Tuesday, March 27, 2012

Cerbung - Will It Be Us Part 3

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 06:47
Reaksi: 
Hai maaf ya agak kemaleman ngepostnya. Tadi soalnya abis pulang sekolah ada sedikit accident. Hehe, jatoh dari motor. Abisnya tadi ujan deres gitu sih. Ya udah nggak usah pake nunggu lama lagi yuk langsung aja baca lanjutan cerita kemaren di bawah ini.

Check it out

 
Will It Be Us Part 3

 Anya bangkit dari ayunan yang ia naiki begitu mendengar suara deru mesin mobil Rio yang memasuki pekarangan rumahnya.

“Rapih banget Yo?” Tanya Anya begitu Rio keluar dari mobilnya.

“Iya, kan mau ke dufan.” Jawab Rio santai.

“Ha?” kata Anya kaget                  

“Kamu mau ke dufan pake baju gitu aja?” tanya Rio cengengesan melihat baju Anya yang hanya celana pendek rumah dan kaos rumahnya.

“Ke dufan? Ngapain?” Anya masih bingung dan kaget.

“Main lah, masa jualan.” Sahut Rio terkikik geli.

“Udah sana ganti baju cepetan. Keburu makin siang, udah hampir jam 9 nih.” Suruh Rio.

“Yo? Tapi...”

“Anya, cepetan ngga pake tapi.” Sahut Rio sambil geleng-geleng kepala melihat muka polos Anya yang kelihatan menggemaskan saat kebingungan seperti itu.

“Ya udah, aku ganti baju. Izin Mama dulu ya Yo.” Kata Anya lalu masuk ke dalam.
Sip.” Sahut Rio sambil megedipkan mata kanannya.

Rio duduk di kursi taman di halaman rumah Anya. Memandangi bunga-bunga yang ada di halaman, mawar putih yang selalu jadi bunga kedua favorit Anya setelah tulip merah. Mengagumi betapa tumbuhan mawar putih itu tumbuh begitu indah seperti perawatnya yang ikut tumbuh tak kalah indahnya. Setengah mekar namun kelihatan lebih indah, dan menebarkan wangi memabukkan berbaur dengan wangi rumput basah. Seperti harum tubuh Anya yang selalu memabukkan seperti ini, yang selalu segar di indra penciuman Rio, yang selalu dia rindukan setiap kali tidak berada disamping Anya.

“Eh ada Rio.” Mama Anya tiba-tiba datang membuyarkan lamunan Rio.

“Iya tante.” Jawab Rio sopan sambil berdiri lalu mencium tangan Mama Anya.

“Mau aku bantu tante?” Tanya Rio menawarkan membawa belanjaan Mama Anya, lalu mengambil beberapa kantong plastik tanpa menunggu jawaban.

“Aduh Rio jadi ngerepotin.” Kata Mama Anya.

“Enggak kok tan. Ini ditaruh mana tante? Dapur ya?” Tanya Rio lagi.

“Iya Yo. Aduh makasih ya udah dibawain belanjaan tante. Ngerepotin kamu deh jadinya.” Mama Anya tersenyum melihat Rio.

“Enggak apa-apa kok tante.” Jawab Rio lalu menaruh belanjaan tadi diatas meja dapur.

“Kamu mau masuk SMA mana Yo?” tanya Mama Anya.

“Di Kanada tante.” Jawab Rio agak ragu.

“Kanada? Amerika?” Tanya Mama Anya lagi, kali ini agak terkejut.

“I... i... iya tante. Tapi aku belum bilang sama Anya tante. Padahal Rabu depan aku udah berangkat.”

“Anya belum tau?” Mama Anya menatap Rio tidak mengerti.

“Aku bingung cara ngasih taunya tante. Mungkin hari ini aku bakalan ngasih tau.” Kata Rio menunduk.

“Ya udah, Anya pasti ngerti kok Yo.” Kata Mama Anya tersenyum pengertian membuat Rio sedikit tenang.

“Makanya hari ini aku mau ngajak Anya jalan lagi tante. Hari ini ke dufan, boleh gak tan? Ya kayanya aku bakalan ngajak Anya jalan terus seminggu ini selama hari-hari terakhir aku di Jakarta tan.” Jelas Rio.

“Boleh kok. Tapi pulangnya jangan terlalu malam ya, tante percaya kok sama kamu. Kamu pasti selalu bisa menjaga dan memberikan yang terbaik buat Anya.” kata Mama Anya tersenyum tulus.

“Ma, mama udah pulang?” panggil Anya.

“Eh Rio kok ada di dapur?” lanjut Anya lagi begitu ia melihat Rio berdiri disamping mamanya.

“Ini tadi Rio bantuin Mama bawain belanjaan.” Jawab Mama.

“Ohh gitu. Umm, ma aku mau...” Belum selesai Anya bicara Mama sudah memotong pembicaraannya.

“Yaudah Mama izinin sana, mau ke dufan kan? Rio udah minta izin duluan kok tadi.”

“Hehe, iya Ma.”

“Yaudah sana pergi sekarang aja gih, nanti keburu macet loh.” Kata Mama lagi.

“Sip Ma, yaudah aku pamit ya.” Kata Anya sambil mencium tangan kanan Mamanya.

“Aku juga tante,” kata Rio ikut salim.

“Iya, hati-hati ya. Inget jangan pulang terlalu malam.” Mama mengingatkan lalu ikut berjalan keluar mengiringi Rio dan Anya. Dan melambaikan tangannya ketika mobil Rio keluar dari pekarangan rumahnya.

Berharap bahwa perasaannya tentang pemuda bernama Rio ini benar, bahwa ia akan selalu membuat Anya bahagia tanpa menyakitinya. Bahwa ia akan membuat putri bungsunya ini mengerti hakikat cinta sesungguhnya tanpa ternodai oleh nafsu masa muda mereka.
Terbersit dalam otaknya bahwa mereka masih terlalu muda untuk menjalin hubungan serius. Bahkan ini pun sudah terlalu jauh. Namun ia sadar, cinta tidak memandang usia, atau apapun segala tetek bengek kehidupan yang begitu mencolok. Ia sadar, cinta yang tulus bisa datang dari siapapun, kapanpun. Semau cinta itu sendiri kapan ia ingin datang. Yang bisa Mama Anya lakukan hanya memberikan batasan dan kepercayaan kepada mereka berdua. Dan yakin bahwa mereka lebih dari pintar untuk melawan nafsu masa muda mereka.
*****

 “Kamu baru semalem balik dari Anyer trus sekarang udah jalan-jalan lagi ke Dufan gak cape apa Yo?” tanya Anya memecah keheningan di mobil Rio.

“Dengan ngeliat wajah kamu cape aku ilang dengan sendirinya Nya.” Jawab Rio sambil terus fokus menyetir.

“Aduh mulai gombalnya... Serius Yo, nggak biasanya nih kamu kaya gini.” Kata Anya lagi

“Gini gimana?” Tanya Rio sambil tetap menatap ke jalan.

“Ya ngajak aku jalan terus, biasanya kalo liburan kan paling seminggu sekali kamu ngajak aku jalan. Lebihnya paling main di rumah aku atau di rumah kamu aja. Trus udah gitu jalannya nggak pake planning dulu lagi. Ngagetin aku terus.” Kata Anya sambil terus menatap Rio dari samping kursi kemudi.

“Kamu kali yang nggak pake planning, aku sih udah planning kok. Kalo kaget berarti surprise aku berhasil dong? Kan katanya kamu suka dikasih surprise.” Jawab Rio menoleh sebentar ke Anya lalu kembali memandang jalan.

“Ya maksudnya kan biasanya kalo mau jalan kemana gitu kamu pasti seminggu atau beberapa hari sebelumnya kamu kasih tau aku Yo.” Kata Anya lirih.

“Jadi kamu nggak suka nih? Yaudah kita puter balik aja terus pulang. Bikin planning dulu baru kapan-kapan jalan.” Kata Rio tanpa ekspresi.

“Nggak gitu juga sih Yo... Ya udahlah ah, susah ngomong sama kamu.” Kata Anya kesal.

“Ngambek lagi deh... Anak kecil dasar. Manja.” Rio tersenyum melihat Anya yang dengan gaya biasanya mengerucutkan bibir dan menggembungkan pipinya ketika sedang kesal.

“Apaan sih? Nggak ngambek juga. Ih nggak tau diri ya? Aku sama kamu kan tuaan aku 4 bulan. Kalo aku anak kecil kamu apaan?” Gerutu Anya kesal.

“Hahaha, aku berondongnya anak kecil lah kakak Anya.” ledek Rio.

“Dede Rio ngeselin ya? Nanti kakak Anya nggak beliin permen loh De.” Balas Anya.

“Aku nggak mau permen kakak...” kata Rio masih meledek.

“Trus apa dong?” tanya Anya masih agak kesal.

“Mau hatinya kakak aja.” Rio menjawab sambil menggenggam tangan kanan Anya. Anya hanya tertawa menatap Rio dan meremas tangan yang ada dalam genggamannya. Kemudian tersenyum memandang lurus ke arah jalan tol diiringi lagu yang berputar dari tape mobil Rio.

I remember...
All the things that we shared, and the promises we made, just you and I
I remember...
All the laughter we shared, all the wishes we made
Upon the roof at dawn
(I Remember – Mocca)

“Beberapa hal lagi yang tidak akan aku lupakan dari kamu Nya. Semua hal yang kita bagi bersama, seperti hari ini, kemarin, dan kemarin lagi. Serta seluruh janji yang telah kita buat. Aku akan selalu ingat kebahagiaan yang selalu kita bagikan, segala permohonan yang kita panjatkan kepada Tuhan untuk tetap bersama, tenggelam dalam suka dan duka berdua. Tapi akankah Dia mengabulkan doa kita? Atau justru memutar balikkan semuanya karena ternyata kebersamaan kita bukanlah yang terbaik? Entahlah, masa depan selalu jadi teka-teki paling rumit untukku, bahkan mungkin untukmu juga.”
*****

 “Thanks for today ya sayang. Makasih juga bonekanya ya.” Kata Anya begitu mobil Rio berhenti di depan pagar rumahnya.

“Sama-sama. Aku boleh mampir dulu nggak Nya?” tanya Rio agak gugup.

“Mampir? Ya bolehlah. Mobilnya masukin aja kalo gitu. Aku bukain pager deh ya.”

“Oke.” Kata Rio diiringi dengan senyum.

Rio turun dari mobil setelah memarkirkan mobilnya. Lalu melangkah mengikuti Anya. Di teras depan terlihat Mama dan Papa Anya sedang duduk mengobrol.

“Ma, Pa,” sapa Anya lalu mencium tangan kedua orangtuanya dan diikuti Rio.

“Dari mana sayang? Kok malam sekali pulangnya?” tanya Papa.

“Dufan, Pa. Aku udah izin sama Mama sebelum pergi, Rio ngajaknya agak mendadak juga sih.” Jawab Anya sambil melirik ke arah Rio yang terlihat tersenyum canggung.

“Ohh ya sudah, nggak apa-apa. Mama juga sudah cerita kok. Kalau buat menutup hari-hari terakhir Rio di Jakarta sebelum pergi ya enggak apa-apa lah.” Kata Papa Rio agak mengejutkan Rio dan Anya, Mama Anya terlihat menyikut pinggang suaminya itu.

“Pergi? Pergi kemana Yo?” tanya Anya dengan perasaan campur aduk antara terkejut, penasaran, dan takut.

“Umm, Nya. Aku.....” Rio terlihat gugup dan gemetar, ia tidak tau darimana harus memulai.

“Sayang, yuk ganti baju dulu. Rio juga masuk dulu yuk di ruang tamu aja nunggu Anya sampai selesai ganti baju. Tante buatin minum, kasian kan cape. Ayuk Anya, yuk.” Kata Mama Anya tiba-tiba sambil menuntun keduanya masuk.
Anya melirik tajam ke arah Rio, dalam hatinya ia takut, marah, kecewa, sedih, penasaran, semuanya bercampur aduk menjadi satu. Sedangkan Rio hanya bisa menunduk gugup, bingung akan apa yang akan ia katakan nanti. Setelah diersilahkan duduk di kursi ruang tamu, Rio menunggu Anya dalam kegugupan. Berharap semua akan berjalan baik-baik saja setelah ini.

Lalu Anya terlihat berjalan ke arah ruang tamu sambil membawa nampan berisi segelas ice cappucino.

“Ini minum dulu. Kesukaan kamu.” Kata Anya sambil mempersilahkan Rio minum.

“Makasih.” Rio meminum perlahan berusaha menahan waktu selama mungkin, lalu meletakkan kembali gelas yang tinggal berisi separuh itu. Lalu ada hening yang panjang diantara mereka.

“Jadi, apa yang sebenernya aku nggak tau?” tanya Anya memecah keheningan diantara mereka sambil menatap dalam wajah Rio.

“Nya...” gumam Rio lalu menggenggam erat dua tangan Anya. Anya hanya terus diam menunggu Rio melanjutkan kalimatnya sambil tak lepas memandangi gerak-gerik Rio, membaca kepanikan disana.

“Aku tau ini pasti berat banget buat kamu, buat aku, buat kita. Tapi ternyata aku nggak bisa terus-terusan nyembunyiin ini dari kamu. Karena waktunya makin deket Nya...” kata Rio terbata.

“Waktu? Waktu untuk apa?” Anya merasakan dadanya berdegup 3 kali lebih cepat dari biasanya.

“Rabu depan aku pergi ke Kanada.” Jawab Rio dalam satu tarikan nafas.

Hal itu sudah cukup membuat jantung Anya berhenti berdetak sesaat dan mengurangi asupan oksigen untuk paru-parunya hingga menimbulkan sesak. Tapi Anya berusaha terlihat tenang dan tersenyum sambil bertanya, “Liburan? Berapa lama? Oleh-olehnya ya jangan lupa.”

Rio terdiam, bingung harus dengan berkata kalimat apa agar perasaan Anya terjaga. Lalu akhirnya ia membuka mulut.

“Bukan. Aku tinggal dan sekolah disana. Entah sampai kapan.” Kata Rio membuang muka, tidak sanggup melihat wajah Anya.

Anya terdiam, ia merasakan ada pisau yang sedang merobek-robek hatinya saat ini, ia tidak mampu merasakan tubuhnya sendiri saat ini, bahkan hangatnya tangan Rio pun berubah dingin dan hampa seketika ia mengatakan itu. Hanya dengan mendengar Rio akan pergi jauh meninggalkannya dalam waktu lama saja sudah cukup membuatnya seperti kehilangan kontak dengan dunia, apalagi kalau sampai hari Rabu depan itu datang dan hal yang Rio katakan itu benar-benar terjadi?

Mata dan kepala Anya terasa memanas, sebutir air mata jatuh membasahi pipinya. Lalu dengan segera ia menghapus sebutir airmata itu dan menahan yang lainnya untuk jatuh.

Rio menatapnya dalam sambil mengumpat dalam hati untuk dirinya sendiri.

Tapi tiba-tiba Anya tersenyum membalas tatapan Rio, senyuman paling manis yang ia punya. Tapi entah mengapa senyuman yang biasa membuat Rio bahagia dan tenang ini justru membuat Rio makin gelisah saat ini.

Akhirnya Rio berusaha menjelaskan dengan sangat cepat dan gelisah, nafasnya memburu saat ia akhirnya menjelaskan, “Maafin aku Nya, aku nggak pernah bermaksud buat kaya gini. Ngebohongin kamu, atau nyembunyiin sesuatu dari kamu atau apa. Enggak Nya, aku tuh cuma gak tau harus gimana ngasih taunya. Aku bingung Nya, aku takut banget nyakitin kamu. Maafin aku Nya, maafin aku. Aku nggak ada disisi kamu tapi bukan berarti aku berhenti cinta sama kamu Nya. Kita tetep bisa pacaran kan Nya? Kamu tetep mau nungguin aku kan Nya? Ini bukan kemauan aku Nya, tapi...”

Kalimat Rio terhenti karena Anya yang secara tiba-tiba mencium bibir Rio. Rio kaget dengan sikap Anya sehingga berhenti berbicara. Lalu diam menatap Anya yang sekarang sedang tersenyum menatapnya.

“Kalau nggak digituin pasti kamu ngomong terus deh nggak berhenti.” Kata Anya berusaha santai menutupi kegelisahan yang sama ia rasakan seperti Rio.

Rio masih terdiam tidak mengerti, dia hanya menatap Anya yang kini sedang menatap ke arah lain selain dirinya. Tatapan jauh yang menyiratkan luka disana.

“Aku enggak marah kamu pindah kesana, malah bagus dong? Kan kamu jadi bisa belajar lebih baik disana. Kan disana enak, standar pendidikan mereka lebih bagus daripada di Indonesia, orang aja pada berusaha dapetin beasiswa supaya bisa sekolah di luar negri. Masa kamu yang dapet kesempatan itu malah nyesel sih? Aku nggak apa-apa kok. Kan masih ada Skype, YM, Facebook, Twitter, atau yang lainnya lah, apapun itu. Masa sih kita yang pacaran hampir 3 tahun kalah sama jarak gitu doang? Ya ampun jaman sekarang udah modern kali, tenang aja. Kan kamu sendiri dulu yang bilang gini. Udahlah.” Lanjut Anya masih menyembunyikan sakit hatinya.

Rio bengong menatap Anya, dia bingung apa yang harus dikatakan. Dia tau Anya sedang berbohong, memerankan sosok gadis tegar yang sama sekali bukan kenyataan dari Anya. 

Tapi Anya benar-benar pintar menyembunyikan perasaannya.

“Jadi kamu kemaren nangis gara-gara ini nih ceritanya? Ya ampun Yo, childish banget sih? Cengeng tau gak.” Kata Anya agak ketus.

Rio sadar, Anya hanya sedang berusaha terlihat memainkan perannya lebih baik lagi. Dia sedang berusaha menutupi perasaannya sendiri dengan memojokkan Rio. Dia ingin Rio marah padanya, kecewa karena ternyata tanggapan Anya jauh dari yang Rio bayangkan. Tapi Rio mengenal Anya lebih dari cukup untuk mengetahui semuanya. Jadi Rio hanya memeluk Anya lalu berkata, “Jangan pernah berusaha bohongin aku tentang perasaan kamu. Aku kenal kamu jauh dari apa yang kamu tau. Kalau kamu mau nangis sekarang, nangis Nya! Jangan ditahan. Nangis!”

Anya mendorong tubuh Rio, melepaskan dirinya dari dekapan Rio, lalu membelakangi tubuh kekasihnya itu.

“Aku bukan anak kecil. Aku nggak akan nangis cuma gara-gara masalah kaya gitu. Kalo kamu fikir aku secengeng itu, berarti maaf, kamu salah selama ini.” Kata Anya sedikit bergetar menahan tangis dan sesak di dadanya.

Rio hanya terdiam bingung harus melakukan apa, ia tau Anya marah padanya. Sikapnya sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan semuanya. Ia tau ini salahnya.

“Mendingan kamu pulang Yo.” Saran Anya pelan masih membelakangi tubuh Rio.

“Oke, sampai ketemu besok ya Nya.” Jawab Rio bangkit, lalu mencium ujung kepala Anya.

“Besok aku sibuk. Pendaftaran SMA dimulai besok. Kamu nggak usah kesini dulu.” Kata Anya dingin.

“Aku anter ya? Jam berapa?” tawar Rio.

“Nggak usah.” Jawab Anya masih dingin.

“Anya, please jangan giniin aku. Aku tau kamu marah. Tapi seenggaknya jangan buat kenangan kita sebelum aku pergi ini jadi buruk Nya.” Pinta Rio.

“Aku nggak marah.” Kata Anya sambil menatap lantai rumahnya.

“Terus?” tanya Rio masih terus memandangi Anya.

“Ya udah, besok jam 8.” Jawab Anya masih menunduk.

“Oke, see you tomorrow sayang.” Jawab Rio tersenyum puas lalu melangkah menuju pintu depan rumah Anya.

“Yo,” panggil Anya tiba-tiba.

“Iya Nya?” Rio menghentikan langkahnya dan menoleh cepat.

“Itu tadi first kiss aku.” Kata Anya sambil menunduk menyembunyikan wajahnya yang sudah merah padam.

“Aku tau. So do I. It’s my first kiss too. Bye Nya.” Kata Rio lalu kembali jalan kearah pintu depan sambil mengulum senyum bahagianya.

Anya hanya tersenyum, memandang punggung Rio yang melangkah keluar rumahnya. Untuk pertama kalinya ia tidak mengiringi kepulangan pacarnya. Anya hanya duduk diam mendengar suara mobil Rio yang berjalan keluar dari pekarangan rumahnya.

Dengan langkah gontai Anya masuk ke kamarnya. Mengunci diri, lalu mulai menyalakan tape recordernya dengan suara full. Anya menangis saat tapenya mulai memainkan sebuah lagu. Terlarut dalam kesedihan dan kenangannya bersama Rio, Anya terlelap dalam tangisnya.

And we know it was never simple never easy
Never a clean break no one here to save me
And I can’t breathe without you but I have to
Breathe without you but I have to
(Breathe – Taylor swift)

“Aku yakin ini yang terbaik untukmu, untukku, untuk kita. Tapi kita berdua tau, perpisahan tidak pernah sesederhana dan semudah itu untuk dilakukan dan dipasrahkan. Sulit pastinya untuk mulai menjalani hidup berjauhan denganmu. Sulit pastinya bagiku tidak lagi bisa merasakan hangatnya jemari tanganmu, hembusan nafasmu, alunan detak jantungmu, dan aroma tubuhmu. Tapi ini bukan sebuah penawaran. Ini adalah sebuah keharusan yang harus aku terima dengan lapang dada tanpa penolakan. Tidak ada waktu untuk merubah kenyataan ini. Lagi pula apa dayaku untuk merubahnya? Ini takdirmu. Semua sudah tergariskan. Inilah saatnya untukku bernafas tanpamu disisiku, walau aku tak mampu aku harus. Tapi aku berjanji untuk takkan pernah bernafas tanpa cinta untukmu disetiap hembusannya. Aku kuat karena aku mencintaimu. Meski kadang cinta itu juga yang melemahkanku.”
*****


Selesai deh part 3nya. Gimana nih? Makin seru atau makin bosenin? Hmm ya maaf deh. Tapi sebenernya Anya tuh gimana sih perasaannya? Dia itu labil ya? Atau muna? Kira-kira kelanjutan hubungan mereka gimana ya? Apa lagi nih kejutan-kejutan yang Rio kasih? Terus Anya tuh beneran sayang sama Rio dan bakalan rela nungguin Rio balik nggak sih? Atau justru sebaliknya? Penasaran? Baca part selanjutnya ya ;)
Part selanjutnya gue post Jumat malem. Kenapa Jumat malem? Karena sekolah gue mulai kamis udah UTS gue mau belajar yang bener. Oke deh, makasih ya buat yang udah baca.

See you next post. 

0 komentar:

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos