Saturday, March 24, 2012

Cerbung - Will It Be Us Part 1

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 21:18
Reaksi: 
Hai readers, gue balik posting lagi nih. Oke, nepatin janji gue yang kemaren gue hari ini bakalan ngepost cerbung gue. Setelah semalem cerita buatan gue yang udah nyampe 50 halaman ini gue cek dan di edit, gue potong-potong jadi beberapa bagian. Tujuannya sih ya supaya setiap di akhir part kalian tetep penasaran dan pengen baca lagi cerita gue. Muehehehe...

Oke, dari pada kelamaan mending langsug baca aja deh nih,
check it out...


 
Will It Be Us Part 1


Hari ini hari bebas, Anya datang ke sekolah hanya untuk menyelesaikan semua berkas-berkas yang ia perlukan untuk masuk SMA nanti. Ya, Anya baru saja lulus dari SMP. Dengan nilai yang cukup tinggi, dia optimis bisa masuk ke SMA Tunas Harapan sekolah favorit di kotanya sebagaimana yang dia mimpikan selama ini.

Setelah cap 3 jari dan menandatangani beberapa berkas, Anya pergi ke taman sekolah. 

Duduk sendiri dibangku taman menunggu seseorang. Lalu tiba-tiba ada yang menutup matanya dari belakang.

“Rio, udah deh, aku tau ini kamu. Lepasin ah.” Kata Anya sambil berusaha melepaskan tangan dimatanya itu.

“Hohoho, aku bukan Rio. Aku ini malaikat pelindungmu Anya.” Jawab si pemilik tangan itu dengan suara agak dibuat-buat.

“Riooo...” Akhirnya Anya berhasil melepaskan tangan itu. Dan ternyata benar tebakannya. Itu Rio, pacarnya beberapa tahun terakhir selama di SMP.

“Hehe, Anya tau aja ah.” Kata Rio cengengesan.

“Tau lah, lagian kamu nyamarnya jadi malaikat pelindungku sih. Kan aku jadi tau kalo itu kamu. Kamu kan emang malaikat pelindungku Yo.” Kata Anya menampilkan senyum paling manisnya.

“Ahh kamu bisa aja.” Rio tersipu malu.

“Nya, pulang yuk. Sekolah udah sepi banget gini lagian juga kan?” Ajak Rio.

“Ayuk deh, tapi makan dulu yuk. Aku laper Yo.” Kata Anya setengah merajuk.

“Haduuuhh, emang dasar si gembul. Pipi udah tembem tuh. Makan melulu sih.” Ejek Rio.

“Yeh, aku kan gak gendut Yo, cuman emang dasarnya pipi aku chubby aja. Lagian kan ini udah jam makan siang.” Jawab Anya.

“Iya, iya ayo. Aku juga lagian cuma bercanda kok. Tempat makan biasa ya?”

Mereka pun berjalan beriringan menuju tempat motor Rio diparkirkan. Lalu pergi menjauhi sekolah menuju restoran biasa tempat mereka makan. Dengan balutan seragam putih-biru mereka tidak menghilangkan kesan romantis diantara mereka berdua. Usia hubungan mereka juga sudah lumayan lama. Hampir 3 tahun. Walaupun mereka kadang-kadang suka berantem gara-gara sama-sama cemburuan. Tapi kelihatannnya mereka bisa melewati itu semua tuh. Rio sayang banget sama Anya. Begitu juga Anya.
*****


“Jadi, kamu rencananya mau masuk SMA mana Yo?” tanya Anya sambil menyantap steak yang ia pesan tadi.

“Gak tau. Liat aja nanti. Nilaiku kan gak besar, mungkin di sekolah biasa. Yang jelas pasti gak bisa satu sekolah lagi sama kamu.” Kemudian hening sesaat diantara mereka.

“Kamu jadi kan masuk SMA Tunas Harapan sesuai mimpi kamu dulu?” lanjut Rio lagi.

“Yo, asalkan bisa terus sama kamu, aku rela kok gak masuk SMA itu. Alah, gak peduli lah dengan statusnya yang sekolah favorit itu. Toh yang penting gimana akunya. Belajar dimanapun sama aja kan? Aku mau masuk ke sekolah yang ada kamunya aja Yo. Aku gak terlalu pengen di Tunas Harapan lagi lah.” Jawab Anya sungguh-sungguh.

“Nya, kamu gak boleh gitu. Kamu gak boleh nyingkirin cita-cita kamu cuma gara-gara aku. Sayang nilai kamu Nya kalo disia-siain gitu aja. Lagian coba deh kamu bayangin gimana kecewanya orang tua kamu nanti?” kata Rio berusaha bijaksana.

“Yo, sekolah itu favorit atau enggak kan cuma pencitraan aja. Kalo akunya bodoh ya sama aja bohong sekolah disitu.” Kata Anya lagi.

“Tapi kan kamu gak bodoh. Kamu pinter. Trus apalagi alesan kamu buat gak sekolah disitu? Gak ada Anya sayang. Kalo aku jadi kamu, aku gak akan sia-siain nilai yang lumayan tinggi itu. Kaya kata kamu dulu, metik bintang itu gak bisa kalo lompatnya gak pake trampolin, trampolin itu gunanya buat bantu kamu lompat tinggi dan meraih bintang. Inget? Nah, SMA favorit yang kamu pilih nanti itu yang akan jadi trampolin untuk bantu kamu melompat setinggi-tingginya meraih cita-cita kamu.” kata Rio sambil memegang kedua tangan Anya.

“Tapi aku gak sanggup kalo gak ada kamu......” jawab Anya lirih.

“Anya, kalo aku ada waktu dan kamu ada waktu pasti kita bisa ketemu kok.” Jawab Rio.

“Tapi kan pasti susah Yo... Aku takut kehilangan kamu. Aku mau SMP terus aja.” Seru Anya manja.

“Udah ah, jangan kaya anak kecil. Apapun keadaannya aku akan terus ada dihati kamu. 

Dan kamu udah jadi pemilik tunggal hati aku. Kamu gak perlu takut kehilangan aku. Suatu saat aku hilang dari kamu, aku pasti kembali. Cinta selalu tau jalan pulang. Karna hati kamu itu rumahnya cinta aku, pasti aku gak akan berada jauh terlalu lama dari kamu. Aku janji sayang.” Kata Rio tulus.

“Tapi nanti kalo kangen gimana?” tanya Anya polos.

“Jaman sekarang kan udah canggih, sms, mms, video webcam, facebook, twitter, YM. Udah tenang aja. Kalo kangen pengen ketemu bisa janjian kok. Udah jangan terlalu dipikirin Nya.” Jawab Rio

“Yo, aku sayang banget sama kamu.” Bisik Anya.

 “Aku juga sayang banget sama kamu Nya.” Balas Rio.

Hari itu berakhir dengan sebuah pelukan hangat dari Rio. Mereka berdua akhirnya pulang. Rio mengantar Anya sampai rumah. Walaupun rumah mereka berlawanan arah tapi 

Rio selalu bersedia mengantarkan Anya kemanapun. Yang penting dia tau bahwa perempuan yang sangat dicintainya itu sampai ditujuan dengan selamat.

Sesampainya di rumah Anya.

“Yo, masuk dulu?” kata Anya menawarkan.

“Enggg, nggak, gak deh Nya. Udah siang banget, aku langsung pulang aja.” Jawab Rio.

“Masuk dulu lah, ketemu mama, kan udah lama gak ketemu.” Bujuk Anya

“Iya deh, tapi aku abis itu langsung pulang ya Nya.” Kata Rio.

“Iyaaa, ayo.”

“Udah motornya taro situ aja.” Lanjut Anya lalu melangkah ke dalam rumah.
*****

“Assallamuallaikum... Mah, Anya pulang.” Teriak Anya di depan pintu.

“Waallaikum sallam. Udah pulang sayang?” jawab mama sambil mengelus lembut rambut putrinya.

“Iya mah, tadi aku udah selesai dari jam 11 sebenernya. Tapi terus aku makan dulu sama Rio.” Kata Anya.

“Ohh iya gak apa-apa. Rio masuk dulu, tante baru selesai bikin kue tuh. Yuk, cobain.”

“Ahh, gak usah tante. Gak usah repot-repot. Aku mau langsung pulang aja.”

“Loh kok buru-buru banget?” tanya Mama.

“Iya udah siang tante, aku tadi bilang sama mama cuma sebentar ke sekolahnya. Takut nanti mama nyariin aku. Lagian aku cuma mau anter Anya aja kok.” Jawab Rio.

“Aduh, jadi ngerepotin kamu ya, Anya dianter-anter segala. Yaudah deh, salam buat mama kamu ya Yo.”

“Iya tante, aku pamit ya. Nya, aku pulang.” Pamit Rio.
*****

 “Aku sayang sama kamu Nya. Sayang banget. Aku takut jauh dari kamu. Aku takut nggak sanggup jalaninnya. Sama seperti yang kamu bilang dulu. Aku juga nggak mau pisah sama kamu Nya. Aku kangen kamu. Aku benci keadaan ini. Keadaan yang misahin kita. Tapi 
perasaanku tetap Nya, satu, untuk kamu. Aku janji, akan jaga perasaan ini sampai kapanpun. Sampai jarak dan waktu nyerah misahin kita, dan semuanya kembali seperti dulu.”

“Rio...” panggil mama membuyarkan lamunan Rio.

“Iya ma, kenapa?”

“Ini paspor sama surat-surat untuk kepindahan kita ke Kanada. Mama udah urus semuanya. Dan masalah sekolah kamu juga sudah di daftarkan oleh anak buah papa disana.” Jelas mama Rio sambil mengelus kepala putra tunggal kesayangannya itu. Satu-satunya hartanya yang paling berharga. Putra mahkota yang dinantikannya bertahun-tahun.

“Aku gak mau pindah ma...” kata Rio lirih.

“Kenapa sayang? Karena Anya?” Tanya mama.

“Ma, aku kan sudah besar. Boleh dong aku menentukan pilihan aku sendiri mau masuk SMA mana. Aku pengen stay di jakarta aja ma. Aku bisa tinggal sama Bude Lin, atau Bude Sri kan? Lagi pula aku akan ngerasa lebih nyaman kalo tinggal di tempat kelahiranku sendiri ma. Aku gak mau ikut papa pindah tugas disana.” Kata Rio diam sejenak.
“Dan terlalu banyak yang aku cintai di Jakarta ma. Iya, terutama Anya.” Lanjut Rio tegas.
Mama tertegun, tiba-tiba terbersit dibenaknya bagaimana pemuda tampan yang saat ini duduk disampingnya datang padanya dalam keadaan 180° berbeda saat 15 tahun lalu.

Bayi mungil yang telah dinantikan selama 6 tahun, datang pada tengah malam yang dingin dimusim hujan. Hanya sang ayah dan beberapa suster serta seorang dokter yang membantu kelahirannya. Diiringi dengan simponi indah perpaduan dari suara derai hujan dan gemericik air di atap rumah sakit serta terpaan angin yang meniup pepohonan seakan menyambut kedatangan bayi mungil itu.

Tangisannya mampu membuat suasana hening menjadi bercampur aduk antara haru dan bahagia. Tangisan yang membelah malam. Mengirimkan pesan ke surga bahwa 1 dari anak cucu Adam telah lahir.

Namun kini, bayi mungil yang selalu dinantikan itu telah berubah. Ia bukanlah lagi bayi mungilnya yang dulu bisa ditimang-timangnya. Ia telah menjelma menjadi seorang pemuda tampan yang hampir beranjak dewasa. Yang bahkan sudah memiliki seorang gadis untuk dicintai. “Ahh, betapa sudah lamanya masa itu.”  Gumam mama dalam hati.

“Mama ngerti kok Yo, kamu pasti berat buat pisah sama Anya, jauh dari Anya. Tapi mama masih butuh kamu Yo. Kalo kamu stay di Jakarta, nanti yang nemenin mama kalo papa kamu kerja siapa? Kamu kan tau papa kalo meeting bisa sampai tengah malam. Mama takut kesepian disana Yo. Cuma kamu anak mama satu-satunya. Harus sama siapa lagi mama minta ditemani? Tapi kalau kamu rasa kamu akan lebih nyaman kalau tinggal dan sekolah di Jakarta, ya sudah. Nanti mama bilang sama papa, biar pendaftaran di Kanada dicancel aja.” Kata mama tulus.
Rio terdiam. Ia bingung harus bagaimana. Benar kata mamanya, kalau bukan Rio siapa lagi yang akan menjaga mama? Rio sayang sama mama, sangat sayang. Ia bahkan tidak sanggup membayangkan bagaimana nanti mama kesepian saat papa harus bekerja lembur. Akhirnya Rio membuka mulutnya saat mama akan melangkah keluar kamarnya.

“Ma...” panggil Rio.

“Iya sayang?” jawab mama.

“Aku ikut ke Kanada.” Jawab Rio singkat dan dibalas dengan senyum tulus mama. Senyum yang selalu bisa menenangkan hatinya. Senyum yang sama dengan yang ia temukan di wajah mungil Anya. Dua wanita yang sangat ia cintai. Dan kini saat ia harus memilih. Ia sadar, apapun pilihannya akan menyakiti salah satunya.

“Maaf Nya...” gumam Rio lirih,  diiringi dengan setetes air mata yang tanpa terasa jatuh dari mata kanannya.
*****


“Anyaaaa... Banguuuuunnn!!! Anyaaaa!!!” seru sebuah suara yang membangunkan Anya.

“Ahh, mama Anya masih ngantuk maaa, kan lagian aku gak sekolah, masih pagi banget nih.” Jawab Anya setengah sadar.

“Mama? Emang suaraku kaya ibu-ibu ya Nya? Ini aku Rio sayang.” Kata Rio menahan tawa.
Anya hampir saja melompat dari tempat tidur saking kagetnya Rio ada dikamarnya. Ini pertama kalinya Rio masuk kamarnya. Sebelumnya kalaupun Rio datang paling hanya duduk di ruang keluarga. Tapi kali ini tidak.

“Loh, Rio? Kamu ngapaiiiinn? Ini baru jam 04.50. Ngigo? Atau ada masalah sama mama papa kamu?” tanya Anya sambil mengerjap-ngerjapkan matanya yang belum jelas melihat.

“Akk...” Belum sempat Rio menyelesaikan kalimatnya Anya memotong dengan serentetan kalimat. “Ya ampun, aku masih pake baju tidur, trus rambut berantakan gini, muka kusut, penuh iler, masih belekan!!! AAAAA!!!! Aku masih jelek! Sana! Sana! Kamu gak boleh liat aku kaya gini!”

“Ssstt... Gak peduli kamu kaya gimana. Aku cinta kamu apa adanya. Bukan cuma keindahan yang keliatan diluar ini, tapi yang ada di dalam sini.” Balas Rio sambil menempelkan telunjuknya ke bibir Anya, kemudian mengelus pipi hingga dagunya, lalu meletakkan tangannya di dada Anya.

“Ya Tuhaaaannn, entah anugerah atau cobaan yang kau berikan padaku ini. Seorang malaikat tanpa sayap kau berikan padaku untuk menemaniku, membangunkanku sepagi ini hanya untuk mengatakan dia mencintaiku apa adanya. Apa aku sanggup menjaga ini semua? Apa aku sanggup mempertahankan apa yang telah kau beri? Akankah sang malaikat tak bersayap ini menemani disisiku selamanya. Akankah sang malaikat tak bersayap ini berakhir bahagia bersamaku pada akhirnya? Ataukah akan berakhir tak bertepi kandas dikedalaman lautan cinta yang sedang kami arungi bersama?”

“Anya? Kok bengong?” tanya Rio membuyarkan lamunan Anya tentangnya sambil memegang dagu Anya.

“Ahh Rioooo...” kata Anya sambil melompat kedalam pelukan Rio, lalu menangis dipelukannya.

Rio terdiam, segenang airmata telah mengisi kelopak matanya. Namun desah nafas tangisan seorang gadis dalam dekapannya kini menguatkannya untuk tetap tegar. Ia sadar, gadis ini butuh ketegaran, bukan air mata.

“Anya, kok nangis?” tanya Rio berusaha menutupi suaranya yang agak serak akibat sesak yang ia tahan di dalam hatinya.

“Aku nangis karena bahagia Yo...” jawab Anya.

“Bahagia? Kenapa?” tanya Rio lagi. Kini perasaan sesak yang tadi sempat merasuki relung batinnya sedikit memudar setelah gadis dihadapannya ini mengatakan ia bahagia. Entah apa yang terjadi, perasaan damai dan tenang seketika merasuki dirinya saat kata-kata itu keluar dari bibir Anya. Seperti ia juga merasakan bahagia yang sama. Tapi jauh dihati kecilnya berteriak, memerintahkan untuk segera jujur akan apa yang sebenarnya akan terjadi pada gadis ini, namun justru malah menutupinya. Dan malah berharap seminggu adalah waktu yang cukup untuk memberikan kenangan-kenangan indah terakhir untuk Anya. Untuknya.

“Bahagia karena Tuhan ngasih aku seorang malaikat tanpa sayap, peri tanpa tongkat, pangeran tanpa mahkota, pada saat yang bersamaan.” Jawab Anya menguntai sebuah senyum termanis.

“Heh! Mulai jago gombal ya? Ayo belajar sama siapa?” tanya Rio dengan memelototkan matanya berusaha terlihat marah, namun matanya sendiri yang menghianatinya. Bukan kemarahan yang terlihat justru cahaya akan cinta yang begitu kuat memancar hebat dari kedua bola mata Rio.

Anya tertawa dan berkata, “Dari kamu, siapa lagi?”

Rio tersenyum pedih. Hatinya teriris mendegar suara tawa Anya. Seminggu lagi ia akan meninggalkan ini semua. Senyum manis Anya yang selalu menemaninya. Derai tawa Anya 
yang selalu lebih indah dari semua alunan simponi yang pernah ia dengar. Pipi yang selalu merona merah saat Anya tersenyum, tertawa, tersipu malu, atau menangis karena tersakiti secara tidak sengaja oleh Rio.

“Gini dong Nya, ketawa, jangan nangis. Kamu kan lebih manis kalau ketawa. Lagipula aku jadi lega kalau liat kamu ketawa kamu itu sumber kebahagiaan aku Nya.” Kata Rio diiringi dengan helaan nafas panjang. Mengisyaratkan kegelisahan di dalam hatinya yang mulai terbaca Anya.

“Yo, kaa...” Belum selesai Anya menyelesaikan kalimatnya Rio telah memotongnya dan melanjutkan kalimat yang tadi ia jeda dengan helaan nafas panjang.

“Aku gak mau kamu nangis lagi karena aku, apapun alesannya. Aku gak mau liat kamu nangis. Aku takut gak bisa hapus air mata kamu Nya. Aku takut suatu saat nanti ada orang lain yang menghapusnya untuk kamu saat aku gak mungkin bisa ada disisi kamu untuk menghapus semua butir air mata yang ngotorin pipi kamu. Janji sama aku, apapun yang terjadi, jangan nangis lagi.”

Anya tertegun beberapa saat merasakan ada makna tersembunyi dari semua kata-kata yang diucapkan laki-laki yang tak pernah bosan ia pandangi ini.

“Kamu kenapa? Ada masalah? Ayo cerita sama aku. Aku siap dengerin.” Kata Anya sambil menyelipkan sejumput rambutnya kebelakang telinga.

Rio diam menunduk beberapa saat. Kemudian kembali menatap Anya dengan senyum ceria yang biasa ia tunjukkan.

“Gak ada apa-apa. Cuma pengen puitis aja pagi-pagi. Heh ayo cepetan mandi! Aku kesini bukan mau bikin drama sama kamu, aku mau ngajak kamu pergi. Gak ada penolakan, gak 
ada pertanyaan. Ini perintah bukan tawaran. Ini handuk, udah sana masuk kamar mandi, aku tunggu luar. Gak pake lama.” Cerocos Rio.

“Tapi Yo ini....”

“Gak pake tapi, kalo gak mau mandi yaudah kita langsung pergi kamu gak usah mandi.” Kata Rio dari depan pintu yang masih terbuka.

“Eh eh, iya iya aku mandi.” Anya panik. Dalam hatinya ia bingung apa yang terjadi. Mengapa dengan Rio. Dia tidak seperti biasanya. Ia bukan Rio yang biasa ia kenal. “Rio gak suka tuh yang namanya puitis-puitis gitu kaya barusan, dia malah suka jijik. Tapi tadi kok? Trus Rio orangnya emang keras kepala, tapi gak biasanya dia gak mau dibantah. Baru kali ini Rio merintah aku. Kenapa sih dia?”

Anya masih bingung setengah mati dengan perilaku Rio yang benar-benar tidak ia duga pagi ini. Dari mulai datang jam stengah 5. Memberikannya kata-kata puitis. Dan mengajak pergi tanpa tujuan yang jelas. Ya tapi bukan Rio namanya kalau nggak misterius. Salah 1 hal yang selalu Anya gila-gilai dari cowok ganteng tadi. Hidup Anya selalu makin berwarna dengan kejutan-kejutan Rio. Hari ini ia tidak sabar apa selanjutnya. Jadi Anya ikuti saja apa mau Rio. Menanti kejutan apa yang akan ia dapatkan selanjutnya.
*****

“Udah siap?” tanya Rio sambil tersenyum melihat Anya yang sudah rapih dan wangi berdiri di hadapannya.

“Udah, tapi emang mau kemana sih pagi-pagi buta begini? Naik motor Yo?” tanya Anya penasaran.

“Udah ayo liat aja.” Kata Rio sambil menarik tangan kanan Anya keluar ruang tamunya.
Baru sampai teras Anya tercengang, melihat bukan motor Honda Revo biru yang biasa mengantar mereka berpergian selama hampir 3 tahun. Saksi bisu perjalanan cinta Anya dan Rio. Sesuatu yang tak dapat terhapuskan dari ingatan bagaimana dulu pertama kali 
Rio menjemputnya dengan motor itu. Tapi yang ada dihadapannya sebuah BMW seri terbaru berwarna hitam mengkilap yang terparkir rapi, bukan motor kenangan mereka.

“Yo? Mobil kamu? Kita sama supir? Tumben.” Kata Anya sedikit kecewa karena menyadari ternyata jalan-jalan kali ini ia tidak sepenuhnya berdua dengan Rio.

“Disupirin Pak Yayat?” lanjut Anya lagi.

“Emm, aku supir kamu sekarang. Gak ada Pak Yayat atau siapapun. Cuma aku dan kamu.” 
Kata Rio menahan tawa melihat ekspresi kaget Anya.

“Tapi Yo, bukannya kamu....” kalimat Anya terhenti saat Rio menaruh telunjuknya dibibir Anya.

“Aku udah dapet izin dari mama, setelah lulus SMP aku bebas bawa mobil ini kemanapun. 

Yah walaupun mobil ini punya Papa belum resmi punyaku seenggaknya aku masih dibolehin bebas bawa mobil ini kemanapun. Yuk, Nya.” Kata Rio meyakinkan.

“Bukannya gitu, emang kamu bisa?” tanya Anya ragu.

“Ngeremehin aku nih?” balas Rio dengan percaya diri.

“Trus, SIM emang kamu ada? Kalo ketemu polisi gimana? Kamu kan masih kecil Yo.” Kata Anya menunjukkan kekhawatirannya.

“Gak ada, motor juga aku gak punya SIM kan? Ayo lah Nya, sejak kapan sih kamu jadi taat hukum begini?” kata Rio sambil memutar bola matanya.

“Lagi pula kamu sendiri yang bilang, kalo gak diajak ngomong aku itu kaya anak kuliahan. Kamu kali Nya yang masih kecil, aku sih udah gede.” Lanjut Rio nyengir.
Anya memperhatikan postur tubuh pacarnya. Ya memang, dengan tinggi 178 cm, termasuk sangat jangkung untuk anak ukuran ‘Baru Tamat SMP’. Tentu saja akan membuat kebanyakan orang melihatnya sebagai orang dewasa. Apalagi kalau dibandingkan dengan tubuh Anya yang mungil. Yang hanya setinggi pundak Rio. Orang-orang akan berfikir Anya adalah adik Rio. Hanya mungkin wajah Rio yang masih terlalu ‘Baby Face’ untuk orang setingginya yang merumitkan orang untuk menaksir umurnya.

Dengan muka imut-imut khas keturunan Jawa-Arab. Dengan hidung mancung lancip, mata belo sebesar bola pingpong, alis mata setebal lintah sawah yang mempertegas matanya, bibir merah merekah dengan ukuran mungil, rahang pipi yang mempertegas bentuk wajahnya, serta dagu panjang yang menyempurnakan wajahnya yang terlihat menawan dari sisi manapun. Membuat Anya bahkan tak pernah jemu berlama-lama memandangnya.

“Anya, kok bengong? Jadi pergi gak nih? Ayo udah jam stengah enam nih. Nanti macet.” Kata Rio membuyarkan lamunan Anya dari samping pintu mobilnya yang sudah ia buka.

Anya bergegas menghampiri mobil Rio dan ikut masuk kedalam mobil yang sudah dimasuki Rio duluan.
*****


“Kita mau kemana sih sebenernya?” tanya Anya ketika mereka mengarah ke tol dalam kota.

“Ikut aja udah Nya. Ntar juga pasti nyampe.” Jawab Rio sambil terus berkonsentrasi menyetir.

“Sok misterius deh.” Balas Anya menggerutu.

“Biarin, itu kan yang kamu suka dari aku.” Kata Rio tersenyum sambil melirik Anya yang mukanya memerah karena tebakan Rio tepat kena sasaran.

“Kamu bawa baju ganti?” tanya Rio.

“Baju ganti? Buat apaan?” Anya malah balik bertanya.

“Gak bawa? Yaudah gak apa-apa.” Jawab Rio santai.

“Rio!” bentak Anya.

“Anya!” Rio menirukan nada suara Anya.

“Ihh, kita mau kemana? Kok nanya baju ganti segala sih? Nginep?” tanya Anya makin penasaran.

“Enggak kok, paling malem juga pulang.” Jawab Rio santai sambil terus mengemudi.

“Terus?” Anya masih belum puas dengan jawaban Rio.

“Oke gini, daripada kamu rewel terus gara-gara penasaran. Sekarang kamu tutup mata kamu aja pake ini gimana?” tawar Rio sambil memberikan sebuah kain hitam untuk menutup mata Anya.

“Gak mau.” Jawab Anya ketus.

“Aduh, aku kan mau ngasih surprise Nya! Nurut aja kenapa! Tapi kalo gak mau ya udahlah terserah.” Kata Rio kesal dan menaruh kain hitam tadi ditaruh disamping tempat tisu.

Akhirnya Anya diam dan mengambil kain hitam itu, Anya hanya terus menimang-nimang kain itu beberapa lama di tangannya sambil terus memperhatikan arah jalan yang ia lalui sambil menebak kemana ia akan dibawa pergi. Sedangkan wajahnya menampilkan muka bete sebete-betenya. Pipi chubby Anya semakin mengembung, dan bibirnya mengerucut kecil.

“Anya, mukanya jangan ditekuk gitu ah, jelek.” Kata Rio memecah keheningan.
Sedangkan Anya hanya diam dan meneruskan ngambeknya.

“Sayang...” Rio menyerah, akhirnya meminggirkan mobilnya ke bahu jalan dan berhenti.

“Oke, maaf aku tadi bentak kamu. Aku gak maksud gitu. Sekarang kamu nurut sama aku. Percaya sama aku. Yakin kalo aku yang udah hampir 3 tahun sama kamu gak akan mungkin nyelakain kamu. Gimana? Mau percaya gak sama aku?” kata Rio sambil membelai lembut rambut Anya menunggu jawaban dari Anya.

Namun Anya tidak menjawab hanya mengambil kain hitam itu dan memakainya untuk menutup mata.

Rio tersenyum lalu mengambil tangan kanan Anya dan menciumnya kemudian berkata, “Makasih Nya.”
Rio melanjutkan mengemudi, hanya keheningan yang menemaninya. Lalu ia menyalakan kaset lagu favoritnya.

I was born to tell you I love you
And I am torn to do what I have to
To make you mind stay with me tonight
(Your call – Secondhand Serenade)

“Aku lahir untuk mengatakan padamu aku mencintaimu Nya. Untuk menjagamu hingga nanti saatnya aku menutup mata. Tidak ada niatan dariku untuk meninggalkanmu. Jika itu sampai terjadi, maafkan aku karena itu bukan kehendakku. Tapi aku akan tetap menjagamu dari kejauhan memastikan kau baik-baik saja dan mata indahmu tetap bersinar memancarkan cahayanya, tanpa sekalipun redup karena terselimuti badai disana. Karena tanpa pernah kau sadari badai dimatamu adalah kehancuranku.”
  *****

Gimana? Bagus nggak?
Atau mengecewakan? Maaf ya. Maklum nih namanya juga penulis amatir.
Masih mau baca kelanjutannya nggak?
Kira-kira kemana tuh si Anya dibawa sama Rio. Diculik? Dibawa ke pelabuhan? Dikirim via paket buat dijual organ tubuhnya? Atau dikasih ke penadah perdagangan anak dibawah umur? Walah, sadis amat?
Yaudah, daripada penasaran mendingan pantengin lagi aja besok blog gue sekitar jam segini, gue bakal post lanjutannya.
Oke, segini dulu deh.

See you next post

0 komentar:

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos