Thursday, February 03, 2011

Cerpen - Never Let You Go

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 01:20
Reaksi: 

Bandara Soekarno Hatta, suatu malam di awal Januari

“Nanti jangan sampai kecantol bule lho!"

Acha tertawa mendengar kata-kata Ozy. Dia berbalik menatap wajah cowoknya.

“Waduh. Susah itu. Bagaimana kalo disana aku ketemu Robert Pattinson yang memintaku menikah dengannya? Bakal lupa segala deh diriku kalau sampai itu terjadi” jawab Acha.

“Ah. Ga mungkin kamu ngelupain aku”

“Kepedean!” Acha tertawa geli kembali.

“Cha, di Australia banyak koala kan? Kalau kau melihat koala, kau pasti inget aku. Kan sama imutnya?” Ozy menatap Acha yang duduk di sebelahnya.

“Sok imut!” Acha memandangi Ozy, dan tersenyum. Dengan kemeja kuning cerahnya, Ozy lebih mirip seekor burung kenari. Apalagi kebiasaan Ozy menatap Acha sambil sedikit memiringkan kepalanya ke arah kiri, dengan kedua matanya yang berkilau, Ozy mengingatkan Acha pada seekor burung kenari yang menatap pemiliknya, dan minta diajak bermain.

“Cha… Mendingan kamu masuk sekarang deh, check in nya kan bakalan rada lebih ribet dibanding penerbangan domestik…” kata Rio sambil berjalan mendekat. Mama dan Papa Acha mengikuti kakaknya itu dari belakang.

Acha berdiri, Ozy di sebelahnya juga ikut berdiri. Menyalami Papa dan mencium tangan beliau. Memeluk Mama sambil meyakinkan beliau bahwa Acha akan baik-baik saja di Melbourne. Bahkan Rio, kakaknya yang biasanya selalu berseteru dengan Acha untuk hal-hal sepele di rumah terlihat sedikit berat untuk melepaskan pelukan saat Acha berpamitan.

Acha berbalik menghadap Ozy. Berusaha tersenyum. Toh perpisahan ini hanya sementara. Beasiswa ini terlalu berharga untuk ditolak, dan dia percaya, Ozy akan menunggunya.
Ozy menarik nafas panjang, kemudian melepaskan syal kuning yang melingkar di lehernya.

“Jaga diri ya Cha…” kata Ozy sambil melingkarkan syal itu di leher Acha.

Acha hanya mengangguk, tidak sanggup berkata-kata. Ozy berusaha tersenyum, dan mengacak-acak rambut Acha. Acha meraih koper dan ranselnya, dan berjalan menuju pintu gerbang maskapai. Cita-citanya menanti.

***
Changi International Airport, akhir November

Acha merogoh tasnya, dan mengeluarkan handphonenya. Tersenyum. Bagus, ternyata penyedia layanan telfon yang dia pakai di Melbourne masih bisa dipakai sampai disini. Tanpa berpikir, dia memencet sejumlah nomer yang sudah dia hafal di luar kepala. Setelah beberapa kali nada sambung, sebuah suara menyahut.

“Halo?”
“Zy?”
“Cha? Acha?”
“Iya…”
“Kok nomernya aneh sih? Ini beneran kamu Cha? Kamu dimana?”

Acha tertawa.

“Iyaaa… aku udah di Changi Zy, transit, tapi bentar lagi udah mau terbang ke Cengkareng nih.”

“Ya ampun! Dasar koala kamu ini! Kenapa ga bilang-bilaaaanggg??? Ngapain pulang sih kamu? Kamu ga didrop out kan?”
“Heh! Enak aja! Summer holiday Zy, 4 bulan. Dan Alhamdulillah hasil kerja part time aku disana cukup buat beli tiket pulang.”

“Kamu jadinya nyampe Cengkareng jam berapa? Aku jemput ya?”
“Ga usah Zy. Dari rumah kamu jatuhnya muter banget. Mending kamu langsung ke rumah aku aja.”
“Beneran?”
“Iyaaaa…”
“Oh, ya udah deh. Bener juga. Ga kuat aku ngebayangin macet ke Cengkareng kalo jam segini…”
“Zy, aku udah dipanggil boarding. I’ll see you in a few hours…”
“Can’t wait to see you…”

Acha mematikan handphonenya, tersenyum. Dia lalu bergegas menuju gerbang keberangkatan, sementara pengeras suara kembali memanggil penumpang untuk segera naik ke atas pesawat.

***
Belum sempat Acha memencet bel, pintu sudah terbuka lebar. Mama langsung memeluk anak bungsunya, dan hampir menangis.

“Ya ampuuunnn… anak Mama kok tambah kurus aja siiihhh…”

Di belakang Mama, Rio tertawa.

“Cha, lu udah hampir setahun di luar negri, kok ga tambah mirip bule sih?”

Acha tertawa sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Mama. Sambil menarik koper dan memasuki ruang tamu, dia mengedarkan pandangan.

“Ozy belum datang ya Kak?”

“Belum. Tapi tadi dia sempet nelfon, bilang kalo udah berangkat dari rumah, tapi kayaknya mau sholat Maghrib dulu di jalan. Tau kan mesjid yang sering dia lewati?”

Acha mengangguk. Bagus juga sih, jadi dia sempe mandi dulu dan mempersiapkan diri sebelum bertemu dengan Ozy.

“Acha naik dulu ya Ma, mau mandi…”

Mama mengangguk, “Sekalian sholat Maghrib Cha, udah azan tuh…”
Acha balas mengangguk, menaiki tangga menuju kamarnya di lantai atas.

***
Ozy duduk di pelataran masjid, meraih sepatu ketsnya dan memakaikannya di kedua kakinya. Sambil mengikatkan tali sepatunya, dia tersenyum. Dadanya serasa nyaris meledak dengan kebahagiaan. Bidadarinya ada di sini! Akhirnya, setelah hampir setahun di Melbourne, mereka bisa benar-benar bertemu. Bukan hanya sekedar telepon atau chat belaka.

Selesai mengenakan sepatunya, Ozy berdiri, menepiskan debu di jeansnya dengan kedua tangannya. Sambil bersiul perlahan, dia melangkah menuju sepeda motornya. Suara kucing yang mengeong menarik perhatiannya. Ozy menoleh, dan melihat seorang gadis kecil berponi yang sedang mengelus seekor kucing. Sambil tersenyum, Ozy teringat Acha kembali. Acha yang berponi dan selalu mengikat rambutnya menjadi sebuah buntut kuda.

Kucing itu mengeong kembali, dan berlari meninggalkan si gadis kecil. Seakan tidak rela ditinggal pergi, si gadis kecil mengejar kucing itu dengan langkah-langkah kecilnya. Ozy semula masih tersenyum, tapi terkesiap begitu melihat ke arah mana si kucing dan gadis kecil itu berkejaran. Saat si kucing dengan lincahnya menyeberangi jalan raya, sang gadis kecil terus mengejar. Ozy melihat kilasan lampu kendaraan. Ozy mendengar suara klakson yang ditekan panjang. Semua terasa kabur. Ozy tak sempat berpikir saat berlari mengejar gadis itu dan melompat. Yang ada di pikirannya hanya satu: gadis kecil itu harus selamat.

Suara terakhir yang didengarnya hanyalah decitan rem. Setelah itu semua gelap.

***
Acha mendesah, dan melipat mukena yang baru dipakainya. Dia memandang jam di dinding kamarnya. Sudah lewat Isya, tapi Ozy masih belum sampai.

“Apa anak itu tadi Maghrib-an di Istiqlal ya…” pikir Acha setengah kesal.

Bunyi ketukan halus di jendela kamar menarik perhatian Acha. Sambil mengerutkan kening, dia membuka tirai jendela, dan tertawa kecil melihat pemandangan yang ada. Seekor burung kenari kecil tengah menatap Acha, sambil sedikit memiringkan kepalanya. Kilau mata burung itu terlihat berseri di antara bulunya yang berwarna kuning.

“Kenapa kau kemalaman begini burung kecil?” bisik Acha sambil menggeser kaca untuk membuka jendela, dan burung kenari itu melompat ke bahu Acha. Acha tertawa geli ketika burung itu menggosok-gosokkan paruhnya di rambut Acha.

“Cha…” suara Mama diiringi ketukan halus di pintu kamar membuat Acha berpaling. Burung kenari itu melompat kembali ke ujung jendela.

Acha melangkah menuju pintu dan membukanya. Ada Rio dan Mama disana. Dengan ekspresi berduka.

Mama menggigit bibir. “Cha…”
Acha mengerutkan kening.
Mama menyambung dengan lirih, “Ozy kecelakaan…”.

Tidak. Tidak mungkin. Acha langsung limbung, untunglah Rio sempat menahan tubuhnya. Acha menoleh ke arah jendela, mencari si burung kenari. Burung kenari itu balas menatapnya, lalu mengepakkan sayap. Pergi.

***

Acha membiarkan air matanya mengalir kembali. Untuk apa dihapus?
Sambil memeluk lututnya Acha memejamkan mata. Ini pasti mimpi. Semua ini mimpi. Dua minggu terakhir ini Acha merasa semua kabur. Adegan-adegan itu terus berulang seperti mimpi buruk. Tubuh Ozy yang terbujur kaku di rumah sakit, ditutupi sehelai kain (Tidak. Ini semua salah. Itu pasti bukan Ozy. Ozy selalu bersemangat. Tidak mungkin dia pergi. Lihat saja senyumannya. Lihat saja tawanya. Lihat saja pancaran matanya. Ozy begitu mencintai indahnya hidup ini. Mana mungkin dia pergi begitu saja??)

Acha terisak perlahan. Mengingat saat pemakaman. Begitu banyak yang hadir. Teman teman dan guru-guru mereka di SMA dulu. Teman-teman kuliah Ozy. Bahkan orang-orang yang tidak dikenal Acha. Acha tahu, Ozy selalu membawa keceriaan dengan tawa dan senyumnya itu. Tapi dia tidak menyangka, bahwa begitu banyak orang yang dikenal Ozy, yang mengenal Ozy. Yang juga merasa, bahwa dunia sudah kehilangan seseorang yang sangat berarti. Seseorang dengan senyuman malaikat.

Acha memandang ke bawah. Dari ketinggian sepuluh lantai, orang-orang terlihat begitu kecil. Mondar-mandir, hilir mudik. Acha tersenyum pahit. Setahun yang lalu, Acha duduk di atap kampus ini bersama Ozy. Tertawa melihat betapa mentari sore seakan bisa mereka jangkau berdua. Hanya pagar besi sebatas pinggul yang memisahkan mereka dari langit. Tapi kini, dia sendiri.

“Acha…”, sebuah suara halus memanggilnya. Acha menoleh. Dari pintu di ujung sana, Gabriel melangkah mendekati Acha. Acha membuang muka.

“Bukan cuma kamu yang kehilangan Cha…” Gabriel duduk di sebelah Acha. Acha diam. Dia tahu, Gabriel pun pasti sangat kehilangan adik satu-satunya itu.

“Cha, relakan dia Cha… Ozy pasti sedih melihat kamu nangis terus kayak gini…”, Gabriel menarik nafas beberapa kali. “Berat memang Cha… Tapi hidup harus tetap berjalan.”

Acha berdiri dengan cepat.

“Ini semua ga adil Kak!” Acha menunjuk ke bawah, ke tengah orang-orang yang masih mondar-mandir, seakan-akan tidak sadar bahwa bagi Acha, dunia sudah berhenti berputar. “Jalan Ozy seharusnya masih panjang. Kakak tahu sendiri betapa dia begitu bersemangat dengan semua yang dia lakukan, dengan semua cita-cita dia. Tapi kenapa dia harus pergi Kak? Kenapa? Kenapa mesti Ozy? KENAPAA???”. Acha sudah tidak peduli dengan air mata yang terus menganak sungai di pipinya…

“Mungkin ini memang yang terbaik buat Ozy, Cha. Mungkin bagi Tuhan, Ozy terlalu baik untuk tetap ada di dunia ini, di dunia yang seperti panggung sandiwara ini” sahut Gabriel sambil menatap Acha dengan sedih. Dia ikut berdiri di sebelah Acha, tangan kanannya meraih pundak Acha. Acha menepis tangan itu dengan kasar. Masih terisak, Acha memegangi pinggiran pagar itu dengan kedua tangannya.

Wajah Gabriel kini terlihat khawatir, melihat betapa pagar pembatas itu hanya setinggi pinggul Acha. “Acha… hati-hati Cha…” bisik Gabriel perlahan.

Acha tidak menjawab, masih terisak. Apa kata Gabriel tadi? Ini adalah yang terbaik? Bukan. Salah. Bagi Acha, yang terbaik baginya adalah berdua dengan Ozy. Acha mengangkat wajahnya, merasakan sinar matahari senja yang hangat. Sehangat senyuman malaikat milik Ozy. Acha menatap langit sambil menopangkan tubuhnya ke depan, bersandar pada pagar pembatas.
Kepalanya terasa ringan, tubuhnya terasa ringan. Ringan sekali, seakan-akan dia bisa terbang, ke langit sana, dimana Ozy pasti sedang menunggunya, untuk menari bersama bintang. Acha menjulurkan tangannya, berusaha meraih langit itu…

“ACHAAA!!!!”

Acha tidak mempedulikan teriakan Gabriel. Yang dia rasa, tubuhnya terasa melayang seperti kapas.

***

Acha membuka matanya. Putih. Hanya warna putih di sekelilingnya.

“Acha…”

Acha tidak mempercayai pendengarannya, dan dengan cepat duduk. Melihat seseorang yang sedang berdiri di depannya, Acha ingin berteriak. Ingin berlari ke arah sosok itu. Tapi entah kenapa, tubuh Acha tidak bisa bergerak sesuai keinginannya.

Ozy tersenyum, melangkah ke sampingnya, dan duduk di sebelah Acha. Acha menoleh, melihat Ozy yang tengah memandanginya sambil sedikit memiringkan kepalanya. Acha tertawa, dengan kemeja kuningnya itu, Ozy betul-betul terlihat seperti seekor burung kenari kecil, dengan sepasang mata yang bersinar.

Ozy tidak balas tertawa. Dia justru bertanya pada Acha, tanpa mengalihkan pandangan, “Kamu bahagia Cha?”

Acha terdiam, menatap Ozy, dan menggeleng. Ozy nampak sedih.

“Kenapa Cha?”

Acha kesal. Untuk apa Ozy bertanya seperti itu?

“Untuk apa bahagia Zy? Kamu sudah ga ada lagi! Udah ga ada kamu lagi disisiku Zy!” Acha setengah berteriak. Air mata mengalir kembali di pipinya.

Ozy menggeleng sedih, “Kenapa kamu bilang aku sudah tidak di sisimu lagi, Cha?”

Acha menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, dan terisak kembali, “Kamu udah mati Zy. Kamu udah pergi…”

Ozy menghela nafas. “Jadi bagi kamu begitu? Aku udah pergi? Bahkan dari hatimu?”

Acha membuka tangannya, menatap Ozy.

“Jawab Cha. Apakah aku benar-benar pergi dari hatimu?”

Acha memandangi wajah Ozy, menatap lurus ke mata Ozy, dan menggeleng tegas.

“Nggak Zy. Kamu ga akan pernah pergi dari hatiku…”

Ozy tersenyum, berbisik pelan sambil mengelus pipi Acha dengan lembut, “Kalau begitu, aku akan tetap di sisimu”.

Acha menutup mata, menyadari kehangatan yang merasuki hatinya. Ozy benar, selama Ozy masih ada di hati Acha, selama itulah Ozy ada di sisinya. Maka Ozy tidak akan pernah benar-benar pergi, karena Ozy akan tetap hidup di hati Acha.

***

Silau. Acha memicingkan matanya, dan mengangkat tangannya untuk melindungi matanya.

“Acha? Kamu udah sadar?”, suara Rio di sebelahnya terdengar khawatir.

Acha menoleh. Di sisi kiri tempat tidurnya Rio nampak lelah, namun berusaha tersenyum.

“Aku…belum mati?”

Rio tertawa pelan. “Belum… Untung ada Gabriel…”

Acha mengangkat alis, meminta penjelasan lebih lanjut.

“Kamu pingsan di atap kampusnya Ozy, untung Gabriel sempet narik kamu. Ga kebayang kalau kamu sendirian di atas sana”, Rio menggelengkan kepala membayangkan itu terjadi. “Sama Gabriel kamu langsung dibawa pulang ke sini. Terus Papa nelfon dokter buat datang ke sini meriksa kamu. Kata dokter, tekanan darah kamu drop banget, terus kamu sempet disuntik obat penenang gitu deh… “

Acha tidak menyahut. Pandangannya jatuh ke meja kecil di sebelah tempat tidurnya. Pada sebuah foto dalam pigura. Di foto itu, Acha tengah tertawa berdua dengan Ozy. Perlahan, Acha mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk.

“Kak Rio…”
“Ya Cha?”
“Ozy tidak pernah benar-benar pergi kan? Ozy selalu ada di hati kita kan?”

Rio tersenyum lembut, perlahan membelai rambut adiknya.

“Iya Cha. Ozy tidak pernah benar-benar pergi. Untuk orang sebaik Ozy, dia akan tetap hidup di dalam hati banyak orang. Di hati kamu, di hati kakak.”

Acha mengangguk.

Bunyi ketukan halus di kaca jendela membuat mereka menoleh ke arah jendela. Seekor burung kenari kecil hinggap di tepian jendela yang setengah terbuka. Menatap mereka, dengan kepala yang sedikit dimiringkan. Sinar matahari pagi yang masuk tidak memudarkan kilauan mata burung kenari itu. Acha tersenyum. Seakan tidak takut pada mereka berdua, burung kenari kecil itu terbang masuk, dan hinggap di pundak Acha. Menggosok-gosokkan paruhnya di rambut Acha.

Acha tersenyum kembali, memandangi burung kenari di bahunya itu sambil membelai halus bulu sang burung kenari. Acha mengangkat kepala dan menatap Rio. Senyumnya kembali bercahaya.

“Kakak benar. Ozy akan selalu ada di hatiku. Di hati banyak orang…”

***

People come and go. But memories of them, will linger forever...

0 komentar:

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos