Friday, March 30, 2012

Cerbung - Will It Be Us Part 5

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 07:28
Reaksi: 
Okay back nih guys. Kenapa tadi part 4 dikit banget? Gak tau kenapa, gue pengen aja ngeakhirin part itu sampe disitu.

Gue mau posting part selanjutnya tapi... Tapi viewers yang baca baru 17 orang. Agak kecewa sih, tapi ya wajarlah, dengan kualitas tulisan amatir segitu juga udah lumayan. Sebenernya gue disini cuma mau share hobi nulis aja. Kalau nggak suka dan nggak berkenan maaf ya. Kalau norak juga maaf. Point view satu orang dengan yang lainnya kan berbeda ;)

But, it's my page, it's my life, terserah dong mau kaya gimana? Kalau nggak suka ya cukup klik tombol back atau tanda silang di pojok kanan atas lcd laptop/pc kalian. Yap, nggak usah pake basa-basi lagi deh, ini baca aja di bawah kelanjutannya.

Hope you'll enjoy ya ;)


Will It Be Us Part 5

 
“Nathan, udah pulang? Gimana hasilnya?” tanya Ibu pemiilik toko bunga yang tidak lain adalah ibu dari anak itu sendiri.

“Rabu depan aku tes disana bu, tadi cuma ngasih berkas-berkas data nilai aja. Ini formulirnya aku udah beli, paling lambat nyerahin formulirnya lusa. Tapi mungkin aku besok ke SMA itu lagi nyerahin formulir.” Jawab Nathan.

“Ya sudah, semoga lancar dan kamu diterima ya Than. Ibu yakin kamu bisa kok, NEM kamu kemarin kan tinggi. Dari syarat itu aja kamu udah lolos.” Kata Ibunya menyemangati.

“Amin bu.”

“Eh, tadi Anya kesini loh. Dia juga abis daftar di Tunas Harapan katanya. Kalian ketemu?” tanya ibunya.

“Eng... Enggak bu, aku nggak tau. Tadi rame banget sih.” Jawab Nathan terbata karena berbohong.

“Tapi Than Anya tadi diantar pacarnya. Ibu baru tau dia sudah punya pacar, padahal tadinya Ibu mau jodohin sama kamu aja. Abisnya baik banget sih anaknya. Dan tau nggak, pacarnya itu ganteng banget deh, tinggi banget, baik, sopan, bawa mobil lagi Than. Tapi wajar sih ya gadis sebaik Anya dapet yang kaya gitu. Kamu aja diam-diam pasti suka kan sama Anya? Ibu yakin banyak yang suka sama dia. Seandainya laki-laki yang menggandeng Anya tadi itu kamu ya, ibu pasti bangga banget.” Cerocos ibu Nathan.

“Ngomong apaan sih Bu? Nggak baik tau ngomongin orang.” Kata Nathan dengan muka memerah karena salah tingkah.

“Lah, ngomongin yang baik-baik mah enggak apa-apa toh le...” Jawab Ibu Nathan dengan logat jawanya.

“Terserah ibu deh. Aku cape bu, mau istirahat dulu ya. Kalau banyak pelanggan bangunin aku aja bu.” Kata Nathan langsung berlalu pergi ke belakang toko melewati halaman dan beberapa pot bunga menuju rumahnya yang hampir tidak terlihat karena sebagian tertutup toko.
*****

 “Anya...” Pekik Mama Rio gembira saat Anya melangkah masuk ke ruang keluarga Rio dan sedang ada Mama Rio sedang menonton TV sendiri saat itu.

Anya berjalan menghampiri Mama Rio dengan tangan disembunyikan ke belakang. Kemudian memeluk Mama Rio sambil berkata, “Tante apa kabar? Anya kangen.”

“Baik sayang, sama nih tante juga kangen.” Jawab Mama Anya sambil mengelus lembut pipi Anya.

“Aku bawain ini loh buat tante.” Kata Anya memberikan sebuket Lili putih untuk Mama Rio yang terkejut.

“Sayang, kamu kok tau tante suka bunga ini. Ayo, tau darimana nih?” tanya Mama Rio sambil melirik ke arah anak laki-lakinya yang sedang tersenyum menggeleng-geleng melihat dua wanita yang dicintainya terlihat akrab.

“Sumpah Ma, aku aja nggak tau kalau Mama suka bunga itu. Itu bunga apa namanya aja aku nggak tau.” Jawab Rio jujur diiringi dengan tawa geli Anya.

“Aku liat di facebook tante dong. Kan aku selalu setia stalking di timeline facebook tante.” Kata Anya tertawa lucu.

“Ya ampun perhatian banget ya, anak tante mah boro-boro. Nggak ada so sweet – so sweetnya sama Mamanya sendiri. Jangan-jangan sama kamu juga gitu lagi? Sabar ya sayang, kadang cowok emang gitu tuh.” Ledek Mama Rio untuk Rio.

“Nggak kok tante, Rio so sweet, tapi kalo udah mau pergi jauh dari aku aja.” Sindir Anya.

“Ya ampun, kan kena lagi deh. Males kan Anya sama Mama kalo udah ketemu, aku terus deh yang dipojokin.” Kata Rio kesal disambut tawa kedua wanita itu.

“Ya udah kalian berdua disini aja dulu deh ya, Mama mau belanja, kita masak spesial hari ini karena ada Anya. Gimana?” kata Mama Rio bangkit dari sofa.

“Jangan repot-repot tante.” Kata Anya tidak enak.

“Enggak repot kok sayang.” Jawab Mama Rio.

“Ya udah aku ikut nemenin belanja deh, Rio juga tante.” Sahut Anya mantap.

“Oke, tapi Rio itu suka rese kalau diajak belanja pengennya cepet-cepet pulang terus. Nggak bener nanti malah belanjanya.” Kata Mama Rio lagi.

“Tau Nya, ngapain sih ikut? Udah tunggu di rumah aja ah.” Sergah Rio.

“Biarin lah, aku kan pengen bantuin mama kamu. Ya udah aku aja sama mama kamu yang belanja berdua, kamu nggak usah ikut.” Kata Anya.

“Ahh, yaudah deh aku ikut.” Kata Rio mengalah.

Mamanya dan Anya tersenyum menang atas Rio, lalu mereka melangkah keluar menuju garasi tempat Rio memarkirkan mobil. Rio membawa mobil, kursi depan di sebelah Rio diisi oleh Mamanya dan Anya duduk sendiri di belakang. Sepanjang perjalanan mereka mengobrol banyak hal tentang sekolah yang Anya tuju dan sekolah yang Rio tuju. Dari sana Anya tau nama sekolah dan tempat Rio nanti akan tinggal.
*****

“Makasih ya sayang udah mau nganterin pulang.” Kata Anya lalu turun dari motor Rio.

“Iya, sama-sama. Besok aku kesini lagi ya?” tanya Rio sambil membuka helmnya.

“Tapi mulai besok aku mau mulai belajar buat tes Yo. Nemenin aku belajar doang mau?” Anya balik bertanya.

“Iya nggak apa-apa kok.” Jawab Rio tersenyum memukau.

“Kamu mampir atau enggak?” tanya Anya.

“Enggak deh, titip salam aja ya buat Mama, Papa, sama Bang Eza.” Jawab Rio.

“Oh ya udah deh.” Kata Anya mengangguk.

“Ya udah aku pulang ya Nya,” kata Rio memakai lagi helmnya lalu menstater motornya.

“Yo,” panggil Anya.

“Iya Nya?” Rio menoleh.

“Aku lebih seneng jalan-jalan naik motor sama kamu. Lebih romantis.” Kata Anya sambil tersenyum malu.

“Apapun yang buat kamu lebih seneng pasti aku lakuin.” Balas Rio sungguh-sungguh.

“Hati-hati di jalan Yo.” Kata Anya tersenyum manis. Rio hanya mengangguk dan melaju pergi bersama motornya.
*****

From: Anya
Text: Yo, kamu harus dateng kesini sebelum makan siang! Aku masak spesial buat kamu. Cumi-cumi asem manis kesukaan kamu sama tumis kangkung. Aku marah kalau kamu nggak makan di rumah bareng aku. Aku tunggu sayang

 Rio membuka pesan itu setengah sadar, ia baru saja terbangun karena penanda sms masuk di Hpnya berbunyi. Rio mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali untuk memulihkan pandangannya yang masih agak kabur setelah bangun tidur.
Dia merentangkan tubuhnya untuk melenturkan otot-otot yang semalaman sudah beristirahat penuh itu. Lalu melangkah masuk ke kamar mandi yang terdapat di kamarnya. 

Selesai mandi Rio mengobrak-abrik isi lemarinya.
Akhirnya ia menemukan pakaian yang ia rasa pas, style-nya yang biasa, celana jeans hitam, kaus oblong putih dan jaket hitam. Hitam dan putih selalu jadi warna yang menarik untuk Rio, warnanya yang begitu kontras tapi terlihat menawan kalau dipadukan. Berjalan ke rak sepatu Rio memilih untuk mengenakan converse putihnya agar menyamai warna kaus yang ia pakai. Rio mematut dirinya sebentar di depan cermin sambil memakai gel rambut dan menatanya dengan gaya Spike-nya yang biasa.

Saat melewati ruang makan ia disapa Bi Inah, pembantu keluarganya.

“Mas, mau sarapan apa? Biar Bibi bikinin.”

“Bikinin susu aja Bi, aku mau ke rumah Anya mau makan disana. Mama kemana Bi?” tanya Rio.

“Tadi katanya ada pertemuan sama temen-temen satelitnya mas.” Kata Bi Inah sambil membuatkan susu untuk Rio

“Satelit? Socialite kali Bi.” Kata Rio menggeleng sambil tertawa.

“Nah iya itu. Katanya mau ada lelang untuk acara amal mas. Tadinya mas mau diajak, soalnya acaranya digelar di yayasan rehabilitasi kanker mas. Tapi nggak jadi soalnya mas tidurnya pules banget, mamanya nggak tega banguninnya.” Jelas Bi Inah lalu menyuguhkan segelas susu putih yang telah selesai ia buat.

“Ohh gitu. Dimana Bi acaranya kata Mama?” tanya Rio lalu meminum habis susu buatan Bi Inah.

“Enggak tau mas, Mamanya tadi nggak ngasih tau.” Jawab Bi Inah sopan.

“Ohh yaudah, aku pergi ke rumah Anya sekarang deh ya Bi. Oh iya, tadi Papa sms aku katanya dia hari ini balik dari Singapur jam 12an siang nanti sampe rumah. Jadi mendingan Bibi tetep masak gih Bi buat Papa. Aku udah bilang kok sama Papa aku mau pergi baru pulang nanti malem. Pamit Bi.” Jelas Rio lalu pamit dan menyalimi tangan Bi Inah. Walaupun statusnya pembantu tapi Rio sangat menghormati dan sayang dengan Bi Inah, karena dari Rio bayi Bi Inah yang membantu Mama Rio untuk mengurus Rio. Jadi Bi Inah sudah dianggap seperti keluarga sendiri di rumah Rio.

“Hati-hati ya Mas, salam buat Mbak Anya. Bilangin mas Bi Inah minta sedikit lesung pipitnya.” Kata Bi Inah menggoda. Rio hanya tertawa lalu berlalu pergi.
Saat sedang memanaskan motor handphonenya bergetar disaku celana Rio, ia mengeluarkan Iphone-nya lalu mengangkat telfon itu.

“Halo Rio.” Kata suara wanita disebrang sana.

“Iya Ma, kenapa?” tanya Rio kepada wanita yang ternyata mamanya ini.

“Kamu udah bangun?” tanya mamanya.

“Udah ma, udah mandi malah, nih sekarang aku lagi manasin motor mau ke rumah Anya.” jawab Rio.

“Oh ya udah deh kalau kamu sudah punya acara sendiri. Tadinya Mama mau ajak kamu kesini loh, Bi Inah udah ngasih tau kan pesen Mama?” tanya mamanya.

“Udah Ma, emang rehabilitasi kanker dimana Ma?” tanya Rio.

“Di deket Rumah Sakit Pelita Yo.” Jawab Mamanya

“Ohh yaudah nanti aku kesana deh, tapi kalau Anya mau ikut ya Ma. Kalau enggak aku nggak jadi kesana.” Jelas Rio.

“Oh iya, bagus itu. Ajak aja Anya, pasti dia mau. Ya udah take care sayang. Bye.” Kata Mama Rio lalu memutuskan sambungan telfonnya. Setelah itu Rio mengendarai motornya menuju rumah Anya.
*****

“Ah, pusing aku nggak ngerti Yo. Aku emang bodoh di Biologi.” Kata Anya frustasi.

“Bodoh tapi nilai UAN Ipa kamu 8,5 Nya. Kalau gitu aku apaan yang cuma 7?” kata Rio merasa tersindir.

“Ye, itu kan emang soal UAN kemaren gampang. Ya iyalah kamu cuma dapet segitu. Lah wong Seninnya ujian hari Minggunya kamu masih sempet-sempetin latihan band sama temen-temen kamu. Yakin aku belajarnya SKS itu kamu.” Cibir Anya.

“Itu kan latihan buat perpisahan Nya. Lagian cuma 2 jam kan?” balas Rio membela diri.

“2 jam itu kalau dipake buat baca buku udah abis 2 BAB lebih tau Yo. Lagian apa gunanya perpisahan kalau ternyata misalnya gitu salah satu dari personil band kalian ada yang gagal di ujian nasional kemaren? Emang masih bakalan tetep ikut perpisahan tuh?” desak Anya sengit.

“Ya seenggaknya kan pas malem prom night waktu itu aku sama temen-temen bisa nampilin yang terbaik Nya. Dan seenggaknya cewek yang pake gaun merah marun, jepitan kupu-kupu, sepatu wedges yang senada sama bajunya, dan umm... gelang pink yang dipake di tangan kirinya dan rambutnya di gerai sepunggung, poninya miring ke kiri, berdiri paling depan, nggak berenti-berenti mandangin aku selama aku nyanyi sambil main gitar, bahkan nggak kedip loh cewek itu.” Kata Rio tersenyum puas dengan jawabannya yang mengingatkannya kembali ke malam perpisahan sekolah mereka.

“Please deh, itu aku lagi khilaf aja ngeliatin kamu sampe segitunya. Tapi kan tetep aja Yo...” sanggah Anya lagi.

“Ya udah sih ya, ujian nasionalnya udah lewat, perpisahannya juga udah lewat, kenapa mesti masih di ributin sih?” kata Rio tidak sabar.

“Eh Nya, lagi belajar biologi kan ya? Mau ikut aku ke tempat kamu bisa belajar secara langsung nggak?” tanya Rio kemudian.
 
“Kemana?” tanya Anya penasaran.
*****

Gimana lanjutannya? Puas nggak? Kalau kurang tunggu besok ya kelanjutannya.
Thanks

0 komentar:

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos