Thursday, February 03, 2011

Cerpen - My one last cry

Diposkan oleh Rabbani Haddawi di 01:09
Reaksi: 

Aku tidak suka cerita sedih. Kamutahu kan? Karena aku mudah sekali terbawa perasaan. Sehingga aku hampir selalu menangis kalau membaca cerita semacam itu. Dan kau seringkali menggodaku soal itu.

Aku menyusut airmataku dengan jari telunjuk. Tapi tiba-tiba saja kamu yang tengah duduk di sampingku menyorongkan selembar tisu.

"Nih..." katamu tanpa mengalihkan pandangan dari komik yang tengah kau baca.

Dengan agak malu aku mengambil tisu itu dan kembali menyeka air mataku yang mulai menetes dari sudut mataku.

"Kebiasaan..." katamu sambil membalik halaman komik itu.

"Apaan sih Zy..." tukasku sedikit kesal.

Kamu tertawa kecil, lalu menoleh ke arahku. "Kamu itu lho, kebiasaan banget baca novel, ujung-ujungnya malah ikut nangis..."

"Ceritanya sedih, tauuuu..." kataku semakin kesal sambil memukul pundakmu.

"Lha... udah tau sedih malah dibaca..." sahutmu, masih diiringi derai tawamu. Derai tawa yang selalu mengajakku untuk ikut tertawa.

"Biarin!"

"Tapi ga usah pake nangis dong ah...." Katamu, memperbaiki posisi dudukmu hingga menghadap ke arahku sambil tersenyum

Ah... senyum itu.Senyum yang membuatku selalu merindukanmu.

Aku tidak menjawab, hanya merapatkan bibirku dan membuang wajah, menatap ke arah jendela ruang tengah ini.

"Kamu lebih cantik kalo senyum Cha..." katamu lagi, sambil menggerakkan tanganmu untuk menyelipkan sejumput rambutku ke belakang telinga.

"Halah... Gombal..." sahutku, berusaha menahan diri untuk tidak tersenyum senang.

"Lagian kamu sukanya digombalin kan Cha?" katamu menggoda sambil mengacak-acak rambutku.

"Ozy apaan sih aaaahhh..." kataku. Tapi tidak bisa menahan diri untuk ikut tertawa begitu kamu mulai tertawa lebar.

"Ah,udah ah kamu baca novelnyaaa... Nih, makan deh martabaknya..." katamu sambil meletakkan komik Asterix kesukaanmu itu di meja, dan meraih piring berisi martabak telur yang kau bawakan tadi.
Aku menurut, meletakkan novel itu di meja. Di sebelahku, kau sudah mulai menyantap potongan-potongan martabak itu.

"Cha..." panggilmu setelah menelan satu potong martabak lagi.

"Hm?" jawabku, masih mengunyah.

"Jangan suka nangis lagi dong ah kalau baca novel gitu... " katamu sambil memandangku.

Aku tidak menyahut. Dan kau pun sepertinya tidak menunggu jawabanku. Karena kau langsung menyambung kalimatmu tadi.

"Soalnya kalau liat kamu sedih, aku juga ikut sedih.... Soalnya..."

Aku mengangkat alis mendengar kata-katamu tadi.

"Kamujelek kalo lagi nangis Cha..." katamu tiba-tiba. Diiringi derai tawa yang selalu menjadi ciri khasmu. Setengah merajuk, aku kembali memukuli pundakmu. Meskipun aku tahu, setiap kali aku ingin menumpahkan seluruh tangisku, kamu selalu siap menyodorkan pundakmu itu.

***

Aku tidak suka cerita sedih. Kamu tahu kan? Cerita dimana tokohnyaselalu baru menyadari betapa berartinya hidup ini ketika sudah harusberhadapan dengan kematian. Dan kamu selalu memprotes hal itu. Kamuingat kan kata-katamu sendiri padaku?
Aku menimang-nimang novel Jodi Picoult itu di tanganku, mempertimbangkan apakah akan membelinya untuk menambah koleksi di lemari bukuku. Tiba-tiba saja kau sudah berdiri di sebelahku, dengan 2 novel tebal di tanganmu.

"Yaelah Cha... Kamu mau beli yang ini?" tanyamu sambil mengambil buku itu daritanganku. Sambil mengerutkan kening, kamu membaca sinopsis yang ada disampul belakang buku itu.

"Jangan yang ini ah..." katamu, sambil mengembalikan buku itu ke tempatnya kembali di rak semula. Aku melotot dengan kesal.

"Ozy ah! Suka-suka aku dong..." kataku, kembali meraih buku itu dari rak.

"Ngapain beli yang itu?"

"Ceritanya bagus tauuuuu..."

"Pasti cerita sedih lagi..." katamu sambil memasukkan sebelah tanganmu ke dalam saku jeans hitam yang kau kenakan.

Aku hanya menjulurkan lidah, kembali membaca tulisan di sampul belakang buku itu.

"Pasti soal ada yang sakit...terus ujung-ujungnya meninggal..." katamu lagi.

Aku melirik ke arahmu, entah kenapa merasa sedikit bersalah karena terkaanmu tidak keliru.

"Seneng banget sih baca yang kayak gitu Cha..."

"Lha,kan supaya kita bisa ikut belajar dari cerita itu Zy... bahwa kita harus menghargai hidup ini, dan mengisinya dengan sebaik-baiknya" aku masih berusaha membela diri.

Kamu menghela nafas. "Kenapa harus menunggu kematian sih untuk bisa belajar bahwa kita harus menghargai hidup?"

Aku tercenung mendengar kata-katamu.

"Kayaknya untuk menghargai hidup ini, ga mesti nunggu sampai kita divonis menderita penyakit yang mematikan deh Cha..." katamu lagi.

Membuatku semakin kehilangan kata-kata.

Melihatku terdiam seperti itu,kamu tersenyum tipis. Kamu lalu mengambil lagi buku itu dari tangankudan meletakkannya di rak. Sekali ini aku tidak memprotes. Entahlah.Tiba-tiba saja kata-katamu tadi begitu menohokku.

Kamu menarik tanganku untuk mengikuti langkahmu.

"Sini deh..." katamu, menggiringku berjalan ke salah satu rak buku di sudut lain toko buku itu. Aku mengikutimu begitu saja.

"Cobadeh kamu baca buku-buku model kayak gini..." katamu, menyodorkan sebuahbuku ke arahku. Aku membaca judulnya. Sang Alkemis. Nama pengarangnya Paulo Coelho. Aku mengangkat alis, sepertinya aku sering melihat buku karangan si Coelho ini di rak bukumu.

"Ga pake acara ada yangmeninggal segala, tapi banyak yang bisa kamu pelajari tentang hidupdari sini Cha..." katamu, seakan-akan berusaha meyakinkanku untuk membacabuku itu.

Aku mengangkat alis, lalu menoleh ke arahmu. Kamutengah menatapku dengan ekspresi penuh kesungguhan, tapi justru membuatku tertawa geli.

"Yah.. malah ketawa dia.. Serius Chaaa...bagus nih bukunya... Highly recommended!" katamu dengan menggebu-gebu.Ekspresi yang nyaris sama kalau kamu sedang membahas mengenai tim sepakbola Spanyol yang kau jagokan di Piala Dunia kemarin.

"Contohnya?" kataku.

Kamu nampak berpikir beberapa saat. Lalu menjawab. "Ada salah satu quotes yang aku suka banget di buku itu. Bunyinya gini: 'It's the possibility of making dreams come true that makes life interesting' ".

Aku mengangkat alis kembali. Kali ini terkesan. "Kamu sudah baca versi aslinya Zy?"

Kamu mengangguk cepat. Lalu menarik buku itu dari tanganku. "Yah, mau ya Cha?"

"Gimana mau beli, kamu ambil gitu bukunya..." kataku setengah mengomel.

Kamu tertawa kecil. "Aku beliin. Anggap saja hadiah..." katamu sambil mulai melangkah menuju kasir.

"Hadiah apaan?" tanyaku sedikit tidak mengerti sambil berjalan mengiringimu. Bukankah ulang tahunku sudah lewat beberapa bulan yang lalu?

"Hadiah anniversary jadiannya kita yang ke..." kamu melirik sekilas ke jam tanganmu, mengecek tanggal hari itu. "...yang ke 2 tahun 2 bulan 17 hari..." kamu menyambung kalimatmu, sambil menoleh ke arahku dengan senyuman itu.

Ah. Senyuman itu.Senyuman yang pertama kali membuatku memperhatikanmu saat kita berdiri bersebelahan untuk mengecek pembagian kelas di SMA kita sekarang. Saat kita untuk pertama kalinya mengenakan seragam putih abu-abu.
Sudah berapa lama itu berlalu Zy? Sudah lewat dua tahun kah semenjak kita bertemu?

Wajahku merona mendengarkata-katamu tadi. Maka aku hanya bisa tertunduk malu.Dan membiarkan genggaman erat tanganmu yang hangat melingkar dipergelangan tanganku.

***

Aku tidak suka cerita sedih. Kamutahu kan? Yang tokoh utamanya menderita sakit parah. Hingga akhirnyameninggal. Karena itu mengingatkanku pada penyakit. Dan aku, juga kamu,tidak suka penyakit.
Kamu menatapku dengan khawatir, lalu kembali menyodorkan sendok berisi bubur itu mendekati bibirku. Aku menggeleng pelan.

"Ayolah Chaaa..." katamu dengan nada membujuk. "Masa setengah mangkok aja ga nyampe kamu makannya"

"Mulutku pait Zy..." kataku beralasan.

Kamu menghela nafas. "Kalo males makan gini kapan sembuhnya Chaa..." katamu. "Yah? Lima sendok aja lagi dehhh..."

"Dua."

"Yah... Kok cuma dua? Tujuh deh..."

"Ngawur kamu Zy... Ga bakat kamu jadi pedagang..." kataku sambil tertawa kecil.

"Iya... Makanya aku mau jadi dokter aja..." katamu sambil ikut tertawa.

"Beneran?"

Kamu mengangguk. "Aku paling ga suka liat kamu sakit Cha. Makanya aku pengen jadi dokter. Supaya selalu bisa menjaga kamu..."

Aku tersenyum kecil. Melihat kesungguhan yang terpancar di balik bola matamu.

"Nah, yuk.. makan ya..." katamu lagi, menyodorkan kembali sendok itu lebih dekat ke bibirku.
Kali ini aku menurut. Membuatmu tersenyum senang.

"Jangan sakit lagi ya Chaa... Aku paling sedih liat kamu sakit gini..." katamu begitu aku berhasil menandaskan isi mangkok itu.

Aku hanya mengangguk. "Makanya, kamu cepetan dong jadi dokter..." kataku menggoda.

Tapikau menanggapinya dengan serius. Kamu meletakkan mangkok yang kinikosong itu di meja di sebalah tempat tidurku. Kau meraih tanganku danmenggenggamnya erat-erat.

"Aku janji Cha... Demi kamu, aku akanmelakukan yang terbaik. Termasuk untuk menjadi dokter terbaik yang akanselalu menjaga kamu...".

Aku terpana sesaat. Terutama begitu melihat betapa tegasnya keputusan itu di matamu. Aku mendehem kecil.
"Ah Zy, aku kan cuma sakit tipes biasa..."

Kamu menggeleng pelan. "Penyakit apapun itu Cha... Aku tetep ga suka. Apalagikalau kamu yang menderitanya.. Meskipun cuma flu biasa."

"Ozy lebay deh ah..." kataku sambil tertawa. Kamu ikut tertawa, tapi tidak melepaskan genggamanmu di jemariku. Dan aku pun tak ingin melepaskannya.

***

Aku tidak suka cerita sedih. Kamu tahu kenapa? Karena dalam cerita itu, sang tokoh utama masih punya waktu. Sebelum mereka meninggal, mereka masih punya waktu untuk mengucapkan salam perpisahan dengan orang-orang yang mereka sayangi.Dan aku iri pada mereka. Karena kau dan aku, tidak punya kesempatan itu.

Semuanya terjadi begitu mendadak Zy. Terlalu mendadak. Aku tidak pernah menyangka bahwa kau akan pergi secepat itu.

Siang itu, ketika Kak Ify meneleponku untuk mengabarkan berita itu dengan suara bercampur isak tangis, aku terus berdoa bahwa semua itu hanya mimpi. Tabrakan Zy? Tidak mungkin. Kamu bukan tipe orang yang suka ugal-ugalan di jalan kan? Bukankah kamu yang selalu cerewet untuk mengingatkanku memakai helm jika akan membonceng dirimu?

Bahkan perjalanan menuju rumah sakit pun terasa begitu tidak nyata bagiku. Kak Gabriel terus menerus memegangi tanganku sambil menyetir mobil. Tapisemua terasa seperti bayang-bayang belaka bagiku.

Aku tidak tahu darimana aku masih mendapat kekuatan itu. Untuk berjalan menuju dipan panjang tempat tubuhmu terbaring kaku.

Itu bukan kamu kan Zy?
Itu bukan kamu kan?

Zy, jawab aku Zy..

JAWAB AKU ZY!

Kenapa kamu diam saja?

Bangun Zy... BANGUN!

Kamu tidak mungkin terus terbaring kaku disana!

Ayo Zy, bangun! Kamu sudah berjanji padaku kan Zy? Untuk selalu menjaga aku?

Akuterus mengguncang-guncang tubuhmu sambil berteriak membangunkanmu.Sampai Kak Gabriel harus menyeretku keluar. Terus menerus membisikkanagar aku ikhlas.

Bagaimana caranya Zy?
Bagaimana caranya aku bisa mengihklaskan kepergianmu, di saat aku tidak sempat mengatakan betapa aku menyayangimu?

Ini salahmu Zy.
Kamu pergi terlalu cepat. Tanpa memberikan kesempatan padaku untuk mengucapkan selamat jalan.
Dan tangisku tumpah. Tanpa pundakmu yang seharusnya ada untuk tempatku bersandar.

***

Aku tidak suka cerita sedih. Kamu tahu kan? Karena cerita semacam itu akan selalu membuatku teringat padamu.

Kak Ify berusaha tersenyum saat memberikan bungkusan itu padaku. Wajah cantik kakakmu itu masih menyimpan mendung di wajahnya, bahkan setelah seminggu berlalu semenjak kepergianmu.

"Tadi malam aku nemu ini di laci mejanya..." kata Kak Ify.

Aku menggigit bibir saat menerima bungkusan itu. Ada tulisan Untuk Acha tertempel dengan label putih di sudut kiri bingkisan itu. Bahkan tanpa membuka bungkusnya pun aku tahu, bahwa pasti isinya adalah buku.

"Makasih Kak..." kataku, berusaha sekuat tenaga untuk tersenyum. Tapi aku tidak bisa. Senyumku hilang Zy. Terbawa pergi bersamamu.

Kak Ify menelan ludah, lalu kembali berbicara. "Pada hari kejadian itu, ada surat... bahwa Ozy diterima di Fakultas Kedokteran lewat jalur PMDK, diuniversitas yang dia pengen di Bandung".

Kedua mataku basah kembali. Aku bisa melihat Kak Ify pun terlihat sekuat tenaga menahan isakannya kembali. Tapi lihatlah, betapa hebatnya kakakmu itu Zy. Diamasih mampu untuk kembali tersenyum.

"Kami sekeluarga bangga pada Ozy, Cha..."

Aku mengangguk. Tidak hanya Kakak dan orang tuamu Zy. Aku pun bangga.

"Begitu menerima surat itu, dia...dia bilang...dia ingin segera memberitahumu... "kata Kak Ify perlahan. Aku menutup mata mendengarnya. Kak Ify terdiam sesaat sebelum melanjutkan kata-katanya.

"Kata yang melihat kejadian itu, Ozy hanya ingin menghindar dari anak kecil yang sedang mengejar layangan... Dan sopir angkot yang menabraknya itu memang sejak awal sudah berjalan terlalu kencang."

Aku tidak ingin membayangkannya Zy. Terlalu menyakitkan.

"Cha...Tolong Cha.. Ikhlaskan dia..." suara Kak Ify terdengar lembut, meskipun masih ada sedikit getaran sedih disana. "Kamu tahu sendiri kan betapadia paling tidak suka melihat orang menangis?"

Kata-kata Kak Ify tadi menyadarkanku. Aku membuka mata, lalu mengangguk kecil. Perlahan jemariku menelusuri kertas yang menyampuli bingkisan itu.

"Boleh aku buka Kak?" tanyaku.

Kak Ify mengangguk.

Aku membuka selotip yang melekat di kertas itu. Melihat isinya, aku tersenyum pahit. Betul kan dugaanku? Sebuah buku. Kamu seperti tidakpernah bosan memberi aku buku. Aku mengamati judulnya.The Five People You Meet in Heaven. Karangan Mitch Albom.

Aku menarik nafas panjang, dan membuka sampul buku itu. Ada sebuah kertas berwarna biru langit terselip di halaman pertama buku itu.

Biru langit. Warna yang selalu menjadi warna kesukaanmu. Karena kau pernah berkata, seharusnya hanya langitlah yang menjadi batas dari cita-cita kita.

Dengan tangan sedikit gemetar, aku membuka lipatan kertas itu. Menatap tulisan tanganmu yang begitu kukenal.

Duh. Bahkan melihat tulisanmu saja sudah membuatku sangat merindukanmu.
Aku mulai membaca.

Acha sayang,Ini satu lagi buku yang bagus. Sayangnya memang pake acara ada yang meninggal. Seperti kesukaanmu ;p. Tapi ceritanya bagus Cha. Tentang bagaimana orang bisa mengubah hidupmu. Dan itu mengingatkanku padamu Cha. Karena kamu telah mengubah hidupku menjadi begitu indah.And I just want you to know, if there were only five people that I'm going to meet in heaven, you're one of them.You're my heaven on earth, Cha :).Oh iya... Janji dong Cha... Jangan nangis lagi kalo baca cerita ya...Apalagi mungkin akan ada saat dimana aku tidak bisa ada di sisi kamu Cha.Tapi kamu harus tetap tersenyum ya...Karena aku akan selalu menjagamu. Meskipun mungkin hanya lewat cahaya bintang yang pernah kita pandangi bersama.Love you, forever, and ever, plus one day..
Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai menitikkan air mata. Tiba-tiba saja dikertas itu sudah muncul jejak-jejak tetesan air mataku. Kak Ify beranjak dari tempat duduknya. Berpindah ke sebelahku, dan merangkulku erat-erat.

"Biarkan dia tenang disana Cha... Dia pasti akan lebih tenang dan bahagia disana, kalau dia tahu kita tidak lagi menangisi dirinya..." bisik Kak Ify di telingaku.

Aku janji Zy. Aku janji akan sekuat tenaga menahan tangisku, dan tidak lagi menyesali kepergianmu. Besok. Tidak kali ini. Untuk kali ini, biarkanlah aku menangisimu untuk terakhir kalinya.

My one last cry for you...

***

Aku tidak suka cerita sedih. Karena aku tidak suka menangis. Aku tidakingin menangis lagi. Tidak Zy. Karena aku sudah berjanji padamu untuktetap berusaha tersenyum, apapun yang terjadi. Karena ku juga sudahberjanji untuk menjagaku kan Zy? Meskipun kau tidak lagi disisiku, akutahu, kau tetap tersenyum menatapku. Lihatlah, kerlip bintang yangtengah kutatap di malam ini, pastilah bagian dari cahaya matamu yangtengah menjagaku dari atas sana.Kamu baik-baik saja kan disana Zy?Aku kangen.Aku kangen kamu Zy.Tapi aku tidak akan menangis lagi.Karena aku sudah berjanji padamu.Kamu pasti tengah tersenyum di atas sana menatapku, karena aku pun tengah tersenyum menatap langit penuh bintang ini.Aku sayang kamu Zy.Selalu.Seperti katamu: I love you, forever, and ever, plus one day.

0 komentar:

Post a Comment

 

RabbaniRHI's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos