Sunday, March 25, 2012

Cerbung - Will It Be Us Part 2

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 21:09
Reaksi: 
Selamat pagi menjelang siang readers. Balik lagi nih gue ngepost. Kali ini gue bakalan ngelanjutin terusan cerita yang kemaren. Yap, part 2 dari cerbung gue. Hehe maaf kalau agak ngaret jamnya.

Tapi nggak pake lama sekarang baca aja nih ya.
Let's read and enjoy ;;)


 
Will It Be Us Part 2

 
“Nah, udah sampe Nya. Kamu tunggu sebentar ya. Aku bukain pintu kamu. Jangan buka dulu tutup matanya. Oke?” kata Rio.

“Iya, cepetan Yo.” Jawab Anya tak sabar menanti kejutan apa yang mungkin Rio berikan.

Rio membukakan pintu Anya lalu memapahnya keluar, “Awas Nya, hati-hati langkah kamu kesandung. Eh, eh ada parit Nya, loncat.” Kata Rio asal-asalan, berusaha menahan tawa melihat Anya yang hanya menurut saja.

“Nah, sekarang udah sampe. Bisa tebak kita ada dimana?” tanya Rio.

“Emm, aku kayak denger suara ombak. Suara angin. Kakiku ngerasa berdiri diatas pasir. Kita di pantai.” tebak Anya.
“Hemm, liat sendiri deh.” Jawab Rio sambil membuka tutup mata Anya.

Anya takjub dengan apa yang ada dihadapannya. Sebuah pantai dengan keindahan surgawi, seperti pantai dalam cerita-cerita dongeng, dan hanya ada dirinya dan Rio di tempat ini. Entah apa yang Rio lakukan hingga pantai seindah ini bisa hanya terdapat dirinya dan Rio. Airnya yang tidak berwarna, jernih. Pasirnya yang putih tak berkarang. Sekeliling pantai yang tertutupi tebing-tebing tinggi. Seperti menyembunyikan pantai itu. Debur ombak yang tenang. Dan dihadapannya terbentang tulisan I Love You dibingkai dengan gambar hati dan terdapat banyak lilin disekitarnya memenuhi sisi-sisi hati itu.

 Hati Anya berbunga, ia benar-benar bahagia dengan semua ini. Dia melompat senang ke dalam pelukan Rio. “Rio, ini bener-bener sweet  banget sayang! Aku gak nyangka kamu seromantis ini.” Kata Anya saat memeluk Rio.

“Kamu suka Nya?” tanya Rio.

Anya hanya menjawab dengan anggukan dan senyum yang tak bisa ia hilangkan. Memutar tubuhnya untuk melihat semuanya.

“Yo, tapi aku takut. Boleh aku nanya?” kata Anya dengan wajah serius.

“Boleh, apa?” tanya Rio penasaran.

“Aku udah mati ya?” tanya Anya tak lagi bisa menahan tawanya yang mengundang Rio untuk tertawa juga.

“Emang kenapa? Apa aku kelihatan kaya malaikat pencabut nyawa Nya?” tanya Rio terkikik geli.

“Bukannya gitu. Disini indah banget, kaya surga. Udah gitu disebelah aku ada cowo ganteng banget kaya malaikat. Aku jadi ragu kalau aku masih di dunia apa enggak.” Jawab Anya tertawa kecil.

“Tapi Yo, by the way kita ini dimana ya?” tanya Anya polos.

“Anyer.” Jawab Rio singkat sambil menatap ke lautan.                             

“Kok aku baru sekali ke pantai ini? Kayanya aku baru liat kalau di Anyer ada pantai seindah ini? Aku kan sering ke Anyer. Trus setau aku Anyer itu banyak karangnya, kok ini enggak? Bohong ah.” Kata Anya.

“Beneran, ini pantai pribadi keluargaku. Jadi ya gak terbuka untuk umum. Wajar kalo kamu belum pernah kesini. Di depan aja dijaga satpam kok.” Kata Rio.

Akhirnya terjawab sudah pertanyaan Anya tentang kenapa tempat ini sepi, masih terjaga dan indah. “Ah, apa aku bisa menerima semua keindahan yang ia berikan? Bukan hanya ganteng, pacar sempurnaku ini juga cucu dari pengusaha tersukses ke-7 di Indonesia. Sedangkan aku? Papaku hanya seorang pegawai negri di sebuah instansi milik negara. Yang tentu tidak pernah sebanding dengan keluarga Rio.” Gumam Anya dalam hati yang tiba-tiba penuh dengan kekhawatiran, minder akan posisinya dan Rio.

“Anya kenapa?” tanya Rio sambil mendekap tubuh Anya mendekat ke arahnya. Wangi parfum mahal tercium dari tubuhnya yang Anya akui wangi parfum dan campuran keringat Rio selalu menjadi aroma yang memabukkannya.

“Enggak.” Jawab Anya sambil menyenderkan kepalanya dipundak Rio dan duduk menatap lautan yang nampak tak bertepi.
*****


Tanpa disadari seharian mereka bermain di pinggir pantai bersama, merangkai memori indah yang terbentuk manis di hati mereka berdua. Menjadikan hari itu sebagai salah satu dari sekian banyak hari yang tidak pernah ingin mereka lupakan. Melupakan sejenak apa yang akan mereka hadapi nanti, menatap lautan luas bersama pada senja mereka di pantai itu.

Hanya debur ombak yang terdengar ditengah kesunyian mereka. Duduk bersenderan menghadap lautan luas, terhanyut akan suasana romantis yang alami datang dari pantai dan hati mereka berdua.

“Kalau aku jauh diseberang lautan sana apa kamu bakalan sabar menanti aku Nya?” tanya Rio tiba-tiba memecah kesunyian.

Anya hanya diam menatap Rio tidak mengerti maksud pertanyaannya.

“Kok diem? Kamu nggak sanggup ya nunggu aku?” lanjut Rio lagi.

“Enggak.” Jawab Anya.

Cukup dengan satu kata itu berhasil membuat asupan oksigen untuk paru-paru Rio menipis sehingga menimbulkan sesak dalam dadanya.

“Kenapa Nya? Aku fikir...”

“Kamu fikir apa?” kata Anya memotong kalimat Rio.

“Enggak.” Jawab Rio menunduk menyembunyikan perasaannya yang terluka.

“Jelas aku nggak akan nunggu kamu Yo, aku punya tangan sama kaki lengkap, kemanapun kamu pergi aku akan nyusul. Aku nggak akan nunggu kamu balik kaya cerita-cerita bodoh tentang roman yang cowonya merantau kemana tau trus cewenya cuma bisa mandangin langit bawa-bawa sapu tangan nungguin pacarnya pulang sambil nangis. Karena ini kehidupan nyata, dan ini kehidupan aku, aku yang menentukan ceritaku bukan penulis yang suka bikin perasaan orang tercampur aduk harap-harap cemas dua tokoh utama itu bakalan dapet happy endingnya. Aku nggak bodoh, aku lebih dari kuat untuk selalu berusaha berada di dekat kamu, sesulit apapun itu.” Kata Anya sambil tersenyum puas akan jawabannya yang menurutnya sempurna.

Tapi Rio hanya menatap Anya dengan mata sedih, ada awan gelap disana meskipun terlihat jelas bahwa sang pemilik mata indah itu menyembunyikannya sebaik mungkin dengan seulas senyum.

“Seandainya semudah yang kamu bilang, kalau di kehidupan kita ini kita sendiri yang nulis ceritanya, tapi beberapa orang terkadang hanya jadi boneka yang memerankan sebuah naskah Nya. Nggak bisa dipungkiri hidup kamu juga, ada Tuhan yang ngatur, ada orang tua kamu yang campur tangan, hidup kamu nggak akan pernah pure buatan kamu sendiri karena kamu hidup gak sendiri di dunia ini Nya.”

“Trus kenapa takut? Kan kata kamu ada Tuhan yang ngatur, aku percaya Tuhan selalu tau yang terbaik buat ciptaannya. Dan Tuhan pasti setuju dengan jawaban aku, inget deh Tuhan tuh nggak suka sama hambanya yang gampang putus asa dan nyerah tanpa ngelakuin usaha apapun.” Jawab Anya tegas.

“Dan Tuhan gak suka manusia sombong yang ngomong lebih dari apa yang sanggup dia lakukan.” Sahut Rio menekuk lututnya menyembunyikan wajahnya yang kini sudah memerah karena sesak dan airmata yang turun dengan cepat melewati pipinya.

“Yo...” Anya mendekap erat tubuh Rio, berusaha memberikan kenyamanan sebisa mungkin, walaupun ia bingung apa yang sebenarnya terjadi. Tapi Anya tau, Rio hanya belum siap menceritakan karena mungkin waktunya belum tepat. Tapi pasti suatu saat Rio akan mengatakan padanya.
*****

Hanya alunan musik dari tape mobil Rio dan suara mesin mobil yang terdengar sepanjang perjalanan pulang mereka, tak ada satu pun kata yang keluar dari bibir Anya ataupun Rio.
Beberapa kali Anya menoleh kearah Rio hanya untuk memastikan ia baik-baik saja. Kekhawatiran menyelimuti diri Anya, hari ini adalah pertama kali ia melihat Rio menangis selama hampir 3 tahun mereka bersama. Rio bukan pemuda yang lemah, bukan anak cengeng yang mudah menitikkan airmata walaupun ia anak tunggal dan sangat dimanja. Tapi Anya tau siapa Rio, ia dewasa, lebih dewasa dari apa yang seharusnya ada. Dan Anya tau ada sesuatu yang sangat sulit yang sedang dihadapi kekasihnya saat ini. Entah itu menyangkut dirinya atau bukan. Tapi ia sadar, sedikit banyak ia pasti terlibat. Meskipun tidak yakin seberapa jauh dirinya ikut terseret. Tapi ia harap cukup jauh untuk menyelesaikan masalah Rio dan membantunya kembali tersenyum, menjadi Rio yang selalu tenang seperti dulu.

Menerka-nerka tentang apa yang sebenarnya tengah dihadapi Rio, Anya justru merasa sesak. Tidak sanggup membayangkan kalau itu mengharuskan dia dan Rio berpisah. Anya berusaha menepis semua bayangan yang ada dan berusaha tenang. Ia takut kegelisahannya akan terlihat oleh Rio. “Aku tidak boleh terlihat seperti itu di depan Rio. Bagaimana ia bisa tenang kalau perilakuku juga menggelisahkan?” gumam Anya dalam hati. Ia bersenandung kecil mengikuti alunan musik dari tape.

But how do you expect me
To live alone with just me
Cause my world revolves around you
And it’s so hard for me to breathe
(No Air – Chris Brown ft. Jordin Sparks)

“Kalau ini tentang kamu yang akan meninggalkan aku Yo, aku nggak tau aku sanggup atau enggak jalanin semuanya. Sendiri. Aku takut dengan kata itu Yo, takut. Aku takut sendiri. Tapi jauh lebih takut sendiri karena kehilangan kamu.”
*****


“Makasih untuk hari ini ya Yo.” Kata Anya berusaha tersenyum saat mobil Rio berhenti di depan pagar rumahnya.

Rio hanya tersenyum simpul, lalu Anya mencium pipi kiri Rio.

“Ya udah, hati-hati di jalan ya.” Lanjut Anya lagi lalu menarik kunci untuk membuka pintu.

“Anya,” seru Rio lirih sambil menahan lengan kanan Anya.

“Iya yo?”

“Makasih juga buat hari ini. Dan maaf kalau ternyata hari ini nggak berakhir indah seperti yang kamu bayangin. Aku sayang kamu.” Kata Rio lalu mencium kening Anya.
Anya turun dari mobil, merasa sedikit lega mendengar kalimat terakhir yang Rio ucapkan. Lalu berdiri di samping pintu mobil Rio.

“Aku sayang kamu juga. Selalu.” Jawab Anya sambil tersenyum di depan jendela mobil yang terbuka lebar itu.

“Salam buat Mama sama Papa ya Nya. Maaf aku ngga mampir, udah malem sih.” Kata Rio lalu mulai menyalakan mesin mobilnya.

“Iya, ngga apa-apa. Sms atau telfon ya kalau udah sampe rumah Yo.” Kata Anya.

“Iya sayang, sampai ketemu besok ya.” Lalu Rio pergi mengendarai mobilnya pulang.
*****

“Gimana hari ini sama Anya Yo? Ngapain aja disana? Anya pasti seneng dong? Cerita dong sama Mama. Kangen nih Mama sama Anya, udah lama dia nggak main kesini, udah lama juga kamu nggak cerita tentang dia.” Tanya Mama duduk di pinggir tempat tidur Rio sambil membelai rambut Putra tunggal kesayangannya itu.

“Seneng kok Ma.” Jawab Rio singkat.

“Trus kalian ngapain aja disana?” tanya Mama lagi.

“Berenang, main pasir, bakar ikan, bakar jagung, foto-foto, buat video, nonton sunset, makan malam, pulang.” Kata Rio.

“Wah, asyik dong? Coba Mama ikut ya? Eh tapi nanti ganggu deh kayanya.” Kata Mama coba menggoda Rio. Tapi Rio hanya diam tidak merespon godaan Mamanya.

“Yo, ada masalah? Cerita sama Mama Yo.” Tanya Mama khawatir.
Rio hanya diam.

“Yo, siapa tau Mama bisa bantu, coba ceritain sama Mama kamu kenapa?” tanya Mama lagi.

“Ngga apa-apa Ma, aku cuma bingung aja cara ngasih tau Anya tentang kepergian kita tanpa nyakitin perasaannya, dan tanpa ngerubah hubungan aku sama dia.” Jawab Rio jujur.

“Kamu belum kasih tau Anya?” tanya Mama agak kaget.

“Belum Ma. Aku takut.”

“Yo, kamu harus berani, Anya harus tau secepatnya, dia butuh waktu untuk mempersiapkan hati dan dirinya berjauhan sama kamu Yo. Kalau kamu menunda-nunda sampai hari kamu akan pergi, yang ada itu akan membuat Anya lebih ngerasa sakit hati sayang.” Kata Mama berusaha menjelaskan.

“Tapi Ma....” Rio berusaha menyanggah.

“Tapi apa? Kamu bingung ngasih taunya? Mama tau ini berat, tapi Mama juga tau Anya gadis cerdas yang punya pemikiran logis, dia nggak egois, mungkin hatinya akan sakit. Tapi pasti nggak seburuk yang kamu fikirin kalau kamu bisa kasih dia pengertian kenapa kita harus pindah. Anya pasti mau yang terbaik buat kamu. Mama tau kok Anya sayang banget sama kamu seperti kamu sayang banget sama Anya. Udah jangan khawatir.” Kata Mama panjang lebar.

“Iya Ma, makasih ya.”

“Sama-sama sayang. Tidur gih, udah malem.” Kata Mama lembut. Lalu melangkah keluar dari kamar Rio dan menutup pintu kamarnya. Meninggalkan Rio yang termenung menatap kameranya yang menampilkan foto-fotonya bersama Anya tadi.

Rasa sesak seketika menyelimuti Rio. Kehampaan yang sejak tadi dirasakannya menguat. Udara dingin dari AC kamar Rio menambah rasa takut dan kepedihan hatinya. Dingin menyergap tubuh dan jiwanya. Dingin yang menusuk, menyayat-nyayat perasaannya. Lalu Rio merebahkan tubuhnya dan menutup kelopak matanya, berharap saat ia terbangun esok pagi semuanya sudah kembali membaik dan tidak ada yang perlu dikatakan kepada Anya tentang kepergiannya karena mereka akan selalu bersama, berjalan berdampingan hingga akhir dari hidup mereka untuk saling menguatkan.
*****


“Halo...” Jawab Rio dengan setengah sadar terbangun dari tidurnya saat Handphone-nya berdering.

“Yo, kamu baru bangun?” Tanya suara diseberang telfon.

“Iya, kenapa Nya?” Jawab Rio sambil merentangkan tubuhnya.

“Ohh enggak, aku cuma mau mastiin kamu baik-baik aja. Abisnya semalem kamu nggak nelfon atau sms aku. Aku smsin berkali-kali juga nggak dibales. Kamu ngga apa-apa kan?” Tanya Anya agak khawatir.

“Nggak apa-apa kok Nya. Maaf ya semalem aku lupa, kecapean soalnya, jadi langsung tidur begitu sampe rumah.” Kata Rio berbohong.

“Ohh, ya udah deh. Maaf ya aku ganggu tidur kamu. Kalau masih cape tidur lagi aja. 

Lagian juga baru jam 8 kok.” Kata Anya perhatian.

“Enggak deh, udah cukup kok tidurnya. Aku ke rumah kamu ya?” Tanya Rio.

“Boleh, aku tunggu ya.”
 
“Sip, sejam lagi aku udah disana deh. See you sayang.” Kata Rio semangat.

“See you,” sahut Anya senang.

*****

Yap, selesai sudah part 2nya saudara-saudara. Kira-kira kejutan apa lagi yang Rio kasih buat Anya ya? Mau ngapain lagi nih Rio ke rumah Anya? Umm, Rio jadi ngasih tau kalo dia mau pindah gak ya? Trus si Anya kira-kira gimana ya reaksinya? Nah kalo penasaran baca blog gue besok deh. Insya Allah besok ngepost. Tapi agak sorean ya, atau mungkin malem. Soalnya besok kan udah mulai masuk sekolah tuh.

Yap readers, cukup sekian menurut saya. Pantengin terus blog gue, siapa tau ada info menarik atau life share yang bisa kalian ambil hikmahnya selain cerita-cerita karangan gue ini.

See you next post

0 komentar:

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos