Friday, March 30, 2012

Cerbung - Will It Be Us Part 4

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 04:15
Reaksi: 
Halloooooooo...!!! Gimana kabarnya? Masih sering ngecek blog gue? Masih setia baca cerita-cerita gue kan? Semoga masih ya. Oh iya, waktu post terakhir kan gue janji mau posting lanjutan cerbung hari ini, nah ini dia nih gue lanjutin. Kali ini Part 4 ya? Umm oke nggak usah pake lama lagi, cek aja nih dibawah. Selamat membaca :)
Will It Be Us Part 4



Sudah sejam lebih Rio menunggu Anya di dalam mobilnya. Tapi tampaknya urusan gadis itu dengan pendaftaran sekolah barunya masih belum selesai juga. Buktinya sampai saat ini dia masih belum juga kembali ke mobil. Jam 10 tepat. Rio mendesah bosan. Akhirnya Rio turun dari mobil dan menuju kamar mandi sekolah itu untuk buang air kecil.
Keluar dari kamar mandi secara tidak sengaja Rio menabrak seorang laki-laki seusianya yang membawa lumayan banyak map. Beberapa kertas terjatuh dan basah karena tersenggol Rio.

“Yaaahhh, berkas gue.” Umpat anak laki-laki itu kesal.

“Sor... Sorry... Gue nggak sengaja.” Kata Rio meminta maaf sambil membantu memunguti kertas milik anak laki-laki berkulit putih setinggi telinganya ini.

“Huft, untuk bukan formulirnya. Untung cuma foto kopian.” Desah anak laki-laki itu lega saat melihat kertas yg basah tadi.

“Sorry ya sekali lagi. Emm gue ganti gimana? Kalo penting gue foto kopiin lagi deh. Lo tunggu sini aja.” Kata Rio agak merasa bersalah.

“Enggak, nggak usah repot-repot. Nggak penting kok. Nanti juga abis dari toilet gue bisa foto kopi lagi sendiri.” Jawab anak laki-laki itu terburu-buru.

“Tapi lo mau tolongin gue nggak?” tanya anak laki-laki itu tiba-tiba.

“Apa?” Rio balik bertanya.

“Tolongin pegangin dulu dong, gue kebelet banget nih. Thanks ya.” Kata anak laki-laki itu cepat sambil menyerahkan mapnya ke tangan Rio.

Rio dengan sigap menerimanya lalu tersenyum geli dengan ekspresi anak laki-laki itu. Bukan termasuk kategori ganteng seperti Rio, tapi wajahnya bisa membuat orang yang berada di dekatnya tersenyum. Cukup manis. Ada sesuatu dari anak laki-laki itu yang bisa membuat orang nyaman di dekatnya walaupun baru pertama kali bertemu, tipikal orang yang disenangi banyak orang.

Rio melihat cover depan map itu, disana tertulis nama Nathan Adi Prawirya. Mungkin nama anak laki-laki tadi. Rio menunggu anak itu di depan kamar mandi.

“Sorry ya ngerepotin.” Kata anak laki-laki itu mengejutkan Rio saat tiba-tiba keluar dari kamar mandi.

“Nggak kok.” Jawab Rio sambil tersenyum.

“Thanks banget loh.” Kata anak laki-laki itu lagi.

“Sama-sama, sekalian tanggung jawab kertas yang gue bikin basah tadi lah. Hehe.” Kata Rio tertawa kecil.

“Ahh lebay lo. Calon anak sini juga?” tanya anak laki-laki itu.

“Bukan, gue nganterin doang. Pacar gue yang daftar disini.” Jawab Rio agak mantap.

“Oh gitu, oh iya kenalin gue...” kata anak itu terpotong oleh Rio saat menjulurkan tangannya.

“Nathan kan? Gue Rio.” Kata Rio menyambut uluran tangan Nathan.

“Kok tau?” tanya Nathan heran.

“Itu di map lo ada namanya.” Jawab Rio santai.

“Oh iya. Hahaha kirain lo bisa ngeramal. Baru aja gue mau minta di ramal keterima apa enggak di sekolah ini.” Kata Nathan dengan tawa yang mengundang siapapun yang mendengarnya untuk ikut tertawa juga.

Terdengar samar-samar lagu Paradise, ternyata handphone Rio yang berbunyi. Terlihat nama dan foto Anya yang muncul di layarnya. Rio mengangkat telfonnya.

“Iya Nya kenapa?”

“Kamu dimana Yo? Aku udah di depan mobil tapi kamu enggak ada.”

“Aku di toilet, oke aku balik ke mobil sekarang.” Jawab Rio lalu memutuskan sambungan telfonnya.

“Gue duluan ya, sorry nih kertas yang basah tadi.” Kata Rio menepuk bahu Nathan.

“Oke, sip. Slow aja kali.” Jawab Nathan santai.

Rio berjalan meninggalkan Nathan menyusuri koridor sekolah menuju tempat ia memarkirkan mobilnya tadi. Dari kejauhan terlihat Anya sedang bersender di pintu mobil Rio sambil membaca beberapa kertas di dalam map yang dia bawa. Anya terlihat sangat serius sampai ia tidak menyadari kehadiran Rio.

“Gimana Nya?” tanya Rio mengejutkan Anya.

“Rabu depan aku tes.” Jawab Anya pelan.

“Rabu depan?” tanya Rio menegaskan. Anya hanya menjawab dengan sebuah anggukan.

“Jam berapa?” tanya Rio lagi.

“Jam 7, sampe seselesainya aku.” Jawab Anya.

“Kayanya aku nggak akan bisa nganterin kamu ke bandara nanti. Nggak apa-apa kan?” lanjut Anya sambil merapikan isi mapnya.

Rio terdiam menatap Anya. Bingung apa yang harus ia katakan.

“Aku take off jam 11 Nya.” Kata Rio tanpa ekspresi.

“Ya kan aku nggak mungkin secepet kilat ngerjain tes itu. Terus jarak tempuh dari sini ke Soetta kan nggak sebentar.” Anya berusaha terlihat tenang.

Rio kembali terdiam, dalam hatinya ia kecewa dengan sikap Anya. Tapi dia sadar, jauh di dalam hati Anya ada kekecewaan yang lebih dari yang ia rasakan saat kemarin tiba-tiba Anya tau Rio akan tinggal di Kanada, pergi jauh meninggalkan Jakarta dan semua kenangan yang mereka buat disini.

“Pulang yuk Nya.” Ajak Rio tenang sambil tersenyum.

“Ke rumah kamu aja. Aku kangen sama mama kamu.” Kata Anya semangat.

Rio hanya memandang gadis itu dan menganggukkan kepalanya setuju lalu membukakan pintu mobil untuk Anya.
*****


“Yo, berenti di toko bunga itu Yo.” Seru Anya tiba-tiba.

“Loh, ngapain Nya?” tanya Rio agak kaget, tapi tetap menuruti keinginan Anya.

Anya tidak menjawab pertanyaan Rio dan malah langsung turun dari mobil lalu masuk ke dalam toko bunga itu.

Rio mengikuti Anya memasuki toko bunga itu, dilihatnya Anya sedang memilih-milih beberapa kuntum bunga Lili ditemani seorang wanita paruh baya pemilik toko. Setelah itu Anya dan wanita itu berjalan menuju ke meja kasir sambil mengobrol seperti orang yang sudah lama kenal. Rio menghampiri mereka ke menuju meja kasir juga.

“Mau pake vas juga atau dibuat buket aja?” tanya wanita pemilik toko.

“Di buket aja deh Bu, warnanya yang cerah ya.” Jawab Anya tersenyum ceria.

“Yo, aku mau liat mawar. Kamu mau ikut atau tunggu sini?” tanya Anya.

“Tunggu sini aja deh.” Jawab Rio sambil bersender pada tembok kasir.
Anya berjalan sendiri menuju tempat bunga-bunga mawar dipajang. Rio terus menatapnya, memperhatikan setiap gerak-geriknya. Sambil melamun ia terus menatap Anya dari kejauhan.

“Setiap kali aku liat kamu lagi berada di tengah-tengah bunga-bungaan ini entah kenapa aku seperti bisa liat kalau ada sayap kecil di punggung kamu dan sebuah tongkat peri bunga ditangan yang buat tanaman itu seperti tunduk dan memperhatikan kamu seperti yang aku lakukan saat ini. Kamu itu seperti peri kecil di dalam dongeng Nya. Ahh, ini pasti yang akan selalu kurindukan dari kamu Nya. Percikan kebahagiaan yang secara nggak sadar kamu kasih ke aku. Aku takut Nya, takut akan kehilangan kebahagiaan itu nanti saat aku harus jauh darimu. Mengahadapi jarak dan waktu nyata yang berbeda. Aku takut tidak sanggup menjalaninya Nya. Takut...”

“Mas beruntung ya punya pacar kaya gitu.” Kata Ibu pemilik toko itu membuyarkan lamunan Rio.

“Ahh, iya Bu. Beruntung banget.” Jawab Rio tersenyum sambil terus menatap Anya.

“Udah cantik, baik, mau repot-repot segala milihin bunga buat ibunya mas lagi.” Kata Ibu itu sambil terus membungkus bunga Lili putih pilihan Anya.

“Buat ibu saya?” tanya Rio agak kaget.

“Loh, mas nggak tau? Katanya ini bunga kesukaan ibunya mas. Aduh, coba anak saya bisa punya pacar kaya gitu, nggak akan saya biarin mereka berjauhan apalagi putus mas.” Kata ibu itu lagi.

Rio hanya tersenyum sambil menoleh ke arah Anya yang sedang berjalan ke arah mereka.

“Bu, ini sama mawarnya ya. Nggak usah di buket mawarnya.” Kata Anya menyerahkan beberapa kuntum mawar ke wanita itu.

“Jadi berapa semuanya Bu?” tanya Anya lagi.

“38 ribu. Mawarnya ibu kasih gratis aja buat kamu.” Kata si pemilik toko itu.

Anya mengambil selembar 50 ribu di dompetnya tapi Rio mencegahnya untuk memberikan uangnya ke wanita itu sambil berkata, “Aku aja yang bayar.”

Anya hanya menepis lembut tangan Rio sambil tersenyum lalu berkata, “Nggak usah, aku aja.” Lalu menyerahkan selembar uang 50 ribuan itu ke si ibu pemilik toko.

“Makasih mawarnya ya Bu.” Kata Anya dengan mata berbinar.

“Iya, sama-sama. Lagi pula kan kamu sudah sering beli mawar disini, jadi sekali-sekali ibu kasih gratis ya nggak apa-apa lah.” Jawab ibu pemilik toko itu tersenyum ramah.

Rio dan Anya berjalan bersama ke tempat mobil mereka di parkir.

Rio bertanya sambil menoleh menatap Anya yang hanya sebahunya, “Kamu sering kesini?”

“Iya, kenapa?” tanya Anya sambil terus mencium mawarnya.

“Kok aku nggak tau.” Kata Rio heran.

“Emangnya semua yang aku lakuin kamu harus tau? Kenapa jadi posesif tiba-tiba gini sih?” lirik Anya kesal.

“Anya, aku kan cuma nanya. Kok marah sih?” tatap Rio heran.

“Ngga marah.” Jawab Anya singkat.

“Terus?”

“Bete.” Jawab Anya ketus.

“Kenapa?” tanya Rio bingung.

“Tanganku kena duri tadi berdarah, sakit.” Rengek Anya manja.

“Ya ampun, anak ini manja banget ya. Kirain kenapa......” Kata Rio mendesah lega.

“Sini mana yang berdarah?” lanjut Rio lagi sambil menggapai tangan Anya. Lalu mengecup telunjuk Anya yang terlihat agak terkelupas kulitnya. Anya hanya diam meleleh dengan apa yang Rio lakukan.

“Udah, masih sakit?” tanya Rio tersenyum manis.

“Masih, malah sekarang 9 jari lainnya sakit, gara-gara iri sama telunjuk kanan itu.” Jawab Anya asal sambil menahan tawa. Rio hanya tertawa dan mendekap tubuh Anya, menggiringnya masuk mobil.

Sementara itu dari kejauhan seorang anak laki-laki memandang mereka. Tersenyum masam melihat Anya sedang bermesraan dengan seorang laki-laki yang tidak cukup jelas terlihat karena membelakangi tempatnya berdiri.

“Aku ini si anak penjual bunga, sedangkan dia adalah Putri kerajaan bunga. Ya, seorang anak penjual bunga hanya boleh memandangi sang Putri, karena Putri selalu berdampingan dengan seorang Pangeran. Bukan anak penjual bunga. Tapi salahkah aku kalau ternyata selama ini aku mencintaimu walaupun aku tidak pernah berani mengatakan dan mewujudkannya?”

Anak itu keluar dari balik pohon setelah mobil mereka menjauh. Ia berjalan masuk ke arah toko bunga itu.
 *****

Nah loh, siapa tuh yang lagi merhatiin Anya? Wah maksudnya apa ya dari kata-kata hati anak itu? Trus gimana ya reaksi mamanya Rio pas ketemu Anya? Kalau penasaran baca lagi nanti part lanjutannya jam 8 atau jam 9. 

Oke, see you soon.

0 komentar:

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos