelakang di sebelah kiriku. Dan lagi-lagi aku memergokimu sedang menatapku. Lalu kamu kembali menekuni kertasmu, dan betapa terkejutnya aku ketika menoleh lagi ke arahmu kamu menuliskan “TERIMA KASIH ANYA. GUE LANCAR NGERJAINNYA” di selembar kertas coret-coretan yang masih belum dia pakai. Aku hanya tersenyum memandangnya dan seketika dia membalas senyumku. Saat itu aku sadar, perasaanku tidak akan pernah sama lagi.
Semenjak saat itu kamu sering ke kelasku. Kamu bilang ingin meminjam buku yang tidak kamu bawa. Setiap kali kutanya jawabanmu sama, “Gue bukan anak rajin kaya lo yang semua buku dibawa.” Lalu berlalu pergi.

Sempat kamu menjauhiku, karena ternyata sahabat dekatmu Doni menyukaiku. Kamu menjauhiku karena kamu lebih memilih untuk mempertahankan persahabatanmu dengannya dibanding memperebutkan aku. Satu hal lagi yang membuatku terkesan denganmu.

Hatiku tidak bisa dibohongi, saat Doni memintaku menjadi pacarnya aku menolaknya. Dan akhirnya dia mundur teratur dari kehidupanku dan kamu datang lagi di kehidupanku. Kali ini berbeda, sikapmu lebih manis dari sebelumnya.

Aku ingat bagaimana kamu dulu pertama kali memaksaku ikut pulang bersama kamu dan sopirmu. Hari itu wajahku terlihat pucat sekali katamu, dan kamu tidak membiarkanku naik angkot seperti biasanya. Kamu memaksaku ikut masuk ke dalam mobil mewahmu itu.

Duduk di sebelahmu membuatku salah tingkah setengah mati. Aku terus-terusan mencuri pandang ke arahmu yang terlihat santai menatap jalan. Dan saat itu tiba-tiba kamu berteriak minta berhenti. Supirmu menuruti perintahmu, dan kamu tiba-tiba keluar dari mobil dan memungut seekor anak kucing yang ternyata tepat ada di depan mobilmu. Supirmu menceritakan kalau kamu sangat menyayangi binatang, dan itu bukan pertama kalinya kamu melakukan hal itu. Lagi-lagi kamu membuatku terkesan.

Kamu masuk mobil membawa kucing itu kedalam mobilmu, aku bergidik takut. Ya aku punya sedikit masalah dengan kucing pada masa kecilku, dan aku alergi bulu kucing. Kamu sedikit khawatir ketika mukaku mulai memerah dan aku mulai bersin-bersin. Bulu kucing yang sepertinya tertiup udara AC masuk terhirup olehku sepertinya.

Kamu jadi mampir ke rumahku karena takut terjadi sesuatu yang buruk denganku. Mama memberikan obat anti alergi milikku, dan kamu terlihat panik dengan kulitku yang masih merah. Mulai saat itu mama mengenalmu, banyak yang mamaku tau tentangmu tapi aku tidak saat itu. Dan disana pertama kalinya kamu bertemu kakak laki-lakiku. Kalian bermain PS sampai lupa waktu, akrab sekali padahal kalian baru bertemu hari itu. Lagi-lagi hal yang membuatku terkesan padamu, kamu sopan, kamu ramah, kamu supel.
Mama menggodaku tentangmu setelah kamu pulang, aku akui kamu laki-laki pertama yang main ke rumahku. Mama bilang aku beruntung punya teman seperti kamu. Aku tau itu. Dan kata-kata mama menyadarkanku, memilikimu sebagai teman saja aku sudah beruntung, aku tidak boleh berharap lebih dengan mencintaimu diam-diam. Aku bukan levelmu.

Dan kamu pasti ingat juga, dulu aku sempat menjauhimu. Kamu ingat Brenda? Gadis populer paling cantik yang menyukai dan mengejar-ngejarmu setengah mati dulu. Dia dan genk-nya sempat mencaci makiku habis-habisan karena dekat denganmu. Aku bukan anak populer, sebelum mengenalmu aku cenderung lebih sering sendiri membaca buku, atau mungkin main dengan sahabat-sahabatku yang itu-itu saja. Aku kurang pandai bergaul sepertimu. Beda dengan kamu yang menjadi idola sekolah karena semua yang kamu miliki itu. Tapi lagi-lagi kamu membuatku terkesan, saat Brenda hampir mempermalukanku di depan banyak anak murid dengan memajang gambarku tentang tulisan namamu kamu merebutnya dengan cepat, membelaku habis-habisan lalu menggandengku keluar dari kerumunan anak-anak.

Satu sekolah kini tau kamu menyukaiku, walaupun mereka masih bertanya-tanya tentang perasaanku yang setiap kali ada yang bertanya hanya tersenyum malu, tapi mereka bisa menyimpulkan jawabannya bahwa aku juga menyukaimu. Dan itu benar.
Suatu saat kamu sempat sedang berkelahi dengan seorang anak laki-laki. Ternyata dia Azraf, kakak kelas kita yang sekaligus adalah ketua ekskulku English Club. Aku berusaha melerai kalian dan secara tidak sengaja Azraf malah memukulku dan merembes darah dari hidungku. Yang kuingat kemudian semuanya gelap. Saat aku bangun kamu ada di sebelahku sedang menatapku. Wajahmu panik, kamu menggenggam erat tanganku sambil menanyakan keadaanku. Itu pertama kalinya aku merasakan lembut dan hangatnya kulit tanganmu.

Kamu menceritakan padaku bahwa Azraf menyukaiku dan tidak ingin ada kompetisi diantara mereka, Azraf ingin kamu menjauhiku agar dia leluasa mendekatiku. Emosimu tersulut karena mereka mengatasnamakan orang tuamu yang memang donatur tetap di yayasan sekolah kita. Kamu kesal karena dianggap berlindung dibalik nama kedua orangtuamu. Setidaknya itu yang kutau. Walaupun aku tidak percaya akan apa yang ku katakan. Aku berhasil dekat denganmu seperti ini saja sudah sebuah kemustahilan, sekarang kamu berkelahi karena masalah awalnya adalah aku apalagi dengan seorang kakak kelas yang aku akui levelnya tidak berada jauh darimu, ganteng, kaya, berprestasi. Aku sempat bingung dengan kehidupan sosialku yang berubah 180° semenjak dekat denganmu.

Akhirnya hari yang membahagiakan datang juga, hari itu tanggal 18 November hari Rabu hujan deras turun disertai angin. Aku meneduh di salah satu bagian sekolah, kamu menghampiriku dan mengajakku pulang bersamamu naik mobil. Lebih tepatnya memaksa.

Bukan mengantarku pulang kamu malah membawaku ke mall. Pertama kamu mengajakku main ke Timezone. Aku agak canggung saat itu masih memakai seragam putih-biruku, tapi kamu menggandengku tanpa ragu untuk bermain. Setengah jam bermain kamu bosan. Kedua kamu menngajakku ikut menonton di bioskop, atau lebih tepatnya memaksa. Aku sempat menolak, aku ragu nonton berdua denganmu, masih pakai seragam pula. Tapi sepertinya kamu tidak butuh penolakan.

Aku tidak menyesal menonton film pilihanmu tadi, aku dibuat menangis karena film itu. Beberapa adegan action juga mampu membuatku deg-degan setengah mati. Walaupun genrenya action, ada drama juga disana, film pertama yang membuatku lagi-lagi terkesan denganmu, selera filmmu tinggi.

Setelah itu kamu mengajakku makan di sebuah restoran jepang. Sebelum makanan dipesan kamu terlihat seperti mengacuhkan aku yang ada di depanmu dan malah sibuk sendiri dengan buku tulis dan pensilmu. Aku tidak tau apa yang kamu kerjakan. Saat minuman datang kamu menyodorkanku buku itu dan memintaku membukanya.

Halaman pertama bertuliskan Diary of Tulip Girl disertai dengan gambar sebuah bunga tulip, halaman kedua ada gambar seorang gadis mirip denganku duduk sendiri di bangku taman. Halaman ketiga ada sebuah gambar kaleng soda dibingkai dengan gambar hati, aku mulai senyum-senyum sendiri melihatnya. Halaman keempat ada gambar seorang anak laki-laki dan perempuan yang habis terjatuh. Lagi-lagi aku tersenyum. Halaman selanjutnya ada gambar anak laki-laki yang memperhatikan seorang gadis dari kejauhan, halaman selanjutnya ada gambar seorang anak laki-laki membawa bunga dan cokelat, halaman selanjutnya kosong. Aku menatapmu ingin bertanya, tapi tidak jadi kulakukan karena gambar anak laki-laki yang memegang bunga dan coklat itu kini nyata dihadapanku, yaitu kamu. Kamu menyodorkan bunga dan coklat itu untuk kuambil.

Bunga yang kamu berikan adalah sebuket Tulip asli, aku terperangah, bunga ini mahal dan jarang ditemukan disini. Kamu hanya tersenyum dan memintaku membuka kotak coklat darimu dan membuka kan satu bungkus cokelat bulat rasa almond untukku. Kamu menyuapiku cokelat itu lalu memberikanku bungkusnya. Ada tulisan disana, “Gambarnya belum habis, buka 2 halaman setelahnya deh”. Aku kembali membuka buku yang tadi kamu berikan. Kali ini bukan gambar, aku terbang ketika membacanya, tulisan yang sengaja kamu besarkan ukurannya. Aku menunduk malu, lalu kamu menggapain tanganku dan bertanya sesuai dengan tulisan dibukumu, “Anya, would you be my girl friend?”

Aku menggelengkan kepalaku, terasa genggaman tanganmu mengendur, aku masih belum berani menatap wajah tampanmu itu. Baru ketika kamu menanyakan kenapa, aku menjawab bahwa aku tidak mungkin sanggup menolak semua ini dan orang sepertimu. Kamu menatapku tersenyum santai lalu membisikkan kalimat, “I love you.” Aku hanya tersipu dan menjawab “I love you too.”

Semuanya indah semenjak itu, dan semuanya terasa terus makin indah, cintaku untukmu makin kuat dari hari ke harinya, kuharap begitu juga denganmu. Hidupku, sikapku, kelakuanku ikut berubah dengan adanya kamu disisiku. Aku tidak sepemalu dulu, aku tidak sependiam dulu, aku lebih tenang, aku percaya diri, bahkan aku berhasil menjadi anggota OSIS dan itu berkat dorongan semangatmu.
 
Semenjak saat itu kamu membuatku merasa beruntung mencintai seseorang seperti dirimu. Aku  tidak tau apa jadinya hidupku tanpamu. Semuanya yang terjadi pasti tidak akan pernah seindah ini. Aku yakin ini cerita Cinderella ku sendiri. Suatu saat sama seperti Cinderella aku akan mendapatkan akhir bahagia selama-lamanya ku denganmu. Ya, suatu saat. Saat semuanya tepat.
*****

Gimana part 6nya? Seru nggak? Kalau suka alhamdulillah, kalu enggak ya nggak apa-apa. Yaudah kalo mau baca cerita selanjuttnya tunggu aja di blog gue bakalan gue post besok sekitar jam 2. Oke see you next post. Bye...

0 komentar:

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos